Logo
The Last Trace
The Last Trace

The Last Trace

58 Bab
Tamat
Dalam The Last Trace, Lee Zin terjebak dalam aksi balas dendam maut melawan ketua mafia Carlos De Baule. Setelah hilang ingatan akibat siksaan, Zin dibantu suster Evalingsta untuk mengungkap misteri masa lalu. Simak adventure penuh intrik ini dalam web novel yang memacu adrenalin.
Bab 1 dari The Last Trace

"Apa yang kau harapkan dari seorang tahanan sepertiku?" 

Zin menggeram dan malah balik bertanya sinis. Jadi, apa yang Eva inginkan dari pria tunawisma semacamnya. Tanpa cinta dan keluarga tidak ada lagi yang lebih mengenaskan dari keadaan Zin saat ini.

Eva terhenyak. Sesaat ia ingin mencerna perkataan Zin itu dengan baik. Tetapi Zin menarik tangannya kembali begitu bernafsu. Suara hentakkan rantai dengan atap terdengar di telinga. Walau begitu, Eva tetap memegangi pergelangan Zin lengkap tatapan khawatir. Jika Zin terus begini, ia akan melukai urat nadinya sendiri.

"Aku akan membukanya untukmu." 

Eva berjanji membebaskan Zin sebentar dari kekang tali rantai dipasung ke atap.

Matanya menangkap luka-luka baru masih mengangga. Sehingga darah tercampur keringat yang merembes bersamaan membuat perasaan Eva luluh, ia lupa membentengi diri dengan kewaspadaan.

Ketika Zin terbebas, ia tersenyum smirk. sekiranya, apa yang bisa dilakukan pada wanita ini untuk balas dendam ... seenaknya mempermainkan hati. 

Eva pikir, perasaan Zin padanya sama sekali tidak berarti?

Terlintas ide untuk membalas perlakuan Eva. Tetapi, apa yang bisa ia perbuat. Karena menyakiti Eva lebih jauh pun masih enggan Zin lakukan. Terutama, di dalam sini tak ada benda yang bisa menyakiti Eva. 

Namun, bukankah para lelaki memiliki senjata alami yang bisa digunakan untuk menyakiti seorang gadis? 

Terlambat bagi Eva menyadari seringai jahat dalam diri Zin. Dengan masih memakai pergelangan besi Zin mendorong Eva hingga ke tembok.

"Ahk, Zin."

Eva menarik nafas karena dadanya bertabrakkan dengan dinding begitu kencang. Rasa linu akibat hentakan itu menjadikan ia kesulitan bernafas. Begitupun pipi kiri, Zin menahan tengkuk Eva dalam cengkraman tangannya yang besar, mengunci pergerakkan si gadis.

Dari ekor mata, Eva melirik ke Zin. 

"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Eva tersengal. Zin mendekatkan diri ke Eva. Pertama Zin menggigit cuping telinga Eva dengan gemas. 

"Satu kesalahanmu adalah begitu mempercayaiku." 

Zin ingin mengatakan jika dirinyalah yang mampu memperdayai wanita. Rata-rata pria lebih tinggi ego dan inilah ego Zin. Dengan gemas tangan Zin merayap ke arah depan tubuh Eva. Mencengkram gundukkan lembut milik Eva begitu keras. 

Eva memekik liar. Semakin memacu adrenalin Zin berfikir lebih seksi dari ini. Tanpa ragu, ia menarik rok span itu. 

Bagian belakang Eva terpampang. Ketika Zin sedikit longgar, Eva menggeliat ingin kabur. Tidak, ia trauma akan ini. Eva tahu apa yang sebentar lagi ingin Zin lakukan padanya. Berontakannya lebih kuat tapi Zin tidak bodoh. Ia mencekal kedua tangan Eva dan meletakkan di belakang pinggul.

"Zin," bentak Eva murka. Zin sudah dipenuhi  gelora birahi tanpa peduli menarik penutup segitiga itu hingga jatuh melewati tungkai kaki jenjang milik Eva. Ia membungkukkan tubuh Eva setengah hingga selubung hangat milik Eva terpampang di depannya. 

Sungguh saat yang sama Zin terpaku. Ia tergugah juga gelap mata, ini kali pertama menatap secara langsung pastinya menciptakan rasa grogi. 

"Zin apa yang ingin kau lakukan?!" Sentakkan Eva mengembalikan tujuan Zin. Satu tangan ia pakai untuk membuka pengait jeans juga resleting. Cepat Zin melorotkan celana hingga ke paha. Membebaskan benda sangat perkasa yang ia sebut senjata alami. Nafas Zin memburu, ia memposisikan batang miliknya di belakang tubuh Eva kemudian menancapkan di antara paha gadis itu segera.

"Ahk!!" Eva melotot. Seluruh tubuhnya lemas juga bergetar hebat. Zin memenuhi dirinya di bawah sana. Rasanya begitu sesak dan keras. 

Sedang Zin, ini pengalaman pertama ia merasakan dinding kenikmatan membalut batang miliknya. Selubung itu begitu rapat seakan ingin mematahkan miliknya untuk tertinggal di sana.

Zin menggeram di kerongkongan. 

Sial, ini begitu melenakan. Kepalanya pusing tidak tahu ingin apa lagi. Jakun Zin naik turun, ia merasa ada yang menyangkut di dalam kerongkongan. Zin yakin debaran jantungnya segera meledak. Jika ia masih bisa selamat setelah ini, mungkin itu satu keajaiban.

Secara insting Zin memajukan pinggul semakin rapat pada Eva. Lagi, ia terpejam dirinya siap menelan semua kenikmatan yang baru kali ini dirasakan.

Zin begitu terbuai. Sesaat ia lupa dengan kesengsaraan. Apa itu berdarah, luka-luka perih mengisi seluruh celak otot tidak mampu menyadarkan anak muda yang kini terhanyut dalam peluh akibat kegiatan memaju mundurkan pinggul berharap bisa mengisi Eva sebanyak yang ia bisa. 

Tangan Eva tidak lagi Zin cengkram. Ia membebaskan gadis itu menumpuhkan telapaknya di dinding karena gerakkan liar Zin begitu menggetarkan sang wanita. Zin pun ikut meletakkan satu tangan. Sedang satu lagi memegangi ujung rok Eva supaya tidak jatuh. Kini Zin mengamati miliknya bergerak dan tersesat di dalam Eva.

Dia sangat menikmati menatap miliknya yang dikunyah bagian bawah Eva begitu lihai. Zin terkekeh.

"Bagaimana, kau juga suka kan?"

Zin berubah menjadi monster bagi Eva. Namun, bukan ini yang Zin inginkan. Seandainya saja Zin bisa bertemu Eva dilain kesempatan dan menjadi lelaki sejati. Seandainya kejadian malam itu tidak pernah terjadi hingga menghancurkan hidup Zin … 

***

"Zin ... Zin. Lihat! Aku berhasil membuat burung. Burung ini nantinya yang akan menerbangkan kita Zin. Kamu ingat kan? Dulu, kamu pernah mengajarkan aku membuatnya," pekik Eiji kegirangan tapi tidak dengan Zin. Lelaki yang sejak tadi dipanggil itu tampak acuh, tidak berniat sedikit pun membalas ucapan Eiji. Bahkan sekadar menengok adiknya itu, Zin malas.

Bukan tanpa sebab. Entah sejak kapan, ia merasa Daichi-ayah mereka- lebih mencintai Eiji. Zin tahu, Eiji memiliki kebutuhan khusus yang mengharuskannya mendapat perhatian lebih. Kondisi Down Syndrome trisomi 21, keadaan langka yang membuat tumbuh kembang dan karakteristik penderita berbeda dari yang lain. Karena itu, meski Eiji sudah berusia tujuh belas tahun, sikapnya masih layak disebut anak kecil berusia enam tahun.

Waktu mereka kecil, Zin tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia akan menerima Eiji apa adanya. Tapi saat ia mulai dewasa semua terasa berubah. Apa lagi Daichi terlihat suka memberikan perhatiannya pada Eiji-- mengajaknya pergi kemana pun tanpa Zin--hingga tanpa sadar melukai perasaan Zin.

Zin menyingkir dari tempatnya. Belum mau memedulikan Eiji yang menatap nanar kepadanya.

"Zin," panggil Eiji hambar. 

Zin tetap sibuk dengan aktivitasnya sendiri, yaitu memakai jaket kulit hitam dan menyambar kunci motor di meja dengan kasar. Ke mana lagi lelaki itu kalau bukan ke arena tinju, tempat ia melemaskan otot-otot di tubuhnya.

"Zin ... jangan pergi!" Eiji merengek lagi. Ia bahkan merengut persis anak-anak.

"Lo ngapain sih ngerengek mulu, ribet tau gak!" ketus Zin kasar seraya menarik diri agar Eiji melepaskan pegangan di jaketnya.

"Ayah ... Ayah, Zin mau pergi!" Eiji memang selalu begitu, ia tidak terima jika Zin keluar malam hari. Khususnya saat ini, ia jauh lebih tidak ingin Zin pergi.

Daichi menatap punggung Zin yang hampir menghilang tertutupi daun pintu. Ia merangkul Eiji agar mengikuti Zin.

"Zin, tolong jangan pergi. Temani adikmu, Eiji. Hanya malam ini saja." Lelaki tua itu memohon. Ia menatap lurus ke arah Zin berharap anak yang sangat ia sayangi itu mengerti keinginannya. Namun, Zin semakin murka, pemuda itu pikir ... Daichi begitu egois. Meminta ia menanggalkan kebahagian demi menuruti Eiji. Ia hanya menggoyangkan tangan seraya menolak perintah sang ayah.

---

Zin sudah sampai di arena tinju. Tapi ia tak langsung membaur ke dalam sana. Zin memang tidak suka basa-basi dengan orang lain.

Sifatnya yang sosiopat mengantarkan ia untuk duduk menyendiri di pojokkan.

Ia duduk di lantai. Kakinya terjulur ke depan. Mencoba merengangkan letih yang mendera.

"Aarrgh. Kaki siapa nih!?" pekik Thom tak senang gara-gara kaki jenjang Zin menghalangi jalan. Sementara Zin balik menatap malas pada Thom.

"Kaki lo minggirin dong!" Thom menendang kaki Zin kasar. Tapi, sayang tulang kokoh Zin sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

"Mata lo buta. Dari tadi juga kaki gue di sini,"

kata Zin sinis. Membuat darah Thom naik hingga mukanya memerah. Ia pun menginjak tulang kering Zin.

"Ahkk ... dasar sialan!" maki Zin. Meski kakinya masih linu, ia mencoba berdiri.

Mata bertemu mata, Zin berhadapan dengan Thom yang terlihat tidak gentar justru mendorong pelipis Zin keras.

"Anak bego aja belagu!" ejeknya, tersenyum miring.

"Jangan mentang-mentang pelatih bilang lo hebat, lo jadi belagu gini. Pelatih cuma mau hibur lo anak yang gak dianggap sama orangtuanya. Gitu kan, Guys?!" tukas Thom

berbalik melihat ketiga temannya.

Bibirnya tersenyum miring, menganggap jika dirinya sudah berhasil menjatuhkan mental Zin.

Zin langsung mendorong Thom tanpa segan. Ia menduduki perut Thom dan memukul wajah yang paling Thom banggakan. Gempuran kepalan tangan Zin meninju segala sudut wajah Thom membuat pria itu kewalahan.

"Guys... tolongin gue, pegangin dia. Bangsat lo!"

Zin sudah menginjak kedua lengan Thom dengan sepatu ketsnya. Sampai Thom sama sekali tidak bisa melawan.

"Guys ... Lo pada ke mana, cepet tolongin gue!"

Zin dengan sengaja memasukkan kedua jari ke mulut Thom supaya dia tidak lagi berisik seperti tadi. Jemari Zin menarik lidah Thom keluar sampai ia kesakitan.

Wajah Thom sudah tidak berbentuk karena terlalu babak belur. Matanya dengan panik mencari ketiga temannya, tapi sayang tidak ada yang berani pada Zin. Bahkan semua orang hanya mengitari pertengkaran ini.

Salah satu sahabat Thom mencoba maju satu langkah dan itu ditangkap oleh mata elang Zin.

"Sekali lo ikut campur, gue patahin leher lo!" ancamnya. Ia memang lelaki yang tidak ingin setengah-setengah melampiaskan amarah.

Orang yang diancam itu menelan ludahnya kasar. Sangat tak mau terjadi sesuatu dengan lehernya yang belum diasuransi.

Akhirnya ia memutuskan berlari ke sang Pelatih. Hanya lelaki itu yang bisa menjinakkan Zin.

"Sensei ... Sensei tolong Zin dan Thom bertengkar!" Pak Pelatih hanya mengernyitkan alis.

"Ini pasti Thom yang cari gara-gara?!" tebaknya. Sahabat Thom itu hanya menunduk takut. Ia tidak bisa terlalu banyak membela Thom.

"Hhah... ayok!" sahut Pelatih kemudian. Tangannya sambil menarik gagang pel. Karena tadi ia sedang bersih-bersih ruangan sebelah.

"Zin!" pekik Pelatih keras. Matanya melotot, ia menjatuhkan gagang pel itu sehingga menimbulkan bunyi yang keras.

Zin langsung bangun dari tubuh Thom dan berlari untuk mengambil gagang pel itu. Diletakkannya lagi di telapak tangan sang Pelatih begitu santun.

Zin setidaknya tahu, guru adalah orang yang harus ia hormati. 

"Bersihin sisa darahnya! Baru saja saya pel." Kesal Pelatih memberikan pel itu ke Zin.

Zin menerimanya dengan senang hati.

"Sensei ... gitu aja?!" tanya sahabat Thom, takut-takut. Ia pikir, Zin akan mendapat hukuman yang sangat berat.

"Emang harus gimana? Thom yang cari masalah. Wajar dong kalau dia dapat balasan dari apa yang dia kerjakan dan kamu tunggu apa lagi? Bangunkan teman kamu itu sebelum dia terkena sodokkan gagang pel!" titahnya.

Zin jadi tersenyum. Memang pelatihannya itu sangat bisa diandalkan.

Saat Zin masih membersihkan ruangan, Pak Pelatih kembali mengamati Zin. Ia tahu, Zin punya kekuatan besar dalam dirinya. Ia bisa dengan mudah menjadi juara boxing meski tanpa latihan sekali pun.

Zin punya bakat yang datang begitu saja. Mungkin ini adalah anugerah tapi bisa juga berubah menjadi petaka untuk Zin seandainya saja ia tak bisa mengatur emosi.

Oleh karena itu, ia bersedia melatih Zin. Bukan untuk membentuk otot-otot alami yang Zin miliki. Bukan juga mengasah kemampuan yang hampir mendekati kata sempurna. Akan tetapi, untuk mengatur emosinya agar lebih stabil. Meski mungkin itu sulit.

Mengingat usia Zin yang baru dua puluh tahun membuat ia masih sering termakan perkataan orang.

"Eeh, Sensei!" sapa Zin saat menyadari dirinya ditatap.

"Emangnya tadi kenapa, kok sampai lepas kontrol lagi?" tanya Pelatih santai. Mulutnya sambil mengeluarkan asap dari cerutu yang ia hisap.

"Bukan apa-apa, Sensei."

"Bukan apa-apa tapi gigi Thom patah dua," ledeknya. Zin hanya terkekeh. 

"Maaf Sensei, malam ini saya mengecewakan Anda."

"Seharusnya kamu meminta maaf pada dirimu sendiri. Bukan saya, tapi kamu mengecewakan usahamu sendiri untuk berubah. Apa cuma karena satu dua kata yang membuatmu kehilangan kendali?"

Zin terdiam, ia menunduk saja. Satu-satunya orang yang ia dengarkan nasihatnya selain Daichi adalah Pak Pelatih. 

"Pulanglah ...." Pak Pelatih sejak tadi melihat jika Zin gelisah. Zin termanggu setelah disuruh pulang, memang benar dirinya sangat ingin kembali ke rumah. Zin tidak ingin melihat Eiji sedih lalu menyusahkan ayah mereka. 

'Sial!' Zin sadar, ia mencintai dan membenci Eiji disaat bersamaan. 

"Ya sudah aku pulang, Sensei." 

Di jalan, Zin berencana untuk mengalah sekali lagi. Semua itu demi senyum polos Eiji. Namun, yang diharapkan Zin tidak akan pernah lagi terjadi.

Tepat di depan matanya, ia melihat mobil sport sedang menarik seseorang menggunakan tali. 

Tubuh orang itu sudah kotor tertutup debu jalan. Pun tidak ada darah yang mengalir setelah disumbat paksa. Suaranya lirih, memohon untuk menyudahi penyiksaan itu.

Zin menyipitkan mata memastikan jika penglihatannya tak salah dan saat menyadari sosok tersebut sontak bola matanya membesar serta darah dalam tubuhnya mendidih sampai ke ubun. 

Ia pun menarik penuh gas motornya sambil berteriak,  "Eiji!!"

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Destination Reveange
Destination Reveange
Dalam Destination Reveange, Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas. Di tengah konflik romance dan action, ia harus menghadapi Xuan Ming yang bengis. Baca web novel penuh intrik sejarah dan lgbt book ini saat misi balas dendam mengancam takhta kaisar.
Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku
Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku
Dalam novel modern Ibuku dijadikan pengasuh anak anak kakakku, seorang adik pulang dari luar negeri demi mengakhiri penindasan kakaknya. Dengan elemen action, ia bertekad membalas perlakuan kejam Sarah terhadap ibu mereka. Baca web novel ini untuk melihat perjuangan menuntut keadilan.
Istri Kesayangan Tuan Mafia
Istri Kesayangan Tuan Mafia
Dalam novel Istri Kesayangan Tuan Mafia, Reynand kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang mengkhianatinya. Sebagai mafia novel penuh aksi, ia harus merebut kembali istrinya dari pernikahan paksa dan mengungkap rahasia kehamilan yang tertunda dalam kisah romance stories ini.
Ketika Dendam Berbicara
Ketika Dendam Berbicara
Dalam novel modern Ketika Dendam Berbicara, seorang suami yang berniat mengantarkan obat khusus untuk istrinya malah dipermalukan oleh sang sekretaris di kantor. Kesalahpahaman fatal ini memicu konflik besar. Baca Novel Online ini untuk mengungkap kelanjutan kisah penuh aksi dan misteri.
Less Than Evil
Less Than Evil
Dalam novel aksi Less Than Evil, bertahan hidup berarti mahir memakai topeng dan saling memanfaatkan. Di dunia modern ini, kejujuran adalah kelemahan. Ikuti kisah penuh intrik dalam web novel ini saat karakter utama berjuang meraih posisi melalui manipulasi dan strategi licik.
Menghadapi Kematian di Depan Mata
Menghadapi Kematian di Depan Mata
Dalam novel modern misteri Menghadapi Kematian di Depan Mata, seorang wanita terjebak ancaman pria mabuk di rumahnya. Mengingat pengkhianatan saudara-saudaranya di masa lalu, ia memilih melapor polisi demi bertahan hidup. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap rahasia dendam keluarga.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Siaran Langsung Perselingkuhan
Siaran Langsung Perselingkuhan
Setelah mengetahui bahwa istrinya, yang terlalu berdedikasi untuk menghidupi saudara laki-lakinya dengan mengorbankan keluarga mereka sendiri, telah tidak setia, pria itu berpura-pura hilang dan memulai siaran langsung publik untuk mencarinya. Segera, seluruh kota menyadari perselingkuhan wanita itu.
Cinta Dari Ayah Mantanku
Cinta Dari Ayah Mantanku
Hana tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Joko. Saat dirinya masih diliputi rasa bersalah karena merasa telah mengkhianati pacarnya, tak disangka pacarnya malah lebih dulu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Setelah mengetahui kebenaran itu, Hana pun menikah dengan Joko, karena marah dan kecewa. Tak disangka, ternyata pria itu adalah...
Membebaskan Diri Sendiri Sebelum Waktu Habis
Membebaskan Diri Sendiri Sebelum Waktu Habis
Raegan secara keliru didiagnosis menderita kanker perut stadium akhir dan percaya dia hanya memiliki tiga bulan tersisa, jadi dia mulai hidup sesuka hatinya. Selama periode ini, banyak hal lucu terjadi antara dia dan Lachlan, seorang CEO. Pada akhirnya, dia menemukan bahwa dia sebenarnya tidak menderita kanker perut dan mereka menjadi sepasang kekasih.
Terlahir Kembali, Nada Menjadi Lebih Tegar
Terlahir Kembali, Nada Menjadi Lebih Tegar
Di kehidupan sebelumnya, harta keluarga Nada Tadean dirampas oleh seorang pria brengsek dan wanita murahan, kemudian dibunuh dengan kejam. Setelah terlahir kembali, Nada dan orang terkaya di Kota Selat, Bryan menikah kilat dan mempermalukan pria brengsek itu di depan umum! Untuk mempertahankan perusahaan yang ditinggalkan ayahnya, Nada harus menyelesaikan perjanjian taruhan dalam setengah tahun. Dengan bantuan Bryan, Nada berhasil mempermalukan semua pengkhianat dan akhirnya punya anak yang menggemaskan bersama Bryan. Mereka pun hidup bahagia bersama selamanya.
[Dijuluki] Kontrak Cinta yang Mendebarkan
[Dijuluki] Kontrak Cinta yang Mendebarkan
Pria dan wanita utama adalah teman masa kecil dari keluarga berkecukupan. Wanita utama selalu menyukai pria utama sejak kecil, tetapi pria utama belum menyadari perasaannya.
Pacaran dengan Pria Zaman Kuno
Pacaran dengan Pria Zaman Kuno
Manda menemukan bahwa vas bunga warisan leluhurnya punya kekuatan gaib yang bisa terhubung ke zaman kuno. Dari situ, Manda mengenal seorang prajurit muda kuno bernama Yogi. Sebagai Adipati Nero yang menjaga perbatasan, Yogi dikepung oleh prajurit suku barbar. Karena kekeringan parah, 200 ribu rakyat mati kelaparan dan hanya tersisa 80 ribu orang. Saking putus asanya, Yogi meminta air dan makanan pada dewa (Manda), berharap rakyat dan Pasukan Candra bisa bertahan hidup...