Bab 1

Malam setelah aku didiagnosis hamil, vilaku tiba-tiba terbakar.

Aku menahan rasa sesak dan mempertaruhkan nyawaku untuk berlari ke kamar putraku. Namun, ternyata tidak ada siapa pun di dalam sana.

Tiba-tiba, aku mendengar sorakan bahagia di luar sana.

"Kak Tasya, kamu keren sekali. Kamu pasti dapat juara satu pada lomba nanti!"

Aku ingin menegur putraku yang membuat onar ini, tetapi tubuhku malah tertimpa tembok yang runtuh.

Ketika kesadaranku mulai melemah, aku mendengar suamiku yang selalu bersikap tegas, memuji keberanian seorang wanita.

Jika tebakanku tidak salah, seharusnya suami dan anakku membakar vila ini demi menyenangkan hati wanita itu.

Aku hanya bisa menatap pintu yang begitu dekat denganku. Sebelum mati, aku mengirim sebuah pesan kepada suamiku.

Aku mengernyit menatap jasad yang setengah tertimpa oleh reruntuhan dinding. Tangan kanan yang terbakar hingga hangus dijulurkan ke arah pintu, sedangkan tangan kiri melindungi perut. Pemandangan aneh ini membuatku ketakutan hingga mundur.

Saat rohku menembus dinding, aku baru menyadari bahwa diriku sudah mati. Wanita yang terbakar hingga wajahnya tidak bisa dikenali ternyata adalah aku.

Setengah jam lalu, aku pulang dengan membawa hasil tes kehamilan. Hatiku sungguh gembira. Akan tetapi, aku tiba-tiba melihat vila terbakar.

Aku teringat pada putraku yang tertidur lelap di kamar. Tanpa sempat berpikir panjang, aku langsung membasahi sapu tangan yang selalu kubawa, lalu menyerbu masuk.

Begitu tiba di ruang tamu, sekujur tubuhku terasa panas. Kulitku bengkak dan melepuh. Aku benar-benar kesakitan.

Napasku juga terasa sesak. Leherku seolah-olah dicekik oleh seseorang, makanya tidak bisa berteriak minta tolong. Air mata terus berlinang, membuatku ingin sekali meninggalkan tempat ini.

Namun, ketika teringat pada putraku yang terjebak di lantai dua, aku tetap memaksakan diri untuk menaiki tangga.

Setibanya di depan pintu kamar, tampak gagang pintu yang mulai terbakar. Aku memberanikan diri untuk menggenggam gagang itu, lalu masuk.

Alhasil, tidak ada seorang pun di dalam sini. Sebelum aku sempat merasa bersyukur karena putraku baik-baik saja, tiba-tiba terdengar sorakan di luar. "Kak Tasya, kamu keren sekali! Kamu pasti bakal menang dalam kompetisi latihan kebakaran kali ini!"

Saat mendengar suara yang kekanak-kanakan itu, kepalaku terdengar agak pusing. Saat berikutnya, aku sontak murka karena putraku mempermainkan nyawa orang.

Aku berbalik dan hendak memberi putraku pelajaran. Namun, begitu tiba di depan pintu, dinding runtuh dan menimpaku.

Rasa sakit yang dahsyat menjalar dari punggung ke perutku. Aku tanpa sadar memegang perutku. Aku bisa merasakan bahwa nyawa kecil yang belum terbentuk itu telah meninggalkan tubuhku.

Makin pusing kepalaku, makin jelas suara yang terdengar dari luar. Suamiku yang selalu berekspresi tegas malah memuji keberanian Tasya, "Tasya, kamu sangat gesit. Aku menantikan performamu di latihan kebakaran selanjutnya."

Bab 2

Aku hampir lupa, suamiku, Alde, adalah seorang pemadam kebakaran. Sementara itu, kakak yang dipanggil oleh putraku tadi adalah Tasya, wanita yang diakui sebagai rekan kerja oleh suamiku.

Selama setengah bulan terakhir, putraku tidak lagi dekat denganku ataupun membutuhkanku. Dia terus mengatakan ingin bermain di tempat kerja ayahnya dan selalu membahas tentang Tasya.

Aku awalnya tidak peduli dan merasa wajar jika putraku menyukai wanita muda yang cantik seperti Tasya. Namun, aku lupa bahwa Alde juga seorang pria. Dia juga menyukai wanita muda dan cantik.

Alde sering ditelepon pada malam hari, bahkan keluar pada dini hari. Aku semula mengira dia keluar karena ada pekerjaan. Aku pun tidak melarang karena nyawa manusia sangat berharga.

Sampai suatu saat aku tidak sengaja melihat bahwa orang yang menelepon malam-malam adalah orang yang sama, aku mulai merasakan firasat buruk. Aku sudah lalai. Setelah melihat nama kontak yang tertera, aku tidak bisa menipu diri sendiri lagi.

Suatu hari setelah kami bercinta, Alde pergi mandi dan aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memeriksa ponselnya. Hanya sedikit panggilan yang berhubungan dengan pekerjaan. Sisanya adalah panggilan dari wanita itu.

Di WhatsApp, Alde juga menyematkan obrolannya dengan Tasya ke bagian atas. Sebenarnya obrolan mereka sederhana saja, tetapi Alde tidak pernah curhat seperti ini kepadaku. Dia selalu membalas pesanku dengan cuek.

Kemudian, aku membuka akun Instagram wanita itu. Ada banyak fotonya dengan Alde. Caption yang ditulisnya pun menunjukkan betapa dirinya dicintai dan dimanjakan.

[ Pak Alde mentraktirku makan kue! Dia yang terbaik! ]

Aku melirik waktu unggahan. Tanggal 27 Agustus, hari peringatan pernikahan kami yang ketujuh. Waktu itu, Alde pulang larut malam. Aku mengira Alde sudah lupa pada hari peringatan pernikahan kami, tetapi dia tiba-tiba membawakanku kue. Meskipun hadiahnya sederhana, aku tetap merasa dicintai.

Sayangnya, aku tidak menyadari ekspresi datar Alde dan krim di lengan bajunya. Selain itu, kue di unggahan Tasya terlihat lebih indah daripada kue untukku. Alde pasti membelinya tanpa maksud apa pun.

Bab 3

Ketika aku menginterogasi Alde dengan menunjukkan bukti-bukti di ponsel, dia malah memakiku, "Siapa suruh kamu lihat isi ponselku? Ini privasiku! Kamu nggak bisa memberiku sedikit ruang?"

Padahal saat kami pacaran, Alde bilang dia senang melihatku memeriksa ponselnya. Dengan begini, dia bisa menunjukkan bahwa tidak ada wanita lain di dalam hatinya.

Sepuluh tahun kemudian, pria ini malah memarahiku bertindak tidak masuk akal. Pertengkaran kami membangunkan putraku yang tidur di kamar sebelah.

Putraku yang masih mengantuk, menatapku dengan takut. Katanya, dia mau ayahnya dan Kak Tasya. Dia hanya tidak mau ibu yang telah membesarkannya dengan susah payah.

Seketika, kegetiran menyelimuti hatiku. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Sesaat kemudian, aku menatap putraku yang bersembunyi di belakang Alde dan bertanya, "Winston, kamu mau Ayah atau Ibu?"

Alhasil, putraku menjawab dia tidak mau ibu yang galak. Dia mau Tasya menjadi ibunya. Aku sungguh kecewa dan akhirnya berkemas untuk meninggalkan vila.

Perang dingin ini berlangsung selama tiga bulan. Ketika mengetahui aku hamil lagi, aku bahkan ingin menggugurkan kandunganku.

Namun, aku teringat Alde terus mengatakan dirinya menginginkan anak perempuan dan Winston menginginkan adik perempuan. Aku lantas mengalah dan memutuskan untuk mencari mereka lagi.

Siapa sangka setelah pulang, aku dan anakku malah mati hanya karena mereka ingin menyenangkan hati Tasya.

Mungkin karena tekadku terlalu kuat, rohku terbang ke sisi Alde. Aku melihat ketiga orang ini sedang larut dalam suasana harmonis.

Winston yang selalu membangkang malah menatap Tasya yang baru dikenalnya selama dua bulan dengan tatapan penuh kekaguman. Dia bertepuk tangan untuk Tasya.

Sementara itu, Alde mengelus kepala Tasya dan berkata, "Sepertinya aku harus mengganti nama kontakmu jadi si Cerdas."

Wajah Tasya tersipu karena pujian Alde. Dia menyahut dengan manja, "Semua ini karena instruksimu. Kamu sampai membakar vila untukku. Lain kali aku bakal melakukannya lebih baik lagi."

Lebih baik lagi? Aku tersenyum mencela menatap vila yang masih terbakar. Mungkin, saat ini jasadku sudah jadi abu.

Suami dan Anak Membakarku Demi Wanita Lain

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya