Bab 1
Menjadi menantu termuda di keluarga konglomerat bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan penjara.
Djiwa diperlakukan layaknya pembantu oleh ibu mertuanya, dituntut sempurna, sementara suaminya hanya diam tak pernah membela.
Di rumah besar itu, semua mata mengawasinya.
Namun justru tatapan Radja—kakak ipar tertua yang dingin sekaligus dominan dan berwibawa, mampu membuat Djiwa tak bisa tenang.
Lelaki itu hadir di antara keputusasaan Djiwa tinggal di rumah besar itu, menyalakan api hasrat yang seharusnya tak pernah ada.
Semua ini salah. Cinta itu terlarang. Itu semua dosa.
Tapi ketika Radja menyentuhnya, Djiwa tahu dirinya telah terjerat dalam dosa paling manis dan tak ada jalan untuk kembali.
“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya.
Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain?
“Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?”
Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.”
Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung.
“Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!”
Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana.
“Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.”
Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih.
Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu.
“Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?”
Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!”
Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.”
Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.”
Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek.
Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya.
Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka.
Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami.
Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya.
“Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri.
Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.”
Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka.
Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini.
Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal.
Djiwa menghembuskan napas pelan.
“Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa.
Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan.
“Ya Tuhan!”
Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur.
Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya.
Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan.
Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna.
Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan.
Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan.
Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar.
“Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya.
“Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh.
Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya.
“Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin.
Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami.
Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan.
“Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.”
Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan.
Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya.
Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak.
Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni.
Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda.
Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit.
Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu.
“Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa.
Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun.
Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.”
“Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas.
“Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan.
Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi.
Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar.
Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar.
Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar.
Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah.
Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya.
Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya.
Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya.
Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar.
BRAK!
Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk.
“Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!”
“Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri.
Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya.
“Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.”
Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat.
Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga?
“Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.”
Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus.
“Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”
Bab 2
Setelah sarapan pagi itu berakhir dengan suasana menegangkan, kini Djiwa beralih mencuci piring bekas semua anggota keluarga tersebut.
Djiwa menekan spons ke piring dengan tenaga berlebihan, seolah menghilangkan noda dari piring itu seperti menghilangkan cemoohan mertuanya dari telinganya.
Air matanya yang jatuh menetes bercampur dengan buih sabun. Ia terisak pelan, bahunya bergetar seiring desakan dan ultimatum tenggat waktu tiga bulan untuk hamil.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di punggungnya. Djiwa tersentak dan buru-buru menghapus air matanya dengan lengannya.
“Non Djiwa ....” suara Mbok Iyam—pembantu rumah tangga di keluarga itu terdengar penuh kehangatan dan rasa iba, sambil mengusap lengan Djiwa lembut.
“Sudah, Non. Jangan menangis. Air mata Non Djiwa terlalu mahal untuk menangisi ucapan mereka semua, termasuk Kanjeng Nyonya,” bisik Mbok Iyam, menarik piring dari tangan Djiwa.
“Sini, biar Mbok saja yang lanjutkan,” pinta si Mbok mengambil alih.
Namun Djiwa kembali menarik piring itu, “Gak usah Mbok, biar Djiwa yang selesain.”
“Udah, Non. Biar Mbok saja,” timpal Mbok Iyam, “Simpen dulu saja ini, nanti saya yang lanjutkan, Non. Mending Non istirahat saja dulu, pasti capek,” ucapnya lirih.
Akhirnya Djiwa meletakkan cucian piring itu ke tempatnya, kemudian membasuh kedua tangannya sampai bersih di kran air wastafel.
Mbok Iyam mendekat, membantu mengelap tangan Djiwa dengan serbet bersih. Kemudian merangkul gadis itu ke dalam pelukan, seolah anaknya sendiri.
Djiwa tetap tersenyum manis seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Mbok Iyam tahu apa yang sudah terjadi di meja makan tadi.
“Yang sabar ya, Non? Jangan dimasukkan ke dalam hati ucapan mereka,” ucap Mbok Iyam memulai percakapan lebih dulu.
Gadis itu tetap berusaha tegar, dengan senyum manis yang merekah di wajah cantiknya. “Iya, Mbok. Jangan khawatir, Djiwa baik-baik aja, kok.”
Ini bukan pertama kalinya Mbok Iyam menyaksikan Djiwa dihina, disudutkan, bahkan diperlakukan layaknya pembantu di rumah megah ini.
Padahal, bagaimanapun juga, Djiwa tetaplah menantu keluarga Reinard—meski kastanya tak pernah dianggap setara dengan dua menantu yang lainnya.
“Kanjeng Nyonya itu lidahnya memang tajam, Non. Nanti juga kualat sendiri,” bisik Mbok Iyam. “Non Djiwa jangan pernah merasa sendirian, ya? Di sini ada Mbok.”
Djiwa mengangguk kecil, sementara Mbok Iyam menggenggam tangannya erat seolah memberikan kekuatan untuk tetap sabar menjalani kehidupan di rumah ini.
“Non Djiwa yang sabar ya,” lanjutnya pelan. “Mbok percaya, kalau suatu saat Non bisa melahirkan anak laki-laki keturunan keluarga ini, Kanjeng Nyonya bakal melihat Non Djiwa sebagai menantu yang lebih layak.”
Ditenangkan oleh pembantu yang tak punya apa-apa selain kebaikan itu, senyum Djiwa semakin merekah.
Tapi entah kenapa, ucapan Mbok Iyam soal keturunan laki-laki itu tidak membuat Djiwa sedikit pun bersemangat.
Ia tahu betul, Mbok Iyam hanya bermaksud menenangkannya—bukan benar-benar menuntutnya melahirkan anak laki-laki pewaris keluarga.
Namun tetap saja, dada Djiwa terasa sesak. Karena hingga detik ini, ia sendiri masih bingung, bagaimana cara mendapatkan keturunan itu?
Sedangkan sang suami tak pernah mau menyentuhnya.
“Ya udah, Non. Sekarang Mbok yang lanjutkan cuci piringnya, Non Djiwa istirahat saja. Yang Non butuhkan saat ini istirahat dan menenangkan diri,” kata Mbok Iyam.
Djiwa menunduk sedikit, suaranya mengecil. “Maaf ya … kalau Djiwa malah ngerepotin.”
“Loh, ngapain minta maaf?” Mbok Iyam menatapnya lembut. “Ini memang kerjaan Mbok, Non. Sudah sana, istirahat. Kalau ngobrol terus, kapan Non Djiwa istirahatnya?”
Djiwa tersenyum—senyum yang benar-benar tulus setelah seharian dadanya sesak.
“Kalau begitu, Djiwa tinggal dulu ya, Mbok? Makasih banyak atas bantuannya.”
“Iya, Non. Sama-sama. Istirahat yang nyenyak, ya.”
Gadis itu hanya mengangguk kecil. Perlahan meninggalkan dapur kotor menuju ke kamarnya, melewati ruang tengah.
Di sana, Djiwa melihat keberadaan Inggrit dan anak sulungnya.
“Mama ...,” seruan itu berasal dari Anggita yang tengah berlari sambil membawa kaos kaki dan sepatu menuju sang ibu—Inggrit. “Pasangin kaos kaki, Ma.”
Inggrit yang duduk di sofa ruang tengah sambil menatap layar tabletnya yang menampilkan gambar rancangan busana miliknya, melirik sekilas pada Anggita.
“Pasang sendiri, Gi!” nada bicaranya terdengar dingin.
“Nggak bisa, Mama ....” keluh bocah berusia lima tahun tersebut.
Tch.
Inggrit berdecak kasar, menatap putrinya dingin. Lalu matanya menangkap sosok Djiwa yang baru saja muncul dari arah dapur.
“Djiwa,” panggilnya dengan nada keras, membuat Djiwa menghentikan langkah dan menoleh. “Sini,” tangannya melambai.
“Ada apa, Mbak?” tanya Djiwa saat berada di hadapan Inggrit.
Wanita itu melirik sekilas ke arah sang anak. “Pakein kaos kaki sama sepatunya Anggita,” ucapnya dingin, seolah memberi perintah pada pembantu.
Djiwa tercengang. Setelah tadi di meja makan saat sarapan menuduhnya mandul, sekarang wanita itu dengan santainya menyuruhnya untuk membantu sang anak.
Apa wanita itu tidak punya rasa malu?
Tak ingin berdebat, lebih tepatnya Djiwa memang begitu penakut pada semua anggota keluarga tersebut mengingat akan kastanya—akhirnya tak protes ataupun menolak.
“Iya, Mbak,” jawabnya akhirnya, sementara Inggrit tetap fokus pada layar tabletnya. “Sini, sayang. Biar Tante bantu kamu pasang kaos kaki sama sepatunya.”
Djiwa tersenyum manis, mengulurkan tangan kanannya menarik lengan Anggita menuju sofa. Ia mendudukan gadis itu di sana, lalu berjongkok di hadapan Anggita.
Pemandangan itu membuat Inggrit yang diam-diam memperhatikan sekilas tersenyum miring, merasa senang karena gadis itu mudah dijadikan babu.
Inggrit berdeham, tatapannya sinis pada Djiwa. “Jangan lama-lama dong, Wa. Kamu kok kerjanya lelet banget, sih!” ucapnya ketus.
“Udah selesai, sayang,” ucap Djiwa pada Anggita selesai memakaikan sepatunya, kemudian berdiri.
Anggita melirik kakinya sekilas, “Terima kasih banyak Tante Djiwa,” ucapnya sopan.
Djiwa tersenyum kecil, dan mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala bocah itu. “Sama-sama, Sayang.”
“Kamu punya banyak sekali skill, Djiwa,” ucap Inggrit, mencemooh. “Jadi pembantu cocok, babysitter cocok. Apa sih, yang gak kamu bisa?”
Djiwa cuma diam saat Inggrit melanjutkan. “Oh iya. Kalau gitu, nanti sekalian ya, Wa, bantu Mbok Iyam jagain April.”
Wanita itu kemudian memasukkan tabletnya ke dalam tas mahalnya sambil tersenyum miring. “Kamu kan suka bayi. Lumayan sekalian belajar ngerawat anak dari sekarang.”
Belum sempat Djiwa merespons, Inggrit menambahkan dengan nada lebih tajam, “Ya ... kalau kamu gak positif mandul, sih. Tapi kalau ternyata beneran mandul, ya ... sampai kapanpun kamu cuma bisa ngurus anak orang. Anak aku, anak Fairish.”
Djiwa terdiam. Sama sekali tidak menjawab. Wajahnya tetap menunduk, menatap kaki mungil Anggita—cara kecilnya menahan diri agar tak hancur di depan mereka.
Inggrit meliriknya sekilas, puas melihat Djiwa tak membalas. “Nanti siang bikinin April susu, suapin makan, sekalian gantiin pampers-nya, ya,” lanjutnya enteng.
Aprilia merupakan anak kedua Inggrit dan Radja, berusia enam bulan, yang mana kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh keluarga Reinard.
Saat itu mereka mengira Inggrit akan melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki untuk pewaris keluarga. Tapi ternyata, anak kedua perempuan lagi.
Itulah yang membuat Sekar mendesak Djiwa untuk hamil, dan berharap dia bisa melahirkan anak laki-laki. Karena tidak mungkin dia mendesak Inggrit hamil lagi kalau pada akhirnya perempuan lagi.
“Kamu kan cepat belajar kalau soal kerja kayak gitu. Aku paling gak suka, loh … sebenernya. Kalau anak aku dijaga orang lain. Tapi khusus kamu aku bolehin,” tambahnya.
Djiwa mengangguk kecil. “Iya, Mbak.”
Inggrit tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Aku tuh suka banget sama jawaban kamu, bener-bener penurut mirip kayak anak anjing—”
“Inggrit.”
Sebuah suara berat, dalam, dan tegas memotong ucapan Inggrit. Suara maskulin itu berasal dari Radja yang melangkah mendekat menghampiri sang istri.
Sekilas, tatapan pria itu melirik ke Djiwa dan sang anak Anggita—lalu kembali menatap Inggrit dengan tajam. “Bicara apa kamu barusan?” katanya dengan nada tegas.
Inggrit menelan ludahnya susah payah, saat mendapatkan lirikan tajam dari sang suami.
“Bi-bicara apa, Mas?” tanyanya terbata, kedua tangannya meremas erat tali tasnya.
“Tidak usah pura-pura bodoh,” balas Radja dingin, nada bicaranya menusuk. “Jelas-jelas barusan kamu berkata kasar, kan?” rahang kokoh pria itu mengeras.
“Nggak, Mas!” Inggrit berkilah, berusaha membela diri. “Aku gak berniat ngomong kasar. Kamu tuh sensitif banget, sih.”
“Sensitif?” kedua alis tebal Radja menyatu. “Jangan berfikir kalau saya tidak tahu seperti apa sifat kamu, Grit. Tahu diri sedikit. Kamu meminta bantuan Djiwa, tapi kamu malah merendahkannya dengan kata-kata kamu yang tidak sopan itu.”
Inggrit tercengang karena sang suami menegurnya seperti itu di depan Djiwa, di depan gadis yang baru saja dia cemooh. Tapi sekarang, justru dirinya disambar sang suami.
“Papa … Mama ….” lirih Anggita yang sejak tadi diam melihat sang ayah memarahi ibunya dengan tatapan polos.
Radja melirik sang anak sekilas, lalu kembali menatap istrinya dingin.
“Minta maaf ke Djiwa,” perintah Radja tegas, nada bicaranya seakan tak ada ruang untuk bantahan.
Tapi Inggrit tetaplah Inggrit yang memiliki wajah tebal, tak akan mau melakukan itu.
Merasa kesal, Inggrit lantas menarik lengan Anggita keluar lebih dulu meninggalkan ruang tengah tanpa permintaan maaf seperti yang suaminya minta.
Begitu pintu utama tertutup dan suara langkah Inggrit serta Anggita menjauh, ruang tengah mendadak sunyi. Hanya suara napas Djiwa yang terdengar pelan.
Radja berdiri tidak jauh darinya, punggungnya tegak, sorot mata dingin yang biasanya sulit ditebak kini mengarah langsung padanya. Djiwa hampir tak berani bergerak.
Lalu suara itu terdengar—rendah, datar, tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.
“Kamu tidak seharusnya mengikuti ucapan orang lain terus.”
Bab 3
“Kamu tidak seharusnya mengikuti ucapan orang lain terus.”
Djiwa mengangkat kepalanya menatap ke mata Radja, sedikit terkejut—karena ini pertama kalinya Radja mengucapkan sesuatu yang terasa berada di pihaknya.
Tapi sebelum ia sempat mengerti maksudnya, Radja melanjutkan langkahnya mendekat, ekspresi dingin tak berubah.
“Jangan biarkan dirimu dijadikan pembantu. Posisi kamu di rumah ini menantu keluarga Reinard.”
Djiwa menunduk cepat, jari-jarinya saling meremas. “I-iya, Mas,” suaranya hampir tak terdengar karena gugup.
Radja mendekat satu langkah lagi, cukup untuk membuat jantung Djiwa melonjak ke tenggorokan—napasnya tercekat.
Tatapan kakak iparnya begitu dingin, seolah menguliti, seperti bisa membaca semua hal yang berusaha disembunyikan gadis itu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Radja. Singkat. Tidak ada nada manis, tapi justru karena itulah pertanyaannya terasa lebih menusuk.
Djiwa buru-buru menggeleng, tapi mata yang sedikit bengkak itu tak bisa membohongi pria di hadapannya.
Radja menyipitkan mata, ekspresinya nyaris tak terbaca. “Kamu habis menangis.”
Bukan pertanyaan, itu pernyataan. Karena faktanya, Djiwa memang sehabis menangis.
Djiwa terdiam kaku, menahan napas, takut menjawab salah. Sementara Radja masih menatapnya dingin, tajam—tapi terasa seperti ada sedikit perhatian tersembunyi di baliknya.
Belum sempat Radja melanjutkan ucapannya lebih jauh, suara Inggrit dari luar rumah memecah ketegangan.
“Mas Radja, ayo berangkat! Nanti Anggi telat!”
Suara itu lantang. Dan tepat di detik itu, Djiwa melihat rahang kokoh Radja mengeras—seolah kalimat yang tadi hendak ia ucapkan terpaksa ditelan kembali.
Tanpa sepatah kata pun, pria itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang tengah untuk menyusul istri dan anaknya.
Begitu bayangan Radja benar-benar menghilang dari pandangan, Djiwa akhirnya bisa menarik napas lega—seolah baru saja terlepas dari genggaman sesuatu yang menekan dadanya sejak tadi.
_____
Malam harinya, seluruh keluarga kembali berkumpul di meja makan seperti biasanya. Namun kali ini ada yang berbeda—kursi Djiwa kosong, dan ketidakhadirannya terasa begitu mencolok di antara riuh rendah suara sendok garpu.
Satu keluarga sama-sama memiliki sikap dingin dan cuek. Tak ada satupun yang memiliki sikap ceria, kecuali Djiwa. Tapi sayang, gadis itu tidak memiliki banyak kesempatan bicara daripada anggota keluarga yang lain.
“Di mana istri kamu, Kai?” tanya Sekar pada putra bungsunya, melirik Kaisar penuh.
Kaisar sedikit tersentak ketika sang ibu bertanya padanya dengan nada dingin. “Mungkin udah makan lebih dulu, Mi.”
“Mungkin?” ujar Sekar skeptis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Hm,” sahut Kaisar singkat—melanjutkan makan malamnya dengan tenang.
“Kamu ini suami, tapi lembek ya, Kai?” sindir Sekar, nadanya halus tapi sengatannya tajam.
Bagian ini selalu menjadi momen yang paling dibenci Kaisar. Setiap kali ibunya mulai berbicara seperti itu, perutnya terasa menegang.
Bukan hanya karena kata-katanya menohok, tapi karena dua kakaknya yang duduk tak jauh darinya seakan menjadi saksi bisu betapa ia selalu menjadi anak yang kurang di mata sang ibu.
Perhatian ibunya lebih banyak tercurah pada kakak-kakaknya. Dan sekarang nasib pernikahannya pun dianggap sebagai kegagalan yang sepenuhnya salahnya.
Termasuk punya istri seperti Djiwa.
Istri yang menurut ibunya lahir dari keluarga melarat. Berpendidikan rendah. Sampai sering diperlakukan seperti pembantu oleh istri kakak-kakaknya.
Gadis itu selalu menurut, selalu diam, membuatnya terlihat semakin memalukan dibandingkan kedua kakaknya yang memiliki istri dari keluarga berada.
Tangan Kaisar mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Raut wajah kesal itu berusaha ia sembunyikan, namun sulit saat Sekar belum selesai berbicara.
“Kamu itu kepala rumah tangga dalam pernikahan kamu,” lanjut Sekar tenang, “Mengurus satu istri saja kamu tidak becus. Belajarlah dari kakak-kakakmu ini.”
Kedua kakak yang dimaksud—Radja dan Sultan, hanya melirik ke arah sang adik sekilas sebelum melanjutkan kembali makan malam mereka.
Sementara kedua kakak iparnya—Inggrit dan Fairish, hanya diam tanpa menanggapi, jelas tampak menahan napas jika sudah membuka obrolan sensitif ini.
Kaisar menunduk sedikit, rahangnya mengeras.
“Iya, Mi,” sahutnya singkat, suaranya datar.
Lima belas menit kemudian, makan malam selesai.
Satu per satu anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan istirahat setelah lelah bekerja setengah hari ini—termasuk Kaisar.
Saat pria itu mendorong pintu kamarnya, pandangannya langsung jatuh pada sosok Djiwa yang sedang duduk di sofa, menatap ponsel sambil berusaha menenangkan pikirannya sendiri.
Langkah Kaisar terdengar tegas dan berat. Tanpa satu kata pun, ia meraih ponsel dari tangan Djiwa dan melemparkannya ke lantai. Suara pecahan memenuhi ruangan.
PRANG!
“Mas …!” Djiwa terlonjak, tubuhnya spontan bangkit duduk. Matanya membesar, napasnya tercekat.
“Ya ampun, Mas. Kamu kenapa?” suaranya pelan, nyaris berbisik.
Kaisar tidak menjawab. Wajahnya datar, tetapi matanya gelap, dipenuhi amarah dingin yang membuat udara kamar terasa menyesakkan.
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya, lalu melemparnya ke pangkuan Djiwa.
“Temui pria itu,” ucapnya, suaranya rendah namun tajam. “Dan tidur dengan dia sampai kamu hamil.”