Bab 6
“Mas,” panggil Djiwa lirih ketika dirinya dan sang suami masuk ke kamar usai makan malam.
Kaisar langsung berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan dingin dan tajam.
Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum miring. “Pinter kamu sekarang. Kamu tahu kalau Mas Radja itu paling ditakuti keluarga ini, makanya kamu minta bantuan dia.”
Djiwa mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan sang suami. “Ma-maksud Mas apa?”
“Gak usah pura-pura bodoh!” sentak Kaisar dengan nada tinggi, suaranya naik satu oktaf.
Ia mengangkat tangannya, dan menunjuk Djiwa tajam. “Kamu pasti ngadu, kan, ke Mas Radja? Kamu pasti ngeluh ke dia, kalau kamu capek dijadikan babu selama ini.”
Karena Kaisar pun tahu, meski sikap kakaknya keras—Radja paling tidak tegaan dengan orang yang benar-benar datang padanya sambil mengadu dan menangis.
Kaisar yakin, Djiwa melakukan hal tersebut—menurut bayangannya sendiri.
“Makanya itu, kamu ngemis-ngemis kerjaan ke Mas Radja supaya bisa bebas dari kerjaan rumah, iya?” lanjut Kaisar, matanya menatap sang istri tajam—rahangnya mengeras.
Djiwa menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Djiwa gak ada ngelakuin itu. Djiwa—“
“Wa,” potong Kaisar dingin. “Siapapun udah bisa nebak. Karena gak mungkin Mas Radja nawarin kerjaan ke kamu, kalau bukan kamu sendiri yang ngemis-ngemis.”
Hati Djiwa mencelos. Apakah seburuk itu dirinya, hingga sama sekali tidak pantas mendapatkan pekerjaan yang layak selain menjadi pembantu di rumah suaminya sendiri?
Niatnya dia ingin bertanya pada sang suami, apakah Kaisar memberikan izin dirinya untuk bekerja dengan sang kakak ipar. Tapi kemarahan Kaisar barusan, sudah menjawab semuanya.
“Jadi, Mas Kaisar gak setuju kalau Djiwa ikut kerja dengan Mas Radja?” tanya gadis itu lirih, kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan rasa kecewanya.
Padahal dia sudah merasa sangat senang sekali bisa bekerja di perusahaan besar sebagai posisi sekretaris—posisi yang tak mudah didapatkan oleh lulusan sepertinya.
Apalagi dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali.
“Mas ….” suara Djiwa hampir tak terdengar. Ia menatap suaminya dengan mata penuh ragu, menunggu jawaban—apakah ia boleh bekerja bersama Radja atau tidak.
“Kalau Mas gak izinin Djiwa kerja ikut Mas Radja, gak apa-apa, kok. Djiwa gak akan maksa.”
Nada itu lembut, tapi jelas menyimpan kecemasan.
Kaisar memejamkan mata sesaat, menghembuskan napas panjang dan kasar melalui hidung.
Dia benar-benar tidak ingin terlibat urusan dengan Radja. Kalau dia bilang tidak, kakaknya itu pasti akan menginterogasi.
Bukan sekadar bertanya—tapi menggali seluruh alasan sampai ke akar, menyeretnya dalam tekanan yang tidak ingin dia hadapi hari ini maupun besok.
Radja bukan tipe yang menerima penolakan.
Apalagi, ucapan Radja bukan sekadar permintaan, melainkan perintah seorang anak pertama—pewaris utama keluarga Reinard yang selama ini bertindak sebagai pengganti tetua.
Dan tidak ada satu pun di rumah itu yang berani membantahnya.
“Aku gak peduli kamu mau kerja sama siapa,” ujar Kaisar, suaranya rendah tapi dingin. “Yang penting, pekerjaan itu gak boleh ganggu tujuan utama kamu.”
Ia mendekat selangkah, menatap Djiwa tanpa berkedip.
“Kamu tetap harus hamil dalam waktu dekat ini, Wa. Sibuk atau nggak, kerja atau nggak,” rahangnya mengeras, “Itu bukan alasan buat kamu gagal.”
_____
Keesokan harinya. Hari ini menjadi hari pertama Djiwa bekerja setelah satu tahun berlalu sejak ia lulus kuliah—dan satu tahun menjalani kehidupan sebagai istri Kaisar.
Gadis cantik itu akan memulai peran barunya sebagai seorang sekretaris.
Bermodalkan ijazah diploma tiga dan penampilan yang ia rapikan seadanya, Djiwa berdiri di depan cermin.
Riasannya sederhana—hanya bedak tipis, sedikit blush, dan lipstik natural, namun tetap memancarkan kecantikan lembut yang khas darinya.
Kaisar muncul dari kamar mandi. Pria itu baru saja selesai mandi, masih mengenakan handuk putih yang melilit di pinggang lebarnya.
Tatapannya yang dingin tertuju pada istrinya yang duduk di meja rias.
“Kantor masuk jam delapan, ngapain kamu siap-siap jam segini?” celetuk Kaisar sembari berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.
“Mas,” Djiwa menoleh, menatap punggung tegap sang suami. “Ini kan hari pertama Djiwa kerja, Mas. Jadi gak mau sampai telat. Sekalipun yang punya perusahaan keluarga sendiri.”
“Tapi ini keawalan, Wa,” balas Kaisar dengan nada dingin. “Memangnya kamu gak mau masak? Beres-beres rumah?”
Pria itu berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan sinis. Lalu melanjutkan masih dengan nada dingin.
“Inget, tugas kamu beres-beres rumah itu udah kewajiban. Jangan karena kamu udah kerja kantoran, kamu merasa bebas dari tugas wajib itu!”
Djiwa tersenyum kecil, tetap terlihat tenang. “Udah dong, Mas. Kan Djiwa bangun subuh langsung beres-beres rumah sama Mbok. Dan tadi jam enam pagi udah masak buat sarapan.”
“Djiwa gak akan pernah lupa kok, kalau posisi Djiwa cuma di bawah.” Ia menghela napas pelan, menahan getir yang mengalir di ujung suaranya.
“Di rumah dianggap babu, di kantor pun nanti pasti sama aja, kan?”
Kaisar tak menjawab. Membawa pakaian yang sudah dia ambil dari lemari ke kamar mandi, dan mengenakannya di sana seperti biasa yang dia lakukan sejak mereka menikah.
Djiwa menghela napas pelan sambil mengusap dadanya karena barusan masih saja berani menjawab ucapan sang suami. Beruntung Kaisar tidak meledak lagi.
_____
Tepat pukul setengah delapan pagi. Sebagian anggota keluarga Reinard berangkat kerja, termasuk Djiwa untuk pertama kalinya.
Di rumah hanya menyisakkan Sekar dengan sang cucu yang bungsu—Aprilia, serta kedua pembantu yang bekerja di rumah tersebut.
Seperti biasa, mereka selalu berpamitan sebelum berangkat pada orang tua mereka.
Sekar duduk di ruang tengah, koran terbuka di tangannya—meski sejak tadi matanya lebih sering mengawasi menantunya dibanding membaca.
“Saya berangkat, Mi,” Radja lebih dulu berpamitan.
Inggrit menyusul dengan senyum tipis. “Mami, kami berangkat dulu.”
Sekar mengangguk kecil, matanya lembut pada pasangan itu.
Sultan dan istrinya maju. “Mi, kami berangkat.”
“Hati-hati,” jawab Sekar ramah.
Lalu Kaisar dan Djiwa yang terakhir.
“Kami pergi dulu, Mi,” ucap Kaisar.
“Iya, hati-hati,” Sekar menanggapi putranya.
Djiwa menunduk sopan. “Djiwa pamit—”
Belum selesai, Sekar sudah kembali menatap korannya, seolah suara menantu bungsunya hanyalah angin lewat. Seolah Djiwa tak berada di sana.
Kaisar memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat ketegangan itu. Djiwa memaksakan senyum kecil, meski suaranya tercekat.
“Permisi, Mi,”
Tidak ada jawaban, hanya suara kertas koran yang digesek pelan.
Di luar mansion, beberapa mobil milik masing-masing sudah siap dikendarai.
Sultan melirik sang istri yang berjalan di sebelahnya, “Hari ini kamu pakai mobil sendiri saja, aku buru-buru karena ada pasien kritis.”
Fairish sedikit tercengang, sebelum sempat dia berbicara—Sultan sudah lebih dulu masuk ke mobilnya dengan langkah cepat.
Mobil pria yang berprofesi sebagai dokter itu akhirnya dengan cepat meninggalkan halaman mansion, seolah dia benar-benar darurat.
“Emang gak bisa, ya, ngomong dulu sebelum berangkat?” celetuk Fairish, kesal karena harus mengeluarkan mobil dari garasi dan menunggu mesin dipanaskan.
Begitu melihat Kaisar berjalan menuju mobilnya, Fairish langsung menghampiri sambil berteriak cukup keras.
“Kai, aku ikut kamu, ya. Kita kan searah,” ujarnya cepat—tanpa menunggu jawaban, langsung membuka pintu dan duduk di kursi samping kemudi.
Kaisar tertegun sejenak. Tatapannya kemudian beralih pada Djiwa yang berdiri tak jauh darinya, jelas melihat Fairish yang tadi langsung masuk mobil sang suami tanpa izin pemilik.
“Mas … Djiwa ikut, ya?” ucap Djiwa pelan, penuh harap. “Djiwa duduk di belakang, gak apa-apa.”
“Kita gak searah. Kamu naik taksi aja,” balas Kaisar dingin, sebelum masuk mobil dan menyalakan mesin.
Mobil itu melaju keluar dari halaman mansion, meninggalkan Djiwa berdiri sendirian di halaman. Angin pagi menusuk kulitnya, menyapu rambutnya pelan. Napasnya tercekat.
Djiwa menatap gerbang yang mulai menutup otomatis, menatap jam di pergelangan tangannya.
“Gimana kalau aku telat, di hari pertama aku kerja?” gumamnya lirih.
Bab 7
Radja baru saja tiba di Reinard Grand Corporation, perusahaan besar milik keluarganya yang beroperasi di dalam dan luar negeri.
Langkahnya tegas dan berwibawa saat memasuki gedung megah yang tinggi menjulang lima puluh lantai di depannya.
Begitu pria matang berusia tiga puluh tiga tahun itu melangkah masuk, suasana lobi langsung berubah.
Para karyawan yang sebelumnya asyik berbincang ringan sontak merapikan posisi masing-masing, berdiri lebih tegak, dan memberi jalan untuknya lewat.
Aura otoritas Radja memaksa ruangan untuk diam tanpa perlu ia mengucap sepatah kata pun.
Kakinya melangkah menuju lift khusus para petinggi perusahaan—lift yang hanya bisa diakses menggunakan kartu identitas eksekutif.
Tak sampai satu menit, benda logam persegi panjang itu akhirnya sampai di lantai empat puluh sembilan. Lantai dimana ruangannya berada.
Tangannya terulur hendak membuka pintu ruangannya, namun pandangannya terlebih dulu jatuh pada meja kerja sekretaris yang terletak di depan pintu—posisi standar sekretaris eksekutif.
Detik berikutnya, ia masuk ke ruangannya sambil menekan sebuah nomor di ponselnya.
“Halo, Pak, ada yang bisa saya bantu?” suara Arga—asistennya—terdengar di seberang.
“Pindahkan meja sekretaris di depan ruangan saya ke dalam. Letakkan tepat di sebelah kanan meja saya,” perintah Radja, nadanya tegas tanpa ruang sanggah.
“Baik, Pak.”
Radja berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk dengan tenang di kursi kebesarannya—kursi hitam elegan yang memancarkan wibawa seorang pewaris utama keluarga Reinard.
_____
Kini Djiwa telah tiba di perusahaan, diantar sopir dan Mbok Inem. Ia turun dari mobil dengan napas yang sedikit tertahan, mencoba menenangkan degup gugup di dadanya.
Ia tidak menyangka hari ini Tuhan berpihak padanya. Mobil pribadi keluarga Reinard yang biasa digunakan untuk mengantar Mbok belanja bulanan kebetulan pagi itu akan ke supermarket.
Dan Djiwa mengambil kesempatan itu untuk ikut dengan mereka, meski dia harus meminta maaf berkali-kali karena jarak supermarket dengan perusahaan sangat berbeda jauh.
“Permisi,” sapa Djiwa pelan ketika melihat salah satu karyawan berdiri tak jauh dari lobi lift.
“Iya, ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pria itu—Arga, sambil melirik Djiwa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepertinya karyawan baru, batinnya.
“Perkenalkan, nama saya Adjiva Nadjwa … dipanggil Djiwa. Saya karyawan baru, sekretarisnya Mas Radja. Eh—maksud saya, Pak Rajendra. CEO perusahaan ini.”
Djiwa mengulurkan tangan. Arga menyambutnya dengan sopan.
“Jadi kamu sekretaris barunya Pak Rajendra?”
“I-iya,” jawab Djiwa cepat, gugup tapi berusaha terlihat percaya diri.
“Baik, kalau begitu ikut saya.” Arga melepaskan genggamannya dan berjalan lebih dulu, diikuti Djiwa dari belakang.
Mereka menaiki lift khusus ke lantai empat puluh sembilan—lantai VIP tempat ruangan Radja berada.
Begitu pintu lift terbuka, Arga membawanya masuk ke area kerja yang luas, mewah dan tenang.
Tatapannya terhenti pada papan akrilik persegi panjang di atas meja kerja. Di bagian atas tercetak jabatan CEO, dan tepat di bawahnya tertera nama lengkap Radja beserta gelarnya.
Rajendra Afnand Reinard, MBA.
Djiwa segera beralih pada Arga, mengekori pria itu dan berhenti tepat di depan sebuah meja rapi dengan perlengkapan yang masih baru.
“Nah, ini meja kerja kamu,” ujarnya sambil menunjuk meja tersebut.
Djiwa mengangguk kecil, tersenyum lembut. “Terima kasih, Pak.”
“Iya, sama-sama. Kamu duduk dulu saja. Sebentar lagi Pak Rajendra datang.”
“Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih, ya. Mohon bimbingannya, soalnya saya benar-benar karyawan baru. Baru pertama kali kerja.”
Alis Arga terangkat. Baru pertama kali kerja? Dalam hati ia mendengus kecil. Bagaimana bisa CEO merekrut sekretaris tanpa pengalaman? Apa pakai jalur orang dalam?
“Oh … begitu.” Arga menyembunyikan ekspresi herannya. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Djiwa mengangguk singkat, masih dengan perasaan gugup yang menempel di dadanya.
Gadis cantik itu melirik sekeliling—setiap sudut ruangan tampak begitu mewah, mulai dari furniture premium hingga jendela full kaca yang memperlihatkan panorama kota dari ketinggian.
“Ya Tuhan … aku gugup banget,” gumamnya pelan sambil meletakkan tas dan ponselnya di atas meja kerja barunya. “Aku butuh ke kamar mandi sebentar. Nenangin diri dulu dari tremor.”
Tanpa menunggu, ia melangkah cepat menuju kamar kecil yang berada di dalam ruangan VIP tersebut.
Pada saat yang hampir bersamaan, pintu ruangan terbuka—memperlihatkan sosok Radja masuk dengan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan.
Langkahnya terhenti ketika melihat meja kerja Djiwa. Keningnya berkerut pelan. Barang-barang ada, tapi orangnya tidak.
“Ke mana dia?” gumamnya rendah sambil mendekat ke meja tersebut.
Ting.
Ponsel Djiwa yang tergeletak di atas meja berbunyi, menampilkan notifikasi pesan masuk. Secara refleks, mata Radja turun ke layar ponsel itu—dan sontak tatapannya mengeras.
| Mas Kai
[Wa, temui pria di kartu nama kemarin secepatnya.]
Di dalam toilet, Djiwa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu melakukannya sambil menatap refleksinya dari cermin wastafel.
“Bisa, Djiwa ... kamu pasti bisa,” gumamnya menyemangati diri. “Semalem aku udah searching apa aja yang dilakuin sekretaris selain ngurus kerjaan, aku pasti bisa! Semangat.”
Klek.
Djiwa terlonjak kaget saat pintu toilet dibuka dari luar. Ia terkejut mendapatkan Radja berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin seperti biasa.
Bola mata Djiwa membulat kaget. “M-Mas …?” ucapnya terputus ketika Radja melangkah masuk dengan santai.
Tatapan Djiwa langsung tertuju pada tisu bekas yang tadi ia pakai, masih tergeletak di tepi wastafel. Panik, ia hendak meraihnya.
Namun sebelum tangannya sampai, Radja lebih dulu bergerak.
Dengan satu gerakan ringan dan presisi, ia mengulurkan kedua tangannya ke wastafel dan menyalakan kran air untuk mencuci tangan.
Di saat yang bersamaan—tanpa sedikit pun memberi jeda atau memperhatikan ruang pribadi, tangan kanan pria itu melingkari pinggang ramping Djiwa.
Gerakan yang tampak natural bagi Radja, namun cukup membuat napas Djiwa tertahan di tenggorokan, ditambah jantungnya yang berdetak cepat.
Posisi mereka begitu dekat hingga Djiwa bisa melihat jelas rahang tegas Radja yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari pantulan cermin.
Radja tetap setenang batu. Seolah menyentuh pinggang Djiwa hanyalah gerakan refleks yang sama saja dengan mengancingkan jasnya.
Djiwa menelan ludah. Ia ingin menyingkirkan tangan Radja, namun tubuhnya seperti menolak perintah. Ia hanya berdiri kaku, membiarkan sentuhan itu sampai Radja selesai membasuh tangannya.
Radja berdehem pelan, menatap refleksi dirinya sendiri, kemudian melirik Djiwa dari cermin—singkat, namun cukup untuk membuat jantung gadis itu melompat.
Jarak ini sangat dekat, bahkan terlalu dekat sehingga keduanya sama-sama bisa mencium aroma tubuh masing-masing. Radja yang maskulin dan tegas, serta Djiwa yang soft dan fresh.
“Mas …,” Djiwa akhirnya membuka suara, mencoba mengatur napas. Tatapan mereka bertemu dalam pantulan kaca. “Djiwa gak kelihatan, ya?”
Radja akhirnya menarik diri.
Tangannya meraih tisu, mengelap sisa air dari kedua telapak tangannya dengan gerakan terukur, sebelum membuang tisu itu ke tempat sampah tanpa menoleh sedikit pun.
“Begitu, ya?” sebelah alisnya terangkat tipis, dingin namun tetap tenang. “Saya kira tidak ada orang di sini. Biasanya, tidak ada yang berani masuk ke toilet pribadi saya.”
Bola mata Djiwa kembali membesar. Napasnya tercekat, rasa malu menjalari seluruh tubuhnya. Ia buru-buru menunduk, hampir refleks.
“Maaf, Mas. Saya gak tahu, saya benar-benar gak bermaksud pakai sembarangan. Saya mohon maaf banget.”
Radja menatapnya datar, sorot matanya mengiris tanpa perlu meninggikan suara.
“‘Pak.’” ucapnya tegas, memberikan penekanan. “Saya atasan kamu di sini, bukan ‘kakak ipar’ kamu. Hindari memanggil saya dengan sebutan yang sama seperti di rumah. Itu menandakan kamu belum bisa bekerja secara profesional.”
Nada suaranya tidak keras—tapi cukup untuk membuat dada Djiwa serasa diremas.
“I-iya, Pak. Saya minta maaf,” Djiwa masih menunduk, tak berani menatap langsung ke mata Radja yang dingin dan keras.
Tanpa memberikan tanggapan, Radja lantas meninggalkan toilet tersebut.
Djiwa mengangkat kepalanya, lalu beralih menatap ke cermin wastafel. Tangannya terangkat mengusap dadanya yang berdegup kencang.
“Ya Tuhan, baru pertama kali kerja udah ngelakuin kesalahan,” lirihnya pelan.
Ia mengetuk kepalanya sendiri tak terlalu kuat, “Bodoh kamu, Djiwa.”
Djiwa masih saja berceletuk sendiri di toilet, sampai suara Radja memanggilnya dari luar.
“DJIWA!” suaranya meninggi satu oktaf, membuat Djiwa buru-buru meninggalkan toilet.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya lakukan?” tanya gadis cantik itu ketika berdiri di depan meja kerja Radja, berusaha tetap terlihat profesional setelah insiden tak sopannya tadi.
Radja menatapnya lurus, dingin, tanpa sedikit pun keraguan. “Buatkan saya kopi,” perintahnya pendek dan tegas.
Djiwa segera mengangguk. “Se-segera, Pak,” ujarnya sebelum bergegas keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan.
Radja mengikuti langkah ringan Djiwa dengan tatapannya—hening, penuh kalkulasi.
Begitu bayangan gadis itu menghilang di balik pintu, pria itu menghembuskan napas singkat, lalu memalingkan wajah.
Matanya jatuh pada satu benda pipih yang terletak di atas meja kerja gadis itu—ponsel Djiwa.
Bab 8
‘Malam ini, aku sudah buat jadwal dengan pria yang aku berikan kartu namanya padamu.’
Ucapan Kaisar semalam membuat perut Djiwa terlilit pagi ini. Malam ini, Djiwa tidak bisa kabur lagi. Dia harus bertemu dengan pria yang akan menghamilinya.
Djiwa mengusap wajahnya frustasi. “Kalau semisalkan Mami tahu, apa dia gak marah nanti? Apalagi ... kalau anaknya gak mirip sama Mas Kai.”
Djiwa merasa tak enak hati jika memberikan keturunan yang tidak sesuai garis darah keluarga Kaisar. Ia merasa terbebani, tapi juga tak ingin mengecewakan siapa pun.
“Djiwa.”
Gadis itu tersentak ketika namanya dipanggil oleh pemilik wajah tampan namun sedingin es, dengan suara berat dan dalam yang langsung
membuat siapa pun menegakkan punggung.
Atasan sekaligus kakak iparnya, Radja.
Pria itu menatapnya tajam, sembari mengulurkan sebuah berkas pada Djiwa. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat
menghampiri Radja.
“Scan ini, lalu kirim ke WA pribadi saya dalam bentuk P*F,” ujar Radja dingin, tak sedikit pun menoleh. Tatapan pria itu tetap terpaku pada
layar laptop di depannya.
“Baik, Pak,” jawab Djiwa sopan.
Hanya butuh sekitar lima menit, ponsel Radja berdenting notifikasi pesan masuk.
Pria itu segera memeriksanya, pesan dari nomor tak
dikenal—namun dia tahu kalau itu nomor Djiwa.
Hal pertama yang dia lakukan bukanlah membuka pesan tersebut, melainkan memeriksa foto profil di sana.
Sebuah foto pernikahan antara Djiwa dengan adik kandungnya, Kaisar. Keduanya mengenakan pakaian pengantin adat jawa berwarna putih.
Untuk sesaat tatapannya biasa-biasa saja, namun diam-diam menyimpan sesuatu.
Djiwa di meja kerjanya diam-diam melirik ke arah Radja yang tampak begitu fokus dengan layar laptop di hadapannya, tanpa dia tahu pria itu meliriknya dari ekor mata.
“Aku harus ngomong,” gumam Djiwa pelan seraya berdiri dari kursinya, melangkah menghampiri meja kerja Radja.
Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, tangannya masih sibuk menekan setiap alfabet di keyboard.
“Pak ....” panggil Djiwa dengan nada pelan namun jelas di telinga Radja.
“Hm?” sahut pria itu singkat, masih fokus pada laptop.
“A-ada yang ingin saya bicarakan,” ucap Djiwa penuh kehati-hatian, sementara jantungnya berdebar sangat cepat.
Akhirnya, kali ini Radja mengalihkan tatapannya dari layar laptop.
“Apa?”
Djiwa menelan ludahnya susah payah, tak sanggup mengeluarkan kata-kata yang sudah dia siapkan sejak semalam.
“Katakan, Djiwa!” Radja buka suara, nadanya dingin dan tegas membuat gadis itu tersentak.
“Pak, saya boleh minta bantuan Bapak hari ini? Hari ini ... aja, saya janji lain kali saya gak akan minta bantuan Bapak lagi,” mohon gadis itu dengan suara lirih.
Radja menyatukan kedua tangannya di atas meja, jemarinya saling mengait, sementara tatapannya mengunci Djiwa tanpa berkedip.
“Bantuan apa itu?” suara baritonnya datar, kedua alis tebalnya saling mendekat.
Djiwa menelan ludah sebelum membuka suara. “Malam ini … sepulang kerja, saya pengen jenguk kakek di rumah sakit. Tapi, saya boleh, gak, minta bantuan Bapak untuk bilang ke keluarga kalau saya lembur?”
Tatapan Radja langsung menyipit. Ada sesuatu yang samar, antara geli dan tidak percaya melintas di matanya.
Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menenangkan.
“Baru satu minggu bekerja, kamu sudah berani mengajak saya untuk berbohong?” sebelah alisnya terangkat, nada suaranya sinis namun terkontrol.
“Maaf,” Djiwa menunduk lebih dalam. “Saya ... saya tidak bermaksud seperti itu, Pak. Tapi kali ini saya benar-benar merindukan kakek saya, jadi saya ingin sekali menjenguknya.”
Radja mendengus pelan, hampir seperti tawa yang tertahan namun penuh ketidaksabaran.
“Kamu pikir, hanya dengan bawa-bawa nama kakek, saya akan luluh?” kedua alis tebalnya menyatu, tatapannya menusuk dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan.
Tapi ketika matanya menangkap raut Djiwa yang mulai merosot—bahunya menurun, bibirnya gemetar menahan cemas—ekspresi Radja berubah tipis, nyaris tak terlihat.
“Djiwa …,” suaranya merendah, tetap dingin namun lebih terkendali. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat.
“Pastikan kamu memang benar mau menemui kakek kamu.” Ucapannya tegas, mengandung peringatan halus yang sulit diartikan—antara memberi izin atau justru menantang niat gadis itu.
Djiwa segera mengangkat pandangannya, senyumnya sulit dijelaskan, antara bahagia dan getir. “Terima kasih banyak, Pak.”
_____
Malam itu, meja makan keluarga Reinard tampak penuh seperti biasa—hanya satu kursi yang tetap kosong, milik Djiwa.
Percakapan mengalir di antara Radja, Inggrit, Sultan, Fairish, Kaisar, dan Sekar tetapi tak ada satu pun yang menyebut nama Djiwa.
Hingga akhirnya, Sekar yang penasaran lantaran bertanya. “Di mana Djiwa, Kai?” tanyanya pada anak bungsunya tersebut.
“Oh, iya, Mi,” Kaisar tampak terkejut dan segera menegakkan punggungnya. “Aku lupa kabarin Mami, kalau malam ini Djiwa pulang telat karena lembur kerjanya.”
“Lembur?” Sekar mengucapkan kata itu sambil melirik ke arah putra sulungnya, Radja.
Begitu juga Inggrit dan Fairish yang tampak penasaran melirik ke arah pria itu yang begitu tenang seolah tak menyadari tiga pasang mata tengah menatap ke arahnya.
“Kalau memang lembur, lalu kenapa atasannya ada di sini?” Sekar berkata sembari bertanya pada putra sulungnya.
Radja mengangkat pandangannya, menatap Kaisar lebih dulu yang langsung menunduk ketika mata mereka bertemu.
“Hari ini memang banyak sekali pekerjaan,” kata Radja sembari menatap sang ibu. “Kinerja Djiwa juga bagus selama satu minggu ini, meski terhitung baru dan tidak punya pengalaman.”
“Dan malam ini, saya memberikan pekerjaan sekaligus ujian. Apakah dia bisa bekerja dibawah tekanan saya, yang tentunya tidak akan ada habisnya kerjaan,” jelas pria itu tenang.
Mereka yang sudah puas dengan jawaban itu, termasuk Sekar—lantas kembali melanjutkan makannya.
Sementara Kaisar akhirnya bisa bernapas lega, karena Radja benar-benar termakan akting Djiwa yang ingin bertemu dengan sang kakek.
_____
Di sisi lain, Djiwa baru saja melangkah masuk ke kamar hotel yang dipesan oleh suaminya.
Ia mendekati ranjang king–size yang tertata rapi, meletakkan tasnya di atas nakas, lalu perlahan membuka mantel coat yang membungkus tubuh mungilnya.
Di baliknya, lingerie hitam berenda yang tadi sore dengan gugup ia kenakan di kantor—lingerie yang dibeli suaminya dan diminta untuk dipakai malam ini.
Semua ini bukan keinginannya. Tapi perintah. Perintah yang tak bisa ia tolak.
“Tenang … tenang, Djiwa,” bisiknya pelan, menepuk dadanya sendiri.
Ia menggantung mantelnya, mematikan lampu utama hingga hanya lampu tidur remang yang tersisa, membuat bayangan-bayangan halus jatuh di kulitnya.
Jantungnya mulai berdentum ketika suara klik terdengar dari arah pintu.
Pegangan pintu bergerak, dan pintu itu terbuka perlahan. Siluet seorang pria masuk, namun wajahnya tak terlihat dalam gelap.
Djiwa menelan ludah keras.
“An–anda sudah datang?” suaranya bergetar, telapak tangannya dingin. “Saya … saya sudah memakai apa yang Mas Kaisar suruh. Saya sudah lakukan semuanya, sesuai permintaan suami saya.”
Pria itu tidak segera menjawab. Ia hanya melangkah maju, satu langkah, dua langkah, hingga bayangannya memenuhi ruang remang itu.
“Maaf, kalau … saya terlihat canggung. Saya ingin mengatakan, kalau saya mau melakukannya dengan keadaan lampu utama tidak dinyala—”
Lampu kamar tiba-tiba menyala.
Djiwa terbelalak.
Dadanya serasa berhenti berdetak ketika ia melihat siapa yang berdiri hanya setengah meter darinya.
“M-Mas Radja?”