Logo
Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta
Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

43 Bab
Tamat
Dalam Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta, sepuluh lajang harus bertahan di pulau terpencil demi hadiah besar. Romance novel ini menguji komitmen mereka melawan pengkhianatan dan ambisi ketenaran. Baca kisah seru ini di webnovel untuk melihat siapa yang bertahan hingga akhir.
Bab 1 dari Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

Kilatan cahaya dari tadi terus terlihat. Seorang perempuan berdiri dengan begitu anggun. Berpose berubah-ubah dengan sebuah kamera dan seorang fotografer didepannya. Ia tidak peduli dengan kebisingan akan arahan atau orang-orang yang memujinya luar biasa. Karena ia profesional, maka ia akan tunjukkan apa yang akan mereka dapat dengan memakainya sebagai model mereka. Tentu tidak akan kecewa.

Dengan bibir penuh yang merah merekah, bulu mata lentik, hidung mancung, wajah oval dan didukung dengan tubuh tinggi semampai yang berisi membuatnya mengantongi seluruh kata yang menggambarkan sebuah kecantikan.

"Oke, stop!"

Perempuan itu kemudian berhenti berpose. Ia merapikan rambutnya.

"Kerja bagus, Elea! Pemotretan kali ini berhenti sampai disini."

Elea, model cantik itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum melangkah ke arah asistennya yang sudah menunggunya dengan senyum lebar di wajahnya.

"Elea. Kau selalu menakjubkan! Aku bangga padamu!"

Elea tersenyum tipis, hampir tertawa karena ucapan asistennya itu. "Seperti biasa. Kau selalu berlebihan, Emma. Aku biasa saja," ujarnya merendah. Lebih baik begitu, bukan? Merendah walau sadar jika ia luar biasa.

"Baiklah." Emma, sang asisten hanya mengangkat bahunya tidak acuh. "Kalau begitu, kau harus ganti baju lebih dulu sebelum kita pulang."

Elea mengangguk semangat dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Emma. Kata 'pulang' memang selalu membuatnya semangat.

"Oke! Nanti buatkan aku mi juga, ya?"

"Baik, tuan puteri." Emma tampak pasrah dan itu membuat Elea tak mampu menahan tawanya lebih lama lagi.

Mereka berdua baru saja masuk ke ruang khusus para model ketika ponsel Elea yang berada di saku cardigan Emma berdering.

"Elea. Ada pesan dari Jamie." Emma mengangkat ponsel Elea, menunjukkannya pada sang empu. "Hubungan kalian baik-baik saja?"

Elea menghampiri Emma dan mengambil ponselnya. "Tidak. Hubungan kami sangat buruk. Mungkin sebentar lagi akan putus."

"Kau serius?" Emma tampak khawatir. Pasalnya ia tahu seberapa dalam perasaan Elea ke Jamie dulu. Dan sekarang, hubungan mereka sudah di ujung tanduk. Seperti terlalu mudah untuk berpisah, padahal dulu mereka berjuang untuk bisa bersama.

"Kalau tidak cocok, mau bagaimana lagi, kan?" Elea memberi senyum kecil. "Aku keluar dulu. Jamie menungguku. Ada sesuatu yang ingin dia katakan."

Bibir Emma menipis dan ia mengangguk dua kali. Matanya terus mengikuti langkah Elea dan berharap dalam hati supaya hubungan mereka tetap baik-baik saja.

***

Elea melangkah dengan langkah pasti. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapanya dan ia menyapa balik. Senyumnya yang merekah itu surut tiba-tiba ketika ia berhadapan dengan Jamie.

"Hai."

Elea menghentikan langkahnya, kedua matanya berkedip dan tangannya terlipat didepan tubuhnya. Ia menunggu Jamie mengungkapkan apa yang ingin dikatakan. Permasalahan terakhir dalam hubungan mereka membuat mereka berdua saling tidak peduli satu sama lain.

"Dengar." Jamie membasahi bibirnya. "Aku mencintaimu, El. Hanya saja--"

"Langsung intinya saja," potong Elea cepat. Ia terlihat tidak sabar menanti inti dari ucapan Jamie.

"Okay." Jamie menggosok kedua telapak tangannya dan mendesah pelan. "Ayo kita akhiri hubungan ini."

Mendengarnya membuat senyum kecil terukir di wajah Elea. Seperti yang ia duga. "Baik." Elea mendongak padanya. "Sampai sini saja. Terima kasih atas semua kesenangan yang kau beri padaku." Dan senyumnya semakin lebar.

"Hm. Hubungan ini tidak berhasil. Selalu ada kesalahpahaman."

Elea mengangguk paham. "Aku tahu. Ini memang yang terbaik." Kedua tangannya terurai dan menjuntai di sisi tubuhnya. "Kalau begitu ... sampai jumpa," ucapnya sebelum berbalik pergi dari sana, meninggalkan Jamie yang mengernyit dalam, dilema apakah keputusannya sudah tepat.

Tapi, Elea tidak peduli. Ia memang menunggu momen ini datang. Sudah berkali-kali sebenarnya ia mengakhiri hubungan ini secara sepihak, tapi Jamie menolak. Jadi, Elea menunggu Jamie bosan dengan tingkahnya lalu memutuskan untuk putus. Di momen seperti itu, Elea tentu tidak akan protes, ia malah dengan senang hati setuju karena setelahnya ia terbebas dari Jamie yang begitu overprotektif.

"Hei. Sudah selesai?" Emma bertanya begitu Elea masuk kembali ke ruang khusus para model.

Elea mengangguk dan duduk di salah satu skruvsta berwarna putih gading yang langsung berhadapan dengan sebuah cermin besar. Elea menyandarkan punggungnya dan memijat dahinya perlahan.

"Aku ingin sekali liburan. Tapi selalu tidak ada waktu," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Emma. "Lalu, aku dan Jamie sudah putus."

"Apa?" Emma menganga tidak percaya. "Kau berbohong?"

"Tidak."

"Astaga." Emma tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Oh ... Em ... Okey. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja, El."

Elea memutar kursinya menghadap ke arah Emma yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuknya. "Apa tidak ada jadwal kosong untukku, Emma?"

"Tidak ada sebenarnya. Tapi, jika kau mau maka bisa saja. Aku akan mengurusnya." Emma mengedipkan sebelah matanya. "Omong-omong, berarti kau sekarang sedang melajang. Benar, kan?"

Bibir Elea melengkung ke bawah dan mengedikkan kedua bahunya. "Ya begitulah. Aku rasa lebih baik begini. Mengurus lelaki hanya membuatku tambah lelah saja."

Emma meringis mendengarnya. Ia juga merasakan hal yang sama, sejujurnya. Itu kenapa ia tidak pernah niat mencari pasangan. Hanya menyusahkan saja baginya.

"Baiklah. Kita akan bicarakan hal itu nanti lagi. Sekarang, kau harus berganti baju dahulu." Emma memberikan setelan dress tanpa lengan dan blazer pada Elea yang sudah bangkit berdiri. "Kalau kau kesulitan, panggil aku saja."

Elea menganggut dan membawa gantungan pakaian itu ke dalam ruang ganti. Sementara Elea masih berada didalam sana, Emma duduk di satu single sofa di sudut ruangan dengan ponsel yang menyala di tangannya.

Tak lama kemudian, mata Emma tampak membesar, ia bahkan lebih mendekatkan ponselnya ke wajahnya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di sana hingga sekarang ia terlihat begitu antusias.

"Elea!" Emma berseru begitu Elea keluar dari ruang ganti. "Elea, kau harus lihat ini!" Emma berjalan ke arah Elea dan menunjukkan pada Elea apa yang ia maksudkan.

"Apa ini?" Elea menyipitkan matanya membaca tulisan yang agak kecil di ponsel Emma. "Program mencari pasangan?" tanyanya dengan nada nyaring.

"Ya!" Emma menjawab antusias. "Kau tidak mau ikut? Ini sangat cocok sekali denganmu! Siapa tahu kau bertemu dengan pria yang sesuai dengan tipe idealmu lalu kalian berpacaran dan akhirnya menikah!"

Elea menghela napas lelah. Mendengar Emma yang berceloteh semangat tentang program mencari pasangan itu membuatnya merasa letih.

"Emma. Aku tidak akan mendaftarkan diriku ke acara itu. Aku tidak suka dan juga tidak mau," ujar Elea menolak terang-terangan. "Acara seperti itu hanya omong kosong. Tidak ada pasangan yang benar-benar pasangan kalau sudah keluar dari acara, mereka pasti putus."

"Tapi ini keren, Elea. Stasius TV KRA menjadi yang terbaik di negeri ini. Dengan kau ikut, dan kau berpartisipasi di sana, namamu akan lebih terkenal. Kau akan dikenal lebih banyak orang! Dengan begitu, akan lebih mudah untukmu mendapatkan uang. Percayalah. Terkenal membuat uangmu lebih banyak."

Elea terdiam di tempat. Sebagai gadis yang tumbuh dari keluarga dibawah garis rata-rata dalam aspek ekonomi membuat Elea agak sensitif masalah uang. Ia begitu berambisi mendapatkan uang yang banyak dan menjadi super kaya raya.

"Tapi aku tidak suka drama. Aku juga tidak bisa akting." Ela mengerutkan hidungnya. "Aku juga payah menghapal skript. Jadi ... tidak, terimakasih."

Emma berkacak pinggang. "Elea. Aku penasaran apakah kau pernah menonton reality show?"

"Well ... memangnya semua itu tidak terencana?"

Emma memasang ekspresi seolah ia ingin meninju Elea saat itu juga. "Elea. Sayang. Reality show tidak pakai skript. Semuanya mengalir begitu saja. Berdasarkan emosi dan perasaan. Jadi ayolah. Kau luar biasa, kau akan bertemu beberapa pria yang menawan, yang mungkin bisa mengambil hatimu, ya kan? Kau juga pasti akan terkenal. Apalagi yang kau butuhkan?"

Elea menggeleng. Membuat Emma mendesah pelan. "Tidak, Em. Aku suka diriku yang sekarang. Tidak pusing memikirkan banyak hal. Uangku sudah cukup. Aku sudah cukup senang. Jadi ... jawabanku tetap tidak."

Elea berbalik menatap cermin, menambahkan lipstik di bibirnya. Sedangkan Emma merasa agak kecewa. Emma hanya merasa jika Elea bisa menjadi tokoh utama dalam acara ini. Karena jangankan para pria, Emma yang wanita saja benar-benar mengagumi aura Elea. Jika ia tertarik dengan wanita, mungkin ia sudah memacari Elea.

Tiba-tiba sebuah pemikiran jahil masuk ke dalam pikiran Emma. Ia tersenyum hampir tertawa memikirkannya. Dan lagipula untuk acara yang tentunya booming nanti, tentu ada banyak pendaftar, peluang Elea bisa lulus cukup kecil, bukan?

"Emma. Jangan tatap ponselmu terus. Kemas semua barang dan kita pulang sekarang."

Emma menjentikkan jarinya. "Okay, babe!"

***

Di sebuah ruangan terang benderang dengan begitu banyaknya alat olahraga, seorang pria dengan tone kulit limestone dan dada bidang, biseps serta triseps sempurna serta perut yang begitu sixpack sedang melakukan pemanasan ketika seorang gadis yang memakai sport bra dan legging berwarna hitam tiba-tiba muncul dan menginterupsi sesi pemanasannya.

"Ethan! Hei kau baru mau work out?" tanyanya dengan riang dan mengecup pipi Ethan. "Kemarilah, ada yang ingin aku katakan padamu." Dia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana, melambaikan tangannya menyuruh Ethan mendekat.

"Ada apa, Phi?" Ethan, pria yang memakai celana pendek yang sebenarnya cukup ketat di tubuhnya itu melangkah ke Delphi, satu-satunya teman perempuan yang pernah terjebak friendzone dengannya.

"Kau single, kan?"

Mata Ethan yang beriris cokelat pekat itu mengerut. "Kau berniat mengejek?"

"Aku cuma tanya." Delphi berseru dan tertawa. "Aku bawa berita baik untuk pria yang sudah melajang dua tahun ini," ujarnya semangat.

Ethan mengambil botol minum dari tasnya sebelum duduk disebelah Delphi. "Apa?" tanyanya lalu mereguk air didalam botol.

"KRA sedang membuka pendaftaran untuk orang-orang single seperti kita. Ada program kencan ... em ya seperti mencari pasangan selama empat belas hari. Kau tidak mau ikut?" Mata Delphi membesar menatap Ethan, menandakan betapa antusiasnya ia. "Aku yakin ini akan benar-benar wuah! Kau tau sendiri kan bagaimana setiap program TV ini selalu viral. KRA pasti tidak main-main merangkai semuanya. Pasti akan epic!"

Ethan tidak bereaksi. Ia bahkan tidak menatap balik Delphi. Tangannya hanya memutar tutup botol dan ia malah menguap kecil kemudian.

"Ethan!"

"Kenapa?" Ethan menyahut malas. "Aku tidak tertarik. Daftarkan saja dirimu."

"Kau yakin? Akan ada beberapa perempuan luar biasa di sana. Kau benar-benar menyesal kalau tidak ikut. Kau juga bisa menambah teman, relasi dan bisa saja terkenal, Ethan!"

Ethan menggeleng. "Tidak," sahutnya. "Kau optimis sekali. Memangnya bisa lulus?"

Delphi membuka mulutnya hendak menyangkal kalimat pesimis Ethan, tapi ia kemudian menutupnya lagi. "Apa salahnya mencoba, kan?"

"Aku tidak ada waktu."

"Omong kosong. Perusahan furniture itu milikmu. Kau bisa libur kapanpun kau mau." Delphi tidak menyerah. Ia ingin dirinya dan Ethan ikut program ini.

"Tidak ...." Ethan bangkit berdiri dan berjalan ke arah treadmill. "Kau saja."

Bibir Delphi mengerucut, tanda jika ia sedang kesal. "Aku tetap akan mendaftarkanmu!!" serunya menatap punggung Ethan, tidak peduli kalau beberapa orang di sana menoleh ke arahnya.

Dan Ethan, sekali lagi dengan sikap tak acuhnya, ia berkata sembari mengangkat kedua tangannya. "Terserah ...."

***

Emma dan Elea sedang berada didalam apartemen Elea, apartemen yang kata Elea adalah milik mereka berdua, bukan Elea saja.

"Elea, boleh aku pinjam laptopmu?"

Emma menoleh pada Elea yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan eye mask di kelopak mata bawahnya.

"Hm."

Emma terkekeh dan bangkit berdiri, ia berjalan ke arah meja lalu mengambil laptop pink milik Elea.

"Aku harus mengirim beberapa email dan laptopku sedang rusak, tidak tahu kenapa." Emma memberitahu Elea tanpa ditanya. "Dan setelah ini, aku akan mendaftarkanmu ke program kencan itu."

"Emma!" Elea bangkit duduk dan Emma tertawa kencan karenanya. "Jangan coba-coba. Aku tidak mau. Kalau kau tetap kukuh, ya sudah terserah, aku tetap tidak akan ikut."

Tawa Emma mereda. Ia mengedikkan kedua bahunya. Ya lihat saja nanti, pikirnya.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul dibawah layar laptop Elea. Emma meliriknya dan terkejut ketika melihat sebuah DM yang berasal dari KRA official.

Emma menutup mulutnya rapat-rapat agar tak berseru. Ia tahu kalau pesan itu untuk Elea, tapi ia tidak berbohong kalau ia amat sangat antusias sekarang.

Emma mengintip dari balik laptop, melihat apa yang dilakukan Elea. Karena Elea kembali berbaring dan memejamkan mata. Ia meminta maaf didalam hati dan membuka pesan itu.

Mata Emma membesar selama membaca pesan yang cukup panjang itu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya ingin keluar dari tenggorokannya. Ia mulai menutup mulutnya dan tertawa ketika hampir selesai membaca semua teks itu.

"ELEA!!" Ia berseru. Berdiri dan melompat-lompat karena rasa senang. "Elea! Bangun! Kau mendapat pesan dari KRA!"

Elea membuka sebelah matanya. "Emma. Please. Aku mau tidur."

"Hey baca dulu pesan ini." Emma membawa laptop Elea ke tempat tidur dan menaruhnya ke pangkuan gadis itu. "Gila! Ini gila! Kau bahkan tidak perlu mendaftar, Elea. Mereka menawari langsung padamu."

Elea membaca teks itu dengan malas. Ketika selesai, ia mengembalikan laptopnya ke Emma dan kembali berbaring seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi.

"Elea?" Emma mengerutkan dahinya, sungguh heran dengan sifat modelnya ini. "Setidaknya tunjukkan rasa senang sedikit saja."

Elea menggeleng. "Aku tetap tidak akan ikut, Emma. Aku lelah. Sudah ya," ujarnya berbalik badan dan memeluk gulingnya.

Emma menghela napas. Sepertinya memang Elea tidak mau ikut. Emma kemudian mengambil laptop itu dan membaca kembali pesan yang tertera di sana. Penawaran ini berlaku sampai lima hari ke depan. Karena di hari keenam, peserta ditentukan dan hari ketujuh, semuanya dimulai.

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Rahasia Kerajaan Terlarang: Petualangan Sensual di Dunia Fantasi
Rahasia Kerajaan Terlarang: Petualangan Sensual di Dunia Fantasi
Dalam Rahasia Kerajaan Terlarang: Petualangan Sensual di Dunia Fantasi, Aiden dan Elara harus mengungkap rahasia kelam di balik kemegahan istana. Hadapi intrik politik dan kekuatan gelap dalam fantasy novel ini. Baca kisah mereka di web novel yang penuh petualangan dan romance stories mendalam.
Keabadian yang Tertunda Dendam
Keabadian yang Tertunda Dendam
Dalam Keabadian yang Tertunda Dendam, Wulan dan Mulan turun ke dunia setelah 300 tahun kultivasi. Sebagai fantasy novel penuh aksi, mereka harus memilih: meraih keabadian dengan membalas dendam ibu mereka atau hidup sebagai manusia. Temukan petualangan mereka di web novel ini.
Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
Dalam novel modern ini, Marcel yang tertindas di rumah istrinya bangkit setelah menelan formula rahasia orang tuanya. Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat membawa Anda dalam adventure penuh aksi dan kekuatan baru. Baca kisah lengkapnya di web novel ini sekarang!
PENDEKAR TAPAK DEWA
PENDEKAR TAPAK DEWA
Dalam novel fantasy PENDEKAR TAPAK DEWA, Jenderal Hongli menyelamatkan bayi ajaib La Mudu dari pembantaian Kelompok Merah-Merah. Ia bersumpah melatih sang titisan dewa menjadi pendekar besar untuk menuntut balas. Ikuti adventure story penuh aksi ini hanya di web novel pilihan Anda.
Perjalanan Fantasi
Perjalanan Fantasi
Dalam Perjalanan Fantasi, Keisha terlempar ke dunia asing setelah dikhianati kekasihnya. Diselamatkan seorang pangeran dan panglima, ia terjebak cinta segitiga di tengah misi bertahan hidup. Baca fiction fantasy romance books ini sebagai pilihan novel online seru bagi pecinta adventure.
Ratu Kerajaan Niskala
Ratu Kerajaan Niskala
Dalam Ratu Kerajaan Niskala, Putri Candra Utari menghadapi intrik perebutan takhta. Ia memperdalam ilmu kanuragan untuk membangun Kerajaan Wulan Katigo. Baca fantasy novel penuh aksi ini di webnovel, saat sang putri menyamar demi menyelamatkan ayahnya dalam adventure story yang epik.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Pembalasan Anak Sah
Pembalasan Anak Sah
Di kehidupan sebelumnya, dia dikhianati oleh ibu dan saudara perempuannya. Bayinya yang baru lahir ditukar dengan anak saudara perempuannya yang menyebabkan aib dan kematian tragis di rumah. Suaminya juga dijebak oleh saudara perempuannya dan akhirnya meninggal. Setelah terlahir kembali, dia menggunakan ingatannya dari kehidupan sebelumnya untuk mengungkap rencana jahat ibu dan saudara perempuannya, yang akhirnya membantu suaminya naik ke tampuk kekuasaan.
Pernikahan Kilat dengan CEO Misterius
Pernikahan Kilat dengan CEO Misterius
Pada hari pernikahannya, Katherine mendapati pengantin prianya, Alan, akan menikahi orang lain. Dia menghadapi serangkaian peristiwa yang menyayat hati termasuk dieksploitasi oleh keluarga Alan, dikhianati oleh sahabatnya, dan dibebani dengan utang. Seorang pria tua menawarkan sejumlah besar uang untuk menikahi Katherine. Ketika mereka menghadapi ejekan dari para penonton, Jonny, cucu pria tua itu, muncul untuk menikahi Katherine atas perintah kakeknya. Salah paham Katherine menjadi penggali emas yang menipu pria tua, Jonny awalnya menyembunyikan identitas aslinya sebagai taipan bisnis untuk tinggal bersama Katherine. Namun seiring berjalannya waktu, dia mendapati dirinya perlahan tertarik padanya ....
Dewa Perang Palsu Atau Tidak?
Dewa Perang Palsu Atau Tidak?
Seorang pekerja kantor biasa didatangi oleh seorang pejuang cantik yang memintanya menyamar sebagai komandan yang gugur karena wajah mereka mirip. Saat ia menjalani peran berbahaya ini, ia harus menghadapi orang-orang yang ingin membongkarnya dan yang ingin memanfaatkan identitas barunya. Ia segera menyadari bahwa berpura-pura menjadi komandan membawa risiko dan biaya besar.
[Versi Dub] Pendamping Dewasa yang Misterius
[Versi Dub] Pendamping Dewasa yang Misterius
Seorang triliuner bernama Indro dikira seorang pekerja di bandara dan hampir saja diusir oleh pramugari saat dia hendak duduk di pesawat kelas atas. Selama perjalanan, dirinya menyelamatkan Melisa yang diganggu oleh penumpang lain. Setelah sampai dengan selamat, Indro menyetujui permintaan Melisa untuk pura-pura menjadi pasangannya. Namun, hal ini menimbulkan kesalahpahaman antara Indro dengan anaknya. Indro dan Melisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah keluarga dan krisis perusahaannya. Pada akhirnya, misi terakhir yang harus diselesaikan Indro adalah mendapatkan izin untuk menikahi Melisa.
Orang Besar yang Terlupakan
Orang Besar yang Terlupakan
Meskipun dia orang penting, dia dipandang rendah dan diganggu karena sifatnya yang rendah hati.
Aku Menyewa Miliarder Jadi Pacar
Aku Menyewa Miliarder Jadi Pacar
Kyla menyelamatkan seorang pria tak dikenal yang terluka, karena mengira dialah yang menyebabkan lukanya. Saat dijodohkan paksa oleh bibinya, satu-satunya jalan adalah membujuk pria itu jadi pacar palsu. Tak disangka, pria itu ternyata adalah sang pewaris tunggal kerajaan bisnis dengan kekuatan tak terhingga! Namun saat dia sadar, sudah terlambat untuk kabur. Jebakan sang taipan telah mengurungnya sempurna dalam dunia yang tak pernah dia impikan.