Bab 4
Tubuhku dikirim ke rumah duka tempat Haris bekerja, dan di sana Haris bersama Lea yang mengurus jasadku.
Haris bertugas merapikan jenazah dan memulihkan penampilanku, sedangkan Lea bertugas menata barang-barang peninggalanku.
Ternyata selama ini mereka begitu kompak. Lalu, kenapa setiap hari Haris selalu mengeluh tentang Lea di rumah?
Apakah ini karena, konon, yang tidak bisa dimiliki selalu mengusik hati?
"Pak Haris, kasihan sekali dia. Dia sedang hamil, loh."
Lea melihat hasil otopsiku dan mendapati bahwa aku sudah hamil tiga bulan.
Haris tidak menanggapi ucapan Lea dan tetap fokus menyusun kembali tulang tengkorakku.
Kalau saja aku tidak melihat Lea diam-diam menyembunyikan ponselku saat mengurus barang-barangku, aku mungkin akan percaya bahwa dia benar-benar mengasihaniku.
Kepalaku hancur berkeping-keping, sehingga sangat sulit menyusunnya kembali secara utuh dan hanya bisa diatur kasar untuk membentuk siluetnya.
Sayang sekali, mereka tidak akan mengenaliku. Dengan begitu, mereka pun tidak merasa takut.
Haris sangat sibuk, terus-menerus menggunakan kawat baja untuk memperkuat tengkorakku, sementara Lea tampak santai, bergerak ke sana kemari seolah-olah tanpa beban.
Namun, kata-kata Lea selanjutnya membuat jantungku yang sudah tidak berdenyut bergetar.
"Pak Haris, aku khawatir sekali tentang penyakit Ibu. Katanya hanya janin yang belum terbentuk yang bisa dijadikan obat untuk menyembuhkannya."
Haris tidak menjawabnya, fokus pada pekerjaannya.
Melihat Haris tidak menanggapi, Lea duduk dengan muram di sudut ruangan.
Sebagai roh yang hanya bisa menyaksikan, aku menyentuh perutku yang rata. Tampaknya anakku sudah pergi. Rupanya begitu aku mati, dia tidak lagi menyertaiku.
"Ambil pisau!"
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Haris tiba-tiba berseru, mengejutkan Lea yang duduk di sudut.
"Pisau buat apa, Pak Haris?"
Haris menatap Lea yang kebingungan, lalu tersenyum lembut.
"Bukannya kamu bilang mau menyembuhkan penyakit ibumu?"
Mendengar itu, Lea langsung bergegas mengambil pisau bedah.
"Haris Gunawan, kalau kamu melakukan ini, aku pasti akan membunuhmu!"
"Haris!"
Seberapa pun kerasnya aku berteriak dan memanggilnya, Haris tetap tidak menanggapi, memegang pisau, bersiap membelah perutku.
"Pak Haris!"
Suara Lea menghentikan Haris.
"Pak Haris, apa ini nanti nggak akan ketahuan?"
"Selama kamu baik-baik saja, aku nggak peduli."
Melihat Haris mengarahkan pisau ke perutku, aku tidak bisa menahan diri dan berlutut, memohon padanya.
"Kumohon, biarkan dia. Dia belum sempat melihat dunia!"
"Kumohon, Haris. Aku rela jadi budakmu di kehidupan berikutnya. Apa pun yang kamu mau, akan kulakukan."
"Lea, kumohon, hentikan dia. Aku nggak akan merebutnya darimu lagi."
Permohonanku membuat angin berembus kencang di ruang rias, menyibakkan kain kafan yang menutupi tubuhku.
Jasadku kini terbuka sepenuhnya di hadapan Haris, termasuk tahi lalat merah di dadaku.
"Haris, tahi lalat merah di dadaku ini pasti karena hatiku terluka oleh orang yang kucintai di kehidupan sebelumnya. Jangan buat aku merasakan sakit yang sama."
"Anna, seumur hidupku aku cuma mencintaimu."
"Oh, dan juga anak kita."
Janji itu terasa seperti kemarin, tetapi sekarang bukan hanya aku yang dia lukai, tetapi juga anak kami yang sudah meninggal.
Melihat tahi lalat merah di dadaku, Haris menggeleng pelan, seakan menyangkal dugaan apa pun, lalu mendekatkan pisau ke perutku.
"Haris! Kumohon padamu!"
"Nggak! Jangan!"
Seberapa pun aku menangis dan memohon, Haris tetap membedah perutku dan mengeluarkan janinku yang belum terbentuk.
"Haris, aku mengutukmu agar selamanya nggak bisa mendapatkan cinta, dan mati dalam kesengsaraan!"
"Kalian berdua nggak akan mati dengan tenang!"
Mungkin karena dendamku terlalu kuat, lampu di ruang rias mulai berkedip-kedip.
"Ah, Pak Haris, sepertinya dia marah."
"Nggak apa-apa. Anggap saja dia melakukan perbuatan baik. Semoga di kehidupan selanjutnya dia terlahir dengan nasib yang lebih baik."
Aku menangis bercucuran darah mendengar kata-kata Haris yang begitu dingin, tetapi agak lega karena anakku tidak harus lahir ke dunia ini.
Haris, kamu akan menyesalinya!
Bab 5
Setelah mengambil janin itu, Haris mengantar Lea pulang.
"Pak Haris, ini air hangat untukmu."
Haris melihat air hangat yang diberikan Lea dan dengan sayang mencolek hidungnya.
"Baru sekali kubilang, tapi kamu sudah ingat."
Ternyata, di sini juga rumahnya, ya? Hah, di mana pun tetap bisa minum air hangat.
Setelah minum, Haris sepertinya teringat sesuatu, dan buru-buru pergi tanpa menghiraukan bujukan Lea untuk tetap tinggal.
Setelah Haris pergi, Lea dengan santai membuang anakku ke tempat sampah.
"Hah, ibumu benar-benar payah. Semasa hidup, dia nggak bisa mengalahkan aku, setelah mati pun dia nggak bisa melindungimu."
Melihat anakku di tempat sampah, aku berusaha meraihnya dengan tangan.
Namun, tanganku selalu menembusnya. Aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
"Maafkan ibumu yang nggak berguna. Di kehidupan berikutnya, carilah ibu yang baik, jangan ke rahim Ibu lagi."
Aku tidak tahan dan berjongkok di sampingnya, menangis. Ternyata, mati pun masih bisa merasa sakit hati, ya?
Lea duduk santai di sofa dan mulai menelepon.
"Bu, kalau Haris tanya soal penyakit Ibu, bilang saja setelah minum obat darinya, penyakit Ibu sudah jauh lebih baik."
Kata-kata Lea membuatku terkejut. Jadi, ibunya sebenarnya tidak perlu janin itu?
Dia kejam sekali. Demi Haris, dia tega melakukan ini pada anak yang belum lahir.
Apa dia tidak lelah? Di depan kami dia bersikap seperti ini, tetapi saat sendirian, tampak sisi lain dari dirinya.
"Bu Anna, kamu begitu lembut, seperti kakakku sendiri."
"Bu Anna, boleh nggak aku panggil kamu Kakak? Tapi, sepertinya nggak bisa, ya? Pasti Pak Haris nggak setuju."
"Bu Anna, semoga kamu dan Pak Haris langgeng selalu."
Aku tidak mengerti, gadis seperti Lea yang tampak ceria dan polos ternyata menyembunyikan iblis yang sangat jahat dalam dirinya.
Sepertinya aku tidak bisa terlalu jauh dari Haris, karena belum sempat memahami lebih jauh soal Lea, tiba-tiba aku kembali ke sisi Haris.
Setelah Haris pulang, dia akhirnya teringat padaku.
Dia mulai mengirimiku pesan terus-menerus.
"Kamu marah soal apa, sih?"
"Bisa nggak berhenti bertingkah kekanak-kanakan? Aku benar-benar lelah."
"Kamu bisa nggak lebih pengertian? Hari ini aku baru menangani jenazah seorang ibu hamil. Bayinya baru saja terbentuk, suasana hatiku benar-benar buruk."
Cuma suasana hati buruk? Memusnahkan anakmu sendiri, apa di malam hari nanti tidak takut bermimpi buruk?
"Kalau kamu nggak pulang, ya jangan pulang selamanya."
"Kalau nggak segera balas, kita cerai saja."
Melihat aku terus tidak membalas pesannya, Haris mulai marah.
Akhirnya, aku membalas pesannya, walau bukan aku yang melakukannya.
"Cerai saja. Aku sudah bersama orang lain, jadi jangan cari aku lagi."
Ternyata, Lea menyembunyikan ponselku demi Haris.
Kalau ini Haris yang dulu, dia pasti bisa menyadari pesan itu bukan dariku!
Mungkin karena sudah tidak muda lagi, setiap kalimat yang kutulis selalu ada tanda baca, tetapi pesan tadi tidak ada tanda bacanya.
Tetapi, Haris yang sekarang tidak menyadarinya. Dia bahkan tidak menelepon untuk memastikan, dan langsung membuang ponselnya.
Dia mondar-mandir di rumah, bahkan mengemas semua barang-barangku.
"Kapan kita ke kantor catatan sipil untuk ambil surat cerai?"
...
Lea tidak lagi membalas pesan Haris. Semalaman dia tak bisa tidur, terus membuka halaman obrolan kami di WhatsApp, berharap ada balasan dariku.
Hah, sekarang mendadak jadi penuh perhatian pada siapa?
Ketika Haris pergi ke kamar mandi dalam keadaan setengah sadar, akhirnya dia menemukan alat tes kehamilanku.
Dia memandangnya dengan tidak percaya, lalu mengambil ponsel untuk memastikan di internet. Setelah tahu aku hamil, dia mulai meneleponku.
…
Namun, sebanyak apa pun dia menelepon, Lea tetap menolak panggilannya.
"Kamu hamil? Ayo kita bicara baik-baik. Kita nggak bisa bercerai."
Tentu saja, Haris tidak mendapatkan jawaban dariku. Dengan hati hancur, dia berangkat kerja.
"Pak, kok kelihatan lesu banget? Apa Bu Anna ketahuan berselingkuh?"
"Ah, nggak, nggak."
Lea terlihat panik dan buru-buru menutup mulutnya.
"Jangan bicara sembarangan. Bu Anna sedang hamil."
Haris jarang marah pada Lea, membuat Lea terkejut.
Setelah diam beberapa waktu, akhirnya dia berkata dengan perlahan.
"Tapi, kemarin aku lihat Bu Anna bersama seorang pria yang nggak kukenal."
"Oh ya? Di mana?"
Haris menarik Lea dengan kuat, sampai gadis itu meringis kesakitan baru dilepaskan.
"Sudahlah, biarkan saja."
Ternyata, ketika seorang pria tidak mencintaimu lagi, dia bahkan tidak akan repot-repot membuktikan kebohonganmu. Apa pun yang kamu katakan dia akan percaya.
Haris dengan lesu menelungkup di meja kerjanya, tidak menghiraukan panggilan Lea.
Sampai polisi datang.
"Siapa yang bernama Lea Linata?"
Lea dibawa pergi. Kabarnya, pengelola wahana bianglala itu adalah kerabatnya.
Setelah seseorang tewas, pengelola itu tidak tahan dihantui rasa bersalah dan menyerahkan diri ke polisi, mengaku bahwa Lea menyuruhnya merusak wahana sehingga kabin terjatuh.
"Lea cuma anak-anak, dia nggak sengaja."
"Dia melakukan itu demi aku, demi cinta."
Haris yang menelungkup di meja mendengar suara itu dan segera lari menghampiri, berusaha membela Lea.
"Dia sudah 22 tahun, bukan 2 tahun!"
"Demi cinta omong apa sampai mengorbankan satu nyawa, malah dua!"
Haris tertegun mendengar kata-kata polisi itu, entah apakah dia teringat akan janin yang diambilnya.
Dia mendatangi tubuhku dan tiba-tiba berlutut di hadapanku.
"Meski aku nggak tahu siapa namamu, tapi aku harap kamu bisa melindungi Lea. Dia benar-benar nggak sengaja."
"Dia cuma terlalu mencintaiku, kamu pasti mau memaafkannya, 'kan?"
"Lagi pula, bisa dibilang dia sudah melakukan hal yang baik untuk anakmu. Di kehidupan berikutnya, anakmu bisa mendapat kehidupan yang lebih baik."
…
Melihat Haris terus membela Lea, jiwaku makin lama makin memudar. Apa ini berarti aku akan pergi?
"Haris, kamu sudah tahu semuanya?"
Haris yang masih berlutut di samping jenazahku terlihat oleh seorang petugas pemulasaran senior, seorang pria tua yang cerewet.
"Kami baru saja tahu. Awalnya, kami ingin merahasiakannya darimu beberapa hari lagi."
"Hei, Haris, kamu harus tabah! Kenanglah Anna dengan baik. Katanya sore nanti akan dikremasi."
"Maksudmu apa?"
Mendengar kata-kata petugas tua itu, Haris berdiri dengan tatapan tak percaya.
Petugas tua itu kaget, mundur ke jarak yang aman, lalu bergumam.
"Jangan terlalu sedih, nanti jadi gila."
"Haris, sebaiknya kamu ucapkan selamat tinggal pada Anna dulu. Aku pergi dulu, ya."
Setelah petugas pemulasaran jenazah itu pergi, Haris mulai memeriksa tubuhku.
Pertama-tama, dia melihat tahi lalat merah di dadaku.
"Pasti kebetulan. Bukan hanya Anna yang punya tanda itu."
Lalu, dia mulai memeriksa jari-jariku. Aku tahu dia ingin mencari cincin pernikahan kami.
Namun, saat aku tahu dia berselingkuh, aku sudah melepasnya. Dia tidak akan menemukannya.
Tetapi, dia memandang bekas cincin di jariku cukup lama, samar-samar terdapat bekas huruf "G."
Di dalam cincin miliknya terdapat huruf "A," inisialku, dan di cincinnya tertulis huruf "G," inisial Gunawan.
"Anna, biarkan aku menemanimu dalam cincinmu, untuk mengawasi agar kamu makan dengan baik!"
Dulu, kata-katanya terdengar begitu indah, tetapi sayang sekarang semuanya sudah berubah.
"Nggak, ini cuma kebetulan. Semua cuma kebetulan!"
Padahal sudah ada bukti yang jelas, kenapa dia masih tidak mau percaya?