Bab 1
Karena satu kalimat yang terucap setelah pacarnya demam, Keisha berlutut menaiki 999 anak tangga di Gunung Forel demi memohon sebuah jimat keselamatan yang diyakini bisa mengusir segala bencana untuknya.
Tanpa peduli lututnya yang lecet hingga berdarah karena gesekan dengan batu, dia tetap membawa jimat itu dan bergegas kembali ke rumah sakit sepanjang malam.
Namun, sebelum sempat melangkah masuk ke ruang rawat, dia sudah mendengar suara tawa terbahak-bahak dari dalam.
"Memang kamu yang paling jago, Kak Presley. Cuma asal bicara kalau jimat keselamatan bisa mengusir bencana, Keisha si bodoh itu benar-benar pergi berlutut!"
"Semua prosesnya sudah kuabadikan dengan drone. Ckckck ... punggung Keisha yang teguh itu bahkan membuatku terharu. Kalau digunakan untuk menipu orang tuamu, pasti nggak akan ada masalah!"
Di dalam ruangan, Presley yang semula bersandar di ranjang rumah sakit, langsung duduk tegak. Dia menerima ponsel itu dan menontonnya dengan saksama. Sepasang matanya yang dalam menatap layar tanpa berkedip.
Mendengar suara kening membentur anak tangga yang tercampur dengan derai hujan dalam video itu, kedua kaki Keisha bergetar tanpa kendali.
Napasnya terengah. Dia menatap ke arah sekelompok orang di dalam ruangan itu melalui celah pintu dengan ekspresi tak percaya.
"Tenang saja, Kak Presley. Yang terekam cuma punggungnya, nggak akan ketahuan. Ini sudah video ke-96, sebentar lagi sudah cukup."
"Iya, tapi leluhur keluarga Kak Presley memang terlalu keras. Calon menantu wanita harus melakukan 99 kali pengorbanan demi suaminya baru bisa masuk catatan silsilah keluarga."
"Kak Presley nggak tega melihat Kak Lara menderita, jadi dia mencari Keisha yang punggungnya persis sama untuk dijadikan pengganti. Setelah 99 video pengorbanan terkumpul, Kak Lara tinggal menggantikannya saja."
"Haeh, tapi kalau dipikir-pikir, Keisha ini kasihan juga. Waktu itu Kak Presley bilang perusahaan sedang butuh relawan uji coba obat baru, dia rela menggunakan tubuhnya sendiri untuk mencoba demi Kak Presley. Tapi akhirnya malah alergi dan harus dirawat di rumah sakit."
"Sebelumnya lagi, waktu Kak Presley berkelahi di pinggir jalan, dia khawatir reputasi Kak Presley tercemar, jadi dia rela menggantikan masuk tahanan beberapa hari. Terlihat jelas kalau dia benar-benar mencintai Kak Presley. Sayang sekali, hati Kak Presley sudah ada orang lain."
Video pun selesai diputar. Presley melemparkan kembali ponsel itu kepada salah satu dari mereka, lalu hanya memuji singkat, "Bagus juga rekamannya."
Lalu, tatapannya yang dingin beralih kepada orang yang barusan membela Keisha, "Apa yang patut dikasihani darinya? Kalau bukan karena punggungnya mirip sama Lara, seumur hidup pun dia nggak mungkin bisa pacaran sama aku. Setelah semuanya selesai, aku juga akan memberinya imbalan besar. Dia nggak rugi."
Saat kata-kata itu dilontarkan, kilatan meremehkan di mata Presley tertangkap oleh Keisha.
Tubuhnya seketika mematung seolah tersambar petir. Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam dadanya. Ternyata, hubungan yang dia anggap begitu berharga, hanyalah sebuah kebohongan.
Presley memilih bersama Keisha, hanya untuk mewakili cinta sejatinya menerima penderitaan. Dia menjadikan Keisha sebagai batu loncatan di jalan menuju pernikahan mereka ....
"Eh, Kak Presley, sepertinya jam segini Keisha seharusnya sudah datang mengantarkan jimatnya, bukan? Mau kulihatin nggak?"
Suara langkah kaki terdengar dari dalam ruangan. Keisha yang takut ketahuan, buru-buru menahan tubuhnya yang lemah dan gemetar untuk bersembunyi.
Dia menyelinap ke tangga darurat dengan tergesa-gesa, tetapi lututnya yang sudah tergores kembali mengeluarkan darah dan membasahi pakaian yang dikenakannya. Namun, semua rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa perih di hatinya.
Ucapan Presley tadi terus menggema di kepalanya. Ternyata bagi Presley, bersedia membiarkan Keisha berpacaran dengannya saja sudah dianggap sebagai anugerah tak ternilai.
Hidung Keisha terasa panas, matanya basah oleh rasa pedih yang nyaris menyesakkan.
Keisha memang sudah lama menyukai Presley. Sejak Presley menyelamatkannya dari truk yang hilang kendali saat tahun ketiga kuliah, perasaan itu terus tumbuh dan tak pernah padam ....
Sebenarnya, bahkan sebelum itu pun, Keisha sudah sering mendengar nama Presley. Namun saat pertama kali melihat adik tingkat itu secara langsung, dia tetap dibuat terpesona.
Presley adalah putra tunggal Keluarga Hanoman di Kota Nordam. Dengan mengandalkan wajahnya yang tampan dan latar belakang keluarga yang gemilang, ada banyak gadis yang berusaha mendekatinya. Namun, dia selalu bersikap dingin terhadap siapa pun.
Waktu itu juga sama. Setelah menyelamatkannya, Presley segera melepaskan genggamannya lalu berkata dengan dingin, "Lain kali kalau jalan di jalan raya, perhatikan keselamatanmu."
Keisha yang masih syok, hanya bisa meminta maaf dengan terbata-bata sebelum beranjak pergi. Namun saat membalikkan badan, dia selalu merasa ada sepasang mata yang menatap punggungnya, lama sekali ....
Sejak saat itu, dia mulai sering "kebetulan" bertemu dengan Presley di kampus. Kadang di minimarket dan kadang di gedung olahraga.
Beberapa waktu kemudian, Presley juga masuk ke organisasi mahasiswa dan ditempatkan di divisi yang sama dengannya. Mereka pun sering berinteraksi, baik sengaja maupun tidak.
Karena setiap hari bertemu, Keisha tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Hingga suatu malam, ketika keduanya sibuk menyiapkan acara di kantor mahasiswa sampai larut malam, listrik tiba-tiba padam.
Dalam kegelapan, Keisha merasakan tubuhnya tiba-tiba terkurung dalam pelukan, lalu terdengar suara Presley yang dingin di telinganya, "Kak, kamu suka sama aku nggak? Kalau kamu memang suka, kenapa nggak coba mengejarku? Siapa tahu ... aku mau menerimanya."
Jantung Keisha berdetak kencang, pikirannya kacau karena kata-kata Presley barusan. Akhirnya, dia nekat memberanikan diri. Dalam kegelapan itu, dia mencondongkan tubuh dan mencium bibir Presley.
Malam itu juga, keduanya resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, Presley memberi satu syarat, yaitu hubungan mereka tidak boleh diketahui orang lain.
Alasan yang dia berikan adalah karena keluarganya melarang keras berpacaran sebelum meraih kesuksesan. Keisha pun mengangguk dan setuju.
Sejak itu, berbagai masalah kecil selalu muncul di sekitar Presley dan setiap kali, Keisha yang harus menanggung akibatnya. Mulai dari mengantarkan makanan tengah malam, menyelam di bak cuci untuk mengambil kalung, menjadi "kelinci percobaan" untuk uji obat, bahkan pernah menggantikan dia di ruang tahanan.
Bahkan kini, dia rela berlutut menapaki 999 anak tangga di tengah hujan deras, hanya demi mendoakan keselamatan Presley.
Keisha tidak pernah mengeluh. Karena di matanya, Presley bagaikan bulan di langit yang tak terjamah. Hanya dengan melakukan lebih banyak hal untuknya, Keisha baru bisa merasa sedikit lebih dekat dengan Presley.
Namun, percakapan yang baru saja dia dengar barusan bagaikan tamparan tak kasat mata yang menyadarkannya.
Tubuh Keisha seketika terasa menggigil. Padahal, keluarganya juga tidak buruk. Sejak kecil, dia dibesarkan bak putri kecil yang selalu diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Namun demi Presley, dia memilih menetap jauh di Kota Nordam dan mengorbankan segalanya tanpa ragu.
Kini Keisha sadar, semua pengorbanannya ternyata hanya demi mempermulus jalan orang lain. Bahkan saat dipikir kembali, mungkin pertolongan Presley waktu itu pun bukanlah ditujukan padanya, melainkan karena dia salah mengira punggung Keisha sebagai milik orang lain.
Tiba-tiba, nada dering ponsel memutus lamunannya. Panggilan masuk itu dari ibunya yang berada jauh di Kota Souta.
"Keisha, aku dan ayahmu sudah memutuskan. Kalau kamu benar-benar nggak mau pulang, biar kami saja yang datang menemanimu di Kota Nordam."
Mendengar itu, hati Keisha makin terasa perih.
"Nggak usah, Bu. Aku sudah memutuskan untuk pulang dan menerima pernikahan perjodohan itu. Mulai sekarang, putrimu akan selalu tinggal di sisi kalian."
Bab 2
"Keisha, kamu sebelumnya begitu keras kepala ingin tetap tinggal di Kota Nordam, kenapa tiba-tiba memutuskan pulang? Apa terjadi sesuatu?"
Keisha sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjelaskan. Dia mengangkat tangan untuk menghapus air mata di sudut matanya, lalu berkata dengan nada tegas, "Aku nggak apa-apa, hanya saja ... aku kangen rumah."
"Kalau begitu, cepatlah pulang. Ayah dan Ibu sedang menunggu di rumah. Soal perjodohan, kami nggak akan memaksa. Nanti setelah kamu pulang, ketemu dulu sama calon pasangan itu. Kalau kamu suka, baru bisa dibicarakan lebih lanjut."
Setelah itu, sang ibu masih menasihatinya panjang lebar, sebelum akhirnya menutup panggilan dengan berat hati.
Keisha mengusap bersih sisa air mata, lalu melangkah keluar dari tangga darurat. Belum berjalan jauh, dia berpapasan dengan salah satu sahabat Presley.
"Kakak Ipar, akhirnya kamu balik juga! Cepatlah masuk lihat Presley, dia khawatir sama kamu sampai nggak bisa tidur ...."
Tanpa sepatah kata pun, Keisha hanya mengikuti langkahnya menuju kamar rawat Presley.
Begitu masuk, dia langsung melihat Presley bersandar di kepala ranjang dengan senyum di wajahnya dan menatap dirinya penuh makna. Beberapa sahabat di sekitarnya pun ikut menyapanya dengan hormat, "Kakak Ipar, halo!"
Andai saja dia tidak mendengar percakapan barusan, mungkin Keisha takkan pernah menyangka bahwa mereka semua bisa menunjukkan sisi seperti itu.
"Keisha, terima kasih sudah repot-repot memanjat tangga demi meminta jimat keselamatan buatku ...."
Kalimat Presley mendadak terhenti ketika matanya jatuh pada celana Keisha yang penuh bercak darah. Dia langsung bangkit dari ranjang, lalu bergegas menghampiri dan mengangkat tubuh Keisha ke tempat tidur. Dengan tergesa-gesa, dia menggulung lengan bajunya untuk memeriksa luka di lututnya.
"Kenapa lututmu sampai luka begini? Kalian, cepat panggil dokter jaga malam ini!"
Sahabatnya segera berpencar mencari dokter.
Sementara itu, Presley menatap luka di lutut Keisha dengan hati-hati, seakan takut sentuhannya akan memperparah rasa sakit Keisha. Namun, di dalam hati Keisha hanya tersisa kegetiran.
'Presley, Presley ... bukankah semua ini terjadi karena ulahmu? Kamu berpura-pura sampai setulus itu, mungkin kamu sendiri juga sampai percaya sama sandiwaramu ya?'
Ketika dokter datang dan mulai membersihkan luka, Presley berusaha mengalihkan perhatian Keisha dengan suaranya yang lembut, "Keisha, sebelum kamu kembali tadi, aku sempat meneleponmu. Tapi di layar muncul tanda sibuk. Apa kamu sedang ngobrol dengan teman?"
Keisha menundukkan mata dan menggelengkan kepala perlahan, lalu sengaja berkata, "Itu ibuku, dia mendesakku untuk menanyakan kapan kita berencana menikah."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, seluruh ruang rawat seketika hening. Para sahabatnya saling berpandangan dan bertukar tatapan yang penuh arti.
Setelah diam sejenak, Presley menunjukkan ekspresi tak berdaya, "Keisha, kamu tahu, sebelum aku meraih kesuksesan dalam karier, keluargaku nggak mengizinkan aku untuk jatuh cinta apalagi menikah."
"Tolong kasih aku waktu sedikit lagi, ya? Setelah proyek baru perusahaan selesai, aku akan cari kesempatan untuk memperkenalkanmu pada mereka."
Kata-kata itu terdengar tulus sekali. Namun Keisha tahu, alasan Presley tidak mau membawanya bertemu orang tuanya sebenarnya karena Keisha hanyalah seorang pengganti.
Kalau identitasnya terbongkar, bagaimana mungkin Presley bisa menjadikan 99 rekaman video itu sebagai bukti bahwa semua dilakukan orang lain? Lagi pula, di hati Presley, mereka berdua tidak akan pernah memiliki masa depan bersama ....
Setelah dokter selesai membalut luka Keisha, Presley bersikeras agar Keisha dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memantau kondisi kakinya. Karena semuanya terlalu mendadak, pihak rumah sakit tidak punya kamar rawat tambahan.
Presley pun memutuskan membiarkan Keisha tidur di ranjangnya, sementara dia sendiri tidur seadanya di sofa. Kali ini, Keisha tidak menolak.
Menjelang tengah malam, ketika Presley sudah terlelap, Keisha perlahan mendekatinya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Presley tidak pernah waspada terhadap Keisha. Sebab dia tahu, Keisha tidak akan pernah berani melakukan sesuatu yang bisa membuatnya tidak senang.
Ponsel itu mudah sekali terbuka. Keisha membuka WhatsApp dan melihat orang yang dipasangnya sebagai kontak teratas adalah seorang gadis bernama Lara. Lara ... sepertinya memang dialah orangnya.
Kemudian, Keisha menemukan sebuah album pribadi yang dipasangi kunci. Nama albumnya adalah "Segera Nikahi Lara (96/99)".
Di dalamnya terpampang tepat 96 rekaman video.
Meskipun Keisha tidak bisa melihat isi video-video itu, dia sudah tahu persis apa yang ada di dalamnya.
Ternyata, tiga tahun yang dia jalani, semua pengorbanan yang dia lakukan demi cinta ....
Bagi Presley, semua itu hanyalah sebuah deretan angka tanpa perasaan, sekadar progres bar yang terus berjalan.
Bab 3
Pada hari Keisha pulih dan keluar dari rumah sakit, Presley menyiapkan sebuah pesta perayaan untuknya. Sebenarnya, Presley selalu begitu selama tiga tahun terakhir. Setiap kali Keisha berkorban untuknya, beberapa hari kemudian Presley akan menyenangkannya.
Dengan cara seperti itu, dia menggantungkan hati Keisha dan membuatnya tidak bisa berhenti. Jadi, setiap kali Presley mengajukan permintaan baru, Keisha rela melakukannya tanpa ragu.
Namun kini, setelah tahu kebenarannya, Keisha tidak lagi merasa berbunga-bunga. Yang tersisa di hatinya hanyalah kehampaan.
"Sudahlah, aku nggak mau pergi ke pesta perayaan apa pun. Kalian saja yang merayakan." Dia masih harus sibuk pulang untuk mengemasi barang-barangnya, sibuk memesan tiket pesawat, sibuk ... meninggalkan Presley.
Presley akhirnya menyadari ada sesuatu yang aneh dengan emosi Keisha. Dia mengulurkan tangan untuk meraba dahinya. "Kenapa? Kamu kurang sehat? Biasanya di saat seperti ini kamu selalu senang."
Keisha melangkah mundur setengah langkah untuk menghindari tangan Presley yang hendak menempel di keningnya. Belum sempat dia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang manis.
"Presley, kamu sedang apa?"
Keisha menoleh mengikuti suara itu dan melihat seorang gadis cantik dengan postur hampir mirip dirinya berjalan mendekat. Begitu Presley melihat gadis itu, dia segera menarik kembali tangannya, lalu melangkah cepat ke arahnya.
"Bukannya sudah kubilang untuk menungguku di mobil? Anginnya kencang di luar."
Sambil bicara, Presley melepas mantelnya dan menyampirkannya di pundak gadis itu.
Gadis itu membiarkannya melakukan itu, lalu menoleh ke arah Keisha, sambil menyapanya, "Kamu pasti Keisha, ya? Halo, aku Lara, teman kecilnya Presley."
Sambil berkata demikian, dia meneliti Keisha dari atas ke bawah dengan tatapan santai.
Keisha seketika merasa tubuhnya menegang. Jadi inilah Lara, wanita yang sudah diputuskan Presley untuk dinikahinya. Apakah Lara juga tahu tentang 99 kali pengorbanan yang diminta Presley padanya?
Saat itu, angin dingin kembali berembus. Presley merengkuh Lara ke dalam pelukannya dengan cepat. Lalu dengan tangan lainnya, dia menggenggam Keisha dan segera menariknya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Presley dan Lara duduk di kursi depan sambil terus mengobrol, membuat Keisha yang duduk sendirian di kursi belakang tampak seperti seorang asing di antara mereka.
Dari percakapan keduanya, Keisha baru tahu bahwa ternyata Lara sudah pergi ke luar negeri tidak lama setelah dia dan Presley mulai berpacaran dulu dan kini baru kembali. Bahkan pesta perayaan yang disebut-sebut Presley hari ini, rupanya dipilih di restoran favorit Lara, dengan menu yang semuanya adalah makanan kesukaannya.
Di ruang VIP dengan meja bundar, sekelompok sahabat Presley sudah duduk melingkar. Begitu melihat Lara datang, mereka langsung berkerumun menyambutnya masuk.
"Lara, beberapa tahun ini kamu ke luar negeri, kita cuma bisa jadi teman online saja. Sekarang lihat wajah kami, masih bisa ingat kami siapa nggak?"
"Eh, kenapa aku merasa Lara setelah keluar negeri malah makin cantik, ya?"
"Ya jelas makin cantik! Kalau nggak, mana mungkin bisa bikin Presley sampai mabuk kepayang begitu!"
Semua orang tertawa terbahak-bahak. Namun, setelah sadar apa yang baru saja mereka ucapkan, tawa itu pun langsung padam. Mereka buru-buru menoleh dengan hati-hati ke arah Keisha.
Lara tersenyum lalu berdeham pelan, kemudian berjalan ke sisi Keisha dan menariknya untuk duduk di sampingnya. "Maaf ya, Kak Keisha. Aku dan Presley memang dari kecil tumbuh bersama, jadi mereka sering bikin gosip tentang kami. Kamu jangan tersinggung."
Keisha hanya tersenyum lemah. "Mm, nggak masalah." Mana mungkin dia punya hak untuk peduli, kalau pada dasarnya dia hanyalah seorang pengganti?
"Baguslah kalau begitu ...." Seolah teringat sesuatu, Lara lalu menoleh ke Presley. "Aku dengar dari Kevin, katanya hubunganmu dengan Kak Keisha baik sekali. Katanya beberapa hari lalu waktu kamu sakit, dia bahkan pergi ke Gunung Forel, sampai berlutut melewati 999 anak tangga demi memohonkan jimat keselamatan untukmu. Benarkah itu?"
Demi menjaga perasaan Keisha, Presley mengangguk. "Benar. Aku pernah bilang kalau jimat dari Gunung Forel bisa mengusir segala malapetaka. Hari itu juga dia langsung pergi mencarikannya untukku."
Nada bicara Lara dibuat terkejut dengan berlebihan, "Bisa mengusir segala malapetaka? Wah, sehebat itu, ya? Kalau aku juga bisa punya satu, pasti bagus sekali."
Presley menatapnya dengan senyum penuh kasih sayang, "Kalau kamu mau, biar aku berikan punyaku padamu."
Sambil berkata demikian, Presley segera mengeluarkan ponselnya. Dia menelepon seseorang untuk pergi ke rumah mengambil jimat keselamatan dan mengantarkannya ke tempat itu. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Seseorang masuk dan menyerahkan jimat itu ke tangan Presley, lalu Presley langsung menyerahkannya kepada Lara.
Setelah itu, orang yang datang tadi menundukkan kepala dan membisikkan sesuatu di telinga Presley. Sambil mendengarkan, kening Presley perlahan berkerut dan pandangannya juga terarah pada Keisha.
Dia menundukkan mata dan termenung sejenak, lalu mengangguk. "Oke, aku tahu. Kamu boleh kembali dulu."
Begitu orang itu pergi, Presley segera menarik tangan Keisha dan berdiri. "Keisha, di sebelah ada beberapa klien juga sedang makan. Temani aku sebentar untuk menyapa mereka."