Logo
Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

64 Bab
Tamat
Dalam Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero), Pamela harus memilih antara Tirta atau Zero yang kembali membawa obsesi gelapnya. Ikuti kisah romance novel ini saat kebebasan Pamela terancam oleh kuasa billionaire yang posesif. Baca selengkapnya di web novel modern yang penuh intrik ini.
Bab 1 dari Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)

"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.

"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.

"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"

"I—iya, Zero."

Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.

*

*

*

"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.

"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.

"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.

"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.

"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.

"Hemph ..."

Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.

"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.

"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.

"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"

Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.

*

*

*

"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.

"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.

Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.

"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.

"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.

"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.

*

*

*

Lima tahun kemudian

Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.

Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.

Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.

"Enaknya kemana?" tanya Sander.

"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.

"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.

"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"

"Iya."

"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.

"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.

Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.

Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.

"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.

Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.

"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.

“Oke,” jawab Zero.

"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.

“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.

“Gue samain aja,” timpal Zero.

"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.

"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.

Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.

"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.

"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.

"Hati aman?" canda Sander.

"Maksudnya apa?"

"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."

Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.

"Gue nggak punya pacar."

"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.

"Nggak percaya ya sudah."

"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.

"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.

"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.

"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.

"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.

"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.

"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.

Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.

"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.

"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.

Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.

"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.

"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.

“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.

"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.

"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.

Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.

Deg!

Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.

"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.

Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.

"Enak nggak?" tanya Tirta.

"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.

"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.

"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.

"Oalah, oke."

"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.

"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.

"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.

"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.

"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.

"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.

Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.

"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.

"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.

"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.

Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.

"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.

"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.

Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.

"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.

"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.

"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.

Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.

"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.

"Hay, gue Sander," balas Sander.

"Zero," jawab Zero datar.

"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.

"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.

"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.

"Hm," jawab Tirta berubah masam.

Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.

Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.

“Sander …"

"Hm?"

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.

"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.

"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."

"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.

"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab

"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.

"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.

"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"

"I—iya, Zero."

Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.

*

*

*

"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.

"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.

"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.

"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.

"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.

"Hemph ..."

Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.

"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.

"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.

"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"

Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.

*

*

*

"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.

"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.

Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.

"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.

"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.

"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.

*

*

*

Lima tahun kemudian

Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.

Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.

Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.

"Enaknya kemana?" tanya Sander.

"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.

"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.

"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"

"Iya."

"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.

"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.

Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.

Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.

"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.

Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.

"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.

“Oke,” jawab Zero.

"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.

“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.

“Gue samain aja,” timpal Zero.

"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.

"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.

Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.

"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.

"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.

"Hati aman?" canda Sander.

"Maksudnya apa?"

"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."

Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.

"Gue nggak punya pacar."

"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.

"Nggak percaya ya sudah."

"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.

"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.

"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.

"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.

"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.

"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.

"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.

Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.

"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.

"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.

Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.

"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.

"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.

“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.

"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.

"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.

Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.

Deg!

Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.

"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.

Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.

"Enak nggak?" tanya Tirta.

"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.

"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.

"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.

"Oalah, oke."

"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.

"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.

"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.

"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.

"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.

"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.

Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.

"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.

"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.

"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.

Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.

"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.

"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.

Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.

"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.

"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.

"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.

Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.

"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.

"Hay, gue Sander," balas Sander.

"Zero," jawab Zero datar.

"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.

"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.

"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.

"Hm," jawab Tirta berubah masam.

Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.

Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.

“Sander …"

"Hm?"

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.

"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.

"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."

"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.

"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Anak Milik CEO
Anak Milik CEO
Dalam Anak Milik CEO, seorang wanita terjebak di lift bersama Davero, pria dari masa lalunya yang kini berkuasa. Pertemuan ini memicu obsesi sang miliarder untuk memilikinya kembali. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti kisah penuh ketegangan dalam web novel modern yang intens.
CANDU CINTA CEO AROGAN
CANDU CINTA CEO AROGAN
Dalam CANDU CINTA CEO AROGAN, Erlan Levin terjebak pernikahan paksa akibat insiden tak terduga. CEO ini harus menghadapi konsekuensi hidup bersama gadis pilihan keluarga. Simak kisah seru di billionaire romance novels ini, salah satu web novel terbaik untuk dibaca online secara gratis.
Dendam Cinta Sang Miliarder
Dendam Cinta Sang Miliarder
Dalam Dendam Cinta Sang Miliarder, Saga memaksa Aluna menjadi pengantin pengganti demi membalas kematian kekasihnya. Billionaire romance ini mengikuti misi Saga mengendalikan hidup Aluna di tengah misteri kecelakaan tragis. Baca web novel modern ini untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
DILEMA SUAMI BAYARAN
DILEMA SUAMI BAYARAN
Dalam DILEMA SUAMI BAYARAN, Barra mengejar mimpi hidup bahagia dengan menikahi putri konglomerat. Namun, skandal masa lalu menghancurkan resepsi mereka. Baca romance novel ini untuk mengungkap rahasia kelam di balik pernikahan billionaire yang penuh dengan pengkhianatan dan intrik.
MAWAR EMAS SANG PEWARIS
MAWAR EMAS SANG PEWARIS
Dalam MAWAR EMAS SANG PEWARIS, Lily menghadapi dilema antara perjodohan bisnis global atau cintanya pada asisten pribadi yang sederhana. Ikuti kisah billionaire romance ini di platform webnovel kami untuk membaca berbagai romance stories dan modern novel terbaik secara mendalam.
Obsesi Mister Daniel
Obsesi Mister Daniel
Dalam romance novel Obsesi Mister Daniel, seorang CEO billionaire nekat menculik Elena demi ambisinya. Terjebak dalam ancaman, Elena mengajukan syarat pernikahan di masjid sebagai satu-satunya jalan keluar. Baca kisah modern novel ini tentang perjuangan Elena menghadapi obsesi gelap Daniel.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Anak Lucu Hoki Datang
Anak Lucu Hoki Datang
Sejak umur 6 tahun, Yaya, gadis yatim, difitnah sebagai pembawa sial oleh peramal, hingga ayahnya, Mario Guhara, meninggalkannya di hutan. Dia kemudian ditemukan Satrio Ridwan, putra kecil markas komandan, dan bertemu Lavin Ridwan, calon komandan. Yaya lahir dengan keberuntungan bawaan: bisa menyembuhkan penyakit, memanggil hujan, bahkan mengubah batu jadi emas. Berkat keberuntungannya, dia jadi pembawa hoki yang dikagumi semua orang!
Cintaku Hadir di Kehidupan Selanjutnya (Dubbing)
Cintaku Hadir di Kehidupan Selanjutnya (Dubbing)
"Lily Benneth ke kota untuk mengunjungi adiknya, Nana, namun mendapati Nana hidup mewah dengan berpura-pura sebagai dirinya. Sementara itu, Lily bekerja di restoran Grup Vuton, menghadapi tekanan dari Eldrik. Namun, dia menarik perhatian sang CEO, Vale Vuton. Kebenaran akhirnya terungkap oleh ibu angkatnya, Nana menerima konsekuensinya, dan Lily berakhir bahagia bersama Vale."
Papa, Saatnya Dipeluk Lima Anak Laut!
Papa, Saatnya Dipeluk Lima Anak Laut!
Pertemuan Dinda dengan Evan sang dewa laut terjadi karena Dinda dikhianati oleh tunangannya, Rico, dan adik tirinya, Raya. Evan menyelamatkan Dinda dan mereka memiliki lima orang anak. Empat tahun kemudian, Dinda bertemu kembali dengan Evan yang tidak dia kenali. Dalam usaha mencomblangkan orang tua mereka, anak-anak mereka menjadikan Evan sebagai "papa uji coba". Lambat laun, benih cinta pun bersemi di antara Evan dan Dinda.
Dikejar Dua Cinta: Vampir dan Pemburu
Dikejar Dua Cinta: Vampir dan Pemburu
Aku benar-benar berantakan. Aku baru saja menumpahkan kopi ke bosku yang super tampan, Simon. Tak lama kemudian, aku malah menyadari kalau aku punya kekuatan rahasia yang tidak bisa kukendalikan. Hidupku jadi kacau, antara kopi tumpah, perasaan yang campur aduk, dan dua pria yang sama-sama bikin jantungku tak karuan. Simon, bosku yang misterius, menawan sekaligus berbahaya. Dia seorang vampir yang berjanji akan membantuku belajar mengendalikan sihirku. Sementara itu, Michael, sahabatku yang baik dan selalu ada untukku, ternyata menyimpan rahasia besar. Dia adalah seorang pemburu yang bersumpah untuk memusnahkan semua yang berhubungan dengan Simon. Mereka berdua menginginkanku. Makin kuat sihirku, makin besar pula api yang menyala di antara kami. Lantas, bagaimana aku bisa memilih jika mereka berdua tahu rahasia terkelamku?
Karma di Era 80
Karma di Era 80
Pada tahun 1980-an, Doni ditipu oleh ibu dan adiknya agar tidak membagi harta keluarga, yang menyebabkan istri dan putrinya dianiaya oleh keluarganya, sedangkan Doni menghabiskan seluruh hidupnya sebagai buruh di Pabrik Pakan Sindo. Setelah pabrik pakan mulai menghasilkan uang, Doni malah dibunuh secara tragis oleh adik iparnya. Setelah terlahir kembali, Doni bersikeras membagi harta keluarga dan kembali ke pedesaan bersama istri dan putrinya. Lalu, dia mendapati kolam ladang dipenuhi udang karang yang sangat mengganggu penduduk desa. Doni memutuskan untuk membuka jalan menuju kesejahteraan bagi keluarganya dengan menjual udang karang.
Pembantai Dewa
Pembantai Dewa
Dahulu, Candra Lingga adalah Master Kuil Pembantai Dewa yang legendaris. Setelah bertemu dan jatuh cinta pada Rania Jirin, dia memutuskan untuk meninggalkan identitas lamanya, menyembunyikan namanya, dan hidup sebagai orang biasa – bekerja sebagai buruh bangunan dari hari ke hari.