Logo
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

80 Bab
Tamat
Dalam Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang, Adhitama terjebak pernikahan paksa dengan Riani. Meski awalnya dingin, sebuah tragedi mengubah segalanya. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Adhit menembus hati Riani dalam kisah modern novel yang penuh emosi dan cemburu.

Ringkasan Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Adhitama terpaksa menikahi Riani, seorang janda yang tak dikenalnya, demi kepentingan keluarga. Sejak awal, Adhit bersikap dingin dan menjaga jarak karena merasa terjebak. Namun, sebuah tragedi mengubah segalanya. Saat Adhit terpuruk, kesetiaan Riani yang tulus perlahan meruntuhkan egonya. Perasaan asing mulai muncul saat Adhit merasa cemburu melihat pria lain mendekati istrinya. Kini, ia berjuang keras menembus dinding yang dulu ia bangun demi mendapatkan hati Riani seutuhnya.
Selengkapnya

Bab 1 dari Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Pernikahan ini... omong kosong.

Adhitama menatap pantulan dirinya di cermin, rahangnya mengeras. Tuxedo hitam yang ia kenakan hari ini terasa seperti borgol, mencekiknya, membatasi setiap inci kebebasannya. Di sampingnya, riuh rendah perayaan di ballroom hotel bintang lima itu terasa semakin memuakkan. Mereka merayakan sesuatu yang mati sebelum sempat bernapas.

Dia tahu, dia seharusnya ada di sini, berdiri di pelaminan itu. Tapi bukan dengan Riani. Seharusnya dengan Kiara, kekasihnya, wanita yang sudah ia impikan sejak dulu. Tapi takdir, atau lebih tepatnya, kehendak ayahnya, menamparnya telak. Kiara pergi. Dan untuk mengamankan posisi Adhit di perusahaan-dan warisan yang sudah diujung tanduk-ayahnya mendesaknya, memaksanya, mengancamnya untuk menikahi Riani.

Seorang janda. Nyaris tak ia kenal.

Adhit menyesap whiskey-nya cepat. Rasa pahitnya tak sebanding dengan rasa marah yang membakar di dalam dadanya. Ia kembali menghadap cermin, lantas berbalik saat pintu kamar ganti pribadi itu terbuka perlahan.

Riani masuk.

Seketika, aura dingin Adhit meningkat sepuluh derajat. Riani tampak... tenang. Terlalu tenang, pikir Adhit. Dalam gaun pengantin putih yang panjang, Riani terlihat anggun, tapi di mata Adhit, ia hanya melihat sosok wanita yang telah merenggut segalanya. Gaun itu tidak membuatnya terlihat seperti pengantin impiannya. Gaun itu hanya membungkus penyesalan terbesarnya.

Riani menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Ruangan itu kedap, membiarkan keheningan tebal mengisi kekosongan.

"Kita akan pulang sebentar lagi," ucap Adhit, suaranya datar dan keras, tanpa basa-basi. Ia tidak menoleh, pura-pura sibuk membenarkan dasi kupu-kupunya yang sudah sempurna.

Riani melangkah lebih dekat, tapi berhenti di jarak yang sopan. "Iya, aku tahu." Suaranya lembut, tanpa getaran.

Itu yang paling mengesalkan bagi Adhit. Riani terlalu menerima. Tidak ada air mata, tidak ada protes, tidak ada upaya untuk mendekat, seolah ia benar-benar hanya menjalankan tugas.

Adhit akhirnya berbalik, menatap Riani lurus-lurus. Matanya menantang, mencari celah, mencari keraguan di mata Riani. Tapi yang ia temukan hanyalah sepasang mata cokelat yang teduh, tenang seperti danau di pagi hari.

"Dengar," Adhit melangkah, kini jarak mereka hanya beberapa langkah. "Aku akan bicara blak-blakan, agar kita tidak buang waktu."

Riani mengangkat dagunya sedikit, menunggunya bicara.

"Pernikahan ini tidak nyata," kata Adhit, menekankan setiap kata. "Ini kontrak. Transaksi. Kita berada di sini karena Ayahku. Dan kau ada di sini karena hutang budi, atau apalah alasan konyol yang kau berikan pada keluarga."

Ia melihat kilasan rasa sakit di mata Riani, tapi itu hanya sepersekian detik. Riani segera mengendalikan ekspresinya.

"Aku mengerti, Mas Adhit," balas Riani, menggunakan panggilan formalitas yang membuat Adhit merinding.

"Jangan potong aku," potong Adhit tajam. "Aku belum selesai. Kita akan tinggal di bawah satu atap, itu keharusan. Tapi kau harus tahu batasmu."

Adhit meletakkan gelas whiskey-nya di meja rias, menimbulkan bunyi yang keras.

"Pertama. Kamar kita terpisah. Malam ini, dan seterusnya. Aku akan meminta Bi Ijah menyiapkan kamar tamu di ujung koridor untukmu. Kau punya kuncimu sendiri. Jangan pernah memasuki kamarku tanpa izinku. Aku tidak peduli kau istriku secara hukum. Bagiku, kau adalah... rekan sekamar yang dipaksakan."

Riani mengangguk pelan. "Baik."

"Kedua. Di depan keluarga dan publik, kita harus bersikap layaknya suami istri. Kau mengerti? Senyum, genggam tanganku di acara formal, anggukan kepala saat aku bicara. Hanya akting. Begitu kita di dalam mobil, atau di rumah, kau kembali ke posisimu. Diam, dan jaga jarak."

"Aku paham. Aku akan bersikap profesional," jawab Riani, suaranya tetap stabil.

Adhit merasa darahnya mendidih. Profesional? Wanita ini bicara seolah mereka sedang menjalankan proyek kantor. Ia ingin Riani melawan, ingin Riani menunjukkan sedikit emosi, sedikit rasa sakit, agar ia bisa membenarkan sikap kasarnya. Tapi Riani tidak memberinya apa-apa.

"Ketiga. Kita tidak akan pernah memiliki... keintiman. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, dan kau tidak perlu mencoba apa pun yang membuatku berpikir sebaliknya. Aku punya hidupku, kau punya hidupmu. Kita hanya berbagi alamat surat menyurat."

Adhit sengaja membuat kata-katanya setajam belati. Ia menatap lekat, berharap melihat air mata atau setidaknya getaran di bibir Riani.

"Aku menghormati keputusanmu, Mas Adhit," kata Riani. Ia menarik napas tipis. "Aku datang ke pernikahan ini bukan untuk mencuri hatimu, atau menggantikan siapa pun di hidupmu. Aku di sini untuk melunasi janji. Ketika janji itu selesai, aku akan pergi. Tanpa drama, tanpa tuntutan."

Pengakuan Riani, yang terdengar sangat tulus, justru membuat Adhit semakin curiga. Kenapa semudah ini? Kenapa ia tidak merengek, tidak memohon, tidak mencoba untuk setidaknya menanyakan kenapa Adhit begitu membencinya?

"Bagus kalau kau sadar diri," ejek Adhit, melipat tangannya di dada. "Satu hal lagi. Aku akan memberimu uang bulanan yang lebih dari cukup. Anggap itu kompensasi atas drama yang harus kau jalani. Ambil. Tapi jangan pernah berpikir uang itu akan memberimu hak untuk mencampuri urusanku, terutama soal Kiara. Aku tidak ingin ada satu pun pertanyaan tentangnya."

"Aku tidak butuh uangmu, Mas Adhit," sahut Riani, kini ada sedikit nada tegas dalam suaranya. "Aku di sini bukan untuk menjual diri. Uang itu, silakan gunakan untuk kebutuhanmu sendiri. Aku masih bisa mencari nafkah."

Penolakan Riani terhadap uang itu terasa seperti tamparan tak terduga. Adhit terdiam sejenak. Ia sudah menyiapkan skenario bahwa Riani adalah wanita materialistis yang akan dengan senang hati menerima setoran bulanannya. Kenyataannya, Riani justru menolak.

"Jangan bodoh," desis Adhit. "Ambil saja. Itu bagian dari transaksi ini. Agar kau tidak bisa berdalih bahwa aku tidak memberimu apa-apa."

"Aku akan menggunakannya seperlunya untuk operasional rumah tangga, jika itu bagian dari tugasku," kata Riani, memegang buket bunga mawar putihnya erat-erat. "Selebihnya, aku tidak akan menyentuhnya."

Adhit menghembuskan napas panjang. Ia merasa lelah berdebat dengan ketenangan Riani. Ia berharap wanita ini adalah lawan yang mudah ditebak, tapi Riani adalah kotak hitam.

"Terserah kau," Adhit menyerah untuk saat ini. "Yang jelas, kau sudah dengar aturannya. Jangan sampai kau melanggarnya, Riani. Karena kalau kau melanggar, aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu-"

"-Aku tidak akan melanggar. Aku hanya ingin menjalani sisa kontrak ini dengan damai," Riani memotongnya, tidak dengan nada marah, tapi dengan kejujuran yang menenangkan.

Mereka terdiam lagi. Adhit menatapnya. Sekarang ia memperhatikan detail Riani. Kulitnya yang bersih. Matanya yang besar. Punggungnya yang tegak. Ia mengakui, Riani cantik. Kecantikannya alami, tidak menantang, tapi justru itu yang membuatnya terlihat kuat.

Tiba-tiba, ia merasakan dorongan aneh, sebuah dorongan untuk bertanya.

"Kenapa kau setuju melakukan ini, Riani?" tanyanya, nada suaranya sedikit lebih rendah, tidak lagi berupa perintah. "Kau harus menikah dengan pria yang membencimu, hanya demi 'hutang budi'? Hutang macam apa yang sampai mengharuskan kau mengorbankan masa depanmu?"

Riani tersenyum tipis. Senyum itu tidak menjangkau matanya. Itu adalah senyum kesedihan yang ia tutupi dengan baik.

"Itu urusanku, Mas Adhit. Sama seperti Kiara adalah urusanmu," jawab Riani, menggunakan peraturannya sendiri untuk memblokir Adhit.

Adhit merasa seperti dipukul balik. Riani benar. Ia sudah melarang Riani bertanya tentang Kiara, jadi Riani juga berhak menjaga rahasia pribadinya.

"Baiklah," Adhit mengalah, membiarkan kemarahannya mereda. "Aku hanya ingin semuanya jelas. Aku tidak akan pernah menginginkanmu di sini, Riani. Kehadiranmu hanya membuatku teringat betapa kacau hidupku sekarang. Jadi, tolong, buat dirimu tidak terlihat."

Riani mengangguk, kali ini tanpa senyum. Rasa sakit itu akhirnya kembali ke matanya, namun ia menelannya cepat.

"Aku akan berusaha, Mas Adhit. Sekarang, pesta hampir selesai. Kita harus kembali ke hadapan tamu," kata Riani, melangkah ke pintu.

Adhit memperhatikan Riani. Ia menyadari sesuatu. Riani tidak pernah mencoba menyentuhnya, tidak pernah mencoba mendekat, bahkan saat pernikahan ini dilangsungkan. Ia selalu menjaga jarak, bahkan sebelum Adhit membuat peraturan itu.

Dia terlalu tenang. Terlalu menerima. Seolah keberadaanku di hidupnya tak berarti apa-apa.

Perasaan itu, rasa bahwa dirinya tidak berarti bagi Riani, entah kenapa, lebih menyebalkan daripada perlawanan terbuka. Ia berharap Riani setidaknya peduli pada penolakannya. Tapi Riani tampak acuh tak acuh.

"Tunggu," panggil Adhit, sebelum Riani sempat membuka pintu.

Riani berbalik. "Ada lagi?"

Adhit melangkah maju, meraih tangan Riani. Ia melakukan ini bukan karena ia ingin menyentuh Riani. Ia melakukan ini karena ini adalah bagian dari sandiwara. Di pelaminan, mereka harus bergandengan.

Riani terkejut. Tubuhnya sedikit menegang saat jari-jari Adhit yang dingin menyentuh kulitnya.

"Kita sudah sepakat, sandiwara harus sempurna," kata Adhit, suaranya kembali dingin dan penuh perintah. "Tunjukkan senyummu. Senyum bahagia. Bukan ekspresi tertekan seperti itu. Orang akan curiga."

Adhit menarik Riani lebih dekat, hanya untuk mengoreksi ekspresinya. Riani memejamkan mata sesaat, lalu membukanya dan memaksakan seulas senyum di bibirnya. Senyum itu terlihat palsu, tapi cukup meyakinkan untuk publik.

"Ayo," ajak Adhit, melepaskan genggaman tangannya saat Riani sudah siap.

Mereka keluar dari ruangan kedap suara itu dan langsung disambut oleh tatapan puluhan orang. Tawa, tepuk tangan, dan suara musik menyergap mereka.

Saat kembali berjalan di samping Riani menuju meja utama, Adhit kembali meraih tangan Riani, menggenggamnya erat, seolah mereka adalah pasangan yang paling bahagia di dunia.

Riani, tanpa diminta, membalas genggamannya, dan tekanan jari Riani terasa lembut, namun kuat. Ia bahkan berbalik sebentar, menatap Adhit dengan mata yang sekarang menunjukkan kebahagiaan palsu yang sempurna.

Saat itu, Adhit sadar, Riani adalah seorang aktris yang handal.

Dan ini adalah pertunjukan yang harus ia mainkan selama ia tidak tahu sampai kapan. Ia benci setiap detik pertunjukan ini. Ia benci Riani karena telah menjadi bagian dari panggung sandiwara hidupnya. Tapi, lebih dari segalanya, ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa menolak kehendak ayahnya.

Mereka duduk di kursi pelaminan. Di depan semua orang, Adhit bahkan menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Riani, hanya untuk melihat reaksi ibunya. Sempurna. Ibunya tersenyum lega.

Riani, saat Adhit menyandarkan kepala, tidak bergerak. Ia tidak menyambut, tidak juga menolak. Ia hanya diam, membiarkan Adhit bersandar padanya seperti pada bantal. Tindakan pasif itu sekali lagi membuat Adhit merasa dirinya tidak berarti. Ia segera menegakkan tubuhnya kembali.

Malam itu, Adhit menghabiskan sisa acara dengan menghindari kontak mata dengan Riani, berbicara hanya seperlunya, dan membiarkan Riani menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi dari tamu. Riani menjawab semua dengan anggun, menyebut Adhit 'suami yang baik' dan 'pria yang sabar'. Kebohongan-kebohongan itu terdengar begitu alami dari bibirnya.

Pukul 11 malam, mereka akhirnya meninggalkan hotel. Di dalam mobil mewah, Adhit melepas dasi kupu-kupunya kasar dan melemparkannya ke kursi belakang.

"Kerja bagus," kata Adhit sinis, tanpa menatap Riani. "Kau layak dapat Oscar untuk peran itu."

Riani hanya menoleh ke luar jendela. "Terima kasih."

Jawaban yang santai itu membuat Adhit semakin frustrasi. Ia ingin Riani bereaksi, ingin Riani menunjukkan bahwa ia terluka dengan sindiran itu.

"Kau tidak punya perasaan, ya?" tanya Adhit, nadanya sekarang lebih menyerang.

Riani menoleh perlahan. "Aku punya, Mas Adhit. Hanya saja, aku tidak perlu menunjukkannya padamu. Aku sudah membuat janji untuk melunasi hutang budi, dan janji itu bukan tentang perasaanku. Janji itu tentang komitmen pada skenario ini."

"Kau gila," Adhit mendengus.

"Mungkin," jawab Riani sambil tersenyum lagi. Tapi kali ini, senyum itu benar-benar terlihat pahit. "Atau mungkin aku hanya lebih realistis. Aku tahu aku bukan pilihanmu. Dan aku menghormati itu. Aku tidak akan pernah mencoba menjadi sesuatu yang bukan aku di matamu."

Adhit terdiam. Riani mengucapkan kebenaran yang kejam, namun ia mengucapkannya dengan ketenangan yang menghancurkan.

Sampai mereka tiba di rumah Adhit yang megah.

"Aku akan minta Bi Ijah menyiapkan kamar tamu. Kamar di ujung koridor lantai dua. Pastikan kau tahu batasmu, Riani," kata Adhit sebelum keluar dari mobil.

Adhit bahkan tidak menunggu Riani. Ia langsung masuk ke rumah. Saat ia mencapai tangga, ia berbalik. Riani masih berdiri di ambang pintu, tampak kecil dan sendirian di bawah lampu kristal yang mahal.

"Besok pagi, kita sarapan bersama. Hanya di meja makan. Untuk dilihat oleh para pelayan," perintah Adhit, sebagai bagian dari skenario pernikahan yang harus terus dimainkan.

"Tentu," jawab Riani, anggun.

Adhit menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan membuang pakaian formalnya. Ia kemudian berjalan ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin. Di bawah guyuran air, ia berharap ia bisa membersihkan dirinya dari hari yang penuh sandiwara ini, dan yang paling penting, membersihkan otaknya dari bayangan Riani.

Tapi yang paling mengganggunya saat itu bukanlah rasa marahnya, melainkan keheningan Riani yang mematikan. Keheningan yang menunjukkan bahwa Adhit tidak punya kekuatan apa pun untuk menyentuh hati wanita itu. Keheningan itu membuat Adhit merasa tidak penting.

Di sisi lain, setelah Adhit naik, Riani berdiri di sana selama beberapa menit, membiarkan keheningan rumah besar itu memeluknya. Ia melepaskan senyum yang ia kenakan sepanjang malam.

Dadanya terasa sesak. Kata-kata Adhit-tidak nyata, transaksi, aku tidak akan pernah menginginkanmu-berputar-putar di kepalanya. Tentu saja itu menyakitkan. Siapa yang tidak terluka saat pernikahannya dimulai dengan deklarasi perang?

Tapi Riani menarik napas dalam. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Sebuah janji yang harus dilunasi.

Ia kemudian berjalan pelan menuju dapur. Bi Ijah menyambutnya dengan tatapan khawatir.

"Nyonya Riani, selamat datang. Maafkan Den Adhit, dia memang begitu..."

Riani tersenyum pada Bi Ijah, senyum yang kali ini lebih tulus. "Tidak apa-apa, Bi. Aku sudah tahu risikonya."

"Den Adhit menyuruh saya menyiapkan kamar di ujung koridor..."

"Iya, Bi. Tolong tunjukkan jalannya. Dan tolong, untuk besok, siapkan menu sarapan biasa saja. Jangan terlalu repot," pinta Riani.

Bi Ijah mengantar Riani ke kamar tamu. Kamar itu besar, mewah, tapi dingin. Riani duduk di tepi ranjang. Ia membuka resleting gaun pengantinnya perlahan, melepaskan mahkota kecil di kepalanya. Ia tidak menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis.

Riani memandang sekeliling kamar. Di meja samping tempat tidur, ia melihat sebuah Alkitab kecil. Ia membukanya, membaca satu ayat yang selalu memberinya kekuatan.

"Aku akan baik-baik saja," bisik Riani pada dirinya sendiri. "Ini hanya sementara."

Ia lalu berganti pakaian. Saat ia melihat gaun pengantin itu teronggok di lantai, ia tidak merasa menyesal. Ia hanya melihatnya sebagai kostum yang harus ia kenakan.

Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di lantai dua. Tujuannya bukan mengintai Adhit, tapi hanya mencoba mengenali rumah ini. Ia berjalan melewati kamar-kamar kosong, hingga ia berdiri di depan pintu kamar Adhit. Pintu itu tertutup rapat, dan dari dalam, ia bisa mendengar samar-samar suara gemericik air dari pancuran kamar mandi.

Riani tahu, di balik pintu itu, ada pria yang sangat membencinya.

Ia mengangkat tangannya, ingin mengetuk, mungkin menawarkan air atau makanan. Tapi ia menarik tangannya kembali. Tidak. Ia sudah diberi instruksi. Jaga jarak, buat dirimu tidak terlihat.

Ia tahu, jika ia menembus batas itu sekarang, Adhit akan menganggapnya sebagai agresi. Adhit akan berpikir ia sedang mencoba merebut sesuatu.

Riani berbalik. Ia berjalan ke kamarnya sendiri. Ia menyadari satu hal: untuk bertahan di rumah ini, ia harus lebih dingin dari Adhit. Ia harus menjadi cangkang kosong, membiarkan kata-kata pedas Adhit mental begitu saja. Hanya dengan begitu, ia bisa melunasi janjinya dan pergi dengan kepala tegak.

Malam itu, Adhit tidur sendirian di kamarnya yang besar, dikelilingi kemarahan. Riani tidur sendirian di kamarnya yang besar, dikelilingi kesepian yang tenang.

Tembok es sudah resmi dibangun. Dan ironisnya, yang membangun tembok itu adalah Adhit, tapi yang tampaknya paling nyaman dengan tembok itu adalah Riani. Ini adalah awal dari pernikahan mereka, yang bukan didasari cinta, tapi didasari oleh penolakan yang keras dan penerimaan yang misterius.

Keesokan paginya, Adhit turun. Ia melihat Riani sudah duduk di meja makan. Riani sudah berpakaian rapi, kemeja putih sederhana dan celana panjang berwarna navy. Ia terlihat seperti siap pergi bekerja, bukan seperti pengantin baru.

"Pagi," sapa Adhit, lagi-lagi dengan suara datar.

"Pagi, Mas Adhit," balas Riani, tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir tehnya.

Bi Ijah datang membawa sarapan. Adhit makan dengan cepat dan tanpa suara.

"Aku akan pergi ke kantor," kata Adhit, setelah menghabiskan kopinya.

"Baik," jawab Riani.

"Aku akan pulang larut. Jangan tunggu aku," tambah Adhit, ia mencoba memberikan perintah yang lebih tajam.

"Aku tidak pernah menunggu siapa pun, Mas Adhit," kata Riani, akhirnya menatapnya. Matanya tenang, tanpa cela, tanpa emosi. "Aku sudah punya kegiatan sendiri. Jangan khawatir."

Adhit membeku di tempatnya. Ia ingin Riani menanyakan ke mana ia pergi, atau setidaknya menunjukkan sedikit kepedulian. Jawaban Riani yang begitu independen itu sekali lagi membuatnya merasa, dalam pernikahan ini, dia adalah pihak yang tidak penting.

Adhit pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Pintu depan tertutup dengan suara keras, meninggalkan Riani sendirian di meja makan besar itu, sambil menikmati tehnya dengan santai.

Ia harus terus bersikap seperti ini. Jika Adhit menganggapnya tidak penting, maka ia akan menjadi tidak penting. Jika Adhit menganggapnya hanya formalitas, maka ia akan menjadi formalitas. Itu adalah satu-satunya cara ia bisa bertahan sampai hari di mana ia bisa meninggalkan rumah ini, dan Adhitama, untuk selamanya.

Tapi di dalam hati Riani, ada bagian kecil yang berbisik, bertanya-tanya: Akankah Adhit pernah melihatku lebih dari sekadar pengantin pengganti?

Ia segera membungkam suara itu. Tidak. Tidak akan pernah. Ia harus fokus pada misinya, bukan pada hati pria yang sudah membencinya sejak awal.

Ia bangun dari kursi, merapikan cangkirnya, dan bersiap untuk hari pertamanya sebagai 'istri' di rumah yang asing ini. Sandiwara dimulai.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku Masih Bocil, Om
Aku Masih Bocil, Om
Dalam Aku Masih Bocil, Om, gadis remaja terjebak pernikahan paksa dengan David, pria dewasa kaya raya. Sebagai billionaire romance novels, kisah ini mengikuti perjuangannya beradaptasi di dunia modern novel yang asing sembari menghadapi Dinar yang menanti status jandanya.
Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat
Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat
Dalam novel modern Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat, Rania harus memilih antara mempertahankan pernikahan dinginnya dengan Yoga atau berpaling pada Rendy, sosok masa lalu yang hadir kembali. Temukan kisah kesetiaan dan pilihan hidup ini dalam romance novel yang penuh dilema ini.
Cinta satu malam dengan boss
Cinta satu malam dengan boss
Dalam novel Cinta satu malam dengan boss, seorang wanita terjebak tawaran dingin sang billionaire yang menginginkan tubuhnya tanpa cinta. Baca billionaire romance books ini untuk mengikuti kisah modern novel penuh hasrat dan pilihan sulit di dunia penuh kekuasaan.
Cinta yang dinantikan
Cinta yang dinantikan
Dalam novel modern Cinta yang dinantikan, Anggun Nirmala menjadi tebusan utang sebelum diselamatkan pria misterius. Terikat janji balas budi, ia menghadapi pilihan sulit saat sang penolong meminta imbalan tak terduga. Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah pengorbanan dan takdir.
Cinta yang Tersulut Kembali
Cinta yang Tersulut Kembali
Dalam Cinta yang Tersulut Kembali, Selina bangkit dari masa lalu kelam demi melindungi anaknya. Menghadapi Raditia dalam romance novel ini, ia terjebak antara dendam dan kesempatan kedua. Baca kisah modern novel ini tentang perjuangan hak asuh dan takdir di platform web novel terbaik.
Dusta dan Kenikmatan
Dusta dan Kenikmatan
Dalam romance novel Dusta dan Kenikmatan, seorang gadis polos harus menghadapi konsekuensi setelah menyerahkan kehormatannya akibat bujuk rayu kekasih yang berkhianat. Baca cerita modern novel ini tentang perjuangan bertahan hidup di tengah rasa kecewa setelah ditinggalkan begitu saja.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Aku Diam, Kau Goyah
Aku Diam, Kau Goyah
Judika Johan, pemuda jenius matematika dituduh menyontek oleh Junaidi Johan, anak angkat orang tuanya di Olimpiade Matematika Internasional, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Tapi keluarganya malah memihak anak angkat dan nggak percaya anak kandung. Ayah, Ibu dan kedua kakaknya mengusirnya keluar. Siapa sangka, Judika tertabrak mobil dan meninggal dunia. Tapi, Judika terlahir kembali. Kali ini, dia memutuskan untuk nggak menganggap mereka sebagai keluarga dan akan membalas semua perbuatan Junaidi.
Mengkhianati Suami Miliarder Saya
Mengkhianati Suami Miliarder Saya
Ketika ayah kaya dipenjara karena penipuan, sedangkan putrinya harus berjuang melawan kanker dan kehamilan rahasia tanpa uang sepeser pun. Karena ingin melindungi tunangannya dan perusahaan barunya dari malapetaka, wanita itu berpura-pura berselingkuh agar pria itu tidak lagi mencintainya. Namun, bertahun-tahun kemudian, meskipun akhirnya menjadi miliarder, pria itu masih belum melupakan wanita itu. Bagaimana wanita itu memberi tahu pria itu bahwa dia memiliki seorang putra berusia 7 tahun?
Aku dan Ibuku yang Buta
Aku dan Ibuku yang Buta
Grace hamil dan bekerja tiga pekerjaan, namun tetap tak mampu membayar biaya pengobatan pacarnya, Nolan. Saat Nolan hampir dipulangkan karena kekurangan dana, ibunya yang telah lama pergi tiba-tiba datang dan mengungkap bahwa Nolan adalah pewaris keluarga kaya. Menghadapi kenyataan itu, Grace pun memutuskan pergi demi keselamatan Nolan. Nolan tak bisa menerima kepergiannya. Dia mati-matian mencari Grace, namun hanya bisa menyaksikan kekasihnya meninggal secara tragis tepat di depan matanya. Tujuh tahun kemudian, Grace buta dan sakit parah, sendirian membesarkan putri mereka, Chloe. Sementara itu, Nolan bertemu dengan Chloe tanpa tahu bahwa gadis kecil itu adalah anak kandungnya. Pertemuan itu memicu berbagai kesalahpahaman dan konflik yang memanas, hingga akhirnya Nolan mengetahui kebenarannya. Di sisi lain, Eleanor, wanita pilihan keluarga Nolan, merasa cemburu dan berusaha mencelakai Grace, bahkan berniat menyingkirkan Chloe. Namun Nolan tak pernah menyerah. Diam-diam dia mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan keluarga Eleanor...
Sang Legenda: Dewi Penjaga Jiwa
Sang Legenda: Dewi Penjaga Jiwa
Selama ribuan tahun, Sarah Liman memimpin Paviliun Seribu Jiwa, mengabulkan keinginan dengan harga paling berharga. Setelah tugasnya usai, ia menjadi pengembara. Setahun lalu, Keluarga Larna memohon perlindungan dengan nyawa sebagai janji, tetapi Sarah justru dianggap sebagai beban. Kini, kepala Keluarga Malik sakit parah, kemudian anggota keluarganya bersujud dan memohon bantuan dari Sarah.
Strategi Cinta
Strategi Cinta
Ahli manajemen krisis terbaik dunia, Jenna, kembali ke tanah air untuk menikmati masa pensiun. Tak disangka, dia justru bertemu dengan Alfred, seorang CEO yang telah diam-diam mencintainya selama sepuluh tahun. Saat foto mereka bersama terbongkar oleh paparazzi, Alfred pun mengajukan pernikahan palsu, dengan alasan untuk menjaga stabilitas perusahaan yang akan melakukan IPO. Awalnya, hubungan mereka hanyalah sekadar sandiwara. Namun, lambat laun permainan ini berubah menjadi kenyataan. Jenna tak menyadari bahwa semua ini adalah skenario yang dipersiapkan Alfred sejak awal. Akhirnya, mereka saling mengungkapkan perasaan dan mengakhiri puluhan tahun rasa cinta rahasia Alfred dengan sebuah akhir yang manis.
Mimpi Buruk Seorang Ibu
Mimpi Buruk Seorang Ibu
Clara yang kecanduan judi meninggalkan cucunya, Kacie, sendirian di dapur. Kacie lalu menggunakan jam tangan pintarnya untuk menelepon ibunya, Ella, yang menyadari ada yang tidak beres sebelum baterai jam tangan anaknya habis. Ella yang tidak dapat menghubungi Clara segera menelepon suaminya, Devin, yang sedang bersama mantan kekasihnya dan menganggap kekhawatiran Ella sebagai reaksi berlebihan. Akhirnya Kacie meninggal akibat keracunan gas, dan Devin baru menyadari kebenaran tragis ini di rumah duka.