Bab 1
Dokter magang bernama Alfan Mananta dipaksa oleh direktur rumah sakit yang cantik untuk ikut pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, kehidupan mereka yang penuh kedekatan dan tanpa batas pun dimulai ....
Melalui kaca spion, Alfan melihat Rhea yang duduk di kursi belakang, hatinya dipenuhi kebingungan.
Direktur wanita yang biasanya sangat dingin itu, malah bertingkah tidak seperti biasanya hari ini. Dia duduk menyamping di kursi belakang. Wajahnya memerah dan pandangannya kacau. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, sementara tangannya terus meraba lehernya.
Melihat keadaan Rhea seperti itu, Alfan merasa ada yang tidak beres.
Alfan adalah seorang dokter magang di Rumah Sakit Prima. Untuk membelikan pacarnya, Charista, sebuah iPhone terbaru, dia memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjadi pengemudi ojek online demi menabung.
Siapa sangka, hari ini dia malah mendapatkan direkturnya sendiri sebagai penumpang.
Rhea memiliki tinggi sekitar 170 cm, kulit putih, wajah cantik, dan kaki jenjang. Penampilannya sangat menawan. Hanya saja, sifatnya biasa sangat dingin. Meskipun Alfan sudah setengah tahun berada di Rumah Sakit Prima, dia belum pernah benar-benar berbicara dengan Rhea.
"Bu Rhea, apakah kamu merasa nggak enak badan? Gimana kalau aku antar kamu ke rumah sakit?" Akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kamu ... kamu kenal aku?" Napas Rhea terdengar sedikit terengah.
"Aku dokter magang di Rumah Sakit Prima. Aku sering lihat Ibu waktu rapat."
"Aku nggak sakit. Antar aku pulang sesuai alamat."
Ketika Alfan kembali melihat ke kaca spion, tangan wanita itu sudah masuk ke dalam pakaiannya sendiri. Dia menggigit bibirnya yang merah dan kedua matanya setengah terpejam, tampak seperti menahan sesuatu yang sulit dikendalikan.
Meskipun hanya seorang dokter magang, dari kondisi yang ditunjukkan Rhea, Alfan merasa wanita itu kemungkinan mabuk atau tanpa sengaja mengonsumsi sesuatu seperti obat perangsang.
"Bu Rhea, menurutku kamu tetap perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Apa maksudmu? Kamu nggak mengerti kata-kataku? Aku bilang antar aku pulang, secepat mungkin. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang tanggung jawab!"
Alfan tidak berani menunda. Dia segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobil. Lima atau enam menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Vila Nomor 66, Jalan Champ.
Mobil baru saja berhenti, Rhea buru-buru membuka pintu dan turun. Namun belum sempat berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng lalu terjatuh ke tanah.
Alfan segera turun dan menahan tubuh wanita itu.
"Bu Rhea, aku tekan saja belnya supaya keluargamu keluar jemput kamu."
Saat Alfan baru saja menopangnya berdiri, tiba-tiba Rhea memeluk lengannya dengan erat. Dengan suara gemetar dia berkata, "Cuma aku yang tinggal di sini. Kata sandinya 333666. Tolong bukakan pintunya dan antar aku masuk."
Setelah masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa, Alfan berbalik untuk mengambilkan segelas air. Ketika dia kembali sambil membawa air putih dan berdiri di depan wanita itu, jantung Alfan tiba-tiba berdegup keras.
Entah sejak kapan, Rhea sudah menarik ritsleting gaun panjang berwarna merah anggurnya. Bahu putihnya yang mulus, bra hitamnya, serta lekuk tubuhnya yang indah kini setengah terlihat. Tatapannya kacau dan kosong, lidahnya menyapu bibirnya perlahan.
"Bu Rhea, kamu lagi ngapain? Cepat minum air ini. Aku ... aku harus pergi."
Walaupun Alfan sudah punya pacar, hubungan dia dengan pacarnya hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.
Saat melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Rhea tidak menerima gelas air itu. Sebaliknya, dia tiba-tiba memeluk Alfan dengan erat.
"Tolong bantu aku. Suamiku memberiku obat perangsang. Kalau kamu nggak menolongku, malam ini mungkin aku nggak akan bisa bertahan."
Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Alfan, sorot matanya tampak lembut dan menggoda.
Alfan benar-benar panik. Dia sama sekali tidak menyangka, direktur wanita yang biasanya dingin itu hari ini malah memeluknya dengan sukarela.
Sejujurnya, dia sangat ingin mengikuti arus dan menidurinya saat itu juga.
Namun, Alfan adalah orang yang setia pada perasaannya. Pacarnya masih menunggu di rumah. Dia tidak ingin mengkhianati pacarnya.
"Bu Rhea, kamu terkena racun perangsang. Aku antar kamu ke rumah sakit untuk infus dan diberi penawar, nanti juga cepat sembuh."
Jari-jari Rhea meraba tubuh Alfan dan napasnya terengah-engah. "Aku direktur Rumah Sakit Prima. Semua tenaga medis di Provinsi Sargana mengenalku. Kalau mereka tahu aku terkena racun seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"
"Kalau kamu bantu aku dengan tubuhmu untuk menetralisir racunnya hari ini, setelah itu aku akan mengurus agar kamu diangkat menjadi pegawai tetap."
Alfan ragu. Dia bisa bersama direktur yang cantik dan dingin itu, sekaligus membantu orang. Yang paling penting lagi, dia bisa menjadi pegawai tetap.
Kenapa tidak?
Namun, Alfan tetap tidak ingin mengkhianati pacarnya. Saat dia sudah memutuskan untuk pergi, tangan Rhea malah membuka ikat pinggangnya tanpa ragu.
Alfan sudah hampir lima tahun berpacaran dengan kekasihnya, tetapi dia belum pernah mengalami perlakuan seperti ini.
Dalam sekejap, pikirannya seperti meledak. Seluruh dirinya pun terlena begitu saja. Ketika dia benar-benar sadar kembali, mereka sudah berada di tempat tidur di lantai dua.
Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, semuanya berlangsung begitu intens sampai mereka melupakan segalanya.
Satu jam kemudian, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur.
Alfan memandang Rhea yang terbaring lemah di sampingnya, lalu bertanya dengan gelisah, "Bu Rhea, gi ... gimana perasaanmu sekarang?"
Wajah Rhea kembali menjadi dingin. Dengan susah payah dia berkata, "Racun di tubuhku sudah hilang."
"Bagus kalau begitu. Kalau sudah sembuh, aku juga harus pergi." Alfan segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.
"Kamu benar-benar dokter magang di Rumah Sakit Prima? Siapa namamu?"
"Alfan. Aku memang dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Untuk kejadian malam ini, aku berterima kasih padamu. Tapi, ada dua hal yang harus aku sampaikan. Pertama, kamu harus meninggalkan Rumah Sakit Prima. Kedua, kejadian malam ini nggak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun. Kalau kamu sampai membocorkannya, aku akan membuat hidupmu sangat menderita."
Alfan telah menempuh lima tahun kuliah di fakultas kedokteran dan akhirnya berhasil magang di Rumah Sakit Prima. Setelah dia menolong direktur wanita itu, kini malah diminta untuk keluar dari Rumah Sakit Prima.
Alfan langsung merasa kesal.
"Bu Rhea, kamu ini seperti habis manis sepah dibuang. Kalau aku harus keluar dari Rumah Sakit Prima, berarti kuliah kedokteranku selama ini sia-sia?"
"Kamu nggak perlu khawatir. Aku akan merekomendasikanmu ke Rumah Sakit Ferrum. Nggak perlu magang, kamu bisa langsung masuk kerja. Fasilitas dan tunjangannya nggak kalah dari Rumah Sakit Prima."
Alfan merasa itu cukup masuk akal. Lagi pula, jika dia bertemu lagi dengan wanita ini di Rumah Sakit Prima, pasti akan terasa canggung. Namun, dia tetap berkata, "Pacarku juga dokter magang. Bisa nggak kamu sekalian bantu dia?"
"Nggak masalah. Ke Rumah Sakit Ferrum, nggak perlu magang, langsung diangkat menjadi pegawai tetap."
Dalam hati Alfan merasa bersyukur. "Terima kasih, Bu Rhea. Istirahat yang baik, aku pamit dulu."
"Kenapa terburu-buru? Tinggalkan nomor teleponmu." Rhea membuka selimut dan meraih ponsel di meja samping tempat tidur.
Sekilas, Alfan melihat noda merah di atas seprai yang putih bersih.
Bagaimana bisa? Rhea adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih ada tanda seperti itu?
"Bu Rhea, kamu ... kamu masih perawan?"
Rhea meliriknya dengan kesal. "Apa yang aneh? Siapa bilang kalau sudah menikah nggak bisa tetap perawan?"
Alfan semakin bingung. Setahunya, direktur cantik berusia 26 tahun itu sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah ratusan hari berlalu, dia ternyata masih menjaga dirinya tetap suci?
Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada wanita ini?
Bab 2
Kenapa malam ini dia bisa terkena racun perangsang?
Tadi di dalam mobil, wanita itu pernah mengatakan bahwa racun itu diberikan oleh suaminya.
"Kenapa kamu belum pergi? Aku sudah punya nomor telepon kamu. Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu," kata Rhea yang berdiri tanpa pakaian di depan lemari, sambil memilih baju tidur dengan santai.
"Aku pergi sekarang, Bu Rhea. Jangan lupa soal aku dan pacarku untuk masuk ke Rumah Sakit Ferrum."
"Nggak akan lupa."
Baru saja sampai di pintu, Rhea kembali memanggilnya dari belakang, "Tunggu sebentar."
"Bu Rhea, ada apa lagi?"
"Kalau mau jadi dokter, jalani dengan serius. Ke depannya jangan lagi jadi pengemudi ojek online."
Rhea sudah mengenakan baju tidur. Gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat dengan renda itu membuatnya terlihat semakin lembut dan anggun.
"Aku dan pacarku sama-sama dokter magang, gajinya sangat kecil. Ulang tahun pacarku sudah dekat, aku ingin membelikannya iPhone baru, jadi di waktu luang malam hari aku keluar untuk menambah penghasilan."
Rhea mengangguk pelan tanpa sadar. "Pacarmu sangat beruntung."
Wanita itu berbalik dan membuka laci meja samping tempat tidur, lalu mengeluarkan sebuah kartu bank dan menyerahkannya. "Di dalamnya ada 200 juta, kata sandinya enam angka nol. Ambillah."
Alfan buru-buru menolak. "Ibu sudah bantu kami dapat pekerjaan, aku sudah sangat berterima kasih. Uang ini nggak bisa aku terima."
"Ini uang yang diberikan keluarga pasien setelah aku melakukan operasi. Aku nggak mau, tapi mereka memaksa. Aku memberikannya kepadamu, anggap saja dimanfaatkan dengan baik. Ambillah, keluargaku nggak kekurangan uang."
Nada bicara Rhea seperti perintah. Alfan tidak berani menolak lagi dan akhirnya menerima kartu bank tersebut.
Saat mengemudi pulang, Alfan merasa masih ada sesuatu yang tertinggal di hatinya. Bagaimanapun, Rhea adalah wanita pertama dalam hidupnya. Keadaan wanita itu di atas tempat tidur tadi dan perasaannya yang begitu lepas serta penuh gairah, tanpa sadar membuat Alfan sedikit terpesona.
Tiba-tiba, dia merasa ada yang tidak beres dengan matanya.
Penglihatannya menjadi buram. Rasanya perih dan terasa menekan. Dia segera menepikan mobil di pinggir jalan, berniat melepas kacamatanya untuk membersihkannya. Namun saat dia melepas kacamatanya, seketika dia mendapati bahwa semua yang ada di hadapannya menjadi sangat jelas.
Rasa perih dan tekanan di matanya juga langsung hilang.
'Kenapa bisa begini?'
Sejak sekolah, dia sudah rajin belajar hingga mengalami rabun jauh. Saat lulus kuliah, ukuran lensanya sudah mencapai 450 di satu mata dan 500 di mata lainnya.
Kenapa tiba-tiba bisa sembuh?
Pada saat yang sama, dia juga merasakan pendengarannya menjadi sangat tajam. Suara orang-orang di sekitar, bahkan percakapan dari kejauhan, bisa dia dengar dengan sangat jelas.
Perubahan mendadak ini membuatnya terkejut. Dia segera mengangkat pergelangan tangan kanannya. Dia melihat dengan jelas bahwa tanda berbentuk naga berwarna merah di pergelangan tangannya telah hilang.
'Nggak mungkin, apakah ini benar?'
Saat berusia tujuh tahun, dia pernah mengalami sakit parah dengan demam tinggi yang tidak kunjung turun. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seorang lelaki tua berpakaian putih, berambut putih, dan berjanggut putih muncul di hadapannya.
Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Pertapa Naga Tidur. Dia mengatakan bahwa Alfan memiliki bakat luar biasa dan memiliki potensi untuk menempuh jalan kultivasi.
Kemudian, dia menyegel sebuah tanda berbentuk naga di lengannya.
Tanda naga itu bernama Teknik Sembilan Niskala. Setelah dia tumbuh dewasa, begitu dia memiliki hubungan dengan seorang wanita, tanda naga itu akan menghilang dan teknik tersebut akan mulai aktif di dalam tubuhnya.
Teknik ini bersifat negatif. Setiap kali dia menjalin hubungan dengan seorang wanita, tingkat kultivasinya akan naik satu tingkat. Wanita pertama yang bersamanya adalah kunci untuk membuka Teknik Sembilan Niskala.
Alfan perlahan menutup matanya.
Pada saat matanya terpejam, berbagai pengetahuan muncul di benaknya dengan begitu padat dan tak terhitung jumlahnya. Teknik kultivasi, ilmu pengobatan, berbagai metode latihan, kemampuan terbang, teknik pengusiran roh jahat, membuka mata spiritual, teknik gerak cepat, dan banyak lagi.
Melihat semua itu, hatinya dipenuhi kegembiraan.
Alfan sempat mengira semua itu hanya mimpi, tetapi ternyata semuanya nyata.
Wanita pertamanya, Rhea, telah menjadi kunci yang membuka pintu menuju dunia barunya. Sejak saat ini, dia telah menjadi tubuh seorang kultivator. Dia mengendarai mobil sambil bersenandung riang menuju rumah. Bahkan ketika sudah berdiri di depan pintu rumahnya, hatinya masih berdebar penuh semangat.
Malam ini dia mendapatkan banyak hal. Tidak hanya memperoleh 200 juta, tetapi dia dan pacarnya juga akan menjadi dokter tetap di Rumah Sakit Ferrum. Yang terpenting, Teknik Sembilan Niskala ternyata benar adanya. Sekarang dia telah menjadi seorang kultivator.
Alfan sudah tidak sabar ingin berbagi kebahagiaannya dengan pacarnya. Dia menekan bel pintu, tetapi Charista tidak langsung datang membukakan pintu seperti biasanya.
Biasanya Alfan pulang sekitar pukul sebelas malam, sementara sekarang baru pukul sembilan. Dia menunggu sebentar di depan pintu, lalu menekan bel lagi.
Lima atau enam menit kemudian, Charista akhirnya membuka pintu. Dia mengenakan pakaian dalam seksi berwarna hitam, rambutnya agak berantakan, dan tatapannya terlihat tidak biasa.
"Kenapa pulang lebih cepat hari ini? Biasanya 'kan kamu pulang jam sebelas. Cuacanya bagus, keluar lagi saja cari penumpang sebentar."
Charista berdiri di pintu, tak berniat membiarkannya masuk.
"Hari ini aku lagi beruntung, jadi nggak narik lagi. Aku mau kasih tahu kamu beberapa kabar baik."
"Kabar baik apa? Keluar lagi saja sebentar," kata Charista dengan tatapan gelisah dan tetap menghalangi di sana.
Melihat sikap Charista yang aneh, hati Alfan langsung terasa tidak nyaman. Pada saat yang sama, dia mencium bau seorang pria yang asing.
Sejak Teknik Sembilan Niskala menyatu dengan tubuhnya, penglihatan, pendengaran, dan penciumannya menjadi sangat tajam.
"Ada orang di dalam?" Dia langsung menerobos masuk dan bertanya dengan tegas.
"Kamu gila ya! Sejak tahun kedua kuliah aku sudah sama kamu. Kamu nggak tahu aku orang seperti apa? Mana mungkin ada pria lain di rumah!"
Charista langsung menjadi marah.
Kalau dulu, Alfan mungkin akan memercayai kata-katanya. Namun, sekarang dia lebih percaya pada perasaannya sendiri. Dia jelas mencium bau pria lain yang asing. Dia segera berjalan cepat menuju kamar tidur.
Charista buru-buru mengejarnya. "Kamu mau apa sebenarnya? Aku sudah setulus ini sama kamu, tapi kamu malah mencurigaiku?"
Alfan tidak menjawab. Dia langsung membuka satu-satunya lemari di rumah itu. Di bagian bawah lemari, berjongkok seorang pria yang hanya mengenakan celana dalam.
Pria itu bernama Dexton.
Alfan mengenalnya. Dia adalah putra dari wakil direktur Darian.
"Karena sudah ketahuan sama kamu, aku juga nggak usah pura-pura lagi. Aku dan Charista sudah lama bersama. Waktu kamu nggak di rumah, kami sudah berkali-kali datang ke sini dan tidur di rumahmu."
Dexton sama sekali tidak menyembunyikan kesombongannya, juga tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah. Dia bahkan tersenyum santai sambil keluar dari dalam lemari.
Hati Alfan diliputi rasa getir.
Apakah ini balasan? Dia baru saja tidur dengan Rhea, lalu langsung mendapati pacarnya berselingkuh dengan pria lain.
Sampai pada titik ini, dia hanya ingin berpisah dengan baik-baik, tetapi di dalam hatinya tetap ada rasa tidak rela. Selama beberapa tahun berpacaran dengan Charista, tindakan paling jauh yang pernah mereka lakukan hanya tidur dalam satu ranjang sambil berpelukan.
Charista bahkan pernah berkata bahwa dia ingin menyimpan momen paling penting dan paling indah untuk malam pertama setelah menikah. Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu ternyata sudah lebih dulu tidur dengan pria ini.
Bahkan, sekarang Charista berpakaian dengan begitu menggoda.
"Alfan, aku memang salah, aku minta maaf. Tapi karena semuanya sudah ketahuan, lebih baik kita menjalani hidup sendiri masing-masing. Aku sudah ikut kamu lima tahun, tapi sampai sekarang masih hanya dokter magang."
"Pak Dexton bilang, beberapa hari lagi dia akan mengurus agar aku langsung diangkat menjadi pegawai tetap." Charista melepas semua kepura-puraannya dan berbicara terus terang.
"Alfan, kamu datang di waktu yang benar-benar nggak tepat. Kalau saja kamu datang sepuluh menit lebih lambat, kami sudah masuk ke suasana yang lebih baik. Sekarang cepat pergi saja. Kami masih mau melanjutkan."
Dexton merangkul pinggang Charista, tangannya bergerak di tubuh wanita itu.
Wajah Charista memerah, tetapi dia tidak menolak. Bahkan terlihat menikmati.
Bab 3
Melihat sikap Charista yang genit, sedikit rasa bersalah yang tersisa di hati Alfan pun lenyap. Dia mencibir dan berkata, "Kalian berdua melakukan hal nggak tahu malu di ranjangku, apa kalian nggak perlu memberiku penjelasan?"
Dexton tidak peduli, dia malah memeluk Charista lebih erat. "Sudah kubilang, dia memang bukan laki-laki. Dengan kondisi seperti dia masih berani minta penjelasan dariku. Kalau dia berani menyentuhku sedikit saja, aku akan buat dia keluar dari Rumah Sakit Prima besok dan pulang kampung jadi petani."
Menghadapi provokasi Dexton, Alfan mendengus dingin. "Oh ya?"
"Dengan badan kecilmu itu, memangnya kamu bisa berbuat apa padaku? Aku sudah tidur dengan pacarmu, ayo pukul aku kalau berani!"
Dexton mengandalkan tubuhnya yang lebih tinggi dan kekar dari Alfan. Ditambah lagi, dia pernah belajar silat dan taekwondo, jadi dia sama sekali tidak menganggap Alfan layah bertarung dengannya.
Charista memeluk lengan Dexton, lalu menggoyangkan tubuhnya dengan manja. "Sayang, dia bahkan belum pernah sentuh tubuhku, jangan provokasi dia terus."
Lalu, dia berkata kepada Alfan, "Hubungan kita sudah berakhir. Sisakan sedikit harga diri dan juga jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jangan menyinggung Pak Dexton. Kalau kamu membuatnya marah, pekerjaanmu juga nggak akan bisa dipertahankan."
"Malam ini kamu pergi saja, biarkan Pak Dexton tinggal di sini. Besok. Meskipun kamu ingin menahanku, kamu juga nggak akan bisa. Aku akan ikut dia tinggal di vilanya."
Melihat sikap Charista yang begitu murahan, Alfan malah merasa beruntung.
Untung mereka hanya berpacaran dan belum menikah. Kalau benar-benar menikah dengan wanita seperti itu, entah berapa kali lagi dia harus diselingkuhi.
"Aku yang sewa rumah ini, ranjang juga aku yang beli. Mau bersenang-senang di ranjangku? Jangan mimpi."
"Nggak mau pergi? Akan kupukul kau sampai merangkak keluar seperti anjing."
Dexton yang hanya mengenakan celana pendek langsung menerjang dan mencengkeram leher Alfan, lalu mengangkat tinjunya dan menghantam ke arah wajah Alfan.
Namun, Alfan yang sekarang sudah berbeda dari dulu. Saat tinju Dexton masih berjarak setengah meter dari wajahnya, Alfan tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang keras ke arah perut bawahnya.
Buk!
Dexton langsung memegangi perutnya, lalu berjongkok sambil merintih kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa?" Charista buru-buru berjongkok, lalu memeluk leher Dexton dan bertanya dengan cemas.
Dexton langsung mendorongnya. "Pergi sana!"
Dexton perlahan berdiri, lalu menggertakkan gigi dan menatap Alfan dengan kejam. "Bajingan, akan kubuat kamu cacat hari ini. Besok kamu juga nggak perlu lagi pergi ke rumah sakit. Kamu sudah dipecat."
Setelah berkata demikian, dia mengayunkan tinjunya dan menerjang ke arah Alfan.
Alfan tampak tenang, bahkan tidak memandangnya dengan serius. Dia tiba-tiba melompat dan menendang keras ke bagian vital Dexton.
"Berani-beraninya kamu naik ke ranjangku, akan kubuat kamu nggak bisa punya keturunan lagi hari ini!"
Bruk!
Dexton merasakan bagian bawah tubuhnya terasa panas. Setengah detik kemudian, terdengar jeritan yang menyayat hati. Dia menutup bagian vitalnya dengan kedua tangan, keringat langsung mengalir deras di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, dia mengerang pelan, lalu seluruh tubuhnya lemas dan pingsan.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku takut!" Sambil menopang tubuh Dexton, Charista menatap Alfan dengan penuh kebencian. "Habis sudah kamu. Masa depanmu tamat. Hidupmu juga tamat. Dengan koneksinya, mudah sekali baginya untuk menghancurkanmu!"
"Belum tentu," kata Alfan dengan dingin. "Aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang bawa dia dan segera menghilang dari hadapanku. Kalau nggak, aku nggak bisa menjamin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup."
Melihat tatapan dingin Alfan, Charista tidak berani berkata apa-apa. Tanpa memedulikan rasa malu, dia menyeret Dexton yang hanya mengenakan celana dalam untuk buru-buru keluar. Kemudian, mereka turun ke bawah dengan lift dan naik taksi menuju rumah sakit.
Melihat ruangan yang berantakan, hati Alfan dipenuhi kesedihan.
Dulu dia mengira, selama memberikan ketulusan, dia akan mendapatkan cinta yang setara. Demi membelikan wanita itu sebuah ponsel, Alfan bahkan masih bekerja sebagai pengemudi online meski kelelahan setelah pulang kerja.
Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu diam-diam melakukan hal yang begitu menjijikkan.
Yang diberikan Alfan adalah ketulusan, tetapi malah dirinya sendiri yang merasa terharu secara sepihak dan kini yang dia dapatkan hanyalah kesepian.
Untungnya, Rhea telah membangkitkan Teknik Sembilan Niskala dalam dirinya. Mulai sekarang, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Tadi dia sempat terpikir untuk memanfaatkan Charista dan menyerap energi negatif darinya. Namun ketika membayangkan dirinya bersama Dexton, dia merasa jijik. Wanita seperti itu terlalu kotor, hanya pantas untuk bajingan.
Masih tersisa bau Dexton dan Charista di dalam rumah itu. Hanya menciumnya saja sudah membuatnya muak. Alfan merasa tidak bisa tinggal di sini lagi.
Tepat pada saat itu, dia tiba-tiba menerima telepon dari Rhea.
"Bu Rhea."
"Kalau nggak ada orang, jangan panggil aku Bu lagi, panggil saja Kakak. Aku sudah telepon direktur di Rumah Sakit Ferrum. Besok kamu bawa pacarmu ke sana, langsung bisa masuk kerja tanpa masa magang, status pegawai tetap." Nada bicara Rhea terdengar cukup hangat.
"Kak, aku nggak mau ke Rumah Sakit Ferrum. Aku mau ke Rumah Sakit Prima."
Barusan Alfan sudah membuat Dexton kehilangan salah satu bagian vitalnya. Dia yakin pria itu tidak akan tinggal diam. Sekarang tugas utamanya adalah menjadi lebih kuat.
Menurut pengaturan Teknik Sembilan Niskala, wanita pertama yang berhubungan dengannya bukan hanya kunci untuk membuka teknik itu, tetapi tubuh wanita tersebut juga memiliki kegunaan khusus. Mengenai apa kegunaannya, Alfan harus menelitinya sendiri.
"Kamu mau ke Rumah Sakit Prima? Kamu ini mau apa sebenarnya?"
"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu. Aku ingin bekerja di Rumah Sakit Prima supaya kamu bisa melindungiku. Tapi tenang saja, soal kejadian semalam, aku nggak akan kasih tahu siapa pun."
Di seberang sana terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih dingin. "Dasar nggak tahu diri, kamu 'kan punya pacar. Apa kamu nggak takut dia menyadari sesuatu yang mencurigakan?"
"Sudah putus. Baru saja putus."
"Apa? Kenapa?"
"Aku terus terang saja ngomong sama Kakak. Wanita itu diam-diam selingkuh sama pria lain."
"Serius? Meskipun begitu, kamu tetap nggak boleh datang ke Rumah Sakit Prima. Kita nggak boleh bertemu lagi."
Rhea berdiri di depan jendela, memegang ponsel sambil menatap malam yang gelap di luar. Kata-katanya terdengar tegas, tetapi hatinya tidak sejalan.
Selama dua tahun pernikahan, baru kali ini dia merasakan keindahan yang diberikan seorang pria dari Alfan. Namun, akalnya mengatakan bahwa jika Alfan datang bekerja di Rumah Sakit Prima, akibatnya akan sulit dikendalikan.
"Kak, aku harus ke Rumah Sakit Prima."
"Dasar keras kepala! Kenapa kamu harus memaksa begini?" Rhea kesal sampai mengentakkan kaki.
"Kalau aku bekerja di Rumah Sakit Prima, itu lebih baik untuk kita berdua."
"Kalau begitu, datang saja ke rumahku sekarang. Kalau kamu bisa memberiku alasan yang masuk akal, aku akan membiarkanmu tetap di Rumah Sakit Prima."
Hati Rhea sangat bertentangan. Sejak kecil, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang pria. Dia ingin bertemu dengan Alfan, tetapi juga takut jika benar-benar bertemu.
"Baik! Tunggu aku."