Bab 4
Rumah Sakit Prima.
Ruang perawatan khusus.
Dexton yang baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu buah zakarnya, kini terbaring pucat di ranjang. Charista berdiri di sampingnya untuk melayani dengan hati-hati.
Di depan pintu, Darian sedang berbicara dengan dokter bedah.
"Pak Darian, Pak Dexton hanya rusak satu sisi, yang satunya masih utuh. Jadi nggak memengaruhi kehidupan normalnya, juga nggak memengaruhi keturunan." Dokter penanggung jawab itu menjelaskan dengan nada menjilat.
Sorot mata Darian berkilat dingin. "Masalah ini jangan sampai diketahui siapa pun."
"Bapak tenang saja, kami pasti nggak akan memberi tahu siapa pun."
Darian mengangguk, dokter itu pun segera pergi. Dia mendorong pintu dan masuk. Ketika melihat Charista berdiri di depan ranjang putranya, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Om, Alfan benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali nggak menghargai Om. Gimana kalau kita lapor polisi saja?" Charista segera mendekat dan berkata dengan penuh amarah.
"Memangnya ini hal yang membanggakan? Kamu nggak tahu malu, tapi aku masih punya muka. Kamu keluar dulu. Aku ingin bicara dengan anakku."
Charista masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ketika melihat tatapan dingin Darian, dia terdiam dan pergi dengan langkah lesu.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Dengan kekuatan keluarga kita, wanita seperti apa yang nggak bisa kamu dapatkan? Kamu malah merebut pacar orang lain."
Melihat anaknya yang mengecewakan, dada Darian dipenuhi amarah. Namun, dia tetap menahan diri.
"Ayah! Ayah nggak ngerti sama urusan asmara anak muda. Sekarang bukan itu yang harus dibahas. Ayah harus segera memecat Alfan. Asalkan dia keluar dari Rumah Sakit Prima, aku akan cari beberapa orang dari luar untuk membuatnya menghilang dari dunia ini."
Darian mencibir dingin. "Sudah sebesar ini, tapi cara berpikirmu masih seperti itu. Ini negara hukum. Kalau kamu membunuhnya, polisi akan datang mencarimu."
"Aku sudah dibuat begini, apa aku nggak boleh balas dendam?"
Tentu saja Darian tidak akan tinggal diam. Satu-satunya putranya telah dibuat kehilangan salah satu buah zakarnya. Ini sama saja dengan hendak memutus keturunannya.
Darian memang tampak seperti pria terhormat dalam sehari-hari. Namun, sebenarnya dia adalah orang yang sangat pendendam. Dendam anaknya tentu harus dibalas.
Seorang dokter magang saja berani memperlakukan putranya seperti itu. Mana mungkin dia akan membiarkannya begitu saja?
"Aku bukan cuma akan memecatnya, besok aku malah akan mengumumkan dia menjadi pegawai tetap." Darian tersenyum licik.
"Ayah, kenapa? Dia musuh utamaku, tapi Ayah malah mau mengangkatnya jadi pegawai tetap?"
Dexton benar-benar tidak mengerti.
"Benar, aku akan mengangkatnya. Untuk menghukum seseorang, jangan biarkan dia mati. Biarkan dia hidup, tapi nggak melihat harapan selamanya. Besok aku jadikan dia pegawai tetap. Setelah itu, aku akan mempermainkannya perlahan, lalu mencari kesempatan untuk membuat orang lain menyingkirkannya."
"Membunuh dengan tangan orang lain."
Wajah Dexton langsung menunjukkan kegembiraan. Akhirnya dia mengerti maksud ayahnya.
"Itu tergantung nasibnya. Kalau berani menyakiti anakku, aku akan membuatnya membayar seratus kali, seribu kali lipat."
Sementara itu, Alfan sudah tiba di depan rumah Rhea.
Melihat vila yang lampunya menyala, di dalam hati Alfan muncul sedikit rasa bersemangat dan bersyukur. Kalau bukan karena Rhea, sekarang dia mungkin masih menjadi pengemudi online, bahkan mungkin masih diselingkuhi tanpa mengetahui apa pun.
Wanita ini adalah wanita yang benar-benar layak untuk diperhatikan dan dijaga. Sayangnya, dia adalah istri orang lain.
Alfan menekan bel dan pintu otomatis terbuka. Saat masuk ke ruang tamu, dia melihat Rhea sedang bersandar di sofa.
Rhea mengenakan piama berwarna merah muda yang terlihat sangat seksi, tetapi wajahnya tampak sangat lelah. Ramuan yang dia minum sebelumnya memang bukan racun mematikan, tetapi mampu mendorong hasrat seseorang sampai ke puncak.
Setelah efeknya hilang, rasa kelelahan yang luar biasa membutuhkan waktu lama untuk pulih.
"Kamu ini kenapa sebenarnya? Kenapa harus bersikeras ke Rumah Sakit Prima?"
Saat melihat Alfan masuk, wajah Rhea tampak tenang, tetapi hatinya bergejolak hebat. Hatinya sangat bertentangan. Dia juga tahu bahwa pria kampungan ini sudah masuk ke dalam hatinya.
"Rumah Sakit Prima adalah rumah sakit terbesar dan terbaik di Provinsi Sargana. Di sana, perkembanganku akan lebih baik."
Saat belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel Rhea sudah berdering. Wanita itu langsung mengangkat teleponnya. Setelah menerima panggilan, ekspresinya seketika berubah.
"Kamu pulang saja dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang sangat penting baru datang."
"Kondisimu saja begini, kamu masih mau ke rumah sakit?" Melihat wajah Rhea yang pucat dan lelah, Alfan benar-benar merasa khawatir.
"Aku direktur. Pasien ini sangat penting, aku harus pergi. Kamu pulang saja."
Rhea berdiri dan berjalan ke lantai dua untuk berganti pakaian. Namun saat sampai di tangga, tubuhnya sedikit gemetar. Dia hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.
Alfan segera maju dan menahannya. Rhea menatapnya tajam. "Jangan sentuh sembarangan, ya."
"Aku cuma mau membantu karena lihat kamu nggak enak badan. Gimana kalau kamu ganti pakaian dulu, nanti aku yang antar kamu ke rumah sakit."
Rhea ragu sejenak, lalu mengangguk. "Kamu boleh ikut ke rumah sakit, tapi jangan bicara sembarangan."
"Aku cuma dokter magang. Aku tahu posisiku."
Rhea naik ke lantai dua dan mengganti pakaiannya dengan seragam. Saat dia turun kembali, hati Alfan kembali bergetar. Wanita ini benar-benar luar biasa, cantik dan memikat.
"Kamu bahkan kesulitan untuk berjalan. Gimana kalau aku menggendongmu keluar? Di luar juga gelap, nggak akan ada yang melihat."
Rhea menggigit bibirnya. Instingnya ingin menolak, tetapi tubuhnya memang sangat lemah, jadi dia akhirnya setuju. "Aku membiarkanmu menggendongku karena aku nggak enak badan. Jangan mikir macam-macam."
Alfan berjongkok. Saat wanita itu naik ke punggungnya, kelembutan tubuh Rhea terasa jelas di punggungnya.
"Bu Rhea, kenapa kamu bisa terkena racun seperti itu?" tanya Alfan pelan saat mereka berjalan keluar.
"Aku kena racun atau nggak, itu bukan urusanmu. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik."
Sekitar belasan menit kemudian, mereka tiba di Rumah Sakit Prima. Begitu Rhea turun dari mobil, beberapa direktur termasuk Darian, bersama beberapa dokter penanggung jawab, segera mendekat.
"Ada apa?"
"Putri Dylan tiba-tiba tidak sadarkan diri, perutnya membesar seperti drum," lapor Sahrul.
"Apa penyebabnya?"
"Awalnya kami kira hamil, tapi setelah dilakukan USG, meskipun perutnya sebesar itu, di dalamnya kosong. Sekarang dia dalam kondisi koma. Semua dokter sudah memeriksanya, tapi nggak bisa menemukan penyebabnya."
Sahrul adalah dokter kandungan senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, tetapi dia belum pernah melihat gejala seperti ini.
"Bawa aku ke sana."
Rhea tahu malam ini akan menjadi masalah besar. Dylan adalah salah satu dari empat keluarga besar di Provinsi Sargana yang memiliki pengaruh kuat di dunia mafia maupun hukum.
Jika penyakit aneh putrinya bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima akan menjadi terkenal dan mencatatkan namanya dalam sejarah. Jika tidak bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima kemungkinan akan kehilangan pamornya di Provinsi Sargana.
....
Di ruang gawat darurat.
Cindy yang mengenakan gaun hitam terbaring di ranjang. Kedua matanya terpejam, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi. Tubuhnya yang semula proporsional kini berubah bentuk dan perutnya menonjol dengan besar.
Sekilas, dia tampak seperti wanita yang hamil delapan atau sembilan bulan.
Diana memegang tangan Rhea dengan erat.
"Bu Rhea, suamiku sedang dinas luar kota dan belum kembali. Putriku mengalami penyakit aneh seperti ini. Kamu harus membantu kami."
"Bu Diana, jangan khawatir. Semua dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit Prima ada di sini. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."
Melihat Cindy yang terbaring di ranjang, hari Rhea sebenarnya agak terkejut meski dari penampilannya tampak tenang.
Perut yang membesar seperti ini secara teori berarti kehamilan. Namun, tadi Sahrul mengatakan bahwa hasil USG menunjukkan bagian dalamnya kosong.
Saat Rhea hendak maju untuk memeriksa perut Cindy, Darian muncul di pintu bersama Charista. Dia adalah pria tua yang sangat licik. Biasanya dia bahkan tidak memandang Charista dengan serius.
Namun, sekarang putra satu-satunya telah kehilangan satu buah zakarnya. Ke depannya, kondisi fisiknya pasti akan terpengaruh.
Karena itu, sikapnya terhadap Charista pun berubah. Dia ingin menjadikan Charista sebagai menantunya, sehingga dia membawa Charista yang masih berstatus dokter magang untuk menambah pengalaman.
Ini adalah pertama kalinya Charista mendapat perlakuan seperti itu. Dia merasa agak bersemangat. Saat melihat Cindy yang terbaring di ranjang, dia tidak bisa menahan diri dan berkata, "Ini hamil. Menurutku, kemungkinan besar kembar."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, raut wajah Diana langsung berubah. Dia menatap Charista dengan dingin. "Kamu bilang apa?"
Charista hanyalah dokter magang. Berada di tengah para dokter senior yang berpengalaman membuatnya merasa bangga dan ingin menunjukkan kemampuannya. Dia pun kembali berkata, "Wanita ini hamil, kemungkinan besar kembar."
Seorang gadis yang belum menikah disebut hamil. Itu sama saja dengan sebuah penghinaan. Bagi orang tuanya, itu juga merupakan aib.
Ekspresi Diana menjadi dingin.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Charista.
"Perempuan nggak tahu diri. Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku potong lidahmu."
Bab 5
Charista langsung tertegun. Dia menutup pipinya dengan tangan, lalu menatap Darian dengan wajah penuh keluhan. Darian sangat kesal, lalu berkata dengan suara rendah, "Keluar."
Baru saat itu Charista tersadar. Wanita di hadapannya adalah sosok yang tidak mampu dia singgung. Dengan mata berkaca-kaca, dia pun segera keluar dengan patuh.
"Bu Diana, maaf. Dia hanya dokter magang. Nanti akan kuberi pelajaran." Darian segera merendahkan diri dan meminta maaf kepada Diana.
Wajah Diana tampak muram dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Rhea mengangkat sedikit rok Cindy dan memeriksanya dengan teliti. Setelah itu, dia berbalik dan bertanya kepada Sahrul, "Kamu yakin sudah dilakukan USG?"
Sahrul mengangguk dengan serius. "Sudah dilakukan. Bukan hamil."
Rhea mengernyit dan berpikir sejenak, lalu berkata kepada Diana, "Bu Diana, jangan khawatir. Rumah Sakit Prima akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Ibu. Sekarang aku akan mengumpulkan semua dokter terbaik untuk melakukan konsultasi bersama. Beri aku sepuluh menit."
Meskipun kondisi tubuh Rhea sangat buruk, dia tetap berkata kepada Sahrul, "Cepat kumpulkan semua orang untuk konsultasi."
"Nggak perlu dikumpulkan lagi. Kalau terlambat sepuluh menit lagi, gadis ini nggak akan tertolong."
Pada saat itu, sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.
Semua orang menoleh.
Orang yang berbicara adalah Alfan. Dia berdiri di sudut dengan kedua tangan disilangkan di dada. Kepalanya sedikit dimiringkan dan sudut bibirnya terangkat. Penampilannya tampak santai dan tidak acuh.
Rhea menatapnya tajam, memberi isyarat agar dia diam.
Namun, Alfan sama sekali mengabaikan tatapannya dan kembali berkata, "Sekarang hanya ada waktu sepuluh menit untuk menyelamatkannya. Kalau melewatkan waktu ini, gadis ini benar-benar nggak akan bisa diselamatkan."
Begitu kata-katanya diucapkan, hampir semua orang terkejut, lalu mulai berbisik satu sama lain.
"Anak ini siapa? Berani sekali bicara seperti itu!"
"Kalian mungkin belum tahu. Namanya Alfan, dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Seorang dokter magang berani bicara seperti ini di depan semua orang? Ini benar-benar cari masalah."
"Alfan, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu bukan dokter kandungan, kamu tahu apa!"
Rhea sampai menggertakkan gigi karena kesal. Dia bahkan ingin menendang Alfan beberapa kali. Sebelum datang, dia sudah menyuruh Alfan untuk tidak banyak bicara, tapi sekarang dia malah berbicara seenaknya.
"Bu Rhea, biarkan aku yang menyelamatkannya. Selain aku, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelamatkannya."
Dengan senyum tipis di wajahnya, Alfan berjalan mendekat dengan santai.
Rhea benar-benar marah dalam hati. Awalnya, dia berpikir Alfan masih punya sedikit sikap baik. Namun tak disangka, Alfan ternyata begitu sombong dan tidak tahu diri.
Di sisi lain, Darian memperlihatkan senyum licik di sudut bibirnya.
'Apa kamu punya kemampuan itu? Cuma dokter magang saja, berani sekali berlagak hebat.'
Kesempatan datang terlalu cepat. Dia mendekat ke Diana dan berkata dengan suara pelan, "Bu Diana, setahuku dokter muda bernama Alfan ini sangat berbakat. Meskipun dia masih muda, kemampuan medisnya sangat tinggi. Gimana kalau kita biarkan dia mencoba?"
Putri Diana sudah koma selama tiga hari. Mereka sudah pergi ke berbagai rumah sakit besar di Negara Madrino, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Baru kemudian mereka datang ke Rumah Sakit Prima di kota sendiri.
Awalnya dia sudah tidak memiliki banyak harapan. Namun, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berdiri dan mengatakan bisa menyelamatkan putrinya, secercah harapan langsung muncul.
Orang yang panik akan mencoba segala cara.
Terlepas dari reputasinya atau tidak, selama masih ada sedikit harapan, Diana tidak ingin melewatkannya. Dia segera berkata, "Kalau begitu cepat selamatkan putriku."
Darian sangat tahu bahwa kemungkinan Alfan bisa menyembuhkan Cindy hampir tidak ada.
Jika Cindy meninggal, semua tanggung jawab akan ditimpakan kepada Alfan. Dengan kekuatan Keluarga Sudarso, bahkan jika Alfan tidak mati sekalipun, hidupnya sudah pasti akan hancur.
Tentu saja, jika Alfan benar-benar bisa menyelamatkan Cindy, dia juga bisa mengklaim dirinya sebagai orang yang merekomendasikannya.
"Nggak boleh. Jangan biarkan dia menangani pasien. Dia hanya dokter magang, dia nggak punya kemampuan itu." Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin Alfan dijadikan kambing hitam oleh Keluarga Sudarso.
"Kalau nggak segera ditangani sekarang, benar-benar nggak ada waktu lagi."
Alfan tahu Rhea berniat baik untuknya, tetapi dia sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada wanita itu. Jika dia tidak segera bertindak, gadis di atas ranjang itu benar-benar akan kehilangan nyawanya.
Semua orang yang hadir menatap dengan penuh keraguan pada dokter magang yang tampak biasa itu.
Saat dia berjalan mendekat, tanpa sadar semua orang memberi jalan untuknya.
"Alfan, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu siapa yang terbaring di sana?" Tanpa memedulikan banyaknya orang di sekitar, Rhea langsung meraih pergelangan tangan Alfan.
Di wajah Alfan muncul senyum polos.
"Bu Rhea, percayalah padaku. Kalau aku berhasil menyembuhkan gadis ini, ingat ya, kamu harus memberiku hadiah."
Melihat dia masih bisa bercanda di depan banyak orang, Rhea panik dan segera melepaskan tangannya. Saat dia tersadar kembali, Alfan sudah berada di sisi Cindy. Dia mengangkat sedikit rok pasien, lalu menatap serius ke bagian bawah perutnya dan meneliti dengan saksama.
Melihat pemandangan itu, orang-orang di sekitar kembali mengeluarkan suara gumaman pelan.
Punggung Rhea terasa dingin dan dalam hati dia berkata, 'Habis sudah. Anak ini malah menatap ke bagian bawah perut pasien seperti itu, ini benar-benar nggak pantas!'
Ini jelas seperti mencari masalah sendiri.
Darian malah merasa senang dalam hati. 'Alfan, lihat saja bakal gimana kamu hancur!'
Bab 6
Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin melihat Alfan terus seperti ini. Kalau dibiarkan, dia bisa mati atau setidaknya hancur. Bagaimanapun juga, bocah ini adalah pria pertamanya. Dia tidak mungkin membiarkan Alfan celaka begitu saja.
Dia berjalan mendekat dengan cepat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik pelan, "Kamu bisa berhenti bikin masalah nggak?"
"Bu Rhea, tolong carikan beberapa jarum perak untuk akupunktur." Alfan seolah tidak mendengar ucapannya, malah memberi perintah.
Diana mendekat. "Bu Rhea, selama masih ada sedikit harapan, kalian harus berusaha. Biarkan Pak Alfan menyembuhkan putriku."
Rhea hanya bisa menggeleng tak berdaya. Sampai di titik ini, dia hanya bisa berdoa dalam hati agar anak ini tidak kehilangan nyawanya karena hal ini.
Wajah Alfan menjadi serius. Tangannya menekan bagian bawah perut Cindy. Di mata semua orang, tindakannya itu seperti cari mati.
Mana mungkin putri Dylan dibiarkan disentuh seperti itu oleh seorang pemuda sembarangan?
Diana berdiri di samping. Hatinya dipenuhi kekhawatiran untuk putrinya. Namun saat melihat adegan itu, wajahnya juga menjadi suram.
Jika anak ini benar-benar bisa menyembuhkan putrinya, dia pasti akan memberikan imbalan besar.
Namun jika tidak berhasil, berarti Alfan punya niat buruk. Dia ingin memanfaatkan situasi untuk menyentuh putrinya dan mengambil keuntungan. Kalau sampai begitu, dia tidak akan membiarkan Alfan hidup tenang.
"Bu Rhea, cepatlah, carikan aku sekotak jarum perak untuk akupunktur."
Rhea juga merasa bingung. Sampai di tahap ini, kalau dia menyuruh Alfan berhenti, situasinya juga sudah sulit diperbaiki.
Semuanya sudah telanjur terjadi di depan semua orang. Dia hanya bisa bertanya kepada para dokter senior di sampingnya, "Ada jarum akupunktur?"
Seorang dokter pria berusia sekitar 40 tahun segera mengeluarkan sekotak jarum perak dari saku dan menyerahkannya. Rhea menerimanya lalu memberikannya kepada Alfan. Tatapannya penuh kekhawatiran.
Namun, Alfan sama sekali tidak peduli.
Di depan ruang gawat darurat, puluhan pasang mata menatap lurus ke arahnya.
Tiba-tiba seolah teringat sesuatu, Alfan meletakkan jarum itu di samping, lalu menarik rok Cindy kembali ke bawah dan menutup perutnya.
Melihat situasi itu, hati Darian langsung berbunga-bunga. Dia salah mengira Alfan sudah menunjukkan sifat aslinya dan berniat menyerah. Dia segera berkata, "Pak Alfan, bukankah kamu tadi bilang waktunya sangat mendesak? Kalau begitu cepatlah mulai mengobati Nona Cindy."
"Caraku mengobati pasien bersifat rahasia, nggak semua orang boleh melihatnya. Bu Diana, Bu Rhea, kalian berdua boleh tinggal. Yang lain silakan keluar."
"Pak Alfan, biarkan kami juga menambah wawasan," kata Darian pura-pura.
"Nggak bisa. Kalian semua keluar. Tubuh Nona Cindy sangat berharga, bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh kalian para pria tua."
Darian hanya bisa berkata, "Baiklah, kami tunggu kabar baikmu di luar."
Semua orang pun keluar. Saat Diana hendak menutup pintu, Rhea diam-diam mencubit keras pinggang Alfan dan menatapnya tajam. Karena Diana ada di samping, dia tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi hanya bisa memperingatkan Alfan dengan cara itu.
Namun yang tidak disangka Rhea, anak itu malah diam-diam meraba pinggangnya, bahkan terkesan genit.
Rhea sampai menggertakkan gigi karena marah. Kalau bukan karena Diana ada di sana, dia pasti sudah mencekik anak ini.
Setelah pintu ditutup, Diana berbalik dan berjalan mendekati mereka, lalu bertanya dengan tatapan penuh harap, "Pak Alfan, putriku benar-benar masih bisa diselamatkan?"
"Bu Diana tenang saja. Selama aku di sini, putri Bu Diana pasti sudah bisa bangun dalam setengah jam dan bergerak seperti biasa."
"Benarkah? Kalau begitu, apa pun yang kamu minta akan aku berikan."
Mendengar putrinya masih bisa diselamatkan, Diana sangat gembira.
"Kalau begitu, aku baru ingat. Putrimu memang harus aku selamatkan, tapi kamu harus memberiku satu miliar."
Alfan tersenyum sambil mengangkat satu jari.
Rhea hampir menangis. Dalam hati dia berpikir, 'Anak ini benar-benar sudah gila. Kenapa dia bisa nggak masuk akal begini? Pasien saja belum ditangani, tapi sudah bicara soal bayaran.'
Lagi pula, dokter biasanya punya standar biaya yang jelas. Bahkan jika dia benar-benar berhasil menyelamatkan Cindy, jumlah itu juga tidak masuk akal. Bukan karena nyawa Cindy tidak sebanding dengan uang sebesar itu, tetapi karena Alfan bahkan tidak menggunakan alat medis atau obat yang mahal.
Diana mengangguk dengan serius dan berkata, "Pak Alfan, selama kamu bisa menyelamatkan putriku, jangankan satu miliar. Mau 10 atau 100 miliar juga akan kuberikan."
Rhea merasa kepalanya semakin pusing. Apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini? Dia tidak bisa menahan diri dan diam-diam menusuk punggung Alfan dua kali. Namun, Alfan bahkan tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia tidak ada.
"Baik, kalau begitu kita sepakat. Lima menit saja, lihat bagaimana aku menyelamatkan putrimu." Sambil membuka kotak jarum perak, Alfan berkata dengan santai.
"Pak Alfan, sebenarnya sakit apa putriku ini?" Melihat putrinya yang terbaring dengan mata terpejam, Diana benar-benar tidak mengerti.
"Hamil."
"Apa?!"
"Apa?!"
Rhea dan Diana berseru bersamaan.
Rhea masih ingat dengan jelas, beberapa menit yang lalu Charista ditampar hanya karena mengatakan hal yang sama.
"Pak Alfan, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Putriku baru lulus SMA dan baru diterima di universitas. Tahun ini dia baru 19 tahun. Selama liburan ini dia selalu bersamaku dan perutnya baru membesar dalam beberapa hari terakhir. Mana mungkin dia hamil?"
Nada bicara Diana langsung menjadi dingin.
Alfan tetap tersenyum. "Kehamilan yang dia alami bukan kehamilan manusia biasa. Yang dia kandung adalah janin energi."
"Janin energi?"
Rhea benar-benar bingung. Dia belajar kedokteran lima tahun di dalam negeri, lalu melanjutkan S2 dan doktor di luar negeri. Dia belum pernah mendengar istilah seperti itu.
Diana juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa itu janin energi?"
"Janin energi sebenarnya adalah janin spiritual. Nggak berbentuk, tapi ada."
Baik Diana maupun Rhea sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Alfan. Keduanya saling berpandangan dengan penuh kebingungan.
"Pak Alfan, kalau begitu cepatlah obati putriku."
"Baik. Tolong angkat rok putrimu, lalu turunkan sedikit pakaian dalamnya."
Pada saat yang sama, para dokter ahli Rumah Sakit Prima yang berada di luar pintu semuanya menempel di dekat pintu dan memasang telinga untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
Saat mendengar Alfan langsung meminta satu miliar di awal, wajah Darian memperlihatkan ekspresi meremehkan. "Masih muda begini, memangnya dia punya kemampuan?"
Salah satu bawahan Darian langsung memahami maksud ucapannya dan juga tahu tentang konflik antara Dexton dan Alfan. Dia tersenyum meremehkan. "Dia cuma dokter magang kecil, memangnya dia punya kemampuan apa? Kalau nggak cari masalah sih, dia nggak akan celaka. Kita lihat saja gimana dia mengakhiri kejadian ini nanti."
"Anak itu bahkan mau menurunkan pakaian dalam Nona Cindy. Ini jelas cari mati."
Dokter lain yang sedang menguping di celah pintu, menoleh dan berkata kepada Darian dengan perasaan senang melihat Aflan yang tertimpa kemalangan.
Darian merasa sangat puas dalam hati.
'Alfan, kamu sudah menendang anakku sampai kehilangan satu buah zakarnya. Hari ini aku akan membuatmu menjadi cacat.'
Darian sudah merencanakan semuanya. Setelah Alfan gagal menyelamatkan pasien, dia akan menambah-nambahkan cerita di depan Diana. Lalu, dia akan membiarkan Keluarga Sudarso langsung menghancurkan Alfan atau setidaknya membuatnya cacat supaya Alfan hanya bisa merangkak untuk mengemis di jalanan.