Bab 1
Demi uang, aku bersedia menjaga anak orang kaya yang idiot.
Tak disangka, selain harus menemaninya ke kamar mandi, malamnya aku juga harus mengenakan gaun tidur yang sexy.
Siapa sangka, ternyata si idiot ini tahu begitu banyak gaya….
“Kakak, mau peluk….” Dalam keadaan setengah sadar, aku merasa ada yang mengguncangku, disertai rengekan yang lembut dan manja.
Aku berusaha keras membuka mata dan wajah tampan yang besar langsung memenuhi seluruh pandanganku.
Pria di depanku memiliki kontur wajah yang tegas, alis tebal dan mata yang bersinar. Terutama bibirnya yang sedikit manyun, benar-benar mengundang imajinasi liar.
Begitu melihat diriku bangun, dia langsung melilit seperti koala. Astaga, dia tak mengenakan sehelai benang pun.
Suhu tubuhnya yang panas terasa menembus baju tidur, aku bahkan bisa merasakan garis-garis ototnya yang kekar.
Dia membenamkan kepalanya di lekukan leherku, lalu menggeseknya dengan nakal, seperti anjing besar yang mencoba mengambil hati majikannya.
Kontak intim yang tiba-tiba ini membuatku sedikit bingung dan rona merah tanpa sadar menyebar di pipiku.
Yang lebih parahnya, aku menyadari ada yang berbeda dengan… itunya.
Wajahku langsung memerah hingga ke telinga, jantungku serasa ingin melompat keluar dari dada dan napasku menjadi terengah-engah.
Aku tak kuasa menelan ludah. Astaga, kenapa takdir begitu kejam? Memberinya wajah yang begitu tampan, tapi malah menjadikannya idiot!
Aku berusaha keras menekan gejolak hasrat liar itu, lalu dengan lembut mendorongnya, “Leon sayang, kakak sudah mau bangun.”
Kisah ini bermula sebulan lalu. Entah dari mana, orang tuaku mendengar pengobatan tradisional, katanya makan trenggiling bisa menyembuhkan rematik ayahku.
Akhirnya, uang pun habis banyak dan penyakitnya juga tak kunjung sembuh. Kami bahkan hampir tertangkap karena membeli hewan yang dilindungi negara.
Untuk melunasi utang, aku harus bekerja serabutan. Kebetulan pamanku bilang ada temannya yang kaya raya, tapi putranya idiot. Mereka sedang mencari orang untuk menjaganya dan bayarannya cukup tinggi.
Aku tidak banyak berpikir saat itu, yang penting ada uang masuk. Tak disangka, aku malah mendapat kejutan sebesar ini begitu sampai.
Meskipun Leon itu idiot, harus diakui dia sangat sesuai dengan seleraku! Wajahnya benar-benar mirip dengan cinta pertamaku, bahkan lesung pipi kecil di sudut bibir saat dia tertawa pun sama persis.
“Leon, jangan nakal….” Aku mengulurkan tangan ingin mendorongnya, tapi tenaganya luar biasa kuat, aku sama sekali tidak bisa menggesernya.
Dia seperti anak kecil, menggesek-gesek di dadaku, sambil bergumam tidak jelas, “Kakak, kamu wangi sekali….”
Aku lemas tak berdaya dibuat olehnya, bahkan suaraku mulai bergetar, “Leon, jangan….”
“Jangan….” Aku menolak tak berdaya, tapi suaraku justru terdengar manja dan memikat. Bahkan diriku sendiri pun merasa malu mendengarnya, apalagi untuk menghentikannya.
Tiba-tiba, aku merasakan sensasi isapan yang geli di dadaku, seolah aliran listrik menyambar semua indraku. Aku pun tak tahan dan mendesah, “Ah….”
“Kakak, suaramu indah sekali, sama seperti ibu….” katanya sambil mendongak, menatapku dengan mata yang bening dan polos, sementara di sudur bibirnya masih tersisa sedikit kilauan bening.
Seketika, rasa malu langsung membanjiriku. Dengan wajah memerah, aku buru-buru mendorongnya menjauh, “Leon, nggak boleh begini… nggak boleh….”
Namun, dia seolah tidak mengerti perkataanku. Dia memiringkan kepala dan dengan polos bertanya, “Kok nggak boleh? Banyak om-om yang melakukan ini pada ibu….”
Aku terkejut, seketika hawa dingin merambat dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. Banyak om-om? Mungkinkah… dia pernah melihat kejadian serupa sebelumnya?
Aku tidak berani melanjutkan pikiran itu. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
“Leon sayang, lepaskan kakak dulu, ya?” ujarku dengan suara yang lembut, membujuknya seperti anak kecil.
Sepertinya dia merasakan perubahan emosiku dan dengan patuh melepaskanku, tapi sepasang matanya tetap menatapku lekat-lekat, penuh hasrat dan ketergantungan.
Aku langsung berdiri, melarikan diri ke kamar mandi dan langsung mengunci pintunya.
Aku bersandar di dinding yang dingin dan bernapas terengah-engah. Saat melihat ke bawah, kancing bajuku sudah terbuka karena gesekannya, asetku kelihatan jelas.
Sial! Aku mengumpat dalam hati, merasa malu dan marah.
Bab 2
Aku bersandar di dinding yang dingin, berusaha menenangkan detak jantungku yang berdebar kencang. Kok bisa jadi begini? Dia itu idiot! Dia tak tahu apa yang sedang dia lakukan?
“Tok tok tok!” Pintu kamar mandi diketuk dan suara kekanak-kanakan Leon terdengar dari luar, “Kakak, Leon juga mau pipis, tolong bantu aku.”
Astaga, kenapa dia seperti pembuntut! Aku membuka celah pintu sedikit, berusaha agar nada bicaraku terdengar tenang, “Leon sayang, kamu pipis sendiri, ya. Kakak masih lagi mandi.”
Namun, dia malah memanyunkan bibir, menarik tanganku tanpa mau melepaskannya, matanya juga terlihat berkaca-kaca, “Tapi… tapi Leon nggak bisa. Kakak, tolongin aku dong….”
Melihat matanya yang berkaca-kaca, hatiku pun langsung luluh dan terpaksa mengiyakan.
Dia bersorak gembira, lalu menarik tanganku keluar. Belum sempat aku bereaksi, diriku sudah didudukkan di atas kloset olehnya. Dia berdiri di depanku, lalu langsung menggenggam tanganku….
Wajahku langsung memerah, sentuhannya pantas dan nyata. Astaga, besar sekali ukurannya!
“Kakak, cepat… Leon mau pipis….” Leon mengayunkan tanganku dan suaranya terdengar panik.
Kepalaku pusing karena guncangannya, jadi aku pun terpaksa untuk membantu meluruskan ‘Leon kecilnya’, lalu mengarahkannya ke kloset.
Aliran hangat menyembur keluar, aku bahkan bisa merasakan suhu cipratan airnya di punggung tanganku.
Sampai akhirnya selesai, aku segera menarik tangan, berlari ke wastafel dan mencuci tangan dengan panik. Seolah ingin menghilangkan sesuatu yang kotor.
“Kakak, kamu baik sekali!” Leon memelukku dari belakang, kepala basahnya menggesek-gesek di lekukan leherku.
Aku merasa sangat tidak nyaman, tapi tidak enak untuk mendorongnya. Jadi, aku pun membiarkannya memelukku.
“Sudahlah, Leon. Ayo, kita ganti baju.” Aku menepuk punggungnya dengan lembut, membujuknya seperti anak kecil.
Barulah dia melepaskanku dan dengan patuh mengikutiku masuk ke kamar.
Aku membantunya mencari satu set pakaian bersih, lalu berbalik mencari pakaianku di lemari.
“Kakak, bramu bagus sekali.” Tiba-tiba suara Leon terdengar dari belakang.
Aku menoleh dan langsung terkejut setengah mati.
Di tangan Leon ada bra rendaku, dia lagi mengamatinya sambil diarahkan ke cahaya.
“Leon, cepat letak kembali!” Aku buru-buru menghampirinya dan merebut kembali braku.
Dia malah menghindar seperti sedang main petak umpet, mengangkat braku ke sana dan kemari, sambil mengomel, “Nggak mau, nggak mau!”
Aku merasa kesal dan tak berdaya dibuatnya. Anak ini benar-benar semakin sulit dihadapi!
Dosa apa yang telah kuperbuat?!
Beberapa hari berikutnya, Leon seperti plester, terus menempel erat padaku. Ke mana pun aku pergi, dia harus ikut. Bahkan memintaku untuk menyuapinya dan menemaninya tidur.
Yang lebih parahnya, tampaknya minatnya pada tubuhku semakin mendalam. Dia terus-menerus meraba-rabaku, membuatku gelisah sepanjang hari. Aku sampai takut suatu hari diriku akan tidak tahan dan melahapnya habis.
Hari ini, aku sedang membaca buku di kamar. Tiba-tiba, Leon mendorong pintu dan masuk, sambil memegang gaun tidur rendah hitam di tangannya.
“Kakak, kamu pakai ini, ya?” Dia berjalan ke depanku dan menatapku dengan penuh harap.
Aku menunduk melihatnya dan jantungku langsung berdebar kencang, pipiku terasa panas.
Gaun tidur renda hitam ini terlihat jelas adalah model lingerie sexy, kainnya sangat minim dan tembus pandang, dihiasi dengan beberapa bordiran bunga yang rumit dan sangat sexy..
“Leon, kamu ambil dari mana?” tanyaku yang pura-pura tenang, sambil menahan rasa malu.
“Punya ibu,” jawabnya sambil terkekeh, sepasang mata jernihnya penuh kepolosan dan kebingungan, “Ibu bilang mau kakak memakainya… kakak nggak tahu?”
Ibu? Aku tertegun, “Kapan ibumu bilang hal seperti ini?” Itu jelas pakaian sexy, mengapa ibunya menyuruh aku memakainya?
Leon memiringkan kepala dan berpikir, seolah berusaha mengingat, lalu menunjuk ke bagian dada gaun tidur itu dan berkata dengan suara kekanak-kanakan, “Ibu bilang ada bunga renda cantik di sini, akan terlihat sangat cantik kalau kakak memakainya….”
Pandanganku mengikuti arah jarinya dan wajahku langsung memerah. Sialan, memang ada mawar renda di bagian dada gaun tidur itu, terlihat hidup dan sangat sexy.
Bab 3
Aku berdeham canggung, mencoba mengalihkan pembicaraan, “Hm… Leon, ibumu mungkin salah ingat. Pakaian ini nggak cocok untukku, biar kubantu simpan kembali, ya.”
Sambil bicara, aku mengulurkan tangan untuk mengambil gaun tidur di tangannya.
Siapa sangka, dia tiba-tiba mundur selangkah untuk menghindari tanganku, seperti anak anjing yang menjaga makanannya.
“Nggak boleh! Kata ibu untuk dipakai kakak!” Dia mengembungkan pipi, menatapku dengan kesal, seolah aku adalah penjahat yang sangat kejam.
Aku terhibur melihat tingkahnya, anak ini cukup keras kepala juga.
“Iya iya, biar kakak pakai, tapi berikan dulu bajunya padaku,” ujarku membujuknya dengan sabar.
Barulah dia mengangguk puas dan menyerahkan gaun tidur di tangannya padaku.
Aku menerima gaun tidur itu, baru saja hendak menghela napas lega, tiba-tiba dia merentangkan kedua tangan, memeluk kakiku dan mendongak. Lalu, dengan tatapan memohon, dia berkata, “Kakak, kamu pakai di depanku, ya? Aku mau lihat….”
Aku menunduk dan menatapnya, tatapannya tampak begitu mengharapkan. Kata penolakan sudah di ujung lidah, tapi entah kenapa tak bisa terucapkan.
Sudahlah, anggap saja membujuk anak kecil. Aku pun menghibur diri dalam hati.
“Iya, kakak pakai untukmu.” Aku menghela napas pasrah, terpaksa menerima permintaannya.
Mendengar jawabanku, dia langsung bersorak kegirangan, bertepuk tangan dengan antusias, “Asik! Kakak baik sekali!”
Aku tertawa melihat kepolosannya dan kekhawatiran terakhir di hatiku pun sirna.
Aku membawa gaun tidur itu ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu menarik napas dalam-dalam dan mulai melepaskan pakaian.
Sejujurnya, gaun tidur ini sungguh memalukan. Kain renda tipisnya hampir tidak menutupi apa pun, membuat kulitku tampak samar di bawahnya. Aku bahkan bisa merasakan jantung berdebar dan pipi memanas.
Aku berusaha tidak memikirkan hal-hal yang tidak senonoh dan dengan cepat mengganti pakaian, lalu menarik napas dalam-dalam di depan cermin.
Sudahlah, pasrah saja!
Aku membuka pintu kamar mandi dan keluar.
“Kakak, kamu….” Leon melihatku, matanya langsung terbelalak lebar, mulutnya terbuka lebar seperti bisa dimasukkan sebutir telur, tidak bisa berkata-kata untuk waktu yang lama.
Melihat tingkahnya yang polos, aku pun tertawa, “Kenapa? Nggak bagus?”
Barulah dia tersadar kembali dan langsung menggelengkan kepala, berkata dengan terbata-bata, “Ba… bagus! Kakak paling cantik!”
Aku tersenyum dan mendekat, lalu berjongkok di depannya, “Benarkah?”
Dia buru-buru mengangguk dan menatapku tanpa berkedip. Tatapannya tampak membara, seolah ingin melelehkan seluruh diriku.
Tatapan panasnya membuatku merasa gugup. Tepat saat aku baru hendak berdiri dan pergi, tiba-tiba dia melompat ke arahku dengan cepat, seperti seekor macan tutul yang lincah.
Dia menggendongku dan melemparku ke ranjang. Aku menjerit kaget dan belum sempat berdiri, dia sudah menindihku, menjilati pipiku dengan gembira seperti seekor anjing besar.
“Kakak….” gumamnya, napas panasnya menyembur di telingaku, membuat seluruh tubuhku bergetar.
Belum sempat aku bereaksi, kepalanya sudah terbenam di antara kedua kakiku dan dia menarik celana dalamku.
“Ahh!” Aku menjerit, rasa malu dan panik membanjiriku seperti air pasang.
Dia sama sekali tak peduli dengan perlawananku, lidah basah dan hangatnya sudah menyentuh area paling sensitifku. Seketika, aliran listrik yang menggelikan menjalar ke seluruh tubuh. Kakiku pun terasa lemas, tidak mampu melawan sama sekali.
“Jangan… jangan….” Aku terus memohon, suaraku bergetar hebat.
“Manis… manis sekali….” katanya dengan tidak jelas, lidahnya menjilati dan menghisap dengan liar, seolah sedang mencicipi madu paling lezat di dunia.
Aku menggeliat tak berdaya, ingin melarikan diri dari pusaran hasrat yang tiba-tiba ini, tapi lengan kuatnya mengunciku dengan erat, membuatku tak bisa bergerak.
“Leon… jangan begini… kumohon….” Aku terisak tak berdaya, mencoba mendorongnya, tapi dia malah memeluk kakiku dengan erat, tak membiarkan aku bergerak sedikit pun.
Dia mengangkat kepala, tatapan jernihnya tampak penuh kepolosan dan kebingungan, “Kakak nggak suka? Ibu paling suka begini….”