Bab 2
Harga Diri Yang Hancur
Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.
”Mama mau membantuku agar Sella puas di atas ranjang? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya.
Suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.
Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan, lalu memutarnya kecil. Bimo reflek memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.
“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.
“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat keperkasaanku?”Pekik Bimo di dalam hatinya.
Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat mendengarnya. Tidak… ini tidak benar. Mayang adalah mertuanya. Mana mungkin dia membiarkan Mayang melakukan pijatan pada keperkasaannya. Jadi tidak mungkin dia menerima bantuan dari Mayang.
“Eh, itu, aku—Maaf, Ma, sepertinya itu tidak perlu. Aku akan mencoba cara lain saja,” Jawab Bimo terbata.
“Tenang saja, Mama tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” kekeh Mayang pelan. Mayang melepaskan pijatannya lalu sedikit merunduk dan berbisik di telinga Bimo. “Pikirkan dulu saja secara matang.”
Seluruh tubuh Bimo seketika merinding merasakan helaan nafas Mayang menerpa telinganya. Ia hanya bisa menunduk, menatap layar laptopnya yang kini terasa buram. Ia merasa terlalu malu untuk melanjutkan percakapan yang begitu intim dengan mama mertuanya sendiri.
***
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa begitu berat bagi Bimo. Ia duduk bersama Sella, Mayang, dan Tiara—adik iparnya yang masih kuliah semester akhir.
Sudah setahun lebih Bimo tinggal bersama dengan mereka dalam satu rumah yang sama. Rumah ini adalah rumah pribadi keluarga Sella.
Sebenarnya Bimo memiliki tabungan yang cukup untuk membangun sebuah rumah type 48 satu lantai. Hanya saja Sella menginginkan rumah yang jauh lebih besar dan memiliki kolam renang. Makanya mereka memilih menunda untuk memiliki rumah impian sampai tabungan mereka berdua benar-benar cukup.
Sesekali Bimo melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh padanya dan tidak menegurnya sama sekali.
“Kak Sella, semalam aku gak sengaja dengar suara ribut-ribut di kamar kalian. Kenapa sih kalian sering bertengkar setiap malam?” tanya Tiara penasaran, memecah kesunyian di antara mereka.
Jantung Bimo mencelos saat mendengar pertanyaan Tiara.
“Nggak tau, tanya aja sama Bimo!” jawab Sella dengan nada jutek sambil mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera.
“Ah— itu bukan masalah serius kok. Kakakmu suka ngambek kalau kakak ngorok malem-malem,” jawab Bimo gugup seraya menggaruk kepalanya. Ia terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berkata jujur di depan adik iparnya kalau istrinya tidak puas dengan permainannya di atas ranjang.
Tiba-tiba Mayang berdehem, seolah mencoba mencairkan suasana. “Bimo, ayo minum dulu kopinya. Mumpung masih hangat.”
“I… Iya, Ma,” jawab Bimo gagap.
Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tawaran pijat dari Mayang semalam kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya hingga membuatnya tidak fokus. Baru satu sesapan, lidahnya terasa terbakar karena kopi yang masih panas. Tanpa sengaja, kopi itu tumpah dan membasahi celananya.
“Ahkk!! Panas!!” seru Bimo kaget.
“Kamu ceroboh banget, sih!” hardik Sella ketus dengan menatap Bimo dingin.
“Nak Bimo, hati-hati!” Mayang reflek mengambil serbet yang ada di dekatnya lalu menunduk untuk mengelap celana Bimo yang basah akibat ketumpahan kopi panas.
Bimo terbelalak ketika melihat posisi Mayang yang berjongkok di antara kedua pahanya yang terbuka, ditambah lagi tangan Mayang terus bergerak mengelap celananya dari bawah dan perlahan naik ke atas.
Jika Mayang terus bergerak ke atas, Mayang bisa saja menyentuh keperkasaannya. Dia langsung menangkap tangan Mayang sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
“Ma, tidak usah, Ma. Biar Bimo saja yang lap!” serunya panik, “Mama lanjutkan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu,”
Bimo buru-buru bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar untuk mengganti celananya yang kotor karena ketumpahan kopi. Saat membuka celananya, dia dapat melihat kulit pahanya memerah.
Dia tidak punya banyak waktu untuk membalurkan krim luka bakar karena sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor. Jalanan ibu kota sangat macet, jadi dia harus pergi lebih awal agar tidak datang terlambat. Telat 5 menit saja gajinya bisa dipotong oleh Bos.
Begitu Bimo kembali keluar dari kamarnya, dia hanya melihat Mayang sedang membereskan dan merapikan meja makan. Sella dan Tiara sudah tidak terlihat lagi di sana. Sepertinya Sella sudah berangkat ke tokonya.
Selama ini, Sella memiliki toko kosmetik di daerah Mangga Dua. Usahanya terbilang cukup maju. Sella pernah memintanya untuk berhenti bekerja dan membantunya di toko, tapi dia menolak karena karirnya juga terbilang cukup bagus dan sebentar lagi ada promosi jabatan di perusahaannya.
“Eh, Bimo, baru saja tadi Sella dan Tiara berangkat. Gimana pahamu, Nak? Apa kamu sudah mengoleskan krim luka bakar? Mama takut nantinya berbekas dan infeksi,” tanya Mayang cemas.
“Udah, ma, mama tidak perlu khawatir. Bimo berangkat dulu ya, ma,” jawab Bimo terpaksa berbohong seraya melirik arloji merk Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan oleh Sella, istrinya, beberapa bulan yang lalu.
Sebelum Bimo melangkah keluar rumah, Mayang kembali memanggilnya dan sedikit berlarian hingga membuat kedua bukit ranumnya berguncang ke atas dan ke bawah seperti bola basket.
“Nak Bimo, tunggu! Ini kotak bekalmu. Ambillah,” Mayang menyerahkan tas yang berisi kotak bekal dan botol tumbler di dalamnya.
Selama satu tahun ini, Mayang selalu membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuknya. Bukannya Sella tidak mau melakukannya, istrinya itu sangat sibuk di toko makanya kadang-kadang mereka lebih memilih order makanan di luar.
Tapi Mayang khawatir jika mereka terus order makan di luar malah tidak baik untuk kesehatan mereka. Maka dari itu, Bimo dan Sella sepakat memberikan uang bulanan untuk keperluan dapur dan rumah tangga kepada Mayang.
Bimo menerima tas bekal itu.Tak sengaja, tangan mereka bersentuhan dan Bimo bisa merasakan tangan Mayang terasa sangat halus dan lembut.“Wah, hampir saja Bimo lupa. Makasih banyak ya, ma, udah ingetin Bimo.”
Mayang tersenyum simpul—terlihat lesung pipit di kedua pipinya yang menambah kesan manis di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Hari ini Mama masak semur jengkol dan ayam goreng lengkuas kesukaan kamu. Habisin ya.”
“Iya, Ma, kalau begitu Bimo berangkat dulu,” Bimo mencium tangan Mayang dengan perasaan grogi sebelum berangkat kerja ke kantor.
Setelah itu, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat Mayang tengah berdiri di halaman rumah.
“Hati-hati di jalan ya, Bimo,” ucap Mayang sambil melambaikan tangannya.
“Iya, Ma,” sahut Bimo sebelum melajukan mobilnya.
Malam harinya, Bimo pulang dengan suasana hati yang sudah membaik. Namun, saat ia masuk ke kamar, matanya terbelalak melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.
Suara desahan lolos dari bibir istrinya itu dan tangannya terus bergerak memasukkan sebuah benda panjang yang dapat bergetar dan bergerak di dalam lembah kenikmatannya.
“Se… Sella?! A… apa yang kamu lakukan?! “ Kaki Bimo seolah kehilangan fungsinya, ia mematung melihat Sella tengah memainkan benda itu tanpa memperdulikan kehadirannya.
Sella tidak langsung menjawab dan menghiraukannya. Bimo melihat seluruh tubuh istrinya itu tiba-tiba bergetar hebat sebagai tanda pelepasannya sudah mulai datang. Sella menyeringai dengan tatapan mengejek ke arahnya.
“Malam kemarin kamu cuma bertahan selama 3 menit, Mas! Kamu sangat payah dibanding suami teman-temanku! Makanya jangan salahkan jika aku membeli benda ini, karena aku nggak bisa mengandalkan kamu lagi untuk memberikan aku kepuasan!” seru Sella kembali menghinanya.
“Sella, kamu lebih milih benda plastik itu daripada suamimu sendiri?” suara Bimo bergetar.
“Habisnya mau gimana lagi? Kalau kamu nggak bisa memuaskan aku, lebih baik kita cerai saja!” ancam Sella.
Bimo meremas rambutnya dengan frustasi. Kata cerai itu menghantamnya telak. Ia benar-benar telah tergantikan oleh mesin. Ia keluar dari kamar dengan langkah limbung, mencari ketenangan di luar.
Di ruang tamu yang sunyi, ia kembali bertemu dengan Mayang. Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir kopi di tangannya seperti biasa.
Bimo menatap Mayang dengan tatapan yang sangat lelah. “Ma… apakah tawaran pijat semalam… masih berlaku?”
Bab 3
Meminta Bantuan Mama
Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah.
“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang membuat sekujur tubuh Bimo merinding saat merasakan helaan nafasnya.“Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”
Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma parfum mawar yang menguar dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin merendahkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah sembuh. Mengerti?”
Bimo mengangguk pelan, pasrah dengan keadaan. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan rumah tangganya.
Bayangan Sella yang lebih memilih benda plastik daripada dirinya benar-benar menghancurkan harga dirinya.
“Sekarang, kembalilah ke kamar. Tanggalkan semua pakaianmu dan pakailah sarung saja tanpa celana dalam agar aliran darahmu tidak terhambat saat Mama pijat nanti. Pijatan tradisional ini butuh kontak langsung yang maksimal agar minyak yang Mama gunakan bisa meresap sempurna ke saraf vitalmu,” perintah Mayang.
Bimo melangkah masuk ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang.
Di dalam kegelapan kamar, ia bisa melihat gundukan tubuh Sella di balik selimut yang membelakanginya. Nafas istrinya terdengar teratur, pertanda wanita itu sudah terlelap setelah meluapkan amarahnya. Bimo berdiri mematung di sisi ranjang, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah.
”Maafkan aku, Sella. Aku melakukan ini agar aku bisa membahagiakanmu lagi,” batinnya pedih.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo mulai menanggalkan pakaian kerjanya satu per satu. Ia kemudian mengambil kain sarung kotak-kotak dari dalam lemari dan melilitkannya di pinggang.
Ia melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintunya dengan pelan agar tidak membangunkan Sella. Setiap langkahnya membuat keperkasaannya yang menegang bergesekan dengan kain sarung.
“Bisa-bisanya aku merasa tegang di situasi yang salah seperti ini!” batinnya merutuki diri sendiri.
Begitu tiba di depan kamar Mayang yang tertutup rapat di ujung lorong, ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berdegup kencang. Dengan tangan berkeringat dingin, dia mengetuk pelan pintu kamarnya.
Tok tok tok
Pintu itu terbuka seketika, seolah Mayang memang sudah berdiri tepat di baliknya menunggu kedatangannya.
“Nak Bimo, ayo silahkan masuk,” ucap Mayang dengan suara mendayu.
“Baik, Ma,” sahut Bimo gugup.
Begitu ia melangkah masuk, tercium wangi minyak zaitun dan aromaterapi mawar memenuhi ruangan. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kekuningan yang memperlihatkan siluet mereka pada dinding kamar.
Bimo berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat canggung dengan hanya balutan sarung. Mayang menatapnya dari atas sampai bawah, sebuah tatapan yang sulit diartikan namun membuat darah Bimo berdesir.
“Jangan takut, Nak Bimo. Mama tahu apa yang harus mama lakukan,” ucap Mayang seolah bisa membaca pikiran liar Bimo. “Dulu, Mama juga pernah melakukan pijatan pada ketiga mantan suami Mama agar keperkasaan mereka lebih panjang dan tahan lama. Pijatan ini akan Mama lakukan secara rutin agar hasilnya maksimal.”
Bimo menelan ludah kasar. Kalimat itu terdengar seperti godaan di telinganya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mayang adalah sosok yang baik,perhatian,dan keibuan. Jadi mana mungkin mama mertuanya itu berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya.
“Ayo berbaringlah di ranjang, Bimo. Kita tidak punya banyak waktu sebelum pagi tiba,” suruh Mama Mayang lembut seraya berjalan mendekati Bimo.
Bab 4
Pijatan Keperkasaan
Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Di tengah keheningan, Bimo merasakan detak jantungnya berdebar keras.
Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan perasaan cemas. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor.
Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik sarung.
Bimo merutuki tubuhnya sendiri di dalam hati. “Mengapa tubuhku berkhianat seperti ini?”
Beberapa kali dia mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan untuk mengusir perasaan gugupnya. Ia mencoba membayangkan hal-hal lain agar tidak terlalu terbawa suasana, namun semakin ia berusaha untuk tetap tenang, tetap saja tubuhnya bereaksi di luar kemampuannya.
Keperkasaannya yang menegang dan mengeras kini terjepit oleh bobot tubuhnya sendiri yang menekan ranjang—menciptakan rasa nikmat yang menyiksa tepat di bawah perutnya.
“Sampai kapan aku harus bertahan dalam siksaan gairah ini?” batinnya menjerit.
Bimo tak memungkiri pijatan Mayang memang sangat nikmat sekali. Tekanan pekerjaan yang menumpuk membuat tubuhnya sering kali terasa pegal terutama di bagian bahu dan lengannya. Sentuhan Mayang seolah menemukan setiap titik lelah yang ia simpan selama ini.
Mayang kemudian beralih ke teknik petrissage, yakni gerakan meremas dan menekan otot di bagian bahu serta belikat Bimo. Tekanannya begitu pas, seolah jemari Mayang tahu persis di mana letak titik-titik kelelahan Bimo.
"Rilekskan tubuhmu, Bimo. Jangan dilawan, biarkan sarafmu terbuka," bisik Mayang lembut. Hembusan nafasnya yang hangat terasa begitu dekat di telinga Bimo, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
Di saat Bimo sedang terbuai oleh pijatannya, tiba-tiba Mayang mengubah posisi. Tanpa aba-aba, Mayang menduduki punggung bawahnya. Bimo agak tersentak kaget. Jantungnya serasa ingin melompat keluar saat ia merasakan kewanitaan dan bongkahan pantat Mayang bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya yang licin oleh minyak.
“Apakah Mama sama sekali tidak memakai celana dalam?!”batin Bimo dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Ketakutan dan gairah bercampur menjadi satu di kepalanya.
Tekanan hangat dan empuk itu terasa begitu nyata menempel di pinggulnya, membuat aliran darah berdesir ke seluruh tubuhnya.
“Bimo, Mama naik ke atas punggung kamu ya biar lebih leluasa. Mama akan gunakan teknik pijat tekan agar aliran oksigen di ototmu lancar,” bisik Mayang seraya membalurkan kembali minyak zaitun di atas punggungnya, lalu kembali memijatnya dari atas sampai ke bawah dengan bantuan berat badannya.
“I… iya, Ma,” sahut Bimo dengan suara bergetar. Kepalanya mendadak blank karena gesekan pantat Mayang terus menekan punggungnya setiap kali wanita itu melakukan gerakan memijat. Bimo meremas ujung bantal dengan kuat, berusaha mati-matian menahan gairah yang menyiksa batinnya ini agar tidak segera meledak.
Cukup lama Mayang memberikan pijatan di atas punggungnya, menggunakan teknik dorongan telapak tangan yang kuat hingga ke pangkal leher. Setelah itu, Mayang perlahan turun dan berdiri di sisi ranjang.
“Sekarang berbaliklah dengan posisi telentang, Nak Bimo. Mama akan memberikan pijatan untuk membuat keperkasaanmu menjadi semakin panjang, tebal, dan lebih tahan lama saat bertempur dengan istrimu nanti,” perintah Mayang.
“I… iya, Ma,” Bimo kembali menelan ludahnya kasar. Dengan perlahan, ia berbalik dengan posisi telentang seperti yang sudah diperintahkan. Kini ia menghadap langsung ke arah langit-langit kamar dengan perasaan gugup dan malu.
Mayang mulai melakukan pijatan di area perut. Pertama-tama, ia kembali membalurkan minyak zaitun di atas perut bawahnya Bimo yang berada dua jari di bawah pusar.
"Ini teknik penting untuk melancarkan sirkulasi di area vital," jelas Mayang lembut. "Pijatan ini berguna untuk membantu kontrol ejakulasi dan memperkuat kekuatan ereksi karena akan melancarkan darah tepat ke pusatnya."
Mayang menekan lembut area itu dengan gerakan melingkar searah jarum jam, lalu diikuti dengan teknik vibration menggunakan ujung jarinya.
Tekanan itu membuat Bimo mendadak ingin pipis karena pijatan itu secara tidak langsung menekan kantung kemihnya. Namun, rasa tidak nyaman itu segera tertutup oleh desakan gairah yang kian meledak.
Ditambah lagi, keperkasaannya terus memberontak di dalam sarungnya, membentuk gundukan besar yang sangat jelas terlihat di bawah lampu kamar yang redup. Bimo menutup matanya rapat-rapat, ia sangat malu dan takut Mayang akan menyadarinya.
Namun, tangan Mayang malah semakin aktif bergerak, seolah sengaja memancing reaksi tubuhnya lebih jauh.
Mayang kemudian melakukan teknik pijat di area pangkal paha bagian dalam. "Saraf-saraf di sini adalah kunci daya tahanmu, Bimo," ucap Mayang lagi sambil melakukan gerakan gesekan yang menciptakan rasa panas yang menjalar di antara kedua paha Bimo.
Bimo meremas sprei ranjang hingga kusut, nafasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokannya. Perasaannya berkecamuk antara ingin berhenti dan ingin merasakan lebih. Ia merasa sedang berada di ambang batas ketahanannya sebagai seorang pria.
Tiba-tiba, Bimo merasakan ritme tangan Mayang berubah drastis. Pijatan itu tidak lagi berhenti di pangkal paha. Jemari yang licin karena minyak itu terus bergerak turun ke bawah, merayap melewati batas pinggang dan mulai menyelinap masuk ke balik kain sarungnya yang longgar.
“T-tunggu, Ma! Itu—“