Bab 1

Arlo mendapat warisan dari seorang dewa. Begitu kesadarannya bangkit, dia bagaikan naga yang terbang menembus langit!

Satu tangan menguasai ilmu medis yang bisa menyembuhkan orang sekarat dan menyambung tulang yang hancur. Para pejabat dan orang kaya pun harus tunduk di hadapannya!

Satu tangan lagi menggenggam pedang maut, mampu membelah langit dan membuat para jawara dunia takluk!

Sejak saat itu, ditemani wanita cantik dan saudara seperjuangan yang selalu mengikuti, dia pun melangkah bebas, menikmati gemerlap kota metropolitan ....

Di kamar mayat Rumah Sakit Sentosa Kota Naldern.

Arlo Antasari meletakkan kedua tangannya di dada jenazah seorang perempuan, melakukan gerakan memijat.

"Untung kamu belum benar-benar mati dan kebetulan bertemu aku yang hari ini memperoleh warisan ilmu. Kesadaranmu akan terbuka kembali!"

"Dari tiga jiwamu, sudah lenyap dua. Dari tujuh rohmu, sudah lenyap empat. Ini sama seperti aku sedang merebut orang dari tangan Dewa Kematian. Di dunia ini, selain aku, nggak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu!"

Arlo tampak berusia 20-an tahun, berwajah tegas dengan alis tebal dan mata besar. Kelihatannya dia adalah orang sangat andal. Namun, saat ini mulutnya komat-kamit, sementara kedua tangannya bekerja dengan cara yang tidak wajar, membuat suasana terasa menyeramkan.

Seiring gerakannya, jenazah perempuan itu tiba-tiba duduk tegak, lalu terbaring lagi. Dua perawat yang mengantar jenazah melihat pemandangan ini. Mereka langsung ketakutan setengah mati dan menjerit, lalu berlari keluar.

"Tolong!"

"Satpam ... Pak Ibrahim ... ada mayat bangkit di kamar jenazah!"

"Dokter Isyana, suamimu yang gila sedang menodai mayat!"

Arlo tidak peduli. Kedua tangannya bergerak cepat menekan titik akupunktur di kepala jenazah dengan teknik yang aneh. Kemudian, dia kembali menekan dada jenazah itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di pintu kamar mayat. Direktur rumah sakit, Ibrahim, datang bersama beberapa dokter dan satpam. Wajahnya tampak panik.

"Kurang ajar, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan dia!" teriak Ibrahim dengan marah.

Arlo menoleh, tetapi tangannya tak berhenti. "Aku sedang mengobatinya!"

Banyak dokter di rumah sakit yang mengenali pria ini. Arlo! Suami bodoh Isyana Hanafi, dokter tercantik di rumah sakit ini.

Orang-orang sering kali merasa kasihan pada Isyana. Bagaimana bisa seorang wanita cantik menikah dengan seorang pria yang sakit jiwa? Saat ini, rasa kasihan itu pun mencapai puncaknya.

Karena jenazah itu adalah putri tunggal Keluarga Soraya, Fellis. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di Kota Naldern. Pagi ini, Fellis tiba-tiba meninggal di rumah sakit. Keluarga Soraya sudah ingin mencari masalah dengan rumah sakit, sekarang jenazahnya malah dilecehkan. Bukankah ini akan membuat masalah jadi semakin besar?

Mata Isyana berkunang-kunang. Dia hampir pingsan. Si bodoh ini benar-benar membuat bencana besar hari ini!

Sejak menikah, Arlo yang sakit jiwa selalu dijaga orang tuanya. Hari ini, orang tuanya ada urusan mendadak sehingga menitipkan Arlo padanya di rumah sakit.

Baru saja ada pasien gawat darurat sehingga Isyana pun meninggalkan Arlo di pos perawat. Siapa sangka, dia malah masuk ke kamar mayat dan melakukan hal seperti ini.

"Berhenti sekarang juga!" pekik Ibrahim, lalu berusaha menarik Arlo.

Arlo mengerutkan kening, mendorong Ibrahim. "Kalau aku berhenti, dia benar-benar akan mati!"

Ibrahim terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. 'Bodoh! Gila! Sakit jiwa! Dia sungguh mengira dirinya dokter? Jelas-jelas hanya orang gila!'

Ibrahim menatap Isyana dengan galak. "Kenapa nggak suruh suamimu berhenti? Apa kamu benar-benar mau menunggu sampai Keluarga Soraya menuntut kita semua?"

Isyana tersadar, buru-buru berseru. "Arlo!"

Dia bergegas maju, hendak menyingkirkan tangan Arlo dari dada Fellis. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh dada Fellis, kulit kepalanya meremang, jantungnya berdebar. Dia merasakan denyut jantung putri Keluarga Soraya itu.

"Dia masih punya detak jantung!" Isyana memeriksa dengan teliti di area jantung, matanya melebar karena kaget.

Ibrahim tercengang, lalu segera menurunkan stetoskop dari lehernya. Setelah mendengar detak jantung itu, dia pun panik dan berteriak, "Cepat dorong dia kembali ke ruang gawat darurat untuk diselamatkan!"

"Aku belum selesai mengobatinya, kalian nggak boleh bawa dia pergi!" Arlo kembali menghalangi.

"Obati kepalamu!" Ibrahim sama sekali tidak percaya orang gila bisa mengobati. Dia hanya mengira ini adalah kesalahan diagnosis. Menganggap orang hidup sebagai mayat dan membawanya ke kamar mayat, ini jelas adalah kesalahan medis besar!

Sekelompok orang buru-buru mendorong Fellis pergi. Kini, tersisa Isyana dan Arlo.

"Kenapa kamu bisa sampai ke sini?" Isyana marah besar, hampir melampiaskan semua kekesalannya pada pria yang selalu membuatnya malu ini.

"Aku datang untuk mengobati orang itu!" Arlo tampak serius, membuat Isyana hampir pingsan saking kesalnya.

Isyana menggertakkan gigi, tetapi kemudian merasa dirinya terlalu keras. Apa gunanya marah pada orang gila? Bagaimanapun, salahnya juga karena dia tidak menjaga Arlo dengan baik.

Dia menarik napas panjang. "Sudahlah, kita lihat dulu kondisi Fellis. Setelah itu, aku akan izin cuti untuk mengantarmu pulang."

Arlo berdeham. "Aku sudah sembuh. Aku bisa pulang sendiri."

Mata Isyana membelalak, sulit percaya. "Kamu ... sembuh?"

Arlo mengangguk. "Barusan kepalaku tiba-tiba jernih, semua ingatanku kembali!"

"Kalau sudah sembuh, kenapa kamu malah ke kamar mayat?" Isyana curiga. Memang ada kemungkinan Arlo membaik karena terus minum obat.

"Sudah kubilang tiga kali, aku datang untuk mengobatinya!" jawab Arlo.

Wajah Isyana membeku. Dia merasa dirinya yang bodoh. Bagaimana bisa dia percaya kata-kata orang gila? Orang waras mana yang masuk kamar mayat untuk mengobati orang? Lagi pula, sebelum sakit jiwa, Arlo juga bukan dokter.

Ketika berbicara, Arlo menatap Isyana. Cantik sekali! Wajah menawan, mata jernih berkilau penuh kecerdasan. Jas putih bahkan tak mampu menutupi tubuh indahnya. Kalau wanita secantik ini menjadi istrinya, rasanya tidak rugi juga.

Isyana hanya bisa menghela napas. Dia malas berdebat, jadi menarik Arlo menuju ruang gawat darurat.

Baru saja sampai di depan pintu, tampak Ibrahim yang keluar dengan wajah penuh senyuman dan memberi instruksi kepada perawat.

Namun, begitu melihat Isyana, senyuman itu langsung hilang. Dia memasang wajah tegas sebagai direktur, lalu berkata, "Kamu diberhentikan sementara!"

Isyana sontak mengernyit sambil menatap Ibrahim.

"Fellis salah didiagnosis. Karena dikira sudah meninggal, dia dibawa ke kamar mayat. Ini kesalahan medis besar! Harus ada yang bertanggung jawab! Dokter jaga pagi ini adalah kamu!" jelas Ibrahim.

Wajah Isyana merah padam karena marah. "Sejak Fellis masuk, yang menanganinya langsung adalah Bapak sendiri. Surat kematian juga Bapak yang keluarkan. Apa hubungannya denganku?"

Ibrahim mendengus, lalu menunjuk Arlo. "Kalau begitu, akan kuberi tahu Keluarga Soraya kalau dia menodai mayat Fellis!"

Isyana seketika memucat. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di kota, sementara Fellis adalah putri tunggal Rayanza Soraya yang sangat disayang. Arlo pasti akan dituntut akibat perbuatannya!

"Kamu tahu betul apa yang akan terjadi kalau Keluarga Soraya tahu Fellis dinodai!" kata Ibrahim dengan nada penuh ancaman.

"Fellis masih hidup, 'kan?" Isyana diam sejenak, lalu bertanya demikian.

"Tentu saja. Kalau nggak, menurutmu Arlo bisa keluar dari rumah sakit ini dengan selamat?"

Tubuh Isyana gemetar karena marah. Kali ini bukan hanya dia, bahkan Arlo pun benar-benar paham apa yang terjadi.

Fellis salah didiagnosis, lalu dikirim ke kamar mayat. Hal ini sudah diberitahukan kepada Keluarga Soraya, jadi tidak mungkin ditutupi. Harus ada kambing hitam! Isyana-lah yang dijadikan kambing hitamnya!

Sementara Ibrahim, si pelaku utama, justru akan menjadi pahlawan bagi Keluarga Soraya!

Arlo tertawa, bertepuk tangan. "Kalau nggak tahu malu itu adalah sebuah keterampilan dan ada lombanya, kamu pasti juara satu!"

Ibrahim melirik sinis, malas menanggapi. Dia adalah direktur, mana sudi peduli pada orang gila?

"Kamu yakin bisa menyelamatkan Fellis?" Arlo tersenyum meremehkan.

"Maksudmu apa?" Ibrahim menjadi kesal. Orang gila ini kok semakin lama semakin mirip orang waras?

Arlo mendengus. "Ya itu maksudku! Dengan kemampuanmu, mau menjadikan istriku kambing hitam? Masih terlalu jauh!"

Ibrahim marah besar, hendak mengamuk. Namun, tiba-tiba dari ruang gawat darurat terdengar keributan. Seorang perawat keluar dengan wajah panik.

"Pak Ibrahim, gawat! Kondisi Fellis kembali kritis ...."

Bab 2

Begitu mendengar Fellis kembali kritis, Ibrahim langsung berlari masuk ke ruang gawat darurat.

Isyana menatap Arlo. Tadi dia mendengar ucapan Arlo yang tajam dan penuh logika saat membalas Ibrahim. Jelas, tak ada lagi kebodohan yang dulu.

"Kamu benar-benar sudah sembuh?"

Arlo mengangguk. "Ya! Waktu di pos perawat, tiba-tiba saja pikiranku jernih. Aku juga nggak tahu gimana bisa sembuh begitu saja!"

Ucapannya itu setengah benar, setengah bohong.

Tiga tahun lalu, dia secara tak sengaja memperoleh warisan Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dari seorang tabib sakti. Kitab itu mencakup semua keahlian sang tabib seumur hidupnya. Dari ilmu pengobatan, ilmu bela diri, ilmu ramalan wajah, ilmu nasib, hingga wawasan luas dari pengalaman berkeliling dunia.

Namun, begitu mendapatkan warisan itu, sebagian besar kesadarannya terkunci oleh pembatas warisan, memaksanya tenggelam dalam proses belajar. Dari luar, dia terlihat seperti orang bodoh dan gila.

Hingga hari ini, setelah Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dipelajarinya sampai tingkat ketiga, dia berhasil menembus pembatas itu. Kesadarannya kembali. Kebetulan, dia bertemu Fellis yang dibawa ke kamar mayat. Menyadari masih ada kesempatan untuk menyelamatkan, dia pun turun tangan.

Namun, semua itu tidak bisa dia ceritakan pada Isyana. Kalau diceritakan, bisa-bisa dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Isyana bisa menerima penjelasan sederhananya. Dia tahu Arlo mengalami trauma hebat setelah kehilangan kedua orang tuanya. Insiden itu yang membuatnya sakit jiwa. Setelah tiga tahun perawatan, memang ada kemungkinan dia sembuh.

"Lalu di kamar mayat tadi, yang kamu lakukan pada Fellis ...." Isyana teringat adegan tangan Arlo yang menekan dada Fellis. Pipinya pun memerah.

Arlo memanyunkan bibirnya. "Aku memang sadar kalau dia masih bisa diselamatkan!"

"Kamu bukan dokter! Nggak paham ilmu medis! Kok bisa bertindak seenaknya? Kamu seharusnya panggil dokter!" Isyana tak tahan untuk mengomel. Kini akibatnya, masalah besar justru menimpa mereka.

"Aku memang bukan dokter, tapi dulu sering baca buku pengobatan!" Arlo beralasan. Dalam hati, dia yakin di dunia ini hanya dirinya yang mampu menyelamatkan seseorang dari kematian.

Isyana hanya memutar bola matanya. Dalam pandangannya, Arlo hanya kebetulan menemukan Fellis belum benar-benar mati. Daripada disebut pengobatan, tindakannya lebih cocok disebut mencari sensasi.

Namun, mengingat kondisi Arlo, Isyana pun tidak banyak berbicara lagi.

Saat mereka masih berbicara, dari ujung koridor tampak seorang pria paruh baya berwajah tegas, datang dengan langkah penuh wibawa. Di sampingnya adalah seorang pria tua berambut putih dengan beberapa pengawal gagah.

"Pak Rayanza datang! Yang di sampingnya sepertinya adalah dokter terkenal, Dokter Leonard!" Isyana mengernyit dengan cemas.

Melihat wajah Arlo yang tetap santai, dia menambahkan, "Kalau Fellis bisa diselamatkan, kita masih punya jalan keluar. Kalau nggak, habislah kita!"

Isyana sangat memahami Ibrahim. Pria itu sangat licik dan suka menjilat. Pasti akan melemparkan kesalahan padanya.

"Nggak perlu takut, ayo pulang. Ini nggak ada urusannya sama kita!" Arlo tetap tenang.

Tiga tahun lalu, dia memang hanya mahasiswa biasa. Namun, setelah tiga tahun tenggelam dalam warisan itu, wawasannya berubah.

Pria paruh baya itu langsung masuk ke ruang gawat darurat setelah mendapat konfirmasi dari perawat tentang kondisi putrinya.

Di dalam, Ibrahim dan beberapa dokter sudah kelabakan. Kondisi Fellis terlalu aneh. Sebagian besar tanda vital normal, tetapi jantungnya kadang berdetak, kadang berhenti. Dia juga tidak sadarkan diri.

Melihat kedatangan Rayanza, Ibrahim segera menyapa, "Pak Rayanza."

Rayanza tidak memedulikannya. Dia menoleh pada Leonard. "Maaf kalau aku merepotkanmu, Dokter Leonard."

Leonard mengangguk, lalu maju untuk memeriksa. Para dokter segera mundur sedikit. Mereka semua mengenali nama besarnya.

Sementara itu, Rayanza menatap Ibrahim dengan tatapan penuh amarah. "Pak Ibrahim, putriku masih hidup tapi kalian malah kirim dia ke kamar mayat. Apa penjelasanmu?"

Ibrahim panik, semakin berniat mencari kambing hitam. "Itu semua karena dokter jaganya, Dokter Isyana, salah mendiagnosis. Aku sudah memberhentikannya sementara!"

"Cuma diberhentikan? Kesalahan medis sebesar ini, apa nggak seharusnya dipertanggungjawabkan secara hukum?" Rayanza mendengus dingin, nadanya terdengar tidak puas.

Belum sempat lanjut berbicara, dia menerima telepon. Wajahnya semakin kelam. Dia menampar Ibrahim sekuat tenaga. "Setelah putriku dilecehkan di kamar mayat, kalian baru sadar ada salah diagnosis? Apa-apaan cara kerja rumah sakit kalian ini?"

Ibrahim sampai berkunang-kunang karena tamparan itu. Dia diam-diam mengutuk orang yang membocorkan insiden itu. Namun, dia tidak berani bertanya siapa orang itu, hanya buru-buru melontarkan alasan yang sudah disiapkan, "Itu karena Dokter Isyana membawa suaminya yang sakit jiwa ke rumah sakit. Dia melanggar aturan sehingga terjadi hal ini!"

"Aku akan segera memerintahkan bagian medis dan keamanan untuk menahan Dokter Isyana dan suaminya. Kami akan menunggu keputusan Bapak!"

Rayanza murka. "Keduanya nggak boleh lolos! Akan kubuat mereka menyesal seumur hidup!"

Ibrahim pucat pasi. Dia tahu, di hadapan orang terkaya di Kota Naldern, bahkan kepala dinas kesehatan pun tidak berarti apa-apa.

Dia buru-buru menelepon kepala bagian medis agar segera membawa satpam untuk menangkap orang.

Sementara itu, Rayanza kembali menoleh pada putrinya. Dia hanya memiliki satu anak perempuan. Fellis adalah permatanya.

Fellis sudah lama menderita depresi dan berkali-kali mencoba bunuh diri. Semalam, dia kembali mengiris pergelangan tangannya.

Begitu mendengar kabar putrinya masuk rumah sakit, Rayanza pun pulang dengan tergesa-gesa dan mengundang dokter terkenal.

Namun, di tengah jalan dia diberi tahu bahwa putrinya meninggal. Karena informasi itu, dia hampir saja jatuh sakit. Kemudian, kabar susulan bahwa itu hanyalah kesalahan diagnosis pun membuatnya kembali merasa punya harapan. Kini, dia menatap Leonard dengan penuh harap.

Namun, setelah pemeriksaan, Leonard menggeleng berulang kali. Keningnya berkerut. "Aneh sekali! Benar-benar aneh!"

"Gimana keadaannya, Dokter Leonard?" tanya Rayanza dengan cemas.

"Pak Rayanza, kondisi putrimu sangat aneh. Lima puluh tahun aku mengobati, belum pernah melihat kasus seperti ini. Takutnya ... sulit untuk ditolong."

"Jadi, nggak ada harapan sama sekali?" Rayanza menahan kepiluannya.

Leonard terdiam sejenak, lalu berkata, "Gejalanya mirip yang disebut dalam kitab kuno, yaitu sindrom jiwa terlepas. Jantung dan ginjal sama-sama melemah ...."

Kalimatnya terputus. Tiba-tiba, matanya berbinar. "Tunggu! Gimana mungkin dokter di rumah sakit ini salah menentukan hidup mati pasien, sementara alat monitor jelas menunjukkan tanda vital?"

Rayanza mendengus. Ibrahim mulai gelisah. Dia masih ingat jelas, waktu Fellis turun dari ambulans, napasnya sudah hampir tak ada. Tak lama setelah masuk UGD, dia pun meninggal.

Namun, semalam dia terlalu bersenang-senang dengan perawat. Pagi harinya, tubuhnya lemah dan kepalanya pusing. Ditambah Fellis tiba-tiba hidup kembali, dia sendiri menjadi ragu apakah dirinya salah menilai.

Ibrahim terpaksa menyahut dengan muka tebal, "Itu karena kelalaian dokter. Aku pasti akan melakukan pembenahan besar."

"Bukan begitu! Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga tanda vital Fellis bisa kembali!" Leonard menggeleng dengan yakin.

Rayanza yang sangat cerdas langsung menangkap maksudnya. "Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kamar mayat. Kalau nggak, kalian semua akan kumasukkan ke penjara!"

Tatapan tajam Rayanza menyapu seluruh dokter. Tekanan besar itu membuat semua orang menunduk. Jantung mereka berdegup kencang.

Tak lama kemudian, ada dokter yang tak tahan, lalu menceritakan seluruh kejadian di kamar mayat.

Mendengar itu, api amarah Rayanza semakin berkobar. Sebaliknya, Leonard justru bertepuk tangan. "Benar! Itu kuncinya! Cepat panggil pemuda itu kembali. Mungkin masih ada secercah harapan!"

"Dia cuma orang gila! Mana bisa disuruh mengobati!" Ibrahim terkejut.

"Panggil dulu! Cepat!" desak Leonard.

Rayanza langsung menarik kerah Ibrahim dan menyeretnya keluar. "Cepat bawa aku ke tempatnya!"

....

Saat Arlo dan Isyana melangkah menuju pintu rumah sakit, ponsel Isyana tiba-tiba berdering.

"Ibu, aku mau antar dia pulang dulu .... Kalau aku pulang dulu baru ke sana, pasti nggak sempat rayain ulang tahun Paman!"

Terdengar suara ibu mertuanya, Renata, di seberang. Arlo yang mendengar suara itu pun kembali teringat kebingungan lamanya.

Setelah musibah menimpa keluarganya, dia mendapat warisan itu, lalu seperti kehilangan akal. Ayah mertuanya berkata Keluarga Antasari pernah sangat berjasa, makanya dia diterima di Keluarga Hanafi, bahkan dinikahkan dengan putri mereka.

Padahal saat itu semua orang tidak tahu apakah dia bisa sembuh. Kalaupun sembuh, dia hanyalah anak yatim piatu biasa. Ada banyak cara membalas budi, tetapi mengorbankan hidup putri sendiri terasa tidak masuk akal. Tampaknya, sudah waktunya berbicara serius dengan ayah mertuanya.

Isyana menutup telepon. Baru saja sampai di gerbang rumah sakit dan berbelok, tiba-tiba sebuah Porsche 718 meluncur kencang dari depan.

"Ah!" Isyana berteriak kaget dan buru-buru menginjak rem, tetapi mobil lawan sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Kedua mobil itu pun bertabrakan.

Bab 3

Untunglah kecepatannya tidak tinggi. Ditambah lagi dia mengenakan sabuk pengaman, jadi tidak terluka. Begitu sadar sudah menabrak mobil, Isyana panik dan buru-buru turun, ingin memastikan apakah orang di mobil lain terluka.

Pintu Porsche terbuka. Pengemudinya adalah seorang pemuda berambut pirang. Begitu turun, dia tidak menggubris Isyana, melainkan langsung berlari membuka pintu sisi lain.

Bersamaan dengan itu, empat sampai lima mobil melaju kencang ke arah mereka. Turunlah belasan orang berpenampilan seperti preman, mengepung Beetle yang dikendarai Isyana.

Isyana terkejut, lalu melihat pemuda yang turun dari sisi lain Porsche itu. Alisnya langsung berkerut. "Kamu?"

Sebagai wanita tercantik di Kota Naldern, meskipun secara hukum sudah menikah, suami bodoh tetap saja tidak bisa menghalangi orang-orang yang mengejarnya. Di depannya sekarang adalah salah satunya, Bruno, putra sulung Keluarga Raliansyah yang terkenal sebagai playboy kaya raya.

"Ya, ini aku." Bruno tersenyum mengejek. "Isyana, bunga mawar dengan pinggiran emas yang kuimpor langsung dari Australia kamu buang ke tong sampah. Tas bermerek seharga ratusan juta kamu kasih ke pengemis. Tapi sekarang, kamu malah menabrak mobilku. Apa ini tandanya kamu berubah pikiran?"

Mata Isyana penuh rasa jijik. "Itu cuma kecelakaan. Berapa pun kerugiannya akan aku ganti."

"Kamu mau ganti? Apa kamu bisa?" Bruno menyeringai sinis. "Porsche 718 varian tertinggi ini minimal harganya hampir 6 miliar. Kamu sanggup ganti? Mobil ini juga sudah menemaniku menaklukkan puluhan wanita. Ini kenangan masa mudaku. Mana bisa diselesaikan dengan uang?"

Wajah Isyana menjadi kelam. "Terus, kamu mau apa?"

"Mudah saja. Jadi wanitaku, maka urusan ini selesai. Malah aku bisa kasih kamu satu Porsche edisi terbatas."

"Mustahil! Aku akan lapor polisi." Isyana buru-buru merogoh ponsel, tetapi langsung dirampas Bruno.

"Aku sudah siapkan kamar hotel. Kita tidur dulu, habis itu silakan kamu lapor polisi. Katakan saja kamu nggak sanggup ganti rugi, jadi pakai tubuhmu untuk bayar utang. Nggak ada yang nggak bakal percaya. Keluargamu pun nggak akan berani bantah."

Bruno tertawa puas, melambaikan tangan. Seketika, para preman di sekitarnya bergerak, berusaha meraih Isyana.

"Jangan mendekat!" Isyana panik, merasa tak berdaya.

Arlo menghela napas, lalu maju dan melindungi Isyana di belakangnya.

Bruno mencibir. "Apa-apaan ini? Si bodoh mau main jadi pahlawan kesiangan? Kamu pikir kamu pantas? Cih!"

Kemudian, pemandangan mengejutkan terjadi. Preman-preman ganas itu roboh satu per satu, berteriak kesakitan seperti kambing yang disembelih.

Hanya dalam sesaat, belasan orang tumbang. Isyana bahkan tak sempat melihat bagaimana Arlo melakukannya.

Padahal orang-orang yang dibawa Bruno terkenal jago berkelahi, tetapi mereka semua tak sanggup menahan beberapa pukulan dari Arlo?

Arlo mencebik. Setelah mendapatkan warisan, dia sudah berlatih di dalam ilusi lautan kesadaran selama tiga tahun. Menghajar preman seperti ini rasanya seperti memakai pisau besar untuk menyembelih ayam.

"Ini ...." Isyana melongo, tak pernah membayangkan suatu hari dia akan dilindungi oleh suaminya yang dianggap bodoh.

Senyuman mengejek di wajah Bruno mendadak hilang, berganti wajah pucat pasi. Sebagai playboy kaya raya, entah sudah berapa wanita dia tiduri. Namun, setiap menghadapi Isyana, dia selalu gagal.

Hari ini dia sudah hilang kesabaran, makanya sengaja merencanakan jebakan ini. Semua sudah diatur rapi. Seharusnya dia sudah bisa memaksa Isyana jatuh ke tangannya. Tak pernah dia sangka, justru dirinya sendiri yang ketakutan sekarang.

Isyana, wanita cantik terkenal dari Kota Naldern, menikah dengan orang bodoh, membuat banyak orang menyesalkan nasibnya. Siapa sangka, si bodoh itu ternyata sehebat ini.

Melihat tatapan Arlo yang menusuk padanya, tubuh Bruno bergetar hebat. Dia mundur tujuh hingga delapan langkah. "Ja ... jangan dekat-dekat! Mau apa kamu?"

Arlo mengepalkan tangannya. "Di depan mataku, kamu berani ganggu istriku. Menurutmu aku bakal diam saja?"

Bruno menelan ludah dengan gugup. "Ja ... jangan gila ya! Dia yang nabrak mobilku, memang sudah seharusnya ganti rugi ...."

Saat itu, Isyana buru-buru menarik Arlo. "Jangan! Memang aku yang salah. Aku yang harus tanggung jawab."

Meskipun kemampuan menyetirnya payah, dia masih tahu aturan. Barusan dia menelepon sambil menyetir, bahkan berbelok. Jelas itu salahnya.

Arlo menggeleng. "Kamu terlalu polos. Cepat ambil ponsel dan rekam."

"Rekam apa?" Meskipun bingung, Isyana tetap menurut dan menyalakan kamera.

Arlo meraih si pemuda berambut pirang yang mengemudi tadi, lalu mengangkatnya. "Kenapa kamu tabrak mobil istriku?"

"Aku ...." Pemuda itu awalnya ingin berbohong. Bagaimanapun, dia adalah pengikut setia Bruno. Namun, begitu melihat mata Arlo yang berkilat aneh, pikirannya seketika kosong.

"Pak Bruno yang suruh! Dia pasang orang di perempatan buat mengintai. Begitu melihat mobil Bu Isyana belok, aku langsung tabrak ...."

Kata-kata itu singkat, tetapi jelas membuka semua fakta. Ini bukan kecelakaan, melainkan jebakan yang sudah direncanakan.

Isyana mendengar semuanya dengan jelas. Wajahnya merah padam karena marah. "Bruno! Dasar nggak tahu malu!"

"Aku ...." Bruno langsung termangu. Rencananya yang sempurna menjadi hancur gara-gara anak buahnya membocorkan rahasia.

Arlo menendang si pirang sampai terlempar, lalu mendekati Bruno.

"Kamu ...." Bruno ingin melontarkan ancaman, tetapi sebelum sempat berbicara, pipinya sudah ditampar berkali-kali, sampai dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

"Sudah, cukup!" Meskipun marah, Isyana masih berusaha menahan Arlo. Bagaimanapun, Bruno adalah orang Keluarga Raliansyah. Mereka tidak bisa menanggung akibatnya jika masalah jadi semakin besar.

Bruno yang wajahnya bengkak pun menjadi semakin berani saat melihat Isyana takut. Dia berseru, "Dasar bodoh! Kamu berani tampar aku? Keluarga Raliansyah nggak akan ampuni kalian!"

"Kamu sendiri yang bilang aku bodoh, mana aku peduli kamu dari keluarga mana. Orang bodoh bahkan nggak bakal dihukum kalau membunuh. Menurutmu, gimana kalau aku bunuh kamu sekarang?" ejek Arlo yang menarik kerah baju Bruno, lalu menampar lagi.

Tatapan tajamnya membuat Bruno langsung menciut dan keberaniannya lenyap. Semua orang di kota tahu, menantu Keluarga Hanafi adalah orang bodoh. Kalau orang bodoh membunuhnya, siapa yang bisa menuntut?

Bruno buru-buru mengalah. "Tenang ... tenang! Jangan emosi. Apa pun maumu, aku turuti."

"Bagus. Jangan bikin aku marah atau aku benaran bunuh kamu." Arlo mendengus. "Kamu sudah menjebak istriku dan menabrak mobilnya. Menurutmu harus ganti rugi nggak?"

Bruno cepat-cepat mengangguk. "Aku akan ganti rugi! Aku langsung perbaiki mobilnya. Berapa pun biayanya, aku tanggung."

Arlo menamparnya lagi. "Cuma diperbaiki? Enak saja!"

"Aku ... aku ganti yang baru! Beetle, 'kan? Aku transfer 600 juta sekarang juga!"

Air mata Bruno hampir jatuh. Yang penting dia bisa segera lolos dari si bodoh ini. Soal balas dendam, nanti saja.

"Kamu rasa 600 juta cukup?" Arlo menampar dua kali lagi sampai bibir Bruno berdarah.

"Aduh! Aku sudah bayar sesuai harga mobil baru. Masih kurang apa?"

"Kurang banyak!" Arlo mendengus. "Itu bukan mobil biasa. Itu saksi cintaku dan istriku. Tanpa mobil itu, kami nggak akan bisa bersama. Itu perantara cinta kami. Sekarang kamu buat rusak, berarti kamu merusak saksi cinta kami. Jadi, minimal 2 miliar!"

"Aku ...."

Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya