Bab 1

Demi mengobati kanker pankreas putriku, aku menukar sisa hidupku dengan sistem supaya mendapat obat mujarab.

Suamiku malah mengataiku gila dan memberikan obat itu kepada cinta pertamanya, hanya demi mengobati bekas luka di wajahnya.

Demi menyembuhkan kanker prankeas putriku, aku menyerahkan masa hidupku yang tersisa pada sistem demi mendapat obat untuk putriku.

Suamiku memakiku gila, tetapi diam-diam menyerahkan obat itu kepada cinta pertamanya untuk menyembuhkan bekas luka di wajahnya.

Ketika aku berada di ambang kehancuran, suamiku malah berkata tanpa rasa malu, "Carol punya impian menjadi artis. Dia sudah 24 tahun. Usianya nggak bisa menunggu lagi."

"Selain itu, bukannya kamu dapat obat ini dengan tidur bersama pria lain? Kamu cuma ibu rumah tangga, mana mungkin dapat obat sehebat ini. Kalau mau menolong putrimu, jual diri lagi saja!"

Masalahnya adalah aku tidak punya masa hidup yang bisa ditukarkan lagi.

....

Setelah mencapai kesepakatan, sistem hanya memberiku tujuh hari untuk mengurus pemakamanku.

Hari pertama, aku bertengkar dengan Hans, memaksanya untuk mengembalikan obat itu. Hari kedua, aku hanya bisa menangis sampai pingsan di bangsal putriku. Aku membenci diriku yang terlalu percaya pada Hans dan menghancurkan satu-satunya kesempatan yang bisa membuat putriku bertahan hidup.

Hari ini adalah hari ketiga. Aku bisa merasakan hidupku tidak lama lagi, jadi menenangkan diri dan mulai mengurus pemakamanku.

Ketika Hans mencariku dengan membawa cinta pertamanya, aku sedang menahan kesakitan sambil mengetik surat wasiat. Sistem tidak memperingatkanku bahwa organ tubuhku akan menua seiring berkurangnya masa hidupku. Aku cuma mengetik, tetapi ujung jariku seperti ditusuk jarum. Sialan!

"Kamu datang tepat waktu." Aku mengabaikan kedua tangan yang bergandengan erat itu, lalu menyerahkan laptopku dan bertanya, "Aku sudah bicara dengan pengacara. Coba lihat, apa ada yang perlu ditambahkan lagi? Mumpung aku masih hidup sekarang. Jangan ditunda lagi."

"Irene, kamu mau merajuk sampai kapan?" Ketika melihat kata surat wasiat, Hans mengernyit dan bertanya, "Cuma satu obat yang kuambil. Apa perlu mengancamku seperti ini?"

Tiga hari sudah berlalu, tetapi Hans masih mengira aku menipunya. Dia tidak percaya aku membuat kesepakatan dengan sistem dan menuduhku tidur dengan cinta pertamaku, Shane.

Menurut Hans, obat yang begitu mujarab itu hanya bisa dimiliki oleh orang berkuasa. Sementara itu, orang paling berkuasa yang kukenal hanya Shane. Aku yang bersalah padanya duluan. Jadi, memberi obat itu kepada Carol adalah hukuman untukku.

Jika aku menolak mengakui kesalahanku, Hans akan terus mempermalukanku dan menyakitiku. Itu sebabnya, Hans sengaja membawa Carol kemari.

Carol awalnya punya bekas luka merah yang menjalar di sisi wajahnya, tetapi sekarang sudah pulih. Kulitnya menjadi putih halus, bahkan lekukan di tubuhnya makin seksi.

Sementara itu, putriku, Jade, kulitnya menjadi kuning karena menjalani kemoterapi jangka panjang. Tubuhnya kurus kering. Dia terlihat sangat lemah.

Mungkin karena merasakan kebencian pada tatapanku, Hans berdiri di hadapan Carol dan berucap, "Aku sudah jelasin berulang kali. Carol sudah 24 tahun. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk jadi terkenal. Kamu nggak bisa lebih murah hati? Doakan saja kesuksesannya!"

Kebencian terlihat dengan jelas di wajah Hans. "Kalau kamu tulus menyayangi Jade, cari Shane saja. Bukan marah pada Carol. Dia nggak berutang padamu!"

Hans yang seperti ini membuatku merasa asing. Dia jauh berbeda dari Hans yang mengejarku lima tahun lalu. Dulu, Hans selalu mendukungku saat difitnah orang. Bahkan, dia bekerja lembur untuk membantuku mengumpulkan uang supaya aku bisa ikut kompetisi di luar negeri.

Aku tidak pernah menyangka Hans tidak pernah mencintaiku, hingga akhirnya Carol muncul. Dengan bekas luka di wajahnya, dia melamar sebagai petugas kebersihan di perusahaan. Ketika melihatnya menangis, Hans bertekad untuk melindunginya.

Saat itu, aku baru tahu Carol adalah cinta pertama Hans. Impian terbesar Hans tidak lain adalah membantu Carol menjadi artis besar. Luka di wajah Carol bak pisau yang menyayat hatinya.

Demi membantu Carol mewujudkan impiannya, Hans mengorbankan nyawa putrinya. Bagaimana mungkin aku mendoakan kesuksesannya?

Aku menjulurkan tanganku ke dalam saku, menyentuh pisau lipat yang sudah kusiapkan sejak awal. Sebelum sempat mengambil tindakan lebih lanjut, dokter tiba-tiba datang dan menyerahkan surat pemberitahuan kritis. Jade harus segera melakukan operasi.

"Kenapa bengong saja?" Hans meraih kerah bajuku dan berteriak, "Cepat cari Shane dan minta obat darinya! Kamu mau lihat Jade mati?"

Bab 2

Kalau masih ada sisa hidupku, aku pasti menukarkannya dengan obat tanpa ragu sedikit pun. Sayangnya, aku hanya bisa hidup empat hari lagi. Barang termurah di sistem sekalipun tidak sanggup kubeli lagi.

Tenaga Hans sangat besar. Aku merasa sesak napas. Pandanganku mulai menggelap. Ketika terbangun kembali, aku sudah berbaring di ranjang rumah sakit.

"Kamu cuma pura-pura, 'kan?" Hans yang menyebabkanku pingsan bertanya dengan tidak acuh. "Kamu baru 26 tahun, bukan nenek tua 86 tahun."

Aku malas berdebat dengannya. Kini, aku bahkan kesulitan untuk menggenggam pisau, apalagi menggores wajah Carol.

"Aku mau pergi lihat Jade." Aku berusaha untuk bangkit. Namun, sebelum aku berdiri dengan stabil, Hans sontak mendorongku.

"Dia sudah melewati masa kritisnya." Hans mengerlingkan matanya. "Sebelum kamu mendapat obat untuk Jade, aku nggak akan membiarkanmu menemuinya. Dia tidak butuh ibu yang tak bertanggung jawab sepertimu."

Menurut Hans, Jade tersiksa oleh penyakitnya karena kesalahanku, karena aku tidak bersedia mencari Shane untuk mendapat obat dengan menjual diri.

Ada pun obat yang Hans berikan kepada Carol, itu hanya untuk mewujudkan keinginannya. Jadi, aku dan putriku sudah sepantasnya mengalah. Kini, aku baru menyadari betapa egoisnya Hans. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.

"Obatnya cuma ada satu," jelasku sambil menahan rasa sakit di tubuh. Aku hanya bernapas, tetapi trakea dan paru-paruku seperti terbakar api. Aku tidak pernah menyangka bahwa akhir hidup sangat sesulit ini.

"Nggak mungkin." Hans menatapku dengan tatapan tajam. Dulu hanya dengan melihatku sekilas, Hans akan langsung tahu aku sakit. Kemudian, dia akan membelikanku obat dan merawatku. Namun, sekarang dia malah tidak bisa menilai bahwa aku akan segera mati.

"Shane cuma menidurimu sekali, lalu langsung mencampakkanmu? Wajar saja. Kamu sudah pernah melahirkan. Pasti vaginamu longgar. Makan saja obat supaya rapat kembali," ejek Hans.

Ternyata, di mata Hans, aku begitu tidak berharga.

Seseorang merekam pertengkaranku dengan Hans, membuat dunia maya gempar. Karena ada sangkut pautnya dengan Shane, para penggemar langsung mengamuk. Jika memungkinkan, mereka pasti sudah mengulitiku sejak awal.

Shane tampan dan kaya. Sementara itu, aku cuma wanita yang sudah menikah dan sudah melahirkan. Membayangkan bersama Shane saja adalah dosa besar bagiku.

Ketika melihat video itu, aku baru menyadari betapa cepatnya aku menua. Jelas-jelas baru tiga hari berlalu, tetapi kulitku sudah kendur seolah-olah aku berumur 50 tahun. Rambutku juga beruban.

Karena aku terlihat tua dan jelek, para netizen menyebutku pelakor. Mereka menyumpahiku mati, mengataiku tidak tahu malu.

Aku sungguh kebingungan. Sebenarnya kesakitan ini juga ingin membuatku mati supaya lebih cepat bebas dari penderitaan.

Sahabatku merasa kasihan kepadaku dan menawarkan bantuan. Dia punya koneksi. Asalkan ada uang, berita-berita negatif itu bisa dihapus.

Aku menggeleng dan menolak niat baiknya. Lagi pula, hidupku hanya tersisa tiga hari lagi. Makian seperti apa pun tidak akan berdampak padaku. Aku saja tidak takut mati, bagaimana mungkin takut pada kritikan netizen? Lebih baik uang itu kusimpan untuk pengobatan Jade.

Selama beberapa tahun ini, aku terus bekerja untuk membantu Hans. Uangku sudah terkumpul hingga 20 miliar. Kukira aku bisa hidup bahagia dan tenang. Namun, setelah Jade sakit, aku baru menyadari uang itu belum cukup. Uang adalah modal bagi Jade untuk bertahan hidup.

"Bu, kamu di dalam?" Ketika aku bersembunyi di kamar mandi dan muntah darah, suster tiba-tiba mencariku. "Jade bilang mau ketemu ayah dan ibunya. Ayo kita ke kamarnya."

Sebelum sempat berbahagia, aku memahami makna tersirat dari ucapan suster itu. Setibanya di bangsal, aku melihat putriku berbaring di ranjangnya. Hans yang seharusnya menemaninya malah tak terlihat. Dia melarangku menemui putriku, tetapi dia malah tidak menjaga putriku dengan baik!

Bab 3

"Ibu, ada yang menindasmu ya?" Jade mengejapkan matanya sambil menyentuh tanganku. Aku hampir tidak bisa merasakan berat tangannya.

"Kenapa bicara begitu? Jangan pikir sembarangan." Aku menahan kesedihanku sambil mengelus kepala Jade.

Rambut Jade yang dicukur habis hari itu, sudah mulai tumbuh. Saat dielus, rasanya seperti ada duri yang menusuk hatiku. Aku masih ingat waktu membujuknya mencukur rambut. Aku bilang setelah dicukur, rambutnya akan tumbuh hitam dan berkilau. Sayangnya, hari itu tidak akan datang.

"Tapi, suster bilang aku ...." Jade menunduk dan meneruskan, "Aku anak pelakor."

Jade masih kecil, jadi tidak memahami apa itu pelakor. Namun, dia bisa merasakan kebencian dari orang-orang di sekitar.

Suster yang dulunya memperlakukannya dengan lembut, tiba-tiba bersikap dingin. Jade tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya, tetapi dia bisa menebak ada yang menindasku.

"Nggak apa-apa. Kita tidur saja. Semua akan membaik setelah bangun," bujukku dengan lembut. Kemudian, aku menyanyikan lagu untuk Jade dengan suara serak.

Jade adalah anak yang patuh. Setiap kali aku menyuruhnya tidur, dia akan menyelimuti tubuh sendiri dan memejamkan mata. Namun, hari ini dia sangat tidak patuh.

Bukan hanya tidak memejamkan mata, tetapi Jade juga memuntahkan darah. Saat berikutnya, mesin di dalam bangsal sontak berbunyi.

Aku tercengang. Ketika dipersilakan keluar, tanganku bergetar. Kakiku melemas sampai tidak bisa berdiri lagi.

"Bu, kamu harus melakukan pembayaran lagi. Biaya untuk pertolongan darurat ditambah biaya ICU butuh 200 juta," ucap suster sambil menyerahkan tagihan kepadaku.

Aku menggesek kartu dengan tubuh gemetaran. Ketika melihat notifikasi saldoku tidak cukup, hatiku bak dihantam palu. Jelas-jelas ada uang 1 miliar di kartuku ini!

Ketika aku hendak memeriksa ke mana uangku pergi, muncul notifikasi di ponselku. Masuk sebuah foto yang menunjukkan keromantisan Hans dengan Carol. Keduanya tampak serasi. Para reporter menuliskan betapa tergila-gilanya Hans terhadap Carol.

Ternyata, perjalanan Carol menjadi artis tidak berjalan lancar. Tidak ada yang bersedia memberinya peran. Mereka mengatakan Carol hanya cocok menjadi figuran.

Demi membantu Carol menjadi terkenal, Hans menghabiskan 120 miliar untuk memproduksi film. Netizen merasa tersentuh melihat pengorbanan Hans. Mereka mendoakan masa depan Carol, juga merasa iri karena ada seseorang yang begitu mendukung impian Carol. Ini baru cinta sejati.

Putrinya jelas-jelas sakit parah, tetapi Hans masih punya waktu mencarikan sutradara dan kru untuk Carol. Parahnya, dia menggunakan dana perusahaan untuk berinvestasi. Padahal, uang itu bisa digunakan untuk mempertahankan nyawa putrinya.

Aku memaksakan diri untuk tenang dan menelepon Hans. Sejam kemudian, panggilan akhirnya tersambung. Di ujung telepon, terdengar tawa merdu Carol.

"Kamu ingin menghukumku dengan cara ini?" tanyaku.

Hans tentu memahami maksudku. Dia menimpali dengan tidak acuh, "Kamu nggak ngerti. Kemampuan akting Carol sangat bagus, apalagi aku yang menulis naskahnya. Dia pasti bakal terkenal. Uang 120 miliar itu bisa jadi triliunan. Kalau kamu cemburu, suruh Shane buatkan film saja. Nanti kita lihat film siapa yang bakal lebih terkenal."

Aku bisa merasakan kegembiraan dari nada bicara Hans. Dia terus menyombongkan betapa hebatnya naskah yang ditulisnya, betapa cantiknya Carol, dan betapa menakjubkannya kemampuan akting Carol.

"Cukup!" Aku sontak menyela, "Sekarang Jade butuh 200 juta untuk operasi! Kita nggak punya uang lagi! Dia bakal mati!"

Suamiku Menukar Nyawa Anakku Dengan Kekasih Gelapnya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya