Bab 2
Kalau masih ada sisa hidupku, aku pasti menukarkannya dengan obat tanpa ragu sedikit pun. Sayangnya, aku hanya bisa hidup empat hari lagi. Barang termurah di sistem sekalipun tidak sanggup kubeli lagi.
Tenaga Hans sangat besar. Aku merasa sesak napas. Pandanganku mulai menggelap. Ketika terbangun kembali, aku sudah berbaring di ranjang rumah sakit.
"Kamu cuma pura-pura, 'kan?" Hans yang menyebabkanku pingsan bertanya dengan tidak acuh. "Kamu baru 26 tahun, bukan nenek tua 86 tahun."
Aku malas berdebat dengannya. Kini, aku bahkan kesulitan untuk menggenggam pisau, apalagi menggores wajah Carol.
"Aku mau pergi lihat Jade." Aku berusaha untuk bangkit. Namun, sebelum aku berdiri dengan stabil, Hans sontak mendorongku.
"Dia sudah melewati masa kritisnya." Hans mengerlingkan matanya. "Sebelum kamu mendapat obat untuk Jade, aku nggak akan membiarkanmu menemuinya. Dia tidak butuh ibu yang tak bertanggung jawab sepertimu."
Menurut Hans, Jade tersiksa oleh penyakitnya karena kesalahanku, karena aku tidak bersedia mencari Shane untuk mendapat obat dengan menjual diri.
Ada pun obat yang Hans berikan kepada Carol, itu hanya untuk mewujudkan keinginannya. Jadi, aku dan putriku sudah sepantasnya mengalah. Kini, aku baru menyadari betapa egoisnya Hans. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.
"Obatnya cuma ada satu," jelasku sambil menahan rasa sakit di tubuh. Aku hanya bernapas, tetapi trakea dan paru-paruku seperti terbakar api. Aku tidak pernah menyangka bahwa akhir hidup sangat sesulit ini.
"Nggak mungkin." Hans menatapku dengan tatapan tajam. Dulu hanya dengan melihatku sekilas, Hans akan langsung tahu aku sakit. Kemudian, dia akan membelikanku obat dan merawatku. Namun, sekarang dia malah tidak bisa menilai bahwa aku akan segera mati.
"Shane cuma menidurimu sekali, lalu langsung mencampakkanmu? Wajar saja. Kamu sudah pernah melahirkan. Pasti vaginamu longgar. Makan saja obat supaya rapat kembali," ejek Hans.
Ternyata, di mata Hans, aku begitu tidak berharga.
Seseorang merekam pertengkaranku dengan Hans, membuat dunia maya gempar. Karena ada sangkut pautnya dengan Shane, para penggemar langsung mengamuk. Jika memungkinkan, mereka pasti sudah mengulitiku sejak awal.
Shane tampan dan kaya. Sementara itu, aku cuma wanita yang sudah menikah dan sudah melahirkan. Membayangkan bersama Shane saja adalah dosa besar bagiku.
Ketika melihat video itu, aku baru menyadari betapa cepatnya aku menua. Jelas-jelas baru tiga hari berlalu, tetapi kulitku sudah kendur seolah-olah aku berumur 50 tahun. Rambutku juga beruban.
Karena aku terlihat tua dan jelek, para netizen menyebutku pelakor. Mereka menyumpahiku mati, mengataiku tidak tahu malu.
Aku sungguh kebingungan. Sebenarnya kesakitan ini juga ingin membuatku mati supaya lebih cepat bebas dari penderitaan.
Sahabatku merasa kasihan kepadaku dan menawarkan bantuan. Dia punya koneksi. Asalkan ada uang, berita-berita negatif itu bisa dihapus.
Aku menggeleng dan menolak niat baiknya. Lagi pula, hidupku hanya tersisa tiga hari lagi. Makian seperti apa pun tidak akan berdampak padaku. Aku saja tidak takut mati, bagaimana mungkin takut pada kritikan netizen? Lebih baik uang itu kusimpan untuk pengobatan Jade.
Selama beberapa tahun ini, aku terus bekerja untuk membantu Hans. Uangku sudah terkumpul hingga 20 miliar. Kukira aku bisa hidup bahagia dan tenang. Namun, setelah Jade sakit, aku baru menyadari uang itu belum cukup. Uang adalah modal bagi Jade untuk bertahan hidup.
"Bu, kamu di dalam?" Ketika aku bersembunyi di kamar mandi dan muntah darah, suster tiba-tiba mencariku. "Jade bilang mau ketemu ayah dan ibunya. Ayo kita ke kamarnya."
Sebelum sempat berbahagia, aku memahami makna tersirat dari ucapan suster itu. Setibanya di bangsal, aku melihat putriku berbaring di ranjangnya. Hans yang seharusnya menemaninya malah tak terlihat. Dia melarangku menemui putriku, tetapi dia malah tidak menjaga putriku dengan baik!
Bab 3
"Ibu, ada yang menindasmu ya?" Jade mengejapkan matanya sambil menyentuh tanganku. Aku hampir tidak bisa merasakan berat tangannya.
"Kenapa bicara begitu? Jangan pikir sembarangan." Aku menahan kesedihanku sambil mengelus kepala Jade.
Rambut Jade yang dicukur habis hari itu, sudah mulai tumbuh. Saat dielus, rasanya seperti ada duri yang menusuk hatiku. Aku masih ingat waktu membujuknya mencukur rambut. Aku bilang setelah dicukur, rambutnya akan tumbuh hitam dan berkilau. Sayangnya, hari itu tidak akan datang.
"Tapi, suster bilang aku ...." Jade menunduk dan meneruskan, "Aku anak pelakor."
Jade masih kecil, jadi tidak memahami apa itu pelakor. Namun, dia bisa merasakan kebencian dari orang-orang di sekitar.
Suster yang dulunya memperlakukannya dengan lembut, tiba-tiba bersikap dingin. Jade tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya, tetapi dia bisa menebak ada yang menindasku.
"Nggak apa-apa. Kita tidur saja. Semua akan membaik setelah bangun," bujukku dengan lembut. Kemudian, aku menyanyikan lagu untuk Jade dengan suara serak.
Jade adalah anak yang patuh. Setiap kali aku menyuruhnya tidur, dia akan menyelimuti tubuh sendiri dan memejamkan mata. Namun, hari ini dia sangat tidak patuh.
Bukan hanya tidak memejamkan mata, tetapi Jade juga memuntahkan darah. Saat berikutnya, mesin di dalam bangsal sontak berbunyi.
Aku tercengang. Ketika dipersilakan keluar, tanganku bergetar. Kakiku melemas sampai tidak bisa berdiri lagi.
"Bu, kamu harus melakukan pembayaran lagi. Biaya untuk pertolongan darurat ditambah biaya ICU butuh 200 juta," ucap suster sambil menyerahkan tagihan kepadaku.
Aku menggesek kartu dengan tubuh gemetaran. Ketika melihat notifikasi saldoku tidak cukup, hatiku bak dihantam palu. Jelas-jelas ada uang 1 miliar di kartuku ini!
Ketika aku hendak memeriksa ke mana uangku pergi, muncul notifikasi di ponselku. Masuk sebuah foto yang menunjukkan keromantisan Hans dengan Carol. Keduanya tampak serasi. Para reporter menuliskan betapa tergila-gilanya Hans terhadap Carol.
Ternyata, perjalanan Carol menjadi artis tidak berjalan lancar. Tidak ada yang bersedia memberinya peran. Mereka mengatakan Carol hanya cocok menjadi figuran.
Demi membantu Carol menjadi terkenal, Hans menghabiskan 120 miliar untuk memproduksi film. Netizen merasa tersentuh melihat pengorbanan Hans. Mereka mendoakan masa depan Carol, juga merasa iri karena ada seseorang yang begitu mendukung impian Carol. Ini baru cinta sejati.
Putrinya jelas-jelas sakit parah, tetapi Hans masih punya waktu mencarikan sutradara dan kru untuk Carol. Parahnya, dia menggunakan dana perusahaan untuk berinvestasi. Padahal, uang itu bisa digunakan untuk mempertahankan nyawa putrinya.
Aku memaksakan diri untuk tenang dan menelepon Hans. Sejam kemudian, panggilan akhirnya tersambung. Di ujung telepon, terdengar tawa merdu Carol.
"Kamu ingin menghukumku dengan cara ini?" tanyaku.
Hans tentu memahami maksudku. Dia menimpali dengan tidak acuh, "Kamu nggak ngerti. Kemampuan akting Carol sangat bagus, apalagi aku yang menulis naskahnya. Dia pasti bakal terkenal. Uang 120 miliar itu bisa jadi triliunan. Kalau kamu cemburu, suruh Shane buatkan film saja. Nanti kita lihat film siapa yang bakal lebih terkenal."
Aku bisa merasakan kegembiraan dari nada bicara Hans. Dia terus menyombongkan betapa hebatnya naskah yang ditulisnya, betapa cantiknya Carol, dan betapa menakjubkannya kemampuan akting Carol.
"Cukup!" Aku sontak menyela, "Sekarang Jade butuh 200 juta untuk operasi! Kita nggak punya uang lagi! Dia bakal mati!"
Bab 4
Semua uang di tabunganku dihabiskan oleh Hans. Yang tersisa hanya 4 juta.
"Nggak punya uang? Cari saja Shane. Bukannya kondisi Jade bisa begini gara-gara kamu? Kalau kamu menjual diri dan memberinya obat itu, dia pasti sudah sembuh dan pulang sekarang, 'kan?" timpal Hans dengan tidak acuh.
"Irene, aku nggak ngerti apa hakmu menyalahkanku di sini. Aku cuma mengejar impian masa mudaku. Sementara itu, kamu cuma bisa mengancamku dengan nyawa putri kita."
Begitu ucapan ini dilontarkan, terdengar suara tepuk tangan yang antusias dari ujung telepon. Orang-orang memuji keberanian Hans. Hans berani melakukan gebrakan baru untuk mengejar impiannya. Orang-orang pun mengatakan Hans adalah pahlawan Carol.
Sungguh konyol! Bagaimana bisa seorang pria yang mengabaikan nyawa istri dan putrinya disebut sebagai pahlawan bagi wanita? Aku tidak ingin mendengar sorakan yang menusuk telinga itu. Aku langsung mengakhiri panggilan.
Orang-orang ini seperti segerombolan nyamuk, mengisap darahku dan darah putriku hingga kering. Setelah itu, mereka baru bersedia melepaskan kami.
Aku berusaha mencari pinjaman sepanjang malam. Setelah meminjam dari kerabat dan teman, aku akhirnya mengumpulkan 200 juta. Ketika aku hendak membayar, resepsionis malah mengatakan tidak perlu lagi.
Kemudian, dokter menunjuk ruang operasi di belakangku. Lampu di atas pintu ruang operasi telah padam. Pintu dibuka, Jade didorong keluar. Hanya saja, kali ini berbeda. Wajah Jade telah ditutupi dengan kain putih.
"Bu, kami dan Jade sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter dengan ekspresi sedih.
"Kanker pankreas sangat berbahaya. Sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Semalam dia mengalami pendarahan internal yang parah. Aku sendiri nggak tahu gimana dia bisa bertahan sampai sekarang. Dia sangat kuat."
Dokter menepuk bahuku untuk menghibur, "Sebelum dibius, Jade bilang dia nggak sakit. Dia menyuruhku menyampaikan, jangan mencemaskannya."
Aku menjulurkan tanganku untuk menggenggam tangan mungil yang terkulai lemas di pinggir ranjang. Ekspresiku terlihat bengong. Jade tidak menggenggam tanganku. Dia benar-benar sudah pergi.
Aku masih ingat bagaimana penampilan Jade waktu baru lahir. Dia terlihat mungil dan menggemaskan. Saat itu, aku sedang berbaring di ranjang dengan kelelahan dan pusing. Sementara itu, Jade menarik napas dalam-dalam dan menangis sekuat tenaga. Setelah diam, Jade meraih jari kelingkingku dengan penasaran.
Putriku masih begitu kecil. Dia pasti ketakutan menempuh jalannya sendirian. Meskipun begitu, dia masih menghiburku agar tidak cemas.
"Ibu tahu kamu anak paling kuat," gumamku sambil menggenggam tangannya dengan wajah berderai air mata. 'Jangan takut. Dua hari lagi, ibu akan menemanimu.'
"Aku turut berduka." Dokter sudah terbiasa melihat kematian. "Di dunia ini, nggak ada obat untuk membangkitkan orang yang sudah meninggal. Sesedih apa pun kamu, Jade nggak akan bisa kembali lagi."
Bagaimana mungkin tidak ada. Dokter hanya tidak tahu bahwa obat itu diberikan ayah Jade kepada orang lain.
Ketika teringat aku dan Jade akan berkumpul dua hari lagi, aku merasa sangat lega. Putriku tidak mungkin berjalan terlalu cepat. Asalkan aku mengejarnya, aku pasti bisa menyusulnya. Ketika menunggu di rumah duka untuk mengambil abu Jade, aku menelepon Hans lagi. Karena dia mabuk semalam, dia seharusnya belum bangun sekarang.
"Irene, kamu ini nggak ada habis-habisnya ya." Ternyata Hans sudah bangun. " Aku sedang mengadakan acara pembukaan untuk filmku. Kamu bisa berhenti menggangguku nggak?"
Hans membentakku, tetapi berbicara dengan lembut kepada orang lain di sana.
"Aku langsung berbicara ke intinya, Jade sudah pergi."
"Nggak mungkin." Hans menyahut dengan lugas, "Kalau Jade sudah pergi, mana mungkin kamu meneleponku dengan setenang ini. Jade bukan alat bagimu untuk mendapat simpati. Kalau kamu berani mengutuknya lagi, aku akan langsung menceraikanmu!"