Bab 1
Setelah Hendra kembali, aku melihat kolom voting di internet: [Setelah seorang pria berselingkuh, biasanya lebih merasa bersalah pada istrinya atau kekasihnya?]
Yang memilih kekasih mencapai 99% suara.
Aku berbalik dan bertanya pada Hendra, "Apa kamu juga merasa gitu?"
Hendra meletakkan bukunya dan menatapku dengan ekspresi acuh tak acuh bercampur lelah.
"Caroline, aku sudah kembali."
"Kamu mau apa lagi?"
Hendra Prananta mengerutkan keningnya, berdiri dan pergi ke balkon untuk merokok.
Aku menatapnya.
Punggungnya yang disinari cahaya, sosoknya yang tinggi dan kurus menyatu dengan asap tipis, tampak kesepian.
Setengah jam kemudian, dia masuk dengan senyum paksa.
“Ayo ikut aku ke acara Hari Keluarga perusahaan kali ini. Kebetulan minggu ini aku nggak kerja, jadi bisa temani kamu beli beberapa baju.”
Perusahaan Hendra sering adakan acara Hari Keluarga. Dulu dia tidak pernah mengajakku pergi. Kadang-kadang, ketika aku bertanya padanya karena penasaran, dia akan mengerutkan kening dan tampak tak sabar.
“Itu kegiatan kesejahteraan yang diadakan untuk karyawan biasa, undangannya terbatas. Sebagai eksekutif senior, aku harus mengalah, nggak usah berebut sama mereka.”
Saat ini aku ingin sekali tanya padanya.
‘Jadi kali ini kita nggak perlu mengalah lagi?’
Tapi aku urungkan niatku.
Sejak Hendra pindah kembali, ada perasaan berat dan tidak nyaman yang sulit diungkapkan di antara kami.
Ya, perasaan tidak nyaman.
Rasanya seperti ada yang tersangkut di tenggorokan, tidak bisa naik atau turun, tapi terus mengingatkanmu akan keberadaannya.
“Oke,” kataku.
Dia tersenyum, seakan dia bahagia.
Tapi ketika dia berbalik, senyumnya memudar, dia menghela napas diam-diam.
Malam hari, aku matikan lampu dan bersiap tidur, tapi pintu tiba-tiba terbuka, Hendra masuk.
“Apa kamu sudah tidur?”
Sekarang kami tidur di kamar terpisah, dia tidur di ruang kerja.
Pada hari dia memilih untuk kembali, dia berdiri di samping pintu, membawa kopernya dan berkata kepadaku, “Caroline Harsono, kita berdua butuh waktu dan ruang untuk tenangkan diri. Jadi kita pisah kamar untuk sementara ya.”
Saat itu diriku langsung dipenuhi dengan berbagai macam emosi yang ekstrem.
Rasa sakit karena dikhianati orang terdekat, rasa tidak terima atas tindakannya yang terang-terangan jadi musuhku, rasa merendahkan yang dalam...
Semua perasaan ini menjadi terdistorsi dan membesar.
Aku angkat daguku dan mencibir, “Hendra, apa maksudmu itu? Kamu pikir aku minta kamu pulang hanya untuk lakukan hal itu? Kamu pikir pikiran orang lain sekotor pikiranmu?”
“Oke, kalau itu maumu.”
Dia tidak membantah, tapi berkata santai sambil bawa koper dan berjalan ke ruang kerja.
…
Pada saat ini, dia berdiri di samping tempat tidur, dan menatap dalam diam selama beberapa saat.
Kemudian dia berbaring dengan tenang, tangannya perlahan masuk ke dalam pakaianku dari pinggangku.
“Caroline, kita tetaplah suami istri.”
Suaranya agak rendah.
Anehnya, walau itu hanya kalimat sederhana, walau aku tak bisa melihat ekspresinya, tapi aku bisa merasakan perasaan terpaksa darinya.
Seolah-olah dia rela berhubungan seks denganku, karena terpaksa tunduk pada takdir.
Karena dia sadar akan hubungan suami istri yang memang ada.
Seakan ini adalah anugerah yang diberi padaku, istrinya selama 10 tahun ini.
Bulan terang di luar jendela seolah menatap bumi dengan lelah dan dingin.
Akhirnya aku tidak tahan, dan menyebut nama yang tak pernah kusebut selama tiga bulan terakhir ini.
“Gimana dengan Vianie Iwanto?”
“Bukannya dia satu-satunya istri di hatimu?”
Suasana tiba-tiba membeku.
Bab 2
Pria di belakangku berteriak dengan marah dalam kegelapan, suaranya melengking.
“Untuk apa ungkit dia? Untuk apa?”
“Aku sudah kembali! Aku dan dia telah terima hukuman yang pantas kami terima! Kamu sudah dapat apa yang kamu inginkan!”
“Caroline, kamu mau apa lagi?!”
Aku tidak ingin apa pun.
Aku cuma tidak tahan dan merasa sedih.
Aku cuma ingin merobek topeng palsu yang menutupi hidupku.
Aku dan Hendra adalah teman sekelas saat kuliah.
Kami bertemu dan jatuh cinta di sebuah acara sekolah, menikah setahun setelah wisuda dan melahirkan putri kami, Melisa Prananta di tahun berikutnya.
Semuanya berjalan lancar dan alami.
Aku ekstrovert, lincah, ceria dan suka berinteraksi dengan orang lain.
Dia introvert dan kemampuan risetnya berada pada level teratas dalam industri ini, tapi karena dia tidak pandai bersosialisasi, kariernya tidak mengalami kemajuan.
Aku merasa bakatnya sangat disia-siakan, jadi dengan keterampilanku, aku berhasil mengenal pimpinannya yang bernama Stev Lorenzo, tentu saja dengan bantuan pimpinanku.
Selama itu, aku bangun pagi tiap hari untuk buat kue kering dan melintasi setengah kota untuk antarkan kue itu pada ibu dari Ketua, Bu Nia Lorenzo yang sangat suka kue kering.
Tapi Hendra sangat memandang rendah kelakuanku ini.
“Semua orang bisa lihat kemampuanku. Ngapain kamu lakukan hal memalukan gini? Kalau nanti kamu gagal, aku hanya bakal malu!”
Aku dengan hati-hati melindungi harga dirinya sebagai peneliti, dengan tulus mengakui aku telah gegabah, lalu berkata sambil tersenyum, “Nggak apa-apa kalau gagal. Anggap saja aku hormat pada orang yang lebih tua. Lagian kenal pimpinan gitu juga berguna untuk karierku.”
Pak Stev mengagumi kegigihanku, apalagi kemampuan Hendra memang berbakat luar biasa, dia pun mendukungnya di kompetisi rekrutmen penting. Setelah lima tahun tersia-siakan di lembaga penelitian, Hendra akhirnya dapat promosi yang pantas.
Gaji dan bonusnya naik, tapi karena dia harus fokus pada penelitian dan manajemen sekaligus, dia jadi makin sibuk.
Tidak ada yang urus rumah, Melisa juga sedang dalam masa pertumbuhan yang penting.
Setelah diskusi, kami putuskan aku akan undurkan diri dari jabatan utamaku dan terima kerjaan yang lebih mudah, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk urus keluarga dan putri kami, sekaligus dukung perkembangan kariernya.
Aku selalu merasa diriku sangat beruntung.
Setiap aku pergi ke taman kanak-kanak untuk jemput Melisa, para ibu yang berkumpul untuk mengobrol selalu merasa bahwa keluargaku adalah model keluarga bahagia modern:
Cinta pertama yang berhasil, suami sukses dalam kariernya, punya pekerjaan yang santai dan putri yang periang dan imut.
Aku merasa bahagia dan puas.
Meski terkadang aku bisa sedih saat melihat rekan kerja yang dulu tidak sebaik aku, malah dapat promosi dan naik gaji, tapi aku selalu bilang pada diri sendiri bahwa keluarga adalah kesatuan ekonomi dan takdir. Meskipun aku telah korbankan beberapa hal, itu adalah solusi terbaik untuk keluargaku.
‘Begini sudah cukup.’
Pertama kali aku lihat nama Vianie itu pada laporan penelitian yang ada di meja kerja.
Ada dua nama yang tertulis: [Hendra dan Vianie].
Saat itu aku sedang bawakan teh kesehatan yang kuseduh pada Hendra sambil bercanda, “Nama kalian berdua terdengar cocok. Hanya dengan lihat nama kalian, aku bisa bayangkan cerita drama yang panjang antara cinta dan benci.”
Saat itu, aku begitu terhanyut dalam kebohongan kehidupan, hingga tak menyadari cahaya kelembutan di matanya saat ia menatap kata [Vianie].
“Dia masih lajang, jangan asal ngomong.”
Dia lalu menunduk, menyingkirkan laporan itu dan memperingatkanku dengan suara pelan.
Bab 3
Setengah tahun kemudian, aku baru melihat nama “Vianie” lagi.
Saat itu aku mau buat PPT pidato perwakilan untuk Melisa, tapi laptopku kehabisan baterai. Kebetulan Hendra belum pulang karena ada makan bersama rekan satu departemen, jadi aku nyalakan komputer di ruang kerjanya.
Ketika aku lagi cari materi, aku tidak sengaja mengklik folder bersama dan melihat folder bernama [Kesayangan].
Hendra adalah orang yang sangat rapi.
Di dalam folder tersebut, semua dokumen disusun berdasarkan tahun dan bulan, totalnya 27 dokumen.
Intuisiku mulai bergejolak.
Sebelum aku lihat folder ini, aku tidak pernah nyangka Hendra bakal diam-diam berselingkuh.
Sama sekali tidak pernah.
Tapi pada saat itu, saat aku menggerakkan mouse ke salah satu dokumen, bersiap untuk mengkliknya, tanganku bergemetar tanpa sadar.
Aku pun duduk diam sambil melihat selama dua jam.
Folder [Kesayangan] itu mencatat kisah cinta yang samar, tapi penuh gairah antara seorang pria dan seorang wanita selama dua tahun tiga bulan.
Mereka awalnya adalah rekan kerja dari departemen yang berbeda dan ditugaskan dalam tim yang sama dalam sebuah proyek penelitian. Karena itu, selama berhari-hari, mereka dengan gembira terlibat dalam diskusi yang mendalam.
Lambat laun, hati mereka mulai tergerak, mereka jatuh cinta.
Mereka tahu betul, hubungan ini terlarang.
Jadi sepakat untuk hanya memiliki cinta suci, pacaran tanpa hubungan fisik, tidak dikalahkan oleh hasrat manusiawi yang rendah.
Mungkin dengan adanya jubah munafik inilah, mereka baru bisa bebas utarakan isi hati dan cinta mereka.
Hendra menyebut Vianie sebagai “Istri satu-satunya dalam kehidupan ini”.
[Ketika kamu berjalan melewatiku hari ini, aku mencium aroma tubuhmu yang unik, hatiku pun tiba-tiba bergetar.]
[Banyak sekali wanita di dunia ini yang tercemar. Hanya kamulah jiwa yang murni dan polos di hatiku. Terima kasih telah memurnikan hidupku.]
[Aku lewati banyak malam memikirkan wajahmu, menyebut namamu berulang kali di dalam hatiku.]
[Dulu aku pernah meratapi dan menyesali 33 tahun yang telah kusia-siakan, tapi kamu muncul diam-diam seperti malaikat, membuat semua masa lalu menjadi berharga.]
Vianie memanggil Hendra dengan sebutan “Kakak”.
[Kakak! Cintaku! Suamiku!]
[Pagi ini, beberapa helai rambutku yang panjang rontok. Aku menaruhnya dengan hati-hati di mejamu. Begitu rambut kita bertemu, artinya kita sudah bersama secara tak langsung.]
[Dalam notulen rapat, nama kita kebetulan berseberangan, hatiku berdesir bahagia. Tulisan itu terlihat seakan terjalin satu sama lain.]
[Kak, semalam aku mimpi sesuatu yang tak dapat kuceritakan. Dalam mimpi itu, aku memanggilmu dengan panik. Ketika aku terbangun, hanya ada air mata yang membasahi bantalku.]
[Aku merindukanmu setiap saat. Performaku pun jadi buruk, tapi malah Nona Gevinda Arista yang dipecat. Kakak, ini pasti karena kamu diam-diam bantu aku, ‘kan? Aku merasa bersalah dan senang di saat bersamaan. Aku jadi nggak enak.]
Di bawah baris ini, ada jawaban mengharukan dari Hendra:
[Tidak ada salahnya mencintai istri, aku rela pilih kasih pada istriku. Aku nggak peduli pada ketenaran dan kekayaan. Hanya saat ini, aku merasa beruntung punya kekuasaan di tanganku!]
…
Ada 27 folder, tiap foldernya, ada 30 dokumen, jadi totalnya 810 dokumen.
Selama 810 hari ini, mereka saling berbagi dan mencurahkan perasaan terdalam mereka satu sama lain di folder berjudul [Kesayangan] ini.