Logo
His Darling Debtor
His Darling Debtor

His Darling Debtor

55 Bab
Tamat
Dalam His Darling Debtor, Clara dipaksa menjadi gundik Tuan Blackwell demi melunasi utang ayahnya yang kabur. Romance novel berlatar modern ini mengikuti perjuangan Clara menghadapi konflik dan rahasia besar di dunia billionaire romance books yang penuh risiko serta pilihan sulit.
Bab 1 dari His Darling Debtor

Prang!

Clara merenung sejenak pada hamparan beling yang berserakan di lantai, hasil dari kecerobohan tangannya yang tak sengaja menyenggol gelas. Dia mengangkat pandangan perlahan, menemukan salah seorang pria sudah berdiri tepat di hadapan. Keberadaan pria itu menegaskan otoritas, sementara sosok bertubuh kekar lainnya tetap di tempat seolah-olah ingin menunjukkan siapa pemimpin mereka.

"Ma-mau apa kau?!" seru Clara dengan tangan mengepal kuat, berusaha untuk tak gentar menghadapi para pria sendirian.

"Katakan padaku siapa namamu," ucap pria yang diyakini sebagai pemimpin oleh Clara. Sorot matanya tampak tajam dan nada suaranya penuh ancaman.

Clara tak ingin mengatakan soal dirinya pada pria asing yang menerobos rumahnya, jadi dia tak menjawab.

Sikap tanpa kompromi Clara hanya membuat pria itu menyeringai, lalu dia mengeluarkan sekotak rokok dari saku dan menyulutnya sebatang. Sementara waktu berjalan, dia merokok dengan tenang di hadapan wanita yang memandangnya dengan ekspresi tak setuju.

"Sesimpel itu, tak bisa mengatakannya?"

Seorang pria berkacamata tiba-tiba melangkah ke hadapan mereka, menyodorkan sebuah dokumen misterius. "Ini data yang Anda minta, Tuan Blackwell."

Pria dengan aura kekuasaan yang pekat itu dipanggil Tuan Blackwell, kini sedang membaca dokumen di tangannya. "Menyembunyikannya takkan menguntungkan apa-apa bagimu. Aku bisa meminta orangku mencari tahu tentang dirimu, Clara Whitmore."

Pria berkacamata dengan sigap mengambil alih dokumen saat Tuan Blackwell memberikan padanya, lalu dia mundur perlahan.

Asap rokok mengepul di udara, Tuan Blackwell menjatuhkan rokok yang baru beberapa kali isap dan menginjaknya.

"Di mana ayahmu?"

Pertanyaan tajam itu membuat Clara terkejut bercampur bingung. "Kenapa ... a-yahku?"

"Mari kita persingkat saja," ucap Tuan Blackwell, suaranya tegas. "Ayahmu membawa kabur uangku dan aku tak tahu di mana dia bersembunyi sekarang. Apa kau tahu di mana ayahmu?"

"Tak mungkin ...," lirih Clara tak percaya.

Tuan Blackwell mengangkat alisnya. "Apanya yang tak mungkin?"

Clara menelan ludah. "Ayahku tak mungkin membawa kabur uang orang lain. D-dia ...!"

Pandangan Clara berputar, agak linglung dengan keadaan yang membuatnya harus menghadapi para pria dalam jumlah banyak. Jantungnya berdegup kencang dan keringat sudah membanjiri tubuhnya.

Clara berusaha memfokuskan diri, kembali memperjuangkan nama baik ayahnya. "Ayahku bukanlah orang seperti itu!" ucapnya dengan lantang.

Tuan Blackwell bergerak maju, bersamaan dengan langkah mundur Clara. Pada saat itu, Clara merintih akibat telapak kaki yang menginjak beling sehingga tubuhnya langsung kaku di tempat.

Tuan Blackwell mencengkeram dagu Clara. "Jadi, maksudmu aku sedang berhalusinasi?"

Clara menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan cengkeraman. Itu tak mudah karena semakin dia berusaha melepaskan diri, semakin kuat pula cengkeraman yang didapat.

"Aku paling benci dengan orang yang mencuri milikku. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah membayar utang ayahmu sebelum kesabaranku habis."

Clara merintih, bahkan mata yang memanas sudah menjatuhkan air mata. Bersamaan dengan tetesan yang mengenai sela jari Tuan Blackwell, cengkeraman itu pun dilepaskan secara kasar.

Clara memegang pipinya dengan gemetar, di sisi lain dia juga tahu kalau dirinya perlu menyudahi pertemuan mereka dengan cara apa pun. "S-sekarang aku tak punya uang, tapi jika aku diberi waktu untuk melunasinya ...."

Tuan Blackwell tersenyum remeh. "Kau bisa mencari seratus ribu dolar dalam waktu semalam?"

"Se-seratus ribu dolar?!"

Kedua mata Clara hampir melompat dari sarangnya. Jelas sudah, mustahil baginya mengumpulkan seratus ribu dolar dalam semalam. Lagi pula, untuk apa ayahnya membawa kabur uang sebanyak itu?

Entah mengapa Clara merasa bersalah atas kejadian ini, mengingat ayahnya yang banting tulang seorang diri agar kehidupan sehari-hari mereka tercukupi. Dia tahu kalau ayahnya juga bekerja keras menguliahkannya, mungkin saja ayahnya mencuri karena ingin hidup mereka jadi lebih baik.

Clara menghela napas, tetap tak mengira jika ayahnya akan melakukan cara buruk itu. "Tolong beri aku waktu satu minggu. Aku pasti akan melunasi semua utang ayahku padamu," ucapnya dengan nada memohon.

"Jangan coba-coba membodohiku. Sampai mati pun mustahil bagimu melunasinya. Apa kau pikir aku tak mencari tahu tentang para pekerjaku? Ayahmu adalah pria tanpa harapan yang memohon-mohon padaku agar bisa menghidupi putri tunggalnya. Sekarang dia lupa kacang pada kulitnya dan kau memintaku memercayai putri dari seorang pengkhianat?"

Clara segera bersimpuh di kaki Tuan Blackwell, tak gentar dalam keadaan telapak kaki mengeluarkan darah. "Tuan Blackwell, mohon beri kesempatan ...," lirihnya.

Tuan Blackwell menatap ke bawah sana, tempat di mana Clara memohon dengan berurai air mata. Mungkin jika itu dirinya yang dulu akan merasakan iba, tapi sekarang keadaannya sudah jauh berbeda.

"Kau harus membayarnya detik ini juga."

"D-dengan apa? Tak ada benda bernilai yang kami punya."

Ekspresi Tuan Blackwell berubah bengis. "Dengan hidupmu, karena hanya itulah nilai yang sepadan untuk membayarnya. Kau akan berada di sisiku dan hanya melakukan apa yang kuperintahkan."

Keheningan terasa berat, seolah-olah meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Tuan Blackwell. Perkataan itu pula yang berhasil membuat Clara seperti sedang tersambar petir.

Bagaimana bisa aku berada di sisi pria mengerikan ini dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan? ucap Clara dalam hati.

"Nona Whitmore, perlu kuperingatkan padamu bahwa membantah perkataanku sama saja meminta kematian."

"Aku-"

"Biarkan aku memberi tahu satu-satunya jalan keluar untuk lepas dariku."

Tuan Blackwell perlahan berjongkok, satu lututnya bertumpu ke lantai. Dia menaikkan dagu Clara dengan susunan sentuhan telunjuk dan ibu jarinya. "Ayahmu adalah jalan keluar terakhirmu, jika dia masih hidup tentunya." Kedua ujung bibirnya terangkat sampai bisa membentuk seringai.

Clara bergidik, hampir tak bisa bernapas. Tatapan mengerikan dan kata-kata tajam itu sudah berhasil menghunus tepat ke jantungnya.

"Bawa gadis ini, tanpa beling dan darah di kakinya," perintah Tuan Blackwell.

Tuan Blackwell bangkit, lalu keluar dari rumah sempit itu. Kemunculan Tuan Blackwell mengundang rasa hormat bagi para pengikutnya yang tak bisa masuk dan hanya bisa berjaga di luar.

Tuan Blackwell menunggu di dalam mobil selama beberapa waktu. Clara masuk setelah kakinya diobati dan diberi perban oleh pria berkacamata yang mengaku sebagai sekretaris Tuan Blackwell.

Dengan gemuruh pelan mesin yang menyala, pintu kabin ditutup. Di bangku penumpang bersama Tuan Blackwell, Clara mencoba menciptakan jarak yang luas. Mobil melaju setelah menerima perintah dari Tuan Blackwell dan membawa mereka pada kebisuan yang menegangkan.

Clara mencoba melirik pria di sampingnya meski keraguan di dalam diri masih membayangi. Setelah menimbang-nimbang begitu lama, dia pun mengeluarkan suara, "Kita ... akan ke mana?"

"The Sovereign Suite at Vireon Spire."

"A-apa ... The S-so ...."

Tuan Blackwell mengembuskan napas panjang. "The, Sovereign, Suite at Vireon Spire."

Clara berusaha memahami gerak bibir Tuan Blackwell, mencoba menangkap arah tujuan mereka.

Tuan Blackwell melihat ketidakpahaman di wajah Clara itu. Dia berpaling pada jalan yang mereka lalui sambil mengucapkan, "Aku tak tahu kenapa harus melafalkannya untuk orang sepertimu."

"Apa yang kau ingin aku lakukan di tempat itu?"

"Kau akan tahu nanti."

Clara menunduk, menahan ketakutan yang terus menyelimuti. Dalam kebingungan yang merayapi pikiran, dia bertanya-tanya tentang kejadian apa lagi yang menunggunya di depan sana.

"Apa aku akan bekerja untuk melunasi utang ayahku?" Hanya itulah yang mengemuka di benak Clara sekarang.

Tuan Blackwell menatap Clara dengan tajam, ekspresinya mencerminkan ketidaksetujuan. "Jangan membuatku mengulang perkataan yang sama karena aku tak menyukai itu." Suaranya memenuhi ruang kabin dengan aura gelap yang semakin tebal.

Clara kehilangan keberanian untuk membuka suara lebih lanjut, sehingga dia hanya bisa menunduk atau membiarkan pandangannya teralih ke luar jendela.

Beberapa saat berlalu, roda mobil itu melewati gerbang dan berhenti di halaman depan sebuah gedung. Seseorang membukakan pintu untuk mereka, yang pertama adalah Tuan Blackwell dan disusul oleh Clara sebagai pendatang baru.

"Ikut aku," ucap Tuan Blackwell, langkahnya mantap menuju pintu depan gedung.

Clara berjalan di belakang dan ikut memasuki bagian dalam gedung yang memancarkan aura eksklusif. Resepsionis menunduk saat menyadari kedatangan Tuan Blackwell. Di sana Clara melihat rangkaian huruf The Sovereign Suite - Vireon Spire menempeli dinding, mengingatkannya pada pembicaraan di mobil tadi.

"Kenapa termenung?"

Suara berat Tuan Blackwell membuyarkan lamunan. Clara menggeleng dan mengikuti arah langkah yang membawanya menaiki lift.

Ting!

Tuan Blackwell mengayunkan kaki keluar dari lift, Clara tetap mengikuti dalam keraguan. Cahaya redup koridor menyambut, aksen elegan di dinding seolah-olah ikut meresapi keheningan. Karpet mewah yang menghasilkan suara halus pun mengiringi setiap langkah, semakin membuat Clara diliputi kegelisahan.

Tuan Blackwell membuka pintu penthouse, menggunakan sensor pintar yang mendeteksi kehadirannya secara otomatis. Pintu terbuka dengan mulus. Kecanggihan yang disaksikan oleh Clara itu membuatnya menganga.

Saat langkah kaki melewati ambang, suasana kemewahan langsung meliputi. Cahaya lembut memeluk ruangan, menerangi furnitur mewah dan seni yang terpajang dengan anggun di penthouse itu. Clara terpukau begitu lama sampai-sampai tak menyadari bahwa Tuan Blackwell kini sudah berdiri di depannya sambil memperhatikan gerak bola matanya.

Dengan kata-kata tegas, Tuan Blackwell menyatakan, "Untuk seterusnya, sampai ayahmu berhasil ditemukan, kau akan tinggal di penthouse ini."

Kebingungan langsung menyergap Clara. "Hah?"

"Jangan kira keberadaanmu di sini untuk bersantai-santai."

"Baik!"

Tuan Blackwell mengerutkan dahi. "Baik? Kau bahkan belum diberi tahu pekerjaan apa yang akan kau lakukan."

Clara menggaruk pelipis. "Itu ... karena aku tak diizinkan untuk bertanya."

Tuan Blackwell menunjuk wajah Clara dengan serius. "Kau akan menjadi seorang gundik yang akan melayaniku, untuk itulah keberadaanmu di sini."

"Gun-dik?" Seperti belum bisa mencerna sepenuhnya, Clara terlambat untuk terkejut. Pupilnya bergetar saat dia perlahan mundur. "Tidak, aku ...."

Tuan Blackwell tertawa lebar, menumbuhkan ketakutan di mata Clara. "Jangan begitu terkejut, Nona Whitmore. Aku baru saja akan memulainya."

Clara paham arti dari seorang gundik, konotasi yang merujuk pada hubungan di luar pernikahan dan dianggap tak etis. Saat ini dia sedang direndahkan, sementara pria yang berdiri di hadapannya tampak sangat puas dengan tawa mengerikan itu.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
Dalam novel web Cinta Aliansi, Cinta Transaksional, Calista Syahrina menjalani pernikahan aliansi dengan miliarder Dean Ramosh. Meski selalu diberi harta berlipat ganda demi mematuhi aturan pernikahan, Calista akhirnya memilih meminta cerai saat merasa bosan. Baca novel online romantis ini.
Cinta masa kecil
Cinta masa kecil
Dalam novel Cinta masa kecil, Dina bertemu kembali dengan Arga yang kini menjadi pengusaha sukses. Di tengah hiruk-pikuk kota modern, mereka harus menghadapi konflik masa lalu. Baca billionaire romance novels ini untuk melihat perjuangan cinta mereka di platform web novel kami.
CINTA SATU MALAM DENGAN CEO
CINTA SATU MALAM DENGAN CEO
Dalam novel modern CINTA SATU MALAM DENGAN CEO, Athena Gimberly mencari donor bibit tanpa pernikahan demi memiliki anak. Ia menjebak Arthur Harley, seorang pria dengan harga diri tinggi. Temukan kisah billionaire romance novels ini hanya di webnovel pilihan pembaca setia.
Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
Dalam novel romantis miliarder Dikejar Lagi oleh Istri CEOku, seorang suami diceraikan setelah tiga tahun menikah karena dianggap tidak berguna oleh istrinya yang sukses. Padahal, semua kekayaan sang istri adalah pemberiannya. Baca novel online ini untuk mengikuti kisah selengkapnya.
Hanya Istri Kedua
Hanya Istri Kedua
Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Anyelir terpaksa menjadi istri kedua Serkan Alvaro. Dalam romance novel ini, ia harus menghadapi dilema di dunia billionaire yang dingin. Temukan perjuangannya menghadapi rahasia pernikahan dan masalah finansial hanya di web novel ini.
HARMONI BULAN DAN MATAHARI
HARMONI BULAN DAN MATAHARI
Dalam HARMONI BULAN DAN MATAHARI, Arlyna Aira terjebak dilema setelah bertemu Gideon Bastian, pewaris tunggal keluarga kaya. Romance novel ini mengisahkan perjuangan cinta mereka melawan kasta dan rintangan hidup. Baca billionaire romance books ini untuk mengungkap akhir takdir mereka.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Sepuluh tahun lalu, Iwan diselamatin Wiya. Sepuluh tahun kemudian, demi nolong Iwan, Wiya keturunan dewa ular nikah masuk keluarga Iwan dan melahirkan tiga telur. Tapi Iwan salah kira penyelamatnya itu Aisyah, adik angkatnya. Dia sama Aisyah malah maksa Wiya ikut main tebak telur.
Bangkit dari Abu Pengkhianatan
Bangkit dari Abu Pengkhianatan
Yola terlahir kembali setelah mengalami penderitaan tak berujung di kehidupan sebelumnya akibat dijadikan kambing hitam oleh sahabat dan pacarnya sendiri. Kini, Yola bertekad untuk mengubah jalan hidupnya yang tragis dulu, membalik keadaan dan membalaskan dendamnya pada orang-orang licik yang menjebaknya.
Bupati Cilik Berusia 8 Tahun
Bupati Cilik Berusia 8 Tahun
Toni, mantan penyidik kriminal, melintas ke zaman kuno dan menjadi pejabat berusia 8 tahun. Saat hampir dikuasai elite desa, sistem Hakim Adil aktif. Dia memecahkan kasus, mengalahkan musuh, dan menumpas bandit. Dengan poin sistem, dia memperoleh kemampuan dan membela rakyat hingga namanya tercatat dalam sejarah.
Berawal Pengkhianatan, Berakhir Indah
Berawal Pengkhianatan, Berakhir Indah
Nayla telah mencintai Tanu selama sepuluh tahun. Namun, dia harus menyaksikan sendiri Tanu melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap Sherin yang sedang koma. Dengan tegas, dia memutuskan untuk menikah lagi dengan Steven, teman masa kecil yang pernah dia lindungi. Ketika dia berusaha membatalkan pertunangannya, dia malah dijebak oleh Sherin. Saat asli Sherin terbongkar, penyesalan Tanu sudah terlambat. Nayla bangkit dan bersama Steven bahu-membahu melakukan balas dendam.
Pemuda Terlantar yang Mengejutkan Dunia
Pemuda Terlantar yang Mengejutkan Dunia
Pria itu adalah orang yang paling tidak penting di sekte tersebut, tetapi dia mendapat bantuan dari seorang pria tua dan diam-diam berlatih di bawah bimbingan seorang pria tua. Tak lama dia menjadi sangat hebat, tetapi semua orang masih memperlakukannya sebagai orang yang tidak berguna karena tidak tahu kalau dia punya kekuatan yang tersembunyi, sampai...
Masa Bersinarku (Dubbing)
Masa Bersinarku (Dubbing)
Pada hari Mia Wijaya resmi jadi karyawan tetap, dia tiba-tiba dipecat dan bertemu Eko Utomo secara tak terduga, mengubah jalannya hidupnya. Berkat rekomendasi Eko, Mia berhasil mendapat kesempatan di perusahaan konsultan top Maxwell. Dengan ketangguhan luar biasa, dia berhasil bertahan dan berkembang, dari seorang pemula menjadi analis bisnis yang mandiri. Di tengah persaingan di kantor, Mia dan Eko saling menyukai dan akhirnya bersama. Menyadari bahwa di balik penampilan sempurna Eko, dia takut jatuh cinta dan tak bisa mengekspresikan perasaannya, Mia dengan kesabaran dan optimisme membimbingnya perlahan-lahan, membuka hatinya yang tertutup. Eko mulai mencoba melepaskan lapisan dingin itu, belajar untuk rileks, menerima ketidaksempurnaan dirinya, dan belajar mengekspresikan cinta.