Bab 2

Aku melihat ekspresi bosku yang penuh arti. Meski di dalam hati terasa sangat gelisah dan tergoda, aku tetap menggelengkan kepala. George menarik wanita itu ke sofa di dalam ruang VIP. Wajahnya menempel pada dada kirinya, mulutnya melakukan gerakan mengisap dan ekspresinya menunjukkan kenikmatan luar biasa.

"Ah ...."

Wajah wanita itu memerah dan dia mulai mengeluarkan desahan berat diiringi dengan gerakan George yang terus-menerus mengisap.

Seiring dengan semakin cepatnya gerakan George, desahan wanita itu pun semakin intens dan cepat. Aku yang berdiri di samping, merasakan jantungku berdetak kencang. Tanpa sadar, aku menelan ludah berkali-kali.

Akhirnya, setelah tubuh wanita itu bergetar hebat dalam waktu singkat, keduanya terdiam seperti patung. Tak lama kemudian, George bangkit dari tubuh wanita itu, lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan setumpuk uang tunai. Dia melemparkan uang itu ke samping wanita tersebut.

Wanita itu menghitung uangnya, lalu memberikan sebuah kecupan di udara. Kemudian, dia mengenakan kembali pakaiannya dan pergi meninggalkan ruang VIP.

George mendekatiku dengan senyuman yang sangat licik sambil terkekeh-kekeh, "Gimana? Setelah melihatnya sendiri, kamu mau coba juga nggak?"

Di dalam hatiku, rasa penasaranku semakin memuncak.

Sejak aku bekerja untuk George, dia selalu memercayai dan menghargai pekerjaanku. Aku memang tahu dia punya kebiasaan minum ASI, tetapi tidak pernah menyangka bahwa dia melakukannya dengan cara seperti ini.

"ASI benar-benar tonik terbaik! Tapi harus yang paling segar! Sumbernya juga harus dari wanita muda berusia 20-an. Itu baru benar-benar bermanfaat!" ujar George.

Meskipun usia bosku sudah hampir 50 tahun, dia terlihat seperti pria muda berusia 20 atau 30-an yang seumuran denganku. Selain itu, saat "minum susu" tadi, energinya sama sekali tidak mencerminkan usianya yang telah paruh baya.

"Jadi, minum ASI memang selalu dilakukan seperti ini?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja!" jawab George.

Usai bicara, dia menoleh dan merangkul bahuku. "Lihat orang-orang di kelab ini, semuanya adalah orang kaya yang berkuasa!"

"Kamu sudah kerja denganku selama beberapa tahun. Datanglah ke kantorku malam ini. Aku akan mengatur supaya kamu bisa mencobanya. Percayalah, setelah pengalaman pertama itu, kamu nggak akan pernah melupakannya seumur hidup!"

Bab 3

Malam itu, aku datang ke kantor bosku dengan perasaan tak sabar.

Ketika melihatku masuk, George memberikan senyuman penuh arti dan membawaku ke sebuah ruangan khusus di dalam kantornya. Tak lama kemudian, sebaris wanita cantik yang mengenakan tank top ketat mulai masuk ke ruangan itu satu per satu.

Mataku langsung tertuju pada salah satu dari mereka. Seorang wanita dengan dada yang penuh dan tubuh yang sangat menggoda. George yang sepertinya langsung bisa membaca pikiranku, melambaikan tangannya kepada wanita itu.

"Matamu memang jeli bisa langsung milih yang terbaik! Namanya Mery. Ruangan ini aku tinggalkan untuk kalian berdua. Nikmatilah pengalamanmu!" Setelah itu, George pergi meninggalkan ruangan itu dengan dikelilingi oleh beberapa wanita lainnya.

Mery memiliki kulit seputih porselen, halus, dan hangat saat disentuh. Aroma alami susu menguar dari tubuhnya. Dadanya sangat besar, bahkan lebih besar dari wanita blasteran yang kulihat di kelab sebelumnya. Setidaknya, dia memiliki ukuran F.

Tubuh wanita itu menempel padaku, lalu berbisik di samping telingaku. "Ganteng, kami semua dipesan secara khusus, lho .... Air susu kami ada rasa stroberi, mangga, dan rasa mawar .... Coba tebak, susuku ini rasa apa?"

Bukan pria normal namanya jika aku bisa menahan godaan ini. Aku langsung membenamkan kepalaku untuk menghirup wangi dari tubuhnya. Semerbak aroma susu yang manis bercampur dengan aroma buah langsung menguar ke hidungku.

"Wangi nggak?" Dia menggenggam tanganku, lalu meletakkannya di tali bajunya. "Bantu aku lepaskan bajunya, Ganteng."

Kegembiraan langsung bergejolak dalam hatiku saat aku melepas pakaiannya yang tipis. Dada Mery yang penuh itu terpampang jelas di hadapanku. Ukurannya benar-benar besar dan sintal sekali!

Aku berbalik dan menindih Mery di bawah tubuhku. Dia terkekeh-kekeh dengan tangannya yang terus menggerayangi tubuhku. "Gimana? Rasanya nyaman nggak kalau disentuh?"

Bab 4

"Begitu caranya ... ah ... sebentar lagi akan ada susunya ...." Kedua tangannya menopang di leherku dan menekan kepalaku ke dadanya dengan kuat. Aku tidak melawan dan mulutku terus mencari sumber susu tersebut.

Namun pada saat ini, pintu ruangan itu tiba-tiba didobrak hingga terbuka.

"Jordan! Biarkan aku sembunyi di sini!"

Orang yang masuk adalah bosku dengan wajah panik dan ketakutan. Dia berlari ke arahku, mencari tempat untuk bersembunyi di ruangan sempit itu. Sebelum aku sempat bertanya apa yang terjadi, seorang wanita dengan ekspresi serius masuk ke ruangan dan membuntuti George. "George! Dasar pria berengsek, akhirnya aku menangkapmu!"

Kini, di ruangan itu ada empat orang. Aku, George, Mery, dan wanita itu. Kami semua saling berpandangan dengan ekspresi penuh kebingungan. Suasana menjadi sangat canggung.

Wanita itu berjalan mendekati George, lalu menarik rambutnya dengan kasar dan mulai memarahi George sambil menunjuk hidungnya.

Semua minatku langsung hilang setelah mengalami kejadian mendadak ini. Mery juga langsung mengambil tank top yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya dan pergi dari ruangan itu.

Bos menatapku dengan intens, seakan-akan meminta pertolongan padaku. "Jordan, ini kakak iparmu. Panggil saja dia Kak Shely. Dia sepertinya salah paham, tolong bantu aku jelaskan!"

Shely tampak muda, mungkin hanya sekitar 30-an tahun. Sebelumnya, aku hanya pernah mendengar namanya dari bos, tapi belum pernah bertemu dengannya. Tak disangka, ternyata istri bosku semuda ini.

Menghadapi situasi seperti itu, aku terpaksa membela bosku. "Kak Shely, jangan marah dulu. Kak George nggak ngelakuin apa pun, aku yang ingin datang ...."

Awalnya aku mengira Shely yang sedang emosi ini akan berbalik memarahiku. Namun, ternyata sikapnya sangat ramah. "Kamu yang namanya Jordan ya? Aku sering dengar namamu dari George. Lain kali jangan main sama dia lagi, jangan sampai dia membawa pengaruh buruk untukmu!"

Namun, saat wanita itu masih berbicara, bosku tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari genggamannya dan langsung berlari keluar dari ruangan kantor. Wanita itu mencoba mengejarnya. Namun setelah beberapa langkah, dia berhenti dan kembali ke ruangan dengan mata berkaca-kaca.

Dia duduk di sofa dan mulai meluapkan keluh kesahnya padaku. Dia menuduh George mengabaikan keluarga dan malah mencari wanita di luar Saat emosinya memuncak, dia mengambil beberapa botol minuman keras dari lemari kantor dan mengajakku untuk menemaninya minum.

Sejam kemudian, wajah Shely mulai memerah dan mabuk berat hingga terkapar di sofa. Mulutnya terus menggumamkan sesuatu. Melihat hal ini, aku memapahnya keluar dari kantor dan memanggilkan taksi untuk mengantarkannya pulang.

Setibanya di depan pintu rumah Shely, dia mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu. Kemudian, dia berjalan masuk dengan terhuyung-huyung. Aku berbalik dan bersiap untuk pergi. Namun, tiba-tiba dia memelukku dari belakang, memohon agar aku tetap menemaninya untuk sementara waktu.

Tumbal Untuk Bisnis Gelap

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya