Bab 3
Aku berdeham canggung, mencoba mengalihkan pembicaraan, “Hm… Leon, ibumu mungkin salah ingat. Pakaian ini nggak cocok untukku, biar kubantu simpan kembali, ya.”
Sambil bicara, aku mengulurkan tangan untuk mengambil gaun tidur di tangannya.
Siapa sangka, dia tiba-tiba mundur selangkah untuk menghindari tanganku, seperti anak anjing yang menjaga makanannya.
“Nggak boleh! Kata ibu untuk dipakai kakak!” Dia mengembungkan pipi, menatapku dengan kesal, seolah aku adalah penjahat yang sangat kejam.
Aku terhibur melihat tingkahnya, anak ini cukup keras kepala juga.
“Iya iya, biar kakak pakai, tapi berikan dulu bajunya padaku,” ujarku membujuknya dengan sabar.
Barulah dia mengangguk puas dan menyerahkan gaun tidur di tangannya padaku.
Aku menerima gaun tidur itu, baru saja hendak menghela napas lega, tiba-tiba dia merentangkan kedua tangan, memeluk kakiku dan mendongak. Lalu, dengan tatapan memohon, dia berkata, “Kakak, kamu pakai di depanku, ya? Aku mau lihat….”
Aku menunduk dan menatapnya, tatapannya tampak begitu mengharapkan. Kata penolakan sudah di ujung lidah, tapi entah kenapa tak bisa terucapkan.
Sudahlah, anggap saja membujuk anak kecil. Aku pun menghibur diri dalam hati.
“Iya, kakak pakai untukmu.” Aku menghela napas pasrah, terpaksa menerima permintaannya.
Mendengar jawabanku, dia langsung bersorak kegirangan, bertepuk tangan dengan antusias, “Asik! Kakak baik sekali!”
Aku tertawa melihat kepolosannya dan kekhawatiran terakhir di hatiku pun sirna.
Aku membawa gaun tidur itu ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu menarik napas dalam-dalam dan mulai melepaskan pakaian.
Sejujurnya, gaun tidur ini sungguh memalukan. Kain renda tipisnya hampir tidak menutupi apa pun, membuat kulitku tampak samar di bawahnya. Aku bahkan bisa merasakan jantung berdebar dan pipi memanas.
Aku berusaha tidak memikirkan hal-hal yang tidak senonoh dan dengan cepat mengganti pakaian, lalu menarik napas dalam-dalam di depan cermin.
Sudahlah, pasrah saja!
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar.
“Kakak, kamu….” Leon melihatku, matanya langsung terbelalak lebar, mulutnya terbuka lebar seperti bisa dimasukkan sebutir telur, tidak bisa berkata-kata untuk waktu yang lama.
Melihat tingkahnya yang polos, aku pun tertawa, “Kenapa? Nggak bagus?”
Barulah dia tersadar kembali dan langsung menggelengkan kepala, berkata dengan terbata-bata, “Ba… bagus! Kakak paling cantik!”
Aku tersenyum dan mendekat, lalu berjongkok di depannya, “Benarkah?”
Dia buru-buru mengangguk dan menatapku tanpa berkedip. Tatapannya tampak membara, seolah ingin melelehkan seluruh diriku.
Tatapan panasnya membuatku merasa gugup. Tepat saat aku baru hendak berdiri dan pergi, tiba-tiba dia melompat ke arahku dengan cepat, seperti seekor macan tutul yang lincah.
Dia menggendongku dan melemparku ke ranjang. Aku menjerit kaget dan belum sempat berdiri, dia sudah menindihku, menjilati pipiku dengan gembira seperti seekor anjing besar.
“Kakak….” gumamnya, napas panasnya menyembur di telingaku, membuat seluruh tubuhku bergetar.
Belum sempat aku bereaksi, kepalanya sudah terbenam di antara kedua kakiku dan dia menarik celana dalamku.
“Ahh!” Aku menjerit, rasa malu dan panik membanjiriku seperti air pasang.
Dia sama sekali tak peduli dengan perlawananku, lidah basah dan hangatnya sudah menyentuh area paling sensitifku. Seketika, aliran listrik yang menggelikan menjalar ke seluruh tubuh. Kakiku pun terasa lemas, tidak mampu melawan sama sekali.
“Jangan… jangan….” Aku terus memohon, suaraku bergetar hebat.
“Manis… manis sekali….” katanya dengan tidak jelas, lidahnya menjilati dan menghisap dengan liar, seolah sedang mencicipi madu paling lezat di dunia.
Aku menggeliat tak berdaya, ingin melarikan diri dari pusaran hasrat yang tiba-tiba ini, tapi lengan kuatnya mengunciku dengan erat, membuatku tak bisa bergerak.
“Leon… jangan begini… kumohon….” Aku terisak tak berdaya, mencoba mendorongnya, tapi dia malah memeluk kakiku dengan erat, tak membiarkan aku bergerak sedikit pun.
Dia mengangkat kepala, tatapan jernihnya tampak penuh kepolosan dan kebingungan, “Kakak nggak suka? Ibu paling suka begini….”
Bab 4
Sambil berbicara, dia malah membuka ikat pinggangnya.
Aku memandang pemandangan di depan mata dengan ketakutan, pikiranku kosong. Dia masih anak-anak, dia sama sekali tak mengerti apa yang dia lakukan!
“Jang… jangan….” Aku mencoba sekuat tenaga untuk menghentikannya, tapi hanya mampu mengeluarkan erangan lemah.
Dia tampaknya terkejut dengan reaksiku, gerakannya pun terhenti. Dia mengangkat kepala, menatapku dengan bingung, “Kakak, kenapa kamu menangis? Kamu nggak suka aku?”
“Bukan begitu….” Aku menggelengkan kepala, air mata mengaburkan pandanganku.
“Kakak menyukaimu, tapi….”
“Tapi apa?” tanyanya dengan wajah polos, sambil memiringkan kepala.
“Tapi… kamu masih kecil, nggak boleh melakukan hal seperti ini….” ujarku menjelaskan dengan susah payah, tapi entah bagaimana caranya menjelaskan hal semacam ini pada seseorang yang cacat mental.
Dia tampaknya mengerti perkataanku, pandangannya pun perlahan meredup, “Kecil? Aku sudah nggak kecil lagi….”
Ujarnya, lalu menarik tanganku dan menekan di selangkangannya, “Lihat kak, aku sudah besar….”
Saat menyentuh benda miliknya yang panas, seluruh tubuhku membeku. Rasanya seperti menggenggam besi yang membara, yang membuat seluruh tubuhku memanas.
Aku panik dan ingin menarik kembali tanganku, tapi dia menggenggamnya lebih erat. Tatapannya tampak penuh harap.
“Kakak, lihat, aku sudah besar….” Melihat aku meronta, sekilas rasa terluka melintas di matanya, nadanya juga terdengar sedikit sedih, seperti anak anjing yang dibuang majikannya.
Aku menatap pria di depanku, karena sebuah kecelakaan, pikirannya tertinggal selamanya di masa kanak-kanak.
Wajah tampannya dipenuhi kepolosan, sama sekali tidak tahu apa yang sedang dia lakukan dan apa arti dari tindakannya.
Perasaanku campur aduk, ada rasa simpati, kasihan dan juga gejolak yang tidak bisa dijelaskan.
Melihat aku tak kunjung bicara, ekspresi wajahnya berangsur-angsur menjadi kecewa dan genggaman di tanganku perlahan mengendur.
Aku menarik tangan secepat kilat, dengan panik ingin mencari kata-kata untuk menghiburnya, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Kesunyian di dalam kamar terasa mencekam, hanya ada suara napas kami berdua yang berat dan saling berbaur di udara.
Aku merasa pipiku panas membara, detak jantungku semakin cepat, seolah ingin melompat keluar dari dada.
“Kakak, kamu nggak menyukaiku lagi?” tanyanya tiba-tiba, suaranya terdengar dipenuhi rasa sedih dan cemas.
Aku menatapnya, mata jernih itu penuh dengan ekspresi terluka. Hatiku terasa seperti tertusuk jarum dan perih.
“Bukan begitu….” Aku menggelengkan kepala, memaksakan diri untuk tenang, “Kakak menyukaimu, tapi….”
“Tapi apa?” tanyanya mendesak, nadanya sedikit cemas.
Aku menggigit bibir, tidak tahu bagaimana menjelaskan padanya. Haruskah aku mengatakan padanya kalau tindakannya salah? Dan akan membuatku sulit?”
Namun, dia masih anak-anak. Dia tak mengerti hal-hal seperti ini!
“Kakak, kamu jijik padaku?” tanyanya lagi, nadanya penuh kecemasan dan rendah diri.
Hatiku tersentak, melihat tatapan terlukanya, aku tidak bisa lagi mengucapkan kata penolakan.
“Nggak, mana mungkin kakak jijik padamu?” Aku mengulurkan tangan dan dengan lembut membelai pipinya. Lalu berkata dengan lembut, “Kakak hanya….”
Belum selesai aku bicara, dia langsung menciumku.
Ciumannya terasa canggung, tapi penuh hasrat, masih menyisakan aroma polos kekanak-kanakan. Tapi, juga membawa sedikit dominasi yang tak tertahankan.
Aku terkejut dengan tindakan mendadaknya, secara reflek ingin mendorongnya, tapi tenaganya luar biasa kuat, aku sama sekali tak bisa menggesernya sedikit pun.
Ciumannya semakin panas, semakin liar dan nalarku perlahan runtuh di bawah serangannya.