Bab 1

​"Mama akan membantumu agar istrimu puas di atas ranjang. "

​Bimo frustrasi karena terus dihina dan direndahkan istrinya setiap hari karena hanya mampu bertahan selama 3 menit dalam satu ronde permainan. Demi memuaskan hasrat sang istri, Bimo akhirnya menerima tawaran mama mertuanya agar dapat memuaskan hasrat istrinya di atas ranjang.

Awalnya hanya pijatan dan pemberian ramuan khusus, sampai akhirnya mama mertuanya ikut turun tangan mengajari Bimo secara langsung. Apa jadinya saat tak hanya mama mertuanya saja, tapi Bimo juga mendapatkan bantuan dari kakak ipar dan adik iparnya?

Hinaan Istriku

Aroma keringat bercampur dengan parfum mawar samar memenuhi udara kamar pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu, kulit Sella berkilap peluh, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan amarah tertahan.

“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya.

Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. ​Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia.

Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?”

“Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kesal setelah Bimo melepaskan penyatuan berdua. “Aku iri mendengar cerita temanku yang baru menikah dengan suami bulenya di Australia itu! Setiap hari temanku selalu mendapatkan kepuasan dari suaminya!”

“Maafkan aku, Sella. Aku sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku sudah minum obat kuat dan melakukan gym dua minggu sekali di tengah kesibukan pekerjaanku yang lumayan padat. Aku…” Belum selesai Bimo bicara, Sella sudah lebih dulu menyelanya.

“Aku capek, Mas! Milikmu selalu loyo dan lemas sebelum aku dapat meraih puncak! Masih mendingan aku main sama timun dan terong sekalian!“ hina Sella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu tidur dengan posisi berbalik memunggunginya.

​Bimo hanya bisa terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah dan malu setelah mendengar keluhan istrinya. Dengan langkah gontai, ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan cepat sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar.

Bimo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah berat. Ia memilih untuk menghidupkan laptopnya demi mengalihkan rasa malunya karena gagal memberikan kepuasan pada istrinya.

Sebenarnya, pikirannya benar-benar kacau dan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi mengingat pertengkarannya dengan Sella barusan. Namun, ia tidak bisa menunda pekerjaannya karena besok adalah deadline tugas kantornya.

Baru saja layar laptopnya menyala, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari arah dapur.

“Bimo, kamu belum tidur, Nak?” suara lembut itu memecah kesunyian. Mayang, mama mertuanya, muncul sambil membawa secangkir kopi hangat yang aromanya langsung tercium oleh Bimo.

Fokus Bimo seketika teralihkan pada kemolekan tubuh Mayang yang menggoda. Meskipun sudah berkepala empat, mertuanya itu terlihat seperti wanita umur 30-an. Darahnya berdesir ketika melihat dua tonjolan yang tercetak sempurna di balik daster mini yang dipakai wanita itu.

Bimo bisa menebak bahwa Mayang tidak memakai bra sama sekali. Saat sang mertua menunduk meletakkan kopi di atas meja, dia dapat melihat bukit kembarnya dari balik kerah daster yang terbuka. Bukit ranumnya terlihat sangat besar dan menantang, lebih besar dari milik istrinya—ukurannya diperkirakan 38 cup D.

Rasa bersalah langsung menyergapnya. Dia lekas memalingkan pandangannya ke arah lain, tidak seharusnya dia menatap mertuanya seperti tadi.

​“Te… terima kasih, Ma,” ucap Bimo dengan suara tergagap.

Mayang tersenyum lembut. “Iya, sama-sama, Nak. Apa kamu habis bertengkar lagi dengan Sella?”

Pertanyaan dari Mayang itu membuat Bimo ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Apakah Mayang mendengar pertengkaran mereka barusan? Harga dirinya benar-benar runtuh di hadapan mama mertuanya itu.

Mayang kemudian melangkah perlahan ke belakang Bimo dan mulai menyentuh pundaknya. “Kamu kelihatannya sangat capek dan tertekan, Bimo. Sini, biar Mama bantu pijat sedikit supaya pikiranmu bisa lebih rileks. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Sella, mungkin dia hanya sedang lelah.”

“Ti… tidak usah, Ma, aku tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah malam, Mama istirahat saja,” tolak Bimo dengan suara bergetar karena gugup. Dia merasa kurang pantas jika mama mertuanya itu memijatnya di tengah malam begini.

Namun, Mayang seolah tidak menerima penolakan tersebut dan tetap mulai memijat punggung Bimo dengan gerakan yang mantap namun lembut.

​Tangan Mayang terasa begitu halus, namun setiap sentuhannya membuat seluruh tubuh Bimo bergetar karena rasa tak nyaman.

​“Gimana, Nak Bimo? Pijatan Mama terasa enak, kan?” tanya Mayang dengan nada yang sangat pelan dan menenangkan di telinga Bimo saat pijatannya sudah merambat ke area punggungnya.

​“Iya, Ma… enak sekali,” jawab Bimo lirih, pijatannya memang nikmat hanya saja dia kurang menikmatinya lantaran yang memijatnya adalah mama mertuanya sendiri. Ia mencoba fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi.

“Mama punya cara supaya Sella berhenti marah,” bisik Mayang pelan di sela pijatannya.

“Kalau kamu mau… Mama bisa membantumu agar Sella puas di atas ranjang.”

Bab 2

Harga Diri Yang Hancur

Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.

”Mama mau membantuku agar Sella puas di atas ranjang? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya.

Suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.

Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan, lalu memutarnya kecil. Bimo reflek memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.

“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.

“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat keperkasaanku?”Pekik Bimo di dalam hatinya.

Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat mendengarnya. Tidak… ini tidak benar. Mayang adalah mertuanya. Mana mungkin dia membiarkan Mayang melakukan pijatan pada keperkasaannya. Jadi tidak mungkin dia menerima bantuan dari Mayang.

​“Eh, itu, aku—Maaf, Ma, sepertinya itu tidak perlu. Aku akan mencoba cara lain saja,” Jawab Bimo terbata.

“Tenang saja, Mama tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” kekeh Mayang pelan. Mayang melepaskan pijatannya lalu sedikit merunduk dan berbisik di telinga Bimo. “Pikirkan dulu saja secara matang.”

Seluruh tubuh Bimo seketika merinding merasakan helaan nafas Mayang menerpa telinganya. Ia hanya bisa menunduk, menatap layar laptopnya yang kini terasa buram. Ia merasa terlalu malu untuk melanjutkan percakapan yang begitu intim dengan mama mertuanya sendiri.

***

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa begitu berat bagi Bimo. Ia duduk bersama Sella, Mayang, dan Tiara—adik iparnya yang masih kuliah semester akhir.

Sudah setahun lebih Bimo tinggal bersama dengan mereka dalam satu rumah yang sama. Rumah ini adalah rumah pribadi keluarga Sella.

Sebenarnya Bimo memiliki tabungan yang cukup untuk membangun sebuah rumah type 48 satu lantai. Hanya saja Sella menginginkan rumah yang jauh lebih besar dan memiliki kolam renang. Makanya mereka memilih menunda untuk memiliki rumah impian sampai tabungan mereka berdua benar-benar cukup.

Sesekali Bimo melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh padanya dan tidak menegurnya sama sekali.

“Kak Sella, semalam aku gak sengaja dengar suara ribut-ribut di kamar kalian. Kenapa sih kalian sering bertengkar setiap malam?” tanya Tiara penasaran, memecah kesunyian di antara mereka.

​Jantung Bimo mencelos saat mendengar pertanyaan Tiara.

“Nggak tau, tanya aja sama Bimo!” jawab Sella dengan nada jutek sambil mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera.

​“Ah— itu bukan masalah serius kok. Kakakmu suka ngambek kalau kakak ngorok malem-malem,” jawab Bimo gugup seraya menggaruk kepalanya. Ia terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berkata jujur di depan adik iparnya kalau istrinya tidak puas dengan permainannya di atas ranjang.

Tiba-tiba Mayang berdehem, seolah mencoba mencairkan suasana. “Bimo, ayo minum dulu kopinya. Mumpung masih hangat.”

“I… Iya, Ma,” jawab Bimo gagap.

Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tawaran pijat dari Mayang semalam kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya hingga membuatnya tidak fokus. Baru satu sesapan, lidahnya terasa terbakar karena kopi yang masih panas. Tanpa sengaja, kopi itu tumpah dan membasahi celananya.

“Ahkk!! Panas!!” seru Bimo kaget.

​“Kamu ceroboh banget, sih!” hardik Sella ketus dengan menatap Bimo dingin.

“​Nak Bimo, hati-hati!” Mayang reflek mengambil serbet yang ada di dekatnya lalu menunduk untuk mengelap celana Bimo yang basah akibat ketumpahan kopi panas.

Bimo terbelalak ketika melihat posisi Mayang yang berjongkok di antara kedua pahanya yang terbuka, ditambah lagi tangan Mayang terus bergerak mengelap celananya dari bawah dan perlahan naik ke atas.

Jika Mayang terus bergerak ke atas, Mayang bisa saja menyentuh keperkasaannya. Dia langsung menangkap tangan Mayang sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

“Ma, tidak usah, Ma. Biar Bimo saja yang lap!” serunya panik, “Mama lanjutkan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu,”

Bimo buru-buru bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar untuk mengganti celananya yang kotor karena ketumpahan kopi. Saat membuka celananya, dia dapat melihat kulit pahanya memerah.

Dia tidak punya banyak waktu untuk membalurkan krim luka bakar karena sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor. Jalanan ibu kota sangat macet, jadi dia harus pergi lebih awal agar tidak datang terlambat. Telat 5 menit saja gajinya bisa dipotong oleh Bos.

​Begitu Bimo kembali keluar dari kamarnya, dia hanya melihat Mayang sedang membereskan dan merapikan meja makan. Sella dan Tiara sudah tidak terlihat lagi di sana. Sepertinya Sella sudah berangkat ke tokonya.

Selama ini, Sella memiliki toko kosmetik di daerah Mangga Dua. Usahanya terbilang cukup maju. Sella pernah memintanya untuk berhenti bekerja dan membantunya di toko, tapi dia menolak karena karirnya juga terbilang cukup bagus dan sebentar lagi ada promosi jabatan di perusahaannya.

“Eh, Bimo, baru saja tadi Sella dan Tiara berangkat. Gimana pahamu, Nak? Apa kamu sudah mengoleskan krim luka bakar? Mama takut nantinya berbekas dan infeksi,” tanya Mayang cemas.

​“Udah, ma, mama tidak perlu khawatir. Bimo berangkat dulu ya, ma,” jawab Bimo terpaksa berbohong seraya melirik arloji merk Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan oleh Sella, istrinya, beberapa bulan yang lalu.

Sebelum Bimo melangkah keluar rumah, Mayang kembali memanggilnya dan sedikit berlarian hingga membuat kedua bukit ranumnya berguncang ke atas dan ke bawah seperti bola basket.

“Nak Bimo, tunggu! Ini kotak bekalmu. Ambillah,” Mayang menyerahkan tas yang berisi kotak bekal dan botol tumbler di dalamnya.

Selama satu tahun ini, Mayang selalu membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuknya. Bukannya Sella tidak mau melakukannya, istrinya itu sangat sibuk di toko makanya kadang-kadang mereka lebih memilih order makanan di luar.

Tapi Mayang khawatir jika mereka terus order makan di luar malah tidak baik untuk kesehatan mereka. Maka dari itu, Bimo dan Sella sepakat memberikan uang bulanan untuk keperluan dapur dan rumah tangga kepada Mayang.

​Bimo menerima tas bekal itu.Tak sengaja, tangan mereka bersentuhan dan Bimo bisa merasakan tangan Mayang terasa sangat halus dan lembut.“Wah, hampir saja Bimo lupa. Makasih banyak ya, ma, udah ingetin Bimo.”

​Mayang tersenyum simpul—terlihat lesung pipit di kedua pipinya yang menambah kesan manis di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Hari ini Mama masak semur jengkol dan ayam goreng lengkuas kesukaan kamu. Habisin ya.”

​“Iya, Ma, kalau begitu Bimo berangkat dulu,” Bimo mencium tangan Mayang dengan perasaan grogi sebelum berangkat kerja ke kantor.

Setelah itu, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat Mayang tengah berdiri di halaman rumah.

​“Hati-hati di jalan ya, Bimo,” ucap Mayang sambil melambaikan tangannya.

​“Iya, Ma,” sahut Bimo sebelum melajukan mobilnya.

​Malam harinya, Bimo pulang dengan suasana hati yang sudah membaik. Namun, saat ia masuk ke kamar, matanya terbelalak melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.

Suara desahan lolos dari bibir istrinya itu dan tangannya terus bergerak memasukkan sebuah benda panjang yang dapat bergetar dan bergerak di dalam lembah kenikmatannya.

“Se… Sella?! A… apa yang kamu lakukan?! “ Kaki Bimo seolah kehilangan fungsinya, ia mematung melihat Sella tengah memainkan benda itu tanpa memperdulikan kehadirannya.

Sella tidak langsung menjawab dan menghiraukannya. Bimo melihat seluruh tubuh istrinya itu tiba-tiba bergetar hebat sebagai tanda pelepasannya sudah mulai datang. Sella menyeringai dengan tatapan mengejek ke arahnya.

​“Malam kemarin kamu cuma bertahan selama 3 menit, Mas! Kamu sangat payah dibanding suami teman-temanku! Makanya jangan salahkan jika aku membeli benda ini, karena aku nggak bisa mengandalkan kamu lagi untuk memberikan aku kepuasan!” seru Sella kembali menghinanya.

​“Sella, kamu lebih milih benda plastik itu daripada suamimu sendiri?” suara Bimo bergetar.

​“Habisnya mau gimana lagi? Kalau kamu nggak bisa memuaskan aku, lebih baik kita cerai saja!” ancam Sella.

Bimo meremas rambutnya dengan frustasi. Kata cerai itu menghantamnya telak. Ia benar-benar telah tergantikan oleh mesin. Ia keluar dari kamar dengan langkah limbung, mencari ketenangan di luar.

Di ruang tamu yang sunyi, ia kembali bertemu dengan Mayang. Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir kopi di tangannya seperti biasa.

Bimo menatap Mayang dengan tatapan yang sangat lelah. “Ma… apakah tawaran pijat semalam… masih berlaku?”

Bab 3

Meminta Bantuan Mama

Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah.

​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang membuat sekujur tubuh Bimo merinding saat merasakan helaan nafasnya.“Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”

​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma parfum mawar yang menguar dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin merendahkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah sembuh. Mengerti?”

​Bimo mengangguk pelan, pasrah dengan keadaan. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan rumah tangganya.

Bayangan Sella yang lebih memilih benda plastik daripada dirinya benar-benar menghancurkan harga dirinya.

“Sekarang, kembalilah ke kamar. Tanggalkan semua pakaianmu dan pakailah sarung saja tanpa celana dalam agar aliran darahmu tidak terhambat saat Mama pijat nanti. Pijatan tradisional ini butuh kontak langsung yang maksimal agar minyak yang Mama gunakan bisa meresap sempurna ke saraf vitalmu,” perintah Mayang.

Bimo melangkah masuk ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang.

Di dalam kegelapan kamar, ia bisa melihat gundukan tubuh Sella di balik selimut yang membelakanginya. Nafas istrinya terdengar teratur, pertanda wanita itu sudah terlelap setelah meluapkan amarahnya. Bimo berdiri mematung di sisi ranjang, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah.

”Maafkan aku, Sella. Aku melakukan ini agar aku bisa membahagiakanmu lagi,” batinnya pedih.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo mulai menanggalkan pakaian kerjanya satu per satu. Ia kemudian mengambil kain sarung kotak-kotak dari dalam lemari dan melilitkannya di pinggang.

Ia melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintunya dengan pelan agar tidak membangunkan Sella. Setiap langkahnya membuat keperkasaannya yang menegang bergesekan dengan kain sarung.

“Bisa-bisanya aku merasa tegang di situasi yang salah seperti ini!” batinnya merutuki diri sendiri.

​Begitu tiba di depan kamar Mayang yang tertutup rapat di ujung lorong, ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berdegup kencang. Dengan tangan berkeringat dingin, dia mengetuk pelan pintu kamarnya.

​Tok tok tok

Pintu itu terbuka seketika, seolah Mayang memang sudah berdiri tepat di baliknya menunggu kedatangannya.

“Nak Bimo, ayo silahkan masuk,” ucap Mayang dengan suara mendayu.

​“Baik, Ma,” sahut Bimo gugup.

Begitu ia melangkah masuk, tercium wangi minyak zaitun dan aromaterapi mawar memenuhi ruangan. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kekuningan yang memperlihatkan siluet mereka pada dinding kamar.

Bimo berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat canggung dengan hanya balutan sarung. Mayang menatapnya dari atas sampai bawah, sebuah tatapan yang sulit diartikan namun membuat darah Bimo berdesir.

​“Jangan takut, Nak Bimo. Mama tahu apa yang harus mama lakukan,” ucap Mayang seolah bisa membaca pikiran liar Bimo. “Dulu, Mama juga pernah melakukan pijatan pada ketiga mantan suami Mama agar keperkasaan mereka lebih panjang dan tahan lama. Pijatan ini akan Mama lakukan secara rutin agar hasilnya maksimal.”

Bimo menelan ludah kasar. Kalimat itu terdengar seperti godaan di telinganya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mayang adalah sosok yang baik,perhatian,dan keibuan. Jadi mana mungkin mama mertuanya itu berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya.

​“Ayo berbaringlah di ranjang, Bimo. Kita tidak punya banyak waktu sebelum pagi tiba,” suruh Mama Mayang lembut seraya berjalan mendekati Bimo.

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya