Logo
Kafan Hitam
Kafan Hitam

Kafan Hitam

32 Bab
Tamat
Dalam novel Kafan Hitam, Rojali berupaya menyibak misteri kematian tragis Mbah Atim di Desa Ciboeh. Penyelidikan ini membawanya menghadapi kelompok Kalong Hideung dan rahasia kelam masa lalu. Sebuah mystery story penuh aksi untuk pembaca yang menyukai horror novel dan adventure story mencekam.
Bab 1 dari Kafan Hitam

Desa Ciboeh, 1985

“Apa saya harus benar-benar pergi?” ujar Ujang begitu sepedanya menepi ke sisi jalan. Tangannya segera menyeka peluh di dahi dengan kain sarung yang tersampir di bahu.

Ujang menoleh ke belakang, tepatnya pada cahaya dari perkampungan yang kian meredup seiring sepeda menggerus jarak. Di sisi kiri dan kanan, terhampar persawahan yang berselimut gelap karena tengah dicumbu malam. Kakinya kembali bersiap di pedal sepeda, tetapi pikiran dan hatinya masih terkunci pada nyaman dan hangatnya kediaman.

Tatapan Ujang teralih pada pekatnya kegelapan di depan. Pria itu cukup beruntung karena petromaks yang berada di keranjang sepeda masih memberikan cahaya, berbanding terbalik dengan rembulan yang hanya mengintip di balik awan tanpa sudi membagi sinar.

“Apa saya harus benar-benar pergi?” ulang Ujang. Tubuh dan jiwanya mendambakan kasur empuk di rumah, sedang sang mertua dan istri menuntutnya agar tak pulang sebelum melaksanakan permintaan.

Ujang hanya memiliki dua pilihan malam ini. Pertama, pria itu kembali ke rumah dan langsung dihadiahi amukan mertua dan wajah masam sang istri. Kedua, ia akan selamat dari amarah penghuni rumah, tetapi harus berdamai dengan rasa takut ketika dihadapkan kengerian Mak Lilin.

Setelah menimbang, Ujang mengambil pilihan kedua. Dengan wajah setengah pucat, ia kembali mengayuh sepeda menuju kegelapan jalan di depan. Sebenarnya, Ujang tak keberatan bila Mak Lilin yang dimaksud adalah seorang wanita tua renta. Akan tetapi, realita berkata bila sebutan itu tak lain ditujukan untuk sebuah pemakaman di utara desa.

Semakin dekat ke arah tujuan, Ujang kian dibuat terengah-engah. Dadanya kembang kempis seiring bahu yang naik-turun. Pria itu berhenti tepat di depan gapura kuburan untuk menstabilkan napas. Tatapannya lantas mendongak, tepatnya pada setitik cahaya di gubuk milik penjaga makam, dan di sanalah tempat tujuannya.

“Sepertinya saya harus benar-benar pergi,” gumam Ujang sembari turun dari sepeda, kemudian menyimpan benda beroda dua itu di bawah pohon. Tak perlu takut akan dicuri, Ujang sadar kalau hanya orang bodoh yang akan menginjak tanah Mak Lilin di malam hari. Pencuri akan berpikir ribuan kali sebelum melakukan aksi.

Untuk sampai ke gubuk milik penjaga makam, Ujang harus melewati jembatan, hamparan pusara, kemudian menaiki tangga. Jaraknya tak begitu jauh dari gapura, hanya saja tekanan kawasan ini benar-benar membuat langkah melambat, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang kian cepat.

Bau kamboja seketika tercium ketika Ujang melumat kegelapan. Sisi kanan dan kiri dipenuhi dengan pepohonan bambu liar. Saat angin menerobos celah-celah tanaman itu, suara memekakkan akan langsung bertamu ke pendengaran.

Ujang seketika terpejam saat pekikan gagak dan dehaman burung hantu hadir menemani perjalanan. Ia bisa merasakan burung-burung itu mengamatinya di suatu tempat. Ujang tak punya nyali untuk sekadar mencari tahu. Ia hanya tak ingin saat sinar petromaks terangkat lebih tinggi, sesuatu yang tak ingin ditemuinya akan menampakkan diri.

“Mbah Atim,” ucap Ujang saat melihat siluet manusia bergerak menuju jembatan. Bukannya ketakutan, pria itu malah mempercepat langkah. Ketegangan di wajahnya sedikit mencair.

Kegelapan memudar saat Ujang sudah berada di depan jembatan. Empat buah obor menyala di tiap sisi jembatan. “Mbah, saya ingin ... minta buah delima untuk istri saya yang sedang ngidam, boleh?” tanyanya.

Pria berpakaian serba hitam itu terus berjalan, tetapi Ujang menerjemahkan sebagai anggukan persetujuan. Untuk itu, ia segera berjalan di jembatan dengan penuh kehati-hatian. Rasa takutnya tak sekentara tadi.

“Mbah,” panggil ujang saat berada di tengah jembatan. Begitu mengangkat petromaks lebih tinggi, ia sama sekali tak menemukan Mbah Atim. Namun, ia dengan jelas masih mendengar suara langkah kaki.

Begitu Ujang berhasil melewati jembatan, ia dengan tergesa-gesa menaiki gundukan tanah yang disusun menyerupai tangga. Sepintas, Ujang merasa bila ada seseorang yang tengah menatapnya. Namun, saat ia memastikan lebih jeli, nyatanya tak ada siapa pun di sana. Pemandangan yang tampak justru hamparan makam. Sialnya, tanah kuburan malah disiram cahaya rembulan yang kian memperjelas bentuk gundukan tanah dan batu nisan.

Ujang refleks menutup mulut begitu bau kamboja menyengat hidung. Sepanjang melumat tanah kuburan, ia tak berani mendongak, memilih mengikuti cahaya petromaks.

“Mbah,” panggil Ujang.

Kali ini, Ujang memberanikan diri mendongak. Ia melihat orang yang dipanggilnya sudah lenyap ditelan kegelapan begitu melewati ujung pekuburan. Pria itu mengambil napas panjang, kemudian meneruskan perjalanan.

Cahaya bulan kini terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Suara burung dan serangga tak terdengar lagi saat Ujang mulai menaiki tangga. Suasananya teramat hening. Ujang bahkan bisa mendengar suara langkah kaki dan embusan napas sendiri. Namun, ada sesuatu yang ganjil menurut Ujang. Meski ia tengah berdiri di anak tangga terakhir dengan posisi tak bergerak, tetapi entah mengapa ia masih mendengar suara langkah kaki.

Apa mungkin ada seseorang di belakangnya?

Nyatanya tidak. Ujang hanya melihat kunang-kunang yang tiba-tiba muncul dari ujung tangga.

“Mbah.” Panggilan Ujang berbalas dehaman seseorang.

Ujang sudah berada di depan gubuk. Delima yang diminta istrinya hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Ia lantas masuk, kemudian mulai memetik buah.

“Mbah, saya ambil tiga buah,” kata Ujang sembari menyimpan sebungkus rokok yang berisi empat batang ke atas batu di depan gubuk, “nuhun.”

Ujang menutup pintu pagar perlahan, lalu mengaitkan talinya pada paku. “Mbah—”

Mendadak wajah Ujang tertutup sarung saat angin tiba-tiba menerjang. Dedaunan ikut bergoyang karena aliran udara tadi. Pria itu kemudian melirik tempat terakhir ia melihat rokoknya. Rupanya batangan tembakau itu sudah tak berada di sana.

“Nuhun, Mbah,” ujar Ujang sekali lagi.

Ujang kembali berjalan. Namun, baru saja ia menuruni dua buah anak tangga, pintu gubuk tiba-tiba terbuka kencang. Pria itu seketika meneguk saliva, menoleh ke arah suara, lalu memilih meninggalkan bangunan itu dengan segera.

Kunang-kunang menyambut Ujang saat dirinya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Lolongan anjing tiba-tiba terdengar entah dari mana. Tangannya menghempas kerlipan cahaya milik kumpulan kunang-kunang tersebut dengan gerakan asal. Ujang benci makhluk itu. Kata orang tua dahulu, serangga itu adalah kuku orang mati, pertanda hal buruk akan terjadi.

Ujang kembali berada di area kuburan. Tubuhnya seketika menegang ketika mendengar suara raungan yang tiba-tiba. Sontak bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak cepat seperti akan meledak.

Ujang dengan gemetar mengamati sekeliling, mencari pemilik suara raungan barusan. Ia dengan cepat menutup mulut dengan sarung ketika bau bangkai menyingkirkan aroma kamboja. Perutnya serasa diaduk-aduk dan ususnya laksana diluruskan paksa.

Ujang tak peduli lagi dengan lolongan anjing atau suara raungan itu. Ia hanya ingin cepat keluar dari area pemakaman. Saat berada di pertengahan arena kuburan, Ujang akhirnya memuntahkan isi perut. Ia sampai harus berjongkok untuk lebih mudah mengosongkan perut. Ia cukup terbantu berkat pijatan seseorang di lehernya.

“Nuhun, Mbah,” ucapnya.

Saat menyadari hal yang tak semestinya terjadi, mata Ujang seketika terbelalak. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras. Lehernya terasa basah karena cairan kental. Ujang yakin itu bukan balsem seperti dugaan sebelumnya, tetapi ia tak sudi untuk sekadar menerka jawaban. Ia lebih memilih berdiri dan segera enyah dari kawasan ini.

Saking tergesa-gesa, Ujang tak sengaja menjatuhkan keresek yang berisi buah delima hingga isinya menggelinding ke tanah. Dua buah delima tergelatak tak jauh darinya, tetapi sisanya terlempar agak jauh. Saat akan mengambilnya, lolongan anjing kembali terdengar.

Ujang merasakan lehernya kembali basah. Namun, ia memilih untuk mengambil buah delima terakhir. Di luar dugaan, rasa mual mengocok perutnya lagi. Bau busuk kian menyengat bersamaan dengan langkahnya yang semakin dekat dengan buah delima ketiga. Rasanya seperti ada ratusan ulat bulu yang berkumpul di tenggorokan.

Napas Ujang mendadak berhenti saat buah delima itu tiba-tiba terbang ke atas. Mau tak mau matanya mengikuti pergerakan benda itu. Ia terpaksa menggigit bibir saat melihat sesosok makhluk hitam berdiri di depannya. Pria itu dengan segara menahan teriakan yang akan meledak. Di saat seperti ini, entah mengapa kakinya malah mendadak tak bisa digerakan. Sekujur tubuhnya laksana batu yang tertancap kuat. Buah delima yang lebih dahulu ia pungut malah terjatuh kembali.

Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang ada, Ujang memunguti kembali delima dan memasukkannya ke dalam keresek. Ia berharap bila apa yang dilihatnya barusan hanyalah bayangan. Namun, saat tubuhnya sudah setengah berdiri, makhluk hitam penuh borok itu malah menyodorkan buah delima terakhir ke arahnya. Bersamaan dengan itu, nanah dan darah menetes saat sosok itu tersenyum. Hanya manusia yang sangat bodoh saja yang mau menerima pemberian dari makhluk hitam itu, pikir Ujang.

“Ju-jurig!”

Ujang seketika pontang-panting di tengah area pemakaman. Lampu petromaksnya terombang-ambing hingga nyaris padam. Sekilas, ia menengok ke belakang. Makhluk itu masih berada di tempatnya semula, memelotot dengan mata merah menyala. Saking takutnya, Ujang tak sadar menangis. Ia tak peduli lagi dengan delima yang diminta istrinya.

Ujang yang dilanda panik tak menyadari jika kain sarungnya melilit kaki. Alhasil, ia terjatuh dari atas anak tangga hingga tersungkur ke bawah. Petromaksnya mati seketika. Ujang menggeliat bak cacing kepanasan, mengaduh di sisi jembatan.

Ujang mengelus kakinya yang terkilir. Berbekal pencahayaan dua lampu minyak dan paksaan kuat, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju jembatan. Langkahnya terkesan diseret.

Namun, kesialan Ujang nyatanya tak berhenti di sana. Jembatan kayu yang tengah ia pijak malah bergoyang-goyang karena diterjang angin. Ujang terombang-ambing di tengah jembatan.

“Ampun!” Ujang memegang kuat tali jembatan saat perantara dua jalan itu berguncang seakan hendak terbalik. Saat akan lari, kakinya malah terperosok. Berkali-kali ia berusaha menarik kaki. Namun, semakin kuat berusaha, kian dekat pula ia dengan makhluk hitam berbau busuk itu.

“Ampun!” Ujang tak berani melihat. Ia menangis sembari memeluk satu lutut, sedang satu tangannya berpegangan kuat pada tali jembatan. “Sa-saya tidak ada niatan ganggu. Jangan bunuh saya,” ucapnya gemetar.

Ujang kian menunduk dalam, sedang tangisnya semakin menjadi. Ia menyesali kepergiannya malam ini. Kalau saja kejadiannya akan seperti ini, ia lebih baik menerima wajah masam istri dan omelan mertua selama seminggu.

Ujang mendongak saat merasa bau busuk mulai menghilang. Rupanya makhluk hitam itu sudah pergi. Pria itu mencoba kembali berdiri. Namun, nahas, saat ia menarik kakinya kuat-kuat, pijakannya tiba-tiba ambruk. Dalam satu tarikan napas, tubuh Ujang terjatuh. Untungnya, ia masih mampu berpegangan pada pijakan jembatan.

“Tolong saya!” Ujang berteriak. Raganya terayun-ayun di tengah jembatan.

Namun, setelah sadar kalau ia berada di area pemakaman, Ujang hanya bisa pasrah. Dalam keputusaasaannya, pria itu melihat makhluk itu berlari ke arahnya.

Ujang sudah tak kuat untuk terus berpegangan. Tangannya mulai mati rasa. Dalam hitungan detik, jemarinya satu per satu terlepas dari pegangan hingga akhirnya raganya jatuh ke jurang yang dipenuhi tumpukan batu.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

DENDAM INDRIANA
DENDAM INDRIANA
Dalam DENDAM INDRIANA, pernikahan mendadak Indriana hancur seketika akibat pengkhianatan dan perselingkuhan Andi. Mengusung genre romance modern dengan sentuhan action, kisah ini mengikuti misi balas dendam Indriana. Baca web novel seru ini untuk melihat perjuangannya menuntut keadilan.
Ikatan Suci
Ikatan Suci
Dalam novel Ikatan Suci, Mona, janda abdi negara, dipaksa ayahnya menikahi Galih, mantan narapidana. Di balik genre romance modern ini, tersimpan misi rahasia dan pengorbanan besar. Ikuti kisah mereka dalam web novel penuh aksi ini untuk mengungkap alasan di balik pernikahan tak terduga.
Immortal and The Beast
Immortal and The Beast
Dalam Immortal and The Beast, Theodore terbangun 100.000 tahun kemudian di tubuh pemuda lemah. Mantan immortal ini harus berjuang sebagai hunter demi bertahan hidup. Ikuti petualangan penuh aksi ini dalam fantasy novel dan LitRPG novels terbaik hanya di platform web novel kami.
Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
Pasca cerai dari suami misteriusnya, Elsa mengungkap jati diri aslinya dalam Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa. Sebagai agen rahasia dan dokter dalam modern novel ini, ia memicu penyesalan sang mantan. Simak kisah romance novel penuh aksi ini di platform web novel kami.
LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
Dalam LOVE BETWEEN TWO BELIEFS, Stenly bangkit dari pengkhianatan Kimberly untuk menyelamatkan Seruni dari ancaman Dante. Ikuti kisah romance penuh aksi dan adventure ini saat Stenly berjuang menata hidupnya kembali. Baca web novel seru ini sekarang di platform online novel terpercaya.
Pendekar Kembara Semesta Seri 2
Pendekar Kembara Semesta Seri 2
Dalam Pendekar Kembara Semesta Seri 2, Suro Joyo terjebak pemberontakan Kerajaan Karangtirta dan ancaman bajak laut. Fantasy novel ini mengisahkan misinya melawan Jurus Ular Api Neraka milik Sanggariwut. Baca adventure story seru ini di webnovel untuk mengikuti aksi sang pendekar.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Mundur! Saya adalah Nyonya CEO yang Asli!
Mundur! Saya adalah Nyonya CEO yang Asli!
Fina mulai bekerja di kantor barunya. Namun teman kerjanya nggak tahu kalau dia istri CEO dan malah mengira Diana yang juga baru masuk hari itu adalah istri CEO. Diana pun memanfaatkan itu untuk masuk ke dalam Keluarga Gian Panji, suami Fina yang miliarder. Teman kerja dan bahkan ibu Gian yang percaya pada kebohongan Diana membuat posisi Fina jadi kesulitan. Ditambah lagi Hanif, saudara Gian juga menyukai Fina. Hanif dan Diana pun bekerja sama untuk memisahkan Fina dan Gian untuk tujuan masing-masing.
Menemani Dokter Miliader Kejam
Menemani Dokter Miliader Kejam
Violet, harus membayar biaya operasi ayahnya, memutuskan untuk menjual keperawanannya, tapi dokter baik yang dia telepon bertekad untuk menariknya kembali dari jurang keterpurukan. Namun, setelah mereka berdua berbagi malam yang panas dan tak terlupakan, Dax mendapati dirinya terpikat pada Violet meskipun dia mengira bahwa Violet hanyalah wanita mata duitan lainnya. Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, akankah ikatan mereka yang rapuh ini bertahan?
Gosip dan Cinta: Cara Mendapatkan Bintang Film
Gosip dan Cinta: Cara Mendapatkan Bintang Film
Cleo Marlowe, asisten casting ambisius, nekat membujuk bintang film Blake Wilder untuk bermain di filmnya. Setelah tertangkap paparazzi keluar dari rumah Blake, ia dicap memanfaatkan skandal untuk naik daun. Saat reputasinya hancur, Blake yang terkenal dingin justru muncul sebagai satu-satunya orang yang mendukungnya.
Saya Tidak Sengaja Menyewa Suami Miliarder
Saya Tidak Sengaja Menyewa Suami Miliarder
Dalam nasib yang berbeda, Emma, ​​​​seorang wanita yang sedang berjuang, mempekerjakan Oliver, seorang miliarder, untuk menyamar sebagai suaminya. Apa yang dimulai sebagai hubungan pura-pura dengan cepat berubah menjadi romansa nyata saat Oliver jatuh cinta pada Emma. Namun, Emma dikutuk dan tidak bisa jatuh cinta, dihantui oleh pria misterius dalam mimpinya. Saat cinta mereka semakin dalam, rahasia Oliver mengancam untuk menghancurkan hubungan mereka, dan Emma bertanya-tanya: siapakah pria yang menghantui mimpinya, dan bisakah mereka mengatasi rintangan untuk bisa bersama?
Menantang Takdir dengan Spoiler
Menantang Takdir dengan Spoiler
Fina Halim sekeluarga berjumlah empat orang makan hotpot di rumah, namun tabung gas meledak secara tidak sengaja. Saat membuka mata lagi, dia ternyata jadi wanita antagonis di dalam novel yang ditulisnya sendiri. Yang lebih mengejutkan, orang tua dan adik laki-lakinya juga ikut berpindah, menjadi keluarga kaya dalam cerita. Fina sangat memahami alur cerita. Menurut alur semula, mereka akan berakhir tragis karena menyinggung tokoh utama wanita, Anita Liman. Untuk menyelamatkan nyawa dan kekayaan yang ada di depan mata, seluruh keluarga memutuskan untuk menyenangkan Anita. Namun Anita yang terlihat setuju, diam-diam merencanakan sesuatu dengan kakaknya, Jodi Liman. Untungnya Fina yang memahami alur cerita selalu bisa mengatasi semua bahaya. Untuk menyelamatkan diri, Fina setuju untuk membatalkan pernikahan dengan Ivan Lukito, tetapi secara tidak sengaja malah menjadi pengumuman resmi! Fina hanya bisa mengikuti situasi yang salah, sambil melawan musuh, dan menjalani pertunangan dengan Ivan. Akhirnya, wanita antagonis ini berhasil menjadi tokoh utama wanita. Gadis polos nan cerdik itu berhasil menaklukkan hati bos dominan yang arogan dan hidup bahagia.
Terobsesi Dengan Istri Bisunya
Terobsesi Dengan Istri Bisunya
Eva yang menjadi anak asuh di Keluarga Calvert, selalu mencintai Declan Calvert, anak laki-laki yang tumbuh sebagai pelindungnya. Dia yang tidak bisa berbicara sejak lahir, berjuang untuk mengungkapkan perasaannya dalam pernikahan yang dibangun atas dasar tugas. Declan menikahinya hanya untuk menghormati keinginan terakhir kakeknya. Eva yang terjebak dalam hubungan yang beracun, menanggung kekejaman Declan dan rencana kejam selingkuhannya, Selene, untuk mengusirnya. Terlepas dari semua itu, Eva berpegang teguh pada harapan bahwa Declan dapat menemukan kembali cinta yang pernah ada di antara mereka saat kecil. Eva yang terikat oleh kesunyian, harus memutuskan: memperjuangkan hati Declan atau membebaskan diri sebelum terlambat.