Logo
Bad Duda
Bad Duda

Bad Duda

84 Bab
Tamat
Dalam novel Bad Duda, Edeline berjuang melawan trauma masa lalu saat menjadi dokter magang bagi Elvis Dalton, duda arogan yang kejam. Kisah modern novel ini mengikuti upaya mereka menyatukan kepingan hidup yang hancur. Baca romance stories ini untuk melihat takdir mereka.
Bab 1 dari Bad Duda

“Get the fuck out of here!”

Langkah Edeline seketika terhenti oleh bentakan memekik yang mengundang perhatian. Dia berhenti penuh kepedulian terhadap seorang wanita yang didorong hingga terjatuh oleh si pengumpat kejam di ambang pintu.

Edeline Johnson—gadis cantik berusia 22 tahun itu baru saja tiba di Manchester akibat pekerjaan. Dia mendapatkan fasilitas sebuah kamar dari hotel mewah di hari pertama kedatangannya—di mana dirinya tidak sengaja menjadi penonton dadakan atas sebuah kekerasan.

Awalnya, Edeline hanya ingin menuju kamarnya. Tetapi, dia dihadang oleh seorang wanita yang didorong kasar hingga terjatuh. Tatapan gadis cantik itu melihat adegan yang membuatnya kesal.

“Kenapa kau kasar sekali? Aku ini bukan orang asing bagimu!”

“Don’t play dumb! Kau sangat tahu aku menganggapmu itu apa?!” pria tampan itu membalas kejam dengan tatapan dingin yang tak berhati.

Wanita cantik yang masih terduduk sakit di lantai itu sudah menangis dihujani kalimat sarkasme yang menegaskan ketidaksukaan. Tatapannya menatap lirih pria tampan yang memprilakukannya dengan sangat kasar.

Edeline berdecak atas tontonan tidak mengenakkan di depan mata. Dia tidak bisa menutup mata—lalu pergi. Sebab, situasi kejam di depan mata bagaikan dejavu nyata yang menyakiti jiwa Edeline.

Mata cantiknya memindai wanita itu. Emosi gadis berambut cokelat terang itu memuncak ke ubun-ubun ketika mendengar rintihan kesakitan serta luka di telapak tangan wanita yang terluka itu.

“Kau terlalu sempurna untuk pria sampah itu.” Bibir mungil Edeline dengan sadar mengeluarkan penghinaan yang membela.

Gadis berpakaian casual itu menghampiri wanita yang menoleh ke arahnya. Dia berlutut lalu memapah wanita yang terjatuh itu untuk berdiri tegak—tanpa peduli pada sorot tajam dari pria di ambang pintu.

“Kau tidak pantas menangis dan merendahkan diri pada pria sampah dan bodoh sepertinya.” Edeline mengulas senyuman manis pada wanita yang bingung menatapnya.

“Stay away!”

Edeline menolehkan pandangan pada pria yang menghardik sinis itu. Sorot matanya menajam ketika memindai pria itu. “Mulut sampahmu menjatuhkan nilai wajah tampanmu,” ucapnya berani menghina.

Edeline langsung memalingkan pandangan. Dia tidak peduli pada ekspresi pria itu. Bagi gadis cantik itu, menghibur wanita di dekatnya adalah pilihan yang baik.

Untuk sejenak, Edeline teralihkan ketika tangan merogoh ke dalam tas miliknya yang bertengger di bahu kiri. Perhatiannya kembali fokus pada wanita itu saat sebuah alcohol swab dikeluarkan dari dalam tas—yang kemudian digunakan untuk membersihkan luka di telapak tangan wanita itu.

“Jika seorang pria tidak bisa mengontrol emosi, berkata dan bersikap kasar, menjatuhkan dan menginjak harga dirimu ...” Edeline terhenti sejenak saat samar-samar menghela napas sembari menutupi luka di telapak itu dengan sebuah plester.

“Please ... stop! Berhenti mendapatkan balasan dari pria bodoh dan tak bermoral seperti itu. Perasaanmu dan harga dirimu lebih penting dari apa pun,” lanjut Edeline menasihati yang penuh dengan sindiran sinis.

Tidak perlu dijelaskan kepada siapa sindiran sinis itu ditujukan. Edeline pun tidak menghiraukan bagaimana perasaan dari seseorang itu. Ujung bibir itu tertarik—yang membuat bibir mungilnya menipis oleh senyuman manis yang mengembang. Wajah cantiknya pun berseri—menunjukkan ketulusan pada wanita di depannya yang kaku tidak percaya diri.

“Tadi kau terjatuh sangat keras. Sebaiknya segera memeriksakan diri. Atau ...” Edeline memalingkan wajah—yang bersamaan senyuman ramahnya berubah sinis ketika menatap pria di ambang pintu. “Lakukan visum dan laporkan pria ini. Aku bersedia menjadi saksi jika kau membutuhkan.”

Pria tampan itu terkekeh kesal sembari menahan emosi yang telah bergejolak di dalam jiwa. Sementara itu matanya telah tajam membidik Edeline—gadis aneh yang berani ikut campur akan urusannya. “Kau ini masih kecil, tapi sungguh berani ikut campur urusan orang lain. Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan-santun?”

Mata Edeline mendelik mendapatkan kata-kata tajam pada pria tampan itu. “Aku tahu bersikap sopan dan menghargai dibandingkan orang dewasa yang tidak punya akal!” Edeline tidak mau kalah.

What the fuck? Anak kecil? Apakah tubuhnya terlalu mungil sampai dibilang anak kecil? Ingin rasanya Edeline memaki pria tampan di hadapannya itu. Memang dia akui bahwa pria berperawakan tampan itu pasti sudah berusia matang. Menurut tafsirannya pria tampan itu sudah berusia di atas 30 tahun. Tentu jika dibandingkan dengannya, dia pasti akan seperti anak kecil.

Pria tampan itu menipiskan bibir—mengukir seringai sinis. “Bercermin dahulu sebelum membuat cermin untuk orang lain. Selain itu, tanyakan pada wanita yang kau bela itu! Apa yang dia lakukan sehingga aku mengusirnya dengan kasar?!”

Alih-alih mencari tahu, Edeline malah mengulas seringai sinis yang mengejek. “Yang dilihat oleh mata lebih nyata dibandingkan—”

“Wanita yang kau bela itu memaksa masuk ke dalam kamar seorang pria. Di dalam kamarku, dia membuka pakaiannya—entah itu untuk menggoda atau apa pun itu, aku benci wanita murahan seperti itu!” sela pria tampan itu bernada lugas dan tanpa jeda.

Edeline membisu dengan perasaan yang berkecamuk, antara malu dan tidak percaya diri. Namun, logikanya berusaha menghibur wanita cantik itu yang kemudian menasihati akalnya untuk mencari tahu.

Edeline menatap wanita itu. Dan ... ah, sial! Wanita itu merunduk guna menyembunyikan wajahnya yang memucat takut. Itu menandakan bahwa memang orang yang dia bela adalah orang yang bersalah.

Astaga! Memalukan! Edeline bahkan membela orang yang bersalah. Maksud hati ingin membela orang yang lemah, tapi apa-apaan ini? Dia sangat malu! Jika seperti ini, rasanya dia ingin masuk saja ke dalam jurang.

“Apa kau diajak bekerja sama dengannya?”

Suara tenang pria itu itu mengusik perhatian Edeline, membuat gadis cantik itu kembali menoleh ke arahnya.

“Aku tidak mengenalnya.”

Pria terkekeh mengejek bantahan Edeline. “Benarkah? Mengingat betapa liciknya wanita yang kau bela itu, aku tidak percaya. Berapa kau menerima uang dari dia? Sehingga kau bisa memainkan akting sempurna seperti tadi.”

Gigi Edeline menggertak akibat api emosi yang membara. Pria tampan yang di depannya itu sungguh cerdik mempermainkan emosinya. Dia bisa saja meledakkan amarah dan membela diri agar tak terkalahkan dari pria yang berusia jauh dari dirinya.

Akan tetapi, kenyataan di depan mata telah menyadarkan Edeline tak akan bisa menang dari pria itu. Selain itu, wanita yang takut dan tidak percaya diri di sampingnya turut menyadarkan Edeline untuk mengibarkan bendera putih tanda mengalah.

“Enyahlah dari hadapanku! Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tujuanku datang ke sini untuk tidur dengan nyaman! Jangan ganggu aku!”

Seolah tahu maksud jelas pernyataan pria itu, wanita cantik di samping Edeline seketika pergi tanpa berpamitan. Tidak ada sederet kalimat penjelasan apalagi sepatah kata pamit kepada Edeline.

Dalam sedetik, keheningan menguasai di sekitar Edeline. Gadis cantik itu juga disapa oleh rasa canggung yang tidak nyaman untuk lama-lama diresapi. Namun sekejap kemudian, perasaan itu lenyap oleh suara tenang dari pria itu yang merendahkan keberadaan Edeline.

“Kau tidak ikut dengannya? Atau kau masih mau meneruskan aktingmu?” pria itu memasang senyuman menghina dan menjengkelkan.

Tangan Edeline mengepal kuat menatap tajam pria itu. Dia memalingkan tatapan kesal. Lebih baik memilih mundur dan menjernihkan pikiran dari pria menyebalkan itu.

Sayangnya, keberuntungan belum memihak Edeline. Ketika dia terburu-buru untuk pergi, roda dari koper yang ditariknya menyangkut pada karpet tebal yang menyelimuti lantai koridor kamar. Pun di saat bersamaan langkah Edeline ikut tak terkendali sehingga Edeline jatuh di hadapan pria itu.

Edeline mengeluh kesal di dalam hati. Isi dari tas yang ikut jatuh telah berantakan. Cepat-cepat Edeline mengutip dan memasukkan pernak-pernik isi di dalam tasnya itu. Tetapi, Edeline membeku ketika pria itu dengan lancang mengutip id card milik Edeline.

“Edeline Johnson?” pria itu bersuara tenang, namun tidak menutupi rasa penasaran yang mengundang.

“Kembalikan milikku!” Edeline mendikte tegas sembari berdiri tegak.

“Ah, rupanya kau seorang dokter? Dokter magang di Omega Hospital, huh?” setelah membaca id card itu, ekspresi pria itu menajam seolah menakuti Edeline untuk tidak membantah. “Kau baru datang ke Manchester?” lanjutnya penasaran.

Pria tampan itu menarik ujung bibirnya membentuk seringai tipis, di kala melihat id card milik Edeline. Tatapan mengejek dan mencemooh. Dia sama sekali tak mengira kalau gadis yang ingin menjadi pahlawan merupakan dokter magang di Omega Hospital.

“Bukan urusanmu!” Edeline membentak, pun dia berhasil merampas benda berharga itu dari pria menyebalkan itu.

“Perhatikan tingkahmu. Jangan seperti gadis liar yang tidak tahu aturan.” Pria tampan itu berkata sarkas. “Kau sangat tidak tahu arti sopan santun.”

Edeline melayangkan tatapan bermusuhan yang lantang pada pria itu. Seujung kuku pun nyali Edeline tidak ciut oleh mata tajam pria itu yang berpadu ke matanya. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki kesopanan setelah merampas dan membaca identitas orang tanpa permisi?”

Bibir pria itu menguraikan senyuman kejam. “Minta maaf padaku!” ucapnya menuntut.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu! Kau yang harus minta maaf padaku!” Edeline bersikeras tidak mau disalahkan.

“Minta maaf padaku sekarang atau kau menyesal, Dokter Edeline Johnson!” Nada bicara pria tampan itu menajam, seolah memberikan ancaman yang tak main-main.

Edeline tertegun. Seketika keterkejutan tanpa bisa dikontrol telah merayapi tubuh, merusak kenyamanan di jiwa sampai merasuki pikiran pada senyar ketakutan.

Perubahan emosional itu bukan karena bentakan bengis pria yang egois itu. Melainkan pergelangan tangan kurus Edeline dicengkram kencang—tubuh rampingnya telah dihimpit ke dinding oleh pria yang memiliki tubuh gagah.

“Cepat! Minta maaf padaku,” pria itu berdesis rendah di depan wajah Edeline yang memucat.

“L-le-lepaskan ... lepaskan aku.” Bibir mungil Edeline gemetaran berkata-kata.

Tubuh gadis cantik itu gemetaran diserang situasi dejavu yang menggiring pikiran pada hal-hal menakutkan dan menjijikkan. Keringat dingin telah menetes di balik rambut yang menutupi dahi.

“L-lepaskan aku. A-aku katakan ... lepaskan aku!”

Edeline memberontak sekuat tenaga setelah mengumpulkan keberanian. Tangannya yang satu memukul tangan pria itu—sampai Edeline tidak menyadari kukunya telah melukai sesuatu yang mencoreng kesempurnaan di wajah.

Koper yang tadi terlepas telah dipungut oleh Edeline. Gadis muda itu berlari sambil melirik-lirik ke pintu-pintu kamar. Setelah menemukan kamar tujuannya, Edeline masuk dan menenggelamkan diri di kamar itu tanpa ingin keluar sedetik pun.

Sementara itu, pria kejam yang Edeline tinggalkan masih berdiri tegak sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pintu kamar Edeline. Dia mengerang kesal, kemudian jemari kanannya menyentuh sisi wajah yang terluka akibat kekejaman kuku Edeline.

“Sialan!” gumamnya kesal dengan ekspresi penuh dendam.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

ALASKA
ALASKA
Dalam novel ALASKA, Bhalendra Alaska Arlic berjuang bangkit dari trauma masa lalu dan pengkhianatan. Kisah romance modern ini mengikuti pencarian jati diri Alaska di tengah keraguan akan cinta. Sebagai young adult fiction romance books, mampukah ia membuka hati pada sosok baru?
BOYFRIEND?
BOYFRIEND?
Dalam novel romance BOYFRIEND?, Raina terpaksa menikahi sahabatnya setelah dikhianati tunangan. Di tengah konflik batin antara logika dan rindu pada mantan, ia harus memilih kesetiaan atau pengkhianatan. Baca kisah modern novel ini untuk melihat takdir persahabatan mereka di webnovel.
Gurauan yang Berakhir Tragis
Gurauan yang Berakhir Tragis
Dalam novel modern Gurauan yang Berakhir Tragis, trauma masa lalu seorang istri dijadikan bahan candaan oleh suaminya. Saat kesabarannya habis dan ia meminta cerai, sang suami meremehkannya. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap rahasia kelam dan misteri di balik skandal teman masa kecil suaminya.
Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
Baca Novel Online Gratis Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan. Novel romantis miliarder ini mengisahkan Claire Nolan yang dicampakkan Julian Westwood setelah tiga tahun merawatnya yang lumpuh, demi cinta pertamanya. Claire pun memilih pergi dan mengakhiri kontrak pernikahan mereka.
LANGIT SENJA DAN JANJI KITA
LANGIT SENJA DAN JANJI KITA
Dalam LANGIT SENJA DAN JANJI KITA, dua sahabat lama bertemu kembali lewat proyek sekolah. Menghadapi perasaan yang belum usai, mereka harus memilih antara masa lalu atau masa depan. Baca romance novel ini di web novel modern yang menghadirkan kisah young adult penuh makna.
My BadBoy
My BadBoy
Dalam novel My BadBoy, Adzando yang dikenal sebagai pembuat onar menutup hatinya akibat trauma masa lalu. Namun, siswi baru bernama Vania mengubah segalanya. Simak kisah romance novel ini di web novel kami, sebuah cerita young adult tentang perubahan hidup dan pencarian cinta sejati.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Aku, Pemimpin Tanah
Aku, Pemimpin Tanah
Cahaya Hidayat, yang menjaga Keluarga Wijaya dari atas kursi rodanya, menyaksikan perjanjiannya dirobek oleh ayah dan anak keluarga itu. Hukuman langit turun seketika, menghancurkan Keluarga Wijaya. Keluarga Lestari berlutut memohon solusi, namun ia hanya mengeluarkan sebuah jeruk, memicu lima keluarga besar berebut gila. Cahaya pun pergi meninggalkan jejak teratai emas, berpesan bahwa gejolak energi bumi akan kembali, disusul gelombang konspirasi konsorsium internasional. Di pertaruhan berikutnya, nasib seluruh kota menjadi taruhan!
Dokter Jenius Terlahir Kembali
Dokter Jenius Terlahir Kembali
Seorang anak jenius yang masuk sekolah kedokteran pada usia sepuluh tahun dijebak oleh kerabat terdekatnya dan tewas secara tragis. Terlahir kembali, dia membalas dengan seorang CEO misterius! Apakah tesisnya dijiplak? Operasinya dibajak? Dia mengungkap konspirasi kristal otak, mengungkap kejeniusan palsu itu dalam tiga hari! Ayahnya yang brengsek menangis tersedu-sedu, tetapi ia mencibir, "Tak ada yang bisa mengambil apa yang menjadi milikku!"
Nikah Kontrak, Cinta Sejati
Nikah Kontrak, Cinta Sejati
Raisa dijebak keluarga, berubah usai setahun. Ia menikah kontrak dengan Kevin, lalu saling jatuh cinta. Identitas terungkap, cinta berbuah bahagia, para pelaku pun menerima balasan.
kahakahampilan sempurna
kahakahampilan sempurna
Setelah tidur semalaman dengan cowok paling keren di kampus, dia baru menyadari bahwa dia hamil dan memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Namun, apakah rahasia ini bisa ditutupi selamanya?
Mengendalikan Singa: Miliarder di Sepeda
Mengendalikan Singa: Miliarder di Sepeda
Leo Striker tidak mencintai apa pun dan tidak mencintai orang lain selain keluarganya dan perjalanan cepatnya. Sampai Kara Bellini, tak berdaya namun tangguh, tersandung ke dalam pelukannya. Dia pikir dia melarikan diri dari seorang preman hanya untuk jatuh cinta pada preman lain...tapi Leo ternyata adalah seorang MILYARDER?! Apa lagi yang dia sembunyikan di balik tato dan jaket kulitnya?
Cinta Gadungan Sang CEO
Cinta Gadungan Sang CEO
Thea, seorang CEO perusahaan ternama, menyembunyikan identitas aslinya dan menikah dengan Saul. Pas dia hendak memberitahu Saul bahwa dirinya sudah hamil, Thea menyaksikan Saul menemani Zoe untuk pemeriksaan kehamilan. Hancur hati, Thea pulang dan mendengar sindiran pedas sang mertua yang memicu pertengkaran hebat. Dalam konflik itu, Thea mengalami keguguran yang menghancurkan dirinya secara fisik maupun mental. Putus asa, dia memutuskan untuk bercerai. Namun takdir berkata lain. Setelah melalui serangkaian peristiwa, Saul akhirnya menyadari kesalahannya dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan kembali cinta Thea. Sementara itu, Thea yang beberapa kali diselamatkan Saul dari situasi bahaya, perlahan sembuh dari luka hatinya dan mulai memaafkannya. Akhirnya, mereka berdua rujuk dan membangun kembali rumah tangga dengan komitmen baru.