Logo
Wanita Pilihan Mafia
Wanita Pilihan Mafia

Wanita Pilihan Mafia

54 Bab
Tamat
Dalam Wanita Pilihan Mafia, Salwa terpaksa mengabdi pada majikannya, Sean Arthur, demi biaya pengobatan ayahnya. Di tengah tekanan genre modern ini, ia harus memilih antara harga diri atau menjadi istri siri sang mafia novel. Sebuah romance novel penuh dilema dan risiko besar.
Bab 1 dari Wanita Pilihan Mafia

Mata Salwa memaksakan diri untuk membuka tatkala merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyapu ujung dadanya. Permukaan tubuhnya terasa mengigil, seolah-olah tiada kain yang melindungi tubuh kurusnya dari hawa dingin ruangan ber-AC itu. Dia terkesiap di saat matanya terbuka sempurna, lalu bersiap membuka mulut untuk berteriak. Akan tetapi, suaranya tertahan karena sebuah tangan kekar tiba-tiba membungkam mulutnya.

"Tugasmu belum selesai, Kucing Mungil!" ucap seorang lelaki yang telah mengganggu tidur lelap Salwa. Dia melepas bungkamannya setelah dirasa perempuan itu sedikit tenang.

"Tuan, ...." Belum selesai sebuah kalimat terucap, tetapi lelaki itu sudah memerangkap tubuh Salwa, menindih dengan memosisikan tubuh mungil itu di bawahnya. Dia menundukkan wajah, menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung Salwa.

"Aku tidak suka jika melakukan itu dengan wanita yang sedang tertidur. Kau harus tetap sadar ketika aku menginginkannya lagi."

"Tapi, ...." Dia ingin menyela, mengungkapkan ketidaksetujuannya, tetapi mulut itu telah dibungkam dengan ciuman ganas yang terasa kasar dan menyakitkan.

Rasa benci, jijik, malu, terhina, dan sakit melingkupi hati Salwa. Dia ingin berteriak, melawan sikap seenaknya lelaki itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain "menyerah".

***

Koowloon, Hong Kong.

Mobil sport jenis Lamborghini Veneno dengan warna hitam metalic itu melaju gesit, membelah keramain jalan raya di salah satu kota besar di Hong Kong. Lekuk body mobil itu terlihat begitu exotic di bagian tertentu, terlihat elegan juga mewah menambah kesan mahal dari segi harga dan kualitas.

Lelaki itu menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Pandangannya lurus ke depan terfokus ke jalanan, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung yang selalu terlihat tampan dan menawan.

"Kalian di mana?" ucapnya kepada seseorang berada nan jauh di sana yang kini sedang terhubung dengan lelaki itu melalui Smartphone keluaran terbaru versi limited edition.

Dia menyematkan earpiece di telinga, sementara tangannya sedang fokus mengendara agar segera sampai ke tempat tujuan.

"Bodoh! Benar-benar tidak berguna!" Umpatan kesal keluar dari mulut lelaki itu sembari memukul gagang setir mobil.

Kilat kemarahan tercetak jelas dari sorot matanya, gerahamnya pun mengeras bersamaan kening yang berkerut dalam. "Bunuh saja dia! Aku sudah tidak peduli dengan nyawa yang tak berguna itu."

Panggilan berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan. Lelaki itu menambah laju kendaraannya, menerobos kepadatan jalan raya kota Kowloon.

Hampir tiga puluh menit berlalu, mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di sebuah lahan kosong dengan bangunan tua yang tampak menyeramkan. Tanaman rambat liar terlihat menghiasi bangunan itu, menjalar hingga ke atap, hampir menutupi permukaannya.

Lelaki itu turun tanpa ragu, menapakkan kaki jenjang yang beralas sepatu berkilat-kilat, melangkah ringan tanpa beban seolah-olah apa yang akan dia hadapi saat ini merupakan mainan tak berharga dan patut untuk segera dimusnahkan keberadaannya.

Dia berjalan melewati lorong gelap bangunan tua itu seorang diri. Begitu gelap, hingga dia harus mengaktifkan kacamata sensornya yang bisa melihat dalam gulita untuk bisa mengamati keadaan sekitar.

Layaknya seorang petinggi, saat dia datang, semua orang yang berpakaian sama yaitu setelan formal serba hitam, kacamata hitam dengan earpiece tersemat di telinga yang menghubungkan antara satu orang dengan yang lain segera menepi memberi jalan, membiarkan seseorang bernasib sial, yang kini sedang mengerang kesakitan akibat pukulan-pukulan yang telah diterima untuk bertemu dengan takdir sesungguhnya.

Derap langkah sepatunya berdentum, menggema melingkupi ruangan itu, hingga ketika kakinya sudah sangat dekat dengan seonggok tubuh, hampir menyentuh kepala lelaki malang yang sedang meringkuk di lantai, dia berhenti.

Satu kaki ditekuk ke belakang dengan kaki yang lain terlipat sebagai tumpuan. Dia memosisikan tangan kanan di atas lututnya yang ditekuk, sedangkan tangan kirinya menarik paksa rambut si lelaki malang hingga kepala itu tergiring menengadah.

"Siapa yang menyuruhmu!"

Bukan jawaban yang keluar dari bibir lelaki malang itu, melainkan sebuah senyuman mengejek yang sengaja ditujukan kepada seseorang yang telah menyiksanya. Dia mencoba memantik kemarahan sang singa, yang kini tampak mulai tidak sabar untuk melenyapkannya. Ya, dia adalah satu-satunya petunjuk yang masih tersisa setelah beberapa rekannya telah mati terbunuh.

"Ambilkan air!"

Sebuah perintah terdengar penuh ketegasan, dan dengan cepat seseorang telah datang seraya membawa sebuah wadah berisi air.

Lelaki itu mengambil alih wadah itu, menyiramkannya secara kasar ke wajah lelaki malang yang sedang meringkuk kesakitan. Sepatunya menginjak dada manusia yang tak berdaya itu dengan kejam. Dia membungkukkan tubuh, menunduk, lalu menatap tajam ke arah lelaki itu.

"Kau tahu bukan, siapa aku?" Dia tersenyum sinis, menambah daya tekan kakinya di atas dada lelaki malang itu. "Cari anak istrinya! Siksa mereka agar dia mau membuka mulut!"

Lelaki malang itu tercengang, tidak menyangka dengan ucapan yang terlontar dari bibir pria jahat itu. Dia lupa siapa yang sedang dihadapinya, sosok iblis yang tak berperikemanusiaan juga tak memiliki empati serta belas kasihan. Pikirannya seketika berkecamuk, saling beradu pendapat dan berakhir dengan sebuah jawaban, kematian.

Sungguh kematian lebih baik baginya daripada harus menyaksikan istri dan anaknya disiksa oleh lelaki bengis itu. Jika dia bersuara, seseorang yang telah menyuruhnya akan berbuat sama dengan keluarganya. Dua manusia kejam yang berdiri mengelilingi kehidupannya membuat lelaki malang itu tak sanggup untuk memilih, hingga sebuah keputusan sulit harus ditempuhnya.

Lelaki malang itu menjulurkan lidah semampu yang dia bisa, menggigitnya dengan kuat hingga darah segar menetes sedikit demi sedikit dan ....

Ya, kematian seperti keinginannya telah terwujud dan disaksikan langsung oleh lelaki kejam yang berdiri di atasnya, Sean Arthur.

"Singkirkan mayat yang tak berguna ini!" Dia berteriak kesal, menahan amarah yang bergemuruh di dada. Bahkan, tawanan rela memilih mati daripada harus membuka mulutnya untuk memberikan sebuah jawaban.

Sean Arthur melangkahi jenazah itu begitu saja, seolah-olah tubuh yang baru saja mengakhiri kehidupan di depan matanya tidak memiliki harga sama sekali.

***

Bertolak belakang dengan kehidupan seorang Sean Arthur. Di tempat yang berbeda, di salah satu sudut kota di Indonesia, tampaklah seorang gadis baru saja keluar dari pagar sekolahnya. Senyum mengembang terlihat jelas di wajah gadis berkerudung putih itu. Dengan semangat dia berlari sembari mencangklong tas sekolah di bahunya. Ijazah dengan nilai terbaik sudah berada di tangan kanannya. Dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya bahwa nilai terbaik sudah berhasil ia dapatkan. Bukan hanya itu, tawaran beasiswa dari salah satu perusahaan terkemuka untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi juga telah berhasil dia raih.

Sungguh hari ini adalah hari keberuntungan bagi gadis itu, Salwa Humaira.

Mengabaikan peluh di dahi, Salwa Humaira yang baru saja menerima piagam kelulusan dari sekolah menengah atas berlari memasuki pelataran rumahnya. Rumah berbahan dasar bambu yang dianyam sebagai dinding, beralas semen yang tampak tidak rata permukaannya, dan bilah bambu yang dirakit sedemikian rupa untuk dijadikan ranjang tidur yang terletak di sudut teras rumahnya.

Salwa menghentikan langkah, ketika kakinya telah sampai di depan pintu rumah. Dia mengatur napas sejenak, sebelum pada akhirnya memasuki rumah itu yang tak terlihat terbuka pintu depannya.

"Assalamu'alaikum," ucap Salwa memberi salam. Tiada jawaban yang terdengar dari dalam rumah. Dia terus melangkah, masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi, sangat berbeda dengan biasanya.

Sayup-sayup terdengar panggilan dari luar rumah, membuat Salwa segera meletakkan tas dan ijazah yang sedari tadi dia genggam. Dia buru-buru keluar tanpa sempat berganti pakaian.

"Salwa, Salwa!"

Gadis itu terus melangkah, hingga terhenti di depan pintu. Pandangannya bersirobok dengan seorang wanita berbadan tambun yang terlihat tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.

"Bapakmu ... masuk rumah sakit." Wanita itu berbicara tanpa menunggu Salwa menanyainya.

Salwa ternganga, terkejut akan kabar yang baru saja dia terima. Patutlah tak ada seorang pun yang berada di rumahnya, karena mereka semua sedang sibuk di rumah sakit.

"Tante Ayi, bisakah mengantarkan saya ke sana? Saya ... tidak memiliki uang untuk pergi," pinta Salwa dengan ragu.

Kehidupannya memang sulit. Dia lebih banyak jalan kaki atau menumpang teman yang kebetulan searah dengannya jika akan berangkat atau pulang sekolah. Sepeda roda dua satu-satunya digunakan oleh kedua adik laki-laki Salwa yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama. Ya, Salwa adalah anak sulung dari empat bersaudara, hal itu membuatnya harus lebih banyak mengalah untuk kepentingan adik-adiknya daripada kepentingannya sendiri.

Tante Ayi mengangguk menyetujui. Dia sangat tahu bagaimana kondisi keluarga Salwa sehingga dia memilih untuk mengantarkan Salwa ke rumah sakit di mana bapaknya sedang dirawat.

"Tunggu sebentar, Tan! Saya akan berganti pakaian."

Salwa segera masuk kembali ke dalam rumahnya, bersiap diri untuk segera berganti pakaian. Tidak menunggu lama, gadis itu telah siap dengan pakaian rumahan juga kerudung instan yang dipakai alakadarnya, tak lupa juga tas punggung yang entah apa isinya.

Dia berlari kecil ke luar rumah agar Tante Ayi tidak terlalu lama menunggu kedatangannya. Dia mengangguk kemudian, menutup rapat pintu rumah, lalu mengikuti Tante Ayi pergi.

Hati Salwa begitu gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya sedang sakit, sementara ibunya pasti harus bekerja lebih untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga. Apakah dia akan tega jika memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tengah perekonomian keluarga yang sedang terpuruk?

Dia adalah anak sulung, dan di sana ada tiga orang Adik yang harus ditanggung kebutuhan juga pendidikannya. Bukankah sudah sepatutnya Salwa harus membantu kehidupan keluarga, meringankan beban sang Ibu agar tidak terlalu berat memikul masalah keluarga. Lantas, bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Bagaimana dengan beasiswa yang berhasil diraihnya?

Salwa termenung di atas jok motor Tante Ayi yang sedang membawanya ke rumah sakit. Pikirannya saling bertentangan, beradu, mencari jalan keluar atas apa yang sedang menimpa keluarganya.

Antara melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Antara mengejar mimpi atau meringankan beban keluarga. Salwa harus bisa memilih di antara keduanya. Merelakan mimpi yang sudah hampir dia raih, atau merelakan mimpi itu pergi setelah perjuangan berat yang dia lakukan selama ini untuk mendapatkannya. Keputusan itu harus diambil dengan segera oleh Salwa, karena hanya dia seorang yang bisa diandalkan dalam keluarganya untuk saat ini.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku (Bukan) Anak Mafia
Aku (Bukan) Anak Mafia
Dalam novel Aku (Bukan) Anak Mafia, Rehan terpaksa mengikuti jejak ayahnya sebagai ketua klan. Remaja pendiam ini harus menghadapi konflik mafia novel dan pernikahan paksa dengan musuh bebuyutannya di sekolah. Temukan kisah young adult fiction romance books yang penuh tekanan dan ambisi ini.
Darah Sang Mafia
Darah Sang Mafia
Darah Sang Mafia mengisahkan Dastan, pembunuh berdarah dingin yang terjebak misi melindungi Dara. Di balik aksi dan rahasia kelam keluarga, mereka harus bertahan dari ancaman kematian. Baca mafia romance books ini untuk mengikuti perjuangan mereka keluar dari dunia kegelapan di web novel ini.
Diatas Ranjang Papa Angkatku
Diatas Ranjang Papa Angkatku
Dalam novel mafia ini, Bianca bertekad menaklukkan hati Emanuel Carlos, papa angkatnya yang kejam. Meski dibayangi masa lalu kelam, ia nekat mengejar cinta sang ketua mafia. Baca kisah romansa intens ini di webnovel, pilihan terbaik bagi penggemar romance novel dan mafia romance books.
GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
Dalam GADIS BIASA VS BOSS MAFIA, Anne Mary terjebak dalam dunia gelap setelah menjadi saksi pembunuhan. Mafia novel ini mengisahkan transformasi Anne dari gadis polos menjadi petarung tangguh demi bertahan hidup. Baca kisah serunya di web novel yang penuh aksi dan pengkhianatan ini.
Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia
Dalam Istri Ke-4 Kesayangan Tuan Mafia, Aneisha harus bertahan dari siksaan Tuan Zu dan ketiga istrinya. Setelah melarikan diri, ia bertransformasi menjadi wanita tangguh. Baca kisah selengkapnya di mafia novel ini, sebuah romance stories penuh intrik dan aksi yang memukau.
Membongkar Kedok Tunangan Mafiakuku
Membongkar Kedok Tunangan Mafiakuku
Dalam Membongkar Kedok Tunangan Mafiakuku, seorang arsitek dikhianati oleh tunangan kejamnya. Mafia novel ini mengisahkan perjuangannya merebut kembali rancangan kasino dan membalas dendam atas kehilangan bayinya. Sebuah romance fiction books penuh aksi tentang pengkhianatan dan perang kekuasaan.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Reborn 1998: Saatnya Kuasai Dunia!
Reborn 1998: Saatnya Kuasai Dunia!
Sebagai orang terkaya di dunia, hidup Rusli terasa hampa. Dirinya yang sendirian selalu meratapi kepergian mendiang istri dan anaknya. Di saat muda, dirinya berbuat banyak kesalahan yang akhirnya mendorong mereka untuk mengakhiri hidup. Hal itu pun sangat menyiksanya hingga tua. Dia pun memohon untuk diberikan kesempatan terakhir supaya bisa menebus dosa. Ternyata keinginannya dikabulkan, Rusli pun akan berusaha mempertahankan pernikahannya serta membangun kembali kejayaannya dengan semua pengetahuannya dari dunia masa depan.
Awas Kalau Cerai
Awas Kalau Cerai
Selama tiga tahun, Sylvia tergila-gila pada Nathan. Namun, saat cinta pertamanya kembali, Nathan memilih menceraikan Sylvia. Tanpa sepengetahuannya, Sylvia pergi dalam keadaan hamil. Ketika Nathan akhirnya melihat sifat asli mantan kekasihnya, dia pun menyesal. Di tengah hujan deras, dia berlutut memohon Sylvia kembali. Tapi Sylvia justru merobek surat cerai itu dengan keras. Dengan kepala tegak, dia pergi bersama Rory, aktor ternama, tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Nathan yang hancur dalam penyesalan.
Jangan Megganggu dengan Kakakku
Jangan Megganggu dengan Kakakku
Dia seorang wanita yang sangat lemah jadi sering ditindas oleh keluarga suaminya. Tak disangka pria kaya itu meninggal, sedangkan dia menjadi pewaris harta pria kaya itu. Saat itu, suaminya mulai menyuruh orang mencelakainya hanya untuk mendapatkan warisan. Tak disangka pembunuh yang disewa malah saudara kembar istrinya. Mereka pun mulai melakukan pembalasan dendam terhadap keluarga suaminya. Wanita yang disewa, yang lugas dan tangguh, atas permintaan orang lain, membantu dia merebut kembali kekayaannya. Mereka segera menemukan bahwa mereka sebenarnya adalah saudara kembar. Bersama-sama, mereka berusaha mengungkap kebenaran tentang kematian orang tua mereka dan membalas dendam pada keluarga suaminya.
Menemani Pewaris
Menemani Pewaris
Setelah tunangan Serena Monroe mencampakkannya, sahabatnya memanggilnya pendamping. Namun, seperti sudah ditakdirkan, Serena masuk ke ruangan yang salah dan menghabiskan malam bersama Jesse Ross – seorang CEO miliarder menawan yang diam-diam jatuh cinta padanya.
Saya Menikah dengan Orang Lain, Pak CEO
Saya Menikah dengan Orang Lain, Pak CEO
Dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar pria yang dicintainya, tetapi pada akhirnya, pria itu justru menyakitinya! Namun, dia tidak pernah menyesal mencintainya, bahkan di saat-saat terakhirnya.
Pengacara Iblis yang Menyelamatkanku
Pengacara Iblis yang Menyelamatkanku
Leilani, yang ayah angkatnya difitnah oleh mantan pacarnya. Leilani yang putus asa mencari bantuan, mencari satu-satunya pria yang paling tidak dia percayai, Diego Marlowe, seorang pengacara yang kejam dan tak terkalahkan, yang kebetulan juga calon ipar musuhnya. Yang awalnya merupakan kesepakatan berbahaya dan hubungan palsu segera berubah menjadi permainan kekuasaan, rahasia, dan daya tarik yang tak tertahankan. Saat mereka saling memanfaatkan untuk menavigasi pertempuran di sekitar mereka, satu pertanyaan muncul: Apakah Diego benar-benar hanya pengacaranya, atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi hatinya?