Bab 6

. Hampir Keluar

​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.

Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.

“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja.

Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini.

Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Matanya kemudian tertuju pada sebuah cangkir berisi cairan berwarna kecoklatan yang baunya sangat menyengat, meski aromanya berbeda dengan jamu yang ia minum tadi pagi.

“Ma, minuman apa itu?” tanya Bimo ragu.

​“Oh, ini teh ginseng. Mama membuatnya khusus untukmu, Nak. Minuman ini berfungsi meningkatkan kualitas sperma, mengatasi disfungsi ereksi, dan meningkatkan libido pria,” jelas Mayang sembari melepaskan celemeknya, memperlihatkan daster satin yang melekat pas di tubuhnya.

Mayang duduk di kursi yang ada di samping Bimo. “Selain ramuan pagi tadi, Mama akan memberikan teh ginseng ini setiap malam. Ayo diminum dulu selagi hangat.”

Bimo sebenarnya sangat enggan menyentuh minuman beraroma tajam itu. Namun, melihat sorot mata Mayang yang penuh harap dan mengingat betapa besarnya pengorbanan wanita itu untuk membantu rumah tangganya, Bimo tak sampai hati untuk menolak. Ia meraih cangkir itu, memejamkan mata, dan mulai meneguknya.

Rasa pahit segera menjajah lidahnya, namun tak segetir jamu sebelumnya. Ada sensasi hangat yang merambat perlahan dari tenggorokan menuju perutnya, meninggalkan rasa manis samar di pangkal lidah.

Anehnya, baru beberapa teguk saja, Bimo merasa otot-ototnya yang tegang akibat stres di kantor mulai rileks. Tanpa sadar, ia meminumnya hingga habis tak bersisa.

Mayang tersenyum. “Syukurlah, sepertinya kamu suka. Mama lihat kamu kurang cocok dengan jamu tradisional, jadi Mama berinisiatif menggantinya dengan ginseng. Dulu, mendiang Papanya Sella suka sekali meminum minuman ginseng ini. Nah, sekarang makanlah yang banyak. Selesai makan, kita akan memulai pijatan di kamar mama.”

Bimo tersentak. Ia lupa kalau setelah ini mereka akan kembali mengulangi pijatan. Ia akhirnya mengangguk sekilas dan segera mengambil sendok-garpunya.

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang makan itu. Bimo makan dalam diam, pikirannya berkecamuk. Apakah ini berarti pijatan yang sama seperti kemarin? Batinnya gelisah.

Selesai makan, Bimo masuk ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Sesuai instruksi Mayang, dia kembali melilitkan sarung di pinggangnya tanpa mengenakan atasan maupun pakaian dalam.

Saat berdiri di depan pintu kamar mertuanya, keraguan kembali menyerang. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengetuk.

​Tok... Tok... Tok...

“Silakan masuk, Nak Bimo! Buka saja pintunya!”Seru Mayang dari dalam.

Begitu pintu terbuka, Bimo seolah kehilangan kemampuan untuk bernafas. Mayang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan kain jarik yang melilit tubuhnya dengan ikatan seadanya di atas dada. Sebagian dari bukit ranumnya yang besar terlihat mencuat keluar.

​“Nak Bimo, ayo masuk. Kenapa kamu malah berdiri mematung di sana?” tegur Mayang, menyadarkan Bimo dari lamunannya.

​“I-iya, Ma,” jawab Bimo gugup. Ia melangkah masuk dan segera menutup pintu. Perasaan bersalah langsung menghujam dadanya saat ia menyadari miliknya di bawah sana mulai bereaksi. Ia segera menunduk, menggunakan tangannya untuk menutupi tonjolan di balik sarung agar tidak terlihat oleh Mayang.

​‘Bimo, ingat! Dia mertuamu. Jangan jadi bajingan!’ kutuknya dalam hati.

“Berbaringlah, Mama akan mulai memijatmu,”perintah Mayang memecah kecanggungan.

Bimo segera telungkup di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia merasakan sentuhan tangan lembut yang sudah dibalur minyak zaitun mulai menekan punggungnya. Pijatan Mayang benar-benar luar biasa—wanita itu tahu persis titik-titik saraf yang harus ditekan agar rasa lelah itu menguap. Saking nikmatnya, Bimo hampir saja terlelap dalam rasa rileks yang luar biasa.

Namun, ketenangan itu terusik saat Mayang menepuk pundaknya. “Nak Bimo, sekarang berbaliklah. Mama harus memijat sekitar kemaluanmu sebelum Sella sampai di rumah.”

Tubuh Bimo menegang seketika. Sekitar kemaluan? Bukankah itu berarti Mayang bisa melihat miliknya yang bereaksi sekarang?! Dengan nafas yang mulai memberat, ia terpaksa berbalik terlentang sesuai perintah.

“M-ma, tidak usah ma. Sebaiknya pijatan bagian itu ditiadakan saja, “ucap Bimo dengan wajah merah padam menahan rasa malunya.

​“Tidak bisa Bimo, pijatan ini sangat penting agar kamu lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Kamu tidak perlu merasa malu di depan mama. Mama akan menyelesaikan pijatan ini secepatnya, “kekeh Mayang.

Bimo mau tak mau berbalik badan. Mayang seketika menyeringai saat melihat, keperkasaan menantunya yang sudah mengeras sepenuhnya. “Wah, sepertinya ramuan Mama benar-benar bekerja dengan baik. Mama penasaran ingin melihat hasilnya nanti. Sekarang, diamlah, Mama akan memberi pijatan untukmu. ”

Wajah Bimo merah padam. Ia merasa sangat malu. Sebelum dia sempat memprotes, tangan Mayang sudah mulai bergerak di pangkal pahanya. Sentuhan itu membuat urat-urat di keperkasaannya semakin menonjol. Bimo mendesis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan erangan yang hampir lolos.

‘Sella, maafkan aku. Ini demi kita...’ batinnya terus mengucap kata maaf merasa bersalah pada istrinya, meski tubuhnya berkata lain.

Pijatan Mayang kini semakin mendekati miliknya, membuat Bimo semakin tegang. “Sttt... Ma, pelan-pelan,” rintih Bimo saat merasakan tekanan yang cukup kuat di bagian sensitifnya.

“Maaf, Nak Bimo. Apa terasa sakit? Bilang ya kalau tekanannya terlalu keras,” ujar Mayang lembut, namun matanya menatap lekat ke arah milik Bimo yang kini berdenyut tepat di depan wajahnya.

Mayang melepas pijatannya lalu berpindah memegang keperkasaan Bimo yang sudah tegang maksimal. Hal itu tentu saja membuat Bimo langsung tersentak kaget.

”Keras sekali, Nak. Mama dapat merasakan denyutannya. Itu tandanya keperkasaanmu ini normal, “ucap Mayang sambil mengurut keperkasaannya itu dengan gerakan naik turun.

“M-ma, a-aku rasa pijatan ini tidak usah dilakukan. Aku… “Belum selesai Bimo bicara, Mayang langsung menyelanya.

“Pijatan ini adalah pijatan paling penting Nak Bimo. Pijatan inilah yang akan membuatmu menjadi lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Jika rutin dilakukan selama 3 bulan ke depan, ukuran keperkasaanmu akan bertambah lebih panjang beberapa sentimeter loh.”

Mayang kembali menuangkan minyak zaitun dengan sebelah tangannya di atas keperkasaan Bimo sebelum melanjutkan pijatannya.

Bimo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia dapat merasakan tekanan jari-jari Mayang mulai memijat dari pangkal hingga sepanjang batangnya. Ada sensasi panas yang menjalar, seolah-olah setiap pembuluh darahnya yang selama ini mati suri kini dipaksa untuk bangun dan berdenyut kencang.

“Milikmu semakin terasa panas dan denyutannya cukup stabil ya. Urat-uratnya juga terlihat menonjol. Sella beruntung memiliki suami seperti kamu Bimo,”puji Mayang di tengah pijatannya.

Bimo tidak dapat merespon perkataan Mayang. Saat ini otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih.

Cukup lama Mayang memijatnya, Nafasnya sudah mulai tak beraturan. Ia berusaha mati-matian menahan siksaan gairah yang tak seharusnya ia rasakan. Tiba-tiba Bimo merasakan gejolak aneh merayap di sekujur tubuhnya, sebentar lagi dia akan meledak.” M-ma, A-aku.”

Mayang melepaskan pijatannya.“Sudah selesai. Sekarang pakailah sarungmu dan kembalilah ke kamarmu. “

Bimo menghembuskan nafas lega. Akhirnya pijatan ini berakhir juga. Namun, entah kenapa timbul kekecewaan di hatinya karena gagal keluar tadi. Dia segera menepis perasaan itu dan buru-buru memakai sarungnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Terima kasih untuk pijatannya malam ini, Ma. Bimo kembali ke kamar dulu. “

“Iya sama-sama, tidurlah lebih cepat dan jangan bergadang,”ucap Mayang mengingatkannya.

“Iya Ma,” Bimo bergegas keluar dari kamar Mayang, namun baru saja dia membuka pintu kamarnya, matanya terbelalak melihat Sella sudah berdiri di depannya.

Bab 7

Penghinaan

S-Sella?! Sejak kapan kamu berdiri disana?!”Tanya Bimo terkaget-kaget saat melihat istrinya itu sudah berdiri di hadapannya.

Sella menatapnya dengan wajah penuh selidik.”Seharusnya aku yang nanya begitu sama kamu, Mas! Ngapain kamu keluar dari kamar Mama hanya dengan mengenakan sarung saja?”

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis Bimo. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan istrinya itu.

“Kenapa cuma diem, Mas? Apa kamu gak punya mulut?”Tanya Sella masih menunggu jawabannya.

“I-itu a-anu, aku.. “Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara derit pintu yang terbuka di belakangnya.

Mayang berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di samping Bimo. ”Mama habis mijatin Bimo. Tadi Bimo ngeluh kurang enak badan pas balik ngantor. Mama kasihan melihatnya, makanya Mama bantu pijatin dia. Kamu kok ketus banget ngomong sama suami kamu, gak sopan.”

Sella memutar bola matanya malas.”Oh gitu, yaudah aku capek banget sekarang. Aku mau ke kamar dulu.”Sella melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ke kamarnya dengan wajah acuh tak acuh.

Bimo kembali menarik nafas lega. Kali ini dia selamat berkat bantuan Mayang.

Mayang menepuk pundaknya. Wajah wanita itu tampak prihatin menatap Bimo. “Bimo maafin Sella ya. Sella hanya kecapekan saja makanya jadi ketus begitu. Tolong jangan diambil hati. “

“Iya ma, tidak apa-apa. Bimo sudah biasa kok. Bimo masuk ke kamar dulu,”Bimo buru-buru pergi menyusul Sella di kamarnya untuk menghindari situasi canggung ini. Ia benar-benar malu berhadapan langsung dengan mama mertuanya setelah sesi pijatan itu selesai dilakukan.

Sesampainya di kamar, Bimo kembali dikagetkan saat melihat Sella mengeluarkan benda panjang berwarna hitam legam yang jauh lebih besar dan panjang dari benda sebelumnya. Ukurannya Bimo perkirakan mungkin sekitar 20 cm.

“S-Sella, kamu membeli barang ini lagi? “ Tanya Bimo dengan suara bergetar, hatinya benar-benar hancur karena Sella sekarang sudah mulai mengoleksi benda-benda mati itu.

Sella menatapnya remeh.”Kalau iya kenapa? Masih mending aku begini kan dibandingkan nyari cowok lain di luar sana. Benda kemarin masih kurang enak. Kayaknya ‘mainan’ baruku ini jauh lebih mantap. “

Sella melepaskan celana dalamnya lalu melemparnya tepat di wajah Bimo. Setelah itu Sella membuka laci yang ada di sampingnya dan mengambil sebuah pelumas. Pelumas itu Sella oleskan langsung ke mainan barunya.

“Lihat baik-baik Mas, bagaimana mainan baruku ini lebih memuaskan aku dibandingkan milikmu yang tidak berguna itu,”Sella menekan tombol dan seketika benda hitam panjang itu mulai bergetar. Sella memasukkan benda itu ke dalam lembah kenikmatannya seraya menggigit bibir bawahnya.

Suara erangan lolos dari bibir Sella diiringi suara berisik dari benda itu. Bimo hanya bisa tertegun menatapnya tanpa berkedip. Hatinya terasa sesak hingga membuatnya sukar untuk bernafas dalam beberapa detik.

“Aduh enak banget, Mas. Rasanya aku ingin pipis! “

Tak sampai dua menit, Sella kembali mengerang panjang sambil menatap remeh ke arah Bimo. Dada Sella terlihat naik turun dengan nafas terengah-engah, keringatnya bercucuran dan terlihat mengkilap di bawah remang lampu kamar mereka.

“Lihat Mas, hanya sebentar saja benda ini mampu membuatku klimaks dengan mudahnya. Benda ini bisa mencapai titik nikmat terdalamku dengan mudah dibandingkan milikmu yang mungil dan loyo itu! “Hina Sella membuat hati Bimo semakin hancur berkeping-keping.

Bimo tidak menjawab sepatah katapun hinaan istrinya itu, ia mengepalkan kedua tangannya erat menahan luapan amarahnya yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Sella beranjak dari ranjang dan secara sengaja menabrak bahu Bimo. Bimo hanya bisa diam dan menatap punggung istrinya itu menghilang dari balik kamar mandi. Giginya gemeretak, ia sudah tidak tahan terus direndahkan seperti ini. Namun, ia kembali teringat kata-kata Mayang sebelumnya.

“Tunggu selama 3 bulan, setelah itu aku akan membuatmu menangis oleh kenikmatan di bawah kungkunganku, Sella,”Batinnya.

***

Keesokan harinya, Bimo terbangun dan melihat Sella sudah tidak ada lagi di sampingnya. Sepertinya Sella sudah lebih dulu keluar dari kamar mereka.

Selama ini Bimo merasa hampa tanpa adanya kehangatan yang nyata seperti yang ia rasakan saat mereka berpacaran dulu. Sella semakin bersikap dingin dan seringkali acuh tak acuh terhadap dirinya. Tatapannya tak sengaja menangkap benda hitam itu masih tergeletak di atas nakas.

Nyes

Hatinya terasa pedih, segala usahanya tidak pernah dihargai. Bimo mencoba memalingkan pandangannya dari benda itu lalu bangkit dari tidurnya. Ia bergegas mandi lalu memakai setelan kantornya yang rapi.

Selama ini yang mencuci dan menyetrika bajunya adalah Mayang. Sella tidak pernah sekalipun memperhatikannya untuk hal-hal sekecil apapun. Dia sangat mengerti kalau Sella juga memiliki kesibukan sendiri, tapi apakah ia salah jika menuntut perhatian sedikit saja dari istrinya?

Bimo melangkah gontai menuju dapur, tidak seorangpun ada di meja makan. Bimo hanya melihat Mayang yang tengah sibuk di dapur menyiapkan bekal untuknya seperti biasa. Suara senandung mama mertuanya itu terdengar begitu merdu diiringi musik yang diputar oleh radio.

Pinggul Mayang yang lumayan besar bergoyang kesana kemari mengikuti irama alunan musik. Saat Mayang berbalik, barulah Bimo segera memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Bimo, kamu sudah sarapan?”Tanya Mayang menyapanya.

“B-belum, Ma. Apa Sella sudah berangkat duluan?”Tanya Bimo mengusir rasa gugupnya karena teringat pijatan semalam. Pagi ini benar-benar canggung karena hanya ada mereka berdua saja.

Mayang berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di hadapannya. Aroma parfum mawar yang menguar dari tubuh mama mertuanya itu tercium begitu jelas menusuk indranya.“Matamu terlihat sembab, apa kamu tidak cukup tidur semalam? Apa kamu kembali bertengkar dengan Sella?”

“T-tidak, Ma. Kami tidak bertengkar kok. Hubungan kami baik-baik saja,”Jawab Bimo berbohong. Ia tak bisa menceritakan perlakuan kasar yang selama ini Sella lakukan terhadap dirinya.

“Mama tau kamu berbohong, tapi Mama tidak akan memaksamu untuk bicara jika kamu tidak ingin menceritakannya. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa curhat sama Mama. Sekarang ayo sarapan dulu, kamu pasti lapar. Mama akan menemanimu,”Mayang menuntun Bimo untuk duduk di meja makan bersamanya.

Bimo duduk di sebelahnya dan memperhatikan bagaimana mama mertuanya itu dengan telaten melayaninya. Mulai dari membalik piring dan menuangkan nasi goreng kampung di atasnya.

“Ayo makanlah, nanti kamu telat masuk ke kantor Nak Bimo,”Suara Mayang membuat Bimo langsung tersadar dari lamunannya. Ia sedikit berdehem mengusir rasa gugupnya karena tak sengaja menatap Mayang.

Tangannya bergerak menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan. Sementara Mayang masih duduk di sampingnya dan memperhatikannya.

“Nak Bimo, kalau kamu mau Mama bersedia menggantikan tugas Sella,”ucap Mayang tiba-tiba hingga membuat Bimo tersedak dan terbatuk-batuk saat mendengarnya.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B46972" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B46972
Salin

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya