Bab 3
. Aku Calon Suaminya.
"Tuan Fic. Apa kau tidak salah?" Jefri sedikit terbelalak, saat mengangkat sebuah kartu nama yang baru saja dilempar di atas meja.
"Aku ingin kau menyelidiki wanita itu lebih jauh. Siapa dia. Hem. Bukan kau, tapi kita."
Jefri mengangguk, sedikit merasa heran tapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Sepanjang hidupnya, yang ia tau, Presdir Fico Albarez tidak pernah peduli dengan wanita.
Tanpa menoleh, Fico Albarez berbicara. "Aku pernah melihatnya tanpa sengaja. Setelah itu, hati ku selalu berontak, untuk mengetahui latar belakang wanita itu."
Jefri langsung mengerti, dan segera mengangguk.
Ini adalah kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum Erina memasuki Restoran mahal menemui Agam. Pada hari itu, Fico Albarez yang sudah meminjamkan uang sepuluh juta kepada Erina.
Pagi ini Erina sudah berada di kantor. Beberapa rekan menatapnya dengan sedikit asing. Lalu terdengar berbisik bisik.
"Dia gagal menikah."
"Kasihan Sekali."
Mungkin mereka sudah mendengar kabar buruk tentang Erina.
Erina tidak ingin peduli, terus melangkah menuju ruangan kerjanya. Disana Oca dan Melda sudah menyambut dengan ceria. Oca menarik tangan Erina, Melda menarik kursi.
"Senang sekali, si tengil akhirnya bangun dari mimpi buruknya."
"Sialan!" Hanya itu jawaban dari mulut Erina.
"Erina Clarissa Handoyo." Bos memanggil Erina. Belum sempat dia berdiri, Bos sudah menghampiri, melempar sebuah map ke atas meja tepat di hadapannya. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Erina.
"Aku tau kau sedang gundah gulana. Tapi kau adalah Reporter andalan stasiun kita. Jadi, ku harap kau bisa profesional."
Erina menarik nafas berat, sambil membuka map.
"Aku tidak bisa berjanji untuk kali ini."
Bos tertawa. "Itu akibat Kau tidak percaya padaku! Tunangan mu itu adalah pria brengsek! Haha. Salahmu sendiri!"
"Bos. Jangan membicarakan itu." Bisik Oca.
"Eh, iya." Bos menutup mulutnya.
"Ah, baiklah Erina. Tidak ada penolakan. Atau karirmu akan berakhir." Bos melotot untuk memberi sedikit ancaman Erina.
"Tapi aku takut tidak fokus."
"Hahaha.." bos kembali tertawa menoleh pada Oca dan Melda.
"Kalian dengar? Wanita tengil yang biasa kuat ini sok lemah hanya gara gara cinta buta!"
"Jangan begitu Bos. Kau tidak pernah merasakan putus cinta sih. Itu sangat menyakitkan!" Protes Melda.
Bos melotot. "Kau mau menghinaku? Mentang mentang aku jomblo?"
"Hehe. Itu memang kenyataan. Kalau jomblo, mana bisa tau sakitnya putus cinta." Celetuk Oca.
"Kau ini!" Bos memukul ringan kepala Oca.
Erina terkikik kecil, mereka benar-benar menghiburnya. Tidak sia sia, pagi ini dia pergi ke Kantor.
"Ah.. Baiklah. Maafkan aku Erina. Lalu bagaimana? Kau bisa pergi?" Tanya Bos.
"Kenapa tidak yang lain saja? Yang lain, pasti menunggu kesempatan ini."
"Kau gila ya? Hanya kau yang diinginkan Galaxy Group. Kau mau membuat Stasiun Televisi kita ini bangkrut? Dengan mengirim orang lain selain yang mereka tunjuk? Galaxy Group mempunyai kekuasaan dan kekuatan penuh di bumi yang kita injak ini. Dengan mudahnya, mereka bisa menggulingkan Perusahaan kita ini kalau tidak tepat janji!"
Erina membelalak, "Kenapa aku yang ditunjuk? Apa alasannya?"
"Haha.. Karena kau adalah Reporter terhandal Stasiun kita. Sudahlah. Mereka tidak mau diganti, atau acara akan dibatalkan! Kita akan merugi Erina.. Ayolah. Lakukan sesuatu untuk mengangkat lebih tinggi kejayaan Stasiun kita ini." Bos merengek seperti anak kecil.
Erina akhinya mengangguk. " Baiklah. Aku akan usahakan."
"Begitu dong." Bos langsung bernafas lega.
"Kau tenang saja, mereka berdua sudah aku siapkan untuk meringankan pekerjaanmu." Bos tertawa lagi. Lalu beranjak pergi.
Sepeninggal Bos, Oca dan Melda melonjak girang.
"Kita akan bertemu dengan Presdir Galaxy Group! Ya Ampun.. Seperti mimpi!" Melda mencubit pipinya sendiri.
"Erin, ini adalah kesempatan emas. Sekian banyak Reporter disini, hanya kita yang diberi kesempatan ini." Oca mengguncang bahu Erina.
Erina hanya tersenyum saja. Tidak merasa sebahagia Mereka.
"Erin. Kenapa tidak senang? Kau masih memikirkan Agam? Dengan bertemu Presdir Galaxy Group, kau akan sedikit terhibur."
Erina masih tersenyum saja. Dalam hati, dia kembali sedih. Bukan Agam yang ia sedihkan tapi,
Baru saja Erina melamun, Ponselnya berdering. Nama pemanggil kali ini membuatnya jantungnya berdetak lebih cepat. Dia segera menyisih, untuk mengangkat telepon.
"Ibu."
"Aku sudah ada di luar kantor mu. Cepat keluar sebelum aku masuk!"
Erina langsung menoleh kepada kedua temannya yang menatapnya.
"Aku keluar dulu sebentar."
Mereka mengangguk. "Sabar ya Erin, pasti akan ada jalan untukmu."
Erina tidak menjawab, segera melangkah keluar untuk menemui Ibu.
Ibu sudah menunggu di luar gerbang dengan Alika.
"Ibu." Belum sempat Erina menyambut tangan ibu, ibu sudah menarik tangannya terlebih dahulu.
"Kami menunggumu nanti malam. Jika kau tidak datang ke rumah, maka aku akan menyeretmu dari Kontrakan mu itu!"
"Ibu, tapi.."
"Tidak ada tapi tapi. Aku sudah tau semuanya. Pernikahan mu gagal bukan? Jadi bagaimana? Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak. Atau kau mampu membayar hutang bapakmu hah!" Ibu mengancam.
Erina hanya menunduk. Benar saja, dia sudah tidak punya alasan untuk menolak keinginan wanita yang sudah dipanggilnya Ibu itu.
"Kita pulang Bu. Biarkan Erina berpikir bagaimana caranya dia untuk membalas Budi kepada keluarga kita." Ucap Alika. Sorot matanya begitu sinis kepada Erina.
"Kau dengar itu Erina. Berpikirlah, kau hidup dari siapa dan besar dari mana? Kau itu juga terlalu murahan. Jadi jangan sok jual mahal. Tidak akan ada pria manapun yang mau menikahimu. Seharusnya kau bersyukur, Tuan Danies mau melamarmu!" Ibu menunjuk dada Erina. Lalu melenggang pergi bersama Alika.
Erina ingin menangis rasanya. Tapi itu hanya buang energi saja. Apalagi banyak mata yang sedang memperhatikannya.
Erina memilih meraih Ponselnya. Mengirim pesan singkat untuk Oca.
"Aku pulang. Sampaikan pada Bos!"
___
Sampai malam hari, Erina tidak menuruni kasurnya. Pikirannya sungguh kacau. Membolak-balik tubuhnya.
Ketukan pintu terdengar, kembali membuat jantung Erina berdesir.
Belum sempat dia beranjak, suara teriakan ibu sudah terdengar nyaring.
Dengan hati penuh gelisah, Erina terpaksa turun untuk membukakan pintu.
"Dasar Anak tidak tahu diri!" Ibu langsung menarik kasar lengan Erina dibantu oleh Alika.
"Ayo ikut!"
"Ibu, aku tidak mau!" Erina mempertahankan dirinya. Di ujung sana sudah ada seorang pria menunggu di sisi sebuah Mobil bersama dua Pengawal Pria.
Ibu menoleh pada Pria itu dan memanggil. "Tuan Danies. Tolong bantu. Bawa saja dia!"
Pria yang dipanggil itu langsung mendekat bersama pengawalnya. Menyeret paksa Erina.
"Lepas! Lepaskan aku!" Erina memberontak.
"Ibu! Tolong aku. Aku tidak mau ikut dia!" Tapi mereka tidak peduli. Ibu hanya tersenyum senang melihat Erina di seret. Alika pun sama saja.
Lalu satu orang membuka pintu belakang mobil.
"Lepaskan dia!" Tiba tiba seorang pria dari dalam sebuah mobil berteriak. Semua orang menoleh.
Pria itu menuruni mobil bersama seseorang yang lain.
"Jangan ganggu dia!" Tiba tiba Pria itu menarik tangan Erina dan membawanya dekat dengannya.
"Kau siapa? Berani sekali! Aku ibunya! Jangan ikut campur urusan kami orang asing!" Ibu menunjuk ke arah Pria itu.
Dengan wajah datar, pria itu menoleh pada Erina. Tentu Erina masih mengenali pria itu dengan baik. Walau tidak sempat mengenal siapa namanya.
"Dia tanggung jawabku sekarang. Karena aku, calon suaminya. Jadi semua urusannya adalah urusanku juga."
Semua orang terkejut tak terkecuali Erina. Apa apaan ini?
Belum sempat Erina protes, Pria itu sudah kembali berbicara, tapi kali ini pada seorang pria yang datang bersamanya tadi.
"Jefri. Bayar semua hutang Ayah Erina."
Kembali mereka dibuat terkejut. Belum hilang rasa terkejut mereka, Pria itu kembali berbicara pada pria di sebelahnya. "Bayar dua kali lipat."
Jefri segera mengangguk, merogoh cek kosong dan pena dari balik jasnya. Lalu menulis nominal yang bahkan tidak ada yang menyebutkan berapa.
Jefri melempar cek itu ke arah Danies yang langsung menangkapnya. Matanya seketika membelalak, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nominal itu tertera dengan jelas dua kali lipat dari hutang Ayah Erina.
"Jangan pernah mengganggu dia lagi. Karena mulai besok, Erina akan menikah denganku. Kalian paham? Atau kalian akan berurusan denganku."
"Ayo masuk!" Pria itu menarik tangan Erina untuk kembali ke kontrakannya.
Jefri tidak ikut serta, dia sengaja ingin memastikan mereka semua pergi dari kontrakan Erina.
Bab 4
. Menikah.
Erina menurut saat Fic mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakannya sendiri. Fic ikut masuk, kemudian duduk di Sofa tanpa disuruh.
Erina menatap Pria dengan wajah datar itu, lalu ikut duduk di hadapannya. Mereka terdiam cukup lama. Erina merasa aneh, kenapa pria ini bisa tau tempat tinggalnya. Dan untuk apa dia kesini? Apa untuk menagih uangnya? Tapi kenapa malah kembali mengeluarkan uang. Uang yang begitu besar. Berkali kali lipat dari yang waktu ini.
Erina kemudian membuka suara.
"Tuan, Terima Kasih sudah menolongku kembali."
Fico Albarez hanya mengangguk tanpa melihatnya.
"Tapi, bagaimana caraku untuk mengembalikan uangmu. Itu terlalu banyak."
Fic menoleh sebentar setelah itu membuang ratapannya kembali.
"Menikahlah denganku besok. Maka kau tidak perlu membayarnya."
Seketika Erina terperangah. "Menikah?" Dia seperti tidak percaya.
"Kenapa?" Sekarang Fic menoleh untuk menatapnya.
"Bukankah kau membutuhkan pernikahan? Kau gagal menikah bukan? Seharusnya kau menikah beberapa hari lagi."
Erina menelan ludah. Darimana dia tau?
"Memang benar. Tapi, apa Tuan juga punya masalah sepertiku?"
Fic tersenyum miring. "Aku tidak punya masalah seperti mu."
"Lalu kenapa Tuan ingin menikah secara tiba tiba?"
"Karena aku butuh istri. Aku tidak punya Tunangan ataupun kekasih." Jawab singkat Fic.
"Tapi, tapi kenapa memilih diriku? Apa karena aku mempunyai hutang padamu?" Erina semakin penasaran.
Fic kembali memiringkan senyumnya. "Aku memilihmu, karena aku sudah mengenalmu."
"Mengenal ku?" Erina Sekarang terlihat kebingungan.
Fic mengangguk. "Aku tidak bisa mengambil sembarangan wanita."
"Sembarang wanita? Lalu aku?"
"Sudah lah." Fic bangun dari duduknya. Merogoh sesuatu dari balik jaketnya.
"Besok, datanglah ke gedung ini tepat jam Sepuluh. Aku tidak mau kamu datang terlambat."
Fic melangkah keluar meninggalkan Erina. Gadis itu hanya bisa menatap punggung Pria itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu mobil.
"Argh… Siapa sih dia? Kenapa aneh?"
Erina mengerang, lalu menutup pintu dan berlari ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar. Matanya menatap langit langit. Pikirannya runyam.
Pria itu tiba tiba datang dengan sendirinya, memberinya bantuan disaat yang tepat. Seharusnya Erina senang karena telah terbebas dari perjodohan Sang Ibu. Setidaknya dia selamat dari Tuan Danies yang terkenal sebagai penjahat kelamin.
Tapi kenapa Pria itu tiba tiba mengajaknya Menikah? Bahkan mereka baru bertemu dua kali saja. Ada masalah apa sebenarnya? Tidak mungkin tidak ada masalah!
"Dia sudah mengenalku? Dan tidak bisa sembarangan memilih wanita? Maksudnya apa? Dia bahkan belum tau buruknya masa laluku."
Semalaman Erina tidak bisa tidur memikirkan itu. Bagaimana mungkin dia akan menikah dadakan seperti itu, dengan Pria yang tidak mencintainya. Dia juga tidak mencintai pria itu. Tapi, bukankah dia juga membutuhkan pernikahan ini? Meskipun dia sudah terbebas dari Tuan Daniel sekarang, tapi dia tetap membutuhkan seorang Pria yang bersedia menikahinya.
Bukankah itu bagus? Dia bisa menutup aibnya. Belum lagi masalah hutang kepada pria itu. Sekarang semakin besar. Jika dia tidak bersedia menikah dengan pria itu, sudah pasti dia harus membayar seluruh uang yang sudah dikeluarkan pria itu. Dan itu jumlahnya sangat banyak. Erina tidak bisa membayangkan, berapa tahun dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu.
Lalu dia bangun, kemudian mengambil tasnya. Menghitung berapa banyak uang yang dia miliki saat ini. "Sepuluh juta ini hanya cukup untuk membayar hutangku yang pertama." Tapi Erina berpikir, setidaknya dia bisa sedikit mengurangi hutangnya.
Erina akhirnya terlelap beberapa jam. Dia terbangun saat Alarm terus saja berdering keras.
"Ya Tuhan!" Dia memekik ketika menyadari jika saat ini sudah jam Delapan.
Erina beranjak ke kamar mandi dan secepat mungkin bersiap siap. Dia bukan akan pergi ke Kantor, melainkan pergi ke Gedung yang tertulis di kertas yang sekarang sedang dia genggam.
Huh! Erina menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Perasaannya begitu tegang dan tak karuan. Dia menuruni Taksi yang sudah berhenti di depan Gedung yang dia tuju.
Ini bukan lah Gedung menurut nya tapi lebih tepatnya adalah Biro Urusan Sipil. Begitu nampak sepi seperti tidak ada orang.
Erina turun dan berjalan masuk dengan sedikit ragu. Jefri sudah menyambutnya di ujung sana. Berlari kecil menghampiri Erina.
"Mari silahkan Nona Erina. Tuan Fic sudah menunggumu."
Fic? Apa itu nama Pria itu? Belum sempat bertanya, Jefri sudah melangkah dahulu. Terpaksa Erina mengikuti langkahnya.
Erina bisa melihat punggung seorang pria yang mengenakan jas putih. Pria itu tidak menoleh ke arah mereka datang tapi sepertinya sudah tau siapa yang datang.
"Duduklah." Suaranya terdengar begitu datar. Erina menurut saja.
"Apa kau sudah siap?" Fic bertanya, menoleh sebentar pada Erina.
"Sebenarnya aku tidak siap."
"Kenapa? Katakan apa alasanmu."
"Bagaimana mungkin aku akan siap, jika menikah dengan pria yang belum aku kenal." Jawab Erina.
Terdengar Fic membuang nafas. "Aku ingin pernikahan ini bukan sekedar pernikahan. Bukan hitam diatas putih. Bukan pernikahan kontrak atau sejenisnya. Jadi berpikirlah dua kali sebelum Pendeta datang."
Erina kembali menelan ludah. Dia sudah tidak punya jawaban lagi. Terdiam dengan waktu yang cukup lama. Hingga Pendeta dan beberapa orang datang.
Fic kembali menoleh padanya. "Mereka sudah datang. Bagaimana? Jika kau tidak mau, itu tidak masalah. Aku bisa membatalkannya."
Dengan begitu banyak pikiran dan pertanyaan dalam hatinya, Erina menggigit bibir bawahnya untuk menahan keraguan terakhir dihatinya. Dan tiba tiba dia mendongakkan kepalanya. "Iya. Aku setuju."
Hampir satu jam mereka berada di dalam sana. Erina terlihat keluar dari Biro itu dengan membawa Sertifikat Pernikahannya. Dia sungguh merasa seperti bermimpi. Dia sama sekali tidak menyangka akan menikah secara Mendadak seperti ini. Apalagi dia bertemu dengan pria itu secara tidak sengaja.
Erina menunduk untuk melihat Sertifikat Pernikahannya, dia hanya bisa melihat Foto dirinya dan Pria tadi. Pria dalam foto itu terlihat acuh tak acuh namun tampak sangat keren. Sedangkan dirinya begitu jelas terlihat gugup dan berpenampilan sederhana.
Terdapat nama mereka di bawah Foto itu. Erina tanpa sadar tersenyum. Merasa sangat konyol. Dia baru mengetahui nama suami yang baru saja menikahinya itu.
Fico Albarez. Nama yang Cool dan Keren. Cocok sekali dengan orangnya. Dingin dan datar serta tampak temperamen.
Selain nama dan nomor ponsel, Erina sama sekali tidak mengetahui apapun tentang suami Dadakannya itu. Dia tiba tiba sadar , kenapa dia sangat ceroboh?
Meskipun Pria itu tampak seperti orang biasa, tapi bagaimana kalau dia orang jahat? Erina kembali menggigit bibirnya.
Saat Erina merasakan penyesalan, sebuah tangan menjulur ke hadapannya. Sebuah kartu terselip di jari jemari kekar itu.
"Nona Erina. Setahuku, jika seseorang menikah, akan mengharapkan cincin pernikahan. Maafkan aku yang tidak sempat mencarinya untuk kita. Kau bisa memilihnya sendiri, sesuai dengan keinginan mu."
Erina mendongak, menatap kedua bola mata hitam pekat dengan putih yang begitu jernih.
"Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan itu." Erina mendorong tangan Fic.
Dia telah lama melewati masa masa yang begitu sulit. Dia tidak lagi mengharapkan Keromantisan. Meskipun dihadapannya saat ini adalah Suaminya secara formal, tapi Erina belum ingin kembali berharap.
"Cincin itu tetap kita perlukan, untuk tanda bukti jika kita ini adalah pasangan." Fic meraih pergelangan tangan Erina dan meletakkan kartu itu di telapak tangan Erina.
Bab 5
. Kartu Hitam Kaum Elit.
Ketika meletakkan Kartu itu di telapak tangan Erina, kulit mereka bersentuhan. Erina bisa merasakan suhu badan Fico lebih tinggi dari suhu badan dirinya. Rasanya seperti menembus kulitnya, membuat Erina sedikit kehilangan akal.
"Baiklah kalau begitu." Biar bagaimanapun juga Erina berpikir, jika mereka sudah menjadi pasangan, Pasangan pengantin baru yang seharusnya bahagia bukan? Erina tidak ingin merusak niat baik Fico hanya karena hal kecil seperti ini. Dia akhirnya menerima Kartu itu.
"Aku masih ada kerjaan sore ini. Maafkan aku tidak bisa mengantarmu." Ucap Fic dengan nada yang masih terdengar datar.
"Oh. Tidak mengapa. " Sahut Erina. Dia juga tidak berharap, jika pria itu benar-benar akan mencintainya atau menganggapnya seorang istri yang sesungguhnya. Jadi dia tidak merasa kecewa sedikitpun.
"Oh iya. Mengenai Alamat Rumahku, em.." Fic nampak berpikir sebentar.
Lalu melanjutkan bicaranya.
"Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menghubungimu. Beri saja aku nomor ponselmu."
Erina tiba-tiba merasa gugup dan cepat berkata. "Itu tidak terlalu penting, jadi sebaiknya tidak usah terburu-buru."
Seharusnya, dua orang yang sudah menikah memang sudah sepantasnya tinggal bersama. Tetapi mengenai hal ini, Erina sungguh belum siap. Dia belum bisa membayangkan jika harus tinggal satu atap dengan pria asing.
Fic menaikkan alisnya, ucapan Erina terdengar seperti penolakan. Dia membuang nafas kasar. Erina yang menyadari itu langsung merasa bersalah.
Beruntung Fic bukanlah tipe Pria yang banyak bicara. Dia merapikan Jasnya.
"Baiklah. Jika tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, aku akan pergi duluan."
Erina hanya mengangguk, menatap Pria itu pergi dengan melangkah Pelan. Erina juga bersiap menunggu taksi untuk kembali ke kontrakannya. Tetapi ketika dia membalikkan badan berlawanan dengan Arah Fic berjalan, tiba tiba dia teringat awal tujuannya datang menemui Fic tadi. Yaitu untuk melunasi hutang pertamanya.
Erina dengan cepat berteriak memanggil Fic dan berlari mengejar.
"Fic. Tunggu dulu!" Mendengar panggilan Erina, Fic terpaku. Selain Mentari, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Fic saja. Fic tertegun sesaat sebelum akhirnya menoleh. Erina menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
"Aku lupa. Jika membawa uang sepuluh juta milikmu yang tempo lalu kau pinjamkan padaku." Erina merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah Amplop coklat.
"Terimalah. Setidaknya, aku bisa sedikit mengurangi hutangku padamu. Selebihnya, aku tidak bisa menjanjikan kapan akan membayarnya." Erina diam di hadapan Fic, mengulurkan amplop itu.
Fic tertawa, membuat Erina terkejut. Dua kali pertemuan, baru ini dia mendengar Pria itu tertawa. Wajahnya yang tampan serta penampilannya yang keren, jelas begitu terlihat dimata Erina. Hanya sayangnya, wajah dingin penuh acuh tak acuh itu masih saja terlihat. Tapi kali ini, karena senyuman lebarnya itu, membuat Erina terpana.
"Kamu masih ingin membayarnya?" Fic bertanya, sekarang terdengar tidak sedingin sebelumnya.
"Apa yang harus ku kembalikan, ya harus ku kembalikan." Erina mengulurkan kembali Amplop tersebut.
"Tapi itu tidak perlu lagi." Fic tetap tidak mengulurkan tangannya.
Mungkin karena tadi berlari terburu buru, wajah Erina terlihat memerah. Keringat mengalir ke rahangnya dan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ikut terbawa keringat yang mengalir menutupi pipinya.
Untuk sesaat, Fic menjadi sedikit peka, mengulurkan tangannya hendak merapikan rambut itu. Tapi tiba-tiba dia menarik tangannya kembali dan kembali menjadi dingin.
"Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Bukankah aku juga sudah mengatakan, jika kau menikah denganku maka tidak perlu membayar uang itu. Suami istri, tidak boleh perhitungan."
Setelah selesai berbicara Fic langsung pergi tanpa memberi kesempatan Erina untuk bicara kembali. Erina hanya terpaku. Pria dingin itu, kenapa terlihat begitu keren?
"Benar juga, dia suamiku sekarang." Entah mau senang atau sedih, Erina sendiri tidak bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Dia kemudian menyetop Taksi saat melihatnya.
"Kemana Nona?"
"Ke Toko Perhiasan." Beruntung Erina masih mengingat pesan Fic untuk mencari cincin pernikahan mereka. Jadi dia memutuskan untuk mencari cincin terlebih dahulu sebelum pulang.
Taksi sudah berhenti, Erina turun setelah membayar dan berjalan menuju Toko Perhiasan yang ada di dalam sebuah Mall.
Seorang pemilik toko dengan ramah menyapa.
"Apa yang ingin anda cari Nona. Mari saya bantu."
"Aku sedang mencari cincin pernikahan."
"Oh. Silahkan. Disini banyak pilihan. Dari yang kelas Elit sampai yang kelas menengah ke bawah." Pelayan menunjukan satu persatu pasangan cincin.
Erina memilih yang paling sederhana. Berharga sekitar tiga jutaan. Dia berpikir tidak perlu mencari perhiasan yang begitu mahal.
"Yang ini saja."
"Baiklah. Tidak mengapa. Apapun pilihan Nona, semoga pernikahan kalian langgeng." Pemilik toko segera menyuruh Pelayan membungkus Cincin itu dengan kotak perhiasan.
"Bayar pakai ini." Erina mengeluarkan kartu dari Fic itu dan menyodorkan.
Pemilik Toko itu menerima dengan tercengang. Membolak balikkan kartu dengan sesekali menatap Erina.
"Anda serius Nona? Ingin mengambil cincin itu?"
"Iya. Kenapa? Apa kartunya bermasalah."
"Oh. Tidak tidak, tunggu sebentar." Pemilik toko sempat heran saja, ini adalah kartu hitam milik kaum Elit. Mungkin diKota ini hanya beberapa orang yang memilikinya dan itupun hanya Pengusaha yang sudah memiliki Perusahaan besar mendunia.
Sambil menggunakan Kartu itu, pemilik toko sesekali melirik Erina yang sedang menunggu.
"Apa anda istri atau Putri seorang konglomerat?" Tanya Pemilik toko sambil mengembalikan kartu kepada Erina.
"Tidak?" Erina menggeleng.
"Suamiku hanya orang biasa. Kami baru saja menikah, dan dia memintaku mencari cincin pernikahan karena dia sangat sibuk. Dia memberiku kartu ini."
"Oh baiklah Nona. Terimakasih sudah berkunjung ke Toko kami. Lain kali boleh lah kemari lagi dan ajak suami Nona. Siapa tau saja, suami Nona ingin mencarikan perhiasan untukmu." Pemilik Toko mengangguk hormat, berpikir jika Wanita itu pasti hanya belum tau Bisnis suaminya.
Erina melangkah pergi meninggalkan toko, mengamati satu cincin yang sudah terselip di jari manisnya. Kembali dia menarik nafas berat. Tapi segera menguasai hatinya dan menyetop Taksi. Sebelum pulang, dia ke kantor terlebih dahulu untuk menanyakan perihal hari pertemuan dengan Presdir Galaxy Group. Karena tadi dia sempat membaca pesan dari Oca jika mereka memajukan jadwal.
Baru saja melangkah masuk ke ruangan kerja, Oca sudah berlari menyerbunya.
"Erin. Jadwal pertemuan kita dengan Presdir Galaxy Group adalah besok." Oca penuh semangat kegembiraan.
"Tidak mengapa." Jawab datar Erina. Dia duduk melipat tangannya di atas meja. Itu membuat Oca menangkap cincin yang ada di Jarinya.
"Ini seperti cincin pernikahan?"
Erina langsung menutup jarinya dengan tangannya yang sebelah. Wajahnya memerah.
"Erin? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Oca bertanya penuh selidik.
Erina mengangguk saja, tidak ingin membohongi temannya. Bukankah ini baik untuk dirinya juga? Jika semua orang tau kalau dia sudah menikah.
"Aku baru saja menikah."
"Apa? Kau bercanda?" Oca terbelalak seperti tidak percaya.
"Tidak. Aku tidak bercanda. Tapi benar." Erina memperlihatkan Sertifikat Pernikahannya kepada Oca. Hanya sebatas memperlihatkan saja lalu segera pergi.
Oca berlari untuk menyusul. "Kau serius?"
Erina hanya mengangguk saja lalu melangkah keluar untuk pulang ke kontrakannya. Oca tidak bisa banyak berprotes, walau dalam hati dia tau, jika Erina sepertinya terpaksa dengan pernikahan ini.
Beberapa karyawan lain rupanya ada yang mendengar percakapan Mereka.
"Erina sudah menikah? Yang benar saja!"
"Bukankah dia gagal Menikah?"
"Mungkin dengan pria lain."
Erina sepintas mendengar, tapi berusaha untuk tidak peduli. Memutuskan untuk segera pergi saja.
Sesampainya di Kontrakan, Erina membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia ingin melupakan segalanya dengan tertidur. Bahkan tidak memikirkan pekerjaan besok. Padahal semua orang sedang menanti hari besok. Dimana dia dan tim akan mewawancarai Seorang Presdir Galaxy Group yang sangat Misterius dan baru akan mau menampakan dirinya besok pada Dunia.