Logo
KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC
KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC

KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC

68 Bab
Tamat
Dalam KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC, Maemunah bertransformasi menjadi Maya demi membiayai pengobatan anaknya. Romance novel ini mengisahkan perjuangannya di dunia malam untuk membalas harga diri yang hancur. Baca novel online ini untuk mengungkap rahasia di balik gemerlap karaoke.
Bab 1 dari KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC

Jam sebelas malam. Sepi seperti kuburan. Mae duduk termangu di kursi plastik dapur. Masih ada lemper dingin di piring, nasi uduk yang keras, risol yang mulai menciut. Hari itu tak ada satu pun yang laku. Udara pengap, dan detik itu juga...

"Ma... Mama... kepala Gia sakit...,"

Gia berdiri goyah, tangannya mencengkeram dinding. Lalu mendadak tubuh kecil itu limbung. Mae bangkit secepat kilat.

"Gia?!"

Darah segar menetes dari hidung Gia.

"Ya Allah! Ya Allah!"

Mae langsung menggendong anak perempuannya yang baru berusia tujuh tahun itu. Tubuh Gia panas seperti setrika. Tangisnya menggigil, napasnya pendek-pendek.

"Mama, Gia takut..." bisik Gia pelan.

"Jangan takut, sayang. Jangan takut..."

Tangan Mae gemetar membuka dompet bututnya. Isinya: satu lembar dua ribuan, dua koin lima ratus. Ia mengedarkan pandang. Meja penuh sisa dagangan yang basi. Kulkas kosong, listrik tinggal berkedip merah.

Mae menggigit bibir. Lalu, dengan langkah tergesa, masih menggendong Gia, ia lari keluar rumah, menyusuri gang kecil gelap menuju rumah Bu Darmi, ibu mertuanya.

Rumah itu hanya berjarak dua puluh meter. Tapi saat Mae berlari, jarak itu terasa seperti kilometer.

Rumah dua lantai bercat kuning gading itu berdiri angkuh dengan pagar tinggi dan lampu taman yang masih menyala. Mae menendang-nendang gerbangnya.

"Ma! Ma! Ma! Bukain, Ma! Tolong! Ma!"

Tak lama kemudian, pagar dibuka oleh Yaya, adik iparnya. Rambutnya acak-acakan, masih pakai masker wajah, mata ngantuk.

"Eh, Gendut! Malam-malam ngapain?! Mau maling?!"

"Gia... Gia mimisan! Kayaknya dia kesakitan banget! Tolong... aku nggak ada uang...."

Bu Darmi muncul di balik tirai jendela lantai satu, membuka pintu sambil bersungut.

"Apa sih ini malam-malam teriak-teriak kayak kesurupan!"

"Gia sakit, Ma. Tolong, pinjam uang sebentar aja. Aku mau bawa dia ke IGD..."

Bu Darmi mendengus.

"Pinjam uang? Kamu kira kita mesin ATM? Lagian suami kamu mana?Bastian kamana?"

Mae menunduk. Nafasnya masih berat menahan tangis.

"Udah tiga hari nggak pulang, Ma..."

Yaya menyambar, "Wah! Suami nggak pulang, malah minta-minta di sini. Astaga. Coba intropeksi diri deh. Kamu tuh ngapain aja di rumah?! Dagang kagak laku, suami pergi, anak sakit, eh malah nyeret-nyeret anak tengah malam! Kasian banget tuh anak, punya emak nggak becus!"

Mae gemetar. Pipinya panas. Tapi Gia terus menggeliat dalam gendongannya.

"Aku cuma... mau pinjam sedikit aja, Ma. Buat bawa Gia ke dokter."

Bu Darmi nyalain rok*k.

"Udah, udah, gak usah drama. Nih rumah bukan tempat minta-minta. Besok aja, pagi-pagi, ke puskesmas. Ngapain juga jam segini ke rumah sakit? Kamu pikir kamj siapa?"

"Ma... tolong..."

"Udah pulang sana. Gua capek. Gua juga butuh tidur!"

Gerbang ditutup.

Draaakkk!

Mae terpaku. Tangisnya pecah, basah di pundak Gia. Ia peluk tubuh anaknya erat-erat.

Lalu, seperti robot, dengan sisa tenaga dan jemari gemetar, Mae mengeluarkan ponsel retaknya. Layar berkedip. Ia tekan satu nama.

ECI

"Hallo? Mae? Ada apa, sayang?"

"Ci... Gia... mimisan... badannya panas banget... aku nggak tahu harus gimana. Aku... aku nggak punya uang, Ci..."

Sunyi.

"Transferin aku, ya... berapa aja. Aku mau bawa dia ke rumah sakit. Tolong..."

Eci di ujung sana tercekat.

"Tenang, sayang. Aku kirim sekarang. Kamu kuat, ya. Gia juga... kuat."

Mae mengangguk sendiri dalam gelap, meski air matanya membanjir tanpa suara. Gia mengerang lemah.

Begitu sambungan telepon dari Eci terputus, Mae langsung bangkit dari duduknya. Gak sempat nangis. Gak sempat mikir. Gak sempat pakai alas kaki.

"Gia..." desahnya, separuh napas, separuh doa.

Dia buka pintu rumah. Angin malam menyambut seperti menampar. Rumahnya gelap, tapi Mae udah hafal arah.

Dia buru-buru masuk ke kamar. Tarik jaket lusuh warna coklat buat Gia. Kupluk usang yang udah buluk, diceplokin ke kepala anaknya.

Kain panjang, diselipin ke pinggang Gia, dililit kuat ke badannya sendiri. Buat pengaman.

Jilbab? Nggak diganti. Masih jilbab belel bau gorengan sisa dagangan pagi.

Dompet, berkas BPJS, surat keterangan disabilitas, semua dilempar asal ke dalam tas kain. Tangannya gemetaran.

Di luar, motor Astrea-nya ngambek. Bunyi klotak-klotak pas distarter. Mesin batuk, kayak males bangun. Mae jongkok di sampingnya, nyenderin kening di tangki.

"Ayo dong, tolong... Tolonglah, aku mohon, Gia harus ke rumah sakit... Malem ini... sekarang..."

Tangannya gemetar ngelus-ngelus bodi motor yang udah kebas debu. Gigi rontoknya Gia ngintip dari balik senyum lelah. "Mama... baca bismillah, Ma..."

"Bismillah... Bismillah..."

Dan seolah dengar doanya, mesin motor mendadak nyala. Mae langsung naik, kunci gas, dan melesat.

Jam 12 malam. Jalan sepi. Angin menusuk dada. Bibir itu selalu melamar doa. Tak mengapa sendirian pikirnya.

Di rumah sakit, rem motornya nyekit keras. Mae loncat turun. Gendong Gia yang udah mulai panas dan lemes. Keringat dingin membasahi keningnya. Kakinya nyeret masuk IGD.

"Maaf, Bu. Antrenya banyak."

"Anak saya demam tinggi, dia disabilitas, tolong duluan."

"Ya semua juga bilang gitu, Bu."

"Mas, ini anak Down Syndrome. Udah gak sadar."

Petugas cowok berdiri dari balik meja. "Ibu jangan emosi ya. Kita semua kerja sesuai prosedur."

"PROSEDUR APA? Anak saya panas 40 derajat!"

"Ibu bisa lapor ke bagian informasi kalau merasa keberatan."

"LAPOR? Sekarang? Anak saya bisa kejang di sini, Mas!"

Perawat cewek dateng, ngedumel. "Banyak yang sok darurat. Semua juga pingin dilayanin duluan."

Mae hampir meledak. Nafasnya udah di ubun-ubun. Tapi Gia mulai menggigil.

"Gia, tahan ya... tahan, Naak!"

Akhirnya seorang dokter jaga mendengar ribut-ribut itu, keluar dari ruangan, dan mendekat.

"Ada apa ini?"

"Dok, anak saya panas tinggi. Tolong periksa sekarang. Tolong."

Dokter itu ngelirik sekilas. Mungkin kasihan. Mungkin juga risih sama ribut-ributnya. Tapi dia manggil perawatnya.

"Masukin ke ruang observasi dulu. Ukur suhu, kasih oksigen. Cepat."

Perawatnya masih manyun, tapi ngelangkah juga.

Mae peluk Gia erat. Tangannya gemetar, matanya panas. Tapi dia gak nangis.

Perawat kaget, langsung lari mengambil kursi roda kecil. Mae hampir tidak bisa berdiri, tapi saat dua petugas membantu memindahkan Gia

dari pelukannya ke atas kursi roda, ia langsung ikut menggenggam tangan anaknya. Genggaman yang nyaris seperti pegangan antara hidup dan mati.

Ruang observasi itu kecil, tapi terang. Bau antiseptik menusuk. Dindingnya putih kusam, dan suara monitor detak jantung dari ruangan sebelah membentuk irama yang bikin sesak.

Gia diletakkan di atas ranjang, tabung oksigen langsung disambungkan, dan dua perawat sibuk mencatat suhu serta memasang sensor ke ujung jarinya.

Dokter berdiri di samping, menatap layar monitor sambil sesekali melirik wajah anak itu.

Wajah Gia... khas. Wajah malaikat yang Tuhan turunkan dengan kriteria-Nya sendiri.

Hidung kecil, mata sedikit sipit dengan kelopak atas yang lebih berat, telinga seperti daun perak, manis, unik, seperti anak dari negeri dongeng yang sedang singgah di dunia manusia. Wajah yang pasti akan diingat orang yang pernah menatapnya.

Mae berdiri terpaku di ujung ranjang, tangan menutup mulut. Baru sekarang air matanya jatuh.

"Gia... Gia tolong, sayang... jangan tidur... jangan tinggalin Mama..."

Dan di antara detik-detik hening, di bawah tabung oksigen dan mesin pemantau, mungkin, entah mimpi atau nyata, Gia bicara dalam hatinya.

"Mama... kenapa Mama nangis? Aku kan cuma ngantuk... tapi kok dingin banget di sini, ya? Di mana lampu pelangi yang biasanya Mama nyalain sebelum aku tidur?"

"Aku capek, Ma... tanganku dingin, badanku sakit... Tapi aku denger Mama tadi manggil-manggil aku. Maaf ya Ma, aku nggak bisa jawab... Bibir aku kaku. Tapi aku denger kok, Ma. Mama jangan nangis lagi."

"Mama, boleh nggak aku tidur sebentar aja? Tapi Mama janji ya... nanti bangunin aku lagi. Aku janji, habis ini aku nggak akan maksa naik motor lagi. Aku nggak akan marah-marah lagi kalo dilarang makan es. Aku janji dengerin kata Mama."

"Tapi sekarang, boleh aku peluk Mama di mimpi dulu?"

---

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Balada Sang Pemuas
Balada Sang Pemuas
Dalam Balada Sang Pemuas, Andre dan Nadia mengeksplorasi fantasi tersembunyi di balik norma susila. Modern novel ini mengisahkan perjuangan melampaui batasan imajinasi demi sensasi yang didamba. Baca kisah lengkapnya di webnovel romance stories yang penuh dengan pilihan hidup berani.
Bound by Destiny
Bound by Destiny
Pasca pengkhianatan pahit, Elice Danurdara bangkit saat bertemu Garettinus Hardiyata. Bound by Destiny mengisahkan perjuangan Elice membuktikan harga dirinya dalam modern novel ini. Temukan dinamika hubungan mereka yang penuh pilihan hidup dalam web novel yang memikat ini.
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
Dalam Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang, Adhitama terjebak pernikahan paksa dengan Riani. Meski awalnya dingin, sebuah tragedi mengubah segalanya. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Adhit menembus hati Riani dalam kisah modern novel yang penuh emosi dan cemburu.
FAULT
FAULT
Dalam novel modern FAULT, Arista Lucy bertransformasi menjadi pembunuh bayaran demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, kehadiran Evan membawa teka-teki baru yang menguji misinya. Baca romance novel penuh misteri ini di platform online novel untuk mengungkap rahasia mereka.
OH MY EDWARD : ATASANKU GEBETANKU
OH MY EDWARD : ATASANKU GEBETANKU
Dalam OH MY EDWARD : ATASANKU GEBETANKU, Zuri harus meluluhkan hati CEO yang trauma akan cinta demi melunasi utang keluarga. Nikmati billionaire romance novels ini tentang misi rahasia dan perjanjian pernikahan yang rumit. Baca romance stories penuh intrik ini sekarang di platform webnovel.
Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
Dalam mafia novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa, Angela dipaksa menikahi Dimitri LaRocca, pemimpin mafia kejam. Terjebak dalam dunia romance modern yang gelap, ia harus bertahan menghadapi obsesi Dimitri demi menemukan kebahagiaan di tengah pengkhianatan keluarga.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Azab dari Dewi Pena
Azab dari Dewi Pena
Dewi Pena, yang berinkarnasi sebagai mahasiswa, menjalani ujian hidup. Teman sekamar, Rosita Yongki, diam-diam menyembah Dewi Pena untuk mendapatkan kekayaan dan kecantikan, terdorong oleh keserakahan untuk merencanakan hal jahat terhadap Stella Guhara. Stella menampakkan wujud aslinya untuk menghukum, sementara Rosita menyesal di usia senja dan menjalani sisa hidup berbuat baik untuk menebus dosa. Jalan pintas adalah jalan sesat, sedangkan kebaikan adalah jalan yang benar.
Berawal Pengkhianatan, Berakhir Indah
Berawal Pengkhianatan, Berakhir Indah
Nayla telah mencintai Tanu selama sepuluh tahun. Namun, dia harus menyaksikan sendiri Tanu melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap Sherin yang sedang koma. Dengan tegas, dia memutuskan untuk menikah lagi dengan Steven, teman masa kecil yang pernah dia lindungi. Ketika dia berusaha membatalkan pertunangannya, dia malah dijebak oleh Sherin. Saat asli Sherin terbongkar, penyesalan Tanu sudah terlambat. Nayla bangkit dan bersama Steven bahu-membahu melakukan balas dendam.
Gadis Lugu Penakluk Raja Mafia
Gadis Lugu Penakluk Raja Mafia
Setelah diculik oleh raja mafia, Bella yang polos dipaksa untuk menandatangani kontrak untuk membayar biaya operasi ibunya. Namun, kontrak yang bernilai 7,5 miliar ini menuntut Bella melakukan lebih banyak daripada yang pernah dia bayangkan... Sikap sang raja mafia yang keras, perlahan-lahan mulai melunak karena Bella. Sementara itu, Bella secara bertahap menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Namun, apakah itu cinta, ataukah hanya sindrom Stockholm?
Kehidupan Baru Ibu untuk sang Putri
Kehidupan Baru Ibu untuk sang Putri
Rina Mahesa pernah buta karena cinta. Setelah kehilangan suami, ia justru terjebak bersama Juno Pranoto dan rela mengabaikan putrinya, Maya Mahesa. Akhir hidupnya tragis, dibuang oleh Keluarga Pranoto yang dulu ia bela. Saat diberi kesempatan hidup kembali, Rina bersumpah akan melindungi putrinya dan tidak lagi jatuh ke jalan yang sama.
Cintaku Bagai Merah Menyala
Cintaku Bagai Merah Menyala
Susan memang lahir di keluarga miskin, sedangkan tunangan Susan adalah putra orang kaya. Saat mereka mau menikah, Susan baru tahu kalau keluarga tunangannya tidak menyukai dirinya dan ibunya. Jadi dia memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi Susan tidak menyangka kalau dirinya bukanlah anak kandung ibunya, melainkan anak angkat. Apa yang akan terjadi saat Susan mengetahui semua kebenaran?
Rahasia Ibu Rumah Tangga
Rahasia Ibu Rumah Tangga
Alea, seorang ibu rumah tangga, terpaksa membunuh suami dan selingkuhan suaminya yang hendak membunuhnya demi klaim asuransi. Sherly, seorang polisi, menerima laporan dan mulai menyelidikinya. Seiring penyelidikan, Sherly mengungkapkan banyak rahasia kelam yang tidak diketahui siapa pun...