Logo
Terjerat Nikmat Sesaat
Terjerat Nikmat Sesaat

Terjerat Nikmat Sesaat

41 Bab
Tamat
Dalam Terjerat Nikmat Sesaat, sebuah hubungan kasual di genre romance modern berubah menjadi rumit saat batasan emosi mulai memudar. Temukan kisah ini di web novel kami, pilihan terbaik bagi pembaca yang mencari romance stories penuh dilema antara logika dan keinginan hati.
Bab 1 dari Terjerat Nikmat Sesaat

Aku menembus jalan terjal mengendarai sepeda motor. Kakiku berkali-kali harus memijak tanah untuk menjaga agar motor tetap stabil, membuat sepatuku berdebu tebal. Terjal, berdebu, dan kadang-kadang harus mendaki bukit berbatu kerikil yang licin. Seperti itulah medan jalan yang harus kutempuh.

Desa yang kulalui ini cukup terpencil. Tapi karena sebuah tugas mulia, aku harus menyusurinya dengan sabar. Kira-kira, setiap setengah jam sekali, aku harus berhenti sejenak, menyandarkan motor dan bertanya kepada penduduk sekitar.

"Pak, bisa tanya, dimana SD Negeri ya?"

"Apa masih jauh dari sini?"

"Nanti dari sini belok kemana?"

Itu adalah deretan pertanyaan yang aku ulang-ulang setiap kali berpapasan dengan penduduk sekitar. Petani, peternak bebek, dan ibu-ibu yang menenteng rantang, siapapun aku tanyai. Maklum, selain baru pertama menjelajahi daerah itu, aku kesulitan menemukan tempat yang harus kutuju karena sepanjang perjalanan, tidak banyak ancar-ancar yang bisa aku jadikan patokan. Hanya sawah menghijau, kebun, dan rumah-rumah penduduk yang tak banyak berbeda satu dengan lainnya. Karena takut nyasar lebih jauh itulah, aku harus rajin-rajin bertanya kepada penduduk sekitar yang berpapasan denganku.

"Oo, Nanti bapak terus kira-kira 500 meter. Di situ ada poskamling, belok kanan." jawab seorang petani yang sedang mengikat jerami.

"Berarti tidak jauh lagi," gumamku. "Terima kasih, Pak..." balasku kepada petani ramah itu.

Sebenarnya rada gondok juga sewaktu petani tua itu memanggilku dengan sebutan ’Bapak’. Aku masih 25 tahun, single, dan berperawakan seperti anak muda lazimnya. Tak berkumis, dan rambutpun masih hitam tebal. Aku sering melatih ototku ketika masih tinggal di kota. Seminggu dua kali, aku angkat barbel dan lari di atas treadmill. Tak heran, walaupun medannya berat, tenagaku tak terkuras. Aku masih kuat mencari tempat yang harus kutuju.

Pukul 8.35, aku menemukan SD yang kumaksud. Hmm, tipikal SD negeri di desa. Halamannya tidak terlalu luas dengan tiang bendera di bagian tengahnya, cukup untuk menampung belasan anak saat upacara. Gurunya pun pasti juga tidak terlalu banyak, tebakku. Walaupun kecil, halamannya cukup rapi. Bunga-bunga di tata di sekitar selasar sekolah. Aku tak terlalu mengamati kompleks sekolah itu terlalu lama karena hari mulai siang.

Buru-buru, di tengah kesunyian sekolah karena anak-anak sedang menjalani ujian, aku mencari kantor kepala sekolah, mengetuk pintu, dan menunggu siapapun yang keluar dari ruang bertuliskan ’Kepala Sekolah’ itu. Tak berapa lama, gagang pintu itu seperti ditekan ke bawah dan pintu coklat yang terbuat dari kayu itupun serasa ditarik dari dalam.

"Maaf, saya mencari Bu Irda," sapaku kepada seorang wanita yang membuka pintu itu.

Seorang wanita berpakaian dinas berwarna coklat, berdiri di hadapanku. Wanita itu sepertinya belum terlalu tua. Mungkin berusia 30 tahunan. Tubuhnya mungil namun wajahnya manis. "Oh ya, saya sendiri..." jawabnya dengan intonasi yang cukup jelas. "Kamu Alfred kah?" tebaknya.

"Benar, bu. Saya Alfred, utusan dari dinas kota." aku menjelaskan.

Tangannya yang halus menjabat tanganku. Bu Irda mengenakan kacamata berbingkai tebal sehingga menambah aksen manisnya. Hidungnya mancung dan ia memiliki alis yang lebat. Setelah mempersilakan masuk, ia berbalik dan saya menguntitnya dari belakang. Rambut hitamnya terurai hingga menutupi pundaknya. Benar-benar terawat!

"Kita sudah menunggumu," kata Bu Irda mengawali pembicaraan ketika kami duduk. Ia memberi kode kepada seorang lelaki tua yang melintas di luar ruangan. Orang itu berhenti sejenak dan langsung mengangguk.

"Kamu pasti haus, bentar lagi Pak Bardi bawain teh kok." ucapnya singkat.

"Oh, makasih, bu. Jadi ngrepotin." balasku pelan. Kami tertawa kecil berdua.

Suasana yang awalnya tegang, perlahan-lahan mencair. Aku membiarkan Bu Irda membaca dengan penuh selidik dokumen-dokumen yang aku bawa. Satu lembar berganti dengan lembar yang lain. Kadang-kadang, ia tersenyum sendiri. Aku tak tahu, mungkin ia geli melihat foto ijazahku yang masih tampak culun. Atau ia kagum dengan nilai-nilaiku yang bagus.

Ah, tak tahulah aku...

"Jadi intinya gini..." bu Irda memecah keheningan. Wajahnya yang tirus menatapku tajam-tajam. "Saya ucapkan terima kasih karena Mas Alfred mau kerja di sini, jauh dari kota..."

Aku mengangguk-angguk.

"Beberapa guru yang mengabdi bertahun-tahun di sini sudah pensiun dan Mas Alfred diharapkan bisa mengisi kekosongan mereka," Bu Irda menjelaskan.

Sambil kuseruput teh yang masih panas, Bu Irda menjelaskan panjang lebar tentang kondisi sekolah. Aku mendengarkannya dengan nyaman. Bu Irda sebenarnya belum cocok jadi kepala sekolah, kataku dalam hati. Ia bahkan terlalu manis untuk menjadi seorang kepala sekolah. Tapi biarlah. Seragam coklatnya malah membuatnya tampak anggun.

"Kita sudah siapin tempat tinggal buat kamu. Lokasinya dekat Umbul. Agak jauh dari jalan, tapi tempatnya teduh. Semoga kamu nyaman," Bu Irda berdiri dan menyalamiku. Pembicaraan berakhir dan aku harus mencari tempat tinggal yang dimaksud.

"Nanti sore saya pasti akan mampir ke rumahmu." katanya menutup pembicaraan.

Aku mengangguk kikuk dan mengucapkan terima kasih. Dalam batinku, "Mengapa Bu Irda yang kepala sekolah mau datang ke rumahku sore-sore ya? Ah, sudahlah." aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu lenyap dari benakku.

*^*

Di bawah gemerisik pohon-pohon bambu, aku memasuki rumah yang dimaksud. Butuh waktu 30 menit untuk mencari rumah bercat putih itu. Rute dari jalan utama hingga tepat berada di halaman kecil di depan rumah itu memang tidak ramah untuk kendaraan roda empat. Sempit, terjal, dan berbatu. Jadi, aku cukup kewalahan. Rumahnya tidak terlalu besar, mungkin hanya satu kamar.

Kumasukkan kunci pintu yang sudah dititipkan olehku sejak dari kota dan hanya dengan sedikit putaran, pintu itu terbuka. Aku menyusuri rumah sederhana itu. Cukup asri namun lembab. Ada satu ruang tidur dan dapur.

Tunggu dulu! Ada yang aneh dari dalam tubuhku. Hasrat yang sudah aku pendam sejak 2 jam perjalanan dari kota hingga berada di dalam rumah ini tampaknya harus segera diakhiri. Aku melepas tas dan menanggalkan jaketku yang berdebu dan mencari... kamar mandi!

Aku sudah menahan rasa ingin buang air kecil sepanjang perjalanan, namun... astaga... setelah berkeliling rumah, keluar masuk halaman, aku menyadari kalau rumah itu tak dilengkapi kamar mandi. Aku sangat kebelet. Dengan jingkrak-jingkrak menuju halaman belakang, kubuka retsleting celana, dan mengeluarkan penisku dari balik celana dalamku, dan... cuuurrrr... menyemburlah air pipisku di balik pohon pisang.

“Legaaaa....” kataku pada diri sendiri.

Sekarang sudah pukul 16.00. Karena tak ada kamar mandi, badanku tetap lusuh sepanjang hari itu. Wajahku berminyak habis dan hanya bisa diseka menggunakan tisu kering. Sudahlah, hiburku. Mungkin nanti bisa numpang mandi di sekolahan.

Tok-tok-tok... Tiba-tiba pintu rumah terasa diketuk dari luar. Aku menghampiri dan membukakan pintu.

"Sore, Alfred..."

Hah, Bu Irda. Aku sedikit kaget. Lupa diriku kalau Bu Irda berjanji untuk mengunjungiku sore hari itu. Aku tampak gelagapan karena hanya pakai celana pendek dan kaos oblong. Wah, pasti mau bicara kerjaan nih, begitu isi pikiranku di tengah rasa panik ingin segera menyambar baju resmiku.

Tapi Bu Irda segera mengusir rasa panikku. Ia menjawab, "Sudah nggak usah repot-repot. Kok blingsatan sendiri sih?" sambil diiringi tawa kecil.

Rambutnya yang terurai itu dikucir dan diikat menggunakan pengikat plastik. Bu Irda sendiri hanya memakai pakaian biasa. Celana panjang kain dan kaos merah. Ia tampak menenteng tas plastik kecil transparan. Sekilas terlihat ada peralatan mandi dan handuk kecil.

"Ayo kita ke Umbul untuk mandi," ajaknya.

Karena sudah lusuh dan membutuhkan kesegaran, aku pun menurutinya. Aku minta waktu sebentar untuk menyiapkan peralatan mandiku. Ternyata, dalam hatiku berbicara, penduduk di sini masih mandi menggunakan Umbul. Ya sudah, apa boleh buat.

Kami berjalan berdua sambil mengobrol. Umbul itu jaraknya kira-kira 100 meter dari rumahku sehingga ada banyak yang kami obrolkan. Karena berperawakan kecil dan tampak masih muda, Bu Irda tidak tampak menyeramkan bagiku. Bahkan, suara lembutnya menggiringku ke dalam obrolan yang sangat santai sore hari itu.

"Masyarakat di sini mandi di Umbul. Tak ada sumber mata air lain kecuali di Umbul itu." jelas Bu Irda. Aku mengangguk berkali-kali. "Jadi, kalo mau mandi atau kebelet, ya terpaksa harus ke Umbul." tambahnya.

Bu Irda melirikku yang sedang tersenyum simpul. "Beda kan dibanding tinggal di kota. Apa-apa sudah ada..." godanya.

Ah tidak apa-apa bu, asal ada ibu semuanya bisa diatur, batinku menggoda diriku sendiri.

*^*

Jangan lewatkan baca juga kisah super baper “Takdir Cinta Gigolo Kampung”

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

After That Night
After That Night
Dalam novel After That Night, Rebecca kehilangan segalanya akibat jebakan satu malam yang menghancurkan reputasinya. Kini ia terikat dengan Glenn Romanov, seorang pria asing yang mengubah hidupnya. Simak kisah billionaire romance novels ini di platform web novel kami sekarang juga.
Belenggu Mantan
Belenggu Mantan
Dalam Belenggu Mantan, Diandra harus menghadapi kerumitan pasca perceraian dengan pewaris Aerles Corporation, Dave Airlangga. Romance novel ini mengungkap perjuangan memperbaiki hubungan yang hancur akibat salah paham dalam dunia billionaire romance books yang penuh tekanan.
Bucinnya Cowok Temprament
Bucinnya Cowok Temprament
Dalam Bucinnya Cowok Temprament, Theo sang billionaire rela membayar 10 miliar demi menikahi Lili meski keduanya amnesia akibat kecelakaan. Romance novel ini mengikuti perjuangan Theo yang tempramen menjadi bucin saat Lili mulai menyusun puzzle masa lalu mereka dalam pernikahan yang rumit.
Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan
Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan
Dalam novel Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan, seorang arsitek dikhianati kekasihnya demi ambisi bisnis. Setelah karyanya dicuri, ia bangkit memulai hidup baru. Temukan kisah pengkhianatan dan cinta sejati ini dalam romance novel modern yang emosional di platform online novel kami.
Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Dalam novel romantis miliarder Cinta Kita Sudah Sampai Ujung, Vanesa mengakhiri pernikahan kontraknya setelah dikhianati Steven. Di tengah kehamilan rahasianya, ia bangkit menjadi wanita mandiri yang kaya raya. Baca novel online ini untuk mengikuti perjuangan Vanesa meraih kesuksesannya sendiri.
DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
Dalam DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK, Anggara menculik Almaira demi membalas sakit hati pada ayahnya. Namun, romansa ini kian rumit saat benih cinta muncul di tengah kebencian. Baca romance novel penuh aksi ini sebagai pilihan fiction books terbaik Anda hari ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Balas Budi si Anak Durhaka
Balas Budi si Anak Durhaka
Diah dan suaminya membesarkan putra mereka, Ismail, dengan susah payah. Namun, mereka justru dieksploitasi oleh Ismail dan menantunya. Suami Diah meninggal dunia dengan penuh kekecewaan. Setelah terlahir kembali, Diah tersadar dan bangkit. Dia teguh mempertahankan prinsipnya dan melawan balik. Diah mengambil kembali hartanya, membongkar kebenaran kepada publik, dan akhirnya memutuskan hubungan dengan anak durhaka itu. Seluruh hartanya dia wakafkan untuk amal, mengajarkan makna sejati dari """"dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang utama
[Versi Dub] Kejutan di Pesta Pembatalan Nikah
[Versi Dub] Kejutan di Pesta Pembatalan Nikah
Tania lahir di keluarga kaya. Ayahnya adalah orang terkaya di dunia, Kakak Pertama, Kedua dan Ketiganya masing-masing adalah Dewa Perang, Artis Papan atas dan Dewa Keuangan ternama. Namun, dia malah jatuh cinta pada kekasih masa kecilnya, Chris Cana. Ketika Chris hendak ditabrak mobil dalam sebuah kecelakaan, Tania bergegas menghalanginya. Alhasil, Tania tertabrak dan terluka di sarafnya. Dokter awalnya menyatakan bahwa dia akan lumpuh seumur hidup, tapi ayah Tania menghabiskan banyak uang untuk mencari tim ahli medis kelas dunia untuk menyembuhkannya. Demi menguji perasaan Chris pada Tania, ayah Tania menyuruhnya untuk berpura-pura lumpuh dan melanjutkan hubungannya dengan Chris. Menjelang pernikahan Tania dan Chris, Tania memutuskan untuk berdiri dari kursi rodanya di pesta pernikahan dan memberi tahu Chris identitas ayah dan para kakaknya yang sebenarnya. Tidak disangka, ketika Tania hendak membahas pernikahannya dengan Chris, dia menemukan perilaku buruk Chris dan sahabatnya, Rina. Tania menahan napas dan setuju untuk melanjutkan pernikahan dari luar, tetapi di belakang, Tania meminta ayahnya untuk mengubah pesta pernikahan menjadi pesta perceraian.
[Versi suara dubbing] Perasaan Tak Terduga pada Tuan CEO
[Versi suara dubbing] Perasaan Tak Terduga pada Tuan CEO
Wanita itu salah kamar saat membela sahabat baiknya, membuat pria itu malu lalu melarikan diri. Keesokan harinya, dia menemukan pria itu adalah CEO saat wawancara ; tanpa tahu mereka adalah pasangan suami istri dari pernikahan cepat, mereka memulai romansa manis dan penuh kegembiraan.
Takdir Takkan Menghalangiku
Takdir Takkan Menghalangiku
Di dunia tempat pilihan bisa mengubah takdir, dua saudari dihadapkan pada sistem misterius yang menuntut keputusan besar: memilih satu miliar dolar atau ibu mereka. Di kehidupan sebelumnya, adik Hannah, Ingrid, memilih uang dan hidup mewah, tapi akhirnya terpuruk. Sementara itu, Hannah memilih keluarga dan sukses berkat kerja kerasnya. Karena iri, Ingrid membunuh kakaknya. Kini, mereka terlahir kembali di hari penentuan. Ingrid memilih keluarga, sedangkan Hannah dengan enggan mengambil uangnya. Namun, saat Ingrid merasa menang, Hannah justru tersenyum. Siapa tahu, adiknya baru saja memilih jalan menuju neraka?
Pangeran Seribu Tahun Menunjukku Menjadi Selirnya
Pangeran Seribu Tahun Menunjukku Menjadi Selirnya
Seorang pembunuh bayaran papan atas, Aruna Wiratama, tewas dan terbangun dalam tubuh seorang perempuan yang memiliki nama dan marga yang sama dengannya. Sejak kecil, ayah Aruna gugur di medan perang. Demi melindungi diri mereka dan mempertahankan posisi di Keluarga Wiratama, sang ibu menyamarkan Aruna sebagai laki-laki sejak lahir dan membesarkannya dengan identitas palsu. Seiring bertambahnya usia, Aruna sangat ingin kembali hidup sebagai perempuan, namun ia juga diliputi ketakutan. Jika identitasnya terbongkar, bukan hanya dirinya, tetapi juga ibunya, akan berada dalam bahaya besar. Untuk segera menjauh dari ancaman tersebut, Aruna merencanakan pelarian bersama ibunya. Namun sebelum rencana itu terwujud, ia justru menarik perhatian Elran Adikara, satu-satunya pangeran Kerajaan Agrajaya yang sangat berkuasa dan dikenal berhati dingin serta kejam. Aruna pun dibawa ke kediamannya. Sejak saat itu, demi mempertahankan hidupnya, Aruna terpaksa menjalani hari-hari yang dipenuhi permainan mental dan fisik bersama Elran.
Peluk Pengantin Baru
Peluk Pengantin Baru
Resti diusik suami, ia putus dan pilih Mahesa yang tulus. Ternyata dia pewaris bangsawan. Hidup Resti makin naik, sementara mantan suaminya jatuh.