Logo
Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang
Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

79 Bab
Tamat
Dalam Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang, Astri dan Ruslan menyembunyikan kekayaan demi menghadapi ketidakadilan keluarga. Lelah tertindas, mereka merancang rencana besar. Baca romance novel ini untuk melihat aksi mereka dalam modern novel penuh intrik dan pembuktian diri.
Bab 1 dari Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang

"Nanti pas acara makan-makan, kalian bagian makan paru sama ampela aja ya. Jangan makan daging yang disajikan di atas meja!" ucap Ibu mertuaku ketika aku dan Mas Ruslan sedang sibuk memasak di dapur.

"Kenapa, Bu?" tanyaku memberanikan diri.

"Takutnya nanti keluarga Dina sama Dimas tidak kebagian!" sahut ibu mertuaku.

"Lalu Danis?" tanyaku lagi. Merujuk pada putraku yang baru berusia 4 tahun.

Ibu mertuaku itu langsung melemparkan delikan masam. "Dia makan sesuai dengan apa yang kamu makanlah, Tri. Begitu aja mesti banget ditanya!" seru mertuaku kesal.

"Sama satu lagi, kalian juga jangan ikut bergabung di meja makan bersama keluarga suami dan istrinya Dina dan Dimas. Jangan malu-maluin. Kalian makan aja di dapur!" perintah ibu mertua.

Selesai mengucapkan kalimat tidak menyenangkan itu, ibu mertua langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Menyisakan aku dan Mas Ruslan yang hanya bisa berdiri bengong.

"Mas, kok ibu bisa tega banget gini sama kita?" Aku bertanya retoris pada Mas Ruslan, suamiku.

Faktanya aku tahu dengan sangat jelas alasan dari sikap ibu mertua yang seperti ini. Tidak lain karena di mata ibu mertua, kami hanya orang miskin. Tidak seperti Mbak Dina yang menikah dengan anak pejabat. Atau seperti Dimas yang bisa menikahi anak pengusaha kaya raya.

"Udahlah, Tri. Kita ngalah aja sama ibu. Kita makan enaknya besok aja ya," hibur Mas Ruslan seraya mengelus bahuku pelan.

"Hm," Aku berguman pelan. "Tapi kamu baik-baik aja, Mas?" tanyaku lagi sambil terus melanjutkan mengaduk gulai sapi di atas kompor.

Mas Ruslan yang bertugas mencuci peralatan masak yang segunung itu menyunggingkan senyum simpul padaku. "Hal seperti ini sudah terjadi seumur hidupku, Tri. Hatiku sudah lama mati rasa," jawab Mas Ruslan acuh tak acuh.

" ... "

Aku otomatis terdiam mendengar jawaban dari Mas Ruslan ini. Tapi memang seperti inilah kehidupan Mas Ruslan di keluarga ini. Selalu diperlakukan dengan berbeda. Jerih payah Mas Ruslan tidak pernah dihargai.

Entah apa yang membuat perlakuan bapak dan ibu mertua begitu berbeda terhadap Mas Ruslan. Aku sampai sering sekali meragukan kalau Mas Ruslan adalah anak kandung dari keluarga ini. Akan tetapi, wajah Mas Ruslan yang terlalu mirip dengan seluruh anggota keluarga ini menghentikanku dari pikiran liar.

"Mas, kamu tahu 'kan kalau aku tuh nggak suka makan paru sama ampela. Nanti aku makan pakai lauk apa dong? Kuah gulai?" tanyaku pada Mas Ruslan dengan nada merajuk. Bibirku mencebik maju satu sentimeter.

Hanya dengan membayangkan makanan itu menyentuh ujung lidahku saja sudah membuat bulu romaku meremang. Aku memang paling anti memakan organ dalam hewan seperti itu.

"Gimana kalau kita sembunyikan aja ayam gorengnya tiga biji?" bisikku dengan suara lirih hingga hanya aku dan Mas Ruslan yang bisa mendengar.

Mas Ruslan terkekeh pelan. "Nanti ketahuan ibu loh," timpal suamiku itu.

"Kita pilihnya yang paling kecil," bisikku lagi. Tidak mau menyerah.

Mas Ruslan menggeleng. "Jangan! Ibu pasti tahu kalau lauknya kurang," ucap Mas Ruslan.

Mataku seketika membola kaget mendengar penuturan Mas Ruslan ini. "Nggak mungkinlah ibu sampai segitunya," ujarku sanksi.

Mas Ruslan lantas mengangguk pelan. "Percaya deh sama, Mas. Kita cukup bersabar untuk hari ini aja. Besok Mas bawa kamu sama Danis ke tempat makan dimanapun kamu mau," bisik Mas Ruslan berusaha untuk menghiburku.

"Besok ya besok, Mas. Sekarang beda lagi. Ya kali semua biaya perjamuan ini kamu yang keluar duit, tapi cuma kebagian paru sama ampela doang!" dumelku tidak senang.

Kalian salah jika memiliki pemikiran yang sama seperti mertuaku, bahwa aku dan Mas Ruslan adalah orang miskin. Faktanya, baik aku dan Mas Ruslan itu sangat berkecukup dari segi finansial.

Di luar pekerjaan Mas Ruslan sebagai pedagang sapi, dia juga diam-diam menjadi makelar tanah. Semenjak disuruh berhenti sekolah saat kelas 2 SMA, Mas Ruslan telah berkelana dari satu desa ke desa lain untuk bekerja serabutan. Entah itu menjadi buruh panggul di pasar, menjadi kenek angkot, menjadi pelayan cafe, menjadi kasir mini market dan lain sebagainya.

Kerja keras dan ketekunan Mas Ruslan sejak dirinya masih remaja membuat Mas Ruslan dikenal oleh banyak orang di desa-desa sekitar. Banyak pula dari mereka yang menaruh simpati pada Mas Ruslan, karena di usia yang masih begitu muda, dia sudah kerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Karena kerja keras Mas Ruslan itu, dia seringkali diminta oleh para tetua kenalannya yang ingin menjual tanah untuk mencarikan mereka pembeli. Bonus pertama yang didapatkan setelah itulah yang membuat Mas Ruslan kemudian memiliki pemikiran menyimpang.

Dia yang juga sering kali didesak untuk membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya, mulai berpikir untuk diam-diam menyimpan uang untuk dirinya sendiri. Rupiah demi rupiah yang terkumpul kemudian diam-diam diputar dengan membuka toko grosir di kabupaten lain.

Belasan tahun kini telah berlalu sejak saat itu. Uang di dalam rekening Mas Ruslan juga semakin banyak. Sayang sekali, kami tidak bisa menggunakan uang itu dengan terang-terangan karena takut digerogoti oleh ibu dan saudara-saudaranya.

Apa Mas Ruslan pelit? Apa Mas Ruslan tidak berbakti?

Tidak juga!

Karena selain membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya dari usaha jualan sapi yang diwariskan oleh bapak mertua, Mas Ruslan juga membantu mencukupi biaya harian di rumah ini. Bahkan rumah berlantai dua yang baru saja dibangun ini adalah hasil dari kontribusi Mas Ruslan.

"Terus maunya bagaimana, Astriku sayang?" tanya Mas Ruslan membuyarkan lamunanku. Ada binar jenaka di matanya tatkala sedang menatap wajah cantikku.

"Ya gimana kek? Nggak tahu!" Aku berseru tak berdaya.

"Gimana kalau besok Mas ajak kamu shopping?" bisik Mas Ruslan tepat di samping telingaku. "Atau bagaimana kalau kita buat adik untuk Danis?" sambung Mas Ruslan tanpa jeda.

Dengan telinga yang terasa panas karena hembusan nafasnya, aku mendorong rusuk Mas Ruslan agar memberi jarak pada tubuhku.

"Kan! Kan! Kita lagi ngomongin apa, larinya kemana!" dumelku.

Mas Ruslan hanya terkekeh pelan. Aku tahu dia berkata begitu karena ingin menceriakan suasana muram di antara kami.

"Kamu jangan khawatir, Astriku sayang. Mas udah siapin lauk istimewa buat kamu." Mas Ruslan kembali berbisik di samping telingaku.

Mataku membola lebar mendengar ucapannya. "Beneran? Apa? Dimana?" tanyaku dengan sedikit nada antusias.

"Ada di kamar. Tadi Mas diam-diam goreng udang sama nugget kesukaan kamu dan Danis!" ungkap Mas Ruslan.

"Mas! Kamu memang suami yang paling pengertian. Aku cinta kamu!" seruku sembari memberi kecupan ringan di pipi tirus Mas Ruslan.

"Dasar kamu!" Mas Ruslan menjawil hidungku dengan gemas. "Mas juga cinta sama kamu!" ucapnya.

"Ekhm!"

Di tengah kebahagiaan sederhana ini, suara deheman seseorang menginterupsi kami. Aku dan Mas Ruslan langsung memisahkan diri.

"Mesra banget pengantin lama!" sindir Mbak Dina yang entah sejak kapan memasuki dapur.

"Eh, Mbak Dina. Ada apa, Mbak?" tanyaku grogi setelah dipergoki sedang bermesraan dengan Mas Ruslan.

"Orang-orang udah dateng tuh. Pantes aja ditunggu-tunggu makanannya belum disiapin. Lagi bermesraan toh!" sindir Mbak Dina. Matanya menatap miring pada kami berdua.

"Oh ya, Mbak!" ucapku sembari diam-diam memutar mata.

"Nanti kamu jangan malu-maluin ya!" seru Mbak Dina kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua, sama seperti yang dilakukan ibu mertua tadi.

"Huuu! Sok bossy!" cibirku.

Mas Ruslan menggelengkan kepala samar melihat sikap kekanakanku. "Ayo, cepat siapkan makanannya. Nanti kamu diomelin ibu lagi," ujar Mas Ruslan memperingatkan.

Kami pun bergegas menyiapkan makanan untuk para tamu. Tidak seperti Mbak Dina dan Dimas beserta ibu mertua yang telah berdandan rapi, penampilanku sendiri masih seperti pembantu dengan daster lusuh melekat di tubuh.

Aku dan Mas Ruslan sedang sibuk hilir mudik menyiapkan makanan ketika Danis bergegas menghampiri kami dengan air mata membanjir di pipinya. Anak manis itu masuk ke dapur melalui pintu belakang.

"Ibu!" panggil Danis dengan suara lirihnya yang menyedihkan.

Aku segera menghentikan pekerjaanku dan duduk berjongkok mensejajarkan tubuhku dengan putra kecilku ini.

"Danis, sayang. Kenapa nangis, Nak?" tanyaku lembut seraya menghapus air mata di pipinya yang kemerahan.

"Ibu! Kak Aldi usir Danis. Kak Aldi bilang kalau Danis pengemis!" ujar Danis melapor dari balik suara sengguk-sengguk kecilnya.

Mendengar keluhan putraku ini membuat amarah yang tak tahu darimana datangnya perlahan bergejolak di dalam hati.

"Kak Aldi bilang Danis pengemis?" Aku bertanya ulang untuk memastikan aku tidak salah dengar.

"Iya. Tadi Danis mau masuk lewat pintu depan. Tapi diusir. Katanya Danis pengemis!" seru Danis sambil menangis kian kencang.

Mas Ruslan yang berdiri di sampingku segera menyambar Danis ke dalam gendongannya.

"Nggak bener ini, Mas. Aku nggak tahan lagi. Aku harus kasih tahu Mbak Dina. Mereka bisa berlaku tidak baik sama kita. Tapi mereka tidak bisa semena-mena pada Danis!" Aku menggeram kesal. Rasa ingin melabrak Mbak Dina berkobar di dalam diriku.

"Tri~" tegur Mas Ruslan dengan nada panjang. Sorot matanya memancarkan peringatan.

"Mas!" seruku.

"Setidaknya tidak sekarang. Di luar lagi banyak orang," ujar Mas Ruslan dengan lembut.

Aku meneguk ludah dengan susah payah. Nafasku memburu naik turun masih tidak ikhlas. Namun, aku juga mengerti apa maksud Mas Ruslan. Jangan sampai kami mempermalukan diri sendiri di hadapan orang banyak.

"Cup! Cup! Anak pinter udahan nangisnya ya," hibur Mas Ruslan sembari menepuk punggung Danis dengan lembut.

Danis pun perlahan berhenti menangis, tapi suara sesenggukannya masih terdengar sesekali. Hatiku sakit mendengarnya.

"Mas, aku nggak mau begini terus. Aku nggak mau diremehkan sama keluarga kamu, lagi dan lagi," ucapku lirih.

"Apa yang mau kamu lakukan, Tri?" tanya Mas Ruslan.

"Mau berontak! Kamu ini anaknya, dan aku ini menantunya bapak dan ibu juga. Kita bukan pembantu, Mas!" seruku dengan suara menggebu-gebu.

Mas Ruslan mengangguk. "Lalu lakukan apa yang menurut kamu benar, Tri. Asal jangan sampai ibu sama bapak masuk rumah sakit aja," ujar Mas Ruslan mengingatkan.

"Jangan khawatir, Mas. Aku cuma mau kasih syok terapi sedikit aja!" pungkasku dengan senyum licik di wajah.

* * *

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
Dalam Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu, Anisa membalas dendam atas pengkhianatan suaminya. Takdir mempertemukannya dengan Fras, CEO miliarder yang menyamar. Baca romance novel penuh intrik ini di platform online novel kami untuk mengikuti kisah cinta dan perjuangan mereka.
BLIND HEART
BLIND HEART
Dalam novel BLIND HEART, Silvana bekerja demi biaya wisuda dengan mengasuh Max Elgort, billionaire buta yang kasar. Terjebak dalam masa lalu tragis, Max sulit membuka hati. Temukan kisah mereka di romance novel ini, sebuah modern novel tentang perjuangan dan pengabdian di tengah luka.
Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
Dalam novel romantis miliarder Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian, Wenny Cladia memutuskan menceraikan suaminya, Hendro Jamil, setelah tahu ia hanya dimanfaatkan. Baca novel online gratis ini untuk melihat perjuangan Wenny bangkit menjadi ahli medis sukses.
GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
Dalam novel romance GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR, pewaris properti Leon Indrajaya harus menghadapi trauma masa lalunya. Pertemuannya dengan psikiater Evita memicu obsesi berbahaya. Baca billionaire romance novels ini saat Leon nekat merebut tunangan CEO media demi ambisinya.
GAIRAH PAPA MERTUAKU
GAIRAH PAPA MERTUAKU
Dalam GAIRAH PAPA MERTUAKU, Tessa yang kesepian terjebak perselingkuhan dengan Arnold, ayah sambung suaminya. Saat ingin kembali pada Leo, ia justru terjerat permainan licik Arnold. Simak kisah romance novel ini di web novel kami, pilihan terbaik untuk read books online free.
Istri yang Libidonya Rendah
Istri yang Libidonya Rendah
Dalam novel romantis *Istri yang Libidonya Rendah*, seorang istri berjuang mengatasi gairah rendah yang membuat suaminya frustrasi. Ia menemui dokter pengobatan tradisional rekomendasi sang suami, tanpa menduga metode terapi tak biasa yang menantinya. Baca novel online gratis di sini!

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Darah dan Pengakuan
Darah dan Pengakuan
Alina, sang Ketua Grup Singh, mengalami duka mendalam saat kehilangan putra kandungnya, Erik, yang masih belia. Bersama suaminya, mereka memindahkan seluruh kasih sayang kepada anak angkat, Alec. Bahkan setelah Erik akhirnya ditemukan, Alina tetap memanjakan Alec dan mempersiapkannya sebagai penerus bisnis keluarga. Namun ironi takdir terjadi - justru Alec, yang khawatir akan tergeser kedudukannya, merencanakan pembunuhan keji terhadap Alina. Di detik-detik terakhir hidupnya, Alina baru menyadari sifat sejati Alec yang serigala berbulu domba. Dengan hati yang hancur, dia bertekad bahwa jika ada kehidupan selanjutnya, dia akan tebus semua kesalahannya pada Erik!
Debut Asmara Voli Pantai
Debut Asmara Voli Pantai
Jenny Taylor ingin kehilangan keperawanan dengan musuh bebuyutan sekaligus kakak tirinya, Chris Riggins. Gara-gara tanpa sengaja mencium Chris, dia jadi bahan olokan pacar Chris, Natalie, dan seluruh tim voli. Namun, tiba-tiba Chris mulai perhatian dan peduli pada Jenny. Apakah ini awal dari hubungan terlarang mereka?
Dendam Manis sang Bintang
Dendam Manis sang Bintang
Fani menyaksikan sendiri tunangannya berselingkuh dengan adiknya. Ia dipaksa untuk membatalkan pertunangan dan menyerahkan tunangannya kepada adiknya, atas desakan nenek dan ayahnya. Dalam keputusasaan, Fani bertemu dengan Tuan Muda Juna dari Grup Kusuma. Keduanya langsung jatuh cinta dan memulai lembaran hidup yang baru.
Hidup Kedua, Cinta Sejati Menanti
Hidup Kedua, Cinta Sejati Menanti
Di kehidupan sebelumnya, Nadya Lestari menikah dengan Raka Wirawan, pria yang paling ia cintai. Tapi demi wanita pujaan hatinya, Raka justru menguras habis harta keluarga Nadya dan membiarkan keluarganya hancur. Takdir memberinya kesempatan kedua. Kali ini, Nadya kembali ke titik hidupnya saat harus memilih pasangan hidup. Tanpa ragu, ia memilih Dimas Pranata, pria yang tulus dan bermoral. Saat Raka sadar Nadya tak lagi memilihnya, penyesalan pun datang... tapi semuanya sudah terlambat.
Istri yang Terbuang
Istri yang Terbuang
Setelah dikhianati dan dibunuh oleh suaminya sendiri, Harsa Widayo, Nala Yashin terlahir kembali pada usia 18 tahun dengan satu tujuan: mengubah nasibnya. Ia menggunakan kesempatan kedua ini untuk menggantikan Mandra Yashin, menyelamatkan Raja Surya dari konspirasi, dan memanfaatkan restu Kaisar untuk melawan Keluarga Yashin dan Widayo yang dulu menyakitinya. Saat Harsa Widayo dan Raya Yashin malah menjadi bahan tertawaan, Nala bekerja sama dengan Raja Surya di tengah kekacauan politik, pembunuhan, dan kudeta. Berkat kecerdikan mereka, krisis berhasil diatasi, kebenaran terungkap, dan mereka akhirnya bersatu sebagai pasangan.
Kilau Pedang
Kilau Pedang
Nindi, mantan pendekar wanita legendaris, memilih hidup tenang di Kota Yusol bersama putrinya, Yani. Namun, saat Yani menjadi korban pelecehan oleh bangsawan kejam Harto, Nindi terpaksa kembali mengangkat senjata demi menuntut keadilan. Dalam perjuangannya, ia harus menghadapi Darto—dalang sebenarnya yang menculik Yani dan bersekongkol dengan organisasi asing Mutir. Dengan bantuan Kevin dan Hairo, Nindi menggempur balik, menyelamatkan putrinya dan membongkar konspirasi besar. Demi rakyat Sirdo, Nindi akhirnya kembali turun gunung untuk menghapus kejahatan hingga ke akar-akarnya.