Logo
Tidak Percaya Cinta
Tidak Percaya Cinta

Tidak Percaya Cinta

95 Bab
Tamat
Dalam novel Tidak Percaya Cinta, Fahri sang billionaire dingin yakin semua wanita hanya mengincar harta. Namun, sebuah pertemuan tak terduga mulai mengguncang prinsipnya. Ikuti kisah romance modern ini untuk melihat apakah ia mampu membuka hati dalam salah satu romance stories terbaik.
Bab 1 dari Tidak Percaya Cinta

Fahri duduk seorang diri di sebuah bar mewah di pusat kota, mengenakan setelan jas hitam yang serasi dengan suasana malam itu. Suasana restoran bergaya klasik ini dipenuhi dengan cahaya redup dan musik jazz lembut yang mengalun di latar belakang. Semua hal ini tidak menghalangi perasaan kosong yang menggerogoti dadanya. Pikirannya, seperti biasanya, penuh dengan penolakan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan dan emosi.

Ia mengangkat gelas wiski yang telah setengah habis, menatap cairan cokelat kemerahan itu dengan mata kosong, seolah mencari jawaban dalam setiap tetesnya. Baginya, cinta hanyalah ilusi, sebuah konsep yang diciptakan untuk menipu orang-orang yang terlalu naif untuk menyadari kenyataan. Wanita, khususnya, tidak lebih dari sekadar makhluk yang mencari keuntungan dari pria kaya seperti dirinya. Setelah mengalami pahitnya patah hati di masa lalu, ia menutup hatinya rapat-rapat. Cinta tidak ada tempat di dalam hidupnya, dan ia tidak berniat memberinya tempat.

"Satu lagi, Fahri?" kata seorang bartender muda dengan wajah ramah, memecah lamunannya.

Fahri hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Bartender itu mengisi ulang gelasnya, lalu melangkah pergi, meninggalkannya kembali dalam kesendirian yang menjadi sahabatnya sejak lama. Di sekelilingnya, suara obrolan para tamu lainnya terasa begitu jauh, seperti gema yang hanya memantul tanpa memberi arti. Ia merasa asing di dunia ini, seperti seseorang yang terjebak di tempat yang salah, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah bisa memahami dirinya.

Namun, tiba-tiba, langkah kaki yang mantap dan ringan terdengar semakin dekat. Fahri menoleh tanpa banyak berharap, tetapi matanya langsung terkunci pada sosok wanita yang baru saja memasuki ruangannya. Wanita itu mengenakan gaun hitam elegan yang memancarkan aura misterius dan penuh percaya diri. Setiap gerakannya seolah terukur, penuh keanggunan yang membuat para pria di sekitarnya melirik dengan penasaran.

Wanita itu berhenti beberapa langkah di depannya dan menatap kursi kosong yang ada di meja Fahri. Tanpa ragu, ia melangkah maju, duduk dengan anggun, dan meletakkan tas kecil di sampingnya. Dengan gerakan lembut, ia mengatur posisi tubuhnya dan memandang Fahri dengan mata yang penuh dengan ketenangan yang kontras dengan kegelisahan yang sedang dirasakannya.

"Apakah tempat ini kosong?" tanya wanita itu dengan suara yang lembut namun tegas, seolah meminta izin, tetapi di saat yang sama seakan menunjukkan bahwa ia sudah tahu jawabannya.

Fahri menatapnya sebentar, merasa ada sesuatu yang berbeda tentang wanita ini. Biasanya, wanita sepertinya akan duduk dengan malu-malu atau lebih cerewet, tapi wanita ini tidak. Dia hanya duduk dengan tenang, menatap sekeliling dengan pandangan yang hampir tenang dan penuh pemahaman.

"Ya, silakan," jawab Fahri, akhirnya membiarkan wanita itu duduk di hadapannya. Ia merasa aneh, karena tidak pernah merasa begitu tertarik pada seseorang hanya dengan sekilas pandang seperti ini.

Wanita itu tersenyum kecil, senyuman yang tampaknya menyimpan banyak rahasia. "Terima kasih," katanya, kemudian melirik ke arah bartender yang lewat. "Aku akan pesan satu gelas anggur putih."

Setelah bartender pergi, suasana kembali hening di antara mereka. Fahri menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap wanita itu dengan rasa ingin tahu yang tak terduga. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak tentang wanita ini, tentang siapa dia, dan mengapa ia duduk di sana, menemani kesendirian Fahri malam itu.

Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa lama, Fahri membuka percakapan, meskipun ia sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk berbicara. "Nama saya Fahri," katanya, sambil sedikit tersenyum tanpa semangat. "Dan kamu?"

Wanita itu menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Lia."

Fahri mengangguk, mencoba untuk tetap menjaga sikapnya yang biasa-dingin dan tak terpengaruh. "Kamu sering ke sini?" tanyanya, walaupun ia tidak berharap banyak dari jawaban tersebut. Sebuah pertanyaan basa-basi, seperti yang selalu ia lakukan saat berbicara dengan orang lain.

Lia tersenyum, sedikit lebih lebar kali ini, seolah mengerti maksud di balik pertanyaan tersebut. "Baru pertama kali," jawabnya, matanya tidak berpaling sedikit pun dari Fahri. "Aku suka mencari tempat yang bisa memberikan ketenangan."

Ketenangan. Kata-kata itu langsung mengingatkan Fahri pada dirinya sendiri, pada kesunyian yang selalu dia pilih. Namun, dia juga merasa aneh, seperti ada sebuah dinding tak terlihat yang menghalangi dia untuk benar-benar memahami maksud wanita ini.

"Ketika orang seperti kamu mencari ketenangan di tempat seperti ini," Fahri berkata, mencoba tetap terdengar skeptis, "apakah itu benar-benar ketenangan, atau hanya cara untuk melupakan sesuatu?"

Lia menatapnya dalam-dalam, seolah membaca setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Mungkin keduanya," jawabnya, suaranya tenang. "Tapi kadang, ketenangan bukan berarti melupakan, Fahri. Kadang, itu hanya berarti menerima."

Fahri merasa sedikit terkejut dengan jawabannya, namun ia tetap mempertahankan ekspresinya yang tidak terpengaruh. "Menerima?" ia mengulang, suaranya sedikit lebih rendah. "Menerima kenyataan bahwa semua wanita pada dasarnya sama. Mereka hanya tertarik pada uang. Tidak lebih."

Lia hanya diam sejenak, seolah mencerna kata-kata Fahri. "Kamu benar," jawabnya akhirnya, suara lembutnya tidak kehilangan ketegasan. "Tapi mungkin, kamu belum bertemu dengan wanita yang bisa menunjukkan padamu bahwa ada hal lain selain uang yang bisa membuat seseorang merasa hidup."

Fahri tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa tertarik. Kata-kata Lia, meskipun terdengar seperti sebuah tantangan, juga menyentuh sesuatu yang dalam dalam dirinya. "Mungkin kamu benar," katanya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Lia. "Tapi sampai sekarang, aku belum pernah melihatnya."

Lia tersenyum lagi, kali ini dengan senyum yang lebih lembut, lebih penuh makna. "Jangan terlalu cepat menilai, Fahri," katanya, seolah memberi petunjuk tentang sebuah rahasia yang hanya bisa dipahami setelah waktu berjalan.

Malam itu, mereka duduk dalam keheningan yang penuh arti, sementara Fahri mulai merasakan getaran yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu tentang Lia membuatnya merasa seperti ada bagian dari dirinya yang telah lama terkunci, yang perlahan mulai terbangun kembali. Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik tembok skeptisisme dan kekecewaan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Fahri merasa sedikit tidak pasti.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

CEO Mesum
CEO Mesum
Dalam CEO Mesum, Alice Handerson harus menghadapi perilaku provokatif bosnya di kantor. Saat tawaran skandal muncul, sekretaris tegas ini terjebak antara profesionalisme dan hasrat. Baca kisah modern novel ini dalam balutan billionaire romance novels yang penuh ketegangan kekuasaan.
Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
Dalam Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero), Pamela harus memilih antara Tirta atau Zero yang kembali membawa obsesi gelapnya. Ikuti kisah romance novel ini saat kebebasan Pamela terancam oleh kuasa billionaire yang posesif. Baca selengkapnya di web novel modern yang penuh intrik ini.
Cinta yang Jatuh Tanpa Gema
Cinta yang Jatuh Tanpa Gema
Dalam novel modern Cinta yang Jatuh Tanpa Gema, Rumi yang hamil bertemu mantan iparnya setelah setahun kabur dari pernikahan yang gagal dengan miliarder Aryan. Baca novel online gratis ini yang mengisahkan perjuangan Rumi lepas dari masa lalu demi memulai hidup baru.
Dua Sisi
Dua Sisi
Dalam billionaire romance novels Dua Sisi, Revan, CEO Aditama Group yang apatis, dipaksa menikahi wanita dari Suku Anak Dalam. Pertentangan gaya hidup modern dan tradisi menjadi konflik utama. Baca romance novel ini untuk melihat bagaimana ia menghadapi perjodohan paling tidak terduga.
Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
Dalam Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy, William MacRay, bos billionaire pemilik firma arsitektur, terjebak hubungan spesial dengan Emmy setelah pertemuan tak terduga. Petualangan mereka dalam romance novel ini diuji saat William harus memilih antara perjodohan atau cinta beda usia.
Gadis Perawan Untuk CEO
Gadis Perawan Untuk CEO
Dalam novel Gadis Perawan Untuk CEO, Devanka harus menjaga kehormatannya demi menghindari kutukan keluarga. Ia terjebak misi sang miliarder arogan yang wajib menikahi perawan demi wasiat kakeknya. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti perjuangan mereka dalam web novel modern ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Aku Cium CEO Dan Dia Suka
Aku Cium CEO Dan Dia Suka
Seorang model muda yang berani, Gabrielle Taylor, dipermalukan dan dipecat setelah tahu mantan pacarnya menikah dengan sahabatnya. Sebuah ciuman spontan dengan CEO berkuasa, Kyle Wright, memicu serangkaian kejadian yang menariknya ke dunia Kyle. Dipekerjakan sebagai asistennya, Gabrielle harus menghadapi ambisi, romansa, dan pengkhianatan di dunia yang glamor dan penuh risiko.
[Versi suara dubbing] Kenaikan Status Ibu Tiri
[Versi suara dubbing] Kenaikan Status Ibu Tiri
Dia, yang melakukan perjalanan waktu untuk menjadi ibu tiri kejam, ditangkap setelah menggunakan uang hasil penjualan anak perempuannya untuk mengunjungi rumah bordil. Dengan pengetahuan modern, dia menjadi kaya, menyelamatkan orang, menyelesaikan kasus, membersihkan namanya, menerima gelar "Nyonya Kekaisaran" dan akhirnya bersatu dengan dia!
[Versi suara dubbing] Dua Suami, Satu Balas Dendam
[Versi suara dubbing] Dua Suami, Satu Balas Dendam
Di malam pernikahannya, dia bereinkarnasi dan menemukan bahwa pengantin laki-lakinya telah menggunakan pengganti. Dia tetap bermain bersama (dengan permainan itu), berusaha membalas dendam pada pengantin laki-lakinya yang kejam!
Istriku yang Rapuh
Istriku yang Rapuh
Citra, Sang Ketua Persatuan Dunia Persilatan, pulang ke Kota Jira untuk bersatu kembali dengan orang tuanya, namun malah dijebak untuk menggantikan kakaknya menikahi seorang pria dengan keterbelakangan mental. Semua orang menyangkanya gadis desa yang penurut, tak tahu bahwa ia adalah ahli bela diri luar biasa sekaligus Putri Mahkota sah yang telah dinikahi Putra Mahkota. Putra Mahkota tampak lembut ternyata licik dan sarkastik. Pasangan ini ""bersatu dalam kelicikan""—satu menghancurkan dengan fisik, satu lagi menyempurnakan dengan kata-kata—berpura-pura lemah, menjadikan para bangsawan sasaran empuk, dan mempermainkan semua musuh dengan mudah.
Kesepian pada Musim Semi
Kesepian pada Musim Semi
Wina Septi, Putri Mahkota Dazim hidup dalam kemanjaan sejak kecil. Tapi 3 tahun yang lalu, ditemukan bahwa dia adalah putri palsu yang ditukar. Ditambah lagi, dia dijebak oleh Putri Jihan Septi, putri yang asli hingga membuatnya harus memikul tuduhan membunuh sang adik bungsu. Agar Wina selamat dan nggak dihukum para menteri, Raja, Ratu dan Pangeran dengan berat hati mengirimnya ke Bejati jadi tawanan. Mereka kira itu adalah yang terbaik untuk Wina, tapi ternyata di Bejati, Wina dijadikan budak dan pelacur, menanggung segala hinaan dan siksaan. 3 tahun kemudian, Wina kembali ke Dazim dengan penuh luka. Sebenarnya Wina mau ceritakan semua pengalamannya selama ini. Namun, karena rekayasa Jihan, Wina justru disalahpahami oleh keluarganya telah berhubungan gelap dengan pria di Bejati, sehingga jadi sasaran amarah semua orang.
Dia Nyesel, Aku Bersinar!
Dia Nyesel, Aku Bersinar!
Audrey menyembunyikan identitasnya sebagai CEO untuk melindungi harga diri Cornell, ia bekerja di balik layar untuk membantu Cornell mendapatkan proyek hotel besar dan menjadi CEO hotel. Saat Audrey membantu Cornell merangkak menuju kesuksesan, cinta pertama Cornell, Cecilia datang kembali dan menimbulkan ketegangan. Di saat yang sama Audrey juga menghadapi tekanan tanpa henti dari orang-orang di sekitarnya, termasuk Cornell, yang mendorongnya untuk bercerai. Setelah melewati berbagai penghinaan, Audrey akhirnya menyadari nilai dirinya yang telah mengabdikan diri pada orang yang salah. Dengan percaya diri, Audrey akhirnya memilih untuk bercerai dan berjuang merebut kembali posisinya sebagai CEO.