Bab 1
Apakah kamu pernah mendengar tentang perdagangan ASI? Aku awalnya mengira ini hanyalah transaksi normal untuk ASI, hingga bosku membawaku ke sebuah kelab yang terang benderang dan aku melihat pemandangan ini ....
"Pernah lihat manusia sapi perah nggak?" Bosku, George, tersenyum padaku. "Lihat wanita itu, julukannya 'Sapi Jersey'. Ciri khasnya adalah rasanya yang kental ...."
Aku tertegun. Perusahaan kami memang bergerak di industri produk susu, jadi aku cukup akrab dengan nama "sapi jersey". Itu adalah jenis sapi perah yang berasal dari Selat Inggris.
Di bawah pencahayaan remang-remang di kelab itu, aku melihat seorang wanita berlutut di depanku. Kulitnya terlihat lebih terang dibandingkan orang Asia pada umumnya. Warna rambutnya juga lebih terang seperti seorang keturunan campuran.
"Jordan! Lepaskan bajunya," ujar George yang duduk di sofa ruang VIP sambil mengembuskan asap rokok dan melambaikan tangannya.
Melepas ... melepas bajunya?!
Wanita itu hanya mengenakan gaun mini tipis bertali yang sangat pendek. Tubuhnya ramping dengan lekuk yang menggoda dan penuh aura eksotis. Aku menarik tali gaunnya. Ternyata dia tidak mengenakan apa-apa di dalamnya!
Gaun tipis itu melorot hingga pinggulnya. Kedua bagian tubuhnya yang besar dan putih terlihat sepenuhnya. Aroma manis susu segar tiba-tiba menyeruak memasuki hidungku.
Berbeda dengan aroma susu sapi yang biasanya manis bercampur amis, ini adalah aroma yang aneh dan memikat. Aku terpaku menatap bagian dadanya. Mungkin karena payudaranya sedang penuh, bagian itu terlihat jauh lebih besar dan penuh dibandingkan wanita pada umumnya.
Saat itu, tubuhku terasa panas dan tanganku secara refleks meremas-remas. Aku hampir tidak bisa menahan dorongan untuk langsung membenamkan wajahku ke sana. Namun, bosku masih duduk di sampingku, jadi aku terpaksa menahan diri.
"Sekarang sudah ada susunya belum?" tanya bosku sambil menyilangkan kaki dan menatap wanita itu.
"Belum, masih perlu dipijat dulu," jawab wanita itu sambil melemparkan tatapan menggoda ke arahku. Dia mengambil sebuah bungkus tisu basah, lalu menarik selembar, dan menyerahkannya kepadaku.
"Bantu aku bersihkan dulu," katanya.
Aku yang bingung harus berbuat apa, tiba-tiba merasa tanganku ditarik oleh wanita itu. Dia meletakkan tanganku yang memegang tisu basah ke dadanya. Seketika, kehangatan dan kelembutan dari sentuhan itu membuat pikiranku kosong sejenak.
Tak lama kemudian, wanita itu mulai mengeluarkan susu dari tubuhnya.
"Gimana? Mau coba? Ini bagus sekali untuk kesehatan!" ujar George yang kini berdiri di sampingku sambil menepuk bahuku.
Bab 2
Aku melihat ekspresi bosku yang penuh arti. Meski di dalam hati terasa sangat gelisah dan tergoda, aku tetap menggelengkan kepala. George menarik wanita itu ke sofa di dalam ruang VIP. Wajahnya menempel pada dada kirinya, mulutnya melakukan gerakan mengisap dan ekspresinya menunjukkan kenikmatan luar biasa.
"Ah ...."
Wajah wanita itu memerah dan dia mulai mengeluarkan desahan berat diiringi dengan gerakan George yang terus-menerus mengisap.
Seiring dengan semakin cepatnya gerakan George, desahan wanita itu pun semakin intens dan cepat. Aku yang berdiri di samping, merasakan jantungku berdetak kencang. Tanpa sadar, aku menelan ludah berkali-kali.
Akhirnya, setelah tubuh wanita itu bergetar hebat dalam waktu singkat, keduanya terdiam seperti patung. Tak lama kemudian, George bangkit dari tubuh wanita itu, lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan setumpuk uang tunai. Dia melemparkan uang itu ke samping wanita tersebut.
Wanita itu menghitung uangnya, lalu memberikan sebuah kecupan di udara. Kemudian, dia mengenakan kembali pakaiannya dan pergi meninggalkan ruang VIP.
George mendekatiku dengan senyuman yang sangat licik sambil terkekeh-kekeh, "Gimana? Setelah melihatnya sendiri, kamu mau coba juga nggak?"
Di dalam hatiku, rasa penasaranku semakin memuncak.
Sejak aku bekerja untuk George, dia selalu memercayai dan menghargai pekerjaanku. Aku memang tahu dia punya kebiasaan minum ASI, tetapi tidak pernah menyangka bahwa dia melakukannya dengan cara seperti ini.
"ASI benar-benar tonik terbaik! Tapi harus yang paling segar! Sumbernya juga harus dari wanita muda berusia 20-an. Itu baru benar-benar bermanfaat!" ujar George.
Meskipun usia bosku sudah hampir 50 tahun, dia terlihat seperti pria muda berusia 20 atau 30-an yang seumuran denganku. Selain itu, saat "minum susu" tadi, energinya sama sekali tidak mencerminkan usianya yang telah paruh baya.
"Jadi, minum ASI memang selalu dilakukan seperti ini?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja!" jawab George.
Usai bicara, dia menoleh dan merangkul bahuku. "Lihat orang-orang di kelab ini, semuanya adalah orang kaya yang berkuasa!"
"Kamu sudah kerja denganku selama beberapa tahun. Datanglah ke kantorku malam ini. Aku akan mengatur supaya kamu bisa mencobanya. Percayalah, setelah pengalaman pertama itu, kamu nggak akan pernah melupakannya seumur hidup!"
Bab 3
Malam itu, aku datang ke kantor bosku dengan perasaan tak sabar.
Ketika melihatku masuk, George memberikan senyuman penuh arti dan membawaku ke sebuah ruangan khusus di dalam kantornya. Tak lama kemudian, sebaris wanita cantik yang mengenakan tank top ketat mulai masuk ke ruangan itu satu per satu.
Mataku langsung tertuju pada salah satu dari mereka. Seorang wanita dengan dada yang penuh dan tubuh yang sangat menggoda. George yang sepertinya langsung bisa membaca pikiranku, melambaikan tangannya kepada wanita itu.
"Matamu memang jeli bisa langsung milih yang terbaik! Namanya Mery. Ruangan ini aku tinggalkan untuk kalian berdua. Nikmatilah pengalamanmu!" Setelah itu, George pergi meninggalkan ruangan itu dengan dikelilingi oleh beberapa wanita lainnya.
Mery memiliki kulit seputih porselen, halus, dan hangat saat disentuh. Aroma alami susu menguar dari tubuhnya. Dadanya sangat besar, bahkan lebih besar dari wanita blasteran yang kulihat di kelab sebelumnya. Setidaknya, dia memiliki ukuran F.
Tubuh wanita itu menempel padaku, lalu berbisik di samping telingaku. "Ganteng, kami semua dipesan secara khusus, lho .... Air susu kami ada rasa stroberi, mangga, dan rasa mawar .... Coba tebak, susuku ini rasa apa?"
Bukan pria normal namanya jika aku bisa menahan godaan ini. Aku langsung membenamkan kepalaku untuk menghirup wangi dari tubuhnya. Semerbak aroma susu yang manis bercampur dengan aroma buah langsung menguar ke hidungku.
"Wangi nggak?" Dia menggenggam tanganku, lalu meletakkannya di tali bajunya. "Bantu aku lepaskan bajunya, Ganteng."
Kegembiraan langsung bergejolak dalam hatiku saat aku melepas pakaiannya yang tipis. Dada Mery yang penuh itu terpampang jelas di hadapanku. Ukurannya benar-benar besar dan sintal sekali!
Aku berbalik dan menindih Mery di bawah tubuhku. Dia terkekeh-kekeh dengan tangannya yang terus menggerayangi tubuhku. "Gimana? Rasanya nyaman nggak kalau disentuh?"