Bab 4
Bulan September baru saja lewat, tapi hawa panas akhir musim kemarau masih terasa di bumi.
Tapi aku malah duduk di ruang kerja, merasa kedinginan di sekujur tubuh, seakan-akan berada di ruang bawah tanah yang terbuat dari es.
Aku bergegas keluar dalam keadaan linglung.
Aku masih tidak percaya Hendra akan mengkhianatiku. Aku masih merasa semua yang ada di komputer itu palsu.
Pasti ada orang dengan rencana jahat yang mau memfitnah!
Aku meneleponnya, tapi tidak diangkat.
Dia bilang, ada acara makan bersama rekan, jadi aku pergi mencarinya di setiap restoran.
Aku bersikeras mau tanya pada Hendra saat itu juga.
Meminta kejelasan.
Kemudian aku temukan Hendra di sebuah restoran daging panggang. Di mejanya, sekumpulan orang tampak ngobrol dengan senang.
Sementara dia duduk di ujung meja dengan senyum tipis di bibirnya, tampak seperti pria sukses yang selalu lembut, anggun dan ramah.
Di sebelah kanannya duduk seorang wanita berambut panjang dan mengenakan gaun putih.
Matanya sebening air, tampak pemalu, lembut dan menawan.
Langkahku tiba-tiba terhenti, aku tidak berani melangkah maju.
Terdengar suara candaan dari seseorang, “Pak Hendra, kami semua kagum padamu dalam segala hal kecuali ketakutanmu pada istrimu. Kami jelas nggak mau dapat istri gitu!”
“Ya, Pak Hendra, kamu itu orang hebat, kenapa malah dengarkan perkataan istrimu yang amatir? Seakan kalau dia ketat padamu, kamu bisa jadi hebat.”
Setelah berpikir beberapa saat, aku baru mengerti kenapa mereka bilang gitu.
Hendra memang tidak handal jadi pemimpin.
Gaya manajemennya adalah melakukan apa pun yang dia bisa. Dia merasa ajarin orang itu terlalu habiskan waktu. Akhirnya, dia kelelahan. Kepala departemen malah jadi orang yang paling sibuk dan paling lelah, bahkan tidak ada waktu untuk putrinya.
Aku pernah beri saran agar dia berperan sebagai manajer. Kalau itu tugas bawahan, berikan pada bawahan, jadi dia hanya perlu periksa secara ketat. Kalau tidak kinerja departemennya akan selalu terpuruk.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan atau dikatakan Hendra setelahnya, tapi tampaknya kelompok anak muda ini malah salahkan aku atas hal ini.
Tapi saat ini, aku tak sempat pedulikan masalah ini, mataku hanya tertuju pada wanita berambut panjang itu.
Dia duduk di tengah kerumunan, selalu tersenyum tipis di bibirnya, tampak anggun dan santai. Di restoran daging panggang yang ramai dan berisik ini, dia memancarkan aura kecantikan yang khas.
Pada saat ini, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, “Sudah sudah, jangan buli Pak Hendra lagi. Ke depannya, kalau kalian terlalu sibuk, aku bantuin deh.”
Anak-anak muda itu pun tertawa.
“Andai istrimu seperti Kak Vianie, kerjaan kita pasti bisa makin ringan! Sayang sekali!”
Hatiku perlahan makin berat.
Ternyata benar, wanita berambut panjang itu adalah Vianie.
Sekelompok orang itu mengobrol dan tertawa sambil bersulang untuk Vianie. Wajahnya semerah bunga persik dan dia menolak dengan tangannya sambil tersenyum.
Lalu Hendra tiba-tiba berdiri, mengambil gelas anggur dari tangannya dan minum semuanya.
“Di departemen kita nggak ada paksaan cewek harus minum bir. Jangan buli dia. Aku saja yang minum!”
Vianie mengerutkan bibirnya dan tersenyum padanya.
Anak-anak muda bersorak dan mengisi gelas lagi.
Dengan bangga, dia pun minum habis lagi.
Aku memandangnya dari kejauhan, tubuhku bergetar hebat.
Lambung Hendra tidak begitu kuat, jadi maag-nya sering kambuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, selain rawat Melisa, aku juga harus cari cara jaga lambung Hendra.
Aku cari pengobatan tradisional ke mana-mana, merebus obat dan buat teh kesehatan, tapi dia tetap tidak tahan dengan apa pun yang dingin, panas atau pedas.
Meski aku suka makanan pedas, tapi aku tidak pernah taruh cabai dalam masakanku.
Semangka dingin dari kulkas juga aku keluarkan sebelum dia pulang kerja.
Bab 5
Aku bahkan tidak pernah biarkan dia minum setetes alkohol pun.
Dengan susah payah aku bantu dia jaga kesehatan pencernaannya.
Tapi saat ini, agar “Kesayangannya” tersenyum, dia minum bir tanpa ragu.
Tiba-tiba aku tidak tahan lagi.
Ternyata saat orang sangat marah, mereka tidak mampu tetap tenang, berpikir rasional atau pertimbangkan untung ruginya.
Dengan otakku yang bergemuruh, aku menyerbu maju.
Merebut gelas dari tangan Hendra dan membantingnya ke lantai.
“Bajingan!”
Aku berteriak.
Hendra menatapku dengan kaget.
“Ah…”
Vianie tampak ketakutan, dia mundur dua langkah dan terjatuh. Secara tak sengaja, panci berisi kuah mendidih di sebelahnya pun ikut jatuh, minyak panas memercik ke wajah dan dahinya.
Dia berteriak.
Hendra terkejut dan berteriak, “Vianie!”
Semua orang berkumpul di sekelilingnya.
Tiba-tiba bahuku terdorong dengan kekuatan yang dahsyat.
Aku kehilangan keseimbangan, tersandung dan jatuh, dahiku terbentur sudut meja.
Salah satu anak muda menatapku dengan tajam.
“Dari mana datangnya wanita gila ini! Jangan kira bisa kabur setelah lukai orang!”
Aku menyentuh kepalaku dan merasakan cairan hangat mengalir turun dari kepalaku, mengaburkan pandanganku.
Dalam bayangan darah, aku melihat Hendra berlari ke arahku dengan panik.
Aku tak peduli dan berteriak dengan marah, “Aku sudah lihat semua! Aku sudah lihat foldernya!”
“Kalian berdua bajingan! Kalian menjijikkan!”
Dalam tiga bulan terakhir, setiap kali aku teringat apa yang terjadi, rasanya seperti mimpi.
Mimpi buruk.
Mimpi yang menakutkan.
Akibat tekanan yang kuterima, ditambah benturan di kepala, setelah berteriak keras, aku pun pingsan karena marah.
Ketika aku terbangun di rumah sakit, aku lihat Hendra duduk di sebelahku, kepalanya tertunduk.
Aku berbicara dengan lemah, “Pergi!”
“Jangan muncul di hadapanku lagi, menjijikkan!”
Tubuh Hendra bergetar, dia menatapku dengan wajah berkumis tak terurus. Lalu dia bicara dengan suara serak, “Caroline, jangan marah. Hal ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku ulurkan tanganku, ambil termos di atas meja dan melemparkannya kepadanya.
Dia tidak menghindar, kepalanya terkena termos itu.
Termos itu pun jatuh ke lantai dengan suara “bruk”.
Dia menutup mata pasrah, membungkuk untuk ambil termos itu, lalu menghela napas dan berkata, “Terserah kamu mau pukul atau marahin aku. Karena masalah sudah jadi gini, aku nggak akan bela diri lagi. Aku cuma mau bilang, aku dan dia nggak pernah lewat batas!”
Aku menatapnya sambil menggertakkan gigiku, “Jadi? Aku harus puji kamu atas moralmu yang tinggi? Terima kasih karena nggak berhubungan seks?”
Hendra menatapku dengan ekspresi sedih.
“Apa kamu harus bicara sekasar itu?”
Aku menekan telapak tanganku erat di bawah selimut, berusaha menahan diriku agar tidak gemetar.
“Emangnya kata-kataku sekasar perbuatan kalian itu?”
“Aku mau muntah tiap kali kuingat apa yang kalian berdua tulis! Pura-pura polos lagi! Hubungan plato apanya! Kalian itu tetap pasangan bajingan!”
Dulu, ketika baca novel atau nonton sinetron, saat lihat tokoh-tokoh perempuan nangis histeris dan ribut-ribut karena diselingkuhi suaminya, aku selalu merasa mereka terlalu biarkan emosi mereka meluap. Mereka tidak cukup tidak tenang dan tak sopan.
Aku merasa, ‘itu cuma cowok, kalau sudah kotor, buang saja.’
Tapi sekarang, saat hal itu benaran terjadi padaku, aku malah tak bisa kendalikan diri.
Aku dipenuhi amarah dan rasa pengkhianatan. Dadaku serasa mau meledak. Aku ingin sekali ucapkan segala kata kasar pada mereka. Ingin sekali kuseret mereka dan hancur bersama!
Bab 6
Tiba-tiba aku berubah dari Caroline yang optimis, ceria, antusias dan ramah jadi orang gila yang sarkastis dan kasar.
Hendra saat ini menatapku seolah-olah dia sedang menatap orang gila.
Aku makin marah, mengambil bantal dan melemparkannya ke mukanya.
“Pergi!”
Hendra perlahan merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berdiri, suaranya sudah tenang.
“Sekarang kamu sedang emosi, nggak bisa berkomunikasi dengan tenang. Jadi mending aku pergi dulu.”
“Hardi Wijaya sudah minta maaf padaku karena sudah dorong kamu. Ini juga bukan salah dia. Dia nggak kenal kamu, lagian kamu tiba-tiba datang, buat Vianie terkejut hingga dia terluka. Dia cuma mau bela Vianie.”
“Dahi Vianie juga ada bekas luka bakar, tapi dia nggak berniat minta kamu tanggung jawab, jadi jangan khawatir.”
“Pokoknya, masalah ini nggak seburuk yang kamu kira. Kamu tenangkan diri dulu. Kalau kamu benaran nggak bisa lupakan ini, aku bisa terima apa pun hukumanmu.”
Dia membungkuk, memungut bantal dan meletakkannya di tempat tidur, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Aku terbaring di rumah sakit selama tiga hari. Pikiranku pun jadi linglung. Aku sering tertidur, tapi mendadak terbangun dengan terkejut. Setiap kali terbangun, aku harus berpikir beberapa detik sebelum bisa bedakan antara kenyataan dan mimpi.
Ibuku datang dan bilang Hendra telepon dia dan ceritakan apa yang terjadi secara rinci. Dia khawatir tidak akan ada yang rawat aku, jadi minta Ibuku datang ke rumah sakit untuk rawat aku.
Dia sentuh wajahku, menghela napas dan berkata, “Dia sudah dengan tulus akui kesalahannya dan bersumpah sama sekali nggak terjadi apa-apa antara dia dan wanita itu. Caroline, apa kamu masih ingat saat kamu jadi penggemar seorang artis? Kamu juga tulis surat cinta yang panjang, anggap saja dia lakukan hal yang sama.”
Aku gelengkan kepala, “Itu beda.”
“Tapi nggak ada gunanya hancurin kesehatanmu cuma karena masalah kecil seperti ini. Kalau kamu nggak peduli dengan dirimu sendiri, kamu juga harus pikirkan Melisa!”
Ibu mertua dan saudara iparku juga datang.
Mereka duduk di sisi kiri dan kanan tempat tidurku.
Ibu mertuaku tersenyum dan berkata, “Sebenarnya ini emang salah Hendra, tapi Hendra memang sangat populer di kalangan wanita sejak kecil. Apalagi sekarang dia sukses dalam kariernya, jadi dia tentu jadi incaran banyak wanita. Kejadian ini juga punya hikmah, lagian belum sampai pada titik yang tak dapat diperbaiki, anggap saja ini pelajaran untukmu."
Saudara iparku sambil minum americano dingin dan berkata, “Kak, bukannya aku mau bela kakakku. Kakakku emang orang yang sentimental, tapi kepribadiannya pasti nggak ada masalah. Aku bahkan menduga dia mungkin sudah dijebak. Sebenarnya, ini nggak bisa disebut selingkuh. Palingan cuma merayu! Ini bahkan nggak termasuk rayuan, dia nggak mungkin pakai kata-kata cabul gitu!”
Ketika ibu mertuaku akan pergi, dia menatapku dan berbicara dengan sungguh-sungguh.
“Hendra sudah akui hal ini pada keluarga, berarti dia emang tak bersalah. Tentu saja, aku ngerti kamu marah dan mau buat onar, tapi lebih baik cukup sampai di sini. Hendra bakal segera calonkan diri sebagai wakil ketua, kalau orang-orang tahu konflik kalian, dia pasti akan kena dampak.”
…
Sebenarnya aku tidak tahu harus berbuat apa.
‘Apa mau cerai?’
Hubungan selama 10 tahun, rumah yang kurawat dengan hati-hati, pertumbuhan Melisa, citra bahagia di mata orang luar...
Ibu, ibu mertua dan saudara iparku datang membujukku, tapi mereka hanya menasihatiku agar tidak merusak tubuhku, serta tidak menimbulkan keretakan keluarga, seolah-olah masalah ini tidak ada kaitannya dengan cerai.
Mereka semua sepakat masalah ini masih jauh dari perceraian.
Tapi aku merasa sangat kesal.
Hendra datang setiap hari dan bawa sup.