Bab 5
Bilal buru-buru menyongsong ke depan, lalu menunjuk Arlo sambil mengadu, "Pak Ibrahim, cepat panggil polisi. Dia ... dia hampir saja membunuhku! Dia juga memeras Bruno sampai 2 miliar!"
Ibrahim menatap wajah menyedihkan Bilal. Sudut bibirnya tak kuasa berkedut.
Rayanza menatap Arlo. Dia sama sekali tidak peduli Arlo memukul siapa atau berbuat apa. Dia hanya ingin tahu, apakah putrinya bisa diselamatkan atau tidak.
Di sisi lain, meskipun Arlo dikepung begini, wajahnya tetap tenang. Mentalnya benar-benar stabil.
Rayanza membuka mulut. "Yang menemukan kalau putriku masih hidup di kamar mayat itu kamu?"
"Bukan. Lebih tepatnya aku yang menemukan kalau putrimu masih bisa diselamatkan. Aku yang menolongnya!" Arlo mendongak.
"Omong kosong! Kamu itu orang gila! Memangnya pernah masuk fakultas kedokteran? Punya izin praktik dokter?" Ibrahim langsung menyanggah.
"Nggak. Tapi memang aku yang selamatkan pasien. Kamu sudah kuliah kedokteran dan punya izin dokter, 'kan? Ya sudah, sekarang kamu coba hidupkan dia. Ngapain datang ke sini?" Arlo mencibir, jelas sudah menebak maksud kedatangan mereka.
Hati Ibrahim langsung dipenuhi firasat buruk.
Rayanza mengangkat sedikit kelopak matanya. "Kalau begitu, sekarang kamu pergi selamatkan putriku dan buktikan kata-katamu. Aku bisa nggak menuntut urusan yang sebelumnya!"
Arlo mengangkat alis, tidak senang. "Nggak mau, aku lagi nggak mood! Kalau bukan karena aku, putrimu setengah jam yang lalu sudah mati. Kamu juga nggak punya hak bicara padaku dengan nada seperti itu!"
Rayanza mengepalkan tangan. Dengan statusnya saat ini, tidak ada orang yang berani berbicara padanya begitu.
Namun, dia segera menyerah. Nyawa putrinya di ujung tanduk. Dia hanya bisa pasrah, mencoba segala cara.
"Apa syaratmu supaya mau menolong putriku? Sebutkan saja. Asal bisa menyelamatkan dia, aku nggak akan protes!"
Arlo mengangguk. "Begitu baru sikap orang yang minta tolong!"
Sambil berbicara, pandangannya menyapu Ibrahim dan Bilal. Dengan dingin, dia berkata, "Aku minta reputasi istriku dipulihkan. Siapa yang salah, dia yang harus tanggung jawab!"
Hati Isyana rumit. Dia merasa terharu karena Arlo masih melindunginya di saat begini. Namun, dia juga ketakutan. Bahkan dokter terkenal seperti Leonard saja tidak bisa menyelamatkan Fellis, apa Arlo bisa?
Bilal melongo. Situasinya sama sekali di luar bayangan.
Awalnya dia mengira Rayanza pasti akan menampar Arlo habis-habisan. Siapa sangka, Arlo malah diperlakukan sopan, bahkan dimintai tolong untuk menyembuhkan Fellis?
Dia melirik Ibrahim, melihat wajahnya sudah merah padam. Seketika, dia ikut panik.
Rayanza yang lihai di dunia bisnis sudah bisa menebak. "Pak Ibrahim, kalau sekarang kamu nggak bicara jujur, aku akan panggil pihak pengawas kedisiplinan untuk datang menyelidiki!"
Dahi Ibrahim langsung dipenuhi keringat dingin. Di rumah sakit ini, dia memang bisa menutupi segalanya. Namun, kalau pengawas turun tangan, tidak bisa lagi!
Setelah ragu sesaat, Ibrahim pun menceritakan semuanya. Setelah selesai, dia tak tahan untuk menekankan, "Pagi tadi kondisi pasien memang sudah nggak ada napas dan detak jantung ...."
Rayanza melambaikan tangan. "Urusan kita berdua akan kuperhitungkan lain waktu. Sekarang, kamu harus minta maaf pada siapa?"
"Maaf, benar-benar maaf! Tadi aku khilaf!" Ibrahim buru-buru berbalik dan meminta maaf pada Arlo.
Arlo mencebik. "Hmm?"
Ibrahim langsung menoleh ke Isyana dan terus meminta maaf. Melihat itu, Bilal pun ikut panik, juga segera meminta maaf pada Isyana.
Isyana hanya diam. Jadi, keduanya sama-sama memohon pada Arlo. Arlo menyeringai. "Kalau minta maaf saja cukup, buat apa ada polisi? Betul 'kan, Pak Rayanza?"
Dengan cemas, Rayanza menyahut, "Aku pasti akan memberimu jawaban nanti! Tolong obati putriku dulu!"
Arlo mengangguk. Isyana semakin gelisah. Kini, Arlo terasa begitu asing dan membuatnya khawatir. Dia diam-diam menggeleng, lalu meraih lengan Arlo.
Arlo menyeringai, balik menggenggam tangan Isyana sambil menekannya pelan. "Tenang, aku yakin bisa."
Isyana merasakan kehangatan dari telapak tangannya. Entah kenapa, dia menjadi gugup. Kata-kata yang ingin diucapkan pun ditelan kembali.
Arlo lantas mengikuti Rayanza masuk ke ruang gawat darurat, sementara wajah Ibrahim dan Bilal tampak muram.
"Kak, gimana ini?" Bilal kelihatan sangat panik.
Ibrahim mendengus. "Masa kamu juga percaya orang gila bisa mengobati?"
"Ah, iya .... Kalau nanti gagal dan Pak Rayanza marah, kita berdua yang celaka!" Bilal buru-buru mengangguk.
Mereka ikut menyusul ke ruang gawat darurat.
Begitu masuk, Arlo langsung menekan dada Fellis dengan kedua tangannya sambil berkata dengan tenang, "Cepat ambilkan aku satu kotak jarum akupunktur!"
Wajah Rayanza seketika muram. Kalau bajingan ini tidak berhasil, tangannya pasti akan dipotong!
Dokter-dokter di tempat itu juga merasa konyol. Orang gila menjadi dokter, masih pakai akupunktur? Benar-benar lucu! Bahkan film komedi pun tidak sampai segila ini.
Leonard bergumam, "Sindrom jiwa terlepas diobati dengan akupunktur? Ini ...."
Arlo menyeringai. "Sindrom jiwa terlepas? Kamu salah, ini sindrom jiwa tercerai!"
"Sindrom jiwa tercerai?"
Saat itu, perawat membawa jarum. Arlo tidak menjelaskan lagi. Dia langsung mengambil jarum, lalu dengan cekatan menusukkan ke titik akupunktur di ubun-ubun Fellis.
Ketika menusukkannya, dia mengunci roh Fellis dengan energi, menarik kembali roh yang tercerai. Begitu jarum dicabut, detak jantung Fellis kembali normal dan napasnya pun stabil.
"Ada harapan!"
"Sudah ada napas!"
"Stabil!"
Tak lama kemudian, Fellis perlahan sadar. Dia memandang orang-orang di sekitarnya dengan bingung, lalu menangis.
Para dokter melongo menatap Arlo. Leonard menggaruk kepala, sama sekali tidak paham. Hanya beberapa tusukan biasa, tetapi benar-benar menghidupkan orang?
Mata Rayanza memerah. Dia buru-buru mengusap wajahnya, baru bisa tenang kembali.
Isyana juga terkejut. Melihat Arlo yang tenang, dia merasa bingung untuk sejenak. Pria ini benar-benar orang yang dulu dia kenal sebagai pria gila dan tak berguna?
"Nyawanya sudah kembali, tapi lever dan limpanya nggak seimbang. Energi dan darah juga tersumbat, menimbulkan depresi berat. Masih harus dirawat perlahan," kata Arlo dengan tenang.
Leonard mengangguk. "Dalam pengobatan tradisional, depresi dianggap sebagai penyakit akibat emosi yang terimpit. Hanya saja cara penyembuhannya rumit sekali."
Rayanza bertanya, "Dokter Kecil, kamu punya cara?"
"Ada, tentu ada!" Arlo mengangkat alis. Memang bisa, tetapi merepotkan.
Bagi Rayanza yang merupakan seorang pebisnis, pendidikan atau sertifikat tidak penting, yang penting hasil. Apalagi, dia sudah sering mendengar tentang dokter kurang dikenal yang memiliki kemampuan hebat.
Arlo sudah membuktikan kemampuannya sehingga Rayanza percaya penuh padanya. Makanya, ketika mendengar Arlo bilang bisa, dia langsung berkata, "Sebut saja syaratmu!"
"Seminggu dua kali akupunktur, ditambah ramuan herbal. Depresi karena emosi tersumbat harus diatasi pelan-pelan," jelas Arlo.
"Baik, baik! Setelah Fellis keluar dari rumah sakit, aku akan suruh orang menjemputmu seminggu dua kali!" Rayanza khawatir Arlo menolak.
Arlo hendak mengangguk, tetapi Isyana diam-diam mencubit pinggangnya. Kali ini dia beruntung bisa menolong Fellis. Itu sudah anugerah terbesar! Sekarang masih mau mengobati depresi berat? Mana ada depresi berat yang gampang sembuh!
Banyak orang kaya dan terkenal tak kekurangan uang atau dokter hebat, tetapi semua tumbang karena penyakit ini ....
Arlo hanya bisa mencibir. "Nanti kita bicarakan lagi!"
Rayanza mengira itu soal janji sebelumnya. Dia buru-buru memerintahkan pengawalnya, "Bawa Ibrahim dan Bilal ke lembaga pengawas. Bilang aku yang melaporkan mereka berdua atas pelanggaran!"
Ibrahim dan Bilal langsung melemas di luar.
"Ehem, Anak Muda, kalau ada kesempatan, aku ingin belajar darimu juga." Leonard tersenyum kaku.
"Kalau ada kesempatan, kita saling belajar." Arlo tersenyum tipis.
Leonard mengangguk berkali-kali. Kesannya pada Arlo semakin baik. Rendah hati, tetapi punya kemampuan. Dulu waktu seusia Arlo, dia pun tidak bisa begitu!
Isyana sudah tidak tahan. Apa-apaan masih mau saling belajar? Leonard itu dokter terkenal dalam negeri!
Arlo hanya bermodalkan beberapa buku kedokteran yang tidak jelas, tetapi berani berbicara omong kosong. Sudah jelas, dia hanya menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Dia pun buru-buru menarik Arlo keluar.
Bab 6
"Pergi, ikut aku pulang sekarang juga!" Begitu keluar pintu, Isyana langsung menarik Arlo pulang.
Rayanza berpikir sebentar, lalu cepat-cepat berkata kepada pengawal, "Cepat, bawa mobilku dari parkiran dan antarkan untuk Pak Arlo!"
Pengawal sempat termangu. Itu adalah Rolls-Royce yang baru datang hari ini. Tadi juga baru dipakai ketika menjemput Rayanza di bandara.
Pengawal buru-buru mengejar keluar, tetapi bayangan Arlo sudah tak kelihatan. Akhirnya, mereka hanya bisa kembali dengan canggung.
Rayanza hendak marah. Namun, Leonard tersenyum sambil berkata, "Kalian pasti akan bertemu lagi nanti."
....
Mobil Isyana memang sempat ditabrak, tetapi hanya bodi luarnya yang rusak sehingga masih bisa dikendarai.
"Naik!" Setelah mengambil mobil, Isyana langsung mendorong Arlo masuk. Mobil melaju kencang. Isyana terus melirik Arlo dari ekor matanya.
Saat ini, Arlo membuatnya merasa begitu asing. Namun, mungkin bagi Isyana, sejak awal Arlo memang selalu asing.
Ketika Arlo dibawa ke Keluarga Hanafi, dia hanyalah seorang penderita gangguan jiwa yang sudah hilang akal.
Waktu itu, semua informasi yang Isyana dapatkan tentang Arlo hanya sedikit dan biasa-biasa saja.
Seorang mahasiswa tingkat akhir yang keluarganya terkena musibah menjelang kelulusannya. Kedua orang tuanya dibunuh oleh perampok yang masuk ke rumah.
Karena kehilangan ayah ibu dalam semalam, Arlo tidak sanggup menanggung pukulan itu dan akhirnya mengalami gangguan mental.
Selama tiga tahun setelah menikah, Isyana lebih sering memperlakukan Arlo seperti idiot yang perlu dirawat.
Namun, kini idiot itu tiba-tiba berubah, menjadi seorang pemuda penuh percaya diri dan tenang.
Melihat Arlo melindungi dirinya, melihat Arlo berdiri di depan Rayanza sang konglomerat tanpa merasa rendah diri, melihat Arlo berbicara lugas di hadapan dokter besar, semua itu membuat perasaan Isyana campur aduk dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran terkenal di kota. Isyana buru-buru merias sedikit wajahnya di dalam mobil. Dengan wajah yang memang sudah cantik, seketika pesonanya tambah menggoda.
Arlo sampai terpana melihatnya, benar-benar wanita yang memikat!
"Banyak tamu di pesta ulang tahun pamanmu?" tanya Arlo tiba-tiba.
Isyana menggigit bibirnya. "Bukan pesta besar, nggak undang terlalu banyak orang. Kalau kamu nggak mau ikut, boleh saja."
Arlo tersenyum getir. "Takut aku bikin kamu malu?"
"Bukan!" Ekspresi Isyana sedikit berubah, tetapi dia tidak menjelaskan.
"Soal pernikahan kita, aku tahu kamu dipaksa. Kalau kamu ingin cerai, aku setuju," ujar Arlo setelah berpikir sejenak.
Dia tidak merasa ada yang kurang dari Isyana. Wanita ini cantik. Bahkan demi janji pada ayahnya, wanita ini rela menikah dengannya serta merawatnya selama tiga tahun. Benar-benar wanita yang langka. Namun, dia juga tidak mau memaksa.
Isyana langsung membuka pintu dan turun dengan ekspresi dingin. Arlo pun tidak mengerti maksudnya apa.
Namun, Isyana tidak masuk, malah berdiri di depan pintu restoran. Jelas-jelas dia menunggu Arlo. Memang hati wanita sulit dimengerti!
Arlo tersenyum pahit, lalu ikut turun dan masuk bersamanya. Mereka dibawa ke ruang VIP di lantai dua. Dua meja bundar besar sudah penuh dengan kerabat.
Ayah mertua, Victor, dan ibu mertua, Renata, duduk di salah satu meja. Begitu melihat Arlo, wajah Renata langsung terlihat tidak senang.
Isyana menuntun Arlo menyapa para senior satu per satu. Arlo tidak mengenal siapa-siapa. Dia hanya bisa mengikuti panggilan Isyana dan terlihat agak kikuk.
Kerabat-kerabat itu pun menunjukkan tatapan mengejek. Semuanya bersikap dingin pada Arlo.
Victor tersenyum ramah dan melambaikan tangan, mengisyaratkan Arlo duduk di sampingnya. Isyana lalu duduk di sebelah ibunya.
Meja itu dipimpin oleh paman dan bibi Isyana. Sebenarnya pamannya yang ulang tahun hari ini, tetapi yang sibuk berkeliling untuk bersulang justru menantunya, Graha.
Graha berusia sekitar 30-an tahun. Penampilannya terlihat sangat kaya, sementara gaya bicaranya khas orang-orang di dunia bisnis.
"Terima kasih sudah hadir di ulang tahun ayah mertuaku. Aku akan minum dulu untuk menghormati kalian semua!" kata Graha sambil menghabiskan segelas anggur. Dia tampak sangat bersemangat.
"Graha, bisnismu sekarang besar, jangan lupa bantu-bantu kami juga ya!"
"Ya, kudengar proyek yang kamu kerjakan itu proyek Keluarga Soraya."
"Kamu sudah bisa kerja sama dengan keluarga konglomerat. Meskipun hanya dapat sedikit, itu sudah cukup buat kasih makan kami beberapa generasi!"
"Nanti kalau sudah makin sukses, jangan lupakan kerabatmu yang masih miskin ini ya!"
"Hahaha. Aku ini cuma kontraktor kecil yang kerja susah payah buat dapat uang. Kalian terlalu memujiku," sahut Graha, tetapi ekspresinya jelas tak bisa menyembunyikan rasa bangga.
Sebagian besar tamu memang kelas pekerja, kecuali Graha. Hanya Victor yang bisa dihitung pengusaha.
Namun, usaha Keluarga Hanafi hanya di bidang perkebunan obat, Victor orangnya juga baik hati, jadi bisnis dikelola bersama keluarga. Keuntungannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan pengusaha besar.
Orang-orang pun ramai-ramai memuji Graha. Paman dan bibi Isyana juga ikut senang. Jika menantu sukses, mereka juga ikut bangga.
Terutama bibinya, yang sejak menikah selalu tak akur dengan Renata. Dulu Renata sering membanggakan anak perempuannya yang cantik bisa menikah dengan anggota keluarga kaya, juga menyindirnya. Namun, sekarang ternyata Isyana menikah dengan orang sakit jiwa.
Sementara itu, anak perempuan bibi Isyana justru menikah dengan pria mapan, yang punya status dan uang. Tatapan penuh kemenangan itu terus menantang Renata.
Wajah Renata sampai memucat. Dia menunduk ke arah Isyana sambil berbisik dengan sinis, "Pintar sekali bicara omong kosong! Cuma dapat satu proyek penghijauan Keluarga Soraya, itu pun paling cuma ketemu manajer proyek beberapa kali. Berani-beraninya pamer. Nggak takut lidah keseleo ya!"
Isyana mengusap kepalanya yang terasa pusing, tak menjawab. Victor mengambilkan beberapa potong daging merah untuk Arlo. Arlo pun makan dengan lahap.
Melihat sikap keluarganya seperti ini, Renata semakin kesal. Terutama melihat Arlo, semakin dilihat semakin tidak suka.
Graha menjadi pusat perhatian. Sementara Arlo, jangankan sukses, bisa sembuh dari sakit jiwa saja sudah seperti keajaiban. Perbandingan ini membuatnya merasa sangat getir!
Bibi Isyana, Yulia, melihat Renata gelisah. Dia pun tersenyum penuh kemenangan. "Kak, penyakit Arlo 'kan merepotkan sekali! Mau kerja juga pasti sulit, mana ada orang mau terima!"
"Tapi Graha seorang kontraktor, dia nggak keberatan soal ini. Gimana kalau Arlo kerja di tempatnya saja? Kalau ditanggung keluarga terus 'kan juga nggak baik."
"Bu, bukannya aku nggak sopan, tapi ide ini nggak bisa dijalankan. Sekarang pengawasan ketat, jadi orang sakit nggak bisa diterima kerja." Graha tersenyum sambil menolak secara halus.
"Oh, bahkan jadi kuli pun nggak bisa ya!" Yulia mendengus dengan nada menyindir.
Isyana tidak suka Arlo dipermalukan, jadi berkata, "Arlo sudah sembuh kok."
"Sembuh?" Semua orang ragu, tampak tak percaya dan menganggap Isyana hanya membela suaminya.
Arlo juga tidak menjelaskan banyak, hanya tersenyum.
Victor pun menimpali, "Kalau begitu, hari ini sungguh hari baik. Kakak Ipar ulang tahun dan menantuku sembuh! Ayo, ayo, kita minum untuk merayakan!"
Renata menggertakkan gigi, kesal dengan sikap suaminya yang selalu meredam.
Graha menyeringai. "Kalau sudah sembuh, artinya harus kerja! Pria harus menafkahi keluarga. Benar 'kan, Arlo?"
Arlo hanya mengangguk ringan.
"Kita ini ipar, harus saling bantu! Kalau jadi kuli jelas nggak pantas. Kebetulan aku ada proyek di utara Mianar. Lagi butuh seorang penanggung jawab. Gimana, Arlo? Setahun bisa dapat 1 miliar dengan mudah!" kata Graha dengan gaya dermawan.
Victor mengernyit, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Arlo sudah menyipitkan mata dan tertawa. "Aku dengar di sana lumayan kacau. Banyak yang tergoda gaji tinggi, lalu ternyata diculik buat diambil organnya. Kakak Ipar, kamu mau jual aku ke sana?"
Bab 7
Begitu kalimat itu keluar, barulah semua orang percaya bahwa Arlo memang sudah sembuh, bahkan cara berbicaranya juga cukup tajam!
Victor langsung girang. Dia menggenggam tangan Arlo erat-erat, tidak mau melepaskannya untuk waktu yang lama.
Renata juga sempat senang, tetapi segera merasa biasa saja. Meskipun Arlo sudah sembuh, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan menantu orang lain yang kaya raya.
Arlo menyadari bahwa ayah mertuanya ini memang tulus padanya.
Di sisi lain, wajah Graha menjadi masam. Sementara itu, Yulia menyindir dengan nada tajam, "Kamu ngomong apa sih? Kakak iparmu beli mobil saja harganya 1,6 miliar. Kalau kamu dijual, memangnya bisa laku berapa?"
Arlo mengangkat bahu. "Aku ini cukup berharga kok. Dua ginjal dan satu jantung. Paling nggak bisa laku miliaran. Siapa tahu Kak Graha jadi kalap karena lihat uang!"
"Graha bikin proyek kecil saja sudah dapat miliaran!"
"Bu, ngapain juga ribut sama orang sakit jiwa?"
"Cara bicara Arlo betul-betul nggak sopan!"
"Kalau bukan karena kerabat, mana ada orang mau kasih dia kesempatan emas begitu?"
"Nggak mau kerja, penakut pula! Meskipun sembuh, aku rasa dia juga nggak bakal ada masa depan!"
Para kerabat ramai-ramai mencibir.
Ekspresi Isyana menjadi dingin. Setiap kata mereka seperti tamparan di wajahnya. Namun, ini ulang tahun pamannya. Dia berusaha keras menahan amarahnya supaya tidak meledak.
Sementara itu, wajah Renata sudah benar-benar masam. Kalau bukan karena Victor yang menahan, mungkin dia sudah bangkit dan memaki.
Sesaat, ekspresi Victor juga terlihat murka. Namun, dia segera meredam dan berkata dengan tenang, "Keluarga Hanafi masih sanggup menghidupi satu orang, kalian nggak usah repot-repot!"
Graha tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, baiklah, salahku terlalu ikut campur! Tapi Arlo, aku sudah berniat baik mau membantumu. Kalau kamu pengecut, terserah. Tapi soal ucapanmu tadi, harusnya kamu minta maaf padaku, 'kan?"
Arlo pun marah. Demi ayah mertuanya, tadi dia sudah menahan diri, tetapi Graha ini benar-benar kelewatan.
Tiba-tiba, pintu ruang VIP ditendang dari luar. Tujuh sampai delapan preman langsung berhamburan masuk.
Graha murka dan hendak memaki, "Siapa yang begitu kurang ajar ...."
Belum selesai berbicara, Graha langsung ditampar keras.
"Masih berani sok kaya? Utang saja belum dibayar!"
Begitu melihat siapa yang datang, seketika kaki Graha melemas. Kesombongannya hilang. Dia pun tergagap. "Kak ... Kak Sam ...."
"Dasar berengsek! Di Kota Naldern ini, nggak ada orang berani nunggak utang sama aku!" Seorang pria gemuk dengan rambut dikepang, maju dan menampar Graha berkali-kali.
Yulia ketakutan, tetapi masih berpura-pura berani. "Kalian jangan macam-macam ya! Graha bukan orang bisa kalian usik!"
Sam melangkah maju, lalu meraih sepotong paha ayam. Setelah menggigitnya dua kali, dia melemparkannya ke meja, membuat piring dan mangkuk berdenting.
"Cih! Nggak enak sekali!" Dia meludahkan daging berlemak itu tepat ke wajah Yulia, lalu mengejek, "Pak Faris menolongnya, meminjamkan 6 miliar dengan bunga bank, eh dia malah lari dari utang. Bukannya suruh bayar, malah bilang dia orang yang nggak bisa diusik?"
"Mau nakut-nakutin aku ya?" Sam tampak murka. Kemudian, dua tamparan keras mendarat di wajah Yulia.
"Nggak bisa disentuh? Sialan! Sekarang aku tampar kamu juga, coba tanya si Graha berani bersuara nggak?"
Graha tak bisa bergerak, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Yulia langsung menangis dan meraung.
Kerabat lain semuanya hanya orang biasa, mana pernah melihat kejadian begini. Satu per satu pun membeku ketakutan.
Arlo memilih diam karena itu adalah utang resmi berbunga bank. Orang yang berani meminjam, tetapi tidak membayar memang pantas dipukul.
Renata sampai pucat pasi. Victor mengernyit, akhirnya tak kuasa berkata, "Mau nagih boleh, tapi jangan main tangan dong!"
Sam meraih botol anggur, lalu melemparkannya ke arah Victor. "Dasar tua bangka, berani banyak omong ...."
Botol melayang. Isyana pun ketakutan, sementara semua orang membeku. Namun, botol itu tiba-tiba ditangkap oleh sebuah tangan yang putih bersih.
Arlo menggenggam botol dengan tatapan dingin. Dia bisa mengabaikan kalau orang lain yang diusik, tetapi kalau menyentuh Victor, itu tidak bisa ditoleransi!
"Pakai botol ini buat hantam kepalamu sendiri, lalu pergi! Dengan begitu, aku maafkan kamu!" Suara Arlo datar. Dia meletakkan botol di depan Sam.
Semua orang terdiam! Si bodoh tidak tahu betapa berbahayanya preman lokal seperti mereka ya? Di saat begini berani berbicara seperti itu, entah nekat atau gila!
Sam malah tertawa. "Kamu tahu aku siapa? Beraninya bersikap sombong di depanku!"
"Nggak tahu." Arlo menggeleng.
"Aku anak buah Pak Faris!" Wajah Sam penuh keangkuhan, seolah-olah menyebut nama besar.
"Siapa itu Faris?" Arlo memang tidak tahu.
Sam tertawa lagi. Faris saja tidak kenal, tetapi berani melawannya.
Graha ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. "Arlo, jangan ngawur! Bisnis urukan tanah di Kota Naldern, hampir semua dikuasai Pak Faris!"
Yang lain memang tidak paham, tetapi begitu disebut penguasa bisnis urukan tanah, semua pun sadar. Itu adalah bisnis yang persaingannya keras dan bisa mendapatkan banyak uang. Bisa menjadi penguasa di bisnis seperti itu sudah pasti adalah sosok besar yang punya koneksi ke polisi dan mafia.
Victor menggeleng pada Arlo, memberi isyarat agar jangan mencari masalah.
Melihat semua orang gentar, Sam menyeringai. Dia menunjuk Victor, lalu menunjuk Isyana. "Takut, 'kan? Kalau begitu, cepat berlutut. Kalau nggak, malam ini kubuat tua bangka ini cacat dan wanita ini jadi mainanku!"
Di mata Arlo berkobar amarah. Orang tuanya mati tragis, sementara dirinya hanya bisa berduka dari jauh karena kuliah di luar kota. Kini, setelah berlatih susah payah selama tiga tahun, dia bertekad akan melindungi orang-orang yang berarti baginya.
Meskipun harus menghadapi Faris, apalagi hanya kacungnya, dia tak akan gentar!
Tanpa melontarkan sepatah kata pun, Arlo bangkit, meraih botol, lalu menghantam kepala Sam. Darah segar langsung mengucur di wajah si preman.
Gerakannya tak berhenti. Setengah botol yang pecah itu langsung dibalikkan. Dia hendak menikam dada Sam.
Aksi nekat itu membuat Sam kaget dan buru-buru mundur ketakutan. Anak buahnya cepat-cepat maju, tetapi Arlo seperti orang gila yang menyabet kiri dan kanan dengan pecahan botol.
Dalam sekejap, tujuh hingga delapan preman terkapar. Masing-masing berlumuran darah. Semua kerabat pun terperangah dan menarik napas dalam-dalam.
Arlo tidak berhenti. Dia sontak menyerbu ke hadapan Sam dan langsung meraih kerah bajunya. Di saat berikutnya, dia menempelkan pecahan botol berdarah itu ke wajah Sam.
"Ayo, ulangi ancamanmu barusan!"
Tatapan bengis Arlo membuat Sam gemetar. Dia merasa anak ini benar-benar berani membunuhnya.
"Bocah, Kak Faris ...." Sebelum selesai berbicara, kaca sudah menusuk pipinya. Rasa sakit membuat Sam berteriak.
"Aku tahu si Faris mungkin tokoh besar, tapi memangnya kenapa? Sekalipun dia berdiri di sini, tetap harus minta maaf pada ayah mertua dan istriku! Apalagi kamu cuma kacung!" Niat membunuh Arlo membara.
Sam langsung panik, teringat para pembunuh berdarah dingin yang pernah ditemuinya. Dia takut!
"A ... aku minta maaf! Maaf! Aku cuma asal ngomong! Anggap saja aku kentut! Jangan bunuh aku!"
Victor dan Renata saling memandang, tak menyangka Arlo menjadi begitu berani setelah sembuh!
Menantu mereka melindungi mereka seperti ini. Mana mungkin hati mereka tidak tersentuh? Apalagi barusan, saat Yulia dipukul, Graha malah tidak berani bersuara.
Victor buru-buru menarik Arlo. "Arlo, cukup! Jangan bersikap perhitungan dengan orang seperti ini."
Arlo pun melepaskan cengkeramannya. Sam langsung terhuyung dan berlari terbirit-birit.
"Bawa pergi semua anjingmu!" hardik Arlo.
Para anak buah yang berlumuran darah pun keluar dengan menyeret tubuh masing-masing.
Dalam sekejap, ruang VIP kembali sunyi dan hanya berisi keluarga serta kerabat. Semua orang tertegun menatap Arlo, tak ada yang berani berbicara untuk waktu yang lama.