Bab 2

. Masa Cuti yang sia-sia.

Erina sudah berada di dalam taksi yang melaju. Pikirannya belum berhenti. Matanya masih sesekali mengeluarkan air mata. Dia tidak lagi memikirkan Pria yang sudah memberinya uang Sepuluh juta tadi. Tapi Erina sedang memikirkan nasib dirinya kedepannya nanti. Bagaimana dia harus menghadapi ini semua? Agam sudah memutuskan pertunangan mereka. Lebih kejamnya, telah membatalkan pernikahan yang akan berlangsung satu Minggu lagi.

Ini bukan masalah malu. Erina tidak peduli jika dicibir keluarga atau teman temannya karena gagal menikah. Tapi Ibunya, dia harus menerima perjodohan dengan pria yang sudah memiliki beberapa istri jika dia tidak menikah dalam satu Minggu ini.

Erina menarik nafas berat. Menuruni taksi saat sudah berada di depan Rumah kontrakannya. Dia melangkah setengah malas. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur setelah sampai di dalam kamar. Matanya menerawang jauh, seolah menembus Plafon. Bagaimana mungkin dia harus kehilangan Pria yang dia cintai lagi? Setelah dulu dia pernah kehilangan cinta pertamanya. Agam telah menjadi tenaga baginya, kekuatan saat dulu dia pernah terpuruk dan lemah.

Tapi sekarang, kembali lagi Erina terpuruk. Ditinggal oleh sang kekasih yang dia percaya. Lebih parahnya, pernikahan mereka tinggal menghitung hari.

"Rafael. Kenapa kau pergi, hanya karena tak mempercayaiku. Aku bukan wanita murahan!" Tiba tiba Erina berteriak.

Lalu sekarang Agam. Benarkah dia murahan?

Erina kembali menangis tersedu-sedu. Dia berpikir jika mungkin nasibnya sangat malang.

Rafael adalah cinta pertamanya, saat dia duduk di bangku SMA. Lalu kejadian yang memalukan, saat tiba tiba dia terbangun di kamar kakaknya dan beredar Foto mesranya bersama Suami kakaknya.

Sejak saat itu Rafael menghilang tanpa jejak. Saat dia terpuruk dan butuh seseorang, Agam datang membawa secercah harapan. Kembali membuat Erina bangkit. Agam selalu bersifat manis padanya. Tapi akhirnya, saat Erina kembali mengalami kesulitan.

Beberapa Minggu yang lalu, adiknya meminta bantuannya untuk mengantar pesanan ke Sebuah Apartemen. Erina adalah seorang Reporter salah satu Stasiun Televisi Swasta. Dia sangat sibuk dengan waktunya, tapi tetap menyisihkan waktu demi sang adik yang padahal sama sekali tidak memiliki kasih sayang padanya.

Tapi setelah mengetuk pintu Apartemen, Erina tidak lagi mengingat apapun. Dia tersadar dengan posisi tidur terlentang bersama pria tua di sampingnya dengan beberapa gepok uang di atas tubuhnya. Erina ketakutan dan langsung bangun hendak Keluar.

Zaskia dan Alya yang merupakan teman Agam sudah berdiri di ambang pintu.

"Aku tidak tau apa yang terjadi. Tolong aku." Erina menangis.

Zaskia Memberi pelukan hangat, Sementara Alya menepuk nepuk punggung Erina.

"Sudah sudah. Tidak ada yang melihat."

"Aku tidak mengerti yang terjadi." Erina kembali mengulangi perkataannya.

"Iya kami mengerti." Mereka membawa Erina keluar, sebelum Pria tua di dalam itu terbangun.

Erina mempercayai mereka tanpa berpikir kenapa mereka ada di Apartemen ini juga. Dan melupakan kejadian yang memang dia tidak pahami itu.

Erina bangkit dan menuju kamar mandi. Namun deringan Ponselnya yang begitu kuat membuatnya menahan langkah. Erina berbalik dan meriah Ponsel.

"Ada apa?" Setelah mengangkat panggilan dari Oca.

"Erin. Kamu harus ke kantor hari ini."

"Aku tidak bisa. Aku, aku sedang tidak enak badan."

"Baiklah. Kami yang akan ke sana."

"Jangan!" Belum selesai mencegah, Panggilan sudah dimatikan. Erina menunduk,menghela nafas berat. Dia sudah mengambil cuti dua Mingguan. Ia ingin menggunakan masa cuti ini untuk mempersiapkan diri menyambut hari pernikahannya. Tapi kenapa mereka menghubungi untuk urusan pekerjaan?

"Bukankah pernikahanku gagal? Jadi, cuti itu tidak perlu lagi." Erina mendengus, melanjutkan langkahnya ke kamar mandi setelah menaruh ponselnya.

Sore menjelang malam, Oca benar benar datang bersama Melda.

Kedua sahabat wanita sekaligus teman sesama kerjanya itu duduk di atas kasur Erina tepat di hadapannya.

Oca menatap Erina penuh tanda tanya. Sementara Melda menggenggam erat kedua tangan Erina.

"Kami sudah mendengar kabar." Ucap Oca.

Erina menelan ludah, tanpa menatap mereka berdua.

"Kamu yang sabar. Mungkin Agam, bukan laki laki yang tepat untukmu." Melda menepuk nepuk punggung telapak tangan Erina.

Erina menarik bibirnya dengan tipis.

"Aku tidak apa apa. Tapi bagaimana kalian bisa tau?"

"Kamu tidak tau ya? Di sosmed beredar kabar jika Agam telah membatalkan hari pernikahannya denganmu.Tepatnya di beranda pribadi Zaskia. Bahkan, aku di tag." Sahut Melda.

Erina menggeleng. Tidak seharusnya mereka sampai seperti itu. Erina kembali resah. Lagi lagi, bukan masalah malu. Tapi jika Ibu sampai mengetahui ini? Tamatlah riwayatnya.

"Tidak usah dipikirkan. Aku baik baik saja." Jawab Erina, walau hatinya terasa pedih teriris.

"Hem Baiklah. Lupakan yang tidak perlu diperjuangkan. Kita kembali pada pekerjaan saja. Bukankah itu sangat mengasikkan?" Melda mencoba menghibur.

"Ya kamu benar." Sahut Erina, masih dengan suara malas.

"Hei.. Erina. Semangat lah. Aku tahu kamu hanya korban disini. Karena kami percaya kamu seratus persen. Tidak seperti Teman teman Agam itu! Mungkin mereka yang menjebak mu!" Oca tiba tiba berkata seperti itu, membuat Erina mendongak dan otaknya berputar.

"Menjebak?"

"Ku pikir seperti itu. Karena aku tidak percaya dengan apa yang mereka katakan mengenai dirimu di status mereka. Aku tidak percaya. Karena aku jauh mengenalmu Erin!"

Saat itu, Zaskia dan Meka berada disana tanpa Alasan. Erina sendiri tidak sempat bertanya kepada mereka, kenapa mereka disana dan mau kemana.

Kepala Erina terasa pusing. Benarkah Mereka menjebak Erina? Sengaja ingin membuat hubungannya dengan Agam berakhir? Lalu untuk apa?

Yang menyuruh dia pergi kesana adalah Alika. Lalu apa hubungan Alika dengan Zaskia dan Alya?

Untuk sekarang, urusan ini sudah tidak penting lagi. Erina sedang sibuk mencari jalan keluar agar Ibu yang kemungkinan sudah mendengar kabar batalnya pernikahan dirinya, tidak akan menuntutnya.

"Apa kalian kesini hanya untuk kabar itu?" Erina bertanya kepada Oca dan Melda.

"Tentu saja tidak!" Jawab Melda.

"Kamu perlu mendengar kabar baik ini. Minggu depan, Bos memberi tugas baru untuk kita. Ah, apa kamu tau Erin? Tugas ini sangat mengasyikkan!" Melda menarik kedua pipi Gembul Erina.

"Apa itu?" Jawab Erina dengan sangat malas.

"Kita ditunjuk untuk mewawancarai Presdir Galaxy Group yang terkenal misterius itu!"

"Hem. Apanya yang mengasyikkan?"

"Menurut kabar, dia masih sangat muda dan sangat Tampan. Aku sangat penasaran. Dan Stasiun kita adalah satu satunya Stasiun yang diizinkan untuk mengadakan Wawancara dengannya. Apa itu bukan suatu keberuntungan?"

"Tapi aku Malas. Lagian, ini masih masa cuti ku!" Bantah Erina. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wujud Presdir Galaxy Group yang saat ini sedang Trending dibicarakan oleh seluruh media. Keberadaannya sangat dirahasiakan dari publik. Ini sangat membuat penasaran seluruh dunia.

"Tidak ada gunanya lagi kamu mengambil cuti! Untuk apa? Untuk meratapi Agam sialan itu?" Oca menahan lengan Erina yang ingin beranjak. Melda pun sama.

"Ayolah Erin! Kau Reporter unggulan Perusahaan! Mana Erina yang Tangguh?"

Erina sejenak terdiam, kemudian menoleh kepada kedua temannya.

"Kamu benar. Masa cuti ku ini sungguh sia sia. Baiklah. Aku akan pergi."

Kedua temannya tertawa senang mendengarnya.

"Kita akan pergi, bertemu dengan Presdir Galaxy Group yang sangat tampan!" Oca dan Melda melonjak girang.

Bab 3

. Aku Calon Suaminya.

"Tuan Fic. Apa kau tidak salah?" Jefri sedikit terbelalak, saat mengangkat sebuah kartu nama yang baru saja dilempar di atas meja.

"Aku ingin kau menyelidiki wanita itu lebih jauh. Siapa dia. Hem. Bukan kau, tapi kita."

Jefri mengangguk, sedikit merasa heran tapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Sepanjang hidupnya, yang ia tau, Presdir Fico Albarez tidak pernah peduli dengan wanita.

Tanpa menoleh, Fico Albarez berbicara. "Aku pernah melihatnya tanpa sengaja. Setelah itu, hati ku selalu berontak, untuk mengetahui latar belakang wanita itu."

Jefri langsung mengerti, dan segera mengangguk.

Ini adalah kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum Erina memasuki Restoran mahal menemui Agam. Pada hari itu, Fico Albarez yang sudah meminjamkan uang sepuluh juta kepada Erina.

Pagi ini Erina sudah berada di kantor. Beberapa rekan menatapnya dengan sedikit asing. Lalu terdengar berbisik bisik.

"Dia gagal menikah."

"Kasihan Sekali."

Mungkin mereka sudah mendengar kabar buruk tentang Erina.

Erina tidak ingin peduli, terus melangkah menuju ruangan kerjanya. Disana Oca dan Melda sudah menyambut dengan ceria. Oca menarik tangan Erina, Melda menarik kursi.

"Senang sekali, si tengil akhirnya bangun dari mimpi buruknya."

"Sialan!" Hanya itu jawaban dari mulut Erina.

"Erina Clarissa Handoyo." Bos memanggil Erina. Belum sempat dia berdiri, Bos sudah menghampiri, melempar sebuah map ke atas meja tepat di hadapannya. Lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Erina.

"Aku tau kau sedang gundah gulana. Tapi kau adalah Reporter andalan stasiun kita. Jadi, ku harap kau bisa profesional."

Erina menarik nafas berat, sambil membuka map.

"Aku tidak bisa berjanji untuk kali ini."

Bos tertawa. "Itu akibat Kau tidak percaya padaku! Tunangan mu itu adalah pria brengsek! Haha. Salahmu sendiri!"

"Bos. Jangan membicarakan itu." Bisik Oca.

"Eh, iya." Bos menutup mulutnya.

"Ah, baiklah Erina. Tidak ada penolakan. Atau karirmu akan berakhir." Bos melotot untuk memberi sedikit ancaman Erina.

"Tapi aku takut tidak fokus."

"Hahaha.." bos kembali tertawa menoleh pada Oca dan Melda.

"Kalian dengar? Wanita tengil yang biasa kuat ini sok lemah hanya gara gara cinta buta!"

"Jangan begitu Bos. Kau tidak pernah merasakan putus cinta sih. Itu sangat menyakitkan!" Protes Melda.

Bos melotot. "Kau mau menghinaku? Mentang mentang aku jomblo?"

"Hehe. Itu memang kenyataan. Kalau jomblo, mana bisa tau sakitnya putus cinta." Celetuk Oca.

"Kau ini!" Bos memukul ringan kepala Oca.

Erina terkikik kecil, mereka benar-benar menghiburnya. Tidak sia sia, pagi ini dia pergi ke Kantor.

"Ah.. Baiklah. Maafkan aku Erina. Lalu bagaimana? Kau bisa pergi?" Tanya Bos.

"Kenapa tidak yang lain saja? Yang lain, pasti menunggu kesempatan ini."

"Kau gila ya? Hanya kau yang diinginkan Galaxy Group. Kau mau membuat Stasiun Televisi kita ini bangkrut? Dengan mengirim orang lain selain yang mereka tunjuk? Galaxy Group mempunyai kekuasaan dan kekuatan penuh di bumi yang kita injak ini. Dengan mudahnya, mereka bisa menggulingkan Perusahaan kita ini kalau tidak tepat janji!"

Erina membelalak, "Kenapa aku yang ditunjuk? Apa alasannya?"

"Haha.. Karena kau adalah Reporter terhandal Stasiun kita. Sudahlah. Mereka tidak mau diganti, atau acara akan dibatalkan! Kita akan merugi Erina.. Ayolah. Lakukan sesuatu untuk mengangkat lebih tinggi kejayaan Stasiun kita ini." Bos merengek seperti anak kecil.

Erina akhinya mengangguk. " Baiklah. Aku akan usahakan."

"Begitu dong." Bos langsung bernafas lega.

"Kau tenang saja, mereka berdua sudah aku siapkan untuk meringankan pekerjaanmu." Bos tertawa lagi. Lalu beranjak pergi.

Sepeninggal Bos, Oca dan Melda melonjak girang.

"Kita akan bertemu dengan Presdir Galaxy Group! Ya Ampun.. Seperti mimpi!" Melda mencubit pipinya sendiri.

"Erin, ini adalah kesempatan emas. Sekian banyak Reporter disini, hanya kita yang diberi kesempatan ini." Oca mengguncang bahu Erina.

Erina hanya tersenyum saja. Tidak merasa sebahagia Mereka.

"Erin. Kenapa tidak senang? Kau masih memikirkan Agam? Dengan bertemu Presdir Galaxy Group, kau akan sedikit terhibur."

Erina masih tersenyum saja. Dalam hati, dia kembali sedih. Bukan Agam yang ia sedihkan tapi,

Baru saja Erina melamun, Ponselnya berdering. Nama pemanggil kali ini membuatnya jantungnya berdetak lebih cepat. Dia segera menyisih, untuk mengangkat telepon.

"Ibu."

"Aku sudah ada di luar kantor mu. Cepat keluar sebelum aku masuk!"

Erina langsung menoleh kepada kedua temannya yang menatapnya.

"Aku keluar dulu sebentar."

Mereka mengangguk. "Sabar ya Erin, pasti akan ada jalan untukmu."

Erina tidak menjawab, segera melangkah keluar untuk menemui Ibu.

Ibu sudah menunggu di luar gerbang dengan Alika.

"Ibu." Belum sempat Erina menyambut tangan ibu, ibu sudah menarik tangannya terlebih dahulu.

"Kami menunggumu nanti malam. Jika kau tidak datang ke rumah, maka aku akan menyeretmu dari Kontrakan mu itu!"

"Ibu, tapi.."

"Tidak ada tapi tapi. Aku sudah tau semuanya. Pernikahan mu gagal bukan? Jadi bagaimana? Kau tidak punya alasan lagi untuk menolak. Atau kau mampu membayar hutang bapakmu hah!" Ibu mengancam.

Erina hanya menunduk. Benar saja, dia sudah tidak punya alasan untuk menolak keinginan wanita yang sudah dipanggilnya Ibu itu.

"Kita pulang Bu. Biarkan Erina berpikir bagaimana caranya dia untuk membalas Budi kepada keluarga kita." Ucap Alika. Sorot matanya begitu sinis kepada Erina.

"Kau dengar itu Erina. Berpikirlah, kau hidup dari siapa dan besar dari mana? Kau itu juga terlalu murahan. Jadi jangan sok jual mahal. Tidak akan ada pria manapun yang mau menikahimu. Seharusnya kau bersyukur, Tuan Danies mau melamarmu!" Ibu menunjuk dada Erina. Lalu melenggang pergi bersama Alika.

Erina ingin menangis rasanya. Tapi itu hanya buang energi saja. Apalagi banyak mata yang sedang memperhatikannya.

Erina memilih meraih Ponselnya. Mengirim pesan singkat untuk Oca.

"Aku pulang. Sampaikan pada Bos!"

___

Sampai malam hari, Erina tidak menuruni kasurnya. Pikirannya sungguh kacau. Membolak-balik tubuhnya.

Ketukan pintu terdengar, kembali membuat jantung Erina berdesir.

Belum sempat dia beranjak, suara teriakan ibu sudah terdengar nyaring.

Dengan hati penuh gelisah, Erina terpaksa turun untuk membukakan pintu.

"Dasar Anak tidak tahu diri!" Ibu langsung menarik kasar lengan Erina dibantu oleh Alika.

"Ayo ikut!"

"Ibu, aku tidak mau!" Erina mempertahankan dirinya. Di ujung sana sudah ada seorang pria menunggu di sisi sebuah Mobil bersama dua Pengawal Pria.

Ibu menoleh pada Pria itu dan memanggil. "Tuan Danies. Tolong bantu. Bawa saja dia!"

Pria yang dipanggil itu langsung mendekat bersama pengawalnya. Menyeret paksa Erina.

"Lepas! Lepaskan aku!" Erina memberontak.

"Ibu! Tolong aku. Aku tidak mau ikut dia!" Tapi mereka tidak peduli. Ibu hanya tersenyum senang melihat Erina di seret. Alika pun sama saja.

Lalu satu orang membuka pintu belakang mobil.

"Lepaskan dia!" Tiba tiba seorang pria dari dalam sebuah mobil berteriak. Semua orang menoleh.

Pria itu menuruni mobil bersama seseorang yang lain.

"Jangan ganggu dia!" Tiba tiba Pria itu menarik tangan Erina dan membawanya dekat dengannya.

"Kau siapa? Berani sekali! Aku ibunya! Jangan ikut campur urusan kami orang asing!" Ibu menunjuk ke arah Pria itu.

Dengan wajah datar, pria itu menoleh pada Erina. Tentu Erina masih mengenali pria itu dengan baik. Walau tidak sempat mengenal siapa namanya.

"Dia tanggung jawabku sekarang. Karena aku, calon suaminya. Jadi semua urusannya adalah urusanku juga."

Semua orang terkejut tak terkecuali Erina. Apa apaan ini?

Belum sempat Erina protes, Pria itu sudah kembali berbicara, tapi kali ini pada seorang pria yang datang bersamanya tadi.

"Jefri. Bayar semua hutang Ayah Erina."

Kembali mereka dibuat terkejut. Belum hilang rasa terkejut mereka, Pria itu kembali berbicara pada pria di sebelahnya. "Bayar dua kali lipat."

Jefri segera mengangguk, merogoh cek kosong dan pena dari balik jasnya. Lalu menulis nominal yang bahkan tidak ada yang menyebutkan berapa.

Jefri melempar cek itu ke arah Danies yang langsung menangkapnya. Matanya seketika membelalak, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nominal itu tertera dengan jelas dua kali lipat dari hutang Ayah Erina.

"Jangan pernah mengganggu dia lagi. Karena mulai besok, Erina akan menikah denganku. Kalian paham? Atau kalian akan berurusan denganku."

"Ayo masuk!" Pria itu menarik tangan Erina untuk kembali ke kontrakannya.

Jefri tidak ikut serta, dia sengaja ingin memastikan mereka semua pergi dari kontrakan Erina.

Bab 4

. Menikah.

Erina menurut saat Fic mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam kontrakannya sendiri. Fic ikut masuk, kemudian duduk di Sofa tanpa disuruh.

Erina menatap Pria dengan wajah datar itu, lalu ikut duduk di hadapannya. Mereka terdiam cukup lama. Erina merasa aneh, kenapa pria ini bisa tau tempat tinggalnya. Dan untuk apa dia kesini? Apa untuk menagih uangnya? Tapi kenapa malah kembali mengeluarkan uang. Uang yang begitu besar. Berkali kali lipat dari yang waktu ini.

Erina kemudian membuka suara.

"Tuan, Terima Kasih sudah menolongku kembali."

Fico Albarez hanya mengangguk tanpa melihatnya.

"Tapi, bagaimana caraku untuk mengembalikan uangmu. Itu terlalu banyak."

Fic menoleh sebentar setelah itu membuang ratapannya kembali.

"Menikahlah denganku besok. Maka kau tidak perlu membayarnya."

Seketika Erina terperangah. "Menikah?" Dia seperti tidak percaya.

"Kenapa?" Sekarang Fic menoleh untuk menatapnya.

"Bukankah kau membutuhkan pernikahan? Kau gagal menikah bukan? Seharusnya kau menikah beberapa hari lagi."

Erina menelan ludah. Darimana dia tau?

"Memang benar. Tapi, apa Tuan juga punya masalah sepertiku?"

Fic tersenyum miring. "Aku tidak punya masalah seperti mu."

"Lalu kenapa Tuan ingin menikah secara tiba tiba?"

"Karena aku butuh istri. Aku tidak punya Tunangan ataupun kekasih." Jawab singkat Fic.

"Tapi, tapi kenapa memilih diriku? Apa karena aku mempunyai hutang padamu?" Erina semakin penasaran.

Fic kembali memiringkan senyumnya. "Aku memilihmu, karena aku sudah mengenalmu."

"Mengenal ku?" Erina Sekarang terlihat kebingungan.

Fic mengangguk. "Aku tidak bisa mengambil sembarangan wanita."

"Sembarang wanita? Lalu aku?"

"Sudah lah." Fic bangun dari duduknya. Merogoh sesuatu dari balik jaketnya.

"Besok, datanglah ke gedung ini tepat jam Sepuluh. Aku tidak mau kamu datang terlambat."

Fic melangkah keluar meninggalkan Erina. Gadis itu hanya bisa menatap punggung Pria itu yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu mobil.

"Argh… Siapa sih dia? Kenapa aneh?"

Erina mengerang, lalu menutup pintu dan berlari ke kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar. Matanya menatap langit langit. Pikirannya runyam.

Pria itu tiba tiba datang dengan sendirinya, memberinya bantuan disaat yang tepat. Seharusnya Erina senang karena telah terbebas dari perjodohan Sang Ibu. Setidaknya dia selamat dari Tuan Danies yang terkenal sebagai penjahat kelamin.

Tapi kenapa Pria itu tiba tiba mengajaknya Menikah? Bahkan mereka baru bertemu dua kali saja. Ada masalah apa sebenarnya? Tidak mungkin tidak ada masalah!

"Dia sudah mengenalku? Dan tidak bisa sembarangan memilih wanita? Maksudnya apa? Dia bahkan belum tau buruknya masa laluku."

Semalaman Erina tidak bisa tidur memikirkan itu. Bagaimana mungkin dia akan menikah dadakan seperti itu, dengan Pria yang tidak mencintainya. Dia juga tidak mencintai pria itu. Tapi, bukankah dia juga membutuhkan pernikahan ini? Meskipun dia sudah terbebas dari Tuan Daniel sekarang, tapi dia tetap membutuhkan seorang Pria yang bersedia menikahinya.

Bukankah itu bagus? Dia bisa menutup aibnya. Belum lagi masalah hutang kepada pria itu. Sekarang semakin besar. Jika dia tidak bersedia menikah dengan pria itu, sudah pasti dia harus membayar seluruh uang yang sudah dikeluarkan pria itu. Dan itu jumlahnya sangat banyak. Erina tidak bisa membayangkan, berapa tahun dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu.

Lalu dia bangun, kemudian mengambil tasnya. Menghitung berapa banyak uang yang dia miliki saat ini. "Sepuluh juta ini hanya cukup untuk membayar hutangku yang pertama." Tapi Erina berpikir, setidaknya dia bisa sedikit mengurangi hutangnya.

Erina akhirnya terlelap beberapa jam. Dia terbangun saat Alarm terus saja berdering keras.

"Ya Tuhan!" Dia memekik ketika menyadari jika saat ini sudah jam Delapan.

Erina beranjak ke kamar mandi dan secepat mungkin bersiap siap. Dia bukan akan pergi ke Kantor, melainkan pergi ke Gedung yang tertulis di kertas yang sekarang sedang dia genggam.

Huh! Erina menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Perasaannya begitu tegang dan tak karuan. Dia menuruni Taksi yang sudah berhenti di depan Gedung yang dia tuju.

Ini bukan lah Gedung menurut nya tapi lebih tepatnya adalah Biro Urusan Sipil. Begitu nampak sepi seperti tidak ada orang.

Erina turun dan berjalan masuk dengan sedikit ragu. Jefri sudah menyambutnya di ujung sana. Berlari kecil menghampiri Erina.

"Mari silahkan Nona Erina. Tuan Fic sudah menunggumu."

Fic? Apa itu nama Pria itu? Belum sempat bertanya, Jefri sudah melangkah dahulu. Terpaksa Erina mengikuti langkahnya.

Erina bisa melihat punggung seorang pria yang mengenakan jas putih. Pria itu tidak menoleh ke arah mereka datang tapi sepertinya sudah tau siapa yang datang.

"Duduklah." Suaranya terdengar begitu datar. Erina menurut saja.

"Apa kau sudah siap?" Fic bertanya, menoleh sebentar pada Erina.

"Sebenarnya aku tidak siap."

"Kenapa? Katakan apa alasanmu."

"Bagaimana mungkin aku akan siap, jika menikah dengan pria yang belum aku kenal." Jawab Erina.

Terdengar Fic membuang nafas. "Aku ingin pernikahan ini bukan sekedar pernikahan. Bukan hitam diatas putih. Bukan pernikahan kontrak atau sejenisnya. Jadi berpikirlah dua kali sebelum Pendeta datang."

Erina kembali menelan ludah. Dia sudah tidak punya jawaban lagi. Terdiam dengan waktu yang cukup lama. Hingga Pendeta dan beberapa orang datang.

Fic kembali menoleh padanya. "Mereka sudah datang. Bagaimana? Jika kau tidak mau, itu tidak masalah. Aku bisa membatalkannya."

Dengan begitu banyak pikiran dan pertanyaan dalam hatinya, Erina menggigit bibir bawahnya untuk menahan keraguan terakhir dihatinya. Dan tiba tiba dia mendongakkan kepalanya. "Iya. Aku setuju."

Hampir satu jam mereka berada di dalam sana. Erina terlihat keluar dari Biro itu dengan membawa Sertifikat Pernikahannya. Dia sungguh merasa seperti bermimpi. Dia sama sekali tidak menyangka akan menikah secara Mendadak seperti ini. Apalagi dia bertemu dengan pria itu secara tidak sengaja.

Erina menunduk untuk melihat Sertifikat Pernikahannya, dia hanya bisa melihat Foto dirinya dan Pria tadi. Pria dalam foto itu terlihat acuh tak acuh namun tampak sangat keren. Sedangkan dirinya begitu jelas terlihat gugup dan berpenampilan sederhana.

Terdapat nama mereka di bawah Foto itu. Erina tanpa sadar tersenyum. Merasa sangat konyol. Dia baru mengetahui nama suami yang baru saja menikahinya itu.

Fico Albarez. Nama yang Cool dan Keren. Cocok sekali dengan orangnya. Dingin dan datar serta tampak temperamen.

Selain nama dan nomor ponsel, Erina sama sekali tidak mengetahui apapun tentang suami Dadakannya itu. Dia tiba tiba sadar , kenapa dia sangat ceroboh?

Meskipun Pria itu tampak seperti orang biasa, tapi bagaimana kalau dia orang jahat? Erina kembali menggigit bibirnya.

Saat Erina merasakan penyesalan, sebuah tangan menjulur ke hadapannya. Sebuah kartu terselip di jari jemari kekar itu.

"Nona Erina. Setahuku, jika seseorang menikah, akan mengharapkan cincin pernikahan. Maafkan aku yang tidak sempat mencarinya untuk kita. Kau bisa memilihnya sendiri, sesuai dengan keinginan mu."

Erina mendongak, menatap kedua bola mata hitam pekat dengan putih yang begitu jernih.

"Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan itu." Erina mendorong tangan Fic.

Dia telah lama melewati masa masa yang begitu sulit. Dia tidak lagi mengharapkan Keromantisan. Meskipun dihadapannya saat ini adalah Suaminya secara formal, tapi Erina belum ingin kembali berharap.

"Cincin itu tetap kita perlukan, untuk tanda bukti jika kita ini adalah pasangan." Fic meraih pergelangan tangan Erina dan meletakkan kartu itu di telapak tangan Erina.

Suami Dadakan Ku Ternyata Bos

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya