Bab 1
. Siapa Dia?
Dia yang baru saja datang bahkan belum sempat duduk itu menatap Agam dengan tanda tanya. Pria itu melepas cincin pertunangan mereka dan meletakkan begitu saja di hadapannya.
"Kamu pikir, aku akan menikahimu pelacur! Aku benar benar jijik padamu!" Agam berteriak keras hingga menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di Restoran itu.
"Apa maksudmu?" Erina masih belum mengerti maksud Alya, menoleh kepada Zaskia, Mita dan Meka yang juga berada satu meja dengan mereka.
"Selama ini aku tertipu oleh penampilan polos mu. Ternyata kau hanya menginginkan uangku saja kan? Kau bahkan rela melayani pria tua bangka hanya demi uang!" Agam merogoh Ponsel dan mengulik sebentar. Lalu menyodorkan dengan kasar di hadapan wajah Erina.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan Erina! Kamu tidak lebih dari seorang pelacur murahan! Kamu kira aku tidak tau hah! Kamu pikir aku bodoh!" Agam menggenggam rambut Erina dan menundukkan kepala gadis itu agar mencermati beberapa Foto di dalam Ponselnya.
Bagai disambar petir, mata Erina membelalak, lidahnya pun menjadi kelu.
"Bagaimana mungkin kamu mendapatkan ini semua?" Erina mendongak.
"Tuhan sudah menunjukan wajah aslimu Erina!" Mata Agam sudah menyalang.
Erina menggeleng kepalanya.
"Tidak Gam. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kau harus percaya padaku." Erina berusaha untuk menjelaskan. Tapi Agam sepertinya sudah tidak ingin peduli. Erina merasa putus asa dan kini beralih kepada dua teman wanitanya.
"Zaskia, Alya, Kalian tau yang sebenarnya. Kumohon bantu aku menjelaskan kepada Agam."
"Justru karena mereka tau , aku jadi tau yang sebenarnya!" Balas Agam dengan seringai yang begitu sinis.
"Jadi kalian yang memberitahu ini pada Agam?" Erina mencoba bertanya kepada kedua teman wanitanya yang sejak berada disini tadi diam tak bersuara dan hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Maafkan kami Erina. Walau bagaimanapun juga, Agam adalah teman kami juga. Mana mungkin kami mau bersekongkol denganmu untuk mencuranginya."
Jawaban salah satu dari mereka begitu membuat Erina tercengang. "Sekongkol? Jangan memperkeruh keadaan Zaskia. Kamu tau kalau ini bukan kesalahanku!" Protes Erina.
"Lalu salah siapa? Kamu ingin menyalahkan mereka? Kamu yang pelacur Erina!" Agam kembali mengumpat Erina.
"Gam. Dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan. Ini tidak seperti yang kalian tuduhkan." Iba Erina, dia masih berusaha untuk mempertahankan hubungannya dengan pria yang sudah melamarnya itu.
"Cukup! Semua sudah cukup! Tidak perlu ada yang dijelaskan lagi. Mulai detik ini memutuskan pertunangan kita. Aku, tidak akan pernah menikahimu!" Ucap Agam dengan begitu lantang. Bahkan semua orang yang memang sedari telah memperhatikan mereka ikut terkejut.
"Mana bisa seperti itu Gam. Kita akan menikah seminggu lagi. Undangan kita sudah disebar. Bagaimana dengan nasibku? Ku mohon jangan lakukan itu padaku." Air mata Erina sudah luruh tak terbendung, dia meraih lengan Agam dan memegangnya begitu erat.
"Ini adalah kesalahanmu. Tanggung sendiri!" Agam menarik tangannya lalu menendang kursi kemudian bergegas pergi begitu saja. Sebelumnya dia menoleh dan berkata begitu dingin.
"Jangan sekali kali kamu mendatangiku Erina. Aku tidak akan sudi melihatmu lagi!"
Ketiga temannya mengikuti pergerakan kaki Agam yang meninggalkan Erina seorang diri dengan meninggalkan umpatan kasar.
"Hancurlah dirimu sekarang Erina! Bermimpi lah untuk menjadi istri seorang Agam!"
"Pelacur murahan!"
Erina terduduk lemas di kursi. Sesenggukan menahan kehancuran hatinya. Dia tidak pernah menyangka, kejadian beberapa Minggu yang lalu, yang ia simpan rapat rapat itu bisa diketahui oleh Agam dan menghancurkan harapannya dengan sekejap saja.
Zaskia dan Alya, hanya mereka berdua yang melihat kejadian itu. Tapi mereka sudah berjanji untuk tidak memberitahu kepada siapapun. Kenapa mereka begitu tega?
Erina menangis tersedu tanpa peduli semua orang menatapnya dengan tanda tanya. Sebagian memandangnya dengan tatapan Kasihan, namun lebih banyak yang menatap jijik.
Sampai lama Erina menangis disitu, sampai dia merasa lelah. Sambil sesenggukan, ia mencoba untuk tegar. Lalu berdiri setelah meraih cincin di atas meja di hadapannya itu.
"Nona. Anda hendak kemana?" Tanya Manager Restoran.
"Memang kenapa?" Erina balik bertanya.
"Makanan ini bagaimana? Siapa yang harus membayar?"
Erina menoleh, menatap beberapa makanan dan minuman yang ada di atas meja. Bekasnya sudah dimakan.
Erina menatap kebingungan.
"Tapi saya tidak memesan."
"Teman teman anda tadi yang memesan dan mereka mengatakan jika anda yang akan membayar."
Erina menutup mulutnya. Detak jantung yang tadi mulai berangsur membaik kita terpompa lagi. Ini adalah restoran mewah. Mana bisa ia membayar? Erina berusaha untuk tenang.
"Berapa semuanya?" Erina mencoba bertanya, siapa tau saja uang yang ia miliki cukup, meskipun dia sudah yakin jika itu tidak mungkin. Karena dia sudah beberapa kali makan disini bersama Agam dan tau bagaimana tarif makanan restoran ini.
"Semuanya Sepuluh juta."
Erina terbelalak. "Sepuluh juta?" Mana Erina mempunyai uang sebanyak itu, mungkin hanya ada beberapa lembar uang berwarna biru saja di dalam tasnya.
"Tuan, bisakah aku membayar dengan kartu kredit?" Erina mencoba mencari jalan keluar.
" Maaf Nona tapi restoran kami tidak menerima kartu kredit."
Sekali Lagi Erina kebingungan. Apa yang harus ia lakukan. Benar benar malang nasibnya hari ini. Lalu ia melirik cincin yang ada di genggamannya.
"Bagaimana jika aku membayar dengan cincin ini?" Lalu melepas satu cincin lagi dari jari manisnya dan memberikan dua cincin itu kepada Manager.
Manager Restoran itu meneliti.
"Cincin ini hanya lah imitasi. Bagaimana mungkin Nona hendak membohongiku?" Lalu mengembalikan cincin itu kepada Erina.
Erina sungguh tercengang. Apa benar yang dikatakan Manager ini?
" Jika anda tidak bisa mengeluarkan uang cash sekarang juga, maka aku akan menahan Nona."
Erina benar benar dibuat kebingungan sekarang. "Tuan, ku mohon. Aku berjanji akan segera membayarnya. Tolong jangan menahan ku. Aku harus bekerja atau aku akan kehilangan pekerjaan ku." Iba Erina.
"Maaf Nona. Kami tidak bisa menolong. Ini sudah menjadi peraturan Restoran ini. Jika ada pelanggan yang tidak membayar, maka kami akan menahannya hingga anda bisa membayarnya! Anda bisa menghubungi orang tua atau saudara anda."
"Tapi Tuan."
"Maaf Nona." Manager itu sudah menarik kasar lengan Erina.
"Lepaskan dia! Aku yang akan membayar!" Suara itu dari sudut sana.
Baik Erina maupun Manager itu sama sama menoleh. Pria bertubuh tegap dan tinggi kekar itu menatap datar ke arah Mereka sambil mendekati. Terlihat merogoh saku di balik jaketnya dan mengeluarkan uang.
Manager Restoran itu melepaskan lengan Erina untuk menerima.
"Terimakasih Tuan." Ucap Manager itu langsung pergi.
Erina terpaku menatap wajah asing yang tidak ia kenal itu. Pria itu tidak menatapnya. Tapi Erina bisa melihat, Pria itu sangat tampan.
"Terimakasih sudah menolongku."
Pria itu tidak menjawab, hanya mengangguk dan merogoh sebuah kertas beserta pena. Dia nampak mencatat sesuatu. Erina sudah bisa menebak apa yang akan ditulis oleh pria itu.
Selesai menulis, pria itu memberikan kertas itu pada Erina.
Erina tercengang, dia mengira Pria itu akan menulis nomor rekening, tapi Ini adalah Nomor Handphone.
"Baik Tuan. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah memiliki uang untuk mengembalikan uangmu tadi." Ucap Erina.
Pria itu hanya mengangguk dan berlalu.
Erina hanya bisa menatap punggung Pria yang melangkah lebar itu dengan tanda tanya besar.
"Siapa dia?"
Tatapannya begitu dingin dan penuh aura. Seolah acuh tak acuh dengan keadaan sekeliling. Hal ini membuat Erina semakin tidak mengerti, kenapa orang seperti itu berinisiatif untuk membantunya? Padahal jelas jelas, semua orang disini sedang menatap jijik ke arah Erina.
Bab 2
. Masa Cuti yang sia-sia.
Erina sudah berada di dalam taksi yang melaju. Pikirannya belum berhenti. Matanya masih sesekali mengeluarkan air mata. Dia tidak lagi memikirkan Pria yang sudah memberinya uang Sepuluh juta tadi. Tapi Erina sedang memikirkan nasib dirinya kedepannya nanti. Bagaimana dia harus menghadapi ini semua? Agam sudah memutuskan pertunangan mereka. Lebih kejamnya, telah membatalkan pernikahan yang akan berlangsung satu Minggu lagi.
Ini bukan masalah malu. Erina tidak peduli jika dicibir keluarga atau teman temannya karena gagal menikah. Tapi Ibunya, dia harus menerima perjodohan dengan pria yang sudah memiliki beberapa istri jika dia tidak menikah dalam satu Minggu ini.
Erina menarik nafas berat. Menuruni taksi saat sudah berada di depan Rumah kontrakannya. Dia melangkah setengah malas. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur setelah sampai di dalam kamar. Matanya menerawang jauh, seolah menembus Plafon. Bagaimana mungkin dia harus kehilangan Pria yang dia cintai lagi? Setelah dulu dia pernah kehilangan cinta pertamanya. Agam telah menjadi tenaga baginya, kekuatan saat dulu dia pernah terpuruk dan lemah.
Tapi sekarang, kembali lagi Erina terpuruk. Ditinggal oleh sang kekasih yang dia percaya. Lebih parahnya, pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
"Rafael. Kenapa kau pergi, hanya karena tak mempercayaiku. Aku bukan wanita murahan!" Tiba tiba Erina berteriak.
Lalu sekarang Agam. Benarkah dia murahan?
Erina kembali menangis tersedu-sedu. Dia berpikir jika mungkin nasibnya sangat malang.
Rafael adalah cinta pertamanya, saat dia duduk di bangku SMA. Lalu kejadian yang memalukan, saat tiba tiba dia terbangun di kamar kakaknya dan beredar Foto mesranya bersama Suami kakaknya.
Sejak saat itu Rafael menghilang tanpa jejak. Saat dia terpuruk dan butuh seseorang, Agam datang membawa secercah harapan. Kembali membuat Erina bangkit. Agam selalu bersifat manis padanya. Tapi akhirnya, saat Erina kembali mengalami kesulitan.
Beberapa Minggu yang lalu, adiknya meminta bantuannya untuk mengantar pesanan ke Sebuah Apartemen. Erina adalah seorang Reporter salah satu Stasiun Televisi Swasta. Dia sangat sibuk dengan waktunya, tapi tetap menyisihkan waktu demi sang adik yang padahal sama sekali tidak memiliki kasih sayang padanya.
Tapi setelah mengetuk pintu Apartemen, Erina tidak lagi mengingat apapun. Dia tersadar dengan posisi tidur terlentang bersama pria tua di sampingnya dengan beberapa gepok uang di atas tubuhnya. Erina ketakutan dan langsung bangun hendak Keluar.
Zaskia dan Alya yang merupakan teman Agam sudah berdiri di ambang pintu.
"Aku tidak tau apa yang terjadi. Tolong aku." Erina menangis.
Zaskia Memberi pelukan hangat, Sementara Alya menepuk nepuk punggung Erina.
"Sudah sudah. Tidak ada yang melihat."
"Aku tidak mengerti yang terjadi." Erina kembali mengulangi perkataannya.
"Iya kami mengerti." Mereka membawa Erina keluar, sebelum Pria tua di dalam itu terbangun.
Erina mempercayai mereka tanpa berpikir kenapa mereka ada di Apartemen ini juga. Dan melupakan kejadian yang memang dia tidak pahami itu.
Erina bangkit dan menuju kamar mandi. Namun deringan Ponselnya yang begitu kuat membuatnya menahan langkah. Erina berbalik dan meriah Ponsel.
"Ada apa?" Setelah mengangkat panggilan dari Oca.
"Erin. Kamu harus ke kantor hari ini."
"Aku tidak bisa. Aku, aku sedang tidak enak badan."
"Baiklah. Kami yang akan ke sana."
"Jangan!" Belum selesai mencegah, Panggilan sudah dimatikan. Erina menunduk,menghela nafas berat. Dia sudah mengambil cuti dua Mingguan. Ia ingin menggunakan masa cuti ini untuk mempersiapkan diri menyambut hari pernikahannya. Tapi kenapa mereka menghubungi untuk urusan pekerjaan?
"Bukankah pernikahanku gagal? Jadi, cuti itu tidak perlu lagi." Erina mendengus, melanjutkan langkahnya ke kamar mandi setelah menaruh ponselnya.
Sore menjelang malam, Oca benar benar datang bersama Melda.
Kedua sahabat wanita sekaligus teman sesama kerjanya itu duduk di atas kasur Erina tepat di hadapannya.
Oca menatap Erina penuh tanda tanya. Sementara Melda menggenggam erat kedua tangan Erina.
"Kami sudah mendengar kabar." Ucap Oca.
Erina menelan ludah, tanpa menatap mereka berdua.
"Kamu yang sabar. Mungkin Agam, bukan laki laki yang tepat untukmu." Melda menepuk nepuk punggung telapak tangan Erina.
Erina menarik bibirnya dengan tipis.
"Aku tidak apa apa. Tapi bagaimana kalian bisa tau?"
"Kamu tidak tau ya? Di sosmed beredar kabar jika Agam telah membatalkan hari pernikahannya denganmu.Tepatnya di beranda pribadi Zaskia. Bahkan, aku di tag." Sahut Melda.
Erina menggeleng. Tidak seharusnya mereka sampai seperti itu. Erina kembali resah. Lagi lagi, bukan masalah malu. Tapi jika Ibu sampai mengetahui ini? Tamatlah riwayatnya.
"Tidak usah dipikirkan. Aku baik baik saja." Jawab Erina, walau hatinya terasa pedih teriris.
"Hem Baiklah. Lupakan yang tidak perlu diperjuangkan. Kita kembali pada pekerjaan saja. Bukankah itu sangat mengasikkan?" Melda mencoba menghibur.
"Ya kamu benar." Sahut Erina, masih dengan suara malas.
"Hei.. Erina. Semangat lah. Aku tahu kamu hanya korban disini. Karena kami percaya kamu seratus persen. Tidak seperti Teman teman Agam itu! Mungkin mereka yang menjebak mu!" Oca tiba tiba berkata seperti itu, membuat Erina mendongak dan otaknya berputar.
"Menjebak?"
"Ku pikir seperti itu. Karena aku tidak percaya dengan apa yang mereka katakan mengenai dirimu di status mereka. Aku tidak percaya. Karena aku jauh mengenalmu Erin!"
Saat itu, Zaskia dan Meka berada disana tanpa Alasan. Erina sendiri tidak sempat bertanya kepada mereka, kenapa mereka disana dan mau kemana.
Kepala Erina terasa pusing. Benarkah Mereka menjebak Erina? Sengaja ingin membuat hubungannya dengan Agam berakhir? Lalu untuk apa?
Yang menyuruh dia pergi kesana adalah Alika. Lalu apa hubungan Alika dengan Zaskia dan Alya?
Untuk sekarang, urusan ini sudah tidak penting lagi. Erina sedang sibuk mencari jalan keluar agar Ibu yang kemungkinan sudah mendengar kabar batalnya pernikahan dirinya, tidak akan menuntutnya.
"Apa kalian kesini hanya untuk kabar itu?" Erina bertanya kepada Oca dan Melda.
"Tentu saja tidak!" Jawab Melda.
"Kamu perlu mendengar kabar baik ini. Minggu depan, Bos memberi tugas baru untuk kita. Ah, apa kamu tau Erin? Tugas ini sangat mengasyikkan!" Melda menarik kedua pipi Gembul Erina.
"Apa itu?" Jawab Erina dengan sangat malas.
"Kita ditunjuk untuk mewawancarai Presdir Galaxy Group yang terkenal misterius itu!"
"Hem. Apanya yang mengasyikkan?"
"Menurut kabar, dia masih sangat muda dan sangat Tampan. Aku sangat penasaran. Dan Stasiun kita adalah satu satunya Stasiun yang diizinkan untuk mengadakan Wawancara dengannya. Apa itu bukan suatu keberuntungan?"
"Tapi aku Malas. Lagian, ini masih masa cuti ku!" Bantah Erina. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wujud Presdir Galaxy Group yang saat ini sedang Trending dibicarakan oleh seluruh media. Keberadaannya sangat dirahasiakan dari publik. Ini sangat membuat penasaran seluruh dunia.
"Tidak ada gunanya lagi kamu mengambil cuti! Untuk apa? Untuk meratapi Agam sialan itu?" Oca menahan lengan Erina yang ingin beranjak. Melda pun sama.
"Ayolah Erin! Kau Reporter unggulan Perusahaan! Mana Erina yang Tangguh?"
Erina sejenak terdiam, kemudian menoleh kepada kedua temannya.
"Kamu benar. Masa cuti ku ini sungguh sia sia. Baiklah. Aku akan pergi."
Kedua temannya tertawa senang mendengarnya.
"Kita akan pergi, bertemu dengan Presdir Galaxy Group yang sangat tampan!" Oca dan Melda melonjak girang.
Bab 3
. Aku Calon Suaminya.
"Tuan Fic. Apa kau tidak salah?" Jefri sedikit terbelalak, saat mengangkat sebuah kartu nama yang baru saja dilempar di atas meja.
"Aku ingin kau menyelidiki wanita itu lebih jauh. Siapa dia. Hem. Bukan kau, tapi kita."
Jefri mengangguk, sedikit merasa heran tapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Sepanjang hidupnya, yang ia tau, Presdir Fico Albarez tidak pernah peduli dengan wanita.
Tanpa menoleh, Fico Albarez berbicara. "Aku pernah melihatnya tanpa sengaja. Setelah itu, hati ku selalu berontak, untuk mengetahui latar belakang wanita itu."
Jefri langsung mengerti, dan segera mengangguk.
Ini adalah kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum Erina memasuki Restoran mahal menemui Agam. Pada hari itu, Fico Albarez yang sudah meminjamkan uang sepuluh juta kepada Erina.
Pagi ini Erina sudah berada di kantor. Beberapa rekan menatapnya dengan sedikit asing. Lalu terdengar berbisik bisik.
"Dia gagal menikah."
"Kasihan Sekali."
Mungkin mereka sudah mendengar kabar buruk tentang Erina.
Erina tidak ingin peduli, terus melangkah menuju ruangan kerjanya. Disana Oca dan Melda sudah menyambut dengan ceria. Oca menarik tangan Erina, Melda menarik kursi.
"Senang sekali, si tengil akhirnya bangun dari mimpi buruknya."
"Sialan!" Hanya itu jawaban dari mulut Erina.
"Erina Clarissa Handoyo." Bos memanggil Erina. Belum sempat dia berdiri, Bos sudah menghampiri, melempar sebuah map ke atas meja tepat di hadapannya. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Erina.
"Aku tau kau sedang gundah gulana. Tapi kau adalah Reporter andalan stasiun kita. Jadi, ku harap kau bisa profesional."
Erina menarik nafas berat, sambil membuka map.
"Aku tidak bisa berjanji untuk kali ini."
Bos tertawa. "Itu akibat Kau tidak percaya padaku! Tunangan mu itu adalah pria brengsek! Haha. Salahmu sendiri!"
"Bos. Jangan membicarakan itu." Bisik Oca.
"Eh, iya." Bos menutup mulutnya.
"Ah, baiklah Erina. Tidak ada penolakan. Atau karirmu akan berakhir." Bos melotot untuk memberi sedikit ancaman Erina.
"Tapi aku takut tidak fokus."
"Hahaha.." bos kembali tertawa menoleh pada Oca dan Melda.
"Kalian dengar? Wanita tengil yang biasa kuat ini sok lemah hanya gara gara cinta buta!"
"Jangan begitu Bos. Kau tidak pernah merasakan putus cinta sih. Itu sangat menyakitkan!" Protes Melda.
Bos melotot. "Kau mau menghinaku? Mentang mentang aku jomblo?"
"Hehe. Itu memang kenyataan. Kalau jomblo, mana bisa tau sakitnya putus cinta." Celetuk Oca.
"Kau ini!" Bos memukul ringan kepala Oca.
Erina terkikik kecil, mereka benar-benar menghiburnya. Tidak sia sia, pagi ini dia pergi ke Kantor.
"Ah.. Baiklah. Maafkan aku Erina. Lalu bagaimana? Kau bisa pergi?" Tanya Bos.
"Kenapa tidak yang lain saja? Yang lain, pasti menunggu kesempatan ini."
"Kau gila ya? Hanya kau yang diinginkan Galaxy Group. Kau mau membuat Stasiun Televisi kita ini bangkrut? Dengan mengirim orang lain selain yang mereka tunjuk? Galaxy Group mempunyai kekuasaan dan kekuatan penuh di bumi yang kita injak ini. Dengan mudahnya, mereka bisa menggulingkan Perusahaan kita ini kalau tidak tepat janji!"
Erina membelalak, "Kenapa aku yang ditunjuk? Apa alasannya?"
"Haha.. Karena kau adalah Reporter terhandal Stasiun kita. Sudahlah. Mereka tidak mau diganti, atau acara akan dibatalkan! Kita akan merugi Erina.. Ayolah. Lakukan sesuatu untuk mengangkat lebih tinggi kejayaan Stasiun kita ini." Bos merengek seperti anak kecil.
Erina akhinya mengangguk. " Baiklah. Aku akan usahakan."
"Begitu dong." Bos langsung bernafas lega.
"Kau tenang saja, mereka berdua sudah aku siapkan untuk meringankan pekerjaanmu." Bos tertawa lagi. Lalu beranjak pergi.
Sepeninggal Bos, Oca dan Melda melonjak girang.
"Kita akan bertemu dengan Presdir Galaxy Group! Ya Ampun.. Seperti mimpi!" Melda mencubit pipinya sendiri.
"Erin, ini adalah kesempatan emas. Sekian banyak Reporter disini, hanya kita yang diberi kesempatan ini." Oca mengguncang bahu Erina.
Erina hanya tersenyum saja. Tidak merasa sebahagia Mereka.
"Erin. Kenapa tidak senang? Kau masih memikirkan Agam? Dengan bertemu Presdir Galaxy Group, kau akan sedikit terhibur."
Erina masih tersenyum saja. Dalam hati, dia kembali sedih. Bukan Agam yang ia sedihkan tapi,
Baru saja Erina melamun, Ponselnya berdering. Nama pemanggil kali ini membuatnya jantungnya berdetak lebih cepat. Dia segera menyisih, untuk mengangkat telepon.
"Ibu."
"Aku sudah ada di luar kantor mu. Cepat keluar sebelum aku masuk!"
Erina langsung menoleh kepada kedua temannya yang menatapnya.
"Aku keluar dulu sebentar."
Mereka mengangguk. "Sabar ya Erin, pasti akan ada jalan untukmu."
Erina tidak menjawab, segera melangkah keluar untuk menemui Ibu.
Ibu sudah menunggu di luar gerbang dengan Alika.
"Ibu." Belum sempat Erina menyambut tangan ibu, ibu sudah menarik tangannya terlebih dahulu.
"Kami menunggumu nanti malam. Jika kau tidak datang ke rumah, maka aku akan menyeretmu dari Kontrakan mu itu!"
"Ibu, tapi.."
"Tidak ada tapi tapi. Aku sudah tau semuanya. Pernikahan mu gagal bukan? Jadi bagaimana? Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak. Atau kau mampu membayar hutang bapakmu hah!" Ibu mengancam.
Erina hanya menunduk. Benar saja, dia sudah tidak punya alasan untuk menolak keinginan wanita yang sudah dipanggilnya Ibu itu.
"Kita pulang Bu. Biarkan Erina berpikir bagaimana caranya dia untuk membalas Budi kepada keluarga kita." Ucap Alika. Sorot matanya begitu sinis kepada Erina.
"Kau dengar itu Erina. Berpikirlah, kau hidup dari siapa dan besar dari mana? Kau itu juga terlalu murahan. Jadi jangan sok jual mahal. Tidak akan ada pria manapun yang mau menikahimu. Seharusnya kau bersyukur, Tuan Danies mau melamarmu!" Ibu menunjuk dada Erina. Lalu melenggang pergi bersama Alika.
Erina ingin menangis rasanya. Tapi itu hanya buang energi saja. Apalagi banyak mata yang sedang memperhatikannya.
Erina memilih meraih Ponselnya. Mengirim pesan singkat untuk Oca.
"Aku pulang. Sampaikan pada Bos!"
___
Sampai malam hari, Erina tidak menuruni kasurnya. Pikirannya sungguh kacau. Membolak-balik tubuhnya.
Ketukan pintu terdengar, kembali membuat jantung Erina berdesir.
Belum sempat dia beranjak, suara teriakan ibu sudah terdengar nyaring.
Dengan hati penuh gelisah, Erina terpaksa turun untuk membukakan pintu.
"Dasar Anak tidak tahu diri!" Ibu langsung menarik kasar lengan Erina dibantu oleh Alika.
"Ayo ikut!"
"Ibu, aku tidak mau!" Erina mempertahankan dirinya. Di ujung sana sudah ada seorang pria menunggu di sisi sebuah Mobil bersama dua Pengawal Pria.
Ibu menoleh pada Pria itu dan memanggil. "Tuan Danies. Tolong bantu. Bawa saja dia!"
Pria yang dipanggil itu langsung mendekat bersama pengawalnya. Menyeret paksa Erina.
"Lepas! Lepaskan aku!" Erina memberontak.
"Ibu! Tolong aku. Aku tidak mau ikut dia!" Tapi mereka tidak peduli. Ibu hanya tersenyum senang melihat Erina di seret. Alika pun sama saja.
Lalu satu orang membuka pintu belakang mobil.
"Lepaskan dia!" Tiba tiba seorang pria dari dalam sebuah mobil berteriak. Semua orang menoleh.
Pria itu menuruni mobil bersama seseorang yang lain.
"Jangan ganggu dia!" Tiba tiba Pria itu menarik tangan Erina dan membawanya dekat dengannya.
"Kau siapa? Berani sekali! Aku ibunya! Jangan ikut campur urusan kami orang asing!" Ibu menunjuk ke arah Pria itu.
Dengan wajah datar, pria itu menoleh pada Erina. Tentu Erina masih mengenali pria itu dengan baik. Walau tidak sempat mengenal siapa namanya.
"Dia tanggung jawabku sekarang. Karena aku, calon suaminya. Jadi semua urusannya adalah urusanku juga."
Semua orang terkejut tak terkecuali Erina. Apa apaan ini?
Belum sempat Erina protes, Pria itu sudah kembali berbicara, tapi kali ini pada seorang pria yang datang bersamanya tadi.
"Jefri. Bayar semua hutang Ayah Erina."
Kembali mereka dibuat terkejut. Belum hilang rasa terkejut mereka, Pria itu kembali berbicara pada pria di sebelahnya. "Bayar dua kali lipat."
Jefri segera mengangguk, merogoh cek kosong dan pena dari balik jasnya. Lalu menulis nominal yang bahkan tidak ada yang menyebutkan berapa.
Jefri melempar cek itu ke arah Danies yang langsung menangkapnya. Matanya seketika membelalak, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nominal itu tertera dengan jelas dua kali lipat dari hutang Ayah Erina.
"Jangan pernah mengganggu dia lagi. Karena mulai besok, Erina akan menikah denganku. Kalian paham? Atau kalian akan berurusan denganku."
"Ayo masuk!" Pria itu menarik tangan Erina untuk kembali ke kontrakannya.
Jefri tidak ikut serta, dia sengaja ingin memastikan mereka semua pergi dari kontrakan Erina.