Bab 5

Ramuan Khusus

Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya.

Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.

“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.

“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.

“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.

Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengenakan sarung saja. Kalau dia kembali ke kamar dengan kondisi seperti ini, Sella pasti akan curiga dan bertanya-tanya di kamar nantinya.

“Bimo tenanglah, Mama akan keluar untuk mengambil pakaianmu yang ada di ruang laundry. Kebetulan Mama baru selesai menyetrikanya malam ini. Tunggu disini sebentar,” Mayang lekas berdiri lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil pakaian Bimo.

Sementara itu, Bimo hanya bisa duduk menunggu kedatangan Mayang dengan perasaan cemas—takut Sella akan kembali memarahinya karena sudah menghilang tiba-tiba malam ini. Bagaimana kalau Sella sampai tau kalau dia berada di kamar Mayang? Dia tidak dapat membayangkan betapa murkanya Sella jika mengetahuinya.

Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Mayang berjalan masuk menghampirinya sambil memegang baju dan celana boxer di tangannya. Mayang menyerahkan baju dan celana itu kepada Bimo.” Pakailah bajumu dan segera kembalilah ke kamar. Jangan buat Sella menunggu terlalu lama.”

“Ba.. baik ma, tapi… apa mama bisa berbalik dulu?” Bimo merasa malu kalau Mayang memperhatikannya berganti pakaian, maka dari itu ia meminta Mayang untuk berbalik agar bisa lebih leluasa berganti pakaian.

Mayang hanya tersenyum seolah mengerti.”Baik, mama akan berbalik sekarang.”

Mayang berbalik arah memunggunginya, Bimo langsung bergegas memakai pakaiannya.

Selesai memakai pakaiannya, Bimo mengucapkan terima kasih kepada Mayang. “Ma, aku kembali ke kamar dulu. Terima kasih untuk pijatannya malam ini.”

​Mayang berbalik dan mengingatkan, “Sesi kita belum selesai, Bimo. Mama belum memijat bagian vitalmu. Mulai besok, kita lakukan rutin selama tiga bulan supaya kamu benar-benar perkasa. Datang lagi ke kamar Mama besok malam pakai sarung saja, ya?”

“Berlangsung selama 3 bulan? Astaga apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku salah sudah meminta Mama untuk memijatku malam ini,” Batin Bimo menjerit.

Bagaimana ia bisa bertahan selama itu? Sehari saja sudah membuat jantungnya hampir copot apalagi harus melakukannya sampai 3 bulan!

***

​Pagi harinya, Bimo bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar dan bugar karena pijatan dari mama mertuanya semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sella masih tertidur lelap di sebelahnya, Bimo mencium pipi Sella sambil mengucapkan selamat pagi untuknya.

​“Good morning, Sayang, ayo bangunlah. Nanti kamu kesiangan ke toko.”

​“Eumm, bentar Mas, 5 menit lagi. Mas duluan aja,” Sella menutupi wajahnya dengan bantal guling—merasa terganggu karena kumis Bimo yang tajam menusuk kulit pipinya.

​“Oke, aku duluan ya,” Bimo beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Selesai mandi, dia mengenakan setelan pakaian kerjanya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Dari balik cermin, dia melihat istrinya sudah mulai bangun dan mengambil handuk untuk mandi.

​Bimo keluar lebih dulu dari kamarnya. Tiara sudah duduk lebih dulu di meja makan sambil menikmati sarapannya, sementara Mayang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Baunya sangat menyengat dan menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Mayang pagi ini?

​Bimo memilih duduk di hadapan Tiara. Pagi ini, adik iparnya itu terlihat cantik dengan menggunakan kaos berbelahan dada V berwarna merah maroon yang memperlihatkan sedikit gundukan bukit ranumnya.

Namun ada sesuatu yang mengganggunya, yaitu bekas kissmark yang ada di dadanya itu. Apa Tiara sudah punya pacar? Pantas saja pulangnya malam sekali.

​Tiara tiba-tiba saja menatapnya dengan kening berkerut. “Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu di wajahku?”

​Bimo mendadak gugup karena ketahuan menatap Tiara. “Ah, iya. Ada nasi di bibirmu.”

​Tiara meraba-raba bibirnya dan tidak menemukan apa pun. “Gak ada kok.”

​Bimo terpaksa berdiri dan sedikit membungkuk untuk membersihkan sebutir nasi yang kebetulan menempel di bibir bawah Tiara yang cukup tebal dan penuh. “Maaf, sini Kakak yang bersihkan.”

​Tak lama kemudian, Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir minuman hangat dan meletakkannya tepat di atas meja. Bimo dapat melihat gundukan besar kenyal bukit ranum milik Mayang mengintip dari balik celah atasan dasternya, membuatnya malu dan segera mengalihkan pandangan.

Seperti biasa, Mayang tidak pernah memakai bra jika berada di dalam rumah.

​“Bimo, minumlah ramuan jamu ini. Mama membuatnya khusus untukmu.”

​“Jamu?” Bimo melirik ke arah cangkir yang berisi jamu, baunya sangat menyengat dan asapnya juga mengepul ke udara. Bimo reflek menutup hidungnya sendiri.

​Dari kecil, Bimo sama sekali tidak menyukai jamu karena rasanya sangat pahit. “Maaf, ma. Tapi, aku nggak suka jamu.”

​“Loh, kok gak suka? Mama udah capek-capek buat jamu ini buat kamu loh. Jamu ini berfungsi untuk membuat keperkasaanmu tambah jreng dan tahan lama,”

Wajah Bimo memerah. Bisa-bisanya mama mertuanya berkata begitu padahal ada Tiara! Untungnya gadis itu tidak terlihat terganggu.

“Ayo dicicipi dulu, Nak. tubuhmu yang capek dan pegal-pegal juga akan hilang setelah meminumnya,” bujuk Mayang.

​Bimo masih ragu-ragu untuk meminum jamu itu. Namun, dia tidak ingin membuat Mayang bersedih karena menolak meminum jamu yang sudah dibuat dengan susah payah.

​“Baiklah, Ma, Bimo akan meminumnya.”

Bimo mengambil cangkir di meja dan menutup hidungnya saat akan meminum jamu itu. Dia meneguknya sekali dan merasakan pahit yang mendominasi di lidahnya.

Mayang menatapnya sangat antusias, membuat Bimo semakin tidak enak hati., Ia secara perlahan meneguk semua jamu itu sampai habis tak bersisa.

“Gimana? Enak, kan?” tanya Mayang.

“Enak, ma,” ringis Bimo berbohong.

​Bimo menaruh gelasnya kembali di atas meja dan mulai menyantap sarapan nasi goreng buatan Mayang. Di waktu yang bersamaan, Sella muncul dan duduk tepat di sebelah Bimo.

​“Mas, nanti aku barengan kamu ya perginya. Mobilku belum selesai di servis di bengkel. Pulang nanti aku bisa naik Gocar aja,” ucap Sella sambil mengambil nasi goreng dan menaruhnya di atas piringnya.

​“Oke,” sahut Bimo seraya mengunyah sarapannya.

​Selesai sarapan, Bimo mengantar Sella ke tokonya terlebih dahulu yang tak begitu jauh dari rumah mereka. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya sampai ke kantornya. Setibanya di kantor, Anto, teman satu divisinya menyapanya.

​“Bimo, cerah banget wajahmu hari ini. Apa obat kuat yang aku rekomendasikan waktu itu manjur?” tanya Anto yang berada di meja sebelahnya Bimo sambil menyesap kopi hitamnya di meja sebelah.

​Bimo duduk di kursinya sambil menaruh tas dan kotak bekal yang biasa disiapkan oleh Mayang untuknya di atas meja seraya berkata, “Sama sekali nggak manjur, To. Yang ada malah bikin aku pusing seharian.”

Anto tertawa pelan, tubuhnya bersandar di kursi kerja. “Hahaha! Mungkin obatnya gak cocok buat kamu, Bim. Mau aku rekomendasikan obat kuat lain? Aku kasihan lihat kamu galau terus begini. “

Bimo menghela nafas, jemarinya mulai mengetik di atas keyboard. “Sepertinya aku menyerah untuk meminum obat kuat, To. Takutnya malah overdosis kalau sembarang minum obat terus. Sejujurnya aku sangat malu menceritakan masalah ini denganmu.”

Anto menepuk bahu Bimo. “Tidak perlu malu Bim, kita ini kan sahabat. Jadi bagaimana rencana kamu ke depannya? Apa kamu akan menyerah begitu saja? “

“Aku sekarang sedang menjalani pengobatan alternatif lain. Semoga saja membuahkan hasil yang memuaskan, “ Jawab Bimo singkat, pandangan matanya tetap fokus ke layar komputer yang ada di depannya.

​Kening Anto berkerut heran. “Pengobatan alternatif? Maksudnya apa?”

Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara notifikasi di ponselnya. Bimo menghentikan aktivitas pekerjaannya dan melihat kontak Mayang tertera di layar ponselnya.

Dia membuka layarnya dan melihat isi pesannya. Jantungnya seketika berdegup saat membaca pesan Mayang:

“Semangat kerjanya. Jangan lupa nanti malam kita pijat lagi,”

Bab 6

. Hampir Keluar

​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.

Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.

“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja.

Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini.

Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Matanya kemudian tertuju pada sebuah cangkir berisi cairan berwarna kecoklatan yang baunya sangat menyengat, meski aromanya berbeda dengan jamu yang ia minum tadi pagi.

“Ma, minuman apa itu?” tanya Bimo ragu.

​“Oh, ini teh ginseng. Mama membuatnya khusus untukmu, Nak. Minuman ini berfungsi meningkatkan kualitas sperma, mengatasi disfungsi ereksi, dan meningkatkan libido pria,” jelas Mayang sembari melepaskan celemeknya, memperlihatkan daster satin yang melekat pas di tubuhnya.

Mayang duduk di kursi yang ada di samping Bimo. “Selain ramuan pagi tadi, Mama akan memberikan teh ginseng ini setiap malam. Ayo diminum dulu selagi hangat.”

Bimo sebenarnya sangat enggan menyentuh minuman beraroma tajam itu. Namun, melihat sorot mata Mayang yang penuh harap dan mengingat betapa besarnya pengorbanan wanita itu untuk membantu rumah tangganya, Bimo tak sampai hati untuk menolak. Ia meraih cangkir itu, memejamkan mata, dan mulai meneguknya.

Rasa pahit segera menjajah lidahnya, namun tak segetir jamu sebelumnya. Ada sensasi hangat yang merambat perlahan dari tenggorokan menuju perutnya, meninggalkan rasa manis samar di pangkal lidah.

Anehnya, baru beberapa teguk saja, Bimo merasa otot-ototnya yang tegang akibat stres di kantor mulai rileks. Tanpa sadar, ia meminumnya hingga habis tak bersisa.

Mayang tersenyum. “Syukurlah, sepertinya kamu suka. Mama lihat kamu kurang cocok dengan jamu tradisional, jadi Mama berinisiatif menggantinya dengan ginseng. Dulu, mendiang Papanya Sella suka sekali meminum minuman ginseng ini. Nah, sekarang makanlah yang banyak. Selesai makan, kita akan memulai pijatan di kamar mama.”

Bimo tersentak. Ia lupa kalau setelah ini mereka akan kembali mengulangi pijatan. Ia akhirnya mengangguk sekilas dan segera mengambil sendok-garpunya.

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang makan itu. Bimo makan dalam diam, pikirannya berkecamuk. Apakah ini berarti pijatan yang sama seperti kemarin? Batinnya gelisah.

Selesai makan, Bimo masuk ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Sesuai instruksi Mayang, dia kembali melilitkan sarung di pinggangnya tanpa mengenakan atasan maupun pakaian dalam.

Saat berdiri di depan pintu kamar mertuanya, keraguan kembali menyerang. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengetuk.

​Tok... Tok... Tok...

“Silakan masuk, Nak Bimo! Buka saja pintunya!”Seru Mayang dari dalam.

Begitu pintu terbuka, Bimo seolah kehilangan kemampuan untuk bernafas. Mayang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan kain jarik yang melilit tubuhnya dengan ikatan seadanya di atas dada. Sebagian dari bukit ranumnya yang besar terlihat mencuat keluar.

​“Nak Bimo, ayo masuk. Kenapa kamu malah berdiri mematung di sana?” tegur Mayang, menyadarkan Bimo dari lamunannya.

​“I-iya, Ma,” jawab Bimo gugup. Ia melangkah masuk dan segera menutup pintu. Perasaan bersalah langsung menghujam dadanya saat ia menyadari miliknya di bawah sana mulai bereaksi. Ia segera menunduk, menggunakan tangannya untuk menutupi tonjolan di balik sarung agar tidak terlihat oleh Mayang.

​‘Bimo, ingat! Dia mertuamu. Jangan jadi bajingan!’ kutuknya dalam hati.

“Berbaringlah, Mama akan mulai memijatmu,”perintah Mayang memecah kecanggungan.

Bimo segera telungkup di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia merasakan sentuhan tangan lembut yang sudah dibalur minyak zaitun mulai menekan punggungnya. Pijatan Mayang benar-benar luar biasa—wanita itu tahu persis titik-titik saraf yang harus ditekan agar rasa lelah itu menguap. Saking nikmatnya, Bimo hampir saja terlelap dalam rasa rileks yang luar biasa.

Namun, ketenangan itu terusik saat Mayang menepuk pundaknya. “Nak Bimo, sekarang berbaliklah. Mama harus memijat sekitar kemaluanmu sebelum Sella sampai di rumah.”

Tubuh Bimo menegang seketika. Sekitar kemaluan? Bukankah itu berarti Mayang bisa melihat miliknya yang bereaksi sekarang?! Dengan nafas yang mulai memberat, ia terpaksa berbalik terlentang sesuai perintah.

“M-ma, tidak usah ma. Sebaiknya pijatan bagian itu ditiadakan saja, “ucap Bimo dengan wajah merah padam menahan rasa malunya.

​“Tidak bisa Bimo, pijatan ini sangat penting agar kamu lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Kamu tidak perlu merasa malu di depan mama. Mama akan menyelesaikan pijatan ini secepatnya, “kekeh Mayang.

Bimo mau tak mau berbalik badan. Mayang seketika menyeringai saat melihat, keperkasaan menantunya yang sudah mengeras sepenuhnya. “Wah, sepertinya ramuan Mama benar-benar bekerja dengan baik. Mama penasaran ingin melihat hasilnya nanti. Sekarang, diamlah, Mama akan memberi pijatan untukmu. ”

Wajah Bimo merah padam. Ia merasa sangat malu. Sebelum dia sempat memprotes, tangan Mayang sudah mulai bergerak di pangkal pahanya. Sentuhan itu membuat urat-urat di keperkasaannya semakin menonjol. Bimo mendesis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan erangan yang hampir lolos.

‘Sella, maafkan aku. Ini demi kita...’ batinnya terus mengucap kata maaf merasa bersalah pada istrinya, meski tubuhnya berkata lain.

Pijatan Mayang kini semakin mendekati miliknya, membuat Bimo semakin tegang. “Sttt... Ma, pelan-pelan,” rintih Bimo saat merasakan tekanan yang cukup kuat di bagian sensitifnya.

“Maaf, Nak Bimo. Apa terasa sakit? Bilang ya kalau tekanannya terlalu keras,” ujar Mayang lembut, namun matanya menatap lekat ke arah milik Bimo yang kini berdenyut tepat di depan wajahnya.

Mayang melepas pijatannya lalu berpindah memegang keperkasaan Bimo yang sudah tegang maksimal. Hal itu tentu saja membuat Bimo langsung tersentak kaget.

”Keras sekali, Nak. Mama dapat merasakan denyutannya. Itu tandanya keperkasaanmu ini normal, “ucap Mayang sambil mengurut keperkasaannya itu dengan gerakan naik turun.

“M-ma, a-aku rasa pijatan ini tidak usah dilakukan. Aku… “Belum selesai Bimo bicara, Mayang langsung menyelanya.

“Pijatan ini adalah pijatan paling penting Nak Bimo. Pijatan inilah yang akan membuatmu menjadi lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Jika rutin dilakukan selama 3 bulan ke depan, ukuran keperkasaanmu akan bertambah lebih panjang beberapa sentimeter loh.”

Mayang kembali menuangkan minyak zaitun dengan sebelah tangannya di atas keperkasaan Bimo sebelum melanjutkan pijatannya.

Bimo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia dapat merasakan tekanan jari-jari Mayang mulai memijat dari pangkal hingga sepanjang batangnya. Ada sensasi panas yang menjalar, seolah-olah setiap pembuluh darahnya yang selama ini mati suri kini dipaksa untuk bangun dan berdenyut kencang.

“Milikmu semakin terasa panas dan denyutannya cukup stabil ya. Urat-uratnya juga terlihat menonjol. Sella beruntung memiliki suami seperti kamu Bimo,”puji Mayang di tengah pijatannya.

Bimo tidak dapat merespon perkataan Mayang. Saat ini otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih.

Cukup lama Mayang memijatnya, Nafasnya sudah mulai tak beraturan. Ia berusaha mati-matian menahan siksaan gairah yang tak seharusnya ia rasakan. Tiba-tiba Bimo merasakan gejolak aneh merayap di sekujur tubuhnya, sebentar lagi dia akan meledak.” M-ma, A-aku.”

Mayang melepaskan pijatannya.“Sudah selesai. Sekarang pakailah sarungmu dan kembalilah ke kamarmu. “

Bimo menghembuskan nafas lega. Akhirnya pijatan ini berakhir juga. Namun, entah kenapa timbul kekecewaan di hatinya karena gagal keluar tadi. Dia segera menepis perasaan itu dan buru-buru memakai sarungnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Terima kasih untuk pijatannya malam ini, Ma. Bimo kembali ke kamar dulu. “

“Iya sama-sama, tidurlah lebih cepat dan jangan bergadang,”ucap Mayang mengingatkannya.

“Iya Ma,” Bimo bergegas keluar dari kamar Mayang, namun baru saja dia membuka pintu kamarnya, matanya terbelalak melihat Sella sudah berdiri di depannya.

Bab 7

Penghinaan

S-Sella?! Sejak kapan kamu berdiri disana?!”Tanya Bimo terkaget-kaget saat melihat istrinya itu sudah berdiri di hadapannya.

Sella menatapnya dengan wajah penuh selidik.”Seharusnya aku yang nanya begitu sama kamu, Mas! Ngapain kamu keluar dari kamar Mama hanya dengan mengenakan sarung saja?”

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis Bimo. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan istrinya itu.

“Kenapa cuma diem, Mas? Apa kamu gak punya mulut?”Tanya Sella masih menunggu jawabannya.

“I-itu a-anu, aku.. “Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara derit pintu yang terbuka di belakangnya.

Mayang berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di samping Bimo. ”Mama habis mijatin Bimo. Tadi Bimo ngeluh kurang enak badan pas balik ngantor. Mama kasihan melihatnya, makanya Mama bantu pijatin dia. Kamu kok ketus banget ngomong sama suami kamu, gak sopan.”

Sella memutar bola matanya malas.”Oh gitu, yaudah aku capek banget sekarang. Aku mau ke kamar dulu.”Sella melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ke kamarnya dengan wajah acuh tak acuh.

Bimo kembali menarik nafas lega. Kali ini dia selamat berkat bantuan Mayang.

Mayang menepuk pundaknya. Wajah wanita itu tampak prihatin menatap Bimo. “Bimo maafin Sella ya. Sella hanya kecapekan saja makanya jadi ketus begitu. Tolong jangan diambil hati. “

“Iya ma, tidak apa-apa. Bimo sudah biasa kok. Bimo masuk ke kamar dulu,”Bimo buru-buru pergi menyusul Sella di kamarnya untuk menghindari situasi canggung ini. Ia benar-benar malu berhadapan langsung dengan mama mertuanya setelah sesi pijatan itu selesai dilakukan.

Sesampainya di kamar, Bimo kembali dikagetkan saat melihat Sella mengeluarkan benda panjang berwarna hitam legam yang jauh lebih besar dan panjang dari benda sebelumnya. Ukurannya Bimo perkirakan mungkin sekitar 20 cm.

“S-Sella, kamu membeli barang ini lagi? “ Tanya Bimo dengan suara bergetar, hatinya benar-benar hancur karena Sella sekarang sudah mulai mengoleksi benda-benda mati itu.

Sella menatapnya remeh.”Kalau iya kenapa? Masih mending aku begini kan dibandingkan nyari cowok lain di luar sana. Benda kemarin masih kurang enak. Kayaknya ‘mainan’ baruku ini jauh lebih mantap. “

Sella melepaskan celana dalamnya lalu melemparnya tepat di wajah Bimo. Setelah itu Sella membuka laci yang ada di sampingnya dan mengambil sebuah pelumas. Pelumas itu Sella oleskan langsung ke mainan barunya.

“Lihat baik-baik Mas, bagaimana mainan baruku ini lebih memuaskan aku dibandingkan milikmu yang tidak berguna itu,”Sella menekan tombol dan seketika benda hitam panjang itu mulai bergetar. Sella memasukkan benda itu ke dalam lembah kenikmatannya seraya menggigit bibir bawahnya.

Suara erangan lolos dari bibir Sella diiringi suara berisik dari benda itu. Bimo hanya bisa tertegun menatapnya tanpa berkedip. Hatinya terasa sesak hingga membuatnya sukar untuk bernafas dalam beberapa detik.

“Aduh enak banget, Mas. Rasanya aku ingin pipis! “

Tak sampai dua menit, Sella kembali mengerang panjang sambil menatap remeh ke arah Bimo. Dada Sella terlihat naik turun dengan nafas terengah-engah, keringatnya bercucuran dan terlihat mengkilap di bawah remang lampu kamar mereka.

“Lihat Mas, hanya sebentar saja benda ini mampu membuatku klimaks dengan mudahnya. Benda ini bisa mencapai titik nikmat terdalamku dengan mudah dibandingkan milikmu yang mungil dan loyo itu! “Hina Sella membuat hati Bimo semakin hancur berkeping-keping.

Bimo tidak menjawab sepatah katapun hinaan istrinya itu, ia mengepalkan kedua tangannya erat menahan luapan amarahnya yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Sella beranjak dari ranjang dan secara sengaja menabrak bahu Bimo. Bimo hanya bisa diam dan menatap punggung istrinya itu menghilang dari balik kamar mandi. Giginya gemeretak, ia sudah tidak tahan terus direndahkan seperti ini. Namun, ia kembali teringat kata-kata Mayang sebelumnya.

“Tunggu selama 3 bulan, setelah itu aku akan membuatmu menangis oleh kenikmatan di bawah kungkunganku, Sella,”Batinnya.

***

Keesokan harinya, Bimo terbangun dan melihat Sella sudah tidak ada lagi di sampingnya. Sepertinya Sella sudah lebih dulu keluar dari kamar mereka.

Selama ini Bimo merasa hampa tanpa adanya kehangatan yang nyata seperti yang ia rasakan saat mereka berpacaran dulu. Sella semakin bersikap dingin dan seringkali acuh tak acuh terhadap dirinya. Tatapannya tak sengaja menangkap benda hitam itu masih tergeletak di atas nakas.

Nyes

Hatinya terasa pedih, segala usahanya tidak pernah dihargai. Bimo mencoba memalingkan pandangannya dari benda itu lalu bangkit dari tidurnya. Ia bergegas mandi lalu memakai setelan kantornya yang rapi.

Selama ini yang mencuci dan menyetrika bajunya adalah Mayang. Sella tidak pernah sekalipun memperhatikannya untuk hal-hal sekecil apapun. Dia sangat mengerti kalau Sella juga memiliki kesibukan sendiri, tapi apakah ia salah jika menuntut perhatian sedikit saja dari istrinya?

Bimo melangkah gontai menuju dapur, tidak seorangpun ada di meja makan. Bimo hanya melihat Mayang yang tengah sibuk di dapur menyiapkan bekal untuknya seperti biasa. Suara senandung mama mertuanya itu terdengar begitu merdu diiringi musik yang diputar oleh radio.

Pinggul Mayang yang lumayan besar bergoyang kesana kemari mengikuti irama alunan musik. Saat Mayang berbalik, barulah Bimo segera memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Bimo, kamu sudah sarapan?”Tanya Mayang menyapanya.

“B-belum, Ma. Apa Sella sudah berangkat duluan?”Tanya Bimo mengusir rasa gugupnya karena teringat pijatan semalam. Pagi ini benar-benar canggung karena hanya ada mereka berdua saja.

Mayang berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di hadapannya. Aroma parfum mawar yang menguar dari tubuh mama mertuanya itu tercium begitu jelas menusuk indranya.“Matamu terlihat sembab, apa kamu tidak cukup tidur semalam? Apa kamu kembali bertengkar dengan Sella?”

“T-tidak, Ma. Kami tidak bertengkar kok. Hubungan kami baik-baik saja,”Jawab Bimo berbohong. Ia tak bisa menceritakan perlakuan kasar yang selama ini Sella lakukan terhadap dirinya.

“Mama tau kamu berbohong, tapi Mama tidak akan memaksamu untuk bicara jika kamu tidak ingin menceritakannya. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa curhat sama Mama. Sekarang ayo sarapan dulu, kamu pasti lapar. Mama akan menemanimu,”Mayang menuntun Bimo untuk duduk di meja makan bersamanya.

Bimo duduk di sebelahnya dan memperhatikan bagaimana mama mertuanya itu dengan telaten melayaninya. Mulai dari membalik piring dan menuangkan nasi goreng kampung di atasnya.

“Ayo makanlah, nanti kamu telat masuk ke kantor Nak Bimo,”Suara Mayang membuat Bimo langsung tersadar dari lamunannya. Ia sedikit berdehem mengusir rasa gugupnya karena tak sengaja menatap Mayang.

Tangannya bergerak menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan. Sementara Mayang masih duduk di sampingnya dan memperhatikannya.

“Nak Bimo, kalau kamu mau Mama bersedia menggantikan tugas Sella,”ucap Mayang tiba-tiba hingga membuat Bimo tersedak dan terbatuk-batuk saat mendengarnya.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B46972" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B46972
Salin

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya