Bab 2
Setelah sarapan pagi itu berakhir dengan suasana menegangkan, kini Djiwa beralih mencuci piring bekas semua anggota keluarga tersebut.
Djiwa menekan spons ke piring dengan tenaga berlebihan, seolah menghilangkan noda dari piring itu seperti menghilangkan cemoohan mertuanya dari telinganya.
Air matanya yang jatuh menetes bercampur dengan buih sabun. Ia terisak pelan, bahunya bergetar seiring desakan dan ultimatum tenggat waktu tiga bulan untuk hamil.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di punggungnya. Djiwa tersentak dan buru-buru menghapus air matanya dengan lengannya.
“Non Djiwa ....” suara Mbok Iyam—pembantu rumah tangga di keluarga itu terdengar penuh kehangatan dan rasa iba, sambil mengusap lengan Djiwa lembut.
“Sudah, Non. Jangan menangis. Air mata Non Djiwa terlalu mahal untuk menangisi ucapan mereka semua, termasuk Kanjeng Nyonya,” bisik Mbok Iyam, menarik piring dari tangan Djiwa.
“Sini, biar Mbok saja yang lanjutkan,” pinta si Mbok mengambil alih.
Namun Djiwa kembali menarik piring itu, “Gak usah Mbok, biar Djiwa yang selesain.”
“Udah, Non. Biar Mbok saja,” timpal Mbok Iyam, “Simpen dulu saja ini, nanti saya yang lanjutkan, Non. Mending Non istirahat saja dulu, pasti capek,” ucapnya lirih.
Akhirnya Djiwa meletakkan cucian piring itu ke tempatnya, kemudian membasuh kedua tangannya sampai bersih di kran air wastafel.
Mbok Iyam mendekat, membantu mengelap tangan Djiwa dengan serbet bersih. Kemudian merangkul gadis itu ke dalam pelukan, seolah anaknya sendiri.
Djiwa tetap tersenyum manis seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Mbok Iyam tahu apa yang sudah terjadi di meja makan tadi.
“Yang sabar ya, Non? Jangan dimasukkan ke dalam hati ucapan mereka,” ucap Mbok Iyam memulai percakapan lebih dulu.
Gadis itu tetap berusaha tegar, dengan senyum manis yang merekah di wajah cantiknya. “Iya, Mbok. Jangan khawatir, Djiwa baik-baik aja, kok.”
Ini bukan pertama kalinya Mbok Iyam menyaksikan Djiwa dihina, disudutkan, bahkan diperlakukan layaknya pembantu di rumah megah ini.
Padahal, bagaimanapun juga, Djiwa tetaplah menantu keluarga Reinard—meski kastanya tak pernah dianggap setara dengan dua menantu yang lainnya.
“Kanjeng Nyonya itu lidahnya memang tajam, Non. Nanti juga kualat sendiri,” bisik Mbok Iyam. “Non Djiwa jangan pernah merasa sendirian, ya? Di sini ada Mbok.”
Djiwa mengangguk kecil, sementara Mbok Iyam menggenggam tangannya erat seolah memberikan kekuatan untuk tetap sabar menjalani kehidupan di rumah ini.
“Non Djiwa yang sabar ya,” lanjutnya pelan. “Mbok percaya, kalau suatu saat Non bisa melahirkan anak laki-laki keturunan keluarga ini, Kanjeng Nyonya bakal melihat Non Djiwa sebagai menantu yang lebih layak.”
Ditenangkan oleh pembantu yang tak punya apa-apa selain kebaikan itu, senyum Djiwa semakin merekah.
Tapi entah kenapa, ucapan Mbok Iyam soal keturunan laki-laki itu tidak membuat Djiwa sedikit pun bersemangat.
Ia tahu betul, Mbok Iyam hanya bermaksud menenangkannya—bukan benar-benar menuntutnya melahirkan anak laki-laki pewaris keluarga.
Namun tetap saja, dada Djiwa terasa sesak. Karena hingga detik ini, ia sendiri masih bingung, bagaimana cara mendapatkan keturunan itu?
Sedangkan sang suami tak pernah mau menyentuhnya.
“Ya udah, Non. Sekarang Mbok yang lanjutkan cuci piringnya, Non Djiwa istirahat saja. Yang Non butuhkan saat ini istirahat dan menenangkan diri,” kata Mbok Iyam.
Djiwa menunduk sedikit, suaranya mengecil. “Maaf ya … kalau Djiwa malah ngerepotin.”
“Loh, ngapain minta maaf?” Mbok Iyam menatapnya lembut. “Ini memang kerjaan Mbok, Non. Sudah sana, istirahat. Kalau ngobrol terus, kapan Non Djiwa istirahatnya?”
Djiwa tersenyum—senyum yang benar-benar tulus setelah seharian dadanya sesak.
“Kalau begitu, Djiwa tinggal dulu ya, Mbok? Makasih banyak atas bantuannya.”
“Iya, Non. Sama-sama. Istirahat yang nyenyak, ya.”
Gadis itu hanya mengangguk kecil. Perlahan meninggalkan dapur kotor menuju ke kamarnya, melewati ruang tengah.
Di sana, Djiwa melihat keberadaan Inggrit dan anak sulungnya.
“Mama ...,” seruan itu berasal dari Anggita yang tengah berlari sambil membawa kaos kaki dan sepatu menuju sang ibu—Inggrit. “Pasangin kaos kaki, Ma.”
Inggrit yang duduk di sofa ruang tengah sambil menatap layar tabletnya yang menampilkan gambar rancangan busana miliknya, melirik sekilas pada Anggita.
“Pasang sendiri, Gi!” nada bicaranya terdengar dingin.
“Nggak bisa, Mama ....” keluh bocah berusia lima tahun tersebut.
Tch.
Inggrit berdecak kasar, menatap putrinya dingin. Lalu matanya menangkap sosok Djiwa yang baru saja muncul dari arah dapur.
“Djiwa,” panggilnya dengan nada keras, membuat Djiwa menghentikan langkah dan menoleh. “Sini,” tangannya melambai.
“Ada apa, Mbak?” tanya Djiwa saat berada di hadapan Inggrit.
Wanita itu melirik sekilas ke arah sang anak. “Pakein kaos kaki sama sepatunya Anggita,” ucapnya dingin, seolah memberi perintah pada pembantu.
Djiwa tercengang. Setelah tadi di meja makan saat sarapan menuduhnya mandul, sekarang wanita itu dengan santainya menyuruhnya untuk membantu sang anak.
Apa wanita itu tidak punya rasa malu?
Tak ingin berdebat, lebih tepatnya Djiwa memang begitu penakut pada semua anggota keluarga tersebut mengingat akan kastanya—akhirnya tak protes ataupun menolak.
“Iya, Mbak,” jawabnya akhirnya, sementara Inggrit tetap fokus pada layar tabletnya. “Sini, sayang. Biar Tante bantu kamu pasang kaos kaki sama sepatunya.”
Djiwa tersenyum manis, mengulurkan tangan kanannya menarik lengan Anggita menuju sofa. Ia mendudukan gadis itu di sana, lalu berjongkok di hadapan Anggita.
Pemandangan itu membuat Inggrit yang diam-diam memperhatikan sekilas tersenyum miring, merasa senang karena gadis itu mudah dijadikan babu.
Inggrit berdeham, tatapannya sinis pada Djiwa. “Jangan lama-lama dong, Wa. Kamu kok kerjanya lelet banget, sih!” ucapnya ketus.
“Udah selesai, sayang,” ucap Djiwa pada Anggita selesai memakaikan sepatunya, kemudian berdiri.
Anggita melirik kakinya sekilas, “Terima kasih banyak Tante Djiwa,” ucapnya sopan.
Djiwa tersenyum kecil, dan mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala bocah itu. “Sama-sama, Sayang.”
“Kamu punya banyak sekali skill, Djiwa,” ucap Inggrit, mencemooh. “Jadi pembantu cocok, babysitter cocok. Apa sih, yang gak kamu bisa?”
Djiwa cuma diam saat Inggrit melanjutkan. “Oh iya. Kalau gitu, nanti sekalian ya, Wa, bantu Mbok Iyam jagain April.”
Wanita itu kemudian memasukkan tabletnya ke dalam tas mahalnya sambil tersenyum miring. “Kamu kan suka bayi. Lumayan sekalian belajar ngerawat anak dari sekarang.”
Belum sempat Djiwa merespons, Inggrit menambahkan dengan nada lebih tajam, “Ya ... kalau kamu gak positif mandul, sih. Tapi kalau ternyata beneran mandul, ya ... sampai kapanpun kamu cuma bisa ngurus anak orang. Anak aku, anak Fairish.”
Djiwa terdiam. Sama sekali tidak menjawab. Wajahnya tetap menunduk, menatap kaki mungil Anggita—cara kecilnya menahan diri agar tak hancur di depan mereka.
Inggrit meliriknya sekilas, puas melihat Djiwa tak membalas. “Nanti siang bikinin April susu, suapin makan, sekalian gantiin pampers-nya, ya,” lanjutnya enteng.
Aprilia merupakan anak kedua Inggrit dan Radja, berusia enam bulan, yang mana kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh keluarga Reinard.
Saat itu mereka mengira Inggrit akan melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki untuk pewaris keluarga. Tapi ternyata, anak kedua perempuan lagi.
Itulah yang membuat Sekar mendesak Djiwa untuk hamil, dan berharap dia bisa melahirkan anak laki-laki. Karena tidak mungkin dia mendesak Inggrit hamil lagi kalau pada akhirnya perempuan lagi.
“Kamu kan cepat belajar kalau soal kerja kayak gitu. Aku paling gak suka, loh … sebenernya. Kalau anak aku dijaga orang lain. Tapi khusus kamu aku bolehin,” tambahnya.
Djiwa mengangguk kecil. “Iya, Mbak.”
Inggrit tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Aku tuh suka banget sama jawaban kamu, bener-bener penurut mirip kayak anak anjing—”
“Inggrit.”
Sebuah suara berat, dalam, dan tegas memotong ucapan Inggrit. Suara maskulin itu berasal dari Radja yang melangkah mendekat menghampiri sang istri.
Sekilas, tatapan pria itu melirik ke Djiwa dan sang anak Anggita—lalu kembali menatap Inggrit dengan tajam. “Bicara apa kamu barusan?” katanya dengan nada tegas.
Inggrit menelan ludahnya susah payah, saat mendapatkan lirikan tajam dari sang suami.
“Bi-bicara apa, Mas?” tanyanya terbata, kedua tangannya meremas erat tali tasnya.
“Tidak usah pura-pura bodoh,” balas Radja dingin, nada bicaranya menusuk. “Jelas-jelas barusan kamu berkata kasar, kan?” rahang kokoh pria itu mengeras.
“Nggak, Mas!” Inggrit berkilah, berusaha membela diri. “Aku gak berniat ngomong kasar. Kamu tuh sensitif banget, sih.”
“Sensitif?” kedua alis tebal Radja menyatu. “Jangan berfikir kalau saya tidak tahu seperti apa sifat kamu, Grit. Tahu diri sedikit. Kamu meminta bantuan Djiwa, tapi kamu malah merendahkannya dengan kata-kata kamu yang tidak sopan itu.”
Inggrit tercengang karena sang suami menegurnya seperti itu di depan Djiwa, di depan gadis yang baru saja dia cemooh. Tapi sekarang, justru dirinya disambar sang suami.
“Papa … Mama ….” lirih Anggita yang sejak tadi diam melihat sang ayah memarahi ibunya dengan tatapan polos.
Radja melirik sang anak sekilas, lalu kembali menatap istrinya dingin.
“Minta maaf ke Djiwa,” perintah Radja tegas, nada bicaranya seakan tak ada ruang untuk bantahan.
Tapi Inggrit tetaplah Inggrit yang memiliki wajah tebal, tak akan mau melakukan itu.
Merasa kesal, Inggrit lantas menarik lengan Anggita keluar lebih dulu meninggalkan ruang tengah tanpa permintaan maaf seperti yang suaminya minta.
Begitu pintu utama tertutup dan suara langkah Inggrit serta Anggita menjauh, ruang tengah mendadak sunyi. Hanya suara napas Djiwa yang terdengar pelan.
Radja berdiri tidak jauh darinya, punggungnya tegak, sorot mata dingin yang biasanya sulit ditebak kini mengarah langsung padanya. Djiwa hampir tak berani bergerak.
Lalu suara itu terdengar—rendah, datar, tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.
“Kamu tidak seharusnya mengikuti ucapan orang lain terus.”
Bab 3
“Kamu tidak seharusnya mengikuti ucapan orang lain terus.”
Djiwa mengangkat kepalanya menatap ke mata Radja, sedikit terkejut—karena ini pertama kalinya Radja mengucapkan sesuatu yang terasa berada di pihaknya.
Tapi sebelum ia sempat mengerti maksudnya, Radja melanjutkan langkahnya mendekat, ekspresi dingin tak berubah.
“Jangan biarkan dirimu dijadikan pembantu. Posisi kamu di rumah ini menantu keluarga Reinard.”
Djiwa menunduk cepat, jari-jarinya saling meremas. “I-iya, Mas,” suaranya hampir tak terdengar karena gugup.
Radja mendekat satu langkah lagi, cukup untuk membuat jantung Djiwa melonjak ke tenggorokan—napasnya tercekat.
Tatapan kakak iparnya begitu dingin, seolah menguliti, seperti bisa membaca semua hal yang berusaha disembunyikan gadis itu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Radja. Singkat. Tidak ada nada manis, tapi justru karena itulah pertanyaannya terasa lebih menusuk.
Djiwa buru-buru menggeleng, tapi mata yang sedikit bengkak itu tak bisa membohongi pria di hadapannya.
Radja menyipitkan mata, ekspresinya nyaris tak terbaca. “Kamu habis menangis.”
Bukan pertanyaan, itu pernyataan. Karena faktanya, Djiwa memang sehabis menangis.
Djiwa terdiam kaku, menahan napas, takut menjawab salah. Sementara Radja masih menatapnya dingin, tajam—tapi terasa seperti ada sedikit perhatian tersembunyi di baliknya.
Belum sempat Radja melanjutkan ucapannya lebih jauh, suara Inggrit dari luar rumah memecah ketegangan.
“Mas Radja, ayo berangkat! Nanti Anggi telat!”
Suara itu lantang. Dan tepat di detik itu, Djiwa melihat rahang kokoh Radja mengeras—seolah kalimat yang tadi hendak ia ucapkan terpaksa ditelan kembali.
Tanpa sepatah kata pun, pria itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang tengah untuk menyusul istri dan anaknya.
Begitu bayangan Radja benar-benar menghilang dari pandangan, Djiwa akhirnya bisa menarik napas lega—seolah baru saja terlepas dari genggaman sesuatu yang menekan dadanya sejak tadi.
_____
Malam harinya, seluruh keluarga kembali berkumpul di meja makan seperti biasanya. Namun kali ini ada yang berbeda—kursi Djiwa kosong, dan ketidakhadirannya terasa begitu mencolok di antara riuh rendah suara sendok garpu.
Satu keluarga sama-sama memiliki sikap dingin dan cuek. Tak ada satupun yang memiliki sikap ceria, kecuali Djiwa. Tapi sayang, gadis itu tidak memiliki banyak kesempatan bicara daripada anggota keluarga yang lain.
“Di mana istri kamu, Kai?” tanya Sekar pada putra bungsunya, melirik Kaisar penuh.
Kaisar sedikit tersentak ketika sang ibu bertanya padanya dengan nada dingin. “Mungkin udah makan lebih dulu, Mi.”
“Mungkin?” ujar Sekar skeptis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Hm,” sahut Kaisar singkat—melanjutkan makan malamnya dengan tenang.
“Kamu ini suami, tapi lembek ya, Kai?” sindir Sekar, nadanya halus tapi sengatannya tajam.
Bagian ini selalu menjadi momen yang paling dibenci Kaisar. Setiap kali ibunya mulai berbicara seperti itu, perutnya terasa menegang.
Bukan hanya karena kata-katanya menohok, tapi karena dua kakaknya yang duduk tak jauh darinya seakan menjadi saksi bisu betapa ia selalu menjadi anak yang kurang di mata sang ibu.
Perhatian ibunya lebih banyak tercurah pada kakak-kakaknya. Dan sekarang nasib pernikahannya pun dianggap sebagai kegagalan yang sepenuhnya salahnya.
Termasuk punya istri seperti Djiwa.
Istri yang menurut ibunya lahir dari keluarga melarat. Berpendidikan rendah. Sampai sering diperlakukan seperti pembantu oleh istri kakak-kakaknya.
Gadis itu selalu menurut, selalu diam, membuatnya terlihat semakin memalukan dibandingkan kedua kakaknya yang memiliki istri dari keluarga berada.
Tangan Kaisar mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Raut wajah kesal itu berusaha ia sembunyikan, namun sulit saat Sekar belum selesai berbicara.
“Kamu itu kepala rumah tangga dalam pernikahan kamu,” lanjut Sekar tenang, “Mengurus satu istri saja kamu tidak becus. Belajarlah dari kakak-kakakmu ini.”
Kedua kakak yang dimaksud—Radja dan Sultan, hanya melirik ke arah sang adik sekilas sebelum melanjutkan kembali makan malam mereka.
Sementara kedua kakak iparnya—Inggrit dan Fairish, hanya diam tanpa menanggapi, jelas tampak menahan napas jika sudah membuka obrolan sensitif ini.
Kaisar menunduk sedikit, rahangnya mengeras.
“Iya, Mi,” sahutnya singkat, suaranya datar.
Lima belas menit kemudian, makan malam selesai.
Satu per satu anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan istirahat setelah lelah bekerja setengah hari ini—termasuk Kaisar.
Saat pria itu mendorong pintu kamarnya, pandangannya langsung jatuh pada sosok Djiwa yang sedang duduk di sofa, menatap ponsel sambil berusaha menenangkan pikirannya sendiri.
Langkah Kaisar terdengar tegas dan berat. Tanpa satu kata pun, ia meraih ponsel dari tangan Djiwa dan melemparkannya ke lantai. Suara pecahan memenuhi ruangan.
PRANG!
“Mas …!” Djiwa terlonjak, tubuhnya spontan bangkit duduk. Matanya membesar, napasnya tercekat.
“Ya ampun, Mas. Kamu kenapa?” suaranya pelan, nyaris berbisik.
Kaisar tidak menjawab. Wajahnya datar, tetapi matanya gelap, dipenuhi amarah dingin yang membuat udara kamar terasa menyesakkan.
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya, lalu melemparnya ke pangkuan Djiwa.
“Temui pria itu,” ucapnya, suaranya rendah namun tajam. “Dan tidur dengan dia sampai kamu hamil.”
Bab 4
“Mas ...,” lirih Djiwa sembari bangkit dari duduknya, tangannya yang gemetar meraih kartu nama itu. “Kenapa harus bahas ini lagi, sih, Mas?”
“Kenapa?” tatapan Kaisar semakin tajam. “Oh ... jadi kamu pikir ucapan aku tadi pagi itu cuma main-main? Kamu pikir aku cuma gertak kamu soal biaya rumah sakit kakek kamu, huh?”
Djiwa menunduk, jemarinya meremas kuat kartu nama itu sampai hampir kusut.
“Mas, tapi … Djiwa gak sanggup,” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Djiwa gak bisa ngelakuin hal kayak gitu.”
Kaisar mendekat, langkahnya tenang namun mengancam hingga tak ada jarak di antara mereka.
“Kamu harus sanggup,” ujarnya dingin. “Karena kamu gak punya pilihan.”
Djiwa mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. “Mas … tolong. Jangan paksa Djiwa kayak gini. Kalau soal biaya rumah sakit, Djiwa—”
“Berhenti.”
Satu kata, namun cukup untuk membungkamnya.
Kaisar menatapnya lama, tajam, seolah menembus ke dalam dada Djiwa yang sudah sesak sejak tadi.
“Kamu mau tahu kenapa aku terus bahas ini?” suaranya merendah, lebih dingin daripada sebelumnya.
“Menurut kamu, salah siapa Mami selalu merendahkan aku di depan Mas Sultan ataupun Mas Radja?” lanjutnya.
Kaisar menunjuk dadanya sendiri dengan ujung jari, napasnya memburu.
“Aku yang dipermalukan, Wa. Aku yang selalu dikritik Mami. Setiap kali kita duduk di meja makan, cuma aku yang dibedah habis-habisan.”
Nada suaranya merendah, bukan lembut—melainkan getir.
Tangan Kaisar terangkat lagi, menunjuk istrinya sendiri. “Lalu, bisa-bisanya kamu nggak hadir di meja makan malam ini? Kamu sengaja mempermalukan aku, Wa.”
Tatapannya turun perlahan, lalu menusuk tepat ke wajah Djiwa.
“Jadi, gak usah protes. Lakuin perintah aku,” gumamnya penuh tekanan. Telunjuknya bergerak maju, menempel di dada Djiwa dengan keras.
“Hamil segera. Itu satu-satunya cara untuk menebus semua rasa malu yang ditanggung suami kamu selama ini.”
_____
“Bener ya, kata Mbak Inggrit, kamu tuh multifungsi,” ujar Fairish sambil terkekeh, matanya mengunci pada Djiwa yang tengah fokus menyetrika blazer miliknya.
“Gak perlu rekrut banyak-banyak pembantu. Cukup kamu aja di rumah ini, semua sudut pasti rapi dan bersih.” Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi isi kalimatnya justru menghina.
Djiwa, yang sudah terbiasa menjadi sasaran hinaan dan cemohan itu, tidak menanggapi. Begitu selesai, ia mematikan setrikaan dan merapikan kabelnya.
“Sudah selesai, Mbak,” ucapnya datar—netral tanpa sisa perasaan, bahkan tak menoleh sedikit pun pada Fairish.
“Oh ya? Sini coba lihat.”
Fairish meraih blazer-nya, memeriksanya seolah mencari kesalahan. Detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat sinis.
“Tuh, kan. Masih ada yang gak rapi, Djiwa. Aku tuh gak suka ada yang minus. Ini, setrikanya yang bener, dong! Gimana sih kamu.”
Blazer itu kembali ia lemparkan ke meja. Djiwa tak bergerak, hanya menatap—bukan membantah, bukan pula takut, lebih seperti tidak bisa lagi merasakan apapun.
Tatapan itu justru membuat Fairish tersinggung.
“Kenapa lihat aku kayak gitu, hah?” matanya melotot tajam.
Kedua tangannya terlipat di dada, tubuhnya condong ke depan. “Gak ikhlas kamu nyetrikain blazer aku, iya?”
Djiwa membuka mulut, hendak menjelaskan, tapi—
“Fairish!”
Suara Sultan memotong tegangnya udara. Dari ambang pintu, suaminya mengisyaratkan ketidaksabaran. “Buruan, nanti saya telat!”
Djiwa ikut menoleh, melihat ke arah Sultan yang menatapnya dengan tajam. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menunduk semakin dalam.
“Iya!” sahut Fairish, kesalnya jelas. Tapi kemarahannya tidak diarahkan pada Sultan—justru untuk Djiwa yang membuat harinya buruk.
Wanita itu menunduk meraih blazernya yang tadi dia lemparkan dan menjadi kusut lagi, lalu menyeringai dingin.
“Awas ya kamu, Wa.”
Ia pun pergi, meninggalkan ancaman menggantung di udara.
Djiwa masih menunduk, sampai Fairish tak lagi terdengar. Baru setelahnya Djiwa bergerak untuk melakukan tugas selanjutnya.
Hari masih pagi, tapi Djiwa sudah punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Djiwa harus membantu ibu mertuanya bersiap-siap seperti biasa. Terutama untuk mengingatkan Sekar minum obat sebelum sarapan.
Tok. Tok.
Djiwa mengetuk pintu kamar Sekar dua kali, hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras. Nampan berisi obat dan segelas air hangat ia pegang dengan kedua tangan.
“Masuk.” Suara Sekar terdengar tegas dari dalam.
Djiwa segera memutar kenop pintu dan membuka perlahan. Ibu mertuanya itu sudah rapi, duduk di depan meja rias sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
“Minum obatnya dulu, Mi,” ucap Djiwa lembut, meletakkan nampan di atas nakas dengan sangat hati-hati.
Sekar menoleh—tatapan dingin, menyapu Djiwa dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu mengulurkan segelas air hangat beserta obatnya.
“Ke mana kamu semalam?” suara Sekar pelan tapi sarat tuduhan. “Kenapa tidak ada di meja makan?”
Djiwa merasakan tenggorokannya mengering. Dia teringat amarah Kaisar semalam karena ketidakhadirannya di meja makan.
“Maaf, Mi. Semalam Djiwa kurang enak badan, jadi gak ikut makan malam bersama.”
Ia tidak menambahkan apa pun. Ia tahu percuma. Sekar tidak suka penjelasan panjang, dan tidak akan percaya apa pun yang keluar dari mulutnya.
Sekar menyerahkan gelas kotornya setelah menelan obat tanpa menoleh.
Djiwa segera mengambilnya dengan sigap, meletakkannya di atas nampan yang sejak tadi ia taruh di nakas samping ranjang.
Djiwa tetap di sana. Tugasnya belum selesai. Ia berdiri di belakang Sekar, menyisir rambut panjang ibu mertuanya perlahan, membentuk sanggul rapi.
“Sudah selesai, Mi,” ujar Djiwa lembut setelah menyelesaikan sanggul dan memasang konde.
Ketika Djiwa hendak melangkah keluar, Sekar menahan.
“Ambilkan tongkat saya.”
Djiwa segera mengambil dan menyerahkan tongkat itu sebelum membantu ibu mertuanya berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
Gadis itu berjalan di sisi kiri, satu tangan membawa nampan berisi gelas kotor, satu tangan lagi menuntun lengan Sekar agar tidak terpeleset.
Namun saat langkah mereka mendekati meja makan, Sekar menepis kasar tangannya.
“Jangan sentuh saya. Nanti kamu sengaja mendorong saya supaya jatuh,” ucap Sekar sinis, nadanya cukup keras untuk membuat semua orang di meja menoleh.
Semua tatapan tajam langsung mengarah pada Djiwa—membuatnya terpaku, wajahnya memucat.
“Maaf, Mi,” lirihnya pelan, sebelum menarik kursi untuk ibu mertuanya duduk.
Usai sarapan, meja makan mewah itu kembali hening. Anggota keluarga lain segera pergi, sebagian bersiap berangkat kerja. Hanya Djiwa yang tersisa.
Gadis cantik yang berstatus Nyonya rumah itu harus melanjutkan rutinitas wajibnya. Tadi pagi memasak diserahkan pada pembantu, sekarang dia mengambil alih tugas cuci piring.
Djiwa menyingsingkan lengan baju, membenamkan tangan ke air sabun. Membersihkan sisa santapan dari keluarga yang selalu merendahkannya.
Saat semua pekerjaan dapur selesai, dan Djiwa hendak kembali ke kamarnya, ia baru teringat—hari ini hari Jumat. Hari di mana ia selalu membantu ibu mertuanya memotong kuku.
Semua tugas yang berhubungan dengan Sekar memang membuatnya tertekan. Djiwa menarik napas, meyakinkan dirinya untuk bisa melakukan pekerjaan ini.
Ia segera mengambil alat pemotong kuku dan melangkah menuju ruang tengah.
Di sana, Sekar duduk di single sofa, membaca majalah fashion batik dan kebaya.
Inggrit berada di sebelahnya, menggendong bayinya yang berusia enam bulan, sementara Anggita—putri sulung Inggrit, sedang bermain di karpet.
“Mi, hari ini Mami potong kuku,” ucap Djiwa lirih, mendekat dengan hati-hati.
Sekar hanya melirik sekilas, acuh, tapi mengulurkan tangan kanannya. Djiwa duduk bersimpuh di bawah, mulai memotong kuku itu perlahan, penuh kehati-hatian.
Langkah sepatu mahal terdengar mendekat. Radja muncul dari arah belakang punggung Djiwa, aura tegasnya memenuhi ruangan.
“Papa!” seru Anggita riang.
Radja hanya mengangkat alis singkat pada putrinya, sebelum ikut bergabung di sofa. Duduk di sebelah sang istri yang tengah menyusui sang anak menggunakan botol.
Tatapan pria itu tertuju pada anak sulungnya yang bermain di karpet sebelum beralih pada Djiwa yang duduk bersimpuh di lantai, seraya memotong kuku sang ibu.
Klak.
“AKH!”
Sekar menjerit kecil. Kaget. Refleks tangannya mendorong dahi Djiwa.
BRAK.
Djiwa terjengkang ke belakang, terduduk dengan mata melebar. Pemotong kuku terlepas dari tangannya.