Bab 2
Aku hampir lupa, suamiku, Alde, adalah seorang pemadam kebakaran. Sementara itu, kakak yang dipanggil oleh putraku tadi adalah Tasya, wanita yang diakui sebagai rekan kerja oleh suamiku.
Selama setengah bulan terakhir, putraku tidak lagi dekat denganku ataupun membutuhkanku. Dia terus mengatakan ingin bermain di tempat kerja ayahnya dan selalu membahas tentang Tasya.
Aku awalnya tidak peduli dan merasa wajar jika putraku menyukai wanita muda yang cantik seperti Tasya. Namun, aku lupa bahwa Alde juga seorang pria. Dia juga menyukai wanita muda dan cantik.
Alde sering ditelepon pada malam hari, bahkan keluar pada dini hari. Aku semula mengira dia keluar karena ada pekerjaan. Aku pun tidak melarang karena nyawa manusia sangat berharga.
Sampai suatu saat aku tidak sengaja melihat bahwa orang yang menelepon malam-malam adalah orang yang sama, aku mulai merasakan firasat buruk. Aku sudah lalai. Setelah melihat nama kontak yang tertera, aku tidak bisa menipu diri sendiri lagi.
Suatu hari setelah kami bercinta, Alde pergi mandi dan aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memeriksa ponselnya. Hanya sedikit panggilan yang berhubungan dengan pekerjaan. Sisanya adalah panggilan dari wanita itu.
Di WhatsApp, Alde juga menyematkan obrolannya dengan Tasya ke bagian atas. Sebenarnya obrolan mereka sederhana saja, tetapi Alde tidak pernah curhat seperti ini kepadaku. Dia selalu membalas pesanku dengan cuek.
Kemudian, aku membuka akun Instagram wanita itu. Ada banyak fotonya dengan Alde. Caption yang ditulisnya pun menunjukkan betapa dirinya dicintai dan dimanjakan.
[ Pak Alde mentraktirku makan kue! Dia yang terbaik! ]
Aku melirik waktu unggahan. Tanggal 27 Agustus, hari peringatan pernikahan kami yang ketujuh. Waktu itu, Alde pulang larut malam. Aku mengira Alde sudah lupa pada hari peringatan pernikahan kami, tetapi dia tiba-tiba membawakanku kue. Meskipun hadiahnya sederhana, aku tetap merasa dicintai.
Sayangnya, aku tidak menyadari ekspresi datar Alde dan krim di lengan bajunya. Selain itu, kue di unggahan Tasya terlihat lebih indah daripada kue untukku. Alde pasti membelinya tanpa maksud apa pun.
Bab 3
Ketika aku menginterogasi Alde dengan menunjukkan bukti-bukti di ponsel, dia malah memakiku, "Siapa suruh kamu lihat isi ponselku? Ini privasiku! Kamu nggak bisa memberiku sedikit ruang?"
Padahal saat kami pacaran, Alde bilang dia senang melihatku memeriksa ponselnya. Dengan begini, dia bisa menunjukkan bahwa tidak ada wanita lain di dalam hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, pria ini malah memarahiku bertindak tidak masuk akal. Pertengkaran kami membangunkan putraku yang tidur di kamar sebelah.
Putraku yang masih mengantuk, menatapku dengan takut. Katanya, dia mau ayahnya dan Kak Tasya. Dia hanya tidak mau ibu yang telah membesarkannya dengan susah payah.
Seketika, kegetiran menyelimuti hatiku. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Sesaat kemudian, aku menatap putraku yang bersembunyi di belakang Alde dan bertanya, "Winston, kamu mau Ayah atau Ibu?"
Alhasil, putraku menjawab dia tidak mau ibu yang galak. Dia mau Tasya menjadi ibunya. Aku sungguh kecewa dan akhirnya berkemas untuk meninggalkan vila.
Perang dingin ini berlangsung selama tiga bulan. Ketika mengetahui aku hamil lagi, aku bahkan ingin menggugurkan kandunganku.
Namun, aku teringat Alde terus mengatakan dirinya menginginkan anak perempuan dan Winston menginginkan adik perempuan. Aku lantas mengalah dan memutuskan untuk mencari mereka lagi.
Siapa sangka setelah pulang, aku dan anakku malah mati hanya karena mereka ingin menyenangkan hati Tasya.
Mungkin karena tekadku terlalu kuat, rohku terbang ke sisi Alde. Aku melihat ketiga orang ini sedang larut dalam suasana harmonis.
Winston yang selalu membangkang malah menatap Tasya yang baru dikenalnya selama dua bulan dengan tatapan penuh kekaguman. Dia bertepuk tangan untuk Tasya.
Sementara itu, Alde mengelus kepala Tasya dan berkata, "Sepertinya aku harus mengganti nama kontakmu jadi si Cerdas."
Wajah Tasya tersipu karena pujian Alde. Dia menyahut dengan manja, "Semua ini karena instruksimu. Kamu sampai membakar vila untukku. Lain kali aku bakal melakukannya lebih baik lagi."
Lebih baik lagi? Aku tersenyum mencela menatap vila yang masih terbakar. Mungkin, saat ini jasadku sudah jadi abu.
Bab 4
Ketika ketiga orang itu masih larut dalam kebahagiaan, para tetangga yang ketakutan pun menelepon pemadam kebakaran. "Ada kebakaran besar di Kompleks Emerald. Kenapa kalian cuma mengirim satu mobil pemadam kebakaran? Kalian kira ini masalah sepele?"
Staf yang menjawab panggilan termangu sesaat sebelum menjelaskan, "Kami nggak menerima panggilan dari Kompleks Emerald. Apa terjadi kebakaran di sana? Aku akan segera mengirim anggota ke sana."
Tidak berselang lama, ponsel Alde berdering. "Kompleks Emerald ya? Aku lagi di sini kok. Nggak ada korban. Kalian nggak usah repot-repot kemari."
Orang di ujung telepon masih ingin berbicara, tetapi Alde mengatakan bahwa dirinya yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Setelah memastikan tidak ada korban, orang itu mengakhiri panggilan dan mengurungkan niat untuk mengirim anggota.
Karena Alde menyalakan pengeras suara, Tasya mendengar jelas perdebatan mereka. Dia mengernyit dan berpura-pura menyesal. "Pak, kamu nggak bakal dihukum karena masalah ini, 'kan? Kalau kamu dihukum, aku lebih baik dipecat. Aku nggak ingin melibatkanmu."
Alde jelas tidak bisa melihat tekad pada tatapan Tasya. Dia mendekapkan Tasya yang tampak lemah lembut ke pelukannya, lalu berucap dengan sangat lembut, "Cuma masalah kecil, nggak usah nangis. Asalkan kamu bisa belajar dari pengalaman, aku rela sepuluh vilaku dibakar."
Tasya tertawa mendengarnya. Dia meninju bahu Alde. "Dasar kamu ini. Kalau benaran begitu, kamu dan Winston mau tinggal di mana?"
"Kak Tasya, aku bisa tinggal di rumahmu," sahut putraku dengan girang. Dia mengatakan dia sangat suka tinggal di rumah Tasya.
Ketika melihat Winston begitu menyukai Tasya, Alde tidak marah dan menanyakan alasannya. Winston menjawab, "Rumah Kak Tasya serbaada. Kak Tasya juga kasih aku makan camilan. Kalau Mak Lampir, dia selalu melarangku makan camilan. Makanya, aku lebih suka Kak Tasya!"
Begitu mendengar ucapan putraku yang naif sekaligus kejam, hatiku tetap terasa sakit meskipun aku sudah mati. Hanya karena keuntungan kecil begini, anak laki-laki yang dulunya selalu mengatakan dirinya paling mencintai ibunya, tiba-tiba berpihak pada wanita lain, bahkan memanggil ibunya Mak Lampir.
"Kamu menyukaiku ya? Kalau begitu, kutraktir kamu makan ayam goreng hari ini. Oke?" Tasya menyentuh hidung Winston dengan penuh kasih sayang. Kemudian, dia memiringkan kepala melirik Alde yang hanya diam. "Kenapa bengong? Nggak mau makan sama aku?"
Alde menggeleng, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Di sisi lain, aku bisa melihat bahwa yang ada di layar ponsel Alde adalah ruang obrolanku dengannya. Dia telah membaca pesan yang kukirim sebelum meninggal.
[ Aku hamil. Kamu bukan ayah anak ini. ]