Bab 3

Untunglah kecepatannya tidak tinggi. Ditambah lagi dia mengenakan sabuk pengaman, jadi tidak terluka. Begitu sadar sudah menabrak mobil, Isyana panik dan buru-buru turun, ingin memastikan apakah orang di mobil lain terluka.

Pintu Porsche terbuka. Pengemudinya adalah seorang pemuda berambut pirang. Begitu turun, dia tidak menggubris Isyana, melainkan langsung berlari membuka pintu sisi lain.

Bersamaan dengan itu, empat sampai lima mobil melaju kencang ke arah mereka. Turunlah belasan orang berpenampilan seperti preman, mengepung Beetle yang dikendarai Isyana.

Isyana terkejut, lalu melihat pemuda yang turun dari sisi lain Porsche itu. Alisnya langsung berkerut. "Kamu?"

Sebagai wanita tercantik di Kota Naldern, meskipun secara hukum sudah menikah, suami bodoh tetap saja tidak bisa menghalangi orang-orang yang mengejarnya. Di depannya sekarang adalah salah satunya, Bruno, putra sulung Keluarga Raliansyah yang terkenal sebagai playboy kaya raya.

"Ya, ini aku." Bruno tersenyum mengejek. "Isyana, bunga mawar dengan pinggiran emas yang kuimpor langsung dari Australia kamu buang ke tong sampah. Tas bermerek seharga ratusan juta kamu kasih ke pengemis. Tapi sekarang, kamu malah menabrak mobilku. Apa ini tandanya kamu berubah pikiran?"

Mata Isyana penuh rasa jijik. "Itu cuma kecelakaan. Berapa pun kerugiannya akan aku ganti."

"Kamu mau ganti? Apa kamu bisa?" Bruno menyeringai sinis. "Porsche 718 varian tertinggi ini minimal harganya hampir 6 miliar. Kamu sanggup ganti? Mobil ini juga sudah menemaniku menaklukkan puluhan wanita. Ini kenangan masa mudaku. Mana bisa diselesaikan dengan uang?"

Wajah Isyana menjadi kelam. "Terus, kamu mau apa?"

"Mudah saja. Jadi wanitaku, maka urusan ini selesai. Malah aku bisa kasih kamu satu Porsche edisi terbatas."

"Mustahil! Aku akan lapor polisi." Isyana buru-buru merogoh ponsel, tetapi langsung dirampas Bruno.

"Aku sudah siapkan kamar hotel. Kita tidur dulu, habis itu silakan kamu lapor polisi. Katakan saja kamu nggak sanggup ganti rugi, jadi pakai tubuhmu untuk bayar utang. Nggak ada yang nggak bakal percaya. Keluargamu pun nggak akan berani bantah."

Bruno tertawa puas, melambaikan tangan. Seketika, para preman di sekitarnya bergerak, berusaha meraih Isyana.

"Jangan mendekat!" Isyana panik, merasa tak berdaya.

Arlo menghela napas, lalu maju dan melindungi Isyana di belakangnya.

Bruno mencibir. "Apa-apaan ini? Si bodoh mau main jadi pahlawan kesiangan? Kamu pikir kamu pantas? Cih!"

Kemudian, pemandangan mengejutkan terjadi. Preman-preman ganas itu roboh satu per satu, berteriak kesakitan seperti kambing yang disembelih.

Hanya dalam sesaat, belasan orang tumbang. Isyana bahkan tak sempat melihat bagaimana Arlo melakukannya.

Padahal orang-orang yang dibawa Bruno terkenal jago berkelahi, tetapi mereka semua tak sanggup menahan beberapa pukulan dari Arlo?

Arlo mencebik. Setelah mendapatkan warisan, dia sudah berlatih di dalam ilusi lautan kesadaran selama tiga tahun. Menghajar preman seperti ini rasanya seperti memakai pisau besar untuk menyembelih ayam.

"Ini ...." Isyana melongo, tak pernah membayangkan suatu hari dia akan dilindungi oleh suaminya yang dianggap bodoh.

Senyuman mengejek di wajah Bruno mendadak hilang, berganti wajah pucat pasi. Sebagai playboy kaya raya, entah sudah berapa wanita dia tiduri. Namun, setiap menghadapi Isyana, dia selalu gagal.

Hari ini dia sudah hilang kesabaran, makanya sengaja merencanakan jebakan ini. Semua sudah diatur rapi. Seharusnya dia sudah bisa memaksa Isyana jatuh ke tangannya. Tak pernah dia sangka, justru dirinya sendiri yang ketakutan sekarang.

Isyana, wanita cantik terkenal dari Kota Naldern, menikah dengan orang bodoh, membuat banyak orang menyesalkan nasibnya. Siapa sangka, si bodoh itu ternyata sehebat ini.

Melihat tatapan Arlo yang menusuk padanya, tubuh Bruno bergetar hebat. Dia mundur tujuh hingga delapan langkah. "Ja ... jangan dekat-dekat! Mau apa kamu?"

Arlo mengepalkan tangannya. "Di depan mataku, kamu berani ganggu istriku. Menurutmu aku bakal diam saja?"

Bruno menelan ludah dengan gugup. "Ja ... jangan gila ya! Dia yang nabrak mobilku, memang sudah seharusnya ganti rugi ...."

Saat itu, Isyana buru-buru menarik Arlo. "Jangan! Memang aku yang salah. Aku yang harus tanggung jawab."

Meskipun kemampuan menyetirnya payah, dia masih tahu aturan. Barusan dia menelepon sambil menyetir, bahkan berbelok. Jelas itu salahnya.

Arlo menggeleng. "Kamu terlalu polos. Cepat ambil ponsel dan rekam."

"Rekam apa?" Meskipun bingung, Isyana tetap menurut dan menyalakan kamera.

Arlo meraih si pemuda berambut pirang yang mengemudi tadi, lalu mengangkatnya. "Kenapa kamu tabrak mobil istriku?"

"Aku ...." Pemuda itu awalnya ingin berbohong. Bagaimanapun, dia adalah pengikut setia Bruno. Namun, begitu melihat mata Arlo yang berkilat aneh, pikirannya seketika kosong.

"Pak Bruno yang suruh! Dia pasang orang di perempatan buat mengintai. Begitu melihat mobil Bu Isyana belok, aku langsung tabrak ...."

Kata-kata itu singkat, tetapi jelas membuka semua fakta. Ini bukan kecelakaan, melainkan jebakan yang sudah direncanakan.

Isyana mendengar semuanya dengan jelas. Wajahnya merah padam karena marah. "Bruno! Dasar nggak tahu malu!"

"Aku ...." Bruno langsung termangu. Rencananya yang sempurna menjadi hancur gara-gara anak buahnya membocorkan rahasia.

Arlo menendang si pirang sampai terlempar, lalu mendekati Bruno.

"Kamu ...." Bruno ingin melontarkan ancaman, tetapi sebelum sempat berbicara, pipinya sudah ditampar berkali-kali, sampai dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

"Sudah, cukup!" Meskipun marah, Isyana masih berusaha menahan Arlo. Bagaimanapun, Bruno adalah orang Keluarga Raliansyah. Mereka tidak bisa menanggung akibatnya jika masalah jadi semakin besar.

Bruno yang wajahnya bengkak pun menjadi semakin berani saat melihat Isyana takut. Dia berseru, "Dasar bodoh! Kamu berani tampar aku? Keluarga Raliansyah nggak akan ampuni kalian!"

"Kamu sendiri yang bilang aku bodoh, mana aku peduli kamu dari keluarga mana. Orang bodoh bahkan nggak bakal dihukum kalau membunuh. Menurutmu, gimana kalau aku bunuh kamu sekarang?" ejek Arlo yang menarik kerah baju Bruno, lalu menampar lagi.

Tatapan tajamnya membuat Bruno langsung menciut dan keberaniannya lenyap. Semua orang di kota tahu, menantu Keluarga Hanafi adalah orang bodoh. Kalau orang bodoh membunuhnya, siapa yang bisa menuntut?

Bruno buru-buru mengalah. "Tenang ... tenang! Jangan emosi. Apa pun maumu, aku turuti."

"Bagus. Jangan bikin aku marah atau aku benaran bunuh kamu." Arlo mendengus. "Kamu sudah menjebak istriku dan menabrak mobilnya. Menurutmu harus ganti rugi nggak?"

Bruno cepat-cepat mengangguk. "Aku akan ganti rugi! Aku langsung perbaiki mobilnya. Berapa pun biayanya, aku tanggung."

Arlo menamparnya lagi. "Cuma diperbaiki? Enak saja!"

"Aku ... aku ganti yang baru! Beetle, 'kan? Aku transfer 600 juta sekarang juga!"

Air mata Bruno hampir jatuh. Yang penting dia bisa segera lolos dari si bodoh ini. Soal balas dendam, nanti saja.

"Kamu rasa 600 juta cukup?" Arlo menampar dua kali lagi sampai bibir Bruno berdarah.

"Aduh! Aku sudah bayar sesuai harga mobil baru. Masih kurang apa?"

"Kurang banyak!" Arlo mendengus. "Itu bukan mobil biasa. Itu saksi cintaku dan istriku. Tanpa mobil itu, kami nggak akan bisa bersama. Itu perantara cinta kami. Sekarang kamu buat rusak, berarti kamu merusak saksi cinta kami. Jadi, minimal 2 miliar!"

"Aku ...."

Bab 4

Bruno hampir saja menyemburkan darah. Cara Arlo memeras orang persis dengan dirinya. Tadi dia bilang Porsche itu adalah saksi masa muda, sekarang Arlo malah mengeluarkan alasan saksi cinta, bahkan bilang itu adalah perantara jodoh.

Wajah Arlo sontak menjadi dingin. "Bilang saja, kamu mau kasih atau nggak?"

"Kasih, kasih, aku langsung kasih." Meskipun merasa tertekan, saat ini dia tidak berani mengucapkan sepatah kata penolakan.

Arlo melepaskannya, lalu mengambil ponsel dari tangan Isyana yang masih linglung dan membuka kode pembayaran. Tak lama kemudian, terdengar bunyi notifikasi. Uang dua miliar masuk rekening.

"Pergi sana! Jangan sampai terulang lagi. Kalau nggak, kamu nggak akan lolos semudah ini lagi." Begitu uang masuk, Arlo langsung menendang Bruno hingga terlempar.

Bruno gemetar menahan amarah. Kebetulan, dia melihat Bilal, kepala departemen medis rumah sakit, berlari menghampiri dengan tujuh hingga delapan satpam. Niat jahat langsung timbul di hatinya. Dia berteriak keras, "Pak Bilal, aku dipukuli dokter kalian! Kalian harus tanggung jawab!"

Keluarga Raliansyah memiliki bisnis obat. Demi mengejar Isyana, dia sering datang ke rumah sakit, jadi sudah akrab dengan Bilal. Melihat kondisi Bruno yang parah, ekspresi Bilal berubah serius. "Apa yang terjadi?"

Bruno menunjuk Isyana dan Arlo, langsung memutarbalikkan fakta. "Dia menabrak mobilku, lalu suruh si bodoh ini memukulku. Si bodoh bilang orang gila nggak akan dihukum kalau membunuh. Kemudian, mereka peras aku 2 miliar!"

Mendengar itu, Bilal murka. "Pagi tadi kamu salah diagnosis dan hampir membuat pasien meninggal. Kamu bahkan mengirim pasien yang masih hidup ke kamar mayat! Kamu juga berani bawa keluargamu yang punya gangguan jiwa ke rumah sakit!"

"Hanya dengan dua kesalahan itu saja, izin praktikmu bisa dicabut! Bisa-bisa kamu dipenjara seumur hidup! Sekarang kamu malah main tangan di rumah sakit! Di dunia ini masih ada hukum atau nggak?"

Dengan suara lantang, Bilal langsung menuduh Isyana. Keributan ini pun menarik perhatian banyak orang di pintu rumah sakit.

Mendengar ucapan Bilal, semua orang mulai menunjuk dan bergosip. Pasien hidup dikirim ke kamar mayat? Menabrak dan memeras? Itu dokter atau preman?

Melihat reaksi orang banyak, Bilal merasa puas. Kebetulan Ibrahim adalah kakak iparnya. Begitu mendengar tentang Fellis yang salah didiagnosis dan insiden di kamar mayat, dia sadar harus membuat masalah ini jadi lebih besar agar bisa menekan Isyana, sekaligus menutupi kesalahan iparnya. Bagaimanapun, ke depannya dia masih butuh koneksi Ibrahim untuk kariernya.

Bruno menambahkan, "Pak Bilal, kita sudah kenal lama, urusan ini aku serahkan padamu. Aku ada urusan, aku pergi dulu. Ingat, harus ada penjelasan buatku nanti."

"Tenang saja!" Bilal mengangguk.

Bruno segera berbalik dan naik ke mobilnya. Salah satu anak buahnya bertanya, "Satpam-satpam itu 'kan sudah tua dan lemah. Sepertinya juga bukan tandingan si Arlo, 'kan?"

Bruno mendengus. "Kamu ngerti apa? Aku justru ingin dia bikin keributan besar. Lebih bagus kalau dia sampai bunuh satpam-satpam itu! Saat itu, Isyana pasti akan datang memohon kepadaku!"

....

Begitu Bruno pergi, Bilal memasang ekspresi berkuasa dan menatap Isyana. "Gimana? Kalian mau jalan sendiri atau perlu aku suruh orang bawa kalian?"

"Tahan mereka berdua, tunggu hasil rapat rumah sakit. Harus diproses dan nggak boleh ditoleransi! Kalau perlu lapor polisi, langsung laporkan saja!"

Kebetulan kepala perawat lewat. Karena hubungannya dengan Isyana baik, dia tak tahan untuk bertanya, "Pak Bilal, apa ada salah paham di sini? Semua orang tahu kemampuan Dokter Isyana, mana mungkin dia buat kesalahan sepele begitu?"

Bilal melambaikan tangan dengan penuh wibawa. "Kamu urus saja pekerjaanmu, urusan ini bukan wewenangmu!"

"Walaupun pintar, moral tetap yang utama! Dia lalai dan kirim pasien hidup ke kamar mayat. Itu jelas-jelas mengabaikan nyawa orang, itu adalah kecelakaan medis besar!"

Kepala perawat tidak tahu kebenarannya, jadi tidak berani berbicara lagi.

"Kamu bohong! Pagi tadi saat aku masuk, Fellis sudah lebih dulu dinyatakan meninggal oleh Ibrahim!" Isyana yang tak tahan lagi akhirnya membantah di depan umum.

Tatapan Bilal pada Isyana mengandung sedikit kerakusan dan rasa puas. Dulu dia pernah mengisyaratkan ingin bermain dengan Isyana, tetapi wanita itu malah menamparnya keras-keras. Sekarang wanita itu jatuh ke tangannya. Dia ingin melihat sampai kapan Isyana bisa berpura-pura suci!

"Pihak rumah sakit pasti akan menyelidiki kebenarannya! Tangkap mereka! Bawa ke ruang rapat dulu!" Bilal menyeringai dingin.

Empat sampai lima satpam itu pun segera mengepung.

Arlo bertanya dengan santai, "Kalau nggak salah, departemen medis rumah sakit nggak punya hak untuk menangkap orang, 'kan?"

Bilal tertawa sinis. Orang gila ini berani berbicara soal hukum?

"Kamu ini siapa? Apa aku butuh jelasin ke kamu? Orang yang ketahuan melecehkan mayat perempuan masih berani melawan? Tanya orang-orang, apa salah kalau aku menangkapmu?"

Mendengar tuduhan melecehkan mayat, kerumunan langsung bergidik. Terlalu menjijikkan! Orang-orang mulai berteriak agar Arlo segera ditangkap.

Isyana mengernyit, menatap Arlo dengan kesal. Bukannya membantu, malah memberi celah kepada Bilal.

Dia segera mengeluarkan ponsel, ingin menelepon ayahnya agar meminta bantuan orang berpengaruh. Setidaknya, jangan sampai Arlo ditangkap dengan tuduhan menjijikkan itu.

Namun, baru saja panggilan terhubung, Bilal memukul ponsel Isyana hingga jatuh. "Cih! Mau pakai koneksi? Percuma! Perempuan macam kamu cuma modal wajah cantik. Kamu pikir bisa pakai tubuh buat menukar kekuasaan ...."

Bilal bahkan meludah ke arah kaki Isyana.

Wajah Isyana memerah, tubuhnya gemetar karena marah. Wajah Arlo pun semakin suram.

Tiga tahun ini, walaupun hanya status suami istri tanpa hubungan nyata, Isyana selalu merawatnya. Melihatnya dihina begini, api amarah langsung membakar kepalanya.

"Minta maaf!" bentak Arlo dengan dingin.

Bilal mendengus meremehkan.

Plak! Arlo langsung menampar wajah Bilal dua kali.

"Kamu berani menamparku?" Urat di kening Bilal menegang. "Kalau aku nggak bikin kamu masuk penjara, namaku bukan Bilal!"

"Menamparmu? Barusan Bruno bilang, orang gila nggak akan dihukum kalau bunuh orang, 'kan?"

Sambil berbicara, Arlo mencengkeram leher Bilal. Sedikit ditekan saja, wajah Bilal sudah merah dan matanya penuh ketakutan.

"Arlo, lepaskan!" Isyana segera menariknya.

Namun, wajah Arlo tetap dingin. Bilal pun mulai sesak napas. Dia meronta-ronta, tetapi tidak bisa melepaskan diri.

Beberapa satpam buru-buru maju. Namun, Arlo menahan Bilal dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya mengempaskan para satpam itu dengan mudah.

Orang-orang menatap Arlo dengan wajah takut. Si gila ini benar-benar berbahaya!

"Minta maaf atau nggak?" tanya Arlo dengan dingin.

Bilal dengan susah payah mengangguk. Arlo baru melepaskan tangannya. "Aku ... aku minta maaf!"

Bilal yang panik pun terbata-bata, lalu kabur keluar kerumunan. Setelah berlari agak jauh, dia kembali berteriak, "Tunggu saja pembalasan dariku!"

Arlo menyeringai sinis. "Aku tunggu, aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan."

Isyana mengerutkan kening. Arlo sebelumnya tidak pernah sebrutal ini. Kini, urusannya menjadi sebesar ini. Dia benar-benar bingung bagaimana harus menghadapinya.

Saat itu, dari luar kerumunan, Ibrahim dan Rayanza muncul dengan dikawal beberapa pengawal.

Bab 5

Bilal buru-buru menyongsong ke depan, lalu menunjuk Arlo sambil mengadu, "Pak Ibrahim, cepat panggil polisi. Dia ... dia hampir saja membunuhku! Dia juga memeras Bruno sampai 2 miliar!"

Ibrahim menatap wajah menyedihkan Bilal. Sudut bibirnya tak kuasa berkedut.

Rayanza menatap Arlo. Dia sama sekali tidak peduli Arlo memukul siapa atau berbuat apa. Dia hanya ingin tahu, apakah putrinya bisa diselamatkan atau tidak.

Di sisi lain, meskipun Arlo dikepung begini, wajahnya tetap tenang. Mentalnya benar-benar stabil.

Rayanza membuka mulut. "Yang menemukan kalau putriku masih hidup di kamar mayat itu kamu?"

"Bukan. Lebih tepatnya aku yang menemukan kalau putrimu masih bisa diselamatkan. Aku yang menolongnya!" Arlo mendongak.

"Omong kosong! Kamu itu orang gila! Memangnya pernah masuk fakultas kedokteran? Punya izin praktik dokter?" Ibrahim langsung menyanggah.

"Nggak. Tapi memang aku yang selamatkan pasien. Kamu sudah kuliah kedokteran dan punya izin dokter, 'kan? Ya sudah, sekarang kamu coba hidupkan dia. Ngapain datang ke sini?" Arlo mencibir, jelas sudah menebak maksud kedatangan mereka.

Hati Ibrahim langsung dipenuhi firasat buruk.

Rayanza mengangkat sedikit kelopak matanya. "Kalau begitu, sekarang kamu pergi selamatkan putriku dan buktikan kata-katamu. Aku bisa nggak menuntut urusan yang sebelumnya!"

Arlo mengangkat alis, tidak senang. "Nggak mau, aku lagi nggak mood! Kalau bukan karena aku, putrimu setengah jam yang lalu sudah mati. Kamu juga nggak punya hak bicara padaku dengan nada seperti itu!"

Rayanza mengepalkan tangan. Dengan statusnya saat ini, tidak ada orang yang berani berbicara padanya begitu.

Namun, dia segera menyerah. Nyawa putrinya di ujung tanduk. Dia hanya bisa pasrah, mencoba segala cara.

"Apa syaratmu supaya mau menolong putriku? Sebutkan saja. Asal bisa menyelamatkan dia, aku nggak akan protes!"

Arlo mengangguk. "Begitu baru sikap orang yang minta tolong!"

Sambil berbicara, pandangannya menyapu Ibrahim dan Bilal. Dengan dingin, dia berkata, "Aku minta reputasi istriku dipulihkan. Siapa yang salah, dia yang harus tanggung jawab!"

Hati Isyana rumit. Dia merasa terharu karena Arlo masih melindunginya di saat begini. Namun, dia juga ketakutan. Bahkan dokter terkenal seperti Leonard saja tidak bisa menyelamatkan Fellis, apa Arlo bisa?

Bilal melongo. Situasinya sama sekali di luar bayangan.

Awalnya dia mengira Rayanza pasti akan menampar Arlo habis-habisan. Siapa sangka, Arlo malah diperlakukan sopan, bahkan dimintai tolong untuk menyembuhkan Fellis?

Dia melirik Ibrahim, melihat wajahnya sudah merah padam. Seketika, dia ikut panik.

Rayanza yang lihai di dunia bisnis sudah bisa menebak. "Pak Ibrahim, kalau sekarang kamu nggak bicara jujur, aku akan panggil pihak pengawas kedisiplinan untuk datang menyelidiki!"

Dahi Ibrahim langsung dipenuhi keringat dingin. Di rumah sakit ini, dia memang bisa menutupi segalanya. Namun, kalau pengawas turun tangan, tidak bisa lagi!

Setelah ragu sesaat, Ibrahim pun menceritakan semuanya. Setelah selesai, dia tak tahan untuk menekankan, "Pagi tadi kondisi pasien memang sudah nggak ada napas dan detak jantung ...."

Rayanza melambaikan tangan. "Urusan kita berdua akan kuperhitungkan lain waktu. Sekarang, kamu harus minta maaf pada siapa?"

"Maaf, benar-benar maaf! Tadi aku khilaf!" Ibrahim buru-buru berbalik dan meminta maaf pada Arlo.

Arlo mencebik. "Hmm?"

Ibrahim langsung menoleh ke Isyana dan terus meminta maaf. Melihat itu, Bilal pun ikut panik, juga segera meminta maaf pada Isyana.

Isyana hanya diam. Jadi, keduanya sama-sama memohon pada Arlo. Arlo menyeringai. "Kalau minta maaf saja cukup, buat apa ada polisi? Betul 'kan, Pak Rayanza?"

Dengan cemas, Rayanza menyahut, "Aku pasti akan memberimu jawaban nanti! Tolong obati putriku dulu!"

Arlo mengangguk. Isyana semakin gelisah. Kini, Arlo terasa begitu asing dan membuatnya khawatir. Dia diam-diam menggeleng, lalu meraih lengan Arlo.

Arlo menyeringai, balik menggenggam tangan Isyana sambil menekannya pelan. "Tenang, aku yakin bisa."

Isyana merasakan kehangatan dari telapak tangannya. Entah kenapa, dia menjadi gugup. Kata-kata yang ingin diucapkan pun ditelan kembali.

Arlo lantas mengikuti Rayanza masuk ke ruang gawat darurat, sementara wajah Ibrahim dan Bilal tampak muram.

"Kak, gimana ini?" Bilal kelihatan sangat panik.

Ibrahim mendengus. "Masa kamu juga percaya orang gila bisa mengobati?"

"Ah, iya .... Kalau nanti gagal dan Pak Rayanza marah, kita berdua yang celaka!" Bilal buru-buru mengangguk.

Mereka ikut menyusul ke ruang gawat darurat.

Begitu masuk, Arlo langsung menekan dada Fellis dengan kedua tangannya sambil berkata dengan tenang, "Cepat ambilkan aku satu kotak jarum akupunktur!"

Wajah Rayanza seketika muram. Kalau bajingan ini tidak berhasil, tangannya pasti akan dipotong!

Dokter-dokter di tempat itu juga merasa konyol. Orang gila menjadi dokter, masih pakai akupunktur? Benar-benar lucu! Bahkan film komedi pun tidak sampai segila ini.

Leonard bergumam, "Sindrom jiwa terlepas diobati dengan akupunktur? Ini ...."

Arlo menyeringai. "Sindrom jiwa terlepas? Kamu salah, ini sindrom jiwa tercerai!"

"Sindrom jiwa tercerai?"

Saat itu, perawat membawa jarum. Arlo tidak menjelaskan lagi. Dia langsung mengambil jarum, lalu dengan cekatan menusukkan ke titik akupunktur di ubun-ubun Fellis.

Ketika menusukkannya, dia mengunci roh Fellis dengan energi, menarik kembali roh yang tercerai. Begitu jarum dicabut, detak jantung Fellis kembali normal dan napasnya pun stabil.

"Ada harapan!"

"Sudah ada napas!"

"Stabil!"

Tak lama kemudian, Fellis perlahan sadar. Dia memandang orang-orang di sekitarnya dengan bingung, lalu menangis.

Para dokter melongo menatap Arlo. Leonard menggaruk kepala, sama sekali tidak paham. Hanya beberapa tusukan biasa, tetapi benar-benar menghidupkan orang?

Mata Rayanza memerah. Dia buru-buru mengusap wajahnya, baru bisa tenang kembali.

Isyana juga terkejut. Melihat Arlo yang tenang, dia merasa bingung untuk sejenak. Pria ini benar-benar orang yang dulu dia kenal sebagai pria gila dan tak berguna?

"Nyawanya sudah kembali, tapi lever dan limpanya nggak seimbang. Energi dan darah juga tersumbat, menimbulkan depresi berat. Masih harus dirawat perlahan," kata Arlo dengan tenang.

Leonard mengangguk. "Dalam pengobatan tradisional, depresi dianggap sebagai penyakit akibat emosi yang terimpit. Hanya saja cara penyembuhannya rumit sekali."

Rayanza bertanya, "Dokter Kecil, kamu punya cara?"

"Ada, tentu ada!" Arlo mengangkat alis. Memang bisa, tetapi merepotkan.

Bagi Rayanza yang merupakan seorang pebisnis, pendidikan atau sertifikat tidak penting, yang penting hasil. Apalagi, dia sudah sering mendengar tentang dokter kurang dikenal yang memiliki kemampuan hebat.

Arlo sudah membuktikan kemampuannya sehingga Rayanza percaya penuh padanya. Makanya, ketika mendengar Arlo bilang bisa, dia langsung berkata, "Sebut saja syaratmu!"

"Seminggu dua kali akupunktur, ditambah ramuan herbal. Depresi karena emosi tersumbat harus diatasi pelan-pelan," jelas Arlo.

"Baik, baik! Setelah Fellis keluar dari rumah sakit, aku akan suruh orang menjemputmu seminggu dua kali!" Rayanza khawatir Arlo menolak.

Arlo hendak mengangguk, tetapi Isyana diam-diam mencubit pinggangnya. Kali ini dia beruntung bisa menolong Fellis. Itu sudah anugerah terbesar! Sekarang masih mau mengobati depresi berat? Mana ada depresi berat yang gampang sembuh!

Banyak orang kaya dan terkenal tak kekurangan uang atau dokter hebat, tetapi semua tumbang karena penyakit ini ....

Arlo hanya bisa mencibir. "Nanti kita bicarakan lagi!"

Rayanza mengira itu soal janji sebelumnya. Dia buru-buru memerintahkan pengawalnya, "Bawa Ibrahim dan Bilal ke lembaga pengawas. Bilang aku yang melaporkan mereka berdua atas pelanggaran!"

Ibrahim dan Bilal langsung melemas di luar.

"Ehem, Anak Muda, kalau ada kesempatan, aku ingin belajar darimu juga." Leonard tersenyum kaku.

"Kalau ada kesempatan, kita saling belajar." Arlo tersenyum tipis.

Leonard mengangguk berkali-kali. Kesannya pada Arlo semakin baik. Rendah hati, tetapi punya kemampuan. Dulu waktu seusia Arlo, dia pun tidak bisa begitu!

Isyana sudah tidak tahan. Apa-apaan masih mau saling belajar? Leonard itu dokter terkenal dalam negeri!

Arlo hanya bermodalkan beberapa buku kedokteran yang tidak jelas, tetapi berani berbicara omong kosong. Sudah jelas, dia hanya menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Dia pun buru-buru menarik Arlo keluar.

Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya