Logo
Setelah 17 Tahun Pernikahan
Setelah 17 Tahun Pernikahan

Setelah 17 Tahun Pernikahan

96 Bab
Tamat
Dalam novel Setelah 17 Tahun Pernikahan, Amira yang lumpuh menghadapi pengkhianatan saat ibu mertuanya memaksa Habib menikah lagi. Temukan kisah perjuangan di modern novel ini, sebuah romance novel penuh konflik kesetiaan yang menguras emosi dan pilihan sulit dalam rumah tangga.
Bab 1 dari Setelah 17 Tahun Pernikahan

Bab 1

[Menantumu sakit, Bu Nur? Sayang sekali. Padahal aku suka cara dia bekerja. Terpaksa aku harus cari karyawan lain,]

Suara wanita di rekaman itu terdengar jelas.

[Iya, Amira sudah sebulan hanya bisa berbaring saja. Kedua kakinya lumpuh. Kata dokter gejala stroke ringan. Oleh karena ini aku sangat terpukul. Sedih sekali rasanya, sebab kasihan sekali melihat Habib, karena istrinya sakit begini, Habib harus mengurus dirinya sendiri.]

[Semoga Amira lekas sembuh, ya. Amiin.]

[Amira tidak akan sembuh, Bu Sarah. Dia terserang stroke. Tidak mungkin sembuh lagi. Oleh karena ini aku memilih untuk menyuruh Habib menghalalkan Laila. Aku dan Habib sudah bicara soal ini dan dia setuju. Selanjutnya aku akan membicarakan hal ini pada Amira]

"Ya Allah," Amira mengelus dada, lebih tepatnya ia terkesiap.

[Apa? Menikahi Laila maksudnya?]

[Apalagi kalau bukan? Itu bukan dosa, kenapa kau harus terkejut?]

[Bukan begitu, tapi bagaimana kalau Amira tidak mau bermadukan Laila? Rasanya itu terlalu cepat. Kasihan Amira.]

[Bu Sarah, Amira wanita yang sakit, sehingga tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai istri. Bukankah itu adalah salah satu alasan dihalalkannya poligami? Lalu apa salahnya? Anakku laki-laki, Bu Sarah. Ia membutuhkan wanita yang sehat. Bukan yang sakit. Kalaupun Amira menolak keputusan ini, maka kita sudah tahu jawabannya, wanita yang menolak poligami adalah kufur.]

"Astagaa!" Amira menahan sesak di dada. Ia matikan rekaman itu di ponsel Yoona. Sudah tak sanggup baginya untuk mendengar lebih lanjut.

"Darimana Yoona mendapatkan rekaman ini? Mengapa dia tidak cerita padaku?" batin Amira dengan linangan airmata.

"Begitukah nasib perempuan yang sakit? Jika sudah tidak berguna, dengan mudah akan diganti dengan yang lain? Ya Allah, kuatkan aku untuk ikhlas! Aku ikhlas dan itu harus!" Amira membatin.

Hati wanita itu tergores amat dalam. Bagaimana tidak, sudah dua minggu ia berbaring di rumah sakit ini, Tanpa didampingi suami. Sekarang tiba-tiba mendengar rekaman suara seperti itu. Amira sungguh tak siap dengan ujian bertubi-tubi ini.

Tapi inilah hidup. Kecewa dan sakit adalah takdir. Namun kehendak Tuhan pastilah yang terbaik.

***

"Na, tolong ambilkan ibu minum, Nak!" Suara Amira, istriku terdengar amat lirih. Perintahnya tertuju pada Yoona, putri semata wayang kami. Padahal aku berada lebih dekat dengannya.

"Biar aku yang ambil ya," kilahku.

"Tidak usah, Mas! Biar Yoona saja!"

Karena kedua kakinya terserang stroke sejak satu bulan lalu, wanita ini hanya mampu berbaring di pembaringan. Ia terlihat lemah dan rapuh.

Tatapan matanya pun kosong. Ia bersikap dingin padaku.

Hatiku bertanya-tanya ada apa dengan wanita ini? Apa dia marah denganku? Lalu apa salahku? Sejak tadi aku datang, dia seperti tak menggubris kehadiranku. Apa karena aku baru saja bisa menjenguknya hari ini? Padahal sebelumnya aku sudah memberitahunya bahwa aku akan keluar kota. Apa mesti harus marah atas suatu hal yang sudah ku beritahu? Terkadang aku capek menghadapinya.

"Mau makan?" Tanyaku berusaha ramah padanya.

Dia diam saja. Hanya kepalanya saja yang menggeleng. Wanita ini memang keras kepala. Sudah sakit, rewel pula.

Aku mendengkus. Sejak Amira sakit, aku begitu kerepotan. Tidak ada yang mengurus semua keperluanku. Jadi otomatis semua kuurus sendiri. Yoona sama sekali tak cekatan seperti ibunya. Alasannya dia ingin mengurus Amira, ibunya.

Diam-diam aku jadi sangat mempertimbangkan ucapan ibuku di beberapa waktu belakangan ini. Dan aku berpikir, memang aku membutuhkan itu.

Tapi aku bingung bagaimana caraku mengutarakan niat ini pada Amira. Aku tahu Amira wanita yang baik dan paham pasal hal itu. Tapi tetap saja. Aku sedikit agak kurang tega. Karena ketidakberdayaanku, aku sudah mendiskusikannya dengan ibuku. Mungkin saja ibu sudah terlebih dahulu bicara padanya.

"Amira," aku mendekat padanya.

"Ya," jawabnya datar.

"Apa ibu sudah bicara padamu?" aku memulai.

"Ya." Jawabnya singkat. Aku menatap langit-langit. Ooh, pantasan dia bersedih. Ternyata ibu sudah membicarakan perihal rencana itu. Sekarang aku tahu mengapa sikapnya berubah. Tak apa, tugasku sekarang adalah menghibur hatinya.

"Aku sangat mengharap supaya kamu cepat sembuh, Amira. Supaya kita bisa seperti biasanya lagi." Aku memulai.

Dia masih diam, tapi tak menatapku.

"Mira, kau dengar aku, kan?" Aku menatapnya.

"Ya, aku dengar, Mas."

Aku menarik nafas. Menyusun kata untuk ku ucap.

"Aku tahu mungkin saja ucapan ibu bisa melukaimu. Tapi aku tak bermaksud buruk padamu. Lagipula ibu berkata cukup sopan, bukan? Jadi kurasa itu tidak masalah."

Amira menatapku datar. Kuharap dia mencerna ucapanku dari sudut pandang positif.

"Selama ini kamu telah melayaniku sedemikian rupa. Sampai-sampai aku tak pernah merasa kurang suatu apapun."

Lagi-lagi aku menarik nafas.

"Kamu istri terbaik yang pernah kutemui. Kamu paham agama bahkan melebihi aku. Aku salut padamu. Tapi sayangnya sekarang keadaanmu tidak memungkinkan untuk menunaikan kewajiban itu."

"Maaf kalau sekarang aku tak bisa melayanimu seperti sebelumnya!" ujarnya memotong. Tapi suaranya teramat datar.

Aku menatapnya lebih lekat.

"Mir," kulembutkan suara.

"Ya,"

"Maafkan aku, Mir." Aku mendekat dan menggenggam tangannya.

"Sebelumnya aku minta maaf sekaligus mengucapkan terimakasih banyak padamu, Mira"

"Bicaralah terus terang! Jangan terlalu bersimpang siur. Nanti aku jadi tak mengerti apa yang sebenarnya ingin Mas katakan." Ia berkata.

"Baiklah,"

Aku terdiam beberapa saat. Menyiap kata agar tetap terkesan baik di telinganya. Dia wanita paham agama, bukan? Jika dia beriman pada tuhannya, tentu ia menerima niat ini.

"Kemarin pak haji Hasbullah datang ke rumah kita membawa serta Laila."

Kuperhatikan mimik wajahnya. Terlihat tenang, bahkan ketika aku menyebut nama Laila.

"Pak Haji Hasbullah, kau tahu dia Haji tersohor di pesantren Arrahmah, kan? Nah melihat keadaanmu sekarang, kemarin beliau datang bermaksud menghalalkan Laila untuk rumah tangga kita."

"Laila bisa membantu merawatmu dan membantu kita. Laila juga menjadi penghalang bagiku untuk menjaga pandanganku dari wanita lain. Dan jika Allah menghendaki, dari Laila kita bisa dikaruniai anak laki-laki yang sudah sejak lama kita idam-idamkan. Bukankah itu merupakan sebuah berkah yang patut disyukuri?" Ucapku.

Aku berkata sepelan mungkin. Ya Tuhaan, mengapa dia diam saja?

Kuharap ia mengerti kemana arah pembicaraanku.

"Sebelumnya maaf, Amira. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Kau wanita hebat. Ladang pahala menunggumu. Berbaktilah pada Yang Maha Kuasa dengan keikhlasan. Allah tak melarang niatku ini. Bahkan Rasul menyunnahkannya. Iklhas dalam iman lebih hebat dibanding melawan kehendak Allah, Amira. Aku insyaallah sampai akhirat nanti meridhoimu. Kau bisa memilih pintu surga yang manapun kau suka."

Amirah diam. Hanya sesekali ia menarik nafas agak panjang. Aku kira ucapanku sudah sangat baik, kan? Tak ada yang menyinggung sama sekali. Tapi kenapa wanita ini masih diam? Kenapa dia terlihat tenang? Tidakkah ia marah?

Amirah memang wanita hebat. Terbukti ia tak membantah ucapan imamnya.

"Amira, tentu kamu masi ingat hadis ini, kan?"

"لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ

لِزَوْجِهَا

"Kalau aku (harus) memerintah seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, aku akan perintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya."

"Aku yakin kau salah satu dari wanita sholehah itu."

Amira meraih air minum di sampingnya. Ia masih belum bicara juga. Ekspresi wajahnya tetap sama seperti tadi. Tak ada yang berbeda. Apa dia tak kaget dengan ucapanku? Mengapa ia tak melakukan sesuatu? Menangis misalnya.

"Mas, nikahilah Laila. Aku tidak mengapa." ucapnya.

Astaga! Apa katanya? Nikahilah Laila?

Aku tak menyangka ia akan berkata begitu. Terlebih lagi ucapannya sangatlah ringan. Semudah itu.

"Pikiranmu benar, Mas. Aku tak bisa melayanimu dalam keadaan sakit begini. Semoga Laila bisa menggantikan peranku."

Dia bilang pemikiranku, apa dia tahu apa yang aku pikirkan. Ah Ibu memang hebat. Dengan mendengar ucapan ibu, Amira bisa berlapang dada sehebat ini.

"Maafkan aku, Amira!"

"Tidak apa. Pulanglah, dan segeralah urus pernikahanmu dan Laila."

Aku terlonjak, bisa karena bahagia ataupun haru. Baru saja aku akan memeluknya, tiba-tiba Yoona datang dengan sorot mata tajam seakan ingin menyerangku.

"Tak usah sentuh ibuku!"

Ada apa dengan anak ini?

Aku sengaja mengabaikan sorot mata Yoona yang masih terlihat tak menyukaiku. Apa tadi dia mendengar ucapanku pada ibunya? Tak mungkin. Dia baru saja datang. Tapi medkipun benar itupun tak apa, anak itu tak masalah, anak itu bukan ancaman.. Memang apa yang bisa dia perbuat untuk melawan keputusanku?

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta Sendal Jepit
Cinta Sendal Jepit
Dalam novel modern Cinta Sendal Jepit, Amara terjebak pernikahan paksa akibat kesalahpahaman adat saat melarikan diri dari polisi. Melalui kisah romance novel ini, ia dan Agung harus bertahan menghadapi konflik keluarga dan cobaan hidup demi menemukan kebahagiaan sejati yang tak terduga.
Cinta Terhalang Ukuran
Cinta Terhalang Ukuran
Dalam novel modern Cinta Terhalang Ukuran, Dhipta Wisnu Pratama harus berjuang mendapatkan cinta Anandhila Prameswary meski memiliki keterbatasan fisik. Simak perjuangan billionaire ini dalam romance novel yang penuh tantangan demi meyakinkan sang aktris agar bersedia menikah dengannya.
Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
Dikhianati tunangan, Dea terjebak kesalahpahaman yang memaksanya menikah dengan Bian dalam romance novel ini. Sebagai CEO tampan, Bian berupaya memenangkan hati Dea yang trauma. Simak kelanjutan kisah mereka di billionaire romance books ini untuk melihat perjuangan cinta di tengah luka.
Hakikat cinta yang kau nodai
Hakikat cinta yang kau nodai
Dalam novel Hakikat cinta yang kau nodai, Hana berusaha bangkit dari pengkhianatan Devan. Kehadiran Rama, pewaris Abimana Group, membawa harapan baru dalam romance novel ini. Akankah cinta sang billionaire mampu melampaui hierarki bisnis? Baca kisah selengkapnya di webnovel populer ini.
Hubungan terlarang
Hubungan terlarang
Dalam Hubungan terlarang, Athena terjebak malam panas dengan kakak tirinya, Theo. Setelah tiga tahun menghindar, ia kembali terbelenggu hasrat sang kakak yang obsesif. Baca kisah romance modern ini di platform webnovel yang menyediakan romance stories penuh konflik dan pilihan sulit.
Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya
Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya
Dalam Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya, Anya dikhianati Bima setelah membangun kariernya sebagai CEO. Terjebak dalam intrik billionaire romance novels, ia membalas dendam dengan menikahi rivalnya. Baca kisah modern novel ini untuk melihat kejatuhan sang mantan.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Jadilah Lebih Toleran
Jadilah Lebih Toleran
Ia sedang dalam perjalanan untuk membawa seorang anak yang terluka parah ke rumah sakit, namun nenek anak tersebut, yang tidak menyadari hal itu, berulang kali menghalangi jalannya.
Bisakah Waktu Kembali?
Bisakah Waktu Kembali?
Salim Pratama, anak angkat Keluarga Pratama, pernah merasakan kasih sayang dan perhatian penuh. Namun sejak putra kandung Keluarga Pratama, Rafi Pratama, kembali ke rumah, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Rafi dengan sengaja menjebaknya, membuat seluruh keluarga membenci Salim. Bertepatan dengan proyek “Kapsul Waktu” yang digagas kakak tertua Keluarga Pratama yang masih kekurangan relawan, Salim memutuskan untuk ikut serta. Ia juga berniat mendonorkan kornea matanya demi memulihkan penglihatan kakak keduanya yang buta. Itu dilakukannya sebagai bentuk balas budi, sekaligus berharap bisa kembali ke masa saat pertama kali diadopsi dan memilih ulang jalan hidupnya. Namun, selama tiga hari di rumah, dia terus-menerus dijebak oleh Rafi. Keluarganya tidak hanya menyakitinya dan membunuh kelincinya, tetapi juga melupakan ulang tahunnya yang ke-18. Dengan hati yang hancur, dia merayakan ulang tahunnya sendirian sebelum pergi ke laboratorium. Belakangan, keluarganya mengetahui kebenarannya dan dipenuhi penyesalan. Mereka menunggu dengan sabar di depan pintu laboratorium selama tiga puluh tahun.
Mengejar Aib Tunangan, Eh Malah Baper?
Mengejar Aib Tunangan, Eh Malah Baper?
Vero yang sudah ditemukan ayah kandungnya, tiba-tiba menjadi putri keluarga bangsawan. Selama ini dia selalu menjunjung tinggi prinsip memiliki satu pasangan seumur hidup, jadi dia menolak menikah dengan tunangannya. Demi buktikan ke ayahnya bahwa dirinya benar, Vero memutuskan untuk pergi ke akademi yang didirikan tunangannya untuk membuktikan sifat buruk pria tersebut. Nggak disangka, di sana dia malah bertemu dengan teman masa kecilnya yang bernama Chandra. Sekarang dia harus buat keputusan untuk memilih Chandra atau tunangannya yang dirumorkan ingin berpoligami.
Daya Tarik Fatal: Putri Hibrida
Daya Tarik Fatal: Putri Hibrida
Natalie meninggalkan segalanya untuk memulai kehidupan baru di hutan, sampai invasi Alpha Jayce menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Sekembalinya, Natalie mengetahui bahwa alfa baru ini bukanlah siapa yang tampak, dan semua yang dia tahu tentang dirinya adalah bohong. Bisakah dia mempercayai orang asing yang berbahaya ini ketika dia bahkan tidak bisa mempercayai dirinya sendiri?
Si Cantik Melamarku (Sulih Suara)
Si Cantik Melamarku (Sulih Suara)
Simon, pelayan KTV, menolong Nina, putri orang kaya yang ditindas. Nina mengira Simon sebagai obat penawarnya dan mengambil salah satu kalung miliknya sebagai tanda. Enam tahun kemudian, Simon bekerja kasar di proyek Grup Jawari demi mengobati ibu angkatnya. Saat semua menertawakannya, Nina tiba-tiba datang membawa anak. Melihat kalung yang sama, sang anak langsung memanggil Simon ayah.