Bab 4

. Menikah.

Erina menurut saat Fic mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakannya sendiri. Fic ikut masuk, kemudian duduk di Sofa tanpa disuruh.

Erina menatap Pria dengan wajah datar itu, lalu ikut duduk di hadapannya. Mereka terdiam cukup lama. Erina merasa aneh, kenapa pria ini bisa tau tempat tinggalnya. Dan untuk apa dia kesini? Apa untuk menagih uangnya? Tapi kenapa malah kembali mengeluarkan uang. Uang yang begitu besar. Berkali kali lipat dari yang waktu ini.

Erina kemudian membuka suara.

"Tuan, Terima Kasih sudah menolongku kembali."

Fico Albarez hanya mengangguk tanpa melihatnya.

"Tapi, bagaimana caraku untuk mengembalikan uangmu. Itu terlalu banyak."

Fic menoleh sebentar setelah itu membuang ratapannya kembali.

"Menikahlah denganku besok. Maka kau tidak perlu membayarnya."

Seketika Erina terperangah. "Menikah?" Dia seperti tidak percaya.

"Kenapa?" Sekarang Fic menoleh untuk menatapnya.

"Bukankah kau membutuhkan pernikahan? Kau gagal menikah bukan? Seharusnya kau menikah beberapa hari lagi."

Erina menelan ludah. Darimana dia tau?

"Memang benar. Tapi, apa Tuan juga punya masalah sepertiku?"

Fic tersenyum miring. "Aku tidak punya masalah seperti mu."

"Lalu kenapa Tuan ingin menikah secara tiba tiba?"

"Karena aku butuh istri. Aku tidak punya Tunangan ataupun kekasih." Jawab singkat Fic.

"Tapi, tapi kenapa memilih diriku? Apa karena aku mempunyai hutang padamu?" Erina semakin penasaran.

Fic kembali memiringkan senyumnya. "Aku memilihmu, karena aku sudah mengenalmu."

"Mengenal ku?" Erina Sekarang terlihat kebingungan.

Fic mengangguk. "Aku tidak bisa mengambil sembarangan wanita."

"Sembarang wanita? Lalu aku?"

"Sudah lah." Fic bangun dari duduknya. Merogoh sesuatu dari balik jaketnya.

"Besok, datanglah ke gedung ini tepat jam Sepuluh. Aku tidak mau kamu datang terlambat."

Fic melangkah keluar meninggalkan Erina. Gadis itu hanya bisa menatap punggung Pria itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu mobil.

"Argh… Siapa sih dia? Kenapa aneh?"

Erina mengerang, lalu menutup pintu dan berlari ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar. Matanya menatap langit langit. Pikirannya runyam.

Pria itu tiba tiba datang dengan sendirinya, memberinya bantuan disaat yang tepat. Seharusnya Erina senang karena telah terbebas dari perjodohan Sang Ibu. Setidaknya dia selamat dari Tuan Danies yang terkenal sebagai penjahat kelamin.

Tapi kenapa Pria itu tiba tiba mengajaknya Menikah? Bahkan mereka baru bertemu dua kali saja. Ada masalah apa sebenarnya? Tidak mungkin tidak ada masalah!

"Dia sudah mengenalku? Dan tidak bisa sembarangan memilih wanita? Maksudnya apa? Dia bahkan belum tau buruknya masa laluku."

Semalaman Erina tidak bisa tidur memikirkan itu. Bagaimana mungkin dia akan menikah dadakan seperti itu, dengan Pria yang tidak mencintainya. Dia juga tidak mencintai pria itu. Tapi, bukankah dia juga membutuhkan pernikahan ini? Meskipun dia sudah terbebas dari Tuan Daniel sekarang, tapi dia tetap membutuhkan seorang Pria yang bersedia menikahinya.

Bukankah itu bagus? Dia bisa menutup aibnya. Belum lagi masalah hutang kepada pria itu. Sekarang semakin besar. Jika dia tidak bersedia menikah dengan pria itu, sudah pasti dia harus membayar seluruh uang yang sudah dikeluarkan pria itu. Dan itu jumlahnya sangat banyak. Erina tidak bisa membayangkan, berapa tahun dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu.

Lalu dia bangun, kemudian mengambil tasnya. Menghitung berapa banyak uang yang dia miliki saat ini. "Sepuluh juta ini hanya cukup untuk membayar hutangku yang pertama." Tapi Erina berpikir, setidaknya dia bisa sedikit mengurangi hutangnya.

Erina akhirnya terlelap beberapa jam. Dia terbangun saat Alarm terus saja berdering keras.

"Ya Tuhan!" Dia memekik ketika menyadari jika saat ini sudah jam Delapan.

Erina beranjak ke kamar mandi dan secepat mungkin bersiap siap. Dia bukan akan pergi ke Kantor, melainkan pergi ke Gedung yang tertulis di kertas yang sekarang sedang dia genggam.

Huh! Erina menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Perasaannya begitu tegang dan tak karuan. Dia menuruni Taksi yang sudah berhenti di depan Gedung yang dia tuju.

Ini bukan lah Gedung menurut nya tapi lebih tepatnya adalah Biro Urusan Sipil. Begitu nampak sepi seperti tidak ada orang.

Erina turun dan berjalan masuk dengan sedikit ragu. Jefri sudah menyambutnya di ujung sana. Berlari kecil menghampiri Erina.

"Mari silahkan Nona Erina. Tuan Fic sudah menunggumu."

Fic? Apa itu nama Pria itu? Belum sempat bertanya, Jefri sudah melangkah dahulu. Terpaksa Erina mengikuti langkahnya.

Erina bisa melihat punggung seorang pria yang mengenakan jas putih. Pria itu tidak menoleh ke arah mereka datang tapi sepertinya sudah tau siapa yang datang.

"Duduklah." Suaranya terdengar begitu datar. Erina menurut saja.

"Apa kau sudah siap?" Fic bertanya, menoleh sebentar pada Erina.

"Sebenarnya aku tidak siap."

"Kenapa? Katakan apa alasanmu."

"Bagaimana mungkin aku akan siap, jika menikah dengan pria yang belum aku kenal." Jawab Erina.

Terdengar Fic membuang nafas. "Aku ingin pernikahan ini bukan sekedar pernikahan. Bukan hitam diatas putih. Bukan pernikahan kontrak atau sejenisnya. Jadi berpikirlah dua kali sebelum Pendeta datang."

Erina kembali menelan ludah. Dia sudah tidak punya jawaban lagi. Terdiam dengan waktu yang cukup lama. Hingga Pendeta dan beberapa orang datang.

Fic kembali menoleh padanya. "Mereka sudah datang. Bagaimana? Jika kau tidak mau, itu tidak masalah. Aku bisa membatalkannya."

Dengan begitu banyak pikiran dan pertanyaan dalam hatinya, Erina menggigit bibir bawahnya untuk menahan keraguan terakhir dihatinya. Dan tiba tiba dia mendongakkan kepalanya. "Iya. Aku setuju."

Hampir satu jam mereka berada di dalam sana. Erina terlihat keluar dari Biro itu dengan membawa Sertifikat Pernikahannya. Dia sungguh merasa seperti bermimpi. Dia sama sekali tidak menyangka akan menikah secara Mendadak seperti ini. Apalagi dia bertemu dengan pria itu secara tidak sengaja.

Erina menunduk untuk melihat Sertifikat Pernikahannya, dia hanya bisa melihat Foto dirinya dan Pria tadi. Pria dalam foto itu terlihat acuh tak acuh namun tampak sangat keren. Sedangkan dirinya begitu jelas terlihat gugup dan berpenampilan sederhana.

Terdapat nama mereka di bawah Foto itu. Erina tanpa sadar tersenyum. Merasa sangat konyol. Dia baru mengetahui nama suami yang baru saja menikahinya itu.

Fico Albarez. Nama yang Cool dan Keren. Cocok sekali dengan orangnya. Dingin dan datar serta tampak temperamen.

Selain nama dan nomor ponsel, Erina sama sekali tidak mengetahui apapun tentang suami Dadakannya itu. Dia tiba tiba sadar , kenapa dia sangat ceroboh?

Meskipun Pria itu tampak seperti orang biasa, tapi bagaimana kalau dia orang jahat? Erina kembali menggigit bibirnya.

Saat Erina merasakan penyesalan, sebuah tangan menjulur ke hadapannya. Sebuah kartu terselip di jari jemari kekar itu.

"Nona Erina. Setahuku, jika seseorang menikah, akan mengharapkan cincin pernikahan. Maafkan aku yang tidak sempat mencarinya untuk kita. Kau bisa memilihnya sendiri, sesuai dengan keinginan mu."

Erina mendongak, menatap kedua bola mata hitam pekat dengan putih yang begitu jernih.

"Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan itu." Erina mendorong tangan Fic.

Dia telah lama melewati masa masa yang begitu sulit. Dia tidak lagi mengharapkan Keromantisan. Meskipun dihadapannya saat ini adalah Suaminya secara formal, tapi Erina belum ingin kembali berharap.

"Cincin itu tetap kita perlukan, untuk tanda bukti jika kita ini adalah pasangan." Fic meraih pergelangan tangan Erina dan meletakkan kartu itu di telapak tangan Erina.

Bab 5

. Kartu Hitam Kaum Elit.

Ketika meletakkan Kartu itu di telapak tangan Erina, kulit mereka bersentuhan. Erina bisa merasakan suhu badan Fico lebih tinggi dari suhu badan dirinya. Rasanya seperti menembus kulitnya, membuat Erina sedikit kehilangan akal.

"Baiklah kalau begitu." Biar bagaimanapun juga Erina berpikir, jika mereka sudah menjadi pasangan, Pasangan pengantin baru yang seharusnya bahagia bukan? Erina tidak ingin merusak niat baik Fico hanya karena hal kecil seperti ini. Dia akhirnya menerima Kartu itu.

"Aku masih ada kerjaan sore ini. Maafkan aku tidak bisa mengantarmu." Ucap Fic dengan nada yang masih terdengar datar.

"Oh. Tidak mengapa. " Sahut Erina. Dia juga tidak berharap, jika pria itu benar-benar akan mencintainya atau menganggapnya seorang istri yang sesungguhnya. Jadi dia tidak merasa kecewa sedikitpun.

"Oh iya. Mengenai Alamat Rumahku, em.." Fic nampak berpikir sebentar.

Lalu melanjutkan bicaranya.

"Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menghubungimu. Beri saja aku nomor ponselmu."

Erina tiba-tiba merasa gugup dan cepat berkata. "Itu tidak terlalu penting, jadi sebaiknya tidak usah terburu-buru."

Seharusnya, dua orang yang sudah menikah memang sudah sepantasnya tinggal bersama. Tetapi mengenai hal ini, Erina sungguh belum siap. Dia belum bisa membayangkan jika harus tinggal satu atap dengan pria asing.

Fic menaikkan alisnya, ucapan Erina terdengar seperti penolakan. Dia membuang nafas kasar. Erina yang menyadari itu langsung merasa bersalah.

Beruntung Fic bukanlah tipe Pria yang banyak bicara. Dia merapikan Jasnya.

"Baiklah. Jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, aku akan pergi duluan."

Erina hanya mengangguk, menatap Pria itu pergi dengan melangkah Pelan. Erina juga bersiap menunggu taksi untuk kembali ke kontrakannya. Tetapi ketika dia membalikkan badan berlawanan dengan Arah Fic berjalan, tiba tiba dia teringat awal tujuannya datang menemui Fic tadi. Yaitu untuk melunasi hutang pertamanya.

Erina dengan cepat berteriak memanggil Fic dan berlari mengejar.

"Fic. Tunggu dulu!" Mendengar panggilan Erina, Fic terpaku. Selain Mentari, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Fic saja. Fic tertegun sesaat sebelum akhirnya menoleh. Erina menghampirinya dengan nafas terengah-engah.

"Aku lupa. Jika membawa uang sepuluh juta milikmu yang tempo lalu kau pinjamkan padaku." Erina merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah Amplop coklat.

"Terimalah. Setidaknya, aku bisa sedikit mengurangi hutangku padamu. Selebihnya, aku tidak bisa menjanjikan kapan akan membayarnya." Erina diam di hadapan Fic, mengulurkan amplop itu.

Fic tertawa, membuat Erina terkejut. Dua kali pertemuan, baru ini dia mendengar Pria itu tertawa. Wajahnya yang tampan serta penampilannya yang keren, jelas begitu terlihat dimata Erina. Hanya sayangnya, wajah dingin penuh acuh tak acuh itu masih saja terlihat. Tapi kali ini, karena senyuman lebarnya itu, membuat Erina terpana.

"Kamu masih ingin membayarnya?" Fic bertanya, sekarang terdengar tidak sedingin sebelumnya.

"Apa yang harus ku kembalikan, ya harus ku kembalikan." Erina mengulurkan kembali Amplop tersebut.

"Tapi itu tidak perlu lagi." Fic tetap tidak mengulurkan tangannya.

Mungkin karena tadi berlari terburu buru, wajah Erina terlihat memerah. Keringat mengalir ke rahangnya dan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ikut terbawa keringat yang mengalir menutupi pipinya.

Untuk sesaat, Fic menjadi sedikit peka, mengulurkan tangannya hendak merapikan rambut itu. Tapi tiba-tiba dia menarik tangannya kembali dan kembali menjadi dingin.

"Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Bukankah aku juga sudah mengatakan, jika kau menikah denganku maka tidak perlu membayar uang itu. Suami istri, tidak boleh perhitungan."

Setelah selesai berbicara Fic langsung pergi tanpa memberi kesempatan Erina untuk bicara kembali. Erina hanya terpaku. Pria dingin itu, kenapa terlihat begitu keren?

"Benar juga, dia suamiku sekarang." Entah mau senang atau sedih, Erina sendiri tidak bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Dia kemudian menyetop Taksi saat melihatnya.

"Kemana Nona?"

"Ke Toko Perhiasan." Beruntung Erina masih mengingat pesan Fic untuk mencari cincin pernikahan mereka. Jadi dia memutuskan untuk mencari cincin terlebih dahulu sebelum pulang.

Taksi sudah berhenti, Erina turun setelah membayar dan berjalan menuju Toko Perhiasan yang ada di dalam sebuah Mall.

Seorang pemilik toko dengan ramah menyapa.

"Apa yang ingin anda cari Nona. Mari saya bantu."

"Aku sedang mencari cincin pernikahan."

"Oh. Silahkan. Disini banyak pilihan. Dari yang kelas Elit sampai yang kelas menengah ke bawah." Pelayan menunjukan satu persatu pasangan cincin.

Erina memilih yang paling sederhana. Berharga sekitar tiga jutaan. Dia berpikir tidak perlu mencari perhiasan yang begitu mahal.

"Yang ini saja."

"Baiklah. Tidak mengapa. Apapun pilihan Nona, semoga pernikahan kalian langgeng." Pemilik toko segera menyuruh Pelayan membungkus Cincin itu dengan kotak perhiasan.

"Bayar pakai ini." Erina mengeluarkan kartu dari Fic itu dan menyodorkan.

Pemilik Toko itu menerima dengan tercengang. Membolak balikkan kartu dengan sesekali menatap Erina.

"Anda serius Nona? Ingin mengambil cincin itu?"

"Iya. Kenapa? Apa kartunya bermasalah."

"Oh. Tidak tidak, tunggu sebentar." Pemilik toko sempat heran saja, ini adalah kartu hitam milik kaum Elit. Mungkin diKota ini hanya beberapa orang yang memilikinya dan itupun hanya Pengusaha yang sudah memiliki Perusahaan besar mendunia.

Sambil menggunakan Kartu itu, pemilik toko sesekali melirik Erina yang sedang menunggu.

"Apa anda istri atau Putri seorang konglomerat?" Tanya Pemilik toko sambil mengembalikan kartu kepada Erina.

"Tidak?" Erina menggeleng.

"Suamiku hanya orang biasa. Kami baru saja menikah, dan dia memintaku mencari cincin pernikahan karena dia sangat sibuk. Dia memberiku kartu ini."

"Oh baiklah Nona. Terimakasih sudah berkunjung ke Toko kami. Lain kali boleh lah kemari lagi dan ajak suami Nona. Siapa tau saja, suami Nona ingin mencarikan perhiasan untukmu." Pemilik Toko mengangguk hormat, berpikir jika Wanita itu pasti hanya belum tau Bisnis suaminya.

Erina melangkah pergi meninggalkan toko, mengamati satu cincin yang sudah terselip di jari manisnya. Kembali dia menarik nafas berat. Tapi segera menguasai hatinya dan menyetop Taksi. Sebelum pulang, dia ke kantor terlebih dahulu untuk menanyakan perihal hari pertemuan dengan Presdir Galaxy Group. Karena tadi dia sempat membaca pesan dari Oca jika mereka memajukan jadwal.

Baru saja melangkah masuk ke ruangan kerja, Oca sudah berlari menyerbunya.

"Erin. Jadwal pertemuan kita dengan Presdir Galaxy Group adalah besok." Oca penuh semangat kegembiraan.

"Tidak mengapa." Jawab datar Erina. Dia duduk melipat tangannya di atas meja. Itu membuat Oca menangkap cincin yang ada di Jarinya.

"Ini seperti cincin pernikahan?"

Erina langsung menutup jarinya dengan tangannya yang sebelah. Wajahnya memerah.

"Erin? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Oca bertanya penuh selidik.

Erina mengangguk saja, tidak ingin membohongi temannya. Bukankah ini baik untuk dirinya juga? Jika semua orang tau kalau dia sudah menikah.

"Aku baru saja menikah."

"Apa? Kau bercanda?" Oca terbelalak seperti tidak percaya.

"Tidak. Aku tidak bercanda. Tapi benar." Erina memperlihatkan Sertifikat Pernikahannya kepada Oca. Hanya sebatas memperlihatkan saja lalu segera pergi.

Oca berlari untuk menyusul. "Kau serius?"

Erina hanya mengangguk saja lalu melangkah keluar untuk pulang ke kontrakannya. Oca tidak bisa banyak berprotes, walau dalam hati dia tau, jika Erina sepertinya terpaksa dengan pernikahan ini.

Beberapa karyawan lain rupanya ada yang mendengar percakapan Mereka.

"Erina sudah menikah? Yang benar saja!"

"Bukankah dia gagal Menikah?"

"Mungkin dengan pria lain."

Erina sepintas mendengar, tapi berusaha untuk tidak peduli. Memutuskan untuk segera pergi saja.

Sesampainya di Kontrakan, Erina membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia ingin melupakan segalanya dengan tertidur. Bahkan tidak memikirkan pekerjaan besok. Padahal semua orang sedang menanti hari besok. Dimana dia dan tim akan mewawancarai Seorang Presdir Galaxy Group yang sangat Misterius dan baru akan mau menampakan dirinya besok pada Dunia.

Bab 6

. Dia adalah Presdir.

Pagi Ini Erina sudah berada di kantornya. Melihat Oca dan Melda. Kedua temannya itu berdandan berlebihan tidak seperti biasanya. Menatap sedikit kesal.ke arah dirinya.

"Kau ini! Kenapa berpenampilan seperti ini?" Oca mendekat sambil menarik ujung kaos yang dikenakan Erina.

Erina hanya mengenakan kaos putih pendek yang dibalut Jas kerja dengan tergantung kartu nama tanda pengenal di lehernya. Mengenakan celana Jeans warna hitam sesuai dengan warna Jas dan sepatu berwarna Putih.

"Memangnya harus bagaimana?" Jawab Erina.

"Yang akan kita temui kali ini adalah Presdir nomor satu di dunia. Bagaimana mungkin kamu hanya berpenampilan sesederhana ini?" Oca sangat memprotes.

Erina menarik nafas. "Kita ini mau bekerja. Siapapun yang akan kita temui. Jadi, ini adalah pakaian kerja kita yang sebenarnya. Bukan mau pergi ke pesta!" Bantah Erina.

"Ah.. Terserah kau saja!" Oca kesal.

"Eh, tapi bagaimana penampilan ku hari ini? Aku cantik tidak?" Oca bertanya pada Erina.

"Sangat cantik." Erina menjawab tanpa ragu. Dia baru menyadari jika penampilan Oca hari ini memang berbeda. Dengan rok pendek berwarna merah dengan rambut yang terlihat diurai dengan rapi.

"Kalau begitu coba katakan padaku, apa kira kira Presdir tampan dan kaya dari Galaxy Group akan tertarik padaku?"

Erina tercengang, rupanya Oca dan Melda sengaja berdandan lebih hanya karena beralasan jika yang akan mereka temui kali ini adalah Presdir Galaxy Group.

"Oca. Apa kau benar benar tertarik dengan Presdir itu? Apa kamu tidak menyesal jika nanti, ternyata dia adalah seorang pria tua yang berperut buncit dan berkepala botak?"

"Buahaha.. aku tidak percaya. Rumor sudah beredar beberapa bulan yang lalu. Jika Presdir Galaxy Group adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan cool."

Melda yang juga bersemangat seperti Oca tapi tidak terlalu berlebihan segera menyambar. "Kesempatan untuk wawancara kali ini sangat sulit didapat oleh stasiun televisi manapun. Jadi kita harus melakukan dengan sempurna tanpa ada kesalahan sedikitpun. Apa kalian tau, ini adalah pertama kalinya Presdir Galaxy Group mau menunjukkan diri kepada Publik. Jika kita berhasil mewawancarainya, dan mengambil foto dirinya, maka Stasiun Televisi kita akan menjadi sorotan dunia, satu satunya Stasiun Televisi yang berhasil bertemu langsung dengan Presdir Galaxy Group!"

Oca dan Erina mengangguk.

Presdir Galaxy Group memang sangat misterius, tidak mau menunjukkan dirinya di hadapan publik. Perusahaan yang tiga tahun terakhir ini telah mengalahkan puluhan Perusahaan nomor teratas di dunia. Namun keberadaan beserta identitas pemiliknya belum juga terungkap.

Undangan wawancara dari segala majalah dan berbagai nama stasiun televisi selalu ditolak. Tapi yang aneh, beberapa hari yang lalu tiba tiba Perusahan Galaxy Group menelepon dan meminta Stasiun Televisi tempat Erina bekerja mengirim Reporternya untuk mewawancarai Presdir mereka secara langsung di kantornya. Bukankah itu suatu keberuntungan?

Kabar baik yang membuat Bos terkejut dan langsung melonjak Girang. Mengatakan jika Tuhan sedang membantu mereka.

"Sudah! Cepat bereskan apa yang perlu dibawa!" Erina memberi perintah. Oca pun pergi masuk untuk menyiapkan segala keperluan bersama Melda. Memeriksa kembali beberapa konten yang sudah mereka siapkan untuk wawancara dan tidak lupa membawa Fotographer.

Beberapa karyawan wanita mendekati Erina. Refi mengangkat pergelangan tangan kiri Erina, menatap seksama cincin yang ada di jari manis Erina lalu bertanya.

"Kau benar benar sudah menikah?"

Erina mengangguk, membiarkan mereka meneliti cincin di jarinya.

"Tapi bukan dengan dengan tunanganmu yang sudah memutuskan kamu itu kan?"

Erina hanya menggeleng.

"Apa ini cincin pernikahan kalian?"

Erina mengangguk.

"Berliannya sangat kecil. Ini pasti murahan." Satu temannya juga ikut memberi masukan.

"Iya. Ini hanya harga tiga jutaan." Erina menjawab apa adanya.

"Ya Ampun Erin. Seharusnya kau meminta cincin yang sedikit mahal. Karena pemberian seorang pria itu bisa mencerminkan bagaimana pria itu menghargai wanita."

"Eh, sudah lah. Ayo kita berangkat!" Melda berseru diujung sana. Melda tidak suka mendengar perkataan mereka yang tidak menjaga perasaan Erina.

Erina menarik tangannya dan menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu.

"Tidak usah di dengarkan perkataan mereka." Oca melirik Erina.

"Tidak mengapa. Aku juga belum tau berapa uang yang dimiliki suamiku. Dia mungkin hanya orang biasa,

Jadi aku sendiri yang memilih cincin ini."

"Kamu harus bersyukur. Sudah berhasil menikah." Sahut Melda, tapi kemudian dia bertanya dengan nada cukup serius.

"Tapi, apa kamu bahagia?'

Kali ini, Erina tidak menjawab pertanyaan Melda. Hanya diam dan melanjutkan langkahnya. Erina juga tidak tau harus menjawab bagaimana. Jika dibilang bahagia Erina belum merasakan apa apa. Mau mengatakan sedih, Erina juga merasa biasa saja.

Melda dan Oca juga tidak ingin bertanya lagi. Mereka seperti ingin menjaga perasaan Erina. Sampai mobil yang mereka pakai untuk pergi itu berhenti di sebuah Gedung yang menjulang tinggi dan begitu megah. Mereka bisa melihat Tulisan Galaxy Group yang terpampang begitu jelas.

Setelah menyapa seorang wanita bagian Resepsionis di lantai pertama, mereka disarankan untuk menaiki lift menuju lantai paling atas.

"Apakah kalian dari Stasiun Televisi XX?" Seorang staf khusus langsung menyapa mereka saat melihat Mereka keluar dari lift.

"Iya benar." Jawab Erina.

"Oh, mari silahkan. Presdir Albarez sudah menunggu kalian di dalam."

Albarez?

Erina sempat terkejut mendengar staf itu menyebutkan nama sang Presdir. Dia tidak menyangka jika Presdir Galaxy Group itu rupanya memiliki marga yang sama dengan suami Dadakannya.

Setelah berkata demikian, Staf itu mengantar mereka menuju Ruangan Presdir.

Ketika berjalan menuju ruangan, Oca terlihat begitu gugup, beberapa kali merapikan penampilan dan terus bertanya kepada Erina dan Melda dengan suara pelan, bahkan sampai mereka memasuki pintu.

"Apa rambutku berantakan? Apa lipstik ku masih terlihat? Bedakku bagaimana?"

Erina sangat kesal dibuatnya. "Itu bagus. Tidak ada yang berantakan. Sudah cukup!" Erina berbicara pada Oca, tapi matanya sudah memperhatikan semua sudut ruangan yang telah mereka masuki.

Erina tiba tiba saja terpaku pada kedua kakinya yang langsung terasa berat dan kaku. Dia bisa melihat dengan jelas, seorang pria yang berdiri di samping sebuah meja. Dia sampai tidak dapat mendengar Oca berbicara lagi.

Pandangan Oca dan Melda pun sama tertuju pada pria yang berdiri itu. Lalu Oca berbicara pelan walau Erina sudah tidak mendengar dengan jelas karena jantungnya tiba tiba berdegup sangat keras.

"Astaga… Itu Presdir Galaxy Group! Benarkan kata mereka. Dia sangat tampan dan keren!"

Belum sempat Erina berkata apapun, pria itu berjalan mendekati mereka. Dan Mereka pun tersentak.

"Oh My God… ! Dia benar benar sangat Tampan! Artis Korea pun kalah!" Pekik Melda yang langsung teredam oleh dekapan tangan Oca.

"Kecilkan suaramu."

"Eh, iya iya maaf. Maafkan aku. Aku terlalu terpesona."

Pria itu berhenti, "Silahkan duduk!" Menunjuk sebuah sofa di ujung sana.

Erina masih kaku di tempatnya. Terus menatap pria di depannya itu. Merasa seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang tiba tiba menyengatnya.

Pria itu juga menatap Erina dan tersenyum tipis padanya.

Fico Albarez!

Dia adalah Presdir Galaxy Group. Pria yang baru saja menikahi Erina kemarin.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B26750" di Goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B26750
Salin

Suami Dadakan Ku Ternyata Bos

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya