Bab 4
Bruno hampir saja menyemburkan darah. Cara Arlo memeras orang persis dengan dirinya. Tadi dia bilang Porsche itu adalah saksi masa muda, sekarang Arlo malah mengeluarkan alasan saksi cinta, bahkan bilang itu adalah perantara jodoh.
Wajah Arlo sontak menjadi dingin. "Bilang saja, kamu mau kasih atau nggak?"
"Kasih, kasih, aku langsung kasih." Meskipun merasa tertekan, saat ini dia tidak berani mengucapkan sepatah kata penolakan.
Arlo melepaskannya, lalu mengambil ponsel dari tangan Isyana yang masih linglung dan membuka kode pembayaran. Tak lama kemudian, terdengar bunyi notifikasi. Uang dua miliar masuk rekening.
"Pergi sana! Jangan sampai terulang lagi. Kalau nggak, kamu nggak akan lolos semudah ini lagi." Begitu uang masuk, Arlo langsung menendang Bruno hingga terlempar.
Bruno gemetar menahan amarah. Kebetulan, dia melihat Bilal, kepala departemen medis rumah sakit, berlari menghampiri dengan tujuh hingga delapan satpam. Niat jahat langsung timbul di hatinya. Dia berteriak keras, "Pak Bilal, aku dipukuli dokter kalian! Kalian harus tanggung jawab!"
Keluarga Raliansyah memiliki bisnis obat. Demi mengejar Isyana, dia sering datang ke rumah sakit, jadi sudah akrab dengan Bilal. Melihat kondisi Bruno yang parah, ekspresi Bilal berubah serius. "Apa yang terjadi?"
Bruno menunjuk Isyana dan Arlo, langsung memutarbalikkan fakta. "Dia menabrak mobilku, lalu suruh si bodoh ini memukulku. Si bodoh bilang orang gila nggak akan dihukum kalau membunuh. Kemudian, mereka peras aku 2 miliar!"
Mendengar itu, Bilal murka. "Pagi tadi kamu salah diagnosis dan hampir membuat pasien meninggal. Kamu bahkan mengirim pasien yang masih hidup ke kamar mayat! Kamu juga berani bawa keluargamu yang punya gangguan jiwa ke rumah sakit!"
"Hanya dengan dua kesalahan itu saja, izin praktikmu bisa dicabut! Bisa-bisa kamu dipenjara seumur hidup! Sekarang kamu malah main tangan di rumah sakit! Di dunia ini masih ada hukum atau nggak?"
Dengan suara lantang, Bilal langsung menuduh Isyana. Keributan ini pun menarik perhatian banyak orang di pintu rumah sakit.
Mendengar ucapan Bilal, semua orang mulai menunjuk dan bergosip. Pasien hidup dikirim ke kamar mayat? Menabrak dan memeras? Itu dokter atau preman?
Melihat reaksi orang banyak, Bilal merasa puas. Kebetulan Ibrahim adalah kakak iparnya. Begitu mendengar tentang Fellis yang salah didiagnosis dan insiden di kamar mayat, dia sadar harus membuat masalah ini jadi lebih besar agar bisa menekan Isyana, sekaligus menutupi kesalahan iparnya. Bagaimanapun, ke depannya dia masih butuh koneksi Ibrahim untuk kariernya.
Bruno menambahkan, "Pak Bilal, kita sudah kenal lama, urusan ini aku serahkan padamu. Aku ada urusan, aku pergi dulu. Ingat, harus ada penjelasan buatku nanti."
"Tenang saja!" Bilal mengangguk.
Bruno segera berbalik dan naik ke mobilnya. Salah satu anak buahnya bertanya, "Satpam-satpam itu 'kan sudah tua dan lemah. Sepertinya juga bukan tandingan si Arlo, 'kan?"
Bruno mendengus. "Kamu ngerti apa? Aku justru ingin dia bikin keributan besar. Lebih bagus kalau dia sampai bunuh satpam-satpam itu! Saat itu, Isyana pasti akan datang memohon kepadaku!"
....
Begitu Bruno pergi, Bilal memasang ekspresi berkuasa dan menatap Isyana. "Gimana? Kalian mau jalan sendiri atau perlu aku suruh orang bawa kalian?"
"Tahan mereka berdua, tunggu hasil rapat rumah sakit. Harus diproses dan nggak boleh ditoleransi! Kalau perlu lapor polisi, langsung laporkan saja!"
Kebetulan kepala perawat lewat. Karena hubungannya dengan Isyana baik, dia tak tahan untuk bertanya, "Pak Bilal, apa ada salah paham di sini? Semua orang tahu kemampuan Dokter Isyana, mana mungkin dia buat kesalahan sepele begitu?"
Bilal melambaikan tangan dengan penuh wibawa. "Kamu urus saja pekerjaanmu, urusan ini bukan wewenangmu!"
"Walaupun pintar, moral tetap yang utama! Dia lalai dan kirim pasien hidup ke kamar mayat. Itu jelas-jelas mengabaikan nyawa orang, itu adalah kecelakaan medis besar!"
Kepala perawat tidak tahu kebenarannya, jadi tidak berani berbicara lagi.
"Kamu bohong! Pagi tadi saat aku masuk, Fellis sudah lebih dulu dinyatakan meninggal oleh Ibrahim!" Isyana yang tak tahan lagi akhirnya membantah di depan umum.
Tatapan Bilal pada Isyana mengandung sedikit kerakusan dan rasa puas. Dulu dia pernah mengisyaratkan ingin bermain dengan Isyana, tetapi wanita itu malah menamparnya keras-keras. Sekarang wanita itu jatuh ke tangannya. Dia ingin melihat sampai kapan Isyana bisa berpura-pura suci!
"Pihak rumah sakit pasti akan menyelidiki kebenarannya! Tangkap mereka! Bawa ke ruang rapat dulu!" Bilal menyeringai dingin.
Empat sampai lima satpam itu pun segera mengepung.
Arlo bertanya dengan santai, "Kalau nggak salah, departemen medis rumah sakit nggak punya hak untuk menangkap orang, 'kan?"
Bilal tertawa sinis. Orang gila ini berani berbicara soal hukum?
"Kamu ini siapa? Apa aku butuh jelasin ke kamu? Orang yang ketahuan melecehkan mayat perempuan masih berani melawan? Tanya orang-orang, apa salah kalau aku menangkapmu?"
Mendengar tuduhan melecehkan mayat, kerumunan langsung bergidik. Terlalu menjijikkan! Orang-orang mulai berteriak agar Arlo segera ditangkap.
Isyana mengernyit, menatap Arlo dengan kesal. Bukannya membantu, malah memberi celah kepada Bilal.
Dia segera mengeluarkan ponsel, ingin menelepon ayahnya agar meminta bantuan orang berpengaruh. Setidaknya, jangan sampai Arlo ditangkap dengan tuduhan menjijikkan itu.
Namun, baru saja panggilan terhubung, Bilal memukul ponsel Isyana hingga jatuh. "Cih! Mau pakai koneksi? Percuma! Perempuan macam kamu cuma modal wajah cantik. Kamu pikir bisa pakai tubuh buat menukar kekuasaan ...."
Bilal bahkan meludah ke arah kaki Isyana.
Wajah Isyana memerah, tubuhnya gemetar karena marah. Wajah Arlo pun semakin suram.
Tiga tahun ini, walaupun hanya status suami istri tanpa hubungan nyata, Isyana selalu merawatnya. Melihatnya dihina begini, api amarah langsung membakar kepalanya.
"Minta maaf!" bentak Arlo dengan dingin.
Bilal mendengus meremehkan.
Plak! Arlo langsung menampar wajah Bilal dua kali.
"Kamu berani menamparku?" Urat di kening Bilal menegang. "Kalau aku nggak bikin kamu masuk penjara, namaku bukan Bilal!"
"Menamparmu? Barusan Bruno bilang, orang gila nggak akan dihukum kalau bunuh orang, 'kan?"
Sambil berbicara, Arlo mencengkeram leher Bilal. Sedikit ditekan saja, wajah Bilal sudah merah dan matanya penuh ketakutan.
"Arlo, lepaskan!" Isyana segera menariknya.
Namun, wajah Arlo tetap dingin. Bilal pun mulai sesak napas. Dia meronta-ronta, tetapi tidak bisa melepaskan diri.
Beberapa satpam buru-buru maju. Namun, Arlo menahan Bilal dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya mengempaskan para satpam itu dengan mudah.
Orang-orang menatap Arlo dengan wajah takut. Si gila ini benar-benar berbahaya!
"Minta maaf atau nggak?" tanya Arlo dengan dingin.
Bilal dengan susah payah mengangguk. Arlo baru melepaskan tangannya. "Aku ... aku minta maaf!"
Bilal yang panik pun terbata-bata, lalu kabur keluar kerumunan. Setelah berlari agak jauh, dia kembali berteriak, "Tunggu saja pembalasan dariku!"
Arlo menyeringai sinis. "Aku tunggu, aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan."
Isyana mengerutkan kening. Arlo sebelumnya tidak pernah sebrutal ini. Kini, urusannya menjadi sebesar ini. Dia benar-benar bingung bagaimana harus menghadapinya.
Saat itu, dari luar kerumunan, Ibrahim dan Rayanza muncul dengan dikawal beberapa pengawal.
Bab 5
Bilal buru-buru menyongsong ke depan, lalu menunjuk Arlo sambil mengadu, "Pak Ibrahim, cepat panggil polisi. Dia ... dia hampir saja membunuhku! Dia juga memeras Bruno sampai 2 miliar!"
Ibrahim menatap wajah menyedihkan Bilal. Sudut bibirnya tak kuasa berkedut.
Rayanza menatap Arlo. Dia sama sekali tidak peduli Arlo memukul siapa atau berbuat apa. Dia hanya ingin tahu, apakah putrinya bisa diselamatkan atau tidak.
Di sisi lain, meskipun Arlo dikepung begini, wajahnya tetap tenang. Mentalnya benar-benar stabil.
Rayanza membuka mulut. "Yang menemukan kalau putriku masih hidup di kamar mayat itu kamu?"
"Bukan. Lebih tepatnya aku yang menemukan kalau putrimu masih bisa diselamatkan. Aku yang menolongnya!" Arlo mendongak.
"Omong kosong! Kamu itu orang gila! Memangnya pernah masuk fakultas kedokteran? Punya izin praktik dokter?" Ibrahim langsung menyanggah.
"Nggak. Tapi memang aku yang selamatkan pasien. Kamu sudah kuliah kedokteran dan punya izin dokter, 'kan? Ya sudah, sekarang kamu coba hidupkan dia. Ngapain datang ke sini?" Arlo mencibir, jelas sudah menebak maksud kedatangan mereka.
Hati Ibrahim langsung dipenuhi firasat buruk.
Rayanza mengangkat sedikit kelopak matanya. "Kalau begitu, sekarang kamu pergi selamatkan putriku dan buktikan kata-katamu. Aku bisa nggak menuntut urusan yang sebelumnya!"
Arlo mengangkat alis, tidak senang. "Nggak mau, aku lagi nggak mood! Kalau bukan karena aku, putrimu setengah jam yang lalu sudah mati. Kamu juga nggak punya hak bicara padaku dengan nada seperti itu!"
Rayanza mengepalkan tangan. Dengan statusnya saat ini, tidak ada orang yang berani berbicara padanya begitu.
Namun, dia segera menyerah. Nyawa putrinya di ujung tanduk. Dia hanya bisa pasrah, mencoba segala cara.
"Apa syaratmu supaya mau menolong putriku? Sebutkan saja. Asal bisa menyelamatkan dia, aku nggak akan protes!"
Arlo mengangguk. "Begitu baru sikap orang yang minta tolong!"
Sambil berbicara, pandangannya menyapu Ibrahim dan Bilal. Dengan dingin, dia berkata, "Aku minta reputasi istriku dipulihkan. Siapa yang salah, dia yang harus tanggung jawab!"
Hati Isyana rumit. Dia merasa terharu karena Arlo masih melindunginya di saat begini. Namun, dia juga ketakutan. Bahkan dokter terkenal seperti Leonard saja tidak bisa menyelamatkan Fellis, apa Arlo bisa?
Bilal melongo. Situasinya sama sekali di luar bayangan.
Awalnya dia mengira Rayanza pasti akan menampar Arlo habis-habisan. Siapa sangka, Arlo malah diperlakukan sopan, bahkan dimintai tolong untuk menyembuhkan Fellis?
Dia melirik Ibrahim, melihat wajahnya sudah merah padam. Seketika, dia ikut panik.
Rayanza yang lihai di dunia bisnis sudah bisa menebak. "Pak Ibrahim, kalau sekarang kamu nggak bicara jujur, aku akan panggil pihak pengawas kedisiplinan untuk datang menyelidiki!"
Dahi Ibrahim langsung dipenuhi keringat dingin. Di rumah sakit ini, dia memang bisa menutupi segalanya. Namun, kalau pengawas turun tangan, tidak bisa lagi!
Setelah ragu sesaat, Ibrahim pun menceritakan semuanya. Setelah selesai, dia tak tahan untuk menekankan, "Pagi tadi kondisi pasien memang sudah nggak ada napas dan detak jantung ...."
Rayanza melambaikan tangan. "Urusan kita berdua akan kuperhitungkan lain waktu. Sekarang, kamu harus minta maaf pada siapa?"
"Maaf, benar-benar maaf! Tadi aku khilaf!" Ibrahim buru-buru berbalik dan meminta maaf pada Arlo.
Arlo mencebik. "Hmm?"
Ibrahim langsung menoleh ke Isyana dan terus meminta maaf. Melihat itu, Bilal pun ikut panik, juga segera meminta maaf pada Isyana.
Isyana hanya diam. Jadi, keduanya sama-sama memohon pada Arlo. Arlo menyeringai. "Kalau minta maaf saja cukup, buat apa ada polisi? Betul 'kan, Pak Rayanza?"
Dengan cemas, Rayanza menyahut, "Aku pasti akan memberimu jawaban nanti! Tolong obati putriku dulu!"
Arlo mengangguk. Isyana semakin gelisah. Kini, Arlo terasa begitu asing dan membuatnya khawatir. Dia diam-diam menggeleng, lalu meraih lengan Arlo.
Arlo menyeringai, balik menggenggam tangan Isyana sambil menekannya pelan. "Tenang, aku yakin bisa."
Isyana merasakan kehangatan dari telapak tangannya. Entah kenapa, dia menjadi gugup. Kata-kata yang ingin diucapkan pun ditelan kembali.
Arlo lantas mengikuti Rayanza masuk ke ruang gawat darurat, sementara wajah Ibrahim dan Bilal tampak muram.
"Kak, gimana ini?" Bilal kelihatan sangat panik.
Ibrahim mendengus. "Masa kamu juga percaya orang gila bisa mengobati?"
"Ah, iya .... Kalau nanti gagal dan Pak Rayanza marah, kita berdua yang celaka!" Bilal buru-buru mengangguk.
Mereka ikut menyusul ke ruang gawat darurat.
Begitu masuk, Arlo langsung menekan dada Fellis dengan kedua tangannya sambil berkata dengan tenang, "Cepat ambilkan aku satu kotak jarum akupunktur!"
Wajah Rayanza seketika muram. Kalau bajingan ini tidak berhasil, tangannya pasti akan dipotong!
Dokter-dokter di tempat itu juga merasa konyol. Orang gila menjadi dokter, masih pakai akupunktur? Benar-benar lucu! Bahkan film komedi pun tidak sampai segila ini.
Leonard bergumam, "Sindrom jiwa terlepas diobati dengan akupunktur? Ini ...."
Arlo menyeringai. "Sindrom jiwa terlepas? Kamu salah, ini sindrom jiwa tercerai!"
"Sindrom jiwa tercerai?"
Saat itu, perawat membawa jarum. Arlo tidak menjelaskan lagi. Dia langsung mengambil jarum, lalu dengan cekatan menusukkan ke titik akupunktur di ubun-ubun Fellis.
Ketika menusukkannya, dia mengunci roh Fellis dengan energi, menarik kembali roh yang tercerai. Begitu jarum dicabut, detak jantung Fellis kembali normal dan napasnya pun stabil.
"Ada harapan!"
"Sudah ada napas!"
"Stabil!"
Tak lama kemudian, Fellis perlahan sadar. Dia memandang orang-orang di sekitarnya dengan bingung, lalu menangis.
Para dokter melongo menatap Arlo. Leonard menggaruk kepala, sama sekali tidak paham. Hanya beberapa tusukan biasa, tetapi benar-benar menghidupkan orang?
Mata Rayanza memerah. Dia buru-buru mengusap wajahnya, baru bisa tenang kembali.
Isyana juga terkejut. Melihat Arlo yang tenang, dia merasa bingung untuk sejenak. Pria ini benar-benar orang yang dulu dia kenal sebagai pria gila dan tak berguna?
"Nyawanya sudah kembali, tapi lever dan limpanya nggak seimbang. Energi dan darah juga tersumbat, menimbulkan depresi berat. Masih harus dirawat perlahan," kata Arlo dengan tenang.
Leonard mengangguk. "Dalam pengobatan tradisional, depresi dianggap sebagai penyakit akibat emosi yang terimpit. Hanya saja cara penyembuhannya rumit sekali."
Rayanza bertanya, "Dokter Kecil, kamu punya cara?"
"Ada, tentu ada!" Arlo mengangkat alis. Memang bisa, tetapi merepotkan.
Bagi Rayanza yang merupakan seorang pebisnis, pendidikan atau sertifikat tidak penting, yang penting hasil. Apalagi, dia sudah sering mendengar tentang dokter kurang dikenal yang memiliki kemampuan hebat.
Arlo sudah membuktikan kemampuannya sehingga Rayanza percaya penuh padanya. Makanya, ketika mendengar Arlo bilang bisa, dia langsung berkata, "Sebut saja syaratmu!"
"Seminggu dua kali akupunktur, ditambah ramuan herbal. Depresi karena emosi tersumbat harus diatasi pelan-pelan," jelas Arlo.
"Baik, baik! Setelah Fellis keluar dari rumah sakit, aku akan suruh orang menjemputmu seminggu dua kali!" Rayanza khawatir Arlo menolak.
Arlo hendak mengangguk, tetapi Isyana diam-diam mencubit pinggangnya. Kali ini dia beruntung bisa menolong Fellis. Itu sudah anugerah terbesar! Sekarang masih mau mengobati depresi berat? Mana ada depresi berat yang gampang sembuh!
Banyak orang kaya dan terkenal tak kekurangan uang atau dokter hebat, tetapi semua tumbang karena penyakit ini ....
Arlo hanya bisa mencibir. "Nanti kita bicarakan lagi!"
Rayanza mengira itu soal janji sebelumnya. Dia buru-buru memerintahkan pengawalnya, "Bawa Ibrahim dan Bilal ke lembaga pengawas. Bilang aku yang melaporkan mereka berdua atas pelanggaran!"
Ibrahim dan Bilal langsung melemas di luar.
"Ehem, Anak Muda, kalau ada kesempatan, aku ingin belajar darimu juga." Leonard tersenyum kaku.
"Kalau ada kesempatan, kita saling belajar." Arlo tersenyum tipis.
Leonard mengangguk berkali-kali. Kesannya pada Arlo semakin baik. Rendah hati, tetapi punya kemampuan. Dulu waktu seusia Arlo, dia pun tidak bisa begitu!
Isyana sudah tidak tahan. Apa-apaan masih mau saling belajar? Leonard itu dokter terkenal dalam negeri!
Arlo hanya bermodalkan beberapa buku kedokteran yang tidak jelas, tetapi berani berbicara omong kosong. Sudah jelas, dia hanya menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Dia pun buru-buru menarik Arlo keluar.
Bab 6
"Pergi, ikut aku pulang sekarang juga!" Begitu keluar pintu, Isyana langsung menarik Arlo pulang.
Rayanza berpikir sebentar, lalu cepat-cepat berkata kepada pengawal, "Cepat, bawa mobilku dari parkiran dan antarkan untuk Pak Arlo!"
Pengawal sempat termangu. Itu adalah Rolls-Royce yang baru datang hari ini. Tadi juga baru dipakai ketika menjemput Rayanza di bandara.
Pengawal buru-buru mengejar keluar, tetapi bayangan Arlo sudah tak kelihatan. Akhirnya, mereka hanya bisa kembali dengan canggung.
Rayanza hendak marah. Namun, Leonard tersenyum sambil berkata, "Kalian pasti akan bertemu lagi nanti."
....
Mobil Isyana memang sempat ditabrak, tetapi hanya bodi luarnya yang rusak sehingga masih bisa dikendarai.
"Naik!" Setelah mengambil mobil, Isyana langsung mendorong Arlo masuk. Mobil melaju kencang. Isyana terus melirik Arlo dari ekor matanya.
Saat ini, Arlo membuatnya merasa begitu asing. Namun, mungkin bagi Isyana, sejak awal Arlo memang selalu asing.
Ketika Arlo dibawa ke Keluarga Hanafi, dia hanyalah seorang penderita gangguan jiwa yang sudah hilang akal.
Waktu itu, semua informasi yang Isyana dapatkan tentang Arlo hanya sedikit dan biasa-biasa saja.
Seorang mahasiswa tingkat akhir yang keluarganya terkena musibah menjelang kelulusannya. Kedua orang tuanya dibunuh oleh perampok yang masuk ke rumah.
Karena kehilangan ayah ibu dalam semalam, Arlo tidak sanggup menanggung pukulan itu dan akhirnya mengalami gangguan mental.
Selama tiga tahun setelah menikah, Isyana lebih sering memperlakukan Arlo seperti idiot yang perlu dirawat.
Namun, kini idiot itu tiba-tiba berubah, menjadi seorang pemuda penuh percaya diri dan tenang.
Melihat Arlo melindungi dirinya, melihat Arlo berdiri di depan Rayanza sang konglomerat tanpa merasa rendah diri, melihat Arlo berbicara lugas di hadapan dokter besar, semua itu membuat perasaan Isyana campur aduk dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran terkenal di kota. Isyana buru-buru merias sedikit wajahnya di dalam mobil. Dengan wajah yang memang sudah cantik, seketika pesonanya tambah menggoda.
Arlo sampai terpana melihatnya, benar-benar wanita yang memikat!
"Banyak tamu di pesta ulang tahun pamanmu?" tanya Arlo tiba-tiba.
Isyana menggigit bibirnya. "Bukan pesta besar, nggak undang terlalu banyak orang. Kalau kamu nggak mau ikut, boleh saja."
Arlo tersenyum getir. "Takut aku bikin kamu malu?"
"Bukan!" Ekspresi Isyana sedikit berubah, tetapi dia tidak menjelaskan.
"Soal pernikahan kita, aku tahu kamu dipaksa. Kalau kamu ingin cerai, aku setuju," ujar Arlo setelah berpikir sejenak.
Dia tidak merasa ada yang kurang dari Isyana. Wanita ini cantik. Bahkan demi janji pada ayahnya, wanita ini rela menikah dengannya serta merawatnya selama tiga tahun. Benar-benar wanita yang langka. Namun, dia juga tidak mau memaksa.
Isyana langsung membuka pintu dan turun dengan ekspresi dingin. Arlo pun tidak mengerti maksudnya apa.
Namun, Isyana tidak masuk, malah berdiri di depan pintu restoran. Jelas-jelas dia menunggu Arlo. Memang hati wanita sulit dimengerti!
Arlo tersenyum pahit, lalu ikut turun dan masuk bersamanya. Mereka dibawa ke ruang VIP di lantai dua. Dua meja bundar besar sudah penuh dengan kerabat.
Ayah mertua, Victor, dan ibu mertua, Renata, duduk di salah satu meja. Begitu melihat Arlo, wajah Renata langsung terlihat tidak senang.
Isyana menuntun Arlo menyapa para senior satu per satu. Arlo tidak mengenal siapa-siapa. Dia hanya bisa mengikuti panggilan Isyana dan terlihat agak kikuk.
Kerabat-kerabat itu pun menunjukkan tatapan mengejek. Semuanya bersikap dingin pada Arlo.
Victor tersenyum ramah dan melambaikan tangan, mengisyaratkan Arlo duduk di sampingnya. Isyana lalu duduk di sebelah ibunya.
Meja itu dipimpin oleh paman dan bibi Isyana. Sebenarnya pamannya yang ulang tahun hari ini, tetapi yang sibuk berkeliling untuk bersulang justru menantunya, Graha.
Graha berusia sekitar 30-an tahun. Penampilannya terlihat sangat kaya, sementara gaya bicaranya khas orang-orang di dunia bisnis.
"Terima kasih sudah hadir di ulang tahun ayah mertuaku. Aku akan minum dulu untuk menghormati kalian semua!" kata Graha sambil menghabiskan segelas anggur. Dia tampak sangat bersemangat.
"Graha, bisnismu sekarang besar, jangan lupa bantu-bantu kami juga ya!"
"Ya, kudengar proyek yang kamu kerjakan itu proyek Keluarga Soraya."
"Kamu sudah bisa kerja sama dengan keluarga konglomerat. Meskipun hanya dapat sedikit, itu sudah cukup buat kasih makan kami beberapa generasi!"
"Nanti kalau sudah makin sukses, jangan lupakan kerabatmu yang masih miskin ini ya!"
"Hahaha. Aku ini cuma kontraktor kecil yang kerja susah payah buat dapat uang. Kalian terlalu memujiku," sahut Graha, tetapi ekspresinya jelas tak bisa menyembunyikan rasa bangga.
Sebagian besar tamu memang kelas pekerja, kecuali Graha. Hanya Victor yang bisa dihitung pengusaha.
Namun, usaha Keluarga Hanafi hanya di bidang perkebunan obat, Victor orangnya juga baik hati, jadi bisnis dikelola bersama keluarga. Keuntungannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan pengusaha besar.
Orang-orang pun ramai-ramai memuji Graha. Paman dan bibi Isyana juga ikut senang. Jika menantu sukses, mereka juga ikut bangga.
Terutama bibinya, yang sejak menikah selalu tak akur dengan Renata. Dulu Renata sering membanggakan anak perempuannya yang cantik bisa menikah dengan anggota keluarga kaya, juga menyindirnya. Namun, sekarang ternyata Isyana menikah dengan orang sakit jiwa.
Sementara itu, anak perempuan bibi Isyana justru menikah dengan pria mapan, yang punya status dan uang. Tatapan penuh kemenangan itu terus menantang Renata.
Wajah Renata sampai memucat. Dia menunduk ke arah Isyana sambil berbisik dengan sinis, "Pintar sekali bicara omong kosong! Cuma dapat satu proyek penghijauan Keluarga Soraya, itu pun paling cuma ketemu manajer proyek beberapa kali. Berani-beraninya pamer. Nggak takut lidah keseleo ya!"
Isyana mengusap kepalanya yang terasa pusing, tak menjawab. Victor mengambilkan beberapa potong daging merah untuk Arlo. Arlo pun makan dengan lahap.
Melihat sikap keluarganya seperti ini, Renata semakin kesal. Terutama melihat Arlo, semakin dilihat semakin tidak suka.
Graha menjadi pusat perhatian. Sementara Arlo, jangankan sukses, bisa sembuh dari sakit jiwa saja sudah seperti keajaiban. Perbandingan ini membuatnya merasa sangat getir!
Bibi Isyana, Yulia, melihat Renata gelisah. Dia pun tersenyum penuh kemenangan. "Kak, penyakit Arlo 'kan merepotkan sekali! Mau kerja juga pasti sulit, mana ada orang mau terima!"
"Tapi Graha seorang kontraktor, dia nggak keberatan soal ini. Gimana kalau Arlo kerja di tempatnya saja? Kalau ditanggung keluarga terus 'kan juga nggak baik."
"Bu, bukannya aku nggak sopan, tapi ide ini nggak bisa dijalankan. Sekarang pengawasan ketat, jadi orang sakit nggak bisa diterima kerja." Graha tersenyum sambil menolak secara halus.
"Oh, bahkan jadi kuli pun nggak bisa ya!" Yulia mendengus dengan nada menyindir.
Isyana tidak suka Arlo dipermalukan, jadi berkata, "Arlo sudah sembuh kok."
"Sembuh?" Semua orang ragu, tampak tak percaya dan menganggap Isyana hanya membela suaminya.
Arlo juga tidak menjelaskan banyak, hanya tersenyum.
Victor pun menimpali, "Kalau begitu, hari ini sungguh hari baik. Kakak Ipar ulang tahun dan menantuku sembuh! Ayo, ayo, kita minum untuk merayakan!"
Renata menggertakkan gigi, kesal dengan sikap suaminya yang selalu meredam.
Graha menyeringai. "Kalau sudah sembuh, artinya harus kerja! Pria harus menafkahi keluarga. Benar 'kan, Arlo?"
Arlo hanya mengangguk ringan.
"Kita ini ipar, harus saling bantu! Kalau jadi kuli jelas nggak pantas. Kebetulan aku ada proyek di utara Mianar. Lagi butuh seorang penanggung jawab. Gimana, Arlo? Setahun bisa dapat 1 miliar dengan mudah!" kata Graha dengan gaya dermawan.
Victor mengernyit, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Arlo sudah menyipitkan mata dan tertawa. "Aku dengar di sana lumayan kacau. Banyak yang tergoda gaji tinggi, lalu ternyata diculik buat diambil organnya. Kakak Ipar, kamu mau jual aku ke sana?"