Logo
Cinta di Musim Semi
Cinta di Musim Semi

Cinta di Musim Semi

44 Bab
Tamat
Dalam novel modern Cinta di Musim Semi, Amara harus mengungkap rahasia masa lalu yang mengancam hidupnya. Di antara Rendra dan Daffa, ia menghadapi pilihan sulit dan misteri yang mendalam. Temukan kisah lengkapnya dalam romance novel ini, salah satu fiction books terbaik saat ini.
Bab 1 dari Cinta di Musim Semi

Amara menutup laptopnya-sekali lagi-lalu menatap layar gelap yang masih menyimpan potongan-potongan naskah kliennya. Ruangan apartemennya di lantai delapan gedung di dekat SCBD itu terasa dingin meski AC dimatikan; malam Jakarta mengigilkan jenis sepi yang tak bisa dibeli dengan kopi atau playlist. Di meja kerja, setumpuk buku bertengger seperti saksi yang sabar: roman bekas, kumpulan cerpen, sebuah buku tentang fotografi yang belum ia baca sampai selesai.

Teleponnya berdering tepat ketika ia hendak berdiri. Layar menampilkan "Nina - Rumah". Amara menekan tombol hijau dengan jari yang sedikit kaku. Suara adiknya terdengar lebih cepat dari biasanya.

"Kak, pulang, ya?" kata Nina tanpa basa-basi. "Bapak minta ketemu. Nanti jam sembilan."

Amara menelan. "Sekarang? Kenapa? Ada apa?"

"Aku nggak tahu, kak. Katanya penting. Jangan marah. Cuma- ya, pulang, ya?" Nina menutupnya seperti doa yang disampaikan oleh orang yang takut diiyakan.

Ayahnya sudah lama tidak menulis pesan yang menuntut. Sejak ia beranjak dewasa, Haryo-yang dulu begitu tegas ketika mengurus toko kecilnya-jarang memaksa. Amara menutup telepon lebih cepat dari yang ia sadari. Di dinding apartemen, kalender menandai tanggal dengan stiker merah-deadline besar untuk naskah yang harus ia selesaikan pekan depan. Pulang ke rumah di Yogyakarta berarti menabrak skedul: kehilangan pembayaran, kehilangan citra, kehilangan momentum.

"Kerjaan?" gumamnya pada ruangan kosong. Ia memikirkan klien yang menuntut perubahan alur dan judul yang harus lebih 'trending'. Menjadi editor membuatnya terbiasa menimbang mana yang penting dan mana yang kompromi yang harus ditelan. Tapi Haryo, di sisi lain, selalu punya cara membuat hal sederhana terasa seperti hari kehancuran.

Ia menatap foto keluarga kecil yang terpajang di rak: wajahnya yang lebih muda, Nina yang masih memakai bando, dan seorang laki-laki berkumis-ayahnya ketika masih muda, tersenyum lepas. Bayangan laki-laki lain-laki-laki yang meniggalkan mereka saat ia masih SMA-selalu muncul di pinggiran foto: entah sebagai cerita, entah sebagai luka yang belum tertutup.

Setengah jam kemudian Amara sudah mengemasi pakaian seadanya. Ia menolak untuk menghabiskan malam di rumah yang memintanya kembali seperti boneka yang dulu selalu menunggu perintah. Tetapi sesuatu pada nada suara Nina membuatnya tak tega. Di atas taksi, kota berpendar lewat jendela; lampu neon seperti titik-titik kecil yang membentuk pola rindu yang tak diundang. Ia menunggu bunyi telepon berikutnya-penjelasan, klarifikasi, mungkin sebuah alasan bahwa semuanya baik-baik saja.

Malam Yogyakarta menyambutnya dengan udara yang lebih ringan dan bau hujan yang lama tak ia cium. Rumah Widjaja masih sama: pintu kayu yang sedikit berbunyi, teras kecil yang selama bertahun-tahun dipenuhi pot bunga milik ibunya yang almarhumah. Di ruang tamu, lampu redup menyorot satu kursi-tempat yang selalu ditempati ayah sejak pensiun; malam itu kursi itu kosong, dan Haryo berdiri di dekat jendela, menatap ke arah jalan.

"Ma," sapanya ketika ia masuk. Haryo berbalik perlahan dan wajahnya-yang sekarang keriput-seolah merunduk di bawah beban kata yang tak bisa ia ucapkan. Namun matanya tetap memiliki sesuatu dari masa lalu: kekuatan yang tak habis oleh usia.

"Ada apa, Pak?" tanya Amara lebih tegas dari niatnya.

Haryo mengisap napas panjang dan menutup mata sesaat. "Kau masih mau mendengarkanku, Amara?"

"Ya," jawab Amara, dan ketika kata itu keluar, ia menyadari bagaimana kata itu menempel di tenggorokannya-berat dengan harapan dan takut.

Haryo berjalan mendekat, tangannya menggenggam selembar amplop. Amplop itu kusam, tepi-tepinya berkriting, seperti benda yang sudah lama disimpan. Ketika ia mengulurkannya, jari-jari Amara bergetar.

"Ini datang beberapa minggu lalu," kata Haryo. "Surat dari seseorang yang pernah ... Menjadi bagian dari hidup kita."

Amara menatap surat di tangannya. Di pojok kanan atas, ada cap pos tua yang hampir pudar. Tidak ada nama pengirim yang jelas, hanya ada inisial yang samar: R. Ia membuka amplop dengan kedua ibu jari yang gemetar dan jantung yang berdegup kencang dengan perasaan yang dia sendiri tidak tau.

Isinya sederhana: sebuah foto lama, sebuah potongan surat yang terdengar seperti permintaan maaf, dan sebuah alamat sebuah rumah di pinggir kota-tempat yang selama ini diselimuti oleh bisik-bisik tak enak. Di balik foto itu ada sesuatu yang membuatnya menahan nafas: nama yang tak pernah ia dengar disebut lagi sejak masa remaja.

"Nina pernah bilang-" Haryo terhenti. "Dia menemuinya di kota. Dia bilang pria itu ingin bertemu lagi. Dia bilang menyesal. Dia bilang-"

Amara mengangkat foto tersebut ke wajahnya. Foto hitam-putih itu menunjukkan seorang pria yang tersenyum lirih, sedang berdiri di samping sebuah mobil tua. Wajahnya tidak asing-namun terasa seperti bagian dari mimpi yang tak pernah selesai. Mata pria itu menatap langsung ke kamera, dan dalam tatapan itu Amara merasakan satu kali lagi perasaan yang sudah ia kubur: pertanyaan tanpa jawaban.

"Siapa dia, Pak?" suaranya nyaris tak terdengar.

Haryo menelan. "Namanya-dia menulis namanya di surat ini sebagai Rendra."

Rendra. Nama itu menggema di kepala Amara seperti sumber lagu lama yang tiba-tiba kembali. Ia tidak pernah baik-baik saja melihat nama pria itu; ia tidak pernah baik-baik saja menerima kemungkinan bahwa masa lalu bisa masuk lagi dan mengubah keseimbangan yang sudah ia bangun sejauh ini.

"Dia ingin ketemu, katanya. Untuk bicara. Untuk meminta maaf. Untuk... menata sesuatu yang dulu ia tinggalkan."

Amara mendelik. Permintaan maaf dari orang yang meninggalkan keluarganya bukanlah hal yang sederhana. Permintaan maaf bisa menjadi obat, atau justru membuka luka yang lebih lebar. Ia teringat ketika ia masih SMA-malam ketika kunci tertinggal, ketika tawa berubah senyap, ketika ayahnya memeluknya dan berjanji bahwa mereka akan baik-baik saja. Sejak itu, kata "baik-baik saja" menjadi legenda kecil di keluarganya: janji yang rapuh namun menenangkan.

"Kenapa sekarang?" tanya Amara. "Kenapa tiba-tiba muncul lagi?"

Haryo menunduk. "Dia bilang-ada sesuatu yang harus diurus. Hutang atau urusan lama yang tak selesai. Aku tidak tahu pasti. Dia minta maaf. Untuk semua yang terjadi waktu itu."

Amara merasakan sebuah dorongan di dadanya: amarah yang terpendam, marah yang mengekalkan luka lama. Namun ada juga hal lain: rasa ingin tahu. Bagaimana bisa seorang asing yang pernah merubah hidup mereka lalu berani kembali meminta bertemu? Siapa yang mengirim surat ini? Dan yang paling menjanggal apa yang ingin ia urus yang disebutkan ayahnya sebagai 'sesuatu'?

Di luar, hujan mulai turun tipis, menaburkan bunyi di genting seperti jarum jam yang berjalan tidak sabar. Amara memejamkan mata sejenak, lalu membuka surat itu sekali lagi. Pada sudut kertas ada coretan tangan-kurang rapi, namun tegas: "Temui aku di Jalan Kaliurang, rumah nomor 12. Jika kau mau tahu kebenaran."

Kebenaran. Kata itu seperti kunci. Amara menyadari bahwa malam ini adalah awal. Bukan awal yang ia pilih, tapi awal yang datang mengetuk pintu hidupnya. Ia memegang foto itu erat-erat, seperti seseorang yang memegang hal penting dan rapuh pada saat yang bersamaan.

"Nanti malam aku akan ke sana," kata Amara, lebih pelan dari kata yang ia katakan pada diri sendiri. "Aku harus tahu semuanya."

Haryo menatap putrinya. Di wajahnya, ada sesuatu yang seperti lega, tetapi juga takut. "Jika kau pergi-ingat, anakku, tidak semua kebenaran menyembuhkan luka. Terkadang beberapa membuat kita lebih ringan, juga membuat kita lebih berat."

Amara menelan lagi salivanya. Di dia menatap keluar, hujan mulai deras dan hatinya mulai bergejolak. Ia tahu satu hal: pulang kali ini bukan sekadar soal keluarga; ini akan membawa pula pilihan-antara memaafkan dan melupakan, antara meneruskan hidup yang sudah ia susun di Jakarta atau membongkar masa lalu yang mungkin masih menempel pada jiwanya.

Ia menarik napas panjang. Malam belum selesai, dan sebuah nama-Rendra-mengambang di udara, menuntut perhatiannya.

---

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta Terhalang Ukuran
Cinta Terhalang Ukuran
Dalam novel modern Cinta Terhalang Ukuran, Dhipta Wisnu Pratama harus berjuang mendapatkan cinta Anandhila Prameswary meski memiliki keterbatasan fisik. Simak perjuangan billionaire ini dalam romance novel yang penuh tantangan demi meyakinkan sang aktris agar bersedia menikah dengannya.
Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya.
Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya.
Dalam Ia menenggelamkan aku, aku membakar dunianya, Srikandi dikhianati tunangannya di Nusantara Saga. Melalui elemen LitRPG dan genre romance, ia bangkit dari kelumpuhan untuk membalas dendam. Baca web novel ini saat ia menghancurkan pengkhianat di adventure story yang penuh intrik.
Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit
Dalam Istri Tercampakkan, Legenda Hukum Bangkit, seorang pengacara tangguh kembali ke dunia hukum setelah dikhianati suaminya. Mengusung genre romance modern dengan bumbu action, web novel ini mengikuti misi balas dendam sang legenda demi menghancurkan karier pria yang membuangnya.
Melahirkan Keturunan Untuk CEO
Melahirkan Keturunan Untuk CEO
Demi biaya operasi ibunya, Kinara terjebak kesepakatan dengan atasannya dalam Melahirkan Keturunan Untuk CEO. Romance novel ini mengisahkan pernikahan mendadak sang billionaire demi memenuhi wasiat terakhir, sambil mengungkap rahasia masa lalu yang tersembunyi di balik status mereka.
Putra Rahasianya, Aib Publiknya
Putra Rahasianya, Aib Publiknya
Dalam novel modern Putra Rahasianya, Aib Publiknya, Alina Wijaya dikhianati oleh Ivan dan keluarganya demi Kiara. Mengetahui dirinya hanya alat politik, sang dokter residen kini merencanakan pembalasan. Baca billionaire romance novels ini untuk mengungkap kebenaran di balik pengkhianatan.
Rembulan Untuk Mantan Pramuria
Rembulan Untuk Mantan Pramuria
Dalam Rembulan Untuk Mantan Pramuria, Dewi berusaha menata hidup baru bersama Dimas setelah masa lalu yang kelam. Dimas harus memperjuangkan restu keluarga demi menikahi pilihannya. Simak kisah romance novel ini di web novel kami, sebuah modern novel tentang ketulusan dan pengabdian.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

[Versi Dub] Hanya untuk Putriku
[Versi Dub] Hanya untuk Putriku
Di kehidupan sebelumnya, Simon mengabaikan putri kandungnya, Jenny, demi menikahi seorang janda bernama Wina. Dia malah membesarkan dua putra Wina. Akibatnya, putri kandungnya jatuh sakit tanpa ada yang merawat. Setelah terlahir kembali, Simon bersumpah tidak akan menikah lagi. Dia ingin bekerja keras dan membesarkan putrinya.
Penyelamat Rahasia
Penyelamat Rahasia
Memi jatuh koma setelah mengalami kecelakaan mobil, tapi jiwanya terbangun dan menyaksikan seorang pengasuh diam-diam menukar bayi laki-lakinya yang baru lahir. Memi tidak berdaya melihat putra kandungnya, Nick, mengalami berbagai penyiksaan selama tujuh tahun. Keajaiban pun datang tepat ketika pengasuh itu berencana mengambil korneanya untuk menutupi kebenaran, Memi terbangun dan bergegas menyelamatkan putranya.
Sang Penguasa dari Masa Depan
Sang Penguasa dari Masa Depan
Jace, lulusan teknik, melintas ke dunia lain dan jadi kerabat jauh bangsawan. Begitu tiba, dia dipaksa memilih istri dan wilayah, serta melunasi utang ketiga istrinya yang terpidana. Dihimpit utang, dikepung perampok, wilayahnya porak-poranda. Dia pun menerapkan ilmu industri modern untuk mengubah tatanan peradaban agraris. Bubuk mesiu, teknik peleburan, produksi senjata, pembuatan parfum, hingga teknik hujan buatan diperkenalkan. Perlahan, wilayah yang dipimpinnya pun semakin makmur.
Menjebak Hati si Putra Presiden
Menjebak Hati si Putra Presiden
Di dunia di mana uang menguasai segalanya, dia adalah putra presiden, pria playboy tampan dan manja yang kebal hukum. Dia hanyalah seorang petugas kebersihan yang memiliki impian dan... pel. Satu ciuman yang tak disengaja berubah menjadi skandal media dan tiba-tiba mereka terpaksa berpura-pura menjadi pasangan di depan publik. Yang satu perlu menyelamatkan "citranya", yang satu butuh uang untuk membantu adiknya. Yang awalnya cuma kesepakatan, satu ciuman dan satu kisah cinta palsu, berubah menjadi sesuatu yang nyata. Di antara skandal, rahasia, dan percikan asmara di tengah malam… cinta mungkin benar-benar muncul!
Aku Bukan Sekadar Istri
Aku Bukan Sekadar Istri
Setelah enam tahun menikah, Wendy sadar suaminya masih mencintai cinta pertamanya, bahkan putri mereka pun menjauh. Ia pun mengajukan cerai dan kembali ke dunia medis, tampil kembali sebagai sosok jenius yang dikenal sebagai 'Su'. Saat karier Wendy menanjak, sang mantan suami terlambat menyadari bahwa selama ini dialah yang ia cintai. Dengan dukungan Milo, Wendy membangun kehidupan baru sesuai keinginannya.
Jadi Malaikat Pelindung Ibuku
Jadi Malaikat Pelindung Ibuku
Sarah mengorbankan segalanya untuk keluarga, tapi dibalas dengan pengkhianatan. Setelah dia dan putri kecilnya Lindsey diusir, Sarah tewas karena kerja paksa. Demi biaya pemakaman ibunya, Lindsey menghadiri pesta pernikahan ayahnya, di sana dia dihina habis-habisan hingga nyawanya melayang bersama anjing kesayangannya. Namun, Lindsey kemudian secara ajaib terlahir kembali setahun ke masa lalu. Dengan memori masa depannya, dia membantu Sarah melihat kebenaran tepat waktu, mengubah nasib, dan meraih kebahagiaan bersama Terrence.