Logo
SANG MEDIATOR
SANG MEDIATOR

SANG MEDIATOR

51 Bab
Tamat
SANG MEDIATOR mengungkap awal perjalanan Ustadz Irfan menghadapi entitas gaib. Dalam mystery story ini, ia harus menaklukkan teror gelap demi melindungi umat. Ikuti perjuangan spiritual penuh risiko dalam horror novel yang mencekam ini, tersedia bagi pembaca yang ingin read books online free.
Bab 1 dari SANG MEDIATOR

Alia menghela nafas panjang. Kapan dia bisa berlibur dan pulang ke desa? Dia rindu pada ibu dan bapaknya. Tapi pekerjaannya sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah ndara Joyo hampir tidak memungkinkannya untuk mengambil liburan setiap saat. Dan hal itu membuat dada Alia seakan membengkak oleh rasa rindu.

"Ora sah nangis, Ya! Sabar! (Tidak usah nangis, Ya! Sabar!)" Bisik Sari.

Hari sudah malam, Alia dan Sari berbisik-bisik di dalam kamar mereka di samping dapur.

"Iyo, Ri! Aku wis ndonga ben aku kuat, tapi kadang aku ora bisa, (Iya, Ri! Aku sudah berdoa agar aku kuat, tapi kadang aku tidak bisa,)" jawab Alia pelan. Dia menyusut air matanya.

Sari merasa iba. Dia sudah lebih lama berada di sini. Awalnya dia juga merasa sedih seperti Alia, tapi lama-lama dia menjadi terbiasa dan akhirnya sedikit demi sedikit melupakan rasa rindunya pada orang tuanya.

"Wis njajal matur ndoro putri, Ya? (Sudah pernah mencoba bilang ndoro putri, Ya?)" Tanya Sari.

Alia mengangguk.

"Sudah. Tapi kata ndoro putri aku disuruh menunggu tiga bulan lagi. Sesuai dengan kontrak yang dibuat oleh agen yang menyalurkanku," kata Alia.

Sari mengangguk.

"Dulu aku juga gitu, Ya. Tapi nggak salah juga kalau cuma nanya," kata Sari, "Besok kutemenin tanya, ya?" Kata Sari lagi.

Alia mengangguk, walaupun agak ragu juga. Jantungnya berdebar kencang, membayangkan seperti apa reaksi ndoro putri besok.

****

Namanya Sulistiyaningrum. Seorang anak bangsawan jawa turun temurun. Dia menjadi istri kesekian seorang saudagar tua yang kaya raya. Dan Ningrum mewajibkan kesempurnaan di semua sudut rumahnya.

Dia terkenal perfeksionis dan nyinyir kalau sudah menyangkut kesempurnaan dan keapikan rumahnya. Ningrum tidak mau tahu. Dia harus memiliki rumah terbaik, terindah dan terbersih bila dibandingkan dengan rumah-rumah istri ndoro Joyo yang lain. Sehingga tidak heran, setiap enam bulan sekali Ningrum memecat pembantunya dan menggantinya dengan pembantu yang baru, yang lebih mumpuni, lebih piawai, lebih terpercaya dan kalau bisa lebih cantik atau lebih tampan.

Seperti asisten rumah tangganya yang baru. Alia. Dia cantik, lulusan SMP, karena kabarnya Alia keluar dari sekolah ketia dia kelas satu SMA. Jadi masalah baca tulis dan hitung tidak masalah. Ningrum memercayakan Alia membersihkan lantai dua rumahnya, sambil melihat perkembangan kerja Alia, karena sebenarnya Ningrum berencana membawa Alia ke toko dan akan dijadikan pencatat administrasi, tapi awalnya dia harus melihat komitmen Alia dalam bekerja dulu.

Dan pagi ini Ningrum sudah dibuat muntab tanpa sebab ketika melihat wajah Alia yang sembab oleh air mata. Ningrum gemas sendiri. Dia benci kepada orang yang tidak tabah dan tegar ketika harus bekerja dan tinggal jauh dari orang tuanya.

Dan Ningrum tidak berbelas kasihan lagi pada Alia. Dia memandang tajam Alia dan Sari yang duduk bersimpuh di depannya.

"Njaluk mulih terus! Aku kan wis ngomong, yen wis nyambut gawe nem sasi nembe oleh mulih! Yen wis ora tahan, saiki wae kowe mulih! Ora sah mulih kene maneh! (Minta pulang terus! Aku, kan sudah bilang, kalau sudah kerja enam bulan baru boleh pulang! Kalau memang tidak tahan, kamu pulang sekarang saja! Dan tidak usah kembali ke sini lagi!)" Teriak Ningrum menggelegar.

Membuat kedua pembantunya itu menunduk dalam-dalam. Mereka diam tak berani bergerak ataupun menjawab. Ningrum juga merasa sebal, dia bisa saja membuat mereka berdua duduk bersimpuh sampai besok, tapi karena dia akan pergi akhirnya Ningrum menyuruh dua pembantunya itu pergi begitu saja.

"Ora sah takon mulih-mulih maneh! Yen sepisan maneh aku krungu masalah mulih, kowe wong loro bakal tak pateni! (Tidak usah tanya tentang pulang-pulang lagi! Kalau sekali lagi aku mendengar tentang masalah pulang, kalian berdua akan kubunuh!)" Seru Ningrum dan beranjak pergi. Membiarkan kedua pembantunya pergi begitu saja.

Biasanya Ningrum tidak akan sebaik ini. Biasanya dia kejam dan semena-mena, dia tidak akan memberi ampun kepada pembantunya yang kurang ajar bertanya padanya tentang masalah pulang. Hati Ningrum mendidih, tapi dia ingat pesan ndoro Joyo ketika Alia masuk ke rumah ini pertama kali.

"Sing iki aja dikon lunga, sik, ya! Tak cobane sethithik wae. Oleh, to? (Yang ini jangan disuruh pergi dulu, ya! Aku ingin mencobanya sedikit saja, boleh, kan?)" Tanya ndoro Joyo ketika melihat Alia dari kejauhan.

Ningrum memerhatikan Alia. Gadis desa Kedung Waru, lulusan SMP, memakai celana panjang warna hitam, atasan batik lengan panjang dan jilba kaos warna kuning gading, membawa tas ransel kumuh yang sepertinya berisi baju. Ningrum menghela nafas panjang. Wajah Alia cantik, tapi dia masih begitu polos dan lugu, butuh begitu banyak dipermak. Ningrum tersenyum geli.

"Badhe ngersaake digarwa nopo, Ndoro? (Ingin diperistri, Ndoro?)" Tanya Ningrum.

Ndoro Joyo tertawa terbahak-bahak.

"Kowe cemburu, ya? Ojo cemburu, Rum! Aku ora pengen mbojo maneh! Aku ming pengen ngicipi, tok! Sethithik ae! Oleh ora, Rum? (Kamu cemburu, ya? Jangan cemburu, Rum! Aku tidak ingin menikah lagi! Aku hanya ingin mencicipi, tok! Sedikit saja! Boleh nggak, Rum?)"

Ningrum paham maksud ndoro Joyo. Dia mengangguk. Mereka berpandangan dan tertawa bersama.

"Kulo siapaken tigang wulan malih, njih, Ndoro? (Saya siapkan tiga bulan, ya, Ndoro?)" Tanya Ningrum.

"Ya! Kowe wis mudheng saiki! Matur nuwun, ya, Rum! (Ya! Kamu sudah paham sekarang! Terima kasih, ya, Rum!)" Kata ndoro Joyo.

Ningrum mengangguk. Dia melihat ndoro Joyo yang sudah renta itu berjalan perlahan ke kamarnya.

Hati Ningrum masih merasakan didih kemarahan yang sama.

****

Alia terpaksa harus menahan diri untuk tidak menangis dan harus kuat. Dia menggigit bibir kuat-kuat agar tidak teringat akan pulang terus. Dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik, membersihkan lantai dua rumah ndoro Joyo dan ndoro putri. Dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menanyakan lagi tentang kepulangan pada siapapun. Alia menyimpan duka laranya sendiri. Dia menelan semua kesedihannya sendiri.

Dan pada hari itu, seperti biasa Alia memulai aktivitasnya pada pagi hari.

"Aja diresiki, Ndhuk! Engko sore wae! (Jangan dibersihkan, Ndhuk! Nanti sore saja!)" Kata ndoro putri dengan suara yang lembut. Alia mengangguk. Dia bersimpuh di depan ndoro putrinya dengan takzim.

"Kulo badhe diutus nopo, Ndoro? (Saya disuruh apa, Ndoro?)" Tanya Alia, dia agak bingung karena tidak diperbolehkan bekerja.

Ningrum diam sejenak. Dia nampak berpikir.

"Kowe bariki melu aku wae, ya! Dina iki kowe ora sah nyambut gawe! (Kamu setelah ini ikut aku, ya! Hari ini kamu tidak usah bekerja!)" Kata Ningrum, membuat Alia mendongak terkejut. Tapi buru-buru menundukkan pandangannya lagi. Waktu mendongak beberapa detik tadi, dia sempat melihat wajah ndoro putrinya yang cantiknya tak terkira. Cantik tiada tara. Cantik seperti wanita-wanita yang ada di majalah ibu kota.

Ningrum tertawa.

"Hari ini kita berteman, ya?" Kata Ningrum. Dengan kasar dia mengangkat dagu Alia. Membuat Alia terhenyak dan hampir terjengkang karena terkejut.

"Setelah hari ini selesai, kamu boleh pulang kalau kamu mau!" Kata Ningrum dan dilanjutkan dengan tawanya yang menggelegar. Membuat Alia merinding dan ketakutan.

"Mau pulang, kan?" Tanya Ningrum.

Alia merasa ada sesuatu yang salah. Tidak seharusnya Ningrum menawarinya untuk pulang dengan cara seperti ini. Seharusnya Ningrum galak dan marah-marah padanya, tapi sekarang yang terjadi adalah kebalikannya. Ningrum melarangnya bekerja dan memintanya untuk ikut Ningrum entah ke mana.

"Kenapa tiba-tiba saya diperbolehkan pulang, Ndoro?" Tanya Alia berani.

Ningrum membeliak tak percaya mendengar pertanyaan Alia. Dia mendelik.

"Gelem opo ora? Yen ora gelem ya ora popo! Kowe ora sah mulih wae sak lawase! (Mau tidak? Kalau tidak mau ya tidak apa-apa! Kamu tidak usah pulang saja selamanya!)" Teriak Ningrum murka. Wajahnya merah padam.

Alia sangat ketakutan ketika melihat wanita cantik itu murka. Wajah Ningrum yang marah nampak merah dan sangat cantik, sangat cantik jelita. Alia berusaha menundukkan kepala. Tapi Ningrum tetap memegangi dagunya dan tanpa disangka kemudian dia menampar Alia kuat-kuat hingga tubuh Alia jatuh tersungkur.

Ningrum bangkit dan menginjak punggung Alia.

"Yen kowe ora manut, berarti keluargamu mati kabeh! (Kalau kamu tidak menurut, berarti keluargamu mati semua!)"

****

Untuk kesekian kalinya pria itu mendatangi rumah Arya di Kedung Waru. Pria itu nampak terlihat begitu 'mriyayeni' atau begitu terlihat jelas memiliki strata sosial yang tinggi alias bangsawan. Pria itu selalu nampak sopan dan berwibawa. Menyapa Arya dan kemudian meminta tolong kepada Arya.

"Mas Arya, kulo saestu badhe nyuwun tulung, njih? (Mas Arya, saya benar-benar hendak minta tolong, ya?)" Kata pria bernama pak Dewabrata itu.

Arya tersenyum.

"Pangapunten, wangsulanipun taksih sami, Pak. Kawulo mboten saged! (Maaf, jawabannya masih sama, Pak. Saya tidak bisa!)" Jawab Arya dengan kesopanan yang sama.

Dewabrata tersenyum. Dia merasa Arya hanya butuh sedikit dorongan.

"Mas Arya taksih mbetahaken arta, kan? Badhe pinten, Mas? Seket juta nopo satus juta? (Mas Arya masih butuh uang, kan? Mau berapa, Mas? Lima puluh juta atau seratus juta?)" Tanya Dewabrata lagi. Membuat Arya terhenyak dan membeku.

Bagaimana mungkin pria itu tahu dengan tepat jumlah uang yang dibutuhkannya? Arya menelan ludah. Sepertinya dia sedang berhadapan dengan orang yang tidak sedang main-main. Akhirnya Arya menyerah.

"Kulo mbetahaken kalih atus juta, Pak, menawi mboten ngrepoti, (Saya butuh dua ratus juta, Pak, kalau tidak merepotkan,)" jawab Arya. Dia menahan semua rasa malunya pada Dewabrata.

Mereka berpandangan. Dewabrata mafhum. Sepertinya masalah yang menggelayuti pundak pria muda di depannya ini tidak ringan. Arya baru saja menabrak seorang pejalan kaki dengan motor pinjaman. Pejalan kaki itu meninggal. Sebenarnya Arya dianggap tidak sepenuhnya bersalah, karena memang banyak saksi yang mengatakan bahwa pejalan kaki itu menyeberang jalan sembarangan. Tapi untuk menutup kasus itu Arya butuh uang yang cukup banyak, mungkin menang benar dia meminta uang seratus juta untuk bekal membayar ke sana ke mari. Dan uang seratus juta yang lain pastilah untuk membungkam keluarga Kustilah, wanita yang disukai Arya yang sudah hamil duluan karena Arya, dan kemarin baru digugurkan di dukun desa sebelah. Arya tidak ingin menikahi Kustilah, jadilah dia harus membayar sejumlah uang untuk membawa Kustilah pergi.

Dan Dewabrata tahu semua itu. Dia tahu semua detail nama korban, nama polisi, nama keluarga korban, nama dukun aborsi, tempat dan waktu semua kejadian dan semua kelengkapannya. Dia akan menjadikan semua data itu sebagai kartu as apabila Arya menolaknya.

Tapi setelah disinggung masalah uang, Arya langsung luruh dan menyerah. Dan Dewabrata menyanggupinya.

"Njih, saya akan langsung transfer ke rekening mas Arya. Dua ratus lima puluh juta! Sekarang juga!" Kata Dewabrata. Dia terlihat mengetik di HPnya dan kemudian menunjukkan HPnya pada Arya.

Arya melihat dengan tak percaya sejumlah angka yang tertera di layar HP itu. Sembilan digit angka sekarang sudah masuk ke rekeningnya. Arya nyaris pingsan. Dia mengangguk dan mengecek saldo rekeningnya melakui HPnya.

"Sudah masuk, kan?" Tanya Dewabrata.

Arya mengangguk.

"Berarti semua sudah fix, ya? Besok saya ke sini lagi menjemput mas Arya. Tolong disiapkan baju untuk bepergian selama tujuh hari enam malam, njih?" Kata Dewabrata dengan tegas.

Arya mengangguk. Dia menelan ludah.

"Kenapa saya yang dipilih, Pak?" Tanya Arya dengan nada keheranan. Sejak pertama kali Dewabrata datang ke rumahnya itu yang dipikirkannya. Kenapa dia?

Dewabrata tersenyum.

"Karena ada sesuatu di dalam diri mas Arya yang bisa membantu saya!"

****

Alia dipaksa berdiri dan diseret masuk ke dalam mobil yang telah siap di depan rumah.

Sari mengintip dari dalam kamarnya. Dia melihat Alia menangis tertahan. Jilbabnya dilepas paksa, bajunya sobek di beberapa tempat. Seandainya tidak memikirkan tentang uang, Sari pasti akan langsung membantu Alia. Tapi Sari tidak berani melakukan itu semua. Dia takut akan dikeluarkan dari rumah ini tanpa dibayar.

****

Pengalaman hari itu benar-benar luar biasa bagi Alia. Gadis remaja desa yang baru tahu dunia dan harus menghadapinya sendirian. Dia dipaksa untuk melakukan hal yang dikehendaki majikannya. Dia tidak tahu maksud Ningrum apa, dia hanya terdiam ketika tubuhnya diseret dan dimasukkan ke dalam mobil.

Di dalam mobil Alia masih dihujani sumpah serapah oleh ndoro putrinya.

"Arep diwenehi aji, kok, ora gelem! Bodhomu ki dientekke sik! (Mau diberi penghargaan, kok, tidak mau! Bod*hmu itu dihabiskan dulu!)" Teriak Ningrum dengan segenap kebencian di dalam dadanya.

Alia hanya menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes-netes liar.

"Ora sah nangis! Kemayu! Sok jual mahal! Padalah asline, ya, jiwane lonth*! (Tidak usah nangis! Kemayu! Sok jual mahal! Padahal aslinya jiwanya juga jiwa lont*!)" Teriak Ningrum lagi. Sekali lagi Ningrum mengangkat dagu Alia.

Ketika melihat wajah Alia yang cantik tapi berbekas memar karena tamparannya, tiba-tiba hati Ningrum menjadi trenyuh. Dia ingat dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu, diperlakukan kurang lebih sama seperti ini. Rambutnya dijambak, dia diseret, disekap di kamar mandi dan akhirnya dia resmi menjadi seorang pelac*r. Hingga detik ini. Perannya sebagai Ndoro Joyo hanyalah kedok belaka. Kamuflase saja.

Ningrum ikut menangis tersedu. Dia mendekap Alia.

"Apuranen aku, ya, Ndhuk! Aku ming dadi bature ndoro Joyo! Aku dikon ngrumati kowe, Ndhuk! (Maafkan aku, ya, Ndhuk! Aku hanya menjadi pembantu ndoro Joyo! Aku disuruh merawatmu, Ndhuk!)" Teriak Ningrum histeris di tengah sedu sedan tangisnya.

Membuat Alia semakin kebingungan tiada tara.

****

Salli menyambut Ningrum yang wajahnya basah oleh air mata.

Salli mendesah. Selalu ada anak yang baru kalau Ningrum menangis sehisteris itu. Pasti ada calon 'istri' ndoro Joyo yang baru!

Salli segera menyuruh mereka berdua masuk ke dalam ruangan khususnya di salon itu.

"Baru lagi?" Tanya Salli.

Ningrum mengangguk.

"Nggak usah nangis, Rum!"

"Ya, aku nangis, to, Sal! Sebentar lagi aku diusir dari rumah itu!" Jawab Ningrum keras. Salli menggelengkan kepalanya.

"Mulai sekarang ambil semua barang berharga di sana. Cari kontrakan gudang untuk menampung barang-barangmu itu! Kalau sudah waktunya kamu pergi kamu tidak akan pergi dengan tangan kosong!" Bisik Salli menghasut.

Ningrum mendengarkan dengan teliti.

"Kamu sudah sering membantu istri ndoro Joyo yang lain?"

Salli mengangguk. Ningrum menimbang-nimbang.

"Baiklah! Aku akan segera melakukannya besok. Aku minta tolong, ya, Sal!" Kata Ningrum. Salli mengangguk.

"Siap, Rum! Sekarang kita permak dulu gadis ini!" Kata Salli. Mereka berdua cekikikan. Dan membiarkan Alia kebingungan sekaligus takut.

****

Malam itu Alia diminta menemui Ningrum di kamarnya di lantai dua. Alia yang sudah berdandan cantik mematuhi semua perintah Ningrum, dia tidak akan gegabah bertanya atau menolak perintah Ningrum lagi.

"Mulai malam ini kamu tidur di sini, ya!" Kata Ningrum, sambil mendorong Alia memasuki sebuah kamar besar yang biasa dibersihkan Alia setiap hari. Sebelum Alia protes pintu kamar itu ditutup dengan keras dan dikunci dari luar.

Alia merinding ketakutan, dia gemetar dan risau karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya Alia memilih untuk duduk di tepi ranjang. Dia terpekur. Jilbabnya sudah hilang sejak berangkat ke salon tadi, dia tidak diperbolehkan sholat atau mengaji seperti biasa. Dan larangan yang paling keras adalah Alia tidak boleh menangis.

"Kalau menangis berarti mati!" Teriak Ningrum tadi.

Alia berusaha untuk tidak menangis. Dia juga menahan lelah dan lapar. Sejak tadi dia tidak diberi makan sama sekali.

Akhirnya Alia yang kelelahan memberanikan diri membaringkan tubuhnya di ranjang besar di kamar itu. Dan dalam sekejap dia sudah terbawa ke dalam alam mimpi.

****

Ndoro Joyo melihat Alia yang sudah tertidur pulas. Dia tersenyum puas. Dugaannya benar.

Ada sesuatu dalam tubuh Alia yang bisa membantunya.

****

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Amanda Rhea
Amanda Rhea
Dalam Amanda Rhea, Amanda terjebak misteri masa lalu bersama Hagana. Di balik elemen fantasy ini, ia harus melindungi orang terdekat dari ancaman iblis mimpi. Baca kisah adventure dan romance novel ini sekarang untuk mengungkap rahasia takdir yang terikat di platform web novel.
Asmara Mendendam
Asmara Mendendam
Dalam Asmara Mendendam, Nezza terjebak di kos berhantu dan terlibat konflik dengan Ari. Di balik teror berdarah, ada rahasia pembunuhan masa lalu. Temukan jawaban dalam mystery story ini. Baca romance novel dengan unsur horror novel mencekam ini untuk mengungkap kebenaran di balik sosok Jessy.
Ayah Pembawa Masalah
Ayah Pembawa Masalah
Dalam novel misteri Ayah Pembawa Masalah, uang kantor senilai 400 juta yang dipinjamkan paksa oleh sang ayah menyeret protagonis ke dalam tragedi pembunuhan. Setelah mendapat kesempatan kedua, ia bertekad mengubah nasib. Baca novel online menegangkan ini di platform novel web terpercaya.
CANDIKALA
CANDIKALA
Dalam novel CANDIKALA, Halimah terjebak dalam misteri penglihatan gaib tentang calon tumbal. Sebagai fantasy horror yang mencekam, ia harus mengungkap rahasia tempat aneh tersebut demi bertahan hidup. Baca mystery story ini di webnovel untuk mengikuti perjuangan Halimah mencari jawaban.
Gulai Daging Ibu
Gulai Daging Ibu
Dalam novel horor Gulai Daging Ibu, Parni nekat menempuh jalan gelap demi menghidupi keluarganya. Tindakan nekat ini memicu misteri besar yang menghantui satu desa. Simak kelanjutan kisahnya di web novel ini, sebuah mystery story mencekam tentang pengorbanan dan dosa yang tak terampuni.
NURHAYATI
NURHAYATI
Dalam novel NURHAYATI, penampakan hantu perawat di klinik Karang Pandan memicu teror besar. Selidiki rahasia kelam di balik misteri ini dalam mystery story yang mencekam. Baca horror novel ini untuk mengungkap kebenaran yang terkubur sebelum nyawa menjadi taruhan di web novel ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Cinta di Balik Senja
Cinta di Balik Senja
Sepuluh tahun yang lalu, Grup Finch mengalami kebangkrutan karena putusnya rantai pendanaan. Orang tua Leo tewas dalam kecelakaan mobil, dan Leo diselamatkan oleh King, pemimpin organisasi Onyx. Di bawah asuhan King, Leo dilatih hingga tumbuh menjadi wakil pemimpin Onyx. Sepuluh tahun kemudian, Leo berusaha mengungkap kebenaran di balik kehancuran Grup Finch dan mencari kalung berlian "Roda Takdir". Dalam perjalanan itu, Leo menghadiri acara lelang dan bertemu Zane, yang sedang dilelang sebagai salah satu "objek lelang." Melihat Zane yang lemah dan tak berdaya, Leo teringat dirinya sendiri di masa kecil. Didorong oleh rasa iba, Leo menyelamatkan Zane dan mengirimnya kembali ke negaranya, berharap Zane bisa memulai hidup yang normal. Namun, setelah kembali ke negaranya, Zane tetap bersikeras untuk menyelidiki kebenaran di balik insiden tersebut. Dalam usahanya mendekati orang-orang yang terkait dengan kasus itu, Zane bertemu lagi dengan Leo, yang sedang menjalankan misi di negara yang sama. Penyelidikan Zane penuh dengan bahaya, tetapi dia berhasil selamat berkat bantuan Leo. Selama waktu bersama, hubungan keduanya berkembang menjadi kisah cinta. Ketika mereka akhirnya menemukan bukti kunci, para penjahat menunjukkan niat aslinya dan menculik Zane.
Takdir di Pelukan Pangeran
Takdir di Pelukan Pangeran
Siska mengorbankan hartanya demi Putra Mahkota Jino, tapi malah dikhianati. Gelar dan kedudukannya diberikan pada adik tirinya. Waktu tersadar, dia bangkit, memutus hubungan dengan Jino, lalu menikah dengan Pangeran Yanto. Dengan kekuatan berbisnisnya, dia bertekad membuat semua pengkhianat itu menyesal.
[Versi Dub] Ting! Ibu, Suamimu Sudah Tampak !
[Versi Dub] Ting! Ibu, Suamimu Sudah Tampak !
Setelah dijebak oleh keluarganya sendiri, Nora Wood hamil anak Tyler Holt, yang kemudian diberi nama Bryan. Sayangnya, ketika Bryan berusia lima tahun, dia didiagnosis menderita leukemia. Untuk menutupi biaya medis, Nora memutuskan menjual liontin giok keluarga yang diberikan Tyler padanya, memicu pencarian Bryan oleh keluarga Holt di seluruh kota. Sementara itu, Nora bergabung dengan Holt Group sebagai sekretaris Tyler. Saat mereka bekerja sama, perasaan mereka tumbuh, dan hubungan mereka berkembang seiring waktu.
Menemukan Kasih Sayang Sejati di Labirin Cinta
Menemukan Kasih Sayang Sejati di Labirin Cinta
Jessica, menikah dengan Keluarga Carter selama tiga tahun, tidak pernah bertemu suaminya karena pria itu mencintai orang lain. Selama tiga tahun ini, sang suami mencari bantuan medis di mana-mana untuk kekasihnya sementara Jessica selalu menunggunya berubah pikiran. Namun, yang dia dapatkan hanyalah surat perjanjian perceraian. Kemudian, dia menyembunyikan identitasnya sebagai istrinya dan menjadi terapisnya. Melalui interaksi yang berulang, dia mengetahui perasaan pria itu yang sebenarnya padanya.
Permainan Berbahaya dengan Tunangan Kakakku
Permainan Berbahaya dengan Tunangan Kakakku
Terhina oleh keluarga dan dikhianati mantan, Nora mengincar satu-satunya pelarian: Jorge, tunangan kakaknya sekaligus pria paling berkuasa. Dalam permainan mematikan ini, dia harus berhadapan dengan ayah yang munafik, ibu tiri yang licik, mantan yang oportunis, serta kakak sendiri yang ingin menghancurkannya. Namun Jorge, yang justru membaca niat Nora, memutuskan untuk menjadi sekutu terberat dan perisai terakhirnya. Dalam permainan yang kabur antara pemangsa dan mangsa, Nora pun mulai jatuh hati.
Cinta Satu Malamku Hasilkan Pewaris?
Cinta Satu Malamku Hasilkan Pewaris?
Tujuh tahun setelah cinta satu malam, putra Thea, Sean, tak sengaja bertemu ayah kandungnya, Everett, pria dari garis keturunan peramal hebat. Tes DNA membongkar segalanya, membuat keluarga Hopper yang berkuasa panik mencari pewaris mereka yang hilang. Thea pun menjadi asisten Everett. Di antara percikan asmara dan kesalahpahaman, cinta mereka nyaris kandas hingga kebenaran menyatukan mereka kembali.