Logo
The Syndrome: Diperkosa Setan
The Syndrome: Diperkosa Setan

The Syndrome: Diperkosa Setan

68 Bab
Tamat
Dalam novel horror The Syndrome: Diperkosa Setan, Sintia terjebak dalam petualangan maut saat sosok iblis menyeretnya ke hutan belantara. Ia harus bertahan hidup dari siksaan keji demi mengungkap identitas sang setan. Baca mystery story ini sebagai pilihan fiction books terbaik Anda.
Bab 1 dari The Syndrome: Diperkosa Setan

Yang Sintia tahu hanya kehidupan malam menyenangkan. Kelam dengan segala pikiran terbenam. Makna dari lenggak-lenggok tubuhnya saat mengikuti irama musik bising di kelab itu bukan suatu kebahagiaan, melainkan lampiasan demi meredam ego dalam diri.

Bulir-bulir bening berlomba keluar dari pori kulit. Kendati demikian, Sintia tak berniat menyudahi aktivitas melelahkan itu. Dia akan terus bergerak hingga pagi dan kelab tutup. Jika hanya untuk beristirahat, paling-paling saat satu musik habis diputar. Setelah itu dia akan meraih botol minuman, lalu menenggaknya dengan semangat bergejolak.

Seperti biasa, saat dia sekadar menyiapkan diri demi musik berikutnya, para lelaki berkerumun mengelilingi. Ada enam pria yang siap membawa Sintia bersenang-senang di dunia yang sungguh nikmat bagi mereka.

"Sintia, mari tidur bersamaku. Aku baru saja gajian, uangku banyak. Berapa yang kamu inginkan, Sayang?"

Sintia tersenyum getir mendengar tawaran lelaki hidung belang yang berdiri di depan meja tempatnya bertopang dagu. Kebanyakan lelaki di tempat itu seperti yang dia tahu adalah hewan buas. Mereka domba bernafsu. Sintia tak bermaksud memberikan kemolekan tubuhnya, meskipun dengan iming-iming uang yang banyak. Untuk apa? Uang bisa dia cari dengan bekerja. Toh, dia itu model. Satu kali pemotretan, bisa dapat uang. Sayangnya, sudah sebulan lebih dia tidak dipanggil si fotografer. Jadi, keuangan Sintia benar-benar menipis. Kendati demikian, dia tak berniat menghemat atau mencari pekerjaan lain. Itu adalah dua hal merepotkan baginya.

"Delapan puluh juta. Mampu, nggak, kalian?" kata Sintia sambil menyeringai.

Sintia tentu saja tidak serius. Dia hanya berusaha menggertak agar para lelaki itu segera enyah dari hadapannya.

"Delapan puluh juta?! Kamu gila?! Sudah seperti artis papan atas saja harga segitu."

"Terserah. Aku nggak peduli kalian mau atau nggak. Minggir kalian semua!"

Para lelaki yang mengaku pencinta wanita itu segera menyingkir sambil mendengkus. Sejak lama mereka mengincar Sintia, ingin menikmati tubuh yang kata orang mirip gitar spanyol itu. Kenyataannya, bibir tipis kemerahan Sintia saja tidak bisa didapatkan, apalagi setiap bagian dari tubuh sintalnya.

Awalnya mereka berpikir uang bisa meluluh lantakkan wanita itu. Namun, ternyata tak semudah itu, dan rencana mereka tak semulus yang diharapkan. Para lelaki itu memilih mundur dan merencanakan sesuatu yang lain, terutama si lelaki berambut keriting yang sekian tahun hanya bisa menelan saliva saat memandangi tubuh Sintia yang dibalut pakaian terbuka: gaun tanpa lengan di atas lutut, menampilkan putih bersih kulit tanpa noda ataupun bercak sedikit pun. Apalagi bagian menonjol di dada terlihat menyeruak. Bagaimana mungkin lelaki akan tahan setelah menyaksikan itu? Ada, tetapi hanya mereka yang punya iman kuat.

Kali ini, Sintia tidak tahan untuk terus bergerak sedangkan kepala merasa ditimpuk batu raksasa. Karena itu, dia memilih pulang saat jarum jam di tangan kanannya menunjukkan angka tiga.

Mungkin itu efek berbotol-botol minuman alkohol yang dia tenggak sejak awal datang di kelab. Atau mungkin juga efek memikirkan keuangan yang semakin menipis. Sebab sudah dua bulan dia menunggak biaya SPP kuliah sang adik.

Pikiran yang merajai kepalanya saat ini adalah cara untuk mendapatkan uang dengan cepat dan mudah. Bekerja tidak mungkin, akan memakan waktu lama. Maling pun tidak mungkin karena dia tidak ahli melakukannya. Dirinya yang lain memberikan satu pilihan, yaitu menjual diri. Sayangnya, dirinya yang lain juga melarang. Dia sangat tidak suka disentuh laki-laki, apalagi laki-laki yang tidak dia cintai.

Sintia melewati sebuah pohon beringin raksasa di makam yang terkenal berusia paling tua saat melewati perkampungan. Dia berhenti tatkala mengingat mitos yang selalu dibicarakan teman-temannya mengenai pohon tersebut. Temannya pernah bercerita bahwa pohon beringin yang tingginya mencapai 25 meter itu dapat mengabulkan permintaan siapa saja dengan cara memberikan kemenyan dan beberapa persembahan lainnya.

Ide melintasi jalur pikiran. Dia berniat meminta bantuan pada pohon beringin raksasa. Namun, dia tidak membawa kemenyan dan persembahan lain untuk digunakan memanggil penunggu pohon tersebut. Meski begitu, dia tetap bersikeras dan mencoba-coba; siapa tahu saja berhasil, bukan?

Dengan langkah yang sangat hati-hati, Sintia berusaha meredam derap sepatu hak tinggi yang dia kenakan. Dia menarik napas dalam saat tiba di pohon, lalu menatap bagian atas pohon yang gelap. Pohon yang benar-benar tua. Banyak sekali tumbuhan parasit di cabang dan rantingnya.

Tidak ada rasa takut, yang ada hanya rasa tidak sabar jika Sintia benar-benar berhasil mendapatkan uang setelah meminta bantuan pada pohon. Dia nyaris berpikir telah menjadi dungu karena uang. Bahkan dia sadar, di kondisi pikiran seperti saat ini, segala hal jadi masuk logika meskipun sebenarnya sangat sulit diterima akal sehat.

Setelah berhasil menarik napas yang cukup dalam sambil menahan getaran rasa takut yang mulai datang, Sintia memulai komunikasi dengan pohon, atau lebih tepat penunggu pohon: makhluk tak kasat mata.

"Pohon. Katanya kamu bisa mengabulkan keinginan semua orang. Gimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?"

Sintia memang tipikal orang yang tidak suka berbasa-basi. Jika dia seorang pemanah, dia lebih suka menembak tepat ke jantung atau kepala musuh dalam sekali tembak.

Lolongan anjing menjadi respons atas pertanyaan itu. Tak sedikit pun pohon berbicara atau sekadar melambai-lambaikan cabang dan ranting. Sintia mulai mengulang pertanyaan, bahkan sampai tiga kali berturut-turut pun, tetap tak ada jawaban. Menyadari kebodohan yang dia lakukan, dia hanya bisa tersenyum getir.

"Ada-ada aja. Mana mungkin pohon bisa mengabulkan permohonan," kata Sintia, pesimis.

Baru saja beranjak, asap tak berbau muncul mengelilingi pohon dari bangunan tua di dalam makam. Sintia dengan wajah heran terdiam melihat asap itu mengalir, meliuk-liuk tertiup angin, seolah-olah melawan hukum alam: tak ada asap bila tak ada api. Dia mencoba berpikir dari mana asap bisa muncul. Namun dia sama sekali tak menemukan jawaban. Bahkan dia tak pernah melihat fenomena alam seperti yang dilihatnya saat ini.

Keringat dingin membasahi dahi dan leher. Padahal keringat sehabis berjoget ria di kelab baru saja kering, sekarang justru basah lagi. Mata sipit Sintia membelalak. Yang bisa dilakukannya hanya menelan saliva. Kedua kakinya tak dapat bergerak sesuai kehendak, seolah ada yang menahan di sana.

Asap yang mengumpul, kini mengelilingi pohon, membentuk sebuah gambaran. Meski sedang diselimuti rasa takut, dia tak sabar melihat akan jadi apa asap itu. Prosesnya berlangsung cukup lama. Suasana kelam semakin pekat setelah sebuah suara terdengar. Seperti benda membentur benda lainnya. Hadir juga suara pintu tua yang membuka, lalu menutup lagi.

Tempat Sintia berada berubah gelap gulita. Dia tidak bisa melihat apa pun, bahkan melihat dirinya sendiri pun tak bisa dilakukan. Dia berusaha menggerakkan tangan, tetapi dia merasa tak mampu seolah ada yang mengikat dengan jerat yang susah dilepaskan. Dia jadi sadar dengan posisinya saat ini: tidak terasa berdiri seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia seperti berbaring di sebuah ranjang. Dapat ia rasakan di bawah punggung adalah kasur yang tidak cukup empuk.

Gelap yang menelungkup seluruh tempat mulai hilang ditelan cahaya, perlahan. Mata Sintia pun dapat melihat kembali, tetapi benar dugaannya bahwa dia sedang berbaring di sebuah ranjang kayu tua dengan tangan yang diikat. Dia membelalak saat setelahnya menyadari berada di gubuk reyot seperti yang ada di dalam makam.

"TOLONG!"

Meski belum sepenuhnya yakin berada di bangunan yang ada di makam itu, dia berpikir tidak seharusnya berada di sana. Dia harus keluar dan tidak peduli bagaimana dia bisa berada di tempat itu.

Bau anyir menyengat menggelitik lubang pernapasan hingga membuatnya terbatuk-batuk dan mual. Sintia jadi tak bisa berteriak. Lalat-lalat dan kecoak memenuhi ruangan kumuh. Dinding-dinding kotor dipenuhi bercak darah.

"Siapa ... aja, tolong." Suara Sintia semakin lirih karena bau bangkai yang merusak pernapasan.

Tak berselang lama, sesosok makhluk bergerak pelan, masuk ke ruangan. Makhluk dengan jubah hitam; menunduk. Degup jantung yang memberontak adalah penolakan Sintia terhadap apa yang dia alami saat ini. Meskipun tidak dapat dipercaya, tetapi sensasi itu nyata dan benar adanya. Tampak jelas di bola mata. Makhluk itu berhenti setelah berada di depan ranjang. Suara Sintia mendadak hilang saat makhluk itu mengangkat kepala, dan terlihatlah kedua matanya menggantung hingga dagu. Darah mengalir bercucuran. Angin yang entah datang dari mana menyingkap tudung yang dikenakan sang makhluk. Sedetik kemudian terlihatlah batok kepala itu terkelupas.

Sintia muntah di tempat tanpa menahan diri. Dan tanpa pernah diduga sebelumnya, makhluk itu menungganginya seolah-olah kuda. Apa yang berusaha dia lakukan? Mungkin sesuatu yang tidak terduga lainnya.

Sintia bersikukuh melepaskan diri, melepaskan tangan yang sedang diikat di ranjang. Namun, erat dan sangat keras. Bahkan semili pun dia tak dapat menggeser kaki karena diikat sama kuat seperti tangannya.

"Le ... paskan!"

Sang makhluk menggerayangi tubuh Sintia, mencabik-cabik gaunnya dengan kuku yang tajam dan panjang. Makhluk itu seolah-olah singa buas yang berhasil menangkap mangsa. Sintia adalah mangsanya. Yang diincar makhluk itu adalah tubuh Sintia. Tak dapat melawan, tak kuasa menahan, Sintia tak sadarkan diri.

-II-

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

(bukan) Telepati Cinta
(bukan) Telepati Cinta
Dalam (bukan) Telepati Cinta, Hyura Anastasya mencari reinkarnasi Fino melalui buku kuno. Petualangan fantasy romance ini mengungkap misteri hantu pengikutnya. Sebagai fiction fantasy novels unggulan, Hyura harus memakai kekuatan telepati demi memecahkan teka-teki hidup yang penuh bahaya.
Cinta Dalam Hati
Cinta Dalam Hati
Dalam novel Cinta Dalam Hati, Tania, pengacara berani, terjebak perjodohan dengan musuh masa kecilnya, Yudi. Di tengah konflik asmara modern novel ini, Tania harus mempertaruhkan nyawa melawan sindikat trafficking. Simak aksi dan romance stories penuh intrik ini sekarang.
Dangerous Girl
Dangerous Girl
Dalam Dangerous Girl, Aliya bertransformasi menjadi dewi kematian demi membalas dendam atas kematian orang tuanya. Ikuti misi penuh aksi dan misteri story ini saat ia menyusun teka-teki pembunuh sambil mencari Samudra. Baca romance novel penuh intrik ini sekarang di web novel kami.
Dendam Seorang Pelacur
Dendam Seorang Pelacur
Dalam modern novel Dendam Seorang Pelacur, Felisha bergabung dengan agensi elite untuk memburu pembunuh orang tuanya. Bersama Shasya, ia menempuh misi berbahaya penuh aksi dan mystery story demi membalas dendam meski harus mempertaruhkan segalanya dalam petualangan hidup yang kelam.
GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
Dalam GADIS PENCURI VS TUAN MUDA, Martin Jakovsky mempertaruhkan statusnya sebagai billionaire untuk melindungi pencuri buronan dari kejaran penguasa. Meski menderita alergi sentuhan, ia bertekad menjaganya. Baca romance novel penuh intrik dan adventure story ini di webnovel.
Mengandung Anak Tuan Serigala
Mengandung Anak Tuan Serigala
Dalam Mengandung Anak Tuan Serigala, Fang Yi Lan melarikan diri dari paksaan keluarga hanya untuk terjebak takdir kelam. Mahasiswi kedokteran ini harus bertahan hidup saat ia diklaim paksa oleh alpha misterius. Simak werewolf romance novels ini di platform web novel kami.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Darah & Perak: Kebangkitan Jodoh Alfa yang Ditolak
Darah & Perak: Kebangkitan Jodoh Alfa yang Ditolak
Ann Reed muda dipaksa terikat dengan Alpha Dane Montague, musuh yang menuduhnya membunuh keluarganya. Selama tiga tahun, Dane menyiksanya tanpa ampun, namun hatinya tetap dingin. Ann menghilang, meninggalkan rahasia dan luka di masa lalu. Bertahun-tahun kemudian, dia kembali sebagai Aurora Moon, pewaris kerajaan wolf Eropa. Aurora ingin melindungi anak-anaknya dan merebut kembali kekuasaannya, sambil menjauhi Dane. Namun kehadirannya justru membangkitkan perhatian pria yang paling ingin ia hindari — kali ini, dia kembali untuk menaklukkan.
Bos Ternyata Mantan Pacarku
Bos Ternyata Mantan Pacarku
Mia menemukan bos barunya tak lain adalah Joko Hapsari, mantan pacar yang empat tahun lalu dia tolak. Perseteruan mereka justru membangkitkan kembali api cinta lama. Namun, keduanya saling menjauh karena salah paham, masing-masing mengira yang lain telah memiliki kekasih baru. Saat kebenaran tentang perpisahan dulu terungkap, dua insan yang saling mencintai ini akhirnya bersatu kembali dalam pelukan.
Takhta Bukan Hadiah, Tapi Rebutan
Takhta Bukan Hadiah, Tapi Rebutan
Setelah sepuluh tahun jadi tawanan politik di Crando, Putra Mahkota Pleka, Arthur, pulang hanya untuk ditolak ayahnya, George, dan dijebak saudaranya, Richard, hingga diasingkan. Bangkit kembali, dia lepas gelar dan kabur ke Ratu Diana dari Crando, tapi Richard terus memburunya. Arthur pun membalas dendam, memimpin pasukan bersenjata ciptaannya sendiri untuk menaklukkan kota-kota Pleka. Dia rebut ibu kota, ungkap fakta bahwa Richard meracuni ibunya, cela George di depan umum, dan hancurkan koalisi enam negara, lalu tangkap para penguasa untuk kuasai segalanya.
Misi Rahasia Bocah Masa Depan
Misi Rahasia Bocah Masa Depan
Hannah dikejutkan oleh kedatangan bocah lima tahun bernama Matthew yang mengaku datang dari masa depan. Saat si bocah menggemaskan itu mendekat dan memanggilnya "Ibu", hatinya pun luluh. Namun, kehangatan itu tiba-tiba runtuh saat Hannah mendengar Matthew memanggil musuh bebuyutannya dengan sebutan "Ayah". Sejak saat itu, ketiganya terlibat dalam kehidupan sehari-hari yang serba kacau, absurd, tapi dipenuhi dengan kehangatan keluarga.
Setelah Kehilangan Suara
Setelah Kehilangan Suara
Melati dianggap bersalah atas kematian ibunya, mendapat perlakuan dingin dari ayah dan kekejaman tiga kakak laki-lakinya. Dia berusaha ""menjadi baik"" namun justru disakiti lebih dalam, bahkan dikurung di ruang bawah tanah hingga nyaris tewas. Ayahnya baru menyadari kebenaran saat menemukannya sekarat. Setelah sadar, Melati terluka parah secara fisik dan mental. Di saat ayah dan kakaknya dilanda penyesalan mendalam, sosok yang tak terduga muncul: ibunya sendiri ternyata masih hidup.
Suara Hati Misterius
Suara Hati Misterius
Di kehidupan sebelumnya, Karla Solihin percaya pada isi hati cucunya hingga menyebabkan kehancuran keluarga dan akhirnya bunuh diri karena dendam. Setelah terlahir kembali, dia sering mengambil keputusan yang berlawanan, tapi tragedi tetap terulang, seolah tangan gelap takdir mendorong seluruh keluarganya ke jurang.