Bab 2

"Keisha, kamu sebelumnya begitu keras kepala ingin tetap tinggal di Kota Nordam, kenapa tiba-tiba memutuskan pulang? Apa terjadi sesuatu?"

Keisha sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjelaskan. Dia mengangkat tangan untuk menghapus air mata di sudut matanya, lalu berkata dengan nada tegas, "Aku nggak apa-apa, hanya saja ... aku kangen rumah."

"Kalau begitu, cepatlah pulang. Ayah dan Ibu sedang menunggu di rumah. Soal perjodohan, kami nggak akan memaksa. Nanti setelah kamu pulang, ketemu dulu sama calon pasangan itu. Kalau kamu suka, baru bisa dibicarakan lebih lanjut."

Setelah itu, sang ibu masih menasihatinya panjang lebar, sebelum akhirnya menutup panggilan dengan berat hati.

Keisha mengusap bersih sisa air mata, lalu melangkah keluar dari tangga darurat. Belum berjalan jauh, dia berpapasan dengan salah satu sahabat Presley.

"Kakak Ipar, akhirnya kamu balik juga! Cepatlah masuk lihat Presley, dia khawatir sama kamu sampai nggak bisa tidur ...."

Tanpa sepatah kata pun, Keisha hanya mengikuti langkahnya menuju kamar rawat Presley.

Begitu masuk, dia langsung melihat Presley bersandar di kepala ranjang dengan senyum di wajahnya dan menatap dirinya penuh makna. Beberapa sahabat di sekitarnya pun ikut menyapanya dengan hormat, "Kakak Ipar, halo!"

Andai saja dia tidak mendengar percakapan barusan, mungkin Keisha takkan pernah menyangka bahwa mereka semua bisa menunjukkan sisi seperti itu.

"Keisha, terima kasih sudah repot-repot memanjat tangga demi meminta jimat keselamatan buatku ...."

Kalimat Presley mendadak terhenti ketika matanya jatuh pada celana Keisha yang penuh bercak darah. Dia langsung bangkit dari ranjang, lalu bergegas menghampiri dan mengangkat tubuh Keisha ke tempat tidur. Dengan tergesa-gesa, dia menggulung lengan bajunya untuk memeriksa luka di lututnya.

"Kenapa lututmu sampai luka begini? Kalian, cepat panggil dokter jaga malam ini!"

Sahabatnya segera berpencar mencari dokter.

Sementara itu, Presley menatap luka di lutut Keisha dengan hati-hati, seakan takut sentuhannya akan memperparah rasa sakit Keisha. Namun, di dalam hati Keisha hanya tersisa kegetiran.

'Presley, Presley ... bukankah semua ini terjadi karena ulahmu? Kamu berpura-pura sampai setulus itu, mungkin kamu sendiri juga sampai percaya sama sandiwaramu ya?'

Ketika dokter datang dan mulai membersihkan luka, Presley berusaha mengalihkan perhatian Keisha dengan suaranya yang lembut, "Keisha, sebelum kamu kembali tadi, aku sempat meneleponmu. Tapi di layar muncul tanda sibuk. Apa kamu sedang ngobrol dengan teman?"

Keisha menundukkan mata dan menggelengkan kepala perlahan, lalu sengaja berkata, "Itu ibuku, dia mendesakku untuk menanyakan kapan kita berencana menikah."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, seluruh ruang rawat seketika hening. Para sahabatnya saling berpandangan dan bertukar tatapan yang penuh arti.

Setelah diam sejenak, Presley menunjukkan ekspresi tak berdaya, "Keisha, kamu tahu, sebelum aku meraih kesuksesan dalam karier, keluargaku nggak mengizinkan aku untuk jatuh cinta apalagi menikah."

"Tolong kasih aku waktu sedikit lagi, ya? Setelah proyek baru perusahaan selesai, aku akan cari kesempatan untuk memperkenalkanmu pada mereka."

Kata-kata itu terdengar tulus sekali. Namun Keisha tahu, alasan Presley tidak mau membawanya bertemu orang tuanya sebenarnya karena Keisha hanyalah seorang pengganti.

Kalau identitasnya terbongkar, bagaimana mungkin Presley bisa menjadikan 99 rekaman video itu sebagai bukti bahwa semua dilakukan orang lain? Lagi pula, di hati Presley, mereka berdua tidak akan pernah memiliki masa depan bersama ....

Setelah dokter selesai membalut luka Keisha, Presley bersikeras agar Keisha dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memantau kondisi kakinya. Karena semuanya terlalu mendadak, pihak rumah sakit tidak punya kamar rawat tambahan.

Presley pun memutuskan membiarkan Keisha tidur di ranjangnya, sementara dia sendiri tidur seadanya di sofa. Kali ini, Keisha tidak menolak.

Menjelang tengah malam, ketika Presley sudah terlelap, Keisha perlahan mendekatinya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Presley tidak pernah waspada terhadap Keisha. Sebab dia tahu, Keisha tidak akan pernah berani melakukan sesuatu yang bisa membuatnya tidak senang.

Ponsel itu mudah sekali terbuka. Keisha membuka WhatsApp dan melihat orang yang dipasangnya sebagai kontak teratas adalah seorang gadis bernama Lara. Lara ... sepertinya memang dialah orangnya.

Kemudian, Keisha menemukan sebuah album pribadi yang dipasangi kunci. Nama albumnya adalah "Segera Nikahi Lara (96/99)".

Di dalamnya terpampang tepat 96 rekaman video.

Meskipun Keisha tidak bisa melihat isi video-video itu, dia sudah tahu persis apa yang ada di dalamnya.

Ternyata, tiga tahun yang dia jalani, semua pengorbanan yang dia lakukan demi cinta ....

Bagi Presley, semua itu hanyalah sebuah deretan angka tanpa perasaan, sekadar progres bar yang terus berjalan.

Bab 3

Pada hari Keisha pulih dan keluar dari rumah sakit, Presley menyiapkan sebuah pesta perayaan untuknya. Sebenarnya, Presley selalu begitu selama tiga tahun terakhir. Setiap kali Keisha berkorban untuknya, beberapa hari kemudian Presley akan menyenangkannya.

Dengan cara seperti itu, dia menggantungkan hati Keisha dan membuatnya tidak bisa berhenti. Jadi, setiap kali Presley mengajukan permintaan baru, Keisha rela melakukannya tanpa ragu.

Namun kini, setelah tahu kebenarannya, Keisha tidak lagi merasa berbunga-bunga. Yang tersisa di hatinya hanyalah kehampaan.

"Sudahlah, aku nggak mau pergi ke pesta perayaan apa pun. Kalian saja yang merayakan." Dia masih harus sibuk pulang untuk mengemasi barang-barangnya, sibuk memesan tiket pesawat, sibuk ... meninggalkan Presley.

Presley akhirnya menyadari ada sesuatu yang aneh dengan emosi Keisha. Dia mengulurkan tangan untuk meraba dahinya. "Kenapa? Kamu kurang sehat? Biasanya di saat seperti ini kamu selalu senang."

Keisha melangkah mundur setengah langkah untuk menghindari tangan Presley yang hendak menempel di keningnya. Belum sempat dia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang manis.

"Presley, kamu sedang apa?"

Keisha menoleh mengikuti suara itu dan melihat seorang gadis cantik dengan postur hampir mirip dirinya berjalan mendekat. Begitu Presley melihat gadis itu, dia segera menarik kembali tangannya, lalu melangkah cepat ke arahnya.

"Bukannya sudah kubilang untuk menungguku di mobil? Anginnya kencang di luar."

Sambil bicara, Presley melepas mantelnya dan menyampirkannya di pundak gadis itu.

Gadis itu membiarkannya melakukan itu, lalu menoleh ke arah Keisha, sambil menyapanya, "Kamu pasti Keisha, ya? Halo, aku Lara, teman kecilnya Presley."

Sambil berkata demikian, dia meneliti Keisha dari atas ke bawah dengan tatapan santai.

Keisha seketika merasa tubuhnya menegang. Jadi inilah Lara, wanita yang sudah diputuskan Presley untuk dinikahinya. Apakah Lara juga tahu tentang 99 kali pengorbanan yang diminta Presley padanya?

Saat itu, angin dingin kembali berembus. Presley merengkuh Lara ke dalam pelukannya dengan cepat. Lalu dengan tangan lainnya, dia menggenggam Keisha dan segera menariknya masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, Presley dan Lara duduk di kursi depan sambil terus mengobrol, membuat Keisha yang duduk sendirian di kursi belakang tampak seperti seorang asing di antara mereka.

Dari percakapan keduanya, Keisha baru tahu bahwa ternyata Lara sudah pergi ke luar negeri tidak lama setelah dia dan Presley mulai berpacaran dulu dan kini baru kembali. Bahkan pesta perayaan yang disebut-sebut Presley hari ini, rupanya dipilih di restoran favorit Lara, dengan menu yang semuanya adalah makanan kesukaannya.

Di ruang VIP dengan meja bundar, sekelompok sahabat Presley sudah duduk melingkar. Begitu melihat Lara datang, mereka langsung berkerumun menyambutnya masuk.

"Lara, beberapa tahun ini kamu ke luar negeri, kita cuma bisa jadi teman online saja. Sekarang lihat wajah kami, masih bisa ingat kami siapa nggak?"

"Eh, kenapa aku merasa Lara setelah keluar negeri malah makin cantik, ya?"

"Ya jelas makin cantik! Kalau nggak, mana mungkin bisa bikin Presley sampai mabuk kepayang begitu!"

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Namun, setelah sadar apa yang baru saja mereka ucapkan, tawa itu pun langsung padam. Mereka buru-buru menoleh dengan hati-hati ke arah Keisha.

Lara tersenyum lalu berdeham pelan, kemudian berjalan ke sisi Keisha dan menariknya untuk duduk di sampingnya. "Maaf ya, Kak Keisha. Aku dan Presley memang dari kecil tumbuh bersama, jadi mereka sering bikin gosip tentang kami. Kamu jangan tersinggung."

Keisha hanya tersenyum lemah. "Mm, nggak masalah." Mana mungkin dia punya hak untuk peduli, kalau pada dasarnya dia hanyalah seorang pengganti?

"Baguslah kalau begitu ...." Seolah teringat sesuatu, Lara lalu menoleh ke Presley. "Aku dengar dari Kevin, katanya hubunganmu dengan Kak Keisha baik sekali. Katanya beberapa hari lalu waktu kamu sakit, dia bahkan pergi ke Gunung Forel, sampai berlutut melewati 999 anak tangga demi memohonkan jimat keselamatan untukmu. Benarkah itu?"

Demi menjaga perasaan Keisha, Presley mengangguk. "Benar. Aku pernah bilang kalau jimat dari Gunung Forel bisa mengusir segala malapetaka. Hari itu juga dia langsung pergi mencarikannya untukku."

Nada bicara Lara dibuat terkejut dengan berlebihan, "Bisa mengusir segala malapetaka? Wah, sehebat itu, ya? Kalau aku juga bisa punya satu, pasti bagus sekali."

Presley menatapnya dengan senyum penuh kasih sayang, "Kalau kamu mau, biar aku berikan punyaku padamu."

Sambil berkata demikian, Presley segera mengeluarkan ponselnya. Dia menelepon seseorang untuk pergi ke rumah mengambil jimat keselamatan dan mengantarkannya ke tempat itu. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Seseorang masuk dan menyerahkan jimat itu ke tangan Presley, lalu Presley langsung menyerahkannya kepada Lara.

Setelah itu, orang yang datang tadi menundukkan kepala dan membisikkan sesuatu di telinga Presley. Sambil mendengarkan, kening Presley perlahan berkerut dan pandangannya juga terarah pada Keisha.

Dia menundukkan mata dan termenung sejenak, lalu mengangguk. "Oke, aku tahu. Kamu boleh kembali dulu."

Begitu orang itu pergi, Presley segera menarik tangan Keisha dan berdiri. "Keisha, di sebelah ada beberapa klien juga sedang makan. Temani aku sebentar untuk menyapa mereka."

Bab 4

Keisha sebenarnya tidak ingin ikut. Namun sebelum sempat menolak, Lara juga berdiri sambil berkata, "Aku juga ikut lihat, ya."

Tak disangka, Presley langsung menekannya kembali ke kursi dengan nada yang tak bisa dibantah, "Jangan ikut campur, duduk manis saja di sini dan makan. Kami akan segera kembali."

Selesai berkata demikian, dia pun menarik Keisha keluar.

Keisha dibawa sampai ke depan sebuah ruang VIP. Begitu pintu dibuka, ternyata di dalam duduk para klien asing. Melihat pemandangan itu, bahkan Presley sempat tertegun. Namun dia segera kembali tenang dan menggandeng Keisha masuk, lalu mulai berbicara dengan mereka dalam bahasa Prancis.

Tak lama kemudian, Presley menuangkan segelas penuh minuman keras dan menyerahkannya pada Keisha. Dia sendiri juga mengambil segelas, lalu bersulang bersama para klien itu. Keisha terpaksa ikut minum.

Setelah itu, Presley kembali menuntunnya untuk minum beberapa putaran. Kepala Keisha mulai pusing. Pikirannya melayang-layang dan pandangannya kabur. Yang tampak hanyalah sekelompok pria asing yang terus-menerus menyodorkan gelas ke tangannya dengan bahasa yang tidak dia mengerti dan memaksanya menenggak habis.

Dalam keadaan setengah sadar, Keisha panik mencari Presley. Namun, dia tidak menemukan sosok Presley. Dia merasa sendirian dan tanpa perlindungan. Dengan terpaksa, dia berkata dalam bahasa Inggris bahwa dia tidak bisa minum lagi dan hendak pergi.

Dengan langkah goyah, Keisha berdiri dan hampir berhasil membuka pintu ruangan. Namun tepat sebelum keluar, rambutnya tiba-tiba ditarik dengan kasar dan dia terhuyung jatuh kembali ke dalam.

Pria-pria asing itu sudah mabuk berat. Tanpa malu-malu, mereka bahkan berani menarik gaun Keisha. Keisha yang ketakutan, menjerit sekuat tenaga sambil meraih sebuah botol dan mengangkatnya tinggi-tinggi, "Jangan sentuh aku! Pergi!"

Sayangnya, mereka tidak mengerti bahasanya. Sebaliknya, mereka malah semakin bersemangat mendekat.

Keisha tahu dia tidak mungkin melawan sekelompok pria mabuk itu. Dalam keputusasaan, dia hanya bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka mundur, yaitu melukai dirinya sendiri. Sambil menggertakkan gigi, dia menghantamkan botol itu dengan keras ke kepalanya sendiri.

"Prang!"

Suara pecahan botol membuat beberapa pria itu sontak ketakutan.

Pandangan Keisha semakin gelap. Dalam keadaan setengah sadar, dia seperti melihat lampu merah kecil di kamera pengawas ruangan yang sedang merekam dirinya.

Ketika tersadar kembali, Keisha sudah tidak lagi berada di restoran. Dia mendapati dirinya terbaring di kamar tidur rumahnya.

Kepala Keisha terasa seperti hendak pecah, seluruh kepalanya dibalut rapat dengan perban.

Saat itu, dari luar pintu dia mendengar suara beberapa orang sedang berbisik. Dengan tubuh lemah, dia menahan diri untuk berjalan ke arah pintu dan mengintip keluar.

Presley sedang marah besar di ruang tamu, sementara beberapa sahabatnya berdiri di depannya dengan wajah penuh ketakutan.

"Kak Presley, kali ini Keisha sudah berkorban untukmu lagi dengan menemani klien minum sampai mabuk. Rekaman videonya juga sudah kami siapkan, wajahnya nggak terlihat. Sekarang cuma tersisa dua video lagi supaya genap 99. Kenapa kamu masih marah ...."

Presley membanting meja dengan keras, wajahnya dipenuhi amarah. "Kalian ini cari orang macam apa! Klien asing itu terlalu kasar, hampir saja Keisha dinodai mereka!"

Salah satu dari mereka berkata dengan nada tak paham, "Justru karena mereka orang asing yang kasar, efeknya lebih nyata, 'kan? Kak Presley, bukannya kamu memang ingin setelah 99 video ini jadi, bisa tunjukkan ke orang tuamu? Begitu mereka lihat, mereka pasti langsung setuju dan kamu bisa segera menikahi Lara."

Orang lain menyipitkan mata, menambahkan dengan nada menggoda, "Kak Presley, dilihat dari caramu melindunginya ... jangan-jangan kamu benar-benar suka sama Keisha?"

"Diam!"

Presley berteriak, lalu berdiri dengan tangan di pinggang. Dia mondar-mandir gelisah di ruang tamu, sebelum akhirnya menekan pelipisnya dan berkata dengan nada berat.

"Aku cuma khawatir, kalau kali ini membuatnya terlalu menderita, gimana kalau dia nggak mau bekerja sama lagi nanti? Kalian harus tahu batas kalau melakukan sesuatu! Sekarang tinggal selangkah terakhir, jangan sampai semuanya hancur gara-gara kecerobohan!"

Salah satu dari mereka tertawa rendah, "Baguslah kalau begitu, Kak Presley. Jadi ... kapan kita rekam video berikutnya? Tinggal dua lagi dan semua misi selesai. Benar-benar bikin bersemangat kalau dipikirkan."

Presley menutup rapat bibir tipisnya, lalu terdiam lama dalam renungan. Kemudian dia baru berkata,

"Akhir-akhir ini aku harus menenangkan emosinya dulu. Soal rekaman video ... tunggu saja dulu."

Keisha merasa kepalanya berdengung hebat. Dia tidak sanggup lagi mendengar sepatah kata pun.

Presley dan gengnya ini ... semuanya terlalu menakutkan.

Tubuhnya gemetar hebat. Dia kembali ke ranjang, lalu menyusup masuk ke dalam selimut dan membungkus dirinya erat-erat.

Tak Mau Lagi Menjadi Bayang-bayang Semu

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya