Bab 5

Charista langsung tertegun. Dia menutup pipinya dengan tangan, lalu menatap Darian dengan wajah penuh keluhan. Darian sangat kesal, lalu berkata dengan suara rendah, "Keluar."

Baru saat itu Charista tersadar. Wanita di hadapannya adalah sosok yang tidak mampu dia singgung. Dengan mata berkaca-kaca, dia pun segera keluar dengan patuh.

"Bu Diana, maaf. Dia hanya dokter magang. Nanti akan kuberi pelajaran." Darian segera merendahkan diri dan meminta maaf kepada Diana.

Wajah Diana tampak muram dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Rhea mengangkat sedikit rok Cindy dan memeriksanya dengan teliti. Setelah itu, dia berbalik dan bertanya kepada Sahrul, "Kamu yakin sudah dilakukan USG?"

Sahrul mengangguk dengan serius. "Sudah dilakukan. Bukan hamil."

Rhea mengernyit dan berpikir sejenak, lalu berkata kepada Diana, "Bu Diana, jangan khawatir. Rumah Sakit Prima akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Ibu. Sekarang aku akan mengumpulkan semua dokter terbaik untuk melakukan konsultasi bersama. Beri aku sepuluh menit."

Meskipun kondisi tubuh Rhea sangat buruk, dia tetap berkata kepada Sahrul, "Cepat kumpulkan semua orang untuk konsultasi."

"Nggak perlu dikumpulkan lagi. Kalau terlambat sepuluh menit lagi, gadis ini nggak akan tertolong."

Pada saat itu, sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.

Semua orang menoleh.

Orang yang berbicara adalah Alfan. Dia berdiri di sudut dengan kedua tangan disilangkan di dada. Kepalanya sedikit dimiringkan dan sudut bibirnya terangkat. Penampilannya tampak santai dan tidak acuh.

Rhea menatapnya tajam, memberi isyarat agar dia diam.

Namun, Alfan sama sekali mengabaikan tatapannya dan kembali berkata, "Sekarang hanya ada waktu sepuluh menit untuk menyelamatkannya. Kalau melewatkan waktu ini, gadis ini benar-benar nggak akan bisa diselamatkan."

Begitu kata-katanya diucapkan, hampir semua orang terkejut, lalu mulai berbisik satu sama lain.

"Anak ini siapa? Berani sekali bicara seperti itu!"

"Kalian mungkin belum tahu. Namanya Alfan, dokter magang di Rumah Sakit Prima."

"Seorang dokter magang berani bicara seperti ini di depan semua orang? Ini benar-benar cari masalah."

"Alfan, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu bukan dokter kandungan, kamu tahu apa!"

Rhea sampai menggertakkan gigi karena kesal. Dia bahkan ingin menendang Alfan beberapa kali. Sebelum datang, dia sudah menyuruh Alfan untuk tidak banyak bicara, tapi sekarang dia malah berbicara seenaknya.

"Bu Rhea, biarkan aku yang menyelamatkannya. Selain aku, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelamatkannya."

Dengan senyum tipis di wajahnya, Alfan berjalan mendekat dengan santai.

Rhea benar-benar marah dalam hati. Awalnya, dia berpikir Alfan masih punya sedikit sikap baik. Namun tak disangka, Alfan ternyata begitu sombong dan tidak tahu diri.

Di sisi lain, Darian memperlihatkan senyum licik di sudut bibirnya.

'Apa kamu punya kemampuan itu? Cuma dokter magang saja, berani sekali berlagak hebat.'

Kesempatan datang terlalu cepat. Dia mendekat ke Diana dan berkata dengan suara pelan, "Bu Diana, setahuku dokter muda bernama Alfan ini sangat berbakat. Meskipun dia masih muda, kemampuan medisnya sangat tinggi. Gimana kalau kita biarkan dia mencoba?"

Putri Diana sudah koma selama tiga hari. Mereka sudah pergi ke berbagai rumah sakit besar di Negara Madrino, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Baru kemudian mereka datang ke Rumah Sakit Prima di kota sendiri.

Awalnya dia sudah tidak memiliki banyak harapan. Namun, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berdiri dan mengatakan bisa menyelamatkan putrinya, secercah harapan langsung muncul.

Orang yang panik akan mencoba segala cara.

Terlepas dari reputasinya atau tidak, selama masih ada sedikit harapan, Diana tidak ingin melewatkannya. Dia segera berkata, "Kalau begitu cepat selamatkan putriku."

Darian sangat tahu bahwa kemungkinan Alfan bisa menyembuhkan Cindy hampir tidak ada.

Jika Cindy meninggal, semua tanggung jawab akan ditimpakan kepada Alfan. Dengan kekuatan Keluarga Sudarso, bahkan jika Alfan tidak mati sekalipun, hidupnya sudah pasti akan hancur.

Tentu saja, jika Alfan benar-benar bisa menyelamatkan Cindy, dia juga bisa mengklaim dirinya sebagai orang yang merekomendasikannya.

"Nggak boleh. Jangan biarkan dia menangani pasien. Dia hanya dokter magang, dia nggak punya kemampuan itu." Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin Alfan dijadikan kambing hitam oleh Keluarga Sudarso.

"Kalau nggak segera ditangani sekarang, benar-benar nggak ada waktu lagi."

Alfan tahu Rhea berniat baik untuknya, tetapi dia sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada wanita itu. Jika dia tidak segera bertindak, gadis di atas ranjang itu benar-benar akan kehilangan nyawanya.

Semua orang yang hadir menatap dengan penuh keraguan pada dokter magang yang tampak biasa itu.

Saat dia berjalan mendekat, tanpa sadar semua orang memberi jalan untuknya.

"Alfan, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu siapa yang terbaring di sana?" Tanpa memedulikan banyaknya orang di sekitar, Rhea langsung meraih pergelangan tangan Alfan.

Di wajah Alfan muncul senyum polos.

"Bu Rhea, percayalah padaku. Kalau aku berhasil menyembuhkan gadis ini, ingat ya, kamu harus memberiku hadiah."

Melihat dia masih bisa bercanda di depan banyak orang, Rhea panik dan segera melepaskan tangannya. Saat dia tersadar kembali, Alfan sudah berada di sisi Cindy. Dia mengangkat sedikit rok pasien, lalu menatap serius ke bagian bawah perutnya dan meneliti dengan saksama.

Melihat pemandangan itu, orang-orang di sekitar kembali mengeluarkan suara gumaman pelan.

Punggung Rhea terasa dingin dan dalam hati dia berkata, 'Habis sudah. Anak ini malah menatap ke bagian bawah perut pasien seperti itu, ini benar-benar nggak pantas!'

Ini jelas seperti mencari masalah sendiri.

Darian malah merasa senang dalam hati. 'Alfan, lihat saja bakal gimana kamu hancur!'

Bab 6

Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin melihat Alfan terus seperti ini. Kalau dibiarkan, dia bisa mati atau setidaknya hancur. Bagaimanapun juga, bocah ini adalah pria pertamanya. Dia tidak mungkin membiarkan Alfan celaka begitu saja.

Dia berjalan mendekat dengan cepat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik pelan, "Kamu bisa berhenti bikin masalah nggak?"

"Bu Rhea, tolong carikan beberapa jarum perak untuk akupunktur." Alfan seolah tidak mendengar ucapannya, malah memberi perintah.

Diana mendekat. "Bu Rhea, selama masih ada sedikit harapan, kalian harus berusaha. Biarkan Pak Alfan menyembuhkan putriku."

Rhea hanya bisa menggeleng tak berdaya. Sampai di titik ini, dia hanya bisa berdoa dalam hati agar anak ini tidak kehilangan nyawanya karena hal ini.

Wajah Alfan menjadi serius. Tangannya menekan bagian bawah perut Cindy. Di mata semua orang, tindakannya itu seperti cari mati.

Mana mungkin putri Dylan dibiarkan disentuh seperti itu oleh seorang pemuda sembarangan?

Diana berdiri di samping. Hatinya dipenuhi kekhawatiran untuk putrinya. Namun saat melihat adegan itu, wajahnya juga menjadi suram.

Jika anak ini benar-benar bisa menyembuhkan putrinya, dia pasti akan memberikan imbalan besar.

Namun jika tidak berhasil, berarti Alfan punya niat buruk. Dia ingin memanfaatkan situasi untuk menyentuh putrinya dan mengambil keuntungan. Kalau sampai begitu, dia tidak akan membiarkan Alfan hidup tenang.

"Bu Rhea, cepatlah, carikan aku sekotak jarum perak untuk akupunktur."

Rhea juga merasa bingung. Sampai di tahap ini, kalau dia menyuruh Alfan berhenti, situasinya juga sudah sulit diperbaiki.

Semuanya sudah telanjur terjadi di depan semua orang. Dia hanya bisa bertanya kepada para dokter senior di sampingnya, "Ada jarum akupunktur?"

Seorang dokter pria berusia sekitar 40 tahun segera mengeluarkan sekotak jarum perak dari saku dan menyerahkannya. Rhea menerimanya lalu memberikannya kepada Alfan. Tatapannya penuh kekhawatiran.

Namun, Alfan sama sekali tidak peduli.

Di depan ruang gawat darurat, puluhan pasang mata menatap lurus ke arahnya.

Tiba-tiba seolah teringat sesuatu, Alfan meletakkan jarum itu di samping, lalu menarik rok Cindy kembali ke bawah dan menutup perutnya.

Melihat situasi itu, hati Darian langsung berbunga-bunga. Dia salah mengira Alfan sudah menunjukkan sifat aslinya dan berniat menyerah. Dia segera berkata, "Pak Alfan, bukankah kamu tadi bilang waktunya sangat mendesak? Kalau begitu cepatlah mulai mengobati Nona Cindy."

"Caraku mengobati pasien bersifat rahasia, nggak semua orang boleh melihatnya. Bu Diana, Bu Rhea, kalian berdua boleh tinggal. Yang lain silakan keluar."

"Pak Alfan, biarkan kami juga menambah wawasan," kata Darian pura-pura.

"Nggak bisa. Kalian semua keluar. Tubuh Nona Cindy sangat berharga, bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh kalian para pria tua."

Darian hanya bisa berkata, "Baiklah, kami tunggu kabar baikmu di luar."

Semua orang pun keluar. Saat Diana hendak menutup pintu, Rhea diam-diam mencubit keras pinggang Alfan dan menatapnya tajam. Karena Diana ada di samping, dia tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi hanya bisa memperingatkan Alfan dengan cara itu.

Namun yang tidak disangka Rhea, anak itu malah diam-diam meraba pinggangnya, bahkan terkesan genit.

Rhea sampai menggertakkan gigi karena marah. Kalau bukan karena Diana ada di sana, dia pasti sudah mencekik anak ini.

Setelah pintu ditutup, Diana berbalik dan berjalan mendekati mereka, lalu bertanya dengan tatapan penuh harap, "Pak Alfan, putriku benar-benar masih bisa diselamatkan?"

"Bu Diana tenang saja. Selama aku di sini, putri Bu Diana pasti sudah bisa bangun dalam setengah jam dan bergerak seperti biasa."

"Benarkah? Kalau begitu, apa pun yang kamu minta akan aku berikan."

Mendengar putrinya masih bisa diselamatkan, Diana sangat gembira.

"Kalau begitu, aku baru ingat. Putrimu memang harus aku selamatkan, tapi kamu harus memberiku satu miliar."

Alfan tersenyum sambil mengangkat satu jari.

Rhea hampir menangis. Dalam hati dia berpikir, 'Anak ini benar-benar sudah gila. Kenapa dia bisa nggak masuk akal begini? Pasien saja belum ditangani, tapi sudah bicara soal bayaran.'

Lagi pula, dokter biasanya punya standar biaya yang jelas. Bahkan jika dia benar-benar berhasil menyelamatkan Cindy, jumlah itu juga tidak masuk akal. Bukan karena nyawa Cindy tidak sebanding dengan uang sebesar itu, tetapi karena Alfan bahkan tidak menggunakan alat medis atau obat yang mahal.

Diana mengangguk dengan serius dan berkata, "Pak Alfan, selama kamu bisa menyelamatkan putriku, jangankan satu miliar. Mau 10 atau 100 miliar juga akan kuberikan."

Rhea merasa kepalanya semakin pusing. Apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini? Dia tidak bisa menahan diri dan diam-diam menusuk punggung Alfan dua kali. Namun, Alfan bahkan tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia tidak ada.

"Baik, kalau begitu kita sepakat. Lima menit saja, lihat bagaimana aku menyelamatkan putrimu." Sambil membuka kotak jarum perak, Alfan berkata dengan santai.

"Pak Alfan, sebenarnya sakit apa putriku ini?" Melihat putrinya yang terbaring dengan mata terpejam, Diana benar-benar tidak mengerti.

"Hamil."

"Apa?!"

"Apa?!"

Rhea dan Diana berseru bersamaan.

Rhea masih ingat dengan jelas, beberapa menit yang lalu Charista ditampar hanya karena mengatakan hal yang sama.

"Pak Alfan, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Putriku baru lulus SMA dan baru diterima di universitas. Tahun ini dia baru 19 tahun. Selama liburan ini dia selalu bersamaku dan perutnya baru membesar dalam beberapa hari terakhir. Mana mungkin dia hamil?"

Nada bicara Diana langsung menjadi dingin.

Alfan tetap tersenyum. "Kehamilan yang dia alami bukan kehamilan manusia biasa. Yang dia kandung adalah janin energi."

"Janin energi?"

Rhea benar-benar bingung. Dia belajar kedokteran lima tahun di dalam negeri, lalu melanjutkan S2 dan doktor di luar negeri. Dia belum pernah mendengar istilah seperti itu.

Diana juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa itu janin energi?"

"Janin energi sebenarnya adalah janin spiritual. Nggak berbentuk, tapi ada."

Baik Diana maupun Rhea sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Alfan. Keduanya saling berpandangan dengan penuh kebingungan.

"Pak Alfan, kalau begitu cepatlah obati putriku."

"Baik. Tolong angkat rok putrimu, lalu turunkan sedikit pakaian dalamnya."

Pada saat yang sama, para dokter ahli Rumah Sakit Prima yang berada di luar pintu semuanya menempel di dekat pintu dan memasang telinga untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.

Saat mendengar Alfan langsung meminta satu miliar di awal, wajah Darian memperlihatkan ekspresi meremehkan. "Masih muda begini, memangnya dia punya kemampuan?"

Salah satu bawahan Darian langsung memahami maksud ucapannya dan juga tahu tentang konflik antara Dexton dan Alfan. Dia tersenyum meremehkan. "Dia cuma dokter magang kecil, memangnya dia punya kemampuan apa? Kalau nggak cari masalah sih, dia nggak akan celaka. Kita lihat saja gimana dia mengakhiri kejadian ini nanti."

"Anak itu bahkan mau menurunkan pakaian dalam Nona Cindy. Ini jelas cari mati."

Dokter lain yang sedang menguping di celah pintu, menoleh dan berkata kepada Darian dengan perasaan senang melihat Aflan yang tertimpa kemalangan.

Darian merasa sangat puas dalam hati.

'Alfan, kamu sudah menendang anakku sampai kehilangan satu buah zakarnya. Hari ini aku akan membuatmu menjadi cacat.'

Darian sudah merencanakan semuanya. Setelah Alfan gagal menyelamatkan pasien, dia akan menambah-nambahkan cerita di depan Diana. Lalu, dia akan membiarkan Keluarga Sudarso langsung menghancurkan Alfan atau setidaknya membuatnya cacat supaya Alfan hanya bisa merangkak untuk mengemis di jalanan.

Bab 7

Darian diam-diam menelepon Fresco dari bagian keamanan di sudut ruangan.

Beberapa menit kemudian, Fresco datang dengan beberapa satpam dengan tergesa-gesa.

"Pak Darian, apa yang harus kami lakukan?"

"Nanti setelah Alfan keluar dari ruang gawat darurat, langsung kendalikan dia. Jangan sampai dia kabur."

Darian juga seorang dokter senior. Berdasarkan pengalamannya, dia yakin Cindy sudah sekarat dan tidak mungkin diselamatkan. Begitu Alfan keluar, dia akan langsung menahan Alfan dan melemparkan semua kesalahan kepadanya.

Fresco segera mengangguk dan memberi instruksi kepada bawahannya.

Para satpam itu mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah pintu dengan bersiap siaga.

Lebih dari sepuluh menit berlalu, tetapi masih tidak ada pergerakan dari dalam. Darian mengintip melalui celah pintu. Dia melihat Cindy masih terbaring di ranjang, sementara Alfan dan Rhea berdiri di sana.

Terlihat seperti mereka sudah kehabisan cara.

Melihat hal itu, Darian semakin yakin. Alfan pasti tamat kali ini. Saat dia sedang merasa puas dalam hati, pintu terbuka dan Alfan keluar. Semua tatapan langsung tertuju padanya.

"Pak Alfan, gimana? Nona Cindy sudah sembuh?" tanya seseorang dengan nada menyindir.

"Sudah sembuh. Sebentar lagi dia keluar."

Alfan tersenyum tipis, lalu berbalik menuju kamar kecil di sisi lain.

Darian salah paham, mengira Alfan hendak kabur. Dia segera memberi isyarat kepada Fresco. Fresco langsung memimpin beberapa orang mengepungnya, lalu memegang dan menahannya.

"Kamu sudah membuat Nona Cindy meninggal. Terjadi kecelakaan medis sebesar ini, memangnya kamu bisa kabur?" Ekspresi Darian berubah dingin, sikapnya berbeda 180 derajat dibandingkan dengan sebelumnya. Dia menunjuk Alfan dan membentaknya.

"Pak Darian, perubahan sikapmu cepat sekali. Tadi kamu yang paling keras merekomendasikan aku untuk mengobati Nona Cindy, sekarang malah berbalik arah?"

Alfan memang sudah menduga bahwa pria ini tidak punya niat baik.

"Aku kira kamu memang punya kemampuan. Ternyata kamu cuma dukun palsu, penipu di dunia medis. Aku benar-benar terlalu percaya padamu. Tangkap dia, ikat dengan tali. Tunggu sampai Bu Diana keluar untuk memutuskan bagaimana menghukumnya."

Alfan memandang wajah Darian yang menyebalkan itu, lalu tersenyum tipis. "Sepertinya kamu akan kecewa. Nona Cindy sudah pulih."

Darian menyeringai. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu kira kamu tabib dewa?"

Dia melangkah mendekat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik, "Berani-beraninya kamu menyentuh anakku. Kamu menghancurkan salah satu buah zakarnya, aku akan mengambil setengah nyawamu."

Alfan sedang ditahan beberapa orang. Energi dalam tubuhnya memang sudah hampir habis karena digunakan untuk menyelamatkan Cindy, tetapi tetap saja masih ada sedikit yang tersisa. Itu sudah cukup untuk menghadapi pria tua ini.

Dengan memanfaatkan celah, Alfan lalu menendang keras ke arah perut bawah Darian.

Darian sama sekali tidak menyangka Alfan berani menyerangnya. Sebelum sempat menghindar, tendangan itu sudah tepat mengenai bagian vitalnya. Meskipun tidak sampai hancur, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari perut bawah ke tulang belakang.

Dia menjerit keras, lalu memegangi perutnya dan berjongkok.

Melihat Darian dipukul, Fresco langsung mengangkat tangan dan hendak menampar wajah Alfan.

"Orang kampung! Nggak tahu diri kamu! Berani-beraninya kamu mukul wakil direktur. Akan kuberi pelajaran kamu!"

"Berhenti." Saat tangan Fresco tinggal beberapa sentimeter dari wajah Alfan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang dingin dari belakang.

Tubuh Fresco langsung menegang dan tangannya terhenti di udara.

Suara wanita itu penuh wibawa, membuat punggungnya terasa dingin. Dia segera menoleh dan melihat Diana sedang berdiri di sana sambil menopang Cindy.

Tatapan Diana tajam dan dingin saat melihat ke arah Fresco. Fresco memang hanya seorang kepala keamanan, tetapi dia masih punya sedikit koneksi. Oleh karena itu, dia mengenali Diana.

"Bu Diana, anak ini memukul wakil direktur kami," ucap Fresco dengan gugup.

"Pak Alfan adalah penyelamat putriku. Asalkan dia senang, dia boleh memukul siapa pun. Siapa pun yang berani melawan, berarti melawan Keluarga Sudarso."

Baru saat itu Fresco benar-benar sadar. Keringat langsung mengalir deras di wajahnya. Memang benar, Darian adalah wakil direktur. Namun jika dibandingkan dengan Keluarga Sudarso, perbedaan status mereka seperti langit dan bumi.

Terus terang saja, jika dia sampai menyinggung Keluarga Sudarso, bahkan jika dia mati pun mungkin tidak akan ada yang berani mencari jasadnya.

"Bu Diana, maaf, aku memang salah." Fresco berdiri di depan Diana dengan wajah memelas sambil membungkuk dan terus meminta maaf.

"Tampar dirimu sendiri sepuluh kali dulu, lalu minta maaf sama Pak Alfan. Kalau dia memaafkanmu, kamu boleh pergi. Kalau dia nggak memaafkanmu, tanganmu akan aku potong."

Fresco tidak berani menunda. Meskipun ada banyak orang yang berdiri di sekitarnya, dia sudah tidak peduli dengan harga diri. Dia langsung menampar dirinya sendiri berkali-kali secara bergantian.

Fresco tahu betul konsekuensinya, sehingga dia pun tidak menahan diri. Setelah sepuluh tamparan, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.

"Bu Diana, sudah cukup?"

"Kamu tuli? Aku bilang minta maaf sama Pak Alfan."

Fresco berbalik ke arah Alfan dengan wajah getir. "Pak Alfan, maafkan aku. Pak Alfan adalah orang yang berbesar hati. Mohon jangan dendam denganku. Aku minta maaf."

"Tadi kamu mau memukulku. Siapa yang suruh?"

"Itu ... itu perintah Pak Darian."

Darian, yang masih menahan rasa sakit di perutnya, buru-buru berdiri dan menatap Diana dengan cemas. "Aku kira Alfan gagal menyembuhkan Nona Cindy. Nggak kusangka dia benar-benar berhasil."

Wajah Diana langsung menjadi dingin.

"Darian, apa maksudmu? Pak Alfan menyembuhkan putriku, kamu malah nggak senang? Apa kamu berharap putriku nggak pernah sadar?"

Keringat langsung mengucur deras di wajah Darian. Dia merasakan tekanan yang mendesaknya.

Di Provinsi Sargana, menyinggung Keluarga Sudarso sama saja dengan menggantung pedang di atas kepala sendiri. Dia bisa kehilangan nyawa kapan saja.

Tanpa memedulikan banyaknya bawahan di sekitarnya, Darian pun mengatupkan gigi dan menampar dirinya sendiri beberapa kali.

"Bu Diana, aku salah. Aku minta maaf kepada Bu Diana dan Nona Cindy."

Diana berjalan cepat ke sisi Alfan. "Pak Alfan, kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa. Tapi kalau kamu terlambat keluar satu langkah saja, mungkin aku sudah digigit anjing-anjing itu."

Tatapan Diana menyapu Darian, Fresco, dan yang lainnya.

"Kalian dengar baik-baik. Kalau aku lihat kalian menindas Pak Alfan lagi, aku akan membuat kalian menghilang dari Provinsi Sargana. Pergi sekarang juga!"

Darian dan yang lainnya seolah mendapat pengampunan. Mereka terus membungkuk dan pergi dari tempat itu.

"Dia yang menyelamatkanku?" Setelah situasi mereda, Cindy mengangkat kepalanya dan menatap Alfan, lalu bertanya kepada ibunya.

"Benar. Pak Alfan benar-benar seperti dokter sakti. Dia hanya menggunakan beberapa jarum perak untuk membangunkanmu, membuatmu pulih seperti semula, dan juga membersihkan nama baikmu. Pergilah dan ucapkan terima kasih dengan baik."

Cindy berjalan ke hadapan Alfan, lalu membungkuk dalam-dalam. "Pak Alfan, terima kasih."

Baru saat itu Alfan memperhatikan dengan saksama. Meskipun Cindy baru berusia 19 tahun, penampilannya sangat anggun dan menawan. Selain wajahnya yang sedikit pucat karena lelah, semuanya tampak sempurna.

Kulitnya putih dan halus, fitur wajahnya lembut dan indah. Terutama bibirnya yang sedikit penuh, meskipun terlihat lemah, dia tetap tampak begitu indah.

Gaun hitam yang dikenakannya semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Dalam beberapa tahun lagi, wanita ini pasti akan menjadi sosok yang sangat memikat.

Namun pada saat itu, Alfan tiba-tiba melihat sebuah tanda seperti bunga persik di bagian dadanya.

Kutukan Gadis Suci.

Benar, itu Kutukan Gadis Suci.

Kutukan ini juga dikenal sebagai Kutukan Hasrat, sebuah mantra yang ditanamkan oleh seseorang.

Jika seorang wanita terkena kutukan ini, dorongan nalurinya akan menjadi jauh lebih kuat. Setiap malam, dia akan merindukan kehadiran pria. Tubuhnya terasa panas seperti terbakar dan sulit dikendalikan.

Gadis suci akan berubah menjadi wanita yang dikuasai hasrat.

Cindy berada di bawah pengaruh kutukan ini. Karena itulah dia mencoba meredakan dirinya sendiri, lalu energi jahat masuk ke tubuhnya dan membentuk janin energi.

Beruntungnya, gadis ini polos dan pandai menjaga diri. Jika wanita lain terkena Kutukan Gadis Suci, mungkin mereka sudah mencari pria sejak malam pertama.

Alfan memiliki tubuh kultivator, sehingga dia bisa melihat kutukan ini. Orang biasa tidak akan bisa melihatnya. Hanya saja, dia tidak tahu siapa yang menempatkan kutukan jahat ini kepada seorang mahasiswi dan apa tujuannya.

Alfan sebenarnya ingin langsung membantu menyembuhkan Cindy, tetapi energi negatif yang dia dapatkan dari Rhea sebelumnya sudah hampir habis. Untungnya, kondisi Cindy tidak akan kambuh dalam waktu dekat, jadi dia bisa menanganinya beberapa hari lagi.

Dia pun tersenyum dan berkata, "Nggak perlu berterima kasih. Menyembuhkan orang adalah tugas seorang dokter. Lagian, ibumu juga sudah berjanji memberiku satu miliar."

Begitu kata-kata Alfan dilontarkan, orang-orang di sekitarnya langsung mengeluarkan suara gumaman pelan. Di mata mereka, Alfan terlihat sangat konyol. Di saat seperti ini, dia malah membicarakan soal uang.

Alfan baru saja menyelamatkan putri Keluarga Sudarso. Jika sekarang dia tidak membicarakan uang dan membangun hubungan baik, Keluarga Sudarso pasti akan menganggapnya sebagai teman. Kalau sudah menjadi teman Keluarga Sudarso, sepanjang hidupnya sudah pasti dia akan sukses.

Rhea sampai ingin menendang Alfan saking kesalnya.

'Ternyata benar, orang desa memang kurang pengalaman. Wawasannya terlalu sempit.'

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B51999" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B51999
Salin

Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya