Bab 4
Ketika ketiga orang itu masih larut dalam kebahagiaan, para tetangga yang ketakutan pun menelepon pemadam kebakaran. "Ada kebakaran besar di Kompleks Emerald. Kenapa kalian cuma mengirim satu mobil pemadam kebakaran? Kalian kira ini masalah sepele?"
Staf yang menjawab panggilan termangu sesaat sebelum menjelaskan, "Kami nggak menerima panggilan dari Kompleks Emerald. Apa terjadi kebakaran di sana? Aku akan segera mengirim anggota ke sana."
Tidak berselang lama, ponsel Alde berdering. "Kompleks Emerald ya? Aku lagi di sini kok. Nggak ada korban. Kalian nggak usah repot-repot kemari."
Orang di ujung telepon masih ingin berbicara, tetapi Alde mengatakan bahwa dirinya yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Setelah memastikan tidak ada korban, orang itu mengakhiri panggilan dan mengurungkan niat untuk mengirim anggota.
Karena Alde menyalakan pengeras suara, Tasya mendengar jelas perdebatan mereka. Dia mengernyit dan berpura-pura menyesal. "Pak, kamu nggak bakal dihukum karena masalah ini, 'kan? Kalau kamu dihukum, aku lebih baik dipecat. Aku nggak ingin melibatkanmu."
Alde jelas tidak bisa melihat tekad pada tatapan Tasya. Dia mendekapkan Tasya yang tampak lemah lembut ke pelukannya, lalu berucap dengan sangat lembut, "Cuma masalah kecil, nggak usah nangis. Asalkan kamu bisa belajar dari pengalaman, aku rela sepuluh vilaku dibakar."
Tasya tertawa mendengarnya. Dia meninju bahu Alde. "Dasar kamu ini. Kalau benaran begitu, kamu dan Winston mau tinggal di mana?"
"Kak Tasya, aku bisa tinggal di rumahmu," sahut putraku dengan girang. Dia mengatakan dia sangat suka tinggal di rumah Tasya.
Ketika melihat Winston begitu menyukai Tasya, Alde tidak marah dan menanyakan alasannya. Winston menjawab, "Rumah Kak Tasya serbaada. Kak Tasya juga kasih aku makan camilan. Kalau Mak Lampir, dia selalu melarangku makan camilan. Makanya, aku lebih suka Kak Tasya!"
Begitu mendengar ucapan putraku yang naif sekaligus kejam, hatiku tetap terasa sakit meskipun aku sudah mati. Hanya karena keuntungan kecil begini, anak laki-laki yang dulunya selalu mengatakan dirinya paling mencintai ibunya, tiba-tiba berpihak pada wanita lain, bahkan memanggil ibunya Mak Lampir.
"Kamu menyukaiku ya? Kalau begitu, kutraktir kamu makan ayam goreng hari ini. Oke?" Tasya menyentuh hidung Winston dengan penuh kasih sayang. Kemudian, dia memiringkan kepala melirik Alde yang hanya diam. "Kenapa bengong? Nggak mau makan sama aku?"
Alde menggeleng, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Di sisi lain, aku bisa melihat bahwa yang ada di layar ponsel Alde adalah ruang obrolanku dengannya. Dia telah membaca pesan yang kukirim sebelum meninggal.
[ Aku hamil. Kamu bukan ayah anak ini. ]
Bab 5
Jelas sekali, Alde merasa risau setelah membaca pesanku. Setidaknya, ekspresinya tidak terlihat senang sepanjang perjalanan. Alisnya terus berkerut. Dia tampak tidak bisa diganggu.
Winston yang cerewet sekalipun tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara. Sementara itu, Tasya menyentuh lengan Alde dengan hati-hati dan bertanya, "Kamu kenapa?"
Pertanyaan Tasya yang dipenuhi perhatian membuat ekspresi Alde membaik. "Nggak apa-apa. Cuma ada sedikit masalah yang buat aku kesal."
Bagus! Aku senang melihatnya tidak senang! Atas dasar apa dia bisa bercanda dengan rekan kerja wanitanya, sedangkan aku hanya bisa melayani ayah dan anak ini di rumah? Aku berbohong tentang perselingkuhanku, tetapi aku ingin membuat Alde tidak bisa tidur nyenyak.
"Kamu bilang teriak saja kalau lagi kesal. Kemudian, hadapi dan atasi masalahmu. Kenapa sekarang malah kamu yang kesulitan melakukannya?" Ketika mendengar ucapan Tasya ini, aku sontak merasa sesak, seolah-olah akan mati sekali lagi.
Saat Alde berpartisipasi dalam operasi penyelamatan kebakaran untuk pertama kalinya, dia gagal menyelamatkan orang dan merasa sangat frustrasi hingga tidak bisa tidur. Saat itu, aku yang selalu menemaninya.
Aku menyerah atas kesempatan menjadi penerjemah bergaji tinggi dan memilih untuk merawat Alde di rumah. Namun, dia terus merasa kematian korban adalah kesalahannya. Tidak peduli bagaimana aku berusaha membujuknya, dia tetap merasa bersalah.
Aku membawa Alde mendaki gunung. Setibanya di puncak, aku menyuruhnya berteriak dan melontarkan nasihat itu. Siapa sangka, Alde membagikan nasihatku kepada wanita lain.
"Aku akan berusaha." Hati Alde sepertinya tergerak mendengar ucapan ini. Dia mengeluarkan ponsel dan mengirimiku pesan.
[ Cari waktu untuk ngobrol. Gugurkan anak itu. Aku anggap nggak ada masalah yang terjadi. ]
[ Kamu mau makan apa malam ini? Kubawakan ayam goreng favoritmu ya? ]
Saat pacaran, aku dan Alde paling menyukai ayam goreng Pritz. Itu juga satu-satunya makanan enak yang bisa dibayar Alde. Supaya tidak menyakiti hati Alde, aku selalu bilang aku menyukainya hingga akhirnya aku hampir percaya.
Faktanya, aku paling tidak suka makan makanan berminyak. Para tetangga saja tahu, tetapi suamiku malah tidak tahu. Sebenarnya aku yang terlalu pintar merahasiakannya atau Alde yang tidak pernah memperhatikanku? Namun, ini tidak penting lagi.
Tiba-tiba, ponsel Alde berdering lagi. "Kamu yakin kebakaran di Kompleks Emerald sudah padam? Kenapa kami mendapat panggilan lagi?"
Nada bicara orang di ujung telepon terdengar kesal. Wajah Alde pun memucat. Mereka pergi tanpa izin setelah melihat api padam. Kemungkinan besar, Alde akan diberi peringatan atau dipecat.
"Kami nggak bisa tunggu lagi. Aku sudah utus anggota ke sana. Sebaiknya kamu juga kembali dan membantu mereka."
Bab 6
Karena tugas lebih penting, Alde yang ingin makan bersama Tasya terpaksa kembali ke Kompleks Emerald dengan tergesa-gesa.
Api belum padam sepenuhnya. Sebelum petugas pemadam kebakaran tiba, vila telah terbakar oleh lautan api. Jendela pecah dan hancur berkeping-keping. Perabotan di dalam pun rusak.
Teriakan para tetangga bersatu dengan sirene mobil pemadam kebakaran. Komandan yang datang lantas menghardik Alde karena tidak becus belakangan ini.
"Sebenarnya kamu ngapain saja belakangan ini? Banyak rekan bilang kamu nggak fokus bekerja! Memangnya kamu nggak tahu betapa bahayanya api yang belum padam? Apalagi, ini vilamu! Kamu seharusnya introspeksi diri!"
"Pak Alde nggak sengaja ...," bela Tasya saat melihat Alde yang disukainya dibentak habis-habisan.
"Kamu juga sama! Kamu lambat seperti kura-kura! Sebelum kamu datang, orang sudah mati duluan! Waktu adalah uang. Makin cepat, makin banyak orang yang tertolong," sergah komandan yang sama sekali tidak peduli pada tingkah manja Tasya.
Ketika melihat Tasya tidak berani mengangkat kepalanya, aku tertawa. Petugas pemadam kebakaran yang tidak profesional dalam bekerja tidak pantas disebut mulia.
Para petugas yang datang, bekerja dengan sangat gesit. Mereka memadamkan api dalam waktu sesingkat mungkin. Kemudian, seseorang mengangkat jasadku yang ditutupi dengan kain putih dan berkata, "Tubuhnya sudah hangus saat kami menemukannya ...."
"Dia mati terbakar, pasti sakit sekali. Andai saja kami datang lebih awal. Dia mungkin masih bisa diselamatkan ...," lanjut orang itu dengan terisak-isak. Dia adalah murid Alde, Max.
Max memiliki hati yang sangat baik. Aku pernah melihatnya beberapa kali saat mengantar makanan untuk Alde. Matanya selalu merah dan berkaca-kaca, membuatnya terlihat sangat kasihan.
Namun, aku tahu ini adalah rintangan yang harus dilewati oleh setiap petugas pemadam kebakaran. Hanya dengan menghadapi kematian dengan berani, mereka baru bisa bekerja dengan makin gesit dalam setiap operasi penyelamatan.
Setelah mendengar ucapan Max, Alde melirik kain putih itu. Tidak ada yang bisa dilihat. Akan tetapi, sebuah cincin tiba-tiba jatuh dari jari manisku yang hangus.
Terdengar suara dentingan yang kecil. Cincin itu berguling ke samping kaki Alde.