Bab 3
Melihat sikap Charista yang genit, sedikit rasa bersalah yang tersisa di hati Alfan pun lenyap. Dia mencibir dan berkata, "Kalian berdua melakukan hal nggak tahu malu di ranjangku, apa kalian nggak perlu memberiku penjelasan?"
Dexton tidak peduli, dia malah memeluk Charista lebih erat. "Sudah kubilang, dia memang bukan laki-laki. Dengan kondisi seperti dia masih berani minta penjelasan dariku. Kalau dia berani menyentuhku sedikit saja, aku akan buat dia keluar dari Rumah Sakit Prima besok dan pulang kampung jadi petani."
Menghadapi provokasi Dexton, Alfan mendengus dingin. "Oh ya?"
"Dengan badan kecilmu itu, memangnya kamu bisa berbuat apa padaku? Aku sudah tidur dengan pacarmu, ayo pukul aku kalau berani!"
Dexton mengandalkan tubuhnya yang lebih tinggi dan kekar dari Alfan. Ditambah lagi, dia pernah belajar silat dan taekwondo, jadi dia sama sekali tidak menganggap Alfan layah bertarung dengannya.
Charista memeluk lengan Dexton, lalu menggoyangkan tubuhnya dengan manja. "Sayang, dia bahkan belum pernah sentuh tubuhku, jangan provokasi dia terus."
Lalu, dia berkata kepada Alfan, "Hubungan kita sudah berakhir. Sisakan sedikit harga diri dan juga jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jangan menyinggung Pak Dexton. Kalau kamu membuatnya marah, pekerjaanmu juga nggak akan bisa dipertahankan."
"Malam ini kamu pergi saja, biarkan Pak Dexton tinggal di sini. Besok. Meskipun kamu ingin menahanku, kamu juga nggak akan bisa. Aku akan ikut dia tinggal di vilanya."
Melihat sikap Charista yang begitu murahan, Alfan malah merasa beruntung.
Untung mereka hanya berpacaran dan belum menikah. Kalau benar-benar menikah dengan wanita seperti itu, entah berapa kali lagi dia harus diselingkuhi.
"Aku yang sewa rumah ini, ranjang juga aku yang beli. Mau bersenang-senang di ranjangku? Jangan mimpi."
"Nggak mau pergi? Akan kupukul kau sampai merangkak keluar seperti anjing."
Dexton yang hanya mengenakan celana pendek langsung menerjang dan mencengkeram leher Alfan, lalu mengangkat tinjunya dan menghantam ke arah wajah Alfan.
Namun, Alfan yang sekarang sudah berbeda dari dulu. Saat tinju Dexton masih berjarak setengah meter dari wajahnya, Alfan tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang keras ke arah perut bawahnya.
Buk!
Dexton langsung memegangi perutnya, lalu berjongkok sambil merintih kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa?" Charista buru-buru berjongkok, lalu memeluk leher Dexton dan bertanya dengan cemas.
Dexton langsung mendorongnya. "Pergi sana!"
Dexton perlahan berdiri, lalu menggertakkan gigi dan menatap Alfan dengan kejam. "Bajingan, akan kubuat kamu cacat hari ini. Besok kamu juga nggak perlu lagi pergi ke rumah sakit. Kamu sudah dipecat."
Setelah berkata demikian, dia mengayunkan tinjunya dan menerjang ke arah Alfan.
Alfan tampak tenang, bahkan tidak memandangnya dengan serius. Dia tiba-tiba melompat dan menendang keras ke bagian vital Dexton.
"Berani-beraninya kamu naik ke ranjangku, akan kubuat kamu nggak bisa punya keturunan lagi hari ini!"
Bruk!
Dexton merasakan bagian bawah tubuhnya terasa panas. Setengah detik kemudian, terdengar jeritan yang menyayat hati. Dia menutup bagian vitalnya dengan kedua tangan, keringat langsung mengalir deras di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, dia mengerang pelan, lalu seluruh tubuhnya lemas dan pingsan.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku takut!" Sambil menopang tubuh Dexton, Charista menatap Alfan dengan penuh kebencian. "Habis sudah kamu. Masa depanmu tamat. Hidupmu juga tamat. Dengan koneksinya, mudah sekali baginya untuk menghancurkanmu!"
"Belum tentu," kata Alfan dengan dingin. "Aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang bawa dia dan segera menghilang dari hadapanku. Kalau nggak, aku nggak bisa menjamin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup."
Melihat tatapan dingin Alfan, Charista tidak berani berkata apa-apa. Tanpa memedulikan rasa malu, dia menyeret Dexton yang hanya mengenakan celana dalam untuk buru-buru keluar. Kemudian, mereka turun ke bawah dengan lift dan naik taksi menuju rumah sakit.
Melihat ruangan yang berantakan, hati Alfan dipenuhi kesedihan.
Dulu dia mengira, selama memberikan ketulusan, dia akan mendapatkan cinta yang setara. Demi membelikan wanita itu sebuah ponsel, Alfan bahkan masih bekerja sebagai pengemudi online meski kelelahan setelah pulang kerja.
Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu diam-diam melakukan hal yang begitu menjijikkan.
Yang diberikan Alfan adalah ketulusan, tetapi malah dirinya sendiri yang merasa terharu secara sepihak dan kini yang dia dapatkan hanyalah kesepian.
Untungnya, Rhea telah membangkitkan Teknik Sembilan Niskala dalam dirinya. Mulai sekarang, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Tadi dia sempat terpikir untuk memanfaatkan Charista dan menyerap energi negatif darinya. Namun ketika membayangkan dirinya bersama Dexton, dia merasa jijik. Wanita seperti itu terlalu kotor, hanya pantas untuk bajingan.
Masih tersisa bau Dexton dan Charista di dalam rumah itu. Hanya menciumnya saja sudah membuatnya muak. Alfan merasa tidak bisa tinggal di sini lagi.
Tepat pada saat itu, dia tiba-tiba menerima telepon dari Rhea.
"Bu Rhea."
"Kalau nggak ada orang, jangan panggil aku Bu lagi, panggil saja Kakak. Aku sudah telepon direktur di Rumah Sakit Ferrum. Besok kamu bawa pacarmu ke sana, langsung bisa masuk kerja tanpa masa magang, status pegawai tetap." Nada bicara Rhea terdengar cukup hangat.
"Kak, aku nggak mau ke Rumah Sakit Ferrum. Aku mau ke Rumah Sakit Prima."
Barusan Alfan sudah membuat Dexton kehilangan salah satu bagian vitalnya. Dia yakin pria itu tidak akan tinggal diam. Sekarang tugas utamanya adalah menjadi lebih kuat.
Menurut pengaturan Teknik Sembilan Niskala, wanita pertama yang berhubungan dengannya bukan hanya kunci untuk membuka teknik itu, tetapi tubuh wanita tersebut juga memiliki kegunaan khusus. Mengenai apa kegunaannya, Alfan harus menelitinya sendiri.
"Kamu mau ke Rumah Sakit Prima? Kamu ini mau apa sebenarnya?"
"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu. Aku ingin bekerja di Rumah Sakit Prima supaya kamu bisa melindungiku. Tapi tenang saja, soal kejadian semalam, aku nggak akan kasih tahu siapa pun."
Di seberang sana terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih dingin. "Dasar nggak tahu diri, kamu 'kan punya pacar. Apa kamu nggak takut dia menyadari sesuatu yang mencurigakan?"
"Sudah putus. Baru saja putus."
"Apa? Kenapa?"
"Aku terus terang saja ngomong sama Kakak. Wanita itu diam-diam selingkuh sama pria lain."
"Serius? Meskipun begitu, kamu tetap nggak boleh datang ke Rumah Sakit Prima. Kita nggak boleh bertemu lagi."
Rhea berdiri di depan jendela, memegang ponsel sambil menatap malam yang gelap di luar. Kata-katanya terdengar tegas, tetapi hatinya tidak sejalan.
Selama dua tahun pernikahan, baru kali ini dia merasakan keindahan yang diberikan seorang pria dari Alfan. Namun, akalnya mengatakan bahwa jika Alfan datang bekerja di Rumah Sakit Prima, akibatnya akan sulit dikendalikan.
"Kak, aku harus ke Rumah Sakit Prima."
"Dasar keras kepala! Kenapa kamu harus memaksa begini?" Rhea kesal sampai mengentakkan kaki.
"Kalau aku bekerja di Rumah Sakit Prima, itu lebih baik untuk kita berdua."
"Kalau begitu, datang saja ke rumahku sekarang. Kalau kamu bisa memberiku alasan yang masuk akal, aku akan membiarkanmu tetap di Rumah Sakit Prima."
Hati Rhea sangat bertentangan. Sejak kecil, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang pria. Dia ingin bertemu dengan Alfan, tetapi juga takut jika benar-benar bertemu.
"Baik! Tunggu aku."
Bab 4
Rumah Sakit Prima.
Ruang perawatan khusus.
Dexton yang baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu buah zakarnya, kini terbaring pucat di ranjang. Charista berdiri di sampingnya untuk melayani dengan hati-hati.
Di depan pintu, Darian sedang berbicara dengan dokter bedah.
"Pak Darian, Pak Dexton hanya rusak satu sisi, yang satunya masih utuh. Jadi nggak memengaruhi kehidupan normalnya, juga nggak memengaruhi keturunan." Dokter penanggung jawab itu menjelaskan dengan nada menjilat.
Sorot mata Darian berkilat dingin. "Masalah ini jangan sampai diketahui siapa pun."
"Bapak tenang saja, kami pasti nggak akan memberi tahu siapa pun."
Darian mengangguk, dokter itu pun segera pergi. Dia mendorong pintu dan masuk. Ketika melihat Charista berdiri di depan ranjang putranya, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Om, Alfan benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali nggak menghargai Om. Gimana kalau kita lapor polisi saja?" Charista segera mendekat dan berkata dengan penuh amarah.
"Memangnya ini hal yang membanggakan? Kamu nggak tahu malu, tapi aku masih punya muka. Kamu keluar dulu. Aku ingin bicara dengan anakku."
Charista masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ketika melihat tatapan dingin Darian, dia terdiam dan pergi dengan langkah lesu.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Dengan kekuatan keluarga kita, wanita seperti apa yang nggak bisa kamu dapatkan? Kamu malah merebut pacar orang lain."
Melihat anaknya yang mengecewakan, dada Darian dipenuhi amarah. Namun, dia tetap menahan diri.
"Ayah! Ayah nggak ngerti sama urusan asmara anak muda. Sekarang bukan itu yang harus dibahas. Ayah harus segera memecat Alfan. Asalkan dia keluar dari Rumah Sakit Prima, aku akan cari beberapa orang dari luar untuk membuatnya menghilang dari dunia ini."
Darian mencibir dingin. "Sudah sebesar ini, tapi cara berpikirmu masih seperti itu. Ini negara hukum. Kalau kamu membunuhnya, polisi akan datang mencarimu."
"Aku sudah dibuat begini, apa aku nggak boleh balas dendam?"
Tentu saja Darian tidak akan tinggal diam. Satu-satunya putranya telah dibuat kehilangan salah satu buah zakarnya. Ini sama saja dengan hendak memutus keturunannya.
Darian memang tampak seperti pria terhormat dalam sehari-hari. Namun, sebenarnya dia adalah orang yang sangat pendendam. Dendam anaknya tentu harus dibalas.
Seorang dokter magang saja berani memperlakukan putranya seperti itu. Mana mungkin dia akan membiarkannya begitu saja?
"Aku bukan cuma akan memecatnya, besok aku malah akan mengumumkan dia menjadi pegawai tetap." Darian tersenyum licik.
"Ayah, kenapa? Dia musuh utamaku, tapi Ayah malah mau mengangkatnya jadi pegawai tetap?"
Dexton benar-benar tidak mengerti.
"Benar, aku akan mengangkatnya. Untuk menghukum seseorang, jangan biarkan dia mati. Biarkan dia hidup, tapi nggak melihat harapan selamanya. Besok aku jadikan dia pegawai tetap. Setelah itu, aku akan mempermainkannya perlahan, lalu mencari kesempatan untuk membuat orang lain menyingkirkannya."
"Membunuh dengan tangan orang lain."
Wajah Dexton langsung menunjukkan kegembiraan. Akhirnya dia mengerti maksud ayahnya.
"Itu tergantung nasibnya. Kalau berani menyakiti anakku, aku akan membuatnya membayar seratus kali, seribu kali lipat."
Sementara itu, Alfan sudah tiba di depan rumah Rhea.
Melihat vila yang lampunya menyala, di dalam hati Alfan muncul sedikit rasa bersemangat dan bersyukur. Kalau bukan karena Rhea, sekarang dia mungkin masih menjadi pengemudi online, bahkan mungkin masih diselingkuhi tanpa mengetahui apa pun.
Wanita ini adalah wanita yang benar-benar layak untuk diperhatikan dan dijaga. Sayangnya, dia adalah istri orang lain.
Alfan menekan bel dan pintu otomatis terbuka. Saat masuk ke ruang tamu, dia melihat Rhea sedang bersandar di sofa.
Rhea mengenakan piama berwarna merah muda yang terlihat sangat seksi, tetapi wajahnya tampak sangat lelah. Ramuan yang dia minum sebelumnya memang bukan racun mematikan, tetapi mampu mendorong hasrat seseorang sampai ke puncak.
Setelah efeknya hilang, rasa kelelahan yang luar biasa membutuhkan waktu lama untuk pulih.
"Kamu ini kenapa sebenarnya? Kenapa harus bersikeras ke Rumah Sakit Prima?"
Saat melihat Alfan masuk, wajah Rhea tampak tenang, tetapi hatinya bergejolak hebat. Hatinya sangat bertentangan. Dia juga tahu bahwa pria kampungan ini sudah masuk ke dalam hatinya.
"Rumah Sakit Prima adalah rumah sakit terbesar dan terbaik di Provinsi Sargana. Di sana, perkembanganku akan lebih baik."
Saat belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel Rhea sudah berdering. Wanita itu langsung mengangkat teleponnya. Setelah menerima panggilan, ekspresinya seketika berubah.
"Kamu pulang saja dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang sangat penting baru datang."
"Kondisimu saja begini, kamu masih mau ke rumah sakit?" Melihat wajah Rhea yang pucat dan lelah, Alfan benar-benar merasa khawatir.
"Aku direktur. Pasien ini sangat penting, aku harus pergi. Kamu pulang saja."
Rhea berdiri dan berjalan ke lantai dua untuk berganti pakaian. Namun saat sampai di tangga, tubuhnya sedikit gemetar. Dia hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.
Alfan segera maju dan menahannya. Rhea menatapnya tajam. "Jangan sentuh sembarangan, ya."
"Aku cuma mau membantu karena lihat kamu nggak enak badan. Gimana kalau kamu ganti pakaian dulu, nanti aku yang antar kamu ke rumah sakit."
Rhea ragu sejenak, lalu mengangguk. "Kamu boleh ikut ke rumah sakit, tapi jangan bicara sembarangan."
"Aku cuma dokter magang. Aku tahu posisiku."
Rhea naik ke lantai dua dan mengganti pakaiannya dengan seragam. Saat dia turun kembali, hati Alfan kembali bergetar. Wanita ini benar-benar luar biasa, cantik dan memikat.
"Kamu bahkan kesulitan untuk berjalan. Gimana kalau aku menggendongmu keluar? Di luar juga gelap, nggak akan ada yang melihat."
Rhea menggigit bibirnya. Instingnya ingin menolak, tetapi tubuhnya memang sangat lemah, jadi dia akhirnya setuju. "Aku membiarkanmu menggendongku karena aku nggak enak badan. Jangan mikir macam-macam."
Alfan berjongkok. Saat wanita itu naik ke punggungnya, kelembutan tubuh Rhea terasa jelas di punggungnya.
"Bu Rhea, kenapa kamu bisa terkena racun seperti itu?" tanya Alfan pelan saat mereka berjalan keluar.
"Aku kena racun atau nggak, itu bukan urusanmu. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik."
Sekitar belasan menit kemudian, mereka tiba di Rumah Sakit Prima. Begitu Rhea turun dari mobil, beberapa direktur termasuk Darian, bersama beberapa dokter penanggung jawab, segera mendekat.
"Ada apa?"
"Putri Dylan tiba-tiba tidak sadarkan diri, perutnya membesar seperti drum," lapor Sahrul.
"Apa penyebabnya?"
"Awalnya kami kira hamil, tapi setelah dilakukan USG, meskipun perutnya sebesar itu, di dalamnya kosong. Sekarang dia dalam kondisi koma. Semua dokter sudah memeriksanya, tapi nggak bisa menemukan penyebabnya."
Sahrul adalah dokter kandungan senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, tetapi dia belum pernah melihat gejala seperti ini.
"Bawa aku ke sana."
Rhea tahu malam ini akan menjadi masalah besar. Dylan adalah salah satu dari empat keluarga besar di Provinsi Sargana yang memiliki pengaruh kuat di dunia mafia maupun hukum.
Jika penyakit aneh putrinya bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima akan menjadi terkenal dan mencatatkan namanya dalam sejarah. Jika tidak bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima kemungkinan akan kehilangan pamornya di Provinsi Sargana.
....
Di ruang gawat darurat.
Cindy yang mengenakan gaun hitam terbaring di ranjang. Kedua matanya terpejam, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi. Tubuhnya yang semula proporsional kini berubah bentuk dan perutnya menonjol dengan besar.
Sekilas, dia tampak seperti wanita yang hamil delapan atau sembilan bulan.
Diana memegang tangan Rhea dengan erat.
"Bu Rhea, suamiku sedang dinas luar kota dan belum kembali. Putriku mengalami penyakit aneh seperti ini. Kamu harus membantu kami."
"Bu Diana, jangan khawatir. Semua dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit Prima ada di sini. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."
Melihat Cindy yang terbaring di ranjang, hari Rhea sebenarnya agak terkejut meski dari penampilannya tampak tenang.
Perut yang membesar seperti ini secara teori berarti kehamilan. Namun, tadi Sahrul mengatakan bahwa hasil USG menunjukkan bagian dalamnya kosong.
Saat Rhea hendak maju untuk memeriksa perut Cindy, Darian muncul di pintu bersama Charista. Dia adalah pria tua yang sangat licik. Biasanya dia bahkan tidak memandang Charista dengan serius.
Namun, sekarang putra satu-satunya telah kehilangan satu buah zakarnya. Ke depannya, kondisi fisiknya pasti akan terpengaruh.
Karena itu, sikapnya terhadap Charista pun berubah. Dia ingin menjadikan Charista sebagai menantunya, sehingga dia membawa Charista yang masih berstatus dokter magang untuk menambah pengalaman.
Ini adalah pertama kalinya Charista mendapat perlakuan seperti itu. Dia merasa agak bersemangat. Saat melihat Cindy yang terbaring di ranjang, dia tidak bisa menahan diri dan berkata, "Ini hamil. Menurutku, kemungkinan besar kembar."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, raut wajah Diana langsung berubah. Dia menatap Charista dengan dingin. "Kamu bilang apa?"
Charista hanyalah dokter magang. Berada di tengah para dokter senior yang berpengalaman membuatnya merasa bangga dan ingin menunjukkan kemampuannya. Dia pun kembali berkata, "Wanita ini hamil, kemungkinan besar kembar."
Seorang gadis yang belum menikah disebut hamil. Itu sama saja dengan sebuah penghinaan. Bagi orang tuanya, itu juga merupakan aib.
Ekspresi Diana menjadi dingin.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Charista.
"Perempuan nggak tahu diri. Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku potong lidahmu."
Bab 5
Charista langsung tertegun. Dia menutup pipinya dengan tangan, lalu menatap Darian dengan wajah penuh keluhan. Darian sangat kesal, lalu berkata dengan suara rendah, "Keluar."
Baru saat itu Charista tersadar. Wanita di hadapannya adalah sosok yang tidak mampu dia singgung. Dengan mata berkaca-kaca, dia pun segera keluar dengan patuh.
"Bu Diana, maaf. Dia hanya dokter magang. Nanti akan kuberi pelajaran." Darian segera merendahkan diri dan meminta maaf kepada Diana.
Wajah Diana tampak muram dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Rhea mengangkat sedikit rok Cindy dan memeriksanya dengan teliti. Setelah itu, dia berbalik dan bertanya kepada Sahrul, "Kamu yakin sudah dilakukan USG?"
Sahrul mengangguk dengan serius. "Sudah dilakukan. Bukan hamil."
Rhea mengernyit dan berpikir sejenak, lalu berkata kepada Diana, "Bu Diana, jangan khawatir. Rumah Sakit Prima akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Ibu. Sekarang aku akan mengumpulkan semua dokter terbaik untuk melakukan konsultasi bersama. Beri aku sepuluh menit."
Meskipun kondisi tubuh Rhea sangat buruk, dia tetap berkata kepada Sahrul, "Cepat kumpulkan semua orang untuk konsultasi."
"Nggak perlu dikumpulkan lagi. Kalau terlambat sepuluh menit lagi, gadis ini nggak akan tertolong."
Pada saat itu, sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.
Semua orang menoleh.
Orang yang berbicara adalah Alfan. Dia berdiri di sudut dengan kedua tangan disilangkan di dada. Kepalanya sedikit dimiringkan dan sudut bibirnya terangkat. Penampilannya tampak santai dan tidak acuh.
Rhea menatapnya tajam, memberi isyarat agar dia diam.
Namun, Alfan sama sekali mengabaikan tatapannya dan kembali berkata, "Sekarang hanya ada waktu sepuluh menit untuk menyelamatkannya. Kalau melewatkan waktu ini, gadis ini benar-benar nggak akan bisa diselamatkan."
Begitu kata-katanya diucapkan, hampir semua orang terkejut, lalu mulai berbisik satu sama lain.
"Anak ini siapa? Berani sekali bicara seperti itu!"
"Kalian mungkin belum tahu. Namanya Alfan, dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Seorang dokter magang berani bicara seperti ini di depan semua orang? Ini benar-benar cari masalah."
"Alfan, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu bukan dokter kandungan, kamu tahu apa!"
Rhea sampai menggertakkan gigi karena kesal. Dia bahkan ingin menendang Alfan beberapa kali. Sebelum datang, dia sudah menyuruh Alfan untuk tidak banyak bicara, tapi sekarang dia malah berbicara seenaknya.
"Bu Rhea, biarkan aku yang menyelamatkannya. Selain aku, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelamatkannya."
Dengan senyum tipis di wajahnya, Alfan berjalan mendekat dengan santai.
Rhea benar-benar marah dalam hati. Awalnya, dia berpikir Alfan masih punya sedikit sikap baik. Namun tak disangka, Alfan ternyata begitu sombong dan tidak tahu diri.
Di sisi lain, Darian memperlihatkan senyum licik di sudut bibirnya.
'Apa kamu punya kemampuan itu? Cuma dokter magang saja, berani sekali berlagak hebat.'
Kesempatan datang terlalu cepat. Dia mendekat ke Diana dan berkata dengan suara pelan, "Bu Diana, setahuku dokter muda bernama Alfan ini sangat berbakat. Meskipun dia masih muda, kemampuan medisnya sangat tinggi. Gimana kalau kita biarkan dia mencoba?"
Putri Diana sudah koma selama tiga hari. Mereka sudah pergi ke berbagai rumah sakit besar di Negara Madrino, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Baru kemudian mereka datang ke Rumah Sakit Prima di kota sendiri.
Awalnya dia sudah tidak memiliki banyak harapan. Namun, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berdiri dan mengatakan bisa menyelamatkan putrinya, secercah harapan langsung muncul.
Orang yang panik akan mencoba segala cara.
Terlepas dari reputasinya atau tidak, selama masih ada sedikit harapan, Diana tidak ingin melewatkannya. Dia segera berkata, "Kalau begitu cepat selamatkan putriku."
Darian sangat tahu bahwa kemungkinan Alfan bisa menyembuhkan Cindy hampir tidak ada.
Jika Cindy meninggal, semua tanggung jawab akan ditimpakan kepada Alfan. Dengan kekuatan Keluarga Sudarso, bahkan jika Alfan tidak mati sekalipun, hidupnya sudah pasti akan hancur.
Tentu saja, jika Alfan benar-benar bisa menyelamatkan Cindy, dia juga bisa mengklaim dirinya sebagai orang yang merekomendasikannya.
"Nggak boleh. Jangan biarkan dia menangani pasien. Dia hanya dokter magang, dia nggak punya kemampuan itu." Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin Alfan dijadikan kambing hitam oleh Keluarga Sudarso.
"Kalau nggak segera ditangani sekarang, benar-benar nggak ada waktu lagi."
Alfan tahu Rhea berniat baik untuknya, tetapi dia sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada wanita itu. Jika dia tidak segera bertindak, gadis di atas ranjang itu benar-benar akan kehilangan nyawanya.
Semua orang yang hadir menatap dengan penuh keraguan pada dokter magang yang tampak biasa itu.
Saat dia berjalan mendekat, tanpa sadar semua orang memberi jalan untuknya.
"Alfan, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu siapa yang terbaring di sana?" Tanpa memedulikan banyaknya orang di sekitar, Rhea langsung meraih pergelangan tangan Alfan.
Di wajah Alfan muncul senyum polos.
"Bu Rhea, percayalah padaku. Kalau aku berhasil menyembuhkan gadis ini, ingat ya, kamu harus memberiku hadiah."
Melihat dia masih bisa bercanda di depan banyak orang, Rhea panik dan segera melepaskan tangannya. Saat dia tersadar kembali, Alfan sudah berada di sisi Cindy. Dia mengangkat sedikit rok pasien, lalu menatap serius ke bagian bawah perutnya dan meneliti dengan saksama.
Melihat pemandangan itu, orang-orang di sekitar kembali mengeluarkan suara gumaman pelan.
Punggung Rhea terasa dingin dan dalam hati dia berkata, 'Habis sudah. Anak ini malah menatap ke bagian bawah perut pasien seperti itu, ini benar-benar nggak pantas!'
Ini jelas seperti mencari masalah sendiri.
Darian malah merasa senang dalam hati. 'Alfan, lihat saja bakal gimana kamu hancur!'