Bab 6

"Pergi, ikut aku pulang sekarang juga!" Begitu keluar pintu, Isyana langsung menarik Arlo pulang.

Rayanza berpikir sebentar, lalu cepat-cepat berkata kepada pengawal, "Cepat, bawa mobilku dari parkiran dan antarkan untuk Pak Arlo!"

Pengawal sempat termangu. Itu adalah Rolls-Royce yang baru datang hari ini. Tadi juga baru dipakai ketika menjemput Rayanza di bandara.

Pengawal buru-buru mengejar keluar, tetapi bayangan Arlo sudah tak kelihatan. Akhirnya, mereka hanya bisa kembali dengan canggung.

Rayanza hendak marah. Namun, Leonard tersenyum sambil berkata, "Kalian pasti akan bertemu lagi nanti."

....

Mobil Isyana memang sempat ditabrak, tetapi hanya bodi luarnya yang rusak sehingga masih bisa dikendarai.

"Naik!" Setelah mengambil mobil, Isyana langsung mendorong Arlo masuk. Mobil melaju kencang. Isyana terus melirik Arlo dari ekor matanya.

Saat ini, Arlo membuatnya merasa begitu asing. Namun, mungkin bagi Isyana, sejak awal Arlo memang selalu asing.

Ketika Arlo dibawa ke Keluarga Hanafi, dia hanyalah seorang penderita gangguan jiwa yang sudah hilang akal.

Waktu itu, semua informasi yang Isyana dapatkan tentang Arlo hanya sedikit dan biasa-biasa saja.

Seorang mahasiswa tingkat akhir yang keluarganya terkena musibah menjelang kelulusannya. Kedua orang tuanya dibunuh oleh perampok yang masuk ke rumah.

Karena kehilangan ayah ibu dalam semalam, Arlo tidak sanggup menanggung pukulan itu dan akhirnya mengalami gangguan mental.

Selama tiga tahun setelah menikah, Isyana lebih sering memperlakukan Arlo seperti idiot yang perlu dirawat.

Namun, kini idiot itu tiba-tiba berubah, menjadi seorang pemuda penuh percaya diri dan tenang.

Melihat Arlo melindungi dirinya, melihat Arlo berdiri di depan Rayanza sang konglomerat tanpa merasa rendah diri, melihat Arlo berbicara lugas di hadapan dokter besar, semua itu membuat perasaan Isyana campur aduk dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran terkenal di kota. Isyana buru-buru merias sedikit wajahnya di dalam mobil. Dengan wajah yang memang sudah cantik, seketika pesonanya tambah menggoda.

Arlo sampai terpana melihatnya, benar-benar wanita yang memikat!

"Banyak tamu di pesta ulang tahun pamanmu?" tanya Arlo tiba-tiba.

Isyana menggigit bibirnya. "Bukan pesta besar, nggak undang terlalu banyak orang. Kalau kamu nggak mau ikut, boleh saja."

Arlo tersenyum getir. "Takut aku bikin kamu malu?"

"Bukan!" Ekspresi Isyana sedikit berubah, tetapi dia tidak menjelaskan.

"Soal pernikahan kita, aku tahu kamu dipaksa. Kalau kamu ingin cerai, aku setuju," ujar Arlo setelah berpikir sejenak.

Dia tidak merasa ada yang kurang dari Isyana. Wanita ini cantik. Bahkan demi janji pada ayahnya, wanita ini rela menikah dengannya serta merawatnya selama tiga tahun. Benar-benar wanita yang langka. Namun, dia juga tidak mau memaksa.

Isyana langsung membuka pintu dan turun dengan ekspresi dingin. Arlo pun tidak mengerti maksudnya apa.

Namun, Isyana tidak masuk, malah berdiri di depan pintu restoran. Jelas-jelas dia menunggu Arlo. Memang hati wanita sulit dimengerti!

Arlo tersenyum pahit, lalu ikut turun dan masuk bersamanya. Mereka dibawa ke ruang VIP di lantai dua. Dua meja bundar besar sudah penuh dengan kerabat.

Ayah mertua, Victor, dan ibu mertua, Renata, duduk di salah satu meja. Begitu melihat Arlo, wajah Renata langsung terlihat tidak senang.

Isyana menuntun Arlo menyapa para senior satu per satu. Arlo tidak mengenal siapa-siapa. Dia hanya bisa mengikuti panggilan Isyana dan terlihat agak kikuk.

Kerabat-kerabat itu pun menunjukkan tatapan mengejek. Semuanya bersikap dingin pada Arlo.

Victor tersenyum ramah dan melambaikan tangan, mengisyaratkan Arlo duduk di sampingnya. Isyana lalu duduk di sebelah ibunya.

Meja itu dipimpin oleh paman dan bibi Isyana. Sebenarnya pamannya yang ulang tahun hari ini, tetapi yang sibuk berkeliling untuk bersulang justru menantunya, Graha.

Graha berusia sekitar 30-an tahun. Penampilannya terlihat sangat kaya, sementara gaya bicaranya khas orang-orang di dunia bisnis.

"Terima kasih sudah hadir di ulang tahun ayah mertuaku. Aku akan minum dulu untuk menghormati kalian semua!" kata Graha sambil menghabiskan segelas anggur. Dia tampak sangat bersemangat.

"Graha, bisnismu sekarang besar, jangan lupa bantu-bantu kami juga ya!"

"Ya, kudengar proyek yang kamu kerjakan itu proyek Keluarga Soraya."

"Kamu sudah bisa kerja sama dengan keluarga konglomerat. Meskipun hanya dapat sedikit, itu sudah cukup buat kasih makan kami beberapa generasi!"

"Nanti kalau sudah makin sukses, jangan lupakan kerabatmu yang masih miskin ini ya!"

"Hahaha. Aku ini cuma kontraktor kecil yang kerja susah payah buat dapat uang. Kalian terlalu memujiku," sahut Graha, tetapi ekspresinya jelas tak bisa menyembunyikan rasa bangga.

Sebagian besar tamu memang kelas pekerja, kecuali Graha. Hanya Victor yang bisa dihitung pengusaha.

Namun, usaha Keluarga Hanafi hanya di bidang perkebunan obat, Victor orangnya juga baik hati, jadi bisnis dikelola bersama keluarga. Keuntungannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan pengusaha besar.

Orang-orang pun ramai-ramai memuji Graha. Paman dan bibi Isyana juga ikut senang. Jika menantu sukses, mereka juga ikut bangga.

Terutama bibinya, yang sejak menikah selalu tak akur dengan Renata. Dulu Renata sering membanggakan anak perempuannya yang cantik bisa menikah dengan anggota keluarga kaya, juga menyindirnya. Namun, sekarang ternyata Isyana menikah dengan orang sakit jiwa.

Sementara itu, anak perempuan bibi Isyana justru menikah dengan pria mapan, yang punya status dan uang. Tatapan penuh kemenangan itu terus menantang Renata.

Wajah Renata sampai memucat. Dia menunduk ke arah Isyana sambil berbisik dengan sinis, "Pintar sekali bicara omong kosong! Cuma dapat satu proyek penghijauan Keluarga Soraya, itu pun paling cuma ketemu manajer proyek beberapa kali. Berani-beraninya pamer. Nggak takut lidah keseleo ya!"

Isyana mengusap kepalanya yang terasa pusing, tak menjawab. Victor mengambilkan beberapa potong daging merah untuk Arlo. Arlo pun makan dengan lahap.

Melihat sikap keluarganya seperti ini, Renata semakin kesal. Terutama melihat Arlo, semakin dilihat semakin tidak suka.

Graha menjadi pusat perhatian. Sementara Arlo, jangankan sukses, bisa sembuh dari sakit jiwa saja sudah seperti keajaiban. Perbandingan ini membuatnya merasa sangat getir!

Bibi Isyana, Yulia, melihat Renata gelisah. Dia pun tersenyum penuh kemenangan. "Kak, penyakit Arlo 'kan merepotkan sekali! Mau kerja juga pasti sulit, mana ada orang mau terima!"

"Tapi Graha seorang kontraktor, dia nggak keberatan soal ini. Gimana kalau Arlo kerja di tempatnya saja? Kalau ditanggung keluarga terus 'kan juga nggak baik."

"Bu, bukannya aku nggak sopan, tapi ide ini nggak bisa dijalankan. Sekarang pengawasan ketat, jadi orang sakit nggak bisa diterima kerja." Graha tersenyum sambil menolak secara halus.

"Oh, bahkan jadi kuli pun nggak bisa ya!" Yulia mendengus dengan nada menyindir.

Isyana tidak suka Arlo dipermalukan, jadi berkata, "Arlo sudah sembuh kok."

"Sembuh?" Semua orang ragu, tampak tak percaya dan menganggap Isyana hanya membela suaminya.

Arlo juga tidak menjelaskan banyak, hanya tersenyum.

Victor pun menimpali, "Kalau begitu, hari ini sungguh hari baik. Kakak Ipar ulang tahun dan menantuku sembuh! Ayo, ayo, kita minum untuk merayakan!"

Renata menggertakkan gigi, kesal dengan sikap suaminya yang selalu meredam.

Graha menyeringai. "Kalau sudah sembuh, artinya harus kerja! Pria harus menafkahi keluarga. Benar 'kan, Arlo?"

Arlo hanya mengangguk ringan.

"Kita ini ipar, harus saling bantu! Kalau jadi kuli jelas nggak pantas. Kebetulan aku ada proyek di utara Mianar. Lagi butuh seorang penanggung jawab. Gimana, Arlo? Setahun bisa dapat 1 miliar dengan mudah!" kata Graha dengan gaya dermawan.

Victor mengernyit, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Arlo sudah menyipitkan mata dan tertawa. "Aku dengar di sana lumayan kacau. Banyak yang tergoda gaji tinggi, lalu ternyata diculik buat diambil organnya. Kakak Ipar, kamu mau jual aku ke sana?"

Bab 7

Begitu kalimat itu keluar, barulah semua orang percaya bahwa Arlo memang sudah sembuh, bahkan cara berbicaranya juga cukup tajam!

Victor langsung girang. Dia menggenggam tangan Arlo erat-erat, tidak mau melepaskannya untuk waktu yang lama.

Renata juga sempat senang, tetapi segera merasa biasa saja. Meskipun Arlo sudah sembuh, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan menantu orang lain yang kaya raya.

Arlo menyadari bahwa ayah mertuanya ini memang tulus padanya.

Di sisi lain, wajah Graha menjadi masam. Sementara itu, Yulia menyindir dengan nada tajam, "Kamu ngomong apa sih? Kakak iparmu beli mobil saja harganya 1,6 miliar. Kalau kamu dijual, memangnya bisa laku berapa?"

Arlo mengangkat bahu. "Aku ini cukup berharga kok. Dua ginjal dan satu jantung. Paling nggak bisa laku miliaran. Siapa tahu Kak Graha jadi kalap karena lihat uang!"

"Graha bikin proyek kecil saja sudah dapat miliaran!"

"Bu, ngapain juga ribut sama orang sakit jiwa?"

"Cara bicara Arlo betul-betul nggak sopan!"

"Kalau bukan karena kerabat, mana ada orang mau kasih dia kesempatan emas begitu?"

"Nggak mau kerja, penakut pula! Meskipun sembuh, aku rasa dia juga nggak bakal ada masa depan!"

Para kerabat ramai-ramai mencibir.

Ekspresi Isyana menjadi dingin. Setiap kata mereka seperti tamparan di wajahnya. Namun, ini ulang tahun pamannya. Dia berusaha keras menahan amarahnya supaya tidak meledak.

Sementara itu, wajah Renata sudah benar-benar masam. Kalau bukan karena Victor yang menahan, mungkin dia sudah bangkit dan memaki.

Sesaat, ekspresi Victor juga terlihat murka. Namun, dia segera meredam dan berkata dengan tenang, "Keluarga Hanafi masih sanggup menghidupi satu orang, kalian nggak usah repot-repot!"

Graha tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, baiklah, salahku terlalu ikut campur! Tapi Arlo, aku sudah berniat baik mau membantumu. Kalau kamu pengecut, terserah. Tapi soal ucapanmu tadi, harusnya kamu minta maaf padaku, 'kan?"

Arlo pun marah. Demi ayah mertuanya, tadi dia sudah menahan diri, tetapi Graha ini benar-benar kelewatan.

Tiba-tiba, pintu ruang VIP ditendang dari luar. Tujuh sampai delapan preman langsung berhamburan masuk.

Graha murka dan hendak memaki, "Siapa yang begitu kurang ajar ...."

Belum selesai berbicara, Graha langsung ditampar keras.

"Masih berani sok kaya? Utang saja belum dibayar!"

Begitu melihat siapa yang datang, seketika kaki Graha melemas. Kesombongannya hilang. Dia pun tergagap. "Kak ... Kak Sam ...."

"Dasar berengsek! Di Kota Naldern ini, nggak ada orang berani nunggak utang sama aku!" Seorang pria gemuk dengan rambut dikepang, maju dan menampar Graha berkali-kali.

Yulia ketakutan, tetapi masih berpura-pura berani. "Kalian jangan macam-macam ya! Graha bukan orang bisa kalian usik!"

Sam melangkah maju, lalu meraih sepotong paha ayam. Setelah menggigitnya dua kali, dia melemparkannya ke meja, membuat piring dan mangkuk berdenting.

"Cih! Nggak enak sekali!" Dia meludahkan daging berlemak itu tepat ke wajah Yulia, lalu mengejek, "Pak Faris menolongnya, meminjamkan 6 miliar dengan bunga bank, eh dia malah lari dari utang. Bukannya suruh bayar, malah bilang dia orang yang nggak bisa diusik?"

"Mau nakut-nakutin aku ya?" Sam tampak murka. Kemudian, dua tamparan keras mendarat di wajah Yulia.

"Nggak bisa disentuh? Sialan! Sekarang aku tampar kamu juga, coba tanya si Graha berani bersuara nggak?"

Graha tak bisa bergerak, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Yulia langsung menangis dan meraung.

Kerabat lain semuanya hanya orang biasa, mana pernah melihat kejadian begini. Satu per satu pun membeku ketakutan.

Arlo memilih diam karena itu adalah utang resmi berbunga bank. Orang yang berani meminjam, tetapi tidak membayar memang pantas dipukul.

Renata sampai pucat pasi. Victor mengernyit, akhirnya tak kuasa berkata, "Mau nagih boleh, tapi jangan main tangan dong!"

Sam meraih botol anggur, lalu melemparkannya ke arah Victor. "Dasar tua bangka, berani banyak omong ...."

Botol melayang. Isyana pun ketakutan, sementara semua orang membeku. Namun, botol itu tiba-tiba ditangkap oleh sebuah tangan yang putih bersih.

Arlo menggenggam botol dengan tatapan dingin. Dia bisa mengabaikan kalau orang lain yang diusik, tetapi kalau menyentuh Victor, itu tidak bisa ditoleransi!

"Pakai botol ini buat hantam kepalamu sendiri, lalu pergi! Dengan begitu, aku maafkan kamu!" Suara Arlo datar. Dia meletakkan botol di depan Sam.

Semua orang terdiam! Si bodoh tidak tahu betapa berbahayanya preman lokal seperti mereka ya? Di saat begini berani berbicara seperti itu, entah nekat atau gila!

Sam malah tertawa. "Kamu tahu aku siapa? Beraninya bersikap sombong di depanku!"

"Nggak tahu." Arlo menggeleng.

"Aku anak buah Pak Faris!" Wajah Sam penuh keangkuhan, seolah-olah menyebut nama besar.

"Siapa itu Faris?" Arlo memang tidak tahu.

Sam tertawa lagi. Faris saja tidak kenal, tetapi berani melawannya.

Graha ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. "Arlo, jangan ngawur! Bisnis urukan tanah di Kota Naldern, hampir semua dikuasai Pak Faris!"

Yang lain memang tidak paham, tetapi begitu disebut penguasa bisnis urukan tanah, semua pun sadar. Itu adalah bisnis yang persaingannya keras dan bisa mendapatkan banyak uang. Bisa menjadi penguasa di bisnis seperti itu sudah pasti adalah sosok besar yang punya koneksi ke polisi dan mafia.

Victor menggeleng pada Arlo, memberi isyarat agar jangan mencari masalah.

Melihat semua orang gentar, Sam menyeringai. Dia menunjuk Victor, lalu menunjuk Isyana. "Takut, 'kan? Kalau begitu, cepat berlutut. Kalau nggak, malam ini kubuat tua bangka ini cacat dan wanita ini jadi mainanku!"

Di mata Arlo berkobar amarah. Orang tuanya mati tragis, sementara dirinya hanya bisa berduka dari jauh karena kuliah di luar kota. Kini, setelah berlatih susah payah selama tiga tahun, dia bertekad akan melindungi orang-orang yang berarti baginya.

Meskipun harus menghadapi Faris, apalagi hanya kacungnya, dia tak akan gentar!

Tanpa melontarkan sepatah kata pun, Arlo bangkit, meraih botol, lalu menghantam kepala Sam. Darah segar langsung mengucur di wajah si preman.

Gerakannya tak berhenti. Setengah botol yang pecah itu langsung dibalikkan. Dia hendak menikam dada Sam.

Aksi nekat itu membuat Sam kaget dan buru-buru mundur ketakutan. Anak buahnya cepat-cepat maju, tetapi Arlo seperti orang gila yang menyabet kiri dan kanan dengan pecahan botol.

Dalam sekejap, tujuh hingga delapan preman terkapar. Masing-masing berlumuran darah. Semua kerabat pun terperangah dan menarik napas dalam-dalam.

Arlo tidak berhenti. Dia sontak menyerbu ke hadapan Sam dan langsung meraih kerah bajunya. Di saat berikutnya, dia menempelkan pecahan botol berdarah itu ke wajah Sam.

"Ayo, ulangi ancamanmu barusan!"

Tatapan bengis Arlo membuat Sam gemetar. Dia merasa anak ini benar-benar berani membunuhnya.

"Bocah, Kak Faris ...." Sebelum selesai berbicara, kaca sudah menusuk pipinya. Rasa sakit membuat Sam berteriak.

"Aku tahu si Faris mungkin tokoh besar, tapi memangnya kenapa? Sekalipun dia berdiri di sini, tetap harus minta maaf pada ayah mertua dan istriku! Apalagi kamu cuma kacung!" Niat membunuh Arlo membara.

Sam langsung panik, teringat para pembunuh berdarah dingin yang pernah ditemuinya. Dia takut!

"A ... aku minta maaf! Maaf! Aku cuma asal ngomong! Anggap saja aku kentut! Jangan bunuh aku!"

Victor dan Renata saling memandang, tak menyangka Arlo menjadi begitu berani setelah sembuh!

Menantu mereka melindungi mereka seperti ini. Mana mungkin hati mereka tidak tersentuh? Apalagi barusan, saat Yulia dipukul, Graha malah tidak berani bersuara.

Victor buru-buru menarik Arlo. "Arlo, cukup! Jangan bersikap perhitungan dengan orang seperti ini."

Arlo pun melepaskan cengkeramannya. Sam langsung terhuyung dan berlari terbirit-birit.

"Bawa pergi semua anjingmu!" hardik Arlo.

Para anak buah yang berlumuran darah pun keluar dengan menyeret tubuh masing-masing.

Dalam sekejap, ruang VIP kembali sunyi dan hanya berisi keluarga serta kerabat. Semua orang tertegun menatap Arlo, tak ada yang berani berbicara untuk waktu yang lama.

Bab 8

"Pesta hari ini sudah selesai. Semua sudah boleh pulang," ucap Victor dengan suara dalam, menatap ruangan yang berantakan.

Selesai berbicara, dia langsung menarik Arlo bersama istri dan anak perempuannya keluar. Yang lain pun buru-buru pamit dan pergi dengan tergesa-gesa. Yang tersisa hanya ruangan penuh kekacauan dan keluarga Yulia yang masih terisak-isak.

....

Dalam perjalanan pulang, Renata melotot ke arah Arlo. "Barusan kamu tahu itu orang-orang apa? Kok berani main tangan segala?"

"Arlo cuma mau lindungi aku!" Victor berdeham, mencoba menengahi.

"Graha saja ketakutan setengah mati, memangnya Arlo bisa apa? Isyana kerja di rumah sakit. Kalau sampai dimusuhi preman kayak begitu, dia bisa kena masalah!"

Semakin berbicara, Renata semakin kesal. Setelah kesombongan sirna, yang tersisa hanya rasa takut. Semua kesalahan pun ditimpakan pada Arlo yang dianggap gegabah.

Arlo tetap tenang. "Mereka nggak bakal berani macam-macam. Isyana itu istriku, aku pasti jagain dia."

Renata kesal sampai menepuk sandaran kursi. "Kamu ini baru sembuh. Bukannya belajar yang baik, malah belajar membual!"

"Sudah, sudah, jangan dibesar-besarkan! Suruh saja sepupumu yang jadi kepala kepolisian itu bantu ngomong sama Faris!" Victor mencoba menengahi lagi.

Wajah Renata langsung memerah. "Kamu pikir gampang? Dia orang yang selalu ambil untung. Kalau minta dia bantu ngomong, entah harus habis berapa! Semua gara-gara kamu. Isyana secantik itu, nikah sama siapa saja bisa, tapi dulu kamu maksa dia nikah sama Arlo. Sekarang Arlo baru sembuh, tapi bukannya mikir ke depan, malah cari masalah!"

"Bukan salah dia sepenuhnya!" Tiba-tiba, Isyana bersuara.

Melihat putrinya membela Arlo, keduanya pun terdiam. Arlo sendiri tidak berbicara banyak. Dengan warisan Kitab Surgawi Pengobatan Medis, dia yakin ke depannya, baik uang, kekuasaan, ataupun status, semua bukan masalah baginya.

Apalagi hanya seorang preman penguasa bisnis urukan tanah. Orang seperti itu sama sekali tidak pantas dia pedulikan. Hanya saja, hal-hal itu tidak bisa dia jelaskan sekarang.

Suasana di mobil pun menjadi canggung, janggal, dan sunyi. Tak ada lagi yang berbicara sampai mobil melaju kencang menuju rumah keluarga Victor.

Keluarga mereka tinggal di sebuah kompleks kelas menengah atas di Kota Naldern bagian selatan. Bukan vila mewah, tetapi rumah dengan empat kamar dan dua ruang tamu yang sudah cukup luas dan nyaman.

Begitu masuk, Renata dan Isyana langsung menuju kamar masing-masing. Di ruang tamu tersisa Arlo dan Victor berdua.

Victor menggenggam tangan menantunya. "Sekarang kamu sudah sembuh, akhirnya aku bisa kasih jawaban ke almarhumah ibumu."

Dia menunduk sedikit, wajahnya penuh rasa bersalah. "Waktu itu ayah dan ibumu pergi mendadak, aku cuma kepikiran bawa kamu tinggal sama kami. Bagaimanapun, saat itu aku orang luar. Jadi rumah peninggalan orang tuamu dan urusan perusahaan, semua diambil alih paman keduamu."

Arlo mengangguk. "Aku ngerti kok. Harta juga nggak seberapa. Paling cuma ada barang peninggalan yang menjadi kenangan. Nanti aku ambil dari pamanku saja."

Victor ingin berbicara lebih banyak, tetapi akhirnya menahan diri. Sesuatu yang sudah masuk mulut harimau mana bisa keluar lagi. Dengan kondisi Arlo yang baru pulih, dia tidak tega membahas lebih jauh.

"Ya, yang penting kamu bisa ikhlas. Ke depannya, jalani hidup baik-baik sama Isyana. Isyana orangnya cuek, kamu harus lebih sabar. Kalau bisa, cepat kasih aku cucu!"

Wajah Arlo langsung merah padam, tetapi dalam hatinya muncul rasa haru. Renata bersikap dingin padanya, tetapi Victor tulus menganggapnya anak sendiri.

"Ya sudah, malam udah larut. Kamu istirahat saja!" kata Victor, lalu mendorong Arlo ke kamar Isyana.

"Eh ...." Arlo masih ingat selama ini dia dan Isyana tidur terpisah. Apa maksud mertuanya ini?

"Apa lagi? Kamu sudah sehat, cepat kasih aku cucu!" ujar Victor sambil langsung mendorongnya masuk ke kamar.

Isyana yang hendak melepaskan pakaian untuk mandi pun terkejut mendengar pintu kamar terbuka. Belum sempat mengenakan kembali pakaiannya, Arlo sudah didorong masuk.

Di depan matanya langsung tampak kulit putih mulus yang sebagian besar terbuka. Hanya tersisa pakaian dalam tipis menempel di tubuh ramping itu.

"Cepat balik badan!" Wajah cantik Isyana langsung memerah.

"Oh!" Arlo buru-buru membalikkan badan. Namun, suara gesekan kain di belakang punggungnya membuat tenggorokannya mendadak terasa kering ....

Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya